Anda di halaman 1dari 38

Di Indonesia: lanjut usia dimulai sejak usia 60

tahun sesuai dengan yang tertera pada


Undang-Undang no: 13/1998 tentang
Kesejahteraan Lansia.

WHO : usia 60 74 thn umur lanjut (elderly),


usia 75 90 thn umur tua (old)
usia > 90 thn umur sangat tua (ver yold)
Lansia Indonesia 2006 UHH 66,2 tahun, 19 juta,
2010 diperkirakan UHH 67,4 tahun jumlahnya
23,9 juta
2020 UHH 71,1 tahun jumlahnya 28,8 juta.
(Deputi I Menkokesra, 2007)
Angka UHH Manusia Indonesia 1997=65 tahun,
(WHO, 1998) dan tahun 2025 = 73 tahun
(Wirakusumah, 2000)
UHH meningkat selama 20 tahun terjadi di
Indonesia, UHH perempuan tahun 1994 : 83 thn
di Jepang 70 thn, di Singapura 74 thn, Malaysia
72 thn, Thailand 69 thn, dan 65 thn di Indonesia.
Penilaian status gizi Masyarakat
Penilaian status gizi

Pengukuran langsung Pengukuran tidak


langsung

1. Antropometri 1. Survey konsumsi


2. Biokimia 2. Statistik vital
3. Klinis 3. Faktor ekologi
4. Biofisik
Antropometri
Arti : ukuran tubuh manusia

ukuran fisik dan komposisi tubuh pada


berbagai kelompok umur (balita/dewasa) dan tingkat gizinya
(status gizi baik/kurang/buruk/lebih)

Ukuran fisik : Tinggi Badan (TB), Berat Badan (BB), Lingkar


Kepala, Lingkar Lengan Atas (LILA)
Komposisi tubuh : Tebal Lemak, Fat Mass, Fat Free Mass
Pengukuran antropometri
Pertumbuhan linear dan pertumbuhan massa
jaringan memiliki arti yang berbeda
Pertumbuhan linear menggambarkan status
gizi yang dihubungkan pada saat lampau

Pertumbuhan massa jaringan menggambarkan


status gizi yang dihubungkan pada saat
sekarang
Pertumbuhan Linier
Bentuk dari ukuran linear adalah ukuran yg
berhubungan dengan panjang.
Contoh ukuran linear adalah panjang badan,
lingkar dada, dan lingkar kepala.

Ukuran linear yang rendah biasanya


menunjukkan keadaan gizi yg kurang akibat
kekurangan energi & protein yg diderita waktu
lampau. Ukuran linear yg paling sering
digunakan adalah tinggi atau panjang badan.
Pertumbuhan Massa Jaringan
Bentuk dan ukuran massa jaringan adalah massa
tubuh.
Contoh ukuran massa jaringan adalah berat
badan, lingkar lengan atas (LLA), dan tebal
lemak bawah kulit.

kekurangan energi & protein yg diderita pada


waktu pengukuran dilakukan. Ukuran massa
jaringan yg paling sering digunakan adalah berat
badan.
Indikator Gizi
Untuk Menentukan (Diagnose) Status Gizi
1. Indikator Antropometrik
2. Pemeriksaan Klinik
3. Pemeriksaan Laboratorik
(4.Konsumsi Makanan)

1. Umur
2. Berat Badan
3. Tinggi (Panjang) Badan
4. Lingkar Lengan Atas
5. Tebal Lemak
Instrumen Timbangan Dengan
Pengukur Tinggi Badan

timbangan dacin,
ukuran minimum 20 kg
maksimum 25 kg
ketelitian alat 0,1 kg.
. Timbangan injak
Timbangan Bayi
Panjang badan (PB)
Posisi berbaring
Diukur menggunakan papan pengukur panjang badan untuk anak <
2 tahun atau PB < 85 cm
Dilakukan 2 orang pengukur
Pengukur 1 : memposisikan bayi di depan papan pengukur
Kepala menyentuh papan penahan kepala dalam posisi bidang datar
Frankfort (Frankfort horizontal plane)
Bidang datar Frankfort merupakan posisi anatomis saat batas
bawah orbita dan batas atas meatus auditorius berada segaris
Pengukur ke 2 : menahan agar lutut dan tumit bayi secara datar
menempel dengan papan penahan kaki
Catt : bila anak > 2tahun atau >85 cm diukur dalam posisi berbaring
maka hasilnya perlu dikurangi 1 cm sebelum diplot ke grafik
pertumbuhan
Panjang Badan

Menggunakan alat
pengukur panjang
badan yang terbuat dari
papan kayu yang
dikenal dengan nama
Length board
Hasil ukur
Panjang badan waktu lahir rata rata : 50 cm
TB mencapai 2 x panjang badan lahir pada
umur 4 tahun
Selanjutnya kenaikan TB rata-rata 5 cm/tahun
Akselerasi TB wanita usia 10-12 tahun,
terhenti sekitar umur 17-19 tahun
Akselerasi TB pria usia 12-14 tahun, dan masih
mengalami peningkatan TB >20 tahun
(lambat)
Tinggi badan (TB)
Untuk anak/dewasa yang dapat berdiri dan kooperatif
Menggunakan microtoise dengan skala maksimal 2 meter
dengan ketelitian 0,1 cm
Saat pengukuran anak berdiri tegak, kedua kaki menempel,
tumit, bokong dan belakang kepala menempel di dinding dan
menatap kedepan
Tarik microtiose ke bawah sampai menempel ke puncak kepala
(vertex)
Baca hasil ukur pada posisi tegak lurus dengan mata (sudut
pandang mata dan skala microtoise harus sudut 90 derajat).
LINGKAR LENGAN ATAS
Salah satu cara untuk mengetahui baik atau tidaknya
pertumbuhan anak, adalah dengan mengukur lingkar lengan
atasnya.

