Anda di halaman 1dari 46

BAB 2

METODE RISET
AKUNTANSI KEPERILAKUAN
Tujuan Pembelajaran :

1. Menjelaskan Apa yang dimaksud dengan Riset


2. Menjelaskan Istilah Riset Akuntansi Keperilakuan
3. Menjelaskan Motivasi dan Tujuan Riset
4. Menjelaskan Manfaat dan Pentingnya Riset
5. Menjelaskan Memahami Replikasi
6. Menjelaskan Masalah
7. Menjelaskan Jenis Masalah
8. Menjelaskan Dasar Permasalahan
9. Menjelaskan Sumber Penemuan Masalah
10.Menjelaskan Kesalahan Umum dalam Penemuan Masalah
Tujuan Pembelajaran :

11.Menjelaskan tentang Teori


12.Menjelaskan Variabel Riset
13.Menjelaskan Penggunaan Proposisi dan Hipotesis
14.Menjelaskan Pemilihan Data atau Sampel Riset
15.Menjelaskan Sumber dan Metode Pengumpulan data
16.Menjelaskan Validitas dan Keandalan
17.Menjelaskan Metode Pengumpulan Data
18.Menjelaskan Instrumen Riset
19.Menjelaskan Kerjasama responden
20.Menjelaskan Validitas dan Keandalan Jawaban
21.Menjelaskan Analisis Data dan Persiapan Laporan
1. Apa yang dimaksud dengan Riset

Riset adalah suatu usaha yang sistematis untuk mengatur


dan menyelidiki masalah-masalah serta
menjawab pertanyaan yang muncul dan terkait
dengan fakta, fenomena atau gejala dari
masalah tersebut.

Riset dimulai dengan suatu pertanyaan karena menghendaki


suatu deskripsi yang jelas terhadap permasalahan yang akan
dipecahkan.

Hal ini sering disebut suatu rencana untuk menjawab


pertanyaan.
2. Istilah Riset Akuntansi Keperilakuan

Buckley mengatakan bahwa riset merupakan suatu penyelidikan yang


sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan.

Istilah riset sendiri merupakan penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam
mencari fakta maupun prinsip-prinsip.

Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu metode studi yang


dilakukan seseorang berkaitan dengan aspek keperilakuan merupakan
suatu metode studi yang dilakukan seseorang berkaitan dengan aspek
keperilakuan melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap
masalah yang berhubungan dengan aspek keperilakuan tersebut sehingga
diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah itu.
3. Motivasi dan Tujuan Riset

Jika dilihat dari sisi akuntansi keperilakuan, tujuan riset di


bidang ini akan menekankan pada hubungan akuntansi dengan
perilaku manusia maupun desain, kontruksi, dan penggunaan
suatu sistem informasi akuntansi yang efisien, serta dimensi
sosial dan budaya manusia dalam suatu organisasi.

Secara spesifik, terdapat lima tujuan spesifik dari suatu riset,


yaitu menggambarkan fenomena, menemukan hubungan,
menjelaskan fenomena memprediksi kejadian-kejadian di masa
mendatang, dan melihat pengaruh satu atau lebih faktor
terhadap satu atau lebih kejadian.
4. Manfaat dan Pentingnya Riset

Dalam riset akuntansi keperilakuan terdapat beberapa


pernyataan tentang manfaat dan pentingnya riset dibidang ini
:
1. Memberikan gambaran terkini (state of the art) terhadap
minat khusus dalam bidang baru yang ingin diperkenalkan.
2. Membantu mengidentifikasikan kesenjangan (gap) riset
3. Untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan
kegiatan riset melalui sub bidang akuntansi, seperti
akuntansi keuangan, audit, akuntansi manajemen, sistem
informasi akuntansi, pasar modal maupun perpajakan.
5. Memahami Replikasi
Salah satu strategi dalam melakukan riset adalah melakukan replikasi.
Replikasi merupakan gabungan dari kata duplikasi dan repetisi.
Replikasi adalah pengulangan suatu studi atau riset yang dilakukan
sengaja. Pada umumnya, hal ini dilakukan dengan menggunakan
prosedur-prosedur yang sama dengan riset terdahulu, tetapi
menggunakan subjek yang berbeda.

