Anda di halaman 1dari 21

kelompok A3

Andi alfian 1102007028


Andi mulyawan 1102007029
Andina maryanti 1102007031
Dhevita indyana P 1102007084
Dian andriani 1102007085
Dian pratiwi P 1102007086
Evy tri jayanti 1102007104
Fadila anggraini 1102007105
Fahima H abusama 1102007107
Abstrak
Selain laporan dari kasus di cina (abad ke 13). Observasi
pertama terhadap serangga dan artropoda lain sebagai
indokator forensic didokumentasikan di jermandan prancis
selama penggalian kubur pada tahun 1889 oleh reinhard,
dan hofmann, yang diusulkan sebagai pendiri
disiplin.Konsep forensic entomology menyebar secara
cepat ke kanada dan US setelah penerbitan buku oleh
megnin di perancis. Para peneliti mengakui kurangnya
pengamatan yang sistematis terhadap serangga sebagai
indicator interval post mortem, hal ini ditutupi oleh adanya
toksonomi serangga dan ekologi. Kasus awal yang banyak
dilaporkan adalah pembunuhan terhadap anak, termasuk
suspek penggunaan asam sulfat. Hal ini menunjukan
bahwa semut, kecoa, dan artropoda air tawar
menghasilkan benda post mortem terhadap kekerasan
pada anak.
Pendahuluan
Ratusan spesies artropoda tertarik dengan mayat,
terutama lalat (diphtera), kumbang (coleoptera)
dan larvanya serta tungau, isopods, opiliones dan
nematode. Hewan ini makan, hidup dan
berkembang biak pada mayat tersebut,
tergantung pada preferensi biologi dan
dekomposisinya. Karena artropoda merupakan
kelompok terbesar dan dapat ditemukan dimana
saja, hal ini menjadi aplikasi forensic entomology
dengan menginvestigasi serangga dan artropoda
lain di tempat kejahatan dan mayat.
Abad pertengahan china abad ke-19
Kasus pertama forensic entomology dilaporkan
oleh pengacara cina dan investigator kematian
sung tzu pada abad ke-13 pada medikolegal
texbool hasil dari yuan chi lu.Pada kasus itu
dijelaskan bahwa lalat tertarik kepada bercak
darah yang terdapat pada sabit yang digunakan
untuk menusuk korban.Leclercq dan lambert
mengamati kembali lalat di darah pada tahun
1976, mereka menemukan calliphora vomitoria
pada mayat, 6 jam setelah postmortem, bertelur
di darah (bukan pada luka). Ilustrasi awal yang
menggambarkan belatung pada mayat pada
abad pertengahan
Awal Kasus Dari Perancis
Selama penggalian kembali jenazah massa di
Perancis dan Jerman pada abad 18 dan 19, para
dokter medis-hukum mengamati bahwa tubuh yang
telah dikubur dihuni oleh arthropoda dari berbagai
jenis. Pada 1831, dokter Perancis yang terkenal
dokter Orfila mengamati sejumlah besar penggalian
kembali jenazah Dia mengerti bahwa belatung
memainkan peran penting dalam dekomposisi
mayat . Forensik entomologi modern yang pertama
menyertakan estimasi interval postmortem dalam
laporan kasus yang diberikan oleh dokter Bergeret
Perancis pada tahun 1855 . Kasus yang bersangkutan
dengan pupa dan larva ngegat
Dalam makalahnya, Bergeret memberikan
gambaran singkat pada siklus hidup serangga
pada umumnya. Dia keliru menganggap,
bagaimanapun, bahwa metamorfosis umumnya
akan memerlukan satu tahun penuh ("une Annee
entire"). Selanjutnya, ia menganggap bahwa
serangga perempuan umumnya bertelur di
musim panas, dan bahwa larva akan mengubah
untuk pupa (ia menyebutnya nymphes) musim
semi berikutnya dan menetas di musim panas.
Beberapa rincian perhitungan Bergeret's:. Telur
larva yang kami temukan di mayat Maret 1850
harusnya diletakkan pada pertengahan tahun
1849
Tapi ditemukan banyak larva hidup dan ada pupa yang
banyak, dan mereka seharusnya berasal dari telur yang
telah diletakkan sebelumnya, yaitu pada tahun 1848.
Mungkinkah mayat-mayat disembunyikan 1848? Lalat
yang muncul dari pupa yang kami temukan di rongga
tubuh, adalah Musca carnaria L. yang bertelur sebelum
tubuh mongering. Juga ditemukan pupa lain kupu-kupu
kecil malam (ngengat), yang ada setelah tubuh mongering.
Jika tubuh disembunyikan pada tahun 1846, atau
1847,maka kita tidak akan menemukan larva (karena
mereka akan menetas) . Sebagai kesimpulan, dua generasi
serangga yang ditemukan pada mayat itu, mewakili dua
tahun postmortem . Lalat meletakkan telurnya pada
mayat segar yaitu pada tahun 1848, kemudian setelah
mayat kering ngengat meletakkan telurnya yaitu pada
tahun 1849.
Dalam retrospeksi, kita harus memahami bahwa
Bergeret tidak berfokus pada entomologi
forensik dalam laporannya, Bergeret
menggunakan entomologi sebagai salah satu
alat forensik antara lain. Memang, mumifikasi
dari mayat yang tampaknya menjadi masalah
utama nya kepentingan dalam kasus ini. Bergeret
referensi Orfila dalam hal baik mumifikasi dan
entomologi forensik. Dia juga jelas mencatat
kurangnya pengetahuan tentang suksesi
serangga pada mayat pada zamannya.
Pada tahun 1879, presiden Masyarakat Perancis
Kedokteran Forensik, Brouardel melaporkan kasus
lain. Dalam laporannya, setelah referensi