Anda di halaman 1dari 71

INTERPRETASI DATA KLINIK

TIROID

OLEH :
KELOMPOK II

NUR APNI RIYANTI (1301059)


NURA ANI SARI (1301062)
NURIANA SAFITRI (1301064)
NYIMAS F. H. (1301066)
RANI FAUZIAH (1301075)
REDMI FERRIS (1301076)
RENGGI MIRTA P. (1301078)
RISKA OKTAVIANI (1301081)
SANIA HERMANIZA (1301086)
SHARIFAH SANIAH (1301090)
SINDI ARLINA (1301093)
SUSI LESTARI (1301097)
TIARA SRI SUDARSIH (1301100)
WELNI ANDRIANI (1301105)
WELNI NOVERIANTI (1301106)
YULIA INDRI YANI (1301112)

S1- VII B

DOSEN PENGAJAR : Dr. MEIRIZA DJOHARI, M. Kes., Apt.


Pembahasan
Anatomi dan fisiologi dari Kelenjar Tiroid

Hormon hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid dan


peranannya

Mekanisme kerja hormon tiroid

Hal hal yang penting terkait kelenjar tiroid

Penyakit Gangguan Tiroid

Pemeriksaan Penapisan Untuk Penyakit Tiroid

Pemeriksaan Gangugan Fungsi Tiroid

Algoritma Penafsiran Pemeriksaan Tiroid


Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Tiroid

Pada mamalia, tiroid berasal dari evaginasi


dasar faring; dan duktus tirogulus menandai
jalur perjalanan tiroid dari lidah ke leher,
yang kadang-kadang menetap sampai
dewasa.
Kedua lobus kelenjar tiroid dihubungkan oleh
suatu jembatan jaringan, yaitu ismus tiroid,
dan kadang kadang terdapat lobus
piramidalis yang muncul dari ismus didepan
laring.
Tiroid merupakan salah satu organ tubuh
yang memiliki jumlah aliran darah tertinggi
pergram jaringannya.
Tiroid terbentuk dari banyak asinus
(folikel), tiap folikel sferis dikelilingi
oleh satu lapisan sel dan diisi oleh
bahan proteinaseosa bewarna
merah muda yang disebut koloid.
Folikel merupakan susunan dari sel
folikel yang membentuk bola-bola
berongga yang masing-masing
membentuk satu unit fungsional.
Koloid merupakan bahan yang
berfungsi sebagai tempat
penyimpan ekstrasel untuk
hormon tiroid.
Gambar 3.Histologi Tiroid. Perhatikan lakuna reabsorpsi kecil yang
tampak cekung dalam koloid di samping sel-sel pada kelenjar yang
aktif (Ganong, 2008).

Saat kelenjar tidak aktif koloid berjumlah banyak, folikel berukuran


besar dan sel-sel yang membatasinya tipis. Bila kelenjar aktif, folikel
menjadi kecil, sel-selnya kuboid atau kolumner, dan tepi folikel
mengalami lekukan yang membentuk banyak lakuna reabsorbsi kecil.
Kelenjar tiroid
merupakan kelenjar
endrokrin perifer yang
berfungsi dalam
mengontrol laju
metabolik basal tubuh

Gambar 4. Sel Tiroid. Kiri : pola normal.


Kanan : setelah rangsangan kuat oleh TSH.
Panah di kiri memperlihatkan sekresi
tiroglobulin ke dalam koloid. Di kanan,
diperlihatkan endositosis koloid dan
penyatuan sebuah vakuol yang mengandung
koloid dengan sebuah lisosom. Sel terletak
diatas kapiler dengan pori (Fenestrasi) pada
dinding endotel (Ganong, 2008).
Peranan Fisiologis Hormon
Kelenjar Tiroid

Hormon utama yang di


sekskresikan oleh tiroid adalah.
Tiroksin (T4) dan Triiodotironin
(T3). Triiodotironin juga dibentuk
di jaringan perifer melalui
deionisasi tiroksin .
Sel-sel tiroid memiliki 3 fungsi yaitu :

Serta mengeluarkan
hormon tiroid dari
tiroglobulin dan
Membentuk menyekresikannya
tiroglobulin dan ke dalam sirkulasi
mengeluarkannya ke
Sel-sel ini dalam koloid
mengumpulkan dan
memindahkan iodium
Hormon tiroid adalah penentu utama laju
metabolik basal dan juga memiliki efek lain.
Dibandingkan dengan hormon lain, kerja
hormon tiroid relatif lamban.

