Anda di halaman 1dari 26

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

(KET)

Disusun oleh:
Chintya Puspa Harani,
S.Ked
712016022

Pembimbing:
dr. Msy. Yenny Indriani, Sp.OG

SMF ILMU OBSTETRI & GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH
PALEMBANG
FK UMP
PENDAHULUAN

Hasil dari Hasil konsepsi


Kehamilan
kesalahan dalam berimplantasi dan
ektopik masalah
fisiologi matang diluar kavitas
besar bagi wanita
reproduksi endometrium
usia reproduktif
manusia kematian fetus
PENDAHULUAN

Dengan tes
Sebagian besar kehamilan yang
Menurut WHO (2007),
kehamilan ektopik sensitif dan USG
kehamilan ektopik
terganggu berlokasi di transvaginal
adalah penyebab
tuba fallopi (95%) memudahkan
hampir 5 persen
terutama di ampula dan membuat diagnosis
kematian ibu hamil.
isthmus kehamilan ektopik
secara dini.
TUJUAN

1. Mengetahui definisi, klasifikasi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi,


manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan,
komplikasi, dan prognosis kehamilan ektopik terganggung (KET).

2. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah di bidang


kedokteran.

3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik Senior


(KKS) di Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Univer
sitas Muhammadiyah Palembang dan Rumah Sakit Umum
Daerah Palembang BARI
MANFAAT

Menambah wawasan dan pemahaman mengenai


kehamilan ektopik terganggu (KET) terutama
mengenai diagnosis dan penatalaksanaannya.
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI

KE kehamilan dimana implantasi blastosis terjadi


diluar kavum uteri

kehamilan ektopik mengalami abortus


KET / ruptura apabila massa kehamilan
berkembang melebihi kapasitas ruang
implantasi (misalnya: tuba)
KLASIFIKASI

Berdasarkan lokasi terjadinya, kehamilan ektopik dapat dibagi menjadi


berikut ini
ETIOLOGI

FAKTOR TUBA

FAKTOR LAIN ABNORMALITAS


ZIGOT
KEHAMILAN
EKTOPIK

FAKTOR FAKTOR
HORMONAL OVARIUM
PATOFISIOLOGI

Terhambatnya tranportasi
Blaskokista ke endometrium Lapisan submukosa di Implantasi zigot
(Faktor tuba, faktor lapisan tuba falopii tipis, di muskular
ovum yang dibuahi
kontrasepsi hormonal, menembus epitel epitel tuba KE
pemakaian IUD, Faktor
ovum)

Trofoblas dan villus korialis


implantasi tidak dpt
menembus lapisan
menyesuaikan diri dg
pseudokapsularis (menyerupai
besarnya kehamilan
desidua) dan lapisan muskularis
terjadilah ruptur (pecah)
dan peritonium dinding tuba
KET
MANIFESTASI KLINIS

TRIAS KLASIK KEHAMILAN EKTOPIK

amenorrhea

nyeri Perdarahan
abdominal/ pervaginam
pelvik spotting
DIAGNOSIS
KEHAMILAN EKTOPIK INTAKE

Meningkat pd kehamilan normal maupun


Pemeriksaan abnormal
hormon progesteron Tidak dapat membantu memperkirakan lokasi
dan hCG kehamilan ektopik dan bukan merupakan tes
yang rutin

Cincin tuba kehamilan ektopik awal


Massa Ekstrauterin
Hematosalphinx Tuba Falopii dapat terisi darah
USG atau cairan bebas
Rupturnya kehamilan ektopik adanya cairan
bebas atau gumpalan darah pada ruang
intraperitoneal
DIAGNOSIS
KEHAMILAN EKTOPIK INTAKE

pemeriksaan struktur pelvis, ukuran dan lokasi


yang sebenarnya dari kehamilan ektopik,
LAPAROSKOPI adanya perdarahan, dan kondisi kondisi lain.
DIAGNOSIS