Berdasarkan standar Walanski,perkembangan ukuran LLA bayi dan


balita berdasarkan umur terbilang normal pada ukuran berikut:
6- 8 bulan 14.75 cm
9-11 bulan 15.10 cm
1 tahun 16.00 cm
2 tahun 16.25 cm
3 tahun 16.50 cm
4 tahun 16.75 cm
5 tahun 17.00 cm
LINGKAR LENGAN ATAS
Lingkar lengan atas dapat digunakan
untuk menghitung skala gizi wanita usia
subur, baik ibu hamil maupun calon ibu
untuk mengidentifikasi wanita yang
mempunyai risiko melahirkan bayi berat
badan rendah (BBLR)
ALAT UKUR
LINGKAR LENGAN ATAS
alat ukur
Tebal lipat kulit (TLK)
Alat : skinfold calliper
Penanda cadangan lemak subkutan (energi)
dan lemak tubuh total
Memberi informasi mengenai pola lemak
tubuh dan simpanan protein
Pengukur mencubit lemak dengan ibu jari dan
jari telunjuk, sekitar 1 cm diatas titik tengah yg
telah ditandai, dan tempatkan kaliper
dilakukan 3 x, diambil reratanya
Titik anatomis lipatan kulit
Triceps : diatas musculus triceps
Subskapula
Biceps
Krista iliaca
Supraspinal
Abdominal
Paha depan
Betis medial
Mid aksila
Dual energy X ray absorptiometry (DXA)
Pengkajian komposisi tubuh
(% lemak tubuh, masa tubuh
tanpa lemak, dan masa lemak)
dan densitas mineral tulang
secara menyeluruh

Pada pasien dengan


hemodialisis terbukti DXA
masih cukup akurat untuk
menentukan komposisi tubuh
dibandingkan metode lain
Klasifikasi Berat Badan berdasarkan IMT pada
Penduduk Asia Dewasa (IOTF, WHO 2000)

Kategori IMT (kg/m2) Resiko penyakit penyerta


Underweight < 18.5 Rendah
Normal 18.5 - 24.9 Rata-rata
Overweight 25.0 - 29.9 Meningkat
Obese I 30.0 - 34.9 Meningkat Sedang
Obese II 35.0 - 39.9 Parah
Obese III >40.0 Sangat Parah
Klaifikasi Berat Badan dengan BMI:
WHO vs. Asia-Pacific
BMI BMI

>40.0 Obese III

Obese II Obese II
35.039.9 >30.0

30.034.9 Obese I

25.029.9 Preobese 25.029.9 Obese I

23.024.9 At risk
18.524.9 Normal
18.522.9 Normal

Underweight Underweight
<18.5 <18.5
WHO Asia-Pacific
30
Klasifikasi Berat Badan Berdsarkan BMI
dan Risiko komorbiditas

WHO (1998) Asia-Pacific (2000)

BMI Risk of BMI Risk of


(kg/m2) comorbidities (kg/m ) comorbidities
2

Underweight <18.5 Low* Underweight <18.5


Normal 18.524.9 Average Normal 18.522.9
Overweight >25.0 Overweight >23.0
Preobese 25.029.9 Increased At risk 23.024.9 Increased
Obese I 30.034.9 Moderate Obese I 25.029.9 Moderate
Obese II 35.039.9 Severe Obese II >30.0 Severe
Obese III >40.0 Very severe
*but risk of other clinical problems
31
Sangat berkorelasi dengan BMI
Asia-Pacific:

Men Women
90 cm: risk 80 cm: risk

32
Biokimia
Metode ini digunakan untuk suatu peringatan
bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan
malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak
gejala klinis yang kurang spesifik, maka
penentuan kimia faali dapat lebih banyak
menolong untuk menentukan kekurangan gizi
yang spesifik (Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).
Penggunaan
Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat
penting untuk mengetahui penyebab
malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar
untuk melakukan program intervensi gizi
Penilaian Status Gizi Lansia
Tinggi lutut
Tinggi lutut erat kaitannya dengan tinggi
badan, sehingga data tinggi badan didapatkan
dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri
atau lansia.
Lansia digunakan tinggi lutut karena pada
lansia terjadi penurunan masa tulang >>
bungkuk>> sukar untuk mendapatkan data
tinggi badan akurat
Data tinggi badan lansia dapat menggunakan
formula atau nomogram bagi orang yang
berusia >59 tahun dan Formula (Gibson, RS;
1993)
Pria : (2.02 x tinggi lutut (cm) (0.04 x umur
(thn) + 64.19
Wanita : (1.83 x tinggi lutut (cm) (0.24 x
umur (thn) + 84.88