Anda di halaman 1dari 48

OBAT TRADISIONAL & ASPEK

PENGEMBANGANNYA
1. Kandungan Zat Aktif
2. Penapisan Farmakologi
3. Uji Praklinik
4. Fitofarmaka

Wahyu Hendrarti
DEFINISI :
OBAT TRADISIONAL Bahan /ramuan bahan berupa tumbuhan,
bahan asal hewan, mineral, sediaan galenik/sarian/ekstrak
atau campuran bahan tsb. secara turun temurun
(empiricaly) digunakan untuk pengobatan berdasarkan
pengalaman.
JAMU obat tradisional Indonesia ( Empirical based herbal
medicine)
OBAT HERBAL TERSTANDAR (OHT) Sediaan bahan alam, telah
dibuktikan khasiat dan keamanan secara ilmiah, mellaui uji
preklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi (Scientific
based herbal medicine).
FITOFARMAKA Sediaan obat bahan alam, telah dibuktikan
khasiat dan keamanannya secara ilmiah melalui uji preklinik
dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di
standarisasi (Clinical based herbal medicine)

SEDIAAN GALENIK hasil ekstraksi dari simplisia yang berasal


dari tumbuhan atau hewan.

EKSTRAKSI Proses pemisahan bahan asal tumbuhan, hewan


atau mineral dengan cara rebusan, seduhan, maserasi,
perkolasi atau dgn cara lain sesuai dgn kegunaan bahan tsb.
PEMBENTUKAN KANDUNGAN KIMIA TUMBUHAN
CO2 uv H2o

FOTOSINTESIS TUMBUHAN

SIKIMAT GLUKOSA KARBOHIDRAT

Acetil CoA POLIASETAT

ASAM AMINO LEMAK

METABOLIT PROTEIN
SEKUNDER
METABOLIT SEKUNDER dari Poliasetat (CH3COO)

FENOL : Xantorisol
(Temulawak)

OH O OH

CH2OH

ANTRAKINON : Aloin H

O
HO

(Lidah buaya)
CH2OH
OH

HO
ASAM AMINO DAN SIKIMAT

ALKALOID = Senyawa organik bernitrogen, bersifat basa


lemah
Piperin
(Cabe jawa)

Kapsaisin (H3C)2HC C
H
C
H
(H2C)4
O
C
H
N
H2
C OH

(Cabe) OCH3
METABOLIT SEKUNDER dari ASETIL CoA

TERPENOID (Turunan Isopren C5H8):


Mono terpen : Sineol, Linalil asetat
Seskuiterpen : Azulen
Diterpen : Andrografolida
Triterpen : Asiatikosida
Karotenoid : Beta karoten
STEROID (Siklopentanoperhidrofenantren) :
Sitosterol, diosgenin, ginsenosida, sitoindosida
TERPENOID O

MONOTERPEN : O
C CH3

Sineol Linalil asetat


(Kayu (Selasih)
putih)

SESKUITERPEN : Azulen
(Temu hitam)

DITERPEN : Andrografolida (Sambiloto)


TRITERPENOID DAN STEROID

TRITERPEN : Asiatikosida
(Pegagan)

STEROID : Diosgenin

(Umbi Gadung)
SIKIMAT ASETIL-CoA

FLAVONOID : Polifenol C6-C3-C6


OH
Apigenin :
HO O
(Seledri)

OH O

Katekin :
(Teh)
LIGNAN DAN SENYAWA BERSULFUR

LIGNAN :
Kubebin
(Kemukus)