Respons terhadap peningkatan hormon tiroid


baru terdeteksi setelah beberapa jam , dan
respon maksimal belum terlihat dalam
beberapa hari.

Durasi respon juga cukup lama, sebagian


karena hormon tiroid tidak cepat terurai tetapi
juga karena respon terhadap peningkatan
sekresi terus terjadi selama beberapa hari atau
bahkan minggu setelah konsentrasi hormon
tiroid plasma kembali ke normal
Efek triiodotironin dan tiroksin dapat dikelompokkan
kedalam beberapa kategori

Efek pada laju metabolisme dan produksi panas

Efek pada metabolisme antara

Efek simpatomimetik

Efek pada sistem kardiovaskular

Efek pada pertumbuhan dan sistem saraf

Kalsitonin
Mekanisme Kerja Hormon Tiroid

Hormon tiroid masuk kedalam sel, dan triiodotironin berikatan


dengan reseptor tiroid (thyroid receptor,TR) di inti.

Kompleks hormon-reseptor kemudian berikatan dengan DNA


melalui Zinc fingers dan meningkatkan atau, pada sebagian
kasus, menurunkan ekspresi berbagai gen berbeda yang
mengode enzim yang mengatur fungsi sel.

Pada umumnya, Triiodotironin bekerja lebih cepat dan tiga


sampai lima kali lebih kuat daripada tiroksin karena hormon ini
terikat kurang erat dengan protein plasma tetapi lebih erat
dengan reseptor hormon tiroid.RT3 bersifat inert
Efek fisiologis Hormon Tiroid
Jaringan sasaran Efek Mekanisme
Jantung Konotropik Meningkatkan jumlah dan afinitas reseptor adrenergik-
Inotropik Memperkuat respon terhadap ketekolamin darah
Meningkatkan proporsi rantai berat myosin (dengan
aktivitas ATPase yang lebih tinggi

Jaringan lemak Katabolik Merangsang lipolisis


Otot Katabolik Meningkatkan penguraian protein
Tulang Perkembangan Mendorong pertumbuhan normal dan perkembangan
tulang
Sistem saraf Perkembangan Mendorong perkembangan otak normal

Saluran cerna Metabolik Meningkatkan laju penyerapan karbohidrat

Lipoprotein metabolik Merangsang pembentukan reseptor LDL


Lain-lain Kalorigenik Merangsang konsumsi oksigen oleh jaringan yang aktif
secara metabolik (kecuali : testis, uterus, kelenjar limfe,
limpa, hipofisis anterior)
Meningkatkan kecepatan metabolisme
Hal-Hal Yang Penting Tentang
Kelenjar Tiroid

Hormon tiroid diatur oleh sumbu hipotalamus-


hipofisis-tiroid. Thyroid stimulating hormone
(TSH), hormon tropic tiroid dari hipofisis
anterior, adalah regulator fisiologik terpenting
sekresi hormon tiroid.Hampir setiap tahap
dalam sintesis dan pelepasan hormon tiroid
dirangsang oleh TSH.

Selain meningkatkan sekresi hormon tiroid,


TSH juga mempertahankan integritas structural
kelenjar tiroid
Penyakit Gangguan Tiroid
Hipotiroidisme

Hipertiroidisme

Stimulasi oleh Gonadotropin Korionik

Tiroiditis

Tiroiditis Subakut

Sindrom Sakit Eutiroid


Hipotiroidisme

Pada definisi tiroid terjadi hipometabolisme


generalisata, suatu sindrom yang disebut miksedema.
Biasanya terjadi alergi, konstipasi, kulit dan rambut
kering dan pada perempuan pramenopause,
perdarahan haid yang berlebihan.
Gejala spesifik hipotiroidisme adalah perlambatan
refleks tendon, tekstur kulit menjadi kasar, wajah
bengkak, intoleransi terhadap dingin, penurunan
keringat, gangguan daya ingat, dan perlambatan
aktivitas berbicara dan motorik
Temuan laboratorium diagnostik adalah penurunan T4 serum
disertai penyerapan T3 yang rendah.