Replikasi biasanya dilakukan dengan :


1. Menguji Validitas Temuan Riset dengan Populasi Berbeda
2. Menguji Kecenderungan atau Perubahan Waktu
3. Menguji Temuan-temuan penting menggunakan Metodologi yang
berbeda
6. Mengenali Masalah

Riset umumnya mencakup dua tahap, yaitu :


1. Penemuan masalah
Penemuan masalah dalam riset meliputi identifikasi
bidang masalah, penentuan atau pemilihan kelompok
masalah, dan perumusan atau formulasi masalah.
Penentuan masalah merupakan tahap riset yang
paling sulit dan krusial karena masalah riset
mempengaruhi strategi yang diterapkan dalam
pemecahan masalah.
6. Mengenali Masalah

2. Pemecahan masalah.
jika ingin memecahkan suatu masalah, kita harus
mengetahui hal yang menjadi masalahnya.
Sebagian besar pemecahannya terletak pada
kemampuan dan pengetahuan kita tentang hal yang
sedang kita kerjakan.
Sebagian lainnya terletak pada pengetahuan
tentang sifat hakikat dari masalah tersebut,
khususnya tentang sifat hakikat masalah ilmiah.
6. Mengenali Masalah

Untuk memastikan baik-tidaknya masalah yang dipilih


dan diajukan untuk diteliti, peneliti sebaiknya menguji
masalah terlebih dahulu dengan mengajukan pertanyaan
penjajakan.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, sedikit


banyak akan berguna sebagai bahan pertimbangan.

Setelah itu, masalah dapat dikatakan baik, maksudnya


masalah tersebut tepat dan pantas untuk diajukan
sebagai masalah riset apabila beberapa pertanyaan
penjajakan berikut ini dijawab dengan ya
6. Mengenali Masalah

Berikut pertanyaan-pertanyaan tersebut.


1. Apakah masalah tersebut dapat dijawab secara
efektif melalui proses riset?selanjutnya apakah dapat
dikumpulkan data relevan yang diperlukan untuk
menjawab masalah riset tersebut?
2. Apakah nilai temuan dari masalah tersebut cukup
berarti?apakah terkandung hal penting dalam
masalah tersebut?apakah pemecahan jawaban atau
penemuannya memberikan sesuatu yang baru pada
khasanah teori dan/atau praktik di bidang akuntansi
keperilakuan?kalau tidak, bukankah ada masalah lain
yang lebih bernilai dan menanti untuk diteliti?
6. Mengenali Masalah

3. Apakah masalah tersebut merupakan masalah


baru?apakah masalah tersebut belum pernah diteliti
sebelumnya?supaya tidak terjadi pengulangan yang
tidak perlu, studi-studi lain yang pernah dilakukan
perlu diketahui terlebih dahulu. Dalam kaitan ini,
bukan berarti tidak ada nilai atau harga dari riset
ulang terhadap masalah-masalah yang pernah diteliti
sebelumnya.
4. Apakah masalah tersebut memungkinkan untuk
diteliti?Termasuk kesesuaian masalah itu sendiri
dengan latar belakang si peneliti.
6. Mengenali Masalah

Walaupun masalahnya benar-benar penting dan baik,


belum tentu penting dan baik untuk diteliti oleh peneliti
yang bersangkutan.

Dengan demikian, suatu masalah adalah sebuah


kalimat tanya atau pernyataan yang menanyakan.

Kebanyakan kasus suatu masalah memiliki dua


variabel atau lebih.

Di samping itu, peneliti juga perlu memperhatikan


beberapa kriteria umum dalam menentukan
permasalahan yang baik dan pernyataan masalah
yang baik.
6. Mengenali Masalah

1. Masalah itu harus mengungkapkan suatu


hubungan antara dua variabel atau lebih.
Masalah itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
seperti apakah P terkait dengan Q? bagaimanakah P
dan Q terkait dengan R? Bagaimanakah P terkait
dengan Q dalam kondisi R dan S?
2. Masalahnya harus dinyatakan secara jelas dan
tidak ambigu dalam bentuk pertanyaan.
Kita tidak membuat pernyataan, seperti masalahnya
adalah atau maksud kajian ini adalah,
melainkan mengajukan pertanyaan. Hikmah
pertanyaan adalah mengajukan soal atau masalahnya
secara langsung.
7. Jenis Masalah

