Anda di halaman 1dari 39

Oleh: Dr. Gemala Dewi, SH., LL.

M
1. PENDAHULUAN
2. KOMPONEN SYARIAH
3. SUBSTANSI SYARIAH
4. KONSEP PERBANKAN SYARIAH
5. PENYLS SENGKETA PERBANKAN SYARIAH
6. PERMASALAHAN HUKUM
7. PENUTUP
Terdapat pertumbuhan yang signifikan pada
kegiatan ekonomi Islam dalam hubungan
internasional bisnis.
Saat ini banyak bank, asuransi dan lembaga
keuangan lainnya di Indonesia mengikuti tren
menggunakan sistem syariah yang disebut
sebagai berdasarkan prinsip syariah, seperti
bank syariah, asuransi syariah dll.
Namun, sumber daya manusia yang dapat
mendukung sistem ini tidak cukup tersedia
karena kurangnya pendidikan, terutama dalam
pemahaman dasar hukum tentang hukum
kontrak Islam.
WAHYU/ 1.Kebenaran Absolut
2.Universal
SYARIAH 3.Permanen
(AL-QURAN + SUNNAH)
KOMPONEN
SYARIAH/
HUKUM ISLAM
FIQH/ 1. Kebenaran Relatif
IJTIHAD 2. Bisa Tidak Universal
3. Bisa Tidak Permanen
(WAHYU + AKAL)

4
Pada dasarnya semua
yang berkaitan dengan
IBADAH
Ibadah terlarang,kecuali
diperintahkan
KOMPONEN
SYARIAH/
HUKUM ISLAM
Pada dasarnya semua yg
MUAMALAH berkaitan dg muamalah
Boleh.

5
Dari aspek bahasa, istilah bank syariah terbentuk dari
2 kata dasar, yaitu :
1. bank
2. Syariah

Definisi menurut UU Perbankan Syariah : Bank Syariah


adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya
berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya
terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah
UU No. 10/1998

Konvensional Syariah
UU 21/2008

Basisnya BUNGA Pengharaman BUNGA

7
Fungsi dasar bank adalah sebagai intermediasi yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkan kembali dana tersebut
kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan

Proses
Penghimpunan Dana
Masyarakat Masyarakat
Pemilik Dana Proses Pengguna
Penyaluran Dana Dana
Proses Proses
Penghimpunan Dana Penyaluran Dana
Masyarakat Masyarakat
Pemilik Dana Pengguna Dana

Penetapan Imbalan Penetapan Beban


Konsep & Sistem
Perbankan Syariah
BAGI HASIL

Proses Proses
Penghimpunan Dana Penyaluran Dana
Masyarakat Masyarakat
Pemilik Dana Pengguna Dana

BAGI HASIL
Konsep Penyaluran Dana :
Konsep Penghimpunan Dana : 1. Bagi Hasil (Mudharabah &
1. Al Wadiah Musyarakah)
2. Mudharabah 2. Jual Beli (Murabahah, Istishna &
Salam)
3. Ujroh (Ijarah & Ijarah Muntahiah
Bitamlik)
Penghimpunan Penyaluran Jasa
keuangan
Prinsip jual beli
Prinsip wadiah Murabahah
Giro Istishna Wakalah
Tabungan Salam Kafalah
Hiwalah
Prinsip bagi hasil Rahn
Prinsip mudharabah Mudharabah Qardh
Deposito Musyarakah Sharf
Tabungan
Ujroh
Ijarah
Ijarah Muntahiah
Bitamlik
Fungsi Aplikasi produk

Penghimpunan dana :
MANAGER Prinsip wadiah
INVESTASI Prinsip mudharabah
TAMWIL

Penyaluran dana
INVESTOR Prinsip jual beli (murabahah, salam,
istishna dsb)
Prinsip bagi hasil (mudharabah, musyarakah)

Produk jasa
JASA LAYANAN Wakalah, Kafalah, Sharf, Qardh
Hawalah, Rahn dsb
MAAL

Dana kebajikan
SOSIAL Penghimpunan dan penyaluran Qardhul Hasan
Penghimpunan dan penyaluran ZIS
Keterangan Bank Konvensional Bank Syariah
Non-bunga (bagi hasil,
Sistem yang digunakan dalam produk Berbasis bunga
marjin, sewa, fee)
Hanya Dewan Komisaris dan Dewan Komisaris, Direksi &
Susunan Pengurus
Direksi Dewan Pengawas Syariah