T3 serum normal pada 20 sampai 30 % apsien hipotiroid dan


rendah pada banyak penyakit nontiroid (lihat Sindrom Sakit
Eutiroid), sehingga pengukuran ini tidak banyak membantu
dalam diagnosis, penyerapan 183I epitiroid rendah, tetapi uji ini
jarang diperlukan untuk diagnosis

Kadar TSH tiga kali atau lebih dibandingkan dengan normal,


kecuali pada kasus-kasus jarang dengan jarang dengan
hipotiroidisme terjadi akibat disfungsi hipofisis. Pemberian
thyrotropin-releasing hormone dapat digunakan untuk
mengevaluasi responsivitas hipofisis.
Hipotiroidisme kongenital menyebabkan retardasi mental
yang berat dan irreversibel dan perubahan tubuh khas yang
disebut kretinisme.

Gangguan ini seluruhnya dapat dicegah dengan pemberian


hormon tiroid seumur hidup yang dimulai segera setelah
lahir. Karena itu, dibawah undang-undang negara bagian,
semua bayi baru lahir harus menjalani pemeriksaan
penapisan (dengan sampel darah tumit) untuk mengetahui
apakah kadar T4 rendah disertai konfirmasi oleh
pemeriksaan TSH.
Gambaran laboratorium Hipotiroidisme
Algoritme Pemeriksaan Penderita diduga Hipotiroidisme
Hipertiroidisme
Tiroid mungkin menghasilkan hormon dalam jumlah
berlebihan dari bagian-bagian nodular lokal jaringan
hiperfungsi (adenoma atau gondok noduar toksik) atau dari
hiperaktivitas keseluruhan (gondok toksikdifus, penyakit
Graves).

Penyakit Graves biasanya terjadi pada usia yang lebih muda


daripada gondok noduar toksik; keduanya lebih sering pada
perempuan dibandingkan laki-laki.
Gejala-gejala nonspesifik meliputi rasa cemas,
rasa lelah, penurunan berat walaupun nafsu
makan normal atau meningkat, intoleransi
terhadap panas, dan peningkatan berkeringat

Pada penyakit Graves, tetapi tidak pada


gondok nodular toksik, sering terjadi
penonjolan bola mata yang berlebihan
(eksoftalmos) dan pelebaran jaringan palpebra
Temuan laboratorium
Pada sebagian besar tipe hipertiroid T3 dan T4
tinggi, disertai peningkatan penyerapan T3 dan T4
bebas atau indeks tiroksin bebas yang sangat
tinggi.
Para pasien ini memperlihatkan T4 dan FTI yang
normal, tetapi akdar T3 meningkat.
Pemeriksaan kadar T3 dapat sangat bermanfaat
pada pasien yang secara klinis hipertiroid, tetapi
memiliki T4 dan FTI yang normal.
Stimulasi oleh Gonadotropin Korionik

Struktur kimiati TSH mirip dengan struktur gonadotropin


korionik manusia (hCG).

Pasien dengan kadar hCG yang tinggi akibat mola


hidatidiformis, koriokarsinoma, atau karsinoma embrional
testis kadang-kadang memperlihatkan gejala hipertiroidisme.

Tidak dianjurkan pemeriksaan-pemeriksaan diagnostik


ekstensif, kecuali apabila manifestasi tiroid menetap setelah
neoplasma saluran reproduksi tersebut diangkat
Tiroiditis
tiroiditis limfositik atau penyakit hashimoto, sering menyebabkan
pemebsaran kelenjar. Yang Patognomonik pada tiroiditis limfositik adalah
titer antibodi terhadap tiroglobulin dan antigen mikrosom yang tinggi.

Kadar hormon mungkin normal saat gondok pertama kali disadari tetapi
seiring dengan destruksi pasien, pasien sering terjadi hipotiroid.

Pengukuran T4 biasanya memperlihatkan hasil normal pada saat pertama


kali muncul, tetapi bahkan pada tahap ini biasanya terjadi kerusakan folikel
sehingga Iodium nonhormonal masuk kedala msirkulasi.

Pengukuran PBI mungkin bermanfaat apabila kita mencurigai hal ini; nilai PBI
yang tinggi disertai nilai T4 yang normal atau normal rendah
mengisyarakatkan gangguan folikel.
Tiroiditis Subakut

Tiroiditis Subakut dapat terjadi dalam epidemi-epidemi lokal yang


mengisyarakatkanbahwa penyebabnya mungkin suatu virus.