Masalah yang ada dalam riset akuntansi keperilakuan,


yang masih membutuhkan penyelesaian :
1. Masalah-masalah yang ada saat ini diberbagai subbidang
akuntansi keperilakuan yang memerlukan penyelesaian.
2. Area-area tertentu dalam subbidang akuntansi keperilakuan
yang memerlukan pembenahan atau perbaikan.
3. Persoalan-persoalan teorities yang memerlukan riset untuk
menjelaskan (atau memprediksi) fenomena.
4. Pertanyaan riset yang memerlukan jawaban empiris.
8. Dasar Permasalahan

Cara yang paling bermanfaat dalam pendekatan proses riset adalah


menyatakan dasar permasalahan.
Dasar permasalahan dimulai dari usaha untuk mengembangkan
pertanyaan-pertanyaan keperilakuan dengan memerinci pertanyaan
dasar ke dalam pertanyaan-pertanyaan yang lebih khusus.
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diperinci tersebut dapat
dikatakan sebagai hasil dari proses pada hierarki pertanyaan riset
akuntansi keperilakuan.
Proses pada hierarki dimulai dari cara mengidentifikasi permasalahan
akuntansi keperilakuan, mengembangkan pertanyaan, membuat
pertanyaan riset, melakukan penyelidikan terhadap pertanyaan,
mengukur pertanyaan, serta membuat keputusan.
8. Dasar Permasalahan
Cara yang paling bermanfaat dalam pendekatan proses riset adalah
menyatakan dasar permasalahan.
Dasar permasalahan dimulai dari usaha untuk mengembangkan
pertanyaan-pertanyaan keperilakuan dengan memerinci pertanyaan
dasar ke dalam pertanyaan-pertanyaan yang lebih khusus.
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diperinci tersebut dapat
dikatakan sebagai hasil dari proses pada hierarki pertanyaan riset
akuntansi keperilakuan.
Proses pada hierarki dimulai dari cara mengidentifikasi permasalahan
akuntansi keperilakuan, mengembangkan pertanyaan, membuat
pertanyaan riset, melakukan penyelidikan terhadap pertanyaan,
mengukur pertanyaan, serta membuat keputusan. Identifikasi
masalah terkadang agak sulit, kecuali jika
perusahaan/organisasi/orang mendapati kegagalan terhadap faktor-
faktor yang berkaitan dengan kinerjanya, seperti masalah keuangan,
audit, sistem, informasi, manajemen, kepindahan karyawan, motivasi.
8. Dasar Permasalahan

Setelah peneliti benar-benar memahami cara membuat


pertanyaan riset melalui proses, tugas berikutnya adalah
memahami cara merumuskan pertanyaan riset.

Setidaknya terdapat 3 tahapan yang harus diperhatikan


peneliti ketika merumuskan pertanyaan riset yaitu :
1. Dimulai dari cara menemukan permasalahan akuntansi
keperilakuan.
Pada bagian ini, peneliti mengidentifikasikan gejala-gejala
yang berkaitan dengan masalah-masalah maupun
kesempatan.
8. Dasar Permasalahan