KEHAMILAN EKTOPIK SUB AKUT

Gejala Klinis
Hasil Pemeriksaan
Nyeri perut
Adanya nyeri tegang
Amenorea abdomen
Perdarahan pervaginam Terdapat massa adneksa
Pusing Pembesaran uterus
Gejala hamil muda
Perubahan orthostatik
Pengeluaran massa
Badan panas dehidrasi
KEHAMILAN EKTOPIK SUB AKUT

Pungsi Kavum Douglasi/


Kuldosintesis Laparoskopi Diagnostik
Untuk mengetahu adanya darah pada Terdapat darah dalam kavum
kavum Douglasi. abdomen
Dijumpai letak kehamilan
ektopik
DIAGNOSIS
RUPTUR KEHAMILAN EKTOPIK AKUT

1) Penderita tampak anemis,


sakit, mungkin sudah
disertai gangguan 4) Pemeriksaan dalam
pernafasan (dispneu) Nyeri pada
2) Tensi turun, nadi pergerakan serviks
meningkat, akral dingin Teraba massa
3) Pemeriksaan dijumpai adneksa
Tanda cairan / darah Kavum Douglasi
bebas di kavum menonjol
abdomen,
Abdomen nyeri dan
tegang
DIAGNOSIS BANDING

1. Infeksi pelvis
2. Abortus imminens atau insipiens
3. Ruptur korpus luteum
4. Torsi kista ovarii
5. Apendisitis
6. Metorargia karena kelainan ginekologi atau
organic lainnya
7. Neoplasma ovarium (putaran tungkai, pecah,
terinfeksi) dengan atau tanpa kehamilan muda.
TATALAKSANA

PRINSIP UMUM TATALAKSANA

Kehamilan di
1. Segera dibawa ke rumah tuba dilakukan
sakit salpingektomi
2. Transfusi darah dan
pemberian cairan untuk
mengkoreksi anemia dan
hipovolemia
Operasi segera dilakukan
setelah diagnosis dapat
dipastikan.
TATALAKSANA

PRINSIP UMUM TATALAKSANA

Kehamilan di kornu
dilakukan ovorektomi atau
salpingo-oovorektomi
TATALAKSANA

Kehamilan di kornu dilakukan:


Histerektomi bila telah umur > 35 tahun
Fundektomi bila masih muda untuk kemungkin
an masih bisa haid.
Eksisi bila kerusakan pada kornu kecil dan
kornu dapat direparasi
KEHAMILAN ABDOMINAL

Bila mudah, kantong dan plasenta diangkat


Bila besar atau susah (kehamilan abdominal lanjut),
anak dilahirkan dan tali pusat dipotong dekat plasenta,
plasenta ditinggalkan dan dinding perut ditutup
KOMPLIKASI

Terlambatnya diagnosis ataupun terapi


Jaringan
dapat mengakibakan ruptur tuba Kehamilan
trofoblas
ataupun ruptur uteri, diikuti dengan Ektopik yang
yang
perdarahan masif, syok, DIC dan persisten
kematian. persisten
PROGNOSIS

Sebagian ibu menjadi steril (tidak dapat


mempunyai keturunan)

mempunyai resiko 10% untuk terjadinya


kehamilan ektopik terganggu berulang

Ruptur dengan perdarahan intraabdominal


dapat mempengaruhi fertilitas wanita.
KESIMPULAN

KET kehamilan ektopik yang dapat mengalami


abortus/ruptura apabila massa kehamilan berkembang melebihi
kapasitas ruang implantasi.

Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba


fallopi (95%) terutama di ampula dan isthmus.

etiologi dari kehamilan ektopik, yakni: faktor tuba, abnormalitas


pada zigot, faktor ovarium, faktor hormonal, dan faktor lain
seperti pemakaian IUD.
Trias gejala dan tanda dari kehamilan ektopik
adalah riwayat keterlambatan haid atau
amenorrhea yang diikuti perdarahan abnormal
(60-80%), nyeri abdominal atau pelvik (95%).

Pada kehamilan ektopik terganggu, walaupun


tidak selalu ada bahaya terhadap jiwa penderita,
dapat dilakukan terapi konservatif, tetapi
sebaiknya tetap dilakukan tindakan operasi.
TERIMA KASIH