Penyakit berawal sebagai nyeri tenggorokan disertai demam yang


berkembang sehingga melibatkan satu atau kedua lobus tiroid, yang biasanya
membesar dan nyeri bila ditekan atau saat menelan.

Biopsi tiroid, memperlihatkan infiltrat sel radang diikuti oleh resolusi sehingga
terjadi pembentukan jaringan-jaringan parut fokal.

Pada sejumlah kecil kasus tiroid mengalami atrofi sehingga terjadi


hipotiroidisme irreversibel.
Sindrom Sakit Eutiroid

Penyakit-penyakit yang parah dapat memperlihatkan gambaran


laboratorium dan klinis yang mengisyaratkan adanya
hipotiroidisme.

Pasien deggan penyakit neoplastik, diabetes melitus, luka


bakar, trauma, penyakit kardiovaskular, penyakit hati, gagal
ginjal, atau infeksi berkepanjangan sering memperlihatkan
penurunan kadar T3 dan T4 serum dan perubahan-perubahan
sistemik yang konsisten dengan hipometabolisme berat.
Pertimbangan Perawatan Pasien
Artefak Iodium

Pemeriksaan penyerapan radioiodium epitiroid atau penyerapan iodium


radioaktif (radioactive iodine uptake; RAIU) dipengaruhi oleh simpanan
iodium tubuh total.

Pasien harus ditanyai mengenai pemakaian preparat suntan, sirup obat


batuk, suppositoria vagina, dan obat lain yang banyak diantaranya
mengandung iodium dan dapat menyebabkan hasilRAIU rendah-palsu
selama 1 sampai4 minggu.

Apabila riwayat pasien menunjukkan prosedur-prosedur ini, permintaan


RAIU ahrus disertai informasi yang sangat spesifik mengenai waktu,
tempat, dan sifat pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan.
Pemeriksaan Penapisan Untuk Penyakit Tiroid

Pemeriksaan spesifik yang sekarang


dianjurkan untuk menapis penyakit liroid
adalah immunoassay TSH generasi ketiga
atau keempat.

Dengan mengukur TSH kita dapat mendeteksi


hipotiroidisme primer (dengan TSH tinggi),
hipertiroidisme sekunder atau tersier (TSH di
bawah rentang acuan atau di bawah batas
deteksi), dan hipertiroidisme (TSH rendah
karena mengalami penekanan).
Peningkatan dalam sensitivitas pengukuran
TSH pada kadar rendah menyebabkan TSH
menjadi uji yang lebih baik daripada T4
untuk membedakan penyakit tiroid dari
beberapa penyakit nontiroid yang dapat
rnenyebabkan perubahan T, dalam darah.

Kadar TSH terlalu rendah (misal kurang


daripada 0,1 U/m) harus dikonfirmasi
dengan menari peningkatan hormon tiroid
total atau lebih baik agi hormon bebas
misalnya Indeks tiroksin bebas, atau
pengukuran dengan dialisis equilibrium.
Pemeriksaan Gangguan Fungsi Tiroid
Pemeriksaan FT4

Pemeriksaan FT3

Pemeriksaan Anti-Tiroglobulin

Pemeriksaan T3 Total

Pemeriksaan T4 Total

Pemeriksaan Tiroglobulin

Pemeriksaan Anti-TPO

Pemeriksaan TSHs

Pemeriksaan TSH Neonatus


PEMERIKSAAN FT4

Membantu evaluasi fungsi kelenjar


tiroid; membantu diagnosis gangguan
tiroid; sebagai uji saring hipotiroidisme
pada bayi baru lahir; memantau
efektivitas pengobatan gangguan tiroid.
Persyaratan & Jenis Sampel : Serum atau plasma
: Enzime immunoassay fase padat satu
tahap yang mengukur thyroxin bentuk
Prinsip Pemeriksaan
terikat dengan prinsip kompetitif
berdasarkan fluoresensi
Stabilitas Sampel : 2 - 8C : 8 hari
-25 6C : 6 bulan (serum) / 4 bulan
(heparin)
Metode : ELFA (enzyme linked fluorescence
assay)
Metode Enzyme Linked Fluorescent
Assay (ELFA) yang memiliki keunggulan
yaitu sensitivitas yang tinggi
dan negative predictive value > 99%
ALAT YANG DIGUNAKAN : ALAT MINI VIDAS
PEMERIKSAAN FT3