2. Menemukan pertanyaan akuntansi keperilakuan.


Pada bagian ini, peneliti mengumpulkan informasi
penyelidikan. Peneliti menjelaskan permasalahan atau
melakukan perbaikan terhadap gejala yang membentuk
pertanyaan yang biasanya dimulai dengan bagaimana
organisasi dapat?
3. Menemukan pertanyaan riset.
Pada bagian ini, beberapa pertanyaan riset dirumuskan.
Setiap pertanyaan merupakan alternatif tindakan.
Akuntansi keperilakuan mungkin memecahkan masalah
manajemen, anggaran, motivasi, audit, keuangan dan lain-
lain. Pada umumnya, tindakan yang digunakan berkaitan
dengan penggunaan sumber daya yang paling sedikit.
9. Sumber Penemuan Masalah
Secara umum, sumber penemuan masalah pada bidang ini
dikelompokkan ke dalam dua faktor yaitu :
1. Dihasilkan dari pengalaman pribadi si peneliti atau disebut
pendekatan empiris (empirical approach).
jika ditarik kalimat tentang pengalaman pribadi, berarti terdapat suatu
kejadian yang pernah bersinggungan dan dirasakan seseorang dalam
kehidupan yang biasanya akan berbekas dalam bidupnya.
Dampaknya bisa jadi dapat mengubah perilaku seseorang. Pengalaman
sendiri pada dasarnya tidak pernah didapatkan dari bangku pendidikan
karena yang didapatkan dari bangku pendidikan adalah pendidikan.
Boleh jadi, kristalisasi pengalaman peneliti didapatkan dari berbagai
aspek, seperti lingkungan keluarga, lingkungan kerja, pergaulan,
ekonomi, penganggaran, pengambilan keputusan, akuntansi, keuangan,
manajemen.
9. Sumber Penemuan Masalah
2. Didapatkan dari tinjauan terhadap literatur riset. Pendekatan
ini disebut pendekatan teoretis (teoritical approach).
Ada dua kelompok yaitu :
a. Literatur yang telah dipublikasikan, meliputi : jurnal, buku.
b. Literatur yang belum terpublikasi yaitu berupa karya-karya
ilmiah seperti : Skripsi, Tesis, Disertasi, Makalah-makalah
seminar
9. Sumber Penemuan Masalah

1) Jurnal, merupakan salah satu tempat yang menjadi


media publikasi tulisan-tulisan ilmiah dan hasil-hasil
riset.
Hasil-hasil tulisan ilmiah maupun hasil-hasil riset
dapat dijadikan rujukan awal untuk memperkuat
masalah riset yang kita rumuskan.
Publikasi tersebut dapat berupa kajian tentang
akuntansi keuangan, sistem informasi akuntansi,
akuntansi keperilakuan, audit, pasar modal,
penganggaran, etika, perpindahan karyawan, rasio
keuangan, sektor publik dan sebagainya
9. Sumber Penemuan Masalah

2) Buku, merupakan gudang ilmu dan dapat dijadikan sebagai


sumber informasi bagi peneliti dalam menemukan masalah
riset.
Buku biasanya dijadikan sebagai acuan/panduan bagi
kalangan akademik dalam menjalankan proses pendidikan.
Kandungan/isi yang terdapat di dalamnya merupakan hasil
dari kompilasi tulisan-tulisan maupun hasil riset dari berbagai
ahli di setiap bidang serta tidak kalah pentingnya juga
merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman si pengarang
yang selanjutnya diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan
buku tersebut.
9. Sumber Penemuan Masalah
1) Skripsi, juga termasuk salah satu literatur yang belum terpublikasi
dan merupakan hasil riset mahasiswa Strata-1(S1). Hasil riset skripsi
tentunya tidak lebih kompleks dibanding tesis atau disertasi.
2) Tesis, merupakan hasil riset mahasiswa, tetapi tesis merupakan
laporan akhir bagi mahasiswa yang menempuh jenjang pendidikan
Strata-2 (S2). bangunan teori yang diungkapkan tentunya lebih
kompleks dari skripsi dan tidak lebih dalam dari disertasi. Peneliti
tentunya dapat menjadikan tesis sebagai bahan referensi untuk
mencari permasalahan riset.
3) Disertasi, adalah laporan akhir dari hasil riset yang dilakuakn para
mahasiswa program doktor. Kedalaman teori dan kemapanan
pengungkapan masalah tentunya jauh lebih baik dibandingkan hasil
laporan riset mahasiswa S-1 dan S-2.
4) Makalah-makalah seminar adalah makalah-makalah yang dijadikan
bahan dalam seminar juga merupakan hasil kompilasi dari berbagai
referensi. Makalah tersebut tentu memiliki berbagai teori maupun
hasil riset yang disampaikan. Oleh karena itu, isi makalah tentu dapat
dijadikan sebagai referensi tambahan bagi peneliti.
10. Kesalahan Umum dalam Penemuan
Masalah
Terdapat berbagai kesalahan umum yang dilakukan si periset
dalam menemukan masalah yaitu :
1. Periset mengumpulkan data tanpa rencana atau tujuan riset yang
jelas.
2. Periset memperoleh sejumlah data dan berusaha merumuskan
masalah riset sesuai dengan data yang tersedia
3. Periset merumuskan masalah riset dalam bentuk yang terlalu
umum dan ambigu sehingga menyulitkan interprestasi hasil dan
pembuatan kesimpulan riset.
4. Periset menemukan masalah tanpa terlebih dahulu menelaah hasil-
hasil riset sebelumnya dengan topik sejenis sehingga masalah riset
tidak didukung oleh kerangka teoritis yang baik.
11. Teori
Suatu teori mengenai konsep-konsep, definisi, maupun proposisi
disusun secara sistematis, selanjutnya dijelaskan untuk memperbaiki
fenomena.
Teori bisa berbeda dengan hipotesis karena kekeliruan.
Perbedaan tersendiri yang membedakan teori dan hipotesis adalah
satu dari tingkatan yang kompleks dan abstrak, dan melibatkan
berbagai variabel. Sebaliknya, hipotesis cenderung lebih sederhana,
variabel proposisinya terbatas dan melibatkan contoh yang konkret.