DIALILSULFOKSIDA :
Alisin
(Bawang putih)
PRODUKSI SIMPLISIA
SORTASI Perlu karyawan yang tidak perlu pandai tetapi
harus cermat dan loyal
PENCUCIAN Bak pencuci, Saringan bergoyang, Pancaran
air mengalir, Sikat untuk Rimpang dan Akar
PERAJANGAN Perajang Singkong, Perajang Daun Kacang
(Rendeng)
PENGERINGAN Rak Pengering, Pengering Tenda Surya,
Oven
PENGEPAKAN Karung goni, Karung plastik rajut, Tong
kayu,
KERUSAKAN FISIK SIMPLISIA
Kelembaban tinggi (Daerah tropis)
- Bahan higroskopik (agar-agar)
mengempal, basah, mencair
Diberi bahan penyerap air
Kelembaban rendah (Timur tengah, Eropa)
- Simplisia kehilangan air secara perlahan
- Menjadi kisut
Pengepakan kedap udara
METODE EKSTRAKSI
Pelarut
1. Pelarut polar : Air
2. Pelarut semipolar : etil asetat, aseton, Kloroform
3. Pelarut nonpolar : n heksan, ether
4. Pelarut polar dan nonpolar : metanol, etanol, asam asetat

Metode Ekstraksi dengan cara pemanasan yakni :


1. Dekoktum pelarut air dengan suhu 90-95oC selama 30 menit.
2. Infusum pelarut air dengan suhu 90-95o C selama 15 menit.
3. Refluks metode ekstraksi panas dengan teknik
penyulingan (destilasi), bahan simplisia direndam dalam
sulven air, langsung di panasi.
4. Soxhletasi hampir sama dengan refluks, hanya
suhunya lebih rendah
5. Coque simplisia di rebus langsung dengan solven air.
Air rebusan lansung digunakan atau air dan ampasnya
langsung digunakan.
6. Seduhan simplisia direndam dgn air mendidih,
selama 5-10 menit spt teh celup.
Metode ekstraksi dingin Untuk bahan simplisia
yang mudah rusak oleh pemanasan.
1. Maserasi merendam dengan pelarut dalam
waktu 24-48 jam, selanjutnya di saring. Filtrat di
pekatkan dengan rotafavor , shg diperoleh ekstrak
kental.
2. Perkolasi proses ekstraksi dingin dengan
mengalirkan pelarut secara kontinyu dalam waktu
tertentu. Selanjutnya diuapkan dgn rotafavor.
JENIS EKSTRAK
1. Ekstrak air menggunakan pelarut air, ekstrak
dapat langsung digunakan atau di pekatkan/
dikeringkan.
2. Ekstrak kental mellaui proses pemekatan dengan
rotafavor.
3. Ekstrak kering dari proses pemekatan dilanjutkan
dengan pengeringan. Dapat menggunakan bahan
tambahan seperti laktosa, aerosil, atau
menggunakan metode kering beku (susu bubuk).
EKSTRAKSI BAHAN
SERBUK DAUN Achyranthes aspera L

Diekstraksi dengan etanol

AMPAS EKSTRAKSI ETANOL

Diuapkan dengan rotavapor

EKSTRAKSI KENTAL
UJI AKTIVITAS fraksinasi dengan kromatografi lapis tipis
TAHAP I
FRAKSI SENYAWA AKTIF
fraksinasi dengan
kromatografi kolom
FRAKSI AKTIF

UJI AKTIVITAS Dimurnikan


TAHAP II

ISOLAT MURNI

UJI AKTIVITAS Diidentifikasi


TAHAP III
IDENTITAS

SLIDE 18
DRUG TOXICITY TEST
PRACLINIC TOXICITY TEST ONLY:

1. GENERAL TOXICITY TEST


a. Acute toxicity test
b. Subacute toxicity test
c. Chronic toxicity
2. SPECIFIC TOXICITY TEST :
a. Teratogenic Test
b. Carcinogenic Test
c. Mutagenic Test
REGULATION OF ACUTE TOXICITY OF DRUGS :
Uses in single dose or repeated dose , but do not more than 24
hours
Route of administration : 2 route, yakni clinical use (sesuai yang
disarankan), and I.V. route (bila memungkinkan) untuk to
know sistemic safety of drug.
To measure of LD50 yakni dosis yang menyebabkan kematian
50% hewan coba untuk dibadingkan dengan obat lain.
To measure of maximum dose yang tidak menyebabkan kematian.
Pengamatan dilakukan dalam waktu 14 hari, Semua hewan coba
di korbankan pengamatan makroskopis dan mikroskpis thd.
organ vital.
Pelaksanaan Uji Toksisitas Akut :
Hewan coba : Dua spesies mamalia, termasuk non rodent
(bila memungkinkan) jantan & betina.
Dosis : maksimum yang tidak mematikan.
Pengamatan dilakukan dalam 24 jam
Hewan coba separo dikorbankan di amati perubahan2
makroskopis dan mikroskopis
Separo hewan coba lain di amati setiap hari selama 14 hari
terhadap : Perub. BB dan Perubahan makroskopis.
Setelah hari ke 14 semua hewan coba dikorbankan di
amati perub.Makroskopis dan mikroskopis pada jantung,
paru2, hati, ginjal, limpa dan jaringan lainya.
Dibuat kurva dosis respon.
PENENTUAN LD50

LD50 = Anti log ( log A + (B x log C)


Keterangan :
A = Dosis dibawah 50%
B = Jarak Proporsional yakni :
50% kematian-% kematian dibawahnya
% kematian diatas 50% - % dibawah 50%
C = Penambahan Dosis yakni :
Dosis diatas LD50%
Dosis dibawah LD50%
Pengujian Toksisitas Berulang
(Sub akut dan kronis) :
Tujuan : Menentukan toksisitas kumulatif dan perubahan fisiologis dan patologis
hewan coba.
Hewan coba : minimal 2 spesies hewan berbeda
Dose : maximal effect tidak mematikan.
Cara pemberian : seperti dipakai di klinik.
Lama pengujian :
Untuk pemakaian klinik 1-3 hari
lama pengujian 14 hari.
Untuk pemakaian klinik 7 hari
lama pengujian 28 hari.
Untuk pemakaian klinik 4 minggu
lama pengujian 90 hari.
Untuk pemakaian 1 bulan
lama pengujian 6 bulan.
Uji Karsinogenik :
1. Untuk obat-obat yang digunakan jangka lama atau terapi penyakit
kronis.
2. Zat kimia yang potensial menimbulkan karsinogenik.
Dosis yang dipakai : Dosis tinggi (100x dosis terapi)
Lama Uji : pada tikus 24 bulan pada mencit 18 bulan.

FDA per kelompok minimal 25 ekor per jenis kelamin, dan harus hidup
sampai akhir percobaan.
Kematian tak lebih 50% bukan karena kanker. Dosis yang dipakai
adalah dosis tertinggi yang tidak menyebabkan kematian.
Evaluasi : adanya Neoplasma dibandingkan kontrol.
Uji Toksisitas pada Reproduksi

Pengamatan uji meliputi pengaruh pada :


1. Gametogenesis
2. Embriogenesis
3. Implantasi
4. Organogenesis
5. Pertumbuhan fetus
6. Kelahiran
UJI AKTIVITAS OBAT HERBAL
1. Sebagai Obat ANTIKANKER
KANKER Penyakit Seluler, invasif dan metastatik akibat dari
gangguan proliferasi dan diferensiasi sel.(Karsinoma, Sarkoma,
Leukemia dan Limfoma).
Penyebab belum jelas (multifaktor) Inaktivasi gen
supresor tomor seperti p53, p21, protein bax.
Aktivasi protoonkogen jadi onkogen (zat kimia, obat2an, sinar
X, ultraviolet dll..
Mekanisme kerja obat antikanker :
1. Menghambat sintesis DNA (hambatan
dihidrofolic acid reduktase, hambatan basa
purin dan pirimidin).
2. Merusak DNA (merusak nucleic acid).
3. Antimitosis (Alkaloid)
4. Rekayasa genetik (inhibisi faktor
pertumbuhan).
CONTOH TANAMAN BERKHASIAT ANTIKANKER
1. Kunir (Curcuma longa)
2. Kunir putih (Curcuma zesoaria)
3. Temu putih (Curcuma zesoria)
4. Sambung Nyawa (Gyrura procumbens)
5. Sambiloto (Andrographis paniculata Ness)
6. Pegagan (Centella asiatica)
7. Daun Dewa (Typhonium divaricatum)
8. Jarong (Achyranthes aspera linn)
9. Mengkudu ( Morinda Citrifolia)
10. Meniran (Phyllanthus niruri)
11. Tapak dara (Vinca rosea)
12. Kealdi tikus (Typhonium divaricatum)
2. ANTIDIABETES MELITUS
Diabetes Melitus (DM) kadar gula darah melebihi
batas kadar normal (sebulum maupun sesudah
makan).
Penyebab :
Pada DM tipe 1 karena faktor genetik kerusakan
sel pankreas, ketergantungan insulin.
Pada DM tipe 2 karena faktor luar pola makan dan
obat2an yang menyebab fungsi sel pankreas
berkurang, tidak tergantung insulin.
Pengobatan DM.
DM tipe 1 ketergantungan insulin
DM tipe 2 memperbaiki transportasi
glukosa kedalam sel, mempercepat
pemecahan glukosa dalam mitokondria,
mengurangi pembentukan oksidan dan
mempercepat proses proliferasi sel
pankreas.
CONTOH TANAMAN BERKHASIAT ANTIDIABETES
1. Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) : daun
2. Jambo monyet (Anarcedium accidentale) : kulit
batang
3. Bawang merah (Allium cepa linn)
4. Johar : kulit batang
5. Jambu biji (Psidum guajava) : daun, buah kulit
batang
6. Tapak dara (Cataranthus rosea) daun
3. ANTIDIARE
Diare Frequensi defekasi lebih banyak dari normal,
konsistensi feses encer.
Kejadian bisa akut dan kronis.
Penyebab bermacam2 (infeksi bakteri, virus, parasit).
Peningkatan motilitas usus ( alergi makanan dan obat2an),
psikosomatik, Kelainan endokrin dan metabolisme.
Terapi : tergantung penyebab (antibakteri, antiamuba),
menurunkan motilitas usus atau mengurangi spasme usus.
CONTOH TANAMAN BERKHASIAT ANTIDIARE
1. Kunir (Curcuma domestika) rimpang
2. Temulawak (Curcuma xanthorriza rimpang
3. Jambu biji (Psydium guajava linn) daun, kulit
batang, buah
4. Gambir (Uncaria gambir) daun dan ranting
5. Delima (Punica granatum) kulit buah, kulit akar
6. Kemukus ( Piper cubeba linn) buah
4. ANTIFERTILITAS
Antifertilitas Obat untuk mengurangi ke suburan (kontrasepsi)
Metode Sterilisasi jantan dan betina
Kondom, IUD, obat abortivum,
spermisidal, obat kontrasepsi.
Cara kerja obat antifertilitas :
1. Mencegah pematangan sel telur
2. Mencegah terjadi ovulasi
3. Mencegah pertemuan sel telur dan spermatozoa
4. Mencegah proses inflantasi
5. Menghambat spermatogenesis.
TANAMAN BERKHASIAT ANTIFERTILITAS
1. Bayam duri (Amaranthus spinosus Linn)akar
2. Pepaya (Carica papaya Linn) biji
3. Sadamala (Artemisin vulgaris Linn) daun
4. Blustru (Luffa cilindrica Linn) daun
5. Rumput teki (Ciperus rotundus Linn) rimpang
6. Daun manggis (Garsenia mangostana Lin)
7. Kembang spatu (Hibiscus rosasinensis Linn) daun
8. Remek getik (Achyranthes aspera linn) daun
9. Nanas (Ananas comosus Merr) buah muda
10. Sereh (Andropogon nardus Linn) - akar, daun muda.
11. Jambu biji (Psidium guajava Linn) Kulit dan akar.
5. Hepatoprotektor
Kerusakan hepar akibat konsumsi zat
kimia seperti obat2an (CCl4,
parasetamol), infeksi virus hepatitis B,C.
Test fungsi hepar pemeriksaan kadar
SGOT dan SGPT lebih dari 10 kali lipat.
Contoh : tanaman berkhasiat Hepatoprotektor
1. Sambiloto (Andrgafis paniculata) daun
2. Kunyit (Curcuma domestica) rimpang
3. Bawang putih (alium sativum L) Umbi
4. Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza) rimpang
5. Meniran (Phylanthus niruri L.) tanaman
6. Daun sendok (Plantogo mayor) Daun.
7. Pegagan (Centella asiatica L.) daun.
8. Dll. Cari sendiri.
9 Tanaman Unggulan
Pusat Riset Obat Tradisional
1. Sambiloto : antimalaria
2. Mengkudu : antidiabet
3. Daun Jambu : demam berdarah
4. Temu Lawak : antidislipidemia
5. Cabe Jawa : androgenik
6. Kunyit : antidislipidemia
7. Daun salam : antihiperurisemia
8. Jahe Merah : afrodisiak
9. Jati Belanda : antidislipidemia
Bahan yang dilarang digunakan dalam obat
tradisional
1.Biji Saga ( Abrus precatorius )
2.Herba Belladon ( Atropa belladona )
3.Biji Kolkhisi ( Colchicum ailumnale )
4.Biji Kecubung ( Datura spesies )
5.Gandarusa ( Justicia gendarusa )
6.Daun Tembelekan ( Lantana camara )
7.Daun Oleander ( Nerium oleander )
8.Biji Strofanti ( Strophanthus spesies )
9.Biji Strihni ( Strychnos nux vomica )
Daftar Formularium Obat tradisional
Ashma bronkial Batu ginjal
Diabetes melitus Dislipidemi
Hipertensi Hiperurisemi
Kanker Rematik/pegel linu
Hepatitis ISPA, ekspektoran
Diare, sembelit Gastritis
Imunomudolator Demam, sakit kepala
Ejakulasi dini Insomnia
Haemoroid, Pelangsing, Anti BB, Desinfektan,
UJI KLINIK
DI RSU.Dr. SOETOMO
Mengkudu (ekstrak)
Menurunkan kadar glukosa darah puasa/2jam pp
dosis 3 x 1 gram efek belum maximal
untuk insulin resistens
Ekstrak Centella
( pegagan )
Semula dipakai sebagai imunomodulator

Penelitian di Poli OTI menunjukkan pegagan berkhasiat


sebagai antihipertensi
Sedang dilakukan uji klinik di RSU Dr. Soetomo
surabaya
Ekstrak Johar untuk pengobatan hepatitis
Ekstrak umbi kucai sebagai antihipertensi
Kajian aspek fitokimia thd simplisia & ekstraknya

Terhadap Tanaman yang :


1. Banyak/sudah dikenal masy sbg OT
2. Mudah diperoleh dan dibudidayakan
3. Telah diketahui susunan kandungan kimia
dan analisanya
Pengujian fitokimia kualitatif dan kuantitatif berperan pada
hasil pengujian khasiat, manfaat keamanan dan
pengembangan stabilitas sediaan.
Lab BPTO, MIPA
MINYAK ATSIRI
-Penetapan kadar m atsiri, bahan disuling dg
alat STAHL sesuai Farmakope Indonesia.
- M atsiri : uji pemerian, warna, sifat fisika kimiawi
PENETAPAN :
Antrakuinon derivat pada Rheum sp.
Aloin pada lidah buaya
Glizirizin pada kayu manis
Curcumin pada Curcuma sp
Zingiberin pada Zingiber sp
Sinamil aldehid pada Cinnamomum sp.
Manfaat pencegahan/penyembuhan gejala/penyakit
Double Blind Controled Study,lama utk fitofarmaka

Praktek Saintifikasi jamu di B2P2TO2T


Klinik : 1. Inform konsen,
2. Kartu status : Diagnosa,Indikasi.Tx Jamu, R/
Apotik : Jenis tanaman standar, penyimpanan sediaan,
penyiapan, penyerahan
Etalase TO, Laboratorium lit.bang
Proses pasca panen,
Pembuatan sediaan
Penapisan Farmakologi dapat digunakan
untuk uji praklinik bahan alam

- Uji toksisitas, khasiat dan keamanan


- Penentuan dosis
Untuk standardisasi bahan alam
Selalulah ciptakan suasana bahagia