Jenis pengikatan / akad Hanya satu jenis pengikatan Beragam jenis akad

Berfluktuasi, sesuai kinerja


Hasil investasi setiap bulannya Tetap
bank
Hanya bisnis
Semua bisnis yang
Penyaluran dana menguntungkan yang
menguntungkan
sesuai prinsip syariah
Dapat berperan sebagai
Fungsi sosial Tidak ada
Lembaga Amil Zakat (LAZ)
Perihal Sistem Bagi Hasil Sistem Bunga

Penentuan besarnya hasil. Sesudah berusaha, sesudah Sebelumnya.


ada untungnya.
Yang ditentukan Menyepakati proporsi Bunga, besarnya nilai
sebelumnya. (nisbah)pembagian untuk Rupiah.
untuk masing-masing pihak,
misalnya 50:50, 40:60,
35:65, dst.
Jika terjadi kerugian. Ditanggung kedua pihak, Ditanggung nasabah saja.
nasabah dan lembaga.
Dasar perhitungan. Dari untung yang bakal Dari dan yang dipinjamkan,
diperoleh, belum tentu fixed, tetap.
besarnya.
Titik perhatian usaha. Keberhasilan usaha menjadi Besarnya bunga yang harus
perhatian bersama: nasabah dibayar nasabah atau pasti
dan lembaga. diterima bank.
Besarnya prosentase. Proporsi: (%) kali jumlah Pasti: (%) kali jumlah
untung yang belum diketahui pinjaman yang telah
= belum diketahui. diketahui pasti.
14
5.
PENYELESAIAN
SENGKETA PERBANKAN
SYARIAH
Pasal 55 UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah:

(1) Penyelesaian sengketa Perbankan Syariah dilakukan oleh


pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama.
(2) Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian
sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi Akad
(3) Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tidak boleh bertentangan dengan Prinsip Syariah.

Penjelasan ayat (2) Dihapus dengan Putusan MK Nomor


93/PUU-X/2012
Yang dimaksud dengan penyelesaian sengketa dilakukan sesuai
dengan isi Akad adalah upaya sebagai berikut:
a. musyawarah;
b. mediasi perbankan;
c. melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) atau lembaga
arbitrase lain; dan/atau
d. melalui pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.
16
Perselisihan yang timbul sehubungan dengan perjanjian dan
pelaksanaannya diselesaikan secara bertahap, yaitu :

Secara musyawarah atau perdamaian (sulhu/ishlah), dapat


ditempuh melalui:

1. Upaya penyehatan melalui restrukturing, rescheduling atau


reconditioning.
2. Upaya penyelesaian damai melalui penjualan asset oleh
nasabah atau pengambilalihan asset secara damai oleh bank
untuk dijual ( Ibra ).
3. Upaya damai melalui arbitrase ( Al Tahkim )

Apabila perselisihan tidak dapat diselesaikan secara


musyawarah,
maka diselesaikan melalui hukum acara yang berlaku
di Negara Republik Indonesia ( Al Qadla )
PEMBIAYAAN BERMASALAH
Aspek Management
Aspek Pemasaran
Evaluasi Ulang Pembiayaan Aspek Produksi
Oleh Account Manager Aspek Keuangan
Aspek Yuridis
Aspek Jaminan

REVITALISASI PENYELESAIAN COLLECTION WRITE OFF


Restructuring MELALUI AGENT FINAL
Rescheduling JAMINAN
Reconditioning
Bantuan Management

Non Litigasi Write Off Litigasi


Sementara

Off-Set Mediasi BI BASYARNAS Pengadilan

Pengadilan Gugat Eksekusi Pidana Kepailitan

Lelang
Cash/HEJP
Penyelesaian pengaduan oleh bank tidak selalu dapat
memuaskan nasabah
Potensi sengketa dapat merugikan nasabah dan
meningkatkan risiko reputasi bank
Diperlukan alternatif penyelesaian sengketa yang sederhana,
cepat, dan murah dengan cara mediasi
Fokus mediasi perbankan adalah pada nasabah kecil dan
UKM dengan pertimbangan bahwa nasabah kecil dan UKM:

tidak mudah mendapatkan akses hukum dan dana untuk menyelesaikan


sengketanya dengan bank melalui lembaga arbitrase atau peradilan; dan
merupakan bagian terbesar dari nasabah bank secara keseluruhan
Dalam rangka upaya penyelesaian apabila terjadi sengketa
antara bank dengan nasabah, maka Bank Indonesia telah
mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia nomor 8/5/PBI/2006
tanggal 30 Januari 2006 tentang mediasi perbankan, dimana
penyelesaian sengketa nasabah dengan bank akan dilakukan
oleh assosiasi perbankan melalui lembaga mediasi perbankan
yang independent.
- Namun demikian, mengingat pembentukan lembaga
mediasi perbankan independent belum dapat dilaksanakan
dalam waktu singkat, maka pada tahap awal fungsi mediasi
tersebut dilaksanakan oleh Bank Indonesia.
- PBI No.8/5/PBI/2006 merupakan kelanjutan dari PBI
No.7/7/PBI/2005 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah
- PBI No 8/5/PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan ini
kemudian diperbarui dengan PBI No 10/1/PBI 2008, yang
mengharuskan bank memiliki lembaga mediasi.
- Sengketa yang dapat diajukan penyelesaian melalui
fungsi mediasi perbankan adalah pengaduan nasabah
yang telah diselesaikan oleh Bank yang bersangkutan
berdasarkan surat hasil penyelesaian pengaduan
nasabah dari Bank tersebut, namun menurut nasabah
bahwa penyelesaian tersebut belum memberikan jalan
keluar (solusi) bagi nasabah yang bersangkutan.
- Pengajuan penyelesaian sengketa melalui fungsi
mediasi perbankan (Bank Indonesia) hanya dapat
dilakukan oleh nasabah atau perwakilan nasabah,
termasuk lembaga, badan hukum, dan atau bank lain
yang menjadi nasabah Bank.
- Sengketa yang dapat diajukan adalah sengketa
keperdataan yang timbul dari transaksi keuangan,
dengan nilai paling banyak (maksimal) sebesar
Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dan dapat
berupa nilai kumulatif dari beberapa transasksi
keuangan.
- Sengketa tidak sedang dalam proses atau belum
pernah diputus oleh lembaga arbiterase, peradilan,
dan lembaga mediasi lainnya.
- Cakupan nilai tuntutan financial tidak termasuk
kerugian immateriil.
- Sengketa akan diajukan pada Bank Indonesia
sebagai pelaksana tahap awal dari fungsi mediasi
perbankan, namun Bank Indonesia tidak akan
memberikan keputusan dan atau rekomendasi
penyelesaian sengketa kepada nasabah dan bank,
tetapi hanya melakukan fasilitasi nasabah dan bank
untuk mengkaji kembali pokok permasalahan
sengketa secara mendasar agar dapat tercapai
kesepakatan.
Dalam penyelesaian sengketa nasabah
dengan perbankan, mekanisme yang
ditempuh adalah melalui penyelesaian antara
nasabah dan bank. Bila menemui kebuntuan,
maka dapat dilaporkan ke BI untuk
diselesaikan. Bila cara ini tidak juga berhasil,
maka akan dibawa ke pengadilan
Aspek Manajemen Pembiayaan Non Lancar
Aspek Pemasaran
Aspek Produksi
Aspek Keuangan Evaluasi Ulang Pembiayaan
Aspek Hukum
Aspek Jaminan

Pembiayaan Bermasalah Pembiayaan Macet

Tind. Administratif :
Penyehatan Writte Off Sementara Penyelesaian
Writte Off Final

Litigasi :
Restrukturisasi 1. Arbitrase
(Arti Luas) 2. Lelang Eksekusi
3. Gugat Perdata
4. Tuntutan Pidana
5. Kepailitan
Restrukturisasi
(Arti Sempit)
Non Litigasi :
1. Jual Jaminan
Rescheduling 2. Offset / Ambil Alih Jaminan
3. Arbitrase
Reconditioning

Pembiayaan Macet Penyelesaian

Perbankan syariah perspektif


praktisi 24
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008
tentang Perbankan Syariah memberikan
perlindungan hukum bagi nasabah bank
syariah yaitu pada Pasal 38, Pasal 39, Pasal
40 ayat (3), Pasal 41, Pasal 43, Pasal 45, Pasal
47, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 54 ayat
(2), Pasal 55, Pasal 59, Pasal 60 dan Pasal 66
ayat (2).
Menurut UU No.21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah mengatur:
- asas dari kegiatan usaha perbankan syariah
adalah prinsip syariah, demokrasi ekonomi dan
prinsip kehati-hatian.
- Yang dimaksud dengan berasaskan prinsip
syariah adalah kegiatan usaha yang tidak
mengandung riba, maisir, gharar, objek haram
dan menimbulkan kezaliman.
- Sedangkan yang dimaksud dengan berasaskan
demokrasi ekonomi adalah kegiatan usaha yang
mengandung nilai keadilan, kebersamaan,
pemerataan dan kemanfaatan.
a. Nasabah Penyimpan Dana;
b. Nasabah Debitur;
c. Nasabah Investor;
d. Nasabah Yang Sengaja Datang Sendiri Ke
Bank (Walk-in Customers);
e. Nasabah-Nasabah Lainnya.
a. Asas Manfaat;
b. Asas Keadilan;
c. Asas Keseimbangan;
d. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen
e. Asas Kepastian Hukum (UU No. 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen).
Akad bertentangan dengan UU No. 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen
Bab V pasal 18 huruf g:
- Tunduknya konsumen kepada peraturan
yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan
dan/atau pengolahan lanjutan yang dibuat
sepihak oleh pelaku usaha dalam masa
konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya
yang mana perjanjian dan kesepakatan baru
yang dibuat Bank ada kesalahan;----
Bagi hasil 65% untuk BPRS dan 35% untuk
nasabah merupakan bagi hasil yang tidak adil.