Teori memberikan manfaat berikut dalam beberapa hal yaitu :


1. Teori membatasi cakupan fakta yang harus dipelajari
2. Teori menghendaki riset yang memungkinkan hasil yang lebih
besar.
11. Teori
3. Teori menyarankan suatu sistem bagi peneliti untuk
menggunakan data dalam rangka mengklasifikasikannya dengan
cara-cara yang berarti.
4. Teori merangkum pengetahuan tentang suatu objek dan
menyatakan keseragaman yang berada diluar pengamatan.
5. Teori dapat digunakan untuk memprediksi fakta-fakta lebih lanjut
yang harus ditemukan.

Pemahaman umum tentang teori menyatakan bahwa satu teori


menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses
tertentu terjadi, misalnya mengapa ditemukan satu bentuk organisasi
dan bukan bentuk yang lain, atau mengapa sejarah dunia diwarnai
peperangan. Dengan demikian, teori dianggap memberi jawaban atas
pertanyaan tentang mengapa atau bagaimana hal tersebut bisa
terjadi?
12. Variabel Riset
Variabel merupakan suatu sifat yang dapat memiliki berbagai macam
nilai.
Kalau diekspresikan secara berlebihan, variabel adalah sesuatu yang
bervariasi.
Variabel biasanya diekspresikan dalam bentuk simbol/lambang
(umumnya digunakan simbol x dan y) yang padanya diletakkan
bilangan atau nilai.
Akan tetapi, suatu variabel biasanya hanya memiliki dua nilai.
Apakah kontruksi yang sedang kita kaji adalah gender, maka :
nilai yang dilekatkan pada x adalah 1 dan 0, dimana nilai 1 untuk
salah satu jenis kelamin misal Laki-laki, sementara nilai 0 adalah
untuk jenis kelamin lainnya misal Perempuan.
Nilai variabel tergantung pada kontruksi yang mewakilinya.
12. Variabel Riset
Variabel Independen dan Variabel Dependen
Cara paling bermanfaat dalam menggolongkan variabel adalah
membedakannya menjadi :
1. Variabel Independen (independent variable)
Disebut juga variabel bebas merupakan jenis variabel yang
dipandang sebagai penyebab munculnya variabel dependen yang
diduga sebagai akibatnya.
2. Variabel Dependen (dependent variable)
Disebut juga variabel terikat dapat dikatakan sebagai jenis
variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi variabel independen.
13. Penggunaan Proposisi dan Hipotesis
Kriteria hipotesis
Cukup jelas bahwa hipotesis merupakan alat yang penting dan mutlak
perlu dalam riset ilmiah.
Merumuskan hipotesis bukanlah hal yang mudah. Ketika merumuskan
sebuah hipotesis, peneliti harus mempertimbangkan beberapa kriteria
tersebut :
1. Hipotesis harus berupa pernyataan yang mengarah pada tujuan
riset.
2. Hipotesis harus berupa pernyataan yang dirumuskan dengan
maksud untuk dapat duji secara empiris.
3. Hipotesis harus berupa pernyataan yang dikembangkan
berdasarkan teori-teori yang lebih kuat dibandingkan dengan
hipotesis saingan.
14. Pemilihan Data atau Sampel Riset
Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah maupun karakteristik yang
dimiliki oleh populasi dan dipilih secara hati-hati dari populasi
tersebut.
Ketika peneliti melakukan penarikan sampel, peneliti tentu tertarik
dalam mengestimasi satu atau lebih nilai-nilai populasi atau menguji
satu atau lebih hipotesis statistik.
15. Sumber dan Metode Pengumpulan
data
Pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dan
terstandardisasi untuk memperoleh data yang diperlukan.
Selalu ada hubungan antara metode pengumpulan data dengan masalah riset
yang ingin dipecahkan.