Membantu evaluasi fungsi kelenjar tiroid;


mendiagnosis gangguan tiroid, termasuk
hipertiroidisme, dan menentukan
penyebabnya; memantau efektivitas
pengobatan gangguan tiroid.
Persyaratan & Jenis Sampel : Serum

18 25C selama 8 jam


Stabilitas Sampel : 2 8C selama 8 - 48 jam
-20C selama >48 jam

Metode : Chemiluminescent

pengujian enzim reseptor akhir digantikan


dengan bekas chemiluminescent diikuti
Prinsip :
oleh pengukuran dari emisi cahaya
sebagai akibat dari reaksi kimia

Nilai Rujukan : 2,3 - 4,2 pg/mL


A L AT YA N G D I GUNA KAN : C H E M I LUMI NESC ENT A N A LYZE R
PEMERIKSAAN ANTI-TIROGLOBULIN

Membantu mendiagnosis dan memantau


penyakit tiroid autoimun, serta
membedakannya dengan penyakit tiroid
lainnya; membantu dalam memutuskan
pemberian pengobatan.
Persyaratan & Jenis Sampel : Serum

Stabilitas Sampel : 24 jam pada suhu 2 8C


1 bulan pada suhu 20C

Metode : IHA (Inditect haemaglutination inhibition)


atau hambatan hemaglutinasi tidak langsung

Nilai Rujukan : Negatif


PEMERIKSAAN T3 TOTAL

Membantu evaluasi fungsi kelenjar tiroid;


mendiagnosis gangguan tiroid, termasuk
hipertiroidisme, dan menentukan
penyebabnya; memantau efektivitas
pengobatan gangguan tiroid.
Persyaratan & Jenis Sampel : Serum

Stabilitas Sampel : Suhu Ruang : 8 jam


2 - 8C : 48 jam
-20C : >48 jam

Metode : Chemiluminescent

Nilai Rujukan : 0,60 - 1,81 ng/mL


PEMERIKSAAN T4 TOTAL

Membantu evaluasi fungsi kelenjar tiroid;


membantu diagnosis gangguan tiroid; sebagai
uji saring hipotiroidisme pada bayi baru lahir;
memantau efektivitas pengobatan gangguan
tiroid.
Persyaratan & Jenis Sampel : Serum

Stabilitas Sampel : Suhu ruang : 8 jam


2 - 8C : 48 jam
-20C : >48 jam

Metode : Chemiluminescent

Nilai Rujukan : 4,5 - 10,9 ug/dL


PEMERIKSAAN TIROGLOBULIN

Memantau pengobatan kanker tiroid dan


mendeteksi kekambuhan; terkadang untuk
membantu menentukan penyebab
hipertiroidisme dan hipotiroidisme.
Persyaratan & Jenis Sampel : Serum atau plasma

Stabilitas Sampel : 2 8 C : 3 hari


-20 C : 2 bulan

Metode : Immunochemiluminescent

Nilai Rujukan : <=55 ng/mL


PEMERIKSAAN ANTI-TPO

Membantu mendiagnosis dan memantau


penyakit tiroid autoimun, serta
membedakannya dengan penyakit tiroid
lainnya; membantu dalam memutuskan
pemberian pengobatan.
Persyaratan & Jenis Sampel : Serum atau plasma

Stabilitas Sampel : 2 8 C : 72 jam


-10 C : 30 hari

Metode : CMIA

Nilai Rujukan : Negatif IU/mL


PEMERIKSAAN TSH S

Sebagai uji saring dan membantu


diagnosis gangguan tiroid; memantau
pengobatan hipotiroidisme dan
hipertiroidisme.
Persyaratan & Jenis Sampel : Serum atau plasma
Stabilitas Sampel : - Serum dan plasma EDTA :
18 - 24C : 24 jam
2 - 8C : 48 jam
-20C : 30 hari
- Plasma heparin :
18 - 24C : 24 jam
2 - 8C : 48 jam
-20C : 14 hari

Metode : Chemiluminescent
Nilai Rujukan : 0,640 - 6,270 IU/mL
PEMERIKSAAN TSH NEONATUS

Sebagai uji saring gangguan tiroid pada bayi baru lahir

Prinsip kerja : Berdasarkan reaksi spesifik antara antibodi


dan antigen dengan menggunakan enzim sebagai penanda
(marker). Enzim tersebut akan memberikan suatu tanda
terdapatnya suatu antigen jika antigen tersebut sudah
bereaksi dengan antibodi. Reaksi tersebut memerlukan
antibodi spesifik yang berikatan dengan antigen
ALAT YANG DIGUNAKAN : ELISA ANALYZER
Persyaratan & Jenis Sampel : Whole Blood

Stabilitas Sampel : Sampel kering dalam kertas


saring pada suhu 2 8C selama
14 hari
Persiapan Pasien : - Tidak diperuntukkan bagi bayi lahir
prematur dan yang menerima transfusi
darah.
- Informasikan umur bayi kepada petugas
laboratorium.

Metode : ELISA
Algoritma Penafsiran Pemeriksaan Tiroid
Kadar fT3 baru diperiksa bila ada indikasi.
Indikasi pengukuran fT3 serum.

Diperlukan 1. Tirotoksikosis potensial dengan TSH


tertekan dan fT4 normal
2. Selama terapi obat antitiroid untuk
mengenal kelebihan T3 tunggal yang
menetap
3. Diagnosis tirotoksikosis yang
diinduksi oleh amiodaron

Berguna 1. Kekambuhan dini tirotoksikosis


2. Perluasan kelebihan T3 selama terapi
penekanan T4 atau setelah kelebihan
dosis
Tidak diperlukan atau salah 1. Diagnosis hipotiroidisme
2. Selama sakit kritis
3. Selama sulih T4 rutin
4. Penapisan subyek asimtomatik
5. Pemantauan pengobatan T3
Kadar TSH yang rendah diikuti dengan pengukuran kadar T4 dan T3,
yang total atau free. Pola fungsi tiroid berhubungan dengan kadar tiro-tropin
serum yang tertekan dan kadar hormon tiroid yang mungkin normal
Contoh Hasil Lab. Pemeriksaan Endokrin
KASUS 1
Seorang pria 59 tahun dengan TB 173 cm BB 73
kg masuk UGD dengan gejala mual dan muntah.
Pada pemeriksaan pasien sedikit demam (37 0C)
dengan hepatomegali ringan dan ikterus sclera
ringan. Pasien mengkonsumsi alcohol sedang (10-12
minuman / minggu selama beberapa tahun terakhir),
juga mengkonsumsi 8 tablet Extra-Strength Tylenol
(acetaminophen setiap 500 mg) bila perlu setiap hari,
selama 2 minggu terakhir untuk menghilangkan rasa
sakit cedera lutut karena jatuh.
Lanjutan

Analisis laboratorium mengungkapkan terjadi


peningkatan ALT serum (535 IU / L, normal: 4-51
IU / L) dan AST (430 IU / L, normal : 15-45 IU / L),
peningkatan bilirubin (41 mol / L ; biasa: <17 mol
/ L), tingkat glukosa serum 2,0 mmol / L (normal:
3,9-5,8 mmol / L), dan konsentrasi
acetaminophen darah dari 58 ug / mL. Pasien
dirawat di rumah sakit dan diberikan infus
intravena yang termasuk glukosa dan N-
acetylcysteine (NAC).
PENYELESAIAN
Acetaminophen diganti dengan obat analgetik
lain seperti meloxicam 15 mg jika masih
dibutuhkan untuk mengobati rasa sakit cedera,
karena acetaminophen (NSAID) dapat
meningkatkan kadar aminotransferase.

Terjadi peningkatan nilai ALT dan AST dari nilai


normal

Rasio ALT/AST = 1,2 dengan nilai ALT > AST,


artinya pasien menderita hepatitis alkoholik
karena pasien juga mengkonsumsi alcohol secara
berlebihan setiap hari
Lanjutan
Pasien mengalami hipoglikemik, hal ini disebabkan karena
rusaknya fungsi hati akibat mengkonsumsi alcohol yang berlebihan
sehingga hati yang berfungsi untuk mengubah glikogen menjadi
glukosa tidak bekerja dengan sempurna. Untuk itu perlu
pemberian glukosa secara infuse IV.

Pasien juga mengalami toksisitas acetaminofen, untuk itu perlu


pemberian N-acetylsistein yang bertindak sebagai agen
hepatoprotektif dengan mengembalikan glutation hati (pengganti
glutation) dan meningkatkan konjugasi sulfat beracun dari
asetaminofen.

Pemberian glukosa dan N-acetylsistein secara infus IV karena pasien


saat masuk UGD dalam keadaan mual dan muntah, sehingga tidak
memungkinkan untuk minum obat secara oral.
Disarankan kepada pasien untuk
menerapkan pola hidup sehat
Perlu dilakukannya TDM terhadap
pasien untuk mencegah terjadinya
toksisitas obat
Solusi Tenaga kesehatan harus
memperhatikan obat-obatan yang
dapat memperburuk kerja hati
pasien
Istirahat yang cukup untuk
mengembalikan kesehatan pasien
KASUS 2
Seorang pria 53 tahun TB 178 cm BB 120 kg,
didiagnosis dengan resistensi insulin dan diabetes
melitus tipe 2. Kadar glukosa plasma puasa
(FPG) adalah 174 mg / dL dan hemoglobin-nya
(Hb) nilai A1c (70-110 mg / dL normal) adalah
suboptimal pada 8,4%. Pasien memiliki fungsi
ginjal dan hati yang normal. Pasien
mengkonsumsi alcohol sedang dan tidak sedang
mengkonsumsi obat selain ibuprofen. Dia
menyatakan bahwa terjadi peningkatan berat
badan selama 2 tahun terakhir, karena stress
akibat beralih pekerjaan.
Lanjutan
Dia telah diperintahkan oleh dokter untuk
memodifikasi diet, banyak olahraga dan diresepkan
metformin oral (bid 500 mg) dikonsumsi dengan
makanan. Pada pemeriksaan tindak lanjut 3 bulan
kemudian, status pasien tidak benar-benar berubah
secara signifikan; BB 118 kg, FPG nya 157 mg / dL, dan
HbA1c-nya adalah 8,0%. Dia menilai tidak terjadi
perubahan dengan diet yang dilakukan dan
meminum metformin setiap hari. dokter
mempertimbangkan pemberian sulfonilurea oral
untuk rejimen pasien, untuk memeriksa lebih lanjut
jika pasien sudah memakai metformin. Dia
menginstruksikan pasien untuk membawa botol obat
saat kunjungan dalam dua minggu berikutnya. Ketika
kantornya menghubungi apotek lokal di mana pasien
mengambil resepnya, apoteker memberitahu dokter
bahwa Resep metformin pasien telah ditebus.
Lanjutan
Pada kunjungan kantornya berikutnya,
pasien membawa botol resepnya yang masih
berisi tablet metformin, yang seharusnya
kosong. Pasien mengaku tidak minum
metformin dua kali setiap hari. Kadang-
kadang hanya mengambil obat sekali sehari
karena lupa atau terlalu lelah. Dia juga
menyatakan ia memiliki "beberapa" tablet
metformin di lemari obat nya yang rumah
disimpan dalam wadah non-resep.
PENYELESAIAN

Pasien didiagnosis dengan resistensi insulin dan diabetes


melitus tipe 2

Kadar glukosa plasma puasa (FPG) adalah 174 mg/dL


(70-110 mg/dL normal) artinya kadar glukosa puasa
pasien tinggi

Hemoglobin-nya (Hb) nilai A1c 8,4% (normal untuk


pasien DM <7%) artinya kadar HbA1C pasien tinggi
sehingga pada pasien DM semakin tinggi nilai HbA1C nya
semakin tinggi resiko komplikasi akibat penyakit DM
Lanjutan
mengkonsumsi alcohol akan memperberat
kerja hati untuk mengubah glukosa menjadi
glikogen.
setelah minum obat metformin dan diet, kondisi
pasien tidak berubah secara signifikan, hal ini
disebabkan Karena pasien tidak teratur minum
obat dan tidak diet untuk menurunkan berat
badan yang obesitas.
Disarankan kepada pasien untuk mengontrol
kadar gula darah dan menerapkan pola hidup
sehat.
STUDI KASUS