Anda di halaman 1dari 10

TRANSFORMASI MASYARAKAT

PETANI KE INDUSTRI DI MRANGGEN


Struktur sosial di pedesaan adalah struktur
sosial yang bersifat sederhana karena dilihat
dari mata pencahariannya yang mayoritas sama
atau seragam, aktivitas pedesaannya (localite
activities) yang hanya terbatas pada persolan
bagaimana cara memperthankan hidup dan
mencapai kebutuhan subsitennya dan mereka
tidak ingin mengambil resiko yang lebih besar
dalam hal kebutuhan subsistennya.
Berkurangnya daya serap tenaga kerja sektor
pertanian sebagai akibat dari involusi (Geertz,
1983), telah menyebabkan peranan sektor-
sektor luar pertanian (off-farm employingment)
menjadi semakin penting. Sektor pertanian yang
merupakan sumber nafkah tradisional tidak lagi
mampu menampung melimpahnya tenaga kerja
dan berkurangnya lahan pertanaian yang beralih
fungsi di pedesaan
Salah satu jalan keluar yang diharapkan dapat
membantu mengatasi masalah tersebut adalah
industri pedesaan terutama sektor pengolahan.
Strategi dari adanya industrialisasi di pedesaan
diharapkan dapat akan mampu mengurangi arus
migrasi penduduk, serta memecahkan masalah
kemiskinan (Weber, 1993).
Industrialisasi di Mranggen berlangsung dari
tahun 1995-an sampai dengan awal 2000-an,
pada rentan waktu tersebut terjadi
pembangunan industri yang cukup massif, di
mana didirikan beberapa pabrik tekstil, gudang
rokok, dan sebagainya.
Masyarakat setelah mulai
berkurangnya lahan pertanian
Pedagang, ada berbagai macam dagangan yang
dijajakan, seperti pakaian, makanan, mainan,
serta kebutuhan pokok lainnya dan di pajang
dagangannya di sekitar pasar Mranggen.
Buruh pabrik. Berubahnya dan menyempitnya
lahan pertanian yang dijadikan bangunan pabrik
secara otomatis merubah profesi masyarakatnya.
Profesi ini umumnya ditekuni oleh masyarakat
yang memiliki strata ekonomi menengah ke
bawah.
Dampak adanya pabrik, munculnya para
pedagang yang mangkal di pinggir pabrik. Para
pedagang ini menyediakan kebutuhan para
pekerja seperti pakaian, tas, sepatu, sandal,
dan lain sebagainya.
Dalam masyarakat industri, peranan
pengelompokan sekunder semakin menggeser
pengelompokan primer. Yang dimaksud
dengan pengelompokan sekeuder adalah unit
organisasi kerja atau produksi. Sedangkan
yang dimaksud dengan kelompok primer
adalah keluarga, suku, dan agama. Semakin
dominannnya peranan ilmu pengetahuan
pada masyarakat industri, menyebabkan
terjadinya pergeseran nilai-nilai keagamaan
dalam masyarakat industri.
Ketergantungan masyarakat industri terhadap
pabrik, sama halnya bergantung pada
penguasa atau pemilik pabrik, dan tidak jarang
dijumpai pemilik atau pengusaha pabrik
bersikap tidak etis atau tidak manusiawi
tehadap para pekerja. Berbeda dengan
masyarakat yang menggantungkan hidupnya
dengan tanah pertanian, tanah tersebut tidak
mampu memaksakan orang untuk berlaku
tidak etis dan sewenang-wenang (dhalim).
TERIMA KASIH