Jenis data
1. Data Subjek
Jenis data subjek merupakan jenis data riset yang berupa opini, sikap,
pengalaman, atau karakteristik dari seseorang atau sekelompok orang yang
menjadi subjek riset.
2. Data fisik
Data fisik merupakan jenis data riset yang berupa objek atau benda-benda
fisik.
Data fisik merupakan benda berwujud yang menjadi bukti suatu
keberadaan atau kejadian pada masa lalu.
Data fisik dalam riset keperilakuan dapat dikumpulkan melalui metode
observasi.
15. Sumber dan Metode Pengumpulan
data
3. Data dokumenter
Data dokumenter merupakan jenis data riset yang antara lain
berupa faktur, penjualan, surat-surat, notulen hasil rapat, memo
atau dalam bentuk laporan program.
4. Sumber data
Sumber data dapat dikatakan sebagai awal dari mana data berasal
dan merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan pada
setiap penentuan metide pengumpulan data.
Dalam riset akuntansi keperilakuan, sumber data riset yang
digunakan tidak berbeda dengan sumber data yang digunakan
dalam riset-riset bisnis, manajemen, pemasaran, keuangan, pasar
modal, audit dan lain sebagainya.
15. Sumber dan Metode Pengumpulan
data
Bila dilihat dari sumbernya, data dalam riset akuntansi keperilakuan
dapat dikumpulkan dengan menggunakan dua sumber data, yaitu :
a. Data primer
Data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara
langsung dari sumber asli atau pihak pertama.
b. Data sekunder
Data sekunder merupakan sumber data riset yang diperoleh
peneliti secara langsung melalui media perantara.
Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan, atau laporan
historis yang telah tersusun dalam arsip, baik yang dipublikasikan
maupun yang tidak dipublikasikan.
16. Validitas dan Keandalan
Terdapat dua hal penting yang berhubungan dengan perencanaan
riset perilaku. Hal pertama diukur berkaitan dengan hal-hal yang
salah (validitas) dan hal kedua diukur berkaitan dengan hal-hal
tidak representatif (keandalan). dua hal tersebut dinilai dengan
menggunakan validitas dan keandalan.

2. Keandalan
Suatu instrumen alat ukur yang andal akan menghasilkan alat ukur
yang stabil disetiap waktu. Aspek lain dari keandalan adalah
akurasi dari instrumen pengukuran.
17. Metode Pengumpulan Data

1. Survei
Interaksi langsung antara seorang peneliti dengan responden tidak
terdapat dalam survei. Data dikumpulkan dengan mengirimkan
surat elektronik (e-mail), menelepon, atau memberikan
serangkaian pertanyaan.
2. Observasi
Observasi merupakan proses pencatatan pola perilaku manusia,
sesuatu hal atau kejadian yang sistematis tanpa ada pertanyaan
maupun komunikasi dengan individu-individu yang diteliti.
3. Memilih Responden
Langkah pertama dalam memilih responden adalah menentukan
populasi. Setelah populasi ditentukan, peneliti menentukan suatu
sensus atau suatu sampel.
18. Instrumen Riset

Pengembangan kuesioner atau pencarian


instrumen merupakan langkah lain yang
penting dalam proses riset.
Kuesioner harus sesuai dengan responden
dan didesain secara menarik sehingga
responden tertarik untuk menjawab
kuesioner tersebut, yang pada hakikatnya
bertujuan meningkatkan tingkat respon,
validitas dan keandalan data.
19. Menjamin Kerjasama responden

Desain kuesioner yang baik sangat bermanfaat jika


responden tidak bersikap kooperatif terhadap para
peneliti yang menghendaki informasi.

Rendahnya tingkat kerja sama atau tingkat respons


menyulitkan para peneliti untuk melakukan
generalisasi sampel terhadap populasi.

Jika hal ini terjadi, maka pertanyaan selanjutnya


mengacu pada apakah sikap responden berbeda jika
desain kuesionernya berbeda.
19. Menjamin Kerjasama responden
Ada beberapa teknik yang dapat menghasilkan tingkat respons yang
tinggi.
1. Sebelum wawancara dengan seorang responden, peneliti
seharusnya mengirimkan surat yang menjelaskan tujuan umum
dari wawancara tersebut dan responden dapat menghubungi
mereka melalui telepon untuk membuat suatu janji wawancara.
2. Pada hari wawancara, para peneliti seharusnya datang tepat waktu
dan mengucapkan terima kasih atas kerja sama responden.
3. Pada saat yang sama, sebelum melakukan wawancara melalui
telepon, peneliti perlu mengirimkan surat kepada responden yang
memperkenalkan tim riset, menjelaskan dasar dari riset tersebut,
dan meminta kerjasama saat menelepon. Penawaran insentif
dalam bentuk uang tunai atau bentuk-bentuk lainnya akan lebih
membantu.
19. Menjamin Kerjasama responden
Kuesioner, surat, telepon atau wawancara pribadi harus melakukan
pengujian sebelumnya (pilot test), tujuannya adalah agar peneliti
dapat memperbaiki kalimat pertanyaan yang disusun dengan buruk
atau pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan.
Kuesioner seharusnya bersifat jelas, tidak panjang lebar, dan
menggunakan kata-kata yang tidak membingungkan.
Kuesioner seharusnya mudah dipahami dan menghendaki suatu
jawaban tendesius.
Kategori-kategori tanggapan seharusnya jelas dengan memasukkan
keseluruhan pilihan.
Berdasarkan kuesioner lewat surat, pertanyaan seharusnya mudah
dibaca dan kualitas kertas juga harus baik.
20. Validitas dan Keandalan Jawaban
Hanya informasi-informasi esensial yang seharusnya diharapkan dari
responden.
Para peneliti seharusnya menentukan dasar dari keinginan informasi
dan memilih suatu format pertanyaan yang akan menyediakan
informasi dengan sedikit pembatasan terhadap responden.
Pertanyaan-pertanyaan dapat :
1. Bersifat terbuka (open ended)
Suatu pertanyaan open-ended diminta untuk suatu jawaban yang
bebas.
2. Sudah ditentukan kemungkinan-kemungkinan jawabannya (closed
ended).
Responden diminta untuk memilih satu atau lebih pilihan jawaban.
Manfaat dari format pertanyaan ini termasuk memudahkan
jawaban dari para responden dan memudahkan tabulasi dan
penjelasan dari peneliti.
21. Analisis Data dan Persiapan
Laporan
Analisis data dilakukan setelah peneliti mengumpulkan semua data
yang diperlukan dalam riset.
Peneliti biasanya melakukan beberapa tahap persiapan data untuk
memudahkan proses analisa data.
Pemanfaatan berbagai alat analisis sangat bergantung pada jenis riset
dan data yang diperoleh.
Ketersediaan alat-alat analisis memberikan gambaran bahwa satu alat
analisis dengan alat analisis lainnya dapat dengan saling bergantian
dimanfaatkan dan terkadang hanya ada satu alat analisis yang dapat
digunakan.
Disamping iu, ketersediaan alat-alat analisis tersebut mencerminkan
kompleknya permasalahan atau fenomena yang dihadapi di setiap
riset.
21. Analisis Data dan Persiapan
Laporan
Tahap akhir dari suatu riset adalah penyusunan laporan riset.
Secara umum, laporan riset tentang hal-hal yang terkait dengan
kegiatan peneliti sejak tahap persiapan riset hingga interprestasi dan
penyimpulan hasil analisis.
Bentuk baku dari suatu laporan riset belum ada.
Bentuk atau format laporan riset sangatlah dipengaruhi oleh keinginan
si peneliti, hal-hal yang perlu dilaporkan, serta permintaan dari para
sponsor riset.
Pertanyaan

1. Apakah masalah-masalah etika yang dihadapi riset keperilakuan?

2. Bagaimana desain riset berhubungan dengan temuan masalah?

3. Sebagai seorang peneliti, bagaimana anda menangani temuan


masalah?

4. Bagaimana data sekunder dan data primer dapat dikatakan valid?

5. Apakah seharusnya alat ukur riset valid dan andal?


SEKIAN DAN TERIMAKASIH