Dalam akad pembiayaan di Pasal 8 pilihan


hukum dan domisili poin 3, tidak pernah
dilakukan.

dan ternyata disaat terjadi kerugian langsung


dilelang yang telah dilakukan tanggal 1
Februari 2012;-----------
Bunyi Kalusula Pilihan Hukum (Pasal 8 Akad):

Dalam hal penyelesaian secara musyawarah


dan kelembagaan tersebut tidak berhasil
menyelesaikan perselisihan yang ada, maka
para pihak sepakat dan setuju untuk memilih
tempat tinggal yang umum dan tetap, yaitu di
kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri
Yogyakarta dan atau Pengadilan Agama di
Yogyakarta;-----------
Gugatan Penggugat yang ditujukan kepada
Tergugat merupakan ranah hukum perbuatan
pidana dan hukum administratif dalam hal ini
bukan merupakan kewenangan mengadili
Pengadilan Agama Yogyakarta, oleh
karenanya gugatan Penggugat sedemikian
sudah sepatutnya untuk dinyatakan tidak
dapat diterima;-------------------------
(tidak sesuai dengan ketentuan Hukum Acara
Perdata (pasal 134 HIR/160 RBg) khususnya
yang menyangkut kewenangan Mengadili).
Berdasarkan pasal 50 Undang-undang Nomor
7 Tahun 1989 yang menyatakan bahwa:
Dalam hal terjadi sengketa mengenai hak
milik atau keperdataan lain dalam perkara-
perkara sebagaimana yang dimaksud dalam
pasal 49 maka khusus mengenai obyek yang
menjadi sengketa tersebut harus diputus
terlebih dahulu oleh Pengadilan dalam
lingkungan Peradilan Umum
Namun, Pasal 50 Undang-undang Nomor 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, telah
dirubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun
2006 tentang Peradilan Agama yang telah
menjadi dua ayat dimana pasal yang disebutkan
oleh Tergugat menjadi ayat (1), sedangkan ayat
(2)nya berbunyi:
Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yang subyek hukumnya
antara orang-orang yang beragama Islam, obyek
sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan
Agama bersama-sama perkara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 49.
Takeover Contrak BRI- Bukopin Syariah ( Akad
Murabahah tanpa obyek jual beli)
Sebelumnya telah diputus oleh:
Putusan PN No. 08/PDT.BPH/2004/PN.BT akta
pdamaian No. 02/PDT.EKS/2004/PN.BT
Penetapan PN No. 03/PDT.EKS/2006/PN.BT.
1. Putusan PA Bukit Tinggi No. 284/Pdt.G/
2006/PA.Bkt. membatalkan Akad
2. Putusan PTA Padang No. 32 dan 33/Pdt.G
/2007/PTA/Pdg. membatalkan Put PA
3. Putusan MA No. 292/K/AG/2008. menolak
Kasasi & menguatkan Put PTA Padang.
Pasal 49 uu No. 3 Tahun 2006 mengatur:
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di
tingkat pertama antara orang-orang yang beragama
Islam di bidang:
Perkawinan;
Waris;
Wasiat;
Hibah;
Wakaf;
Zakat;
Infak;
Sedekah; dan
Ekonomi syariah.
Dalam penjelasan pasal ini mengenai poin (i) di atas disebutkan
sebagai berikut:

Yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah perbuatan


atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip
syariah meliputi:
Bank syariah;
Asuransi syariah;
Reasuransi syariah;
Reksa dana syariah;
Obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah;
Sekuritas syariah;
Pembiayaan syariah;
Pegadaian syariah;
Dana pensiun lembaga keuangan syariah;
Bisnis syariah; dan
Lembaga keuangan mikro syariah.
o Tantangan Bidang Hukum Perbankan
o Tidak semua sengketa merupakan sengketa perdata
yg murni, namun sebagian terkait dgn tindak pidana.
o Hukum/ketentuan yg berlaku masih sulit diterapkan
untuk menyelesaikan sengketa dimaksud.
o Masih terdapat perbedaan persepsi antara pihak-pihak
terkait.
o Perlu dilakukan upaya terobosan, al.penemuan
hukum (recht finding) oleh Hakim atau alternatif
lainnya
TERIMA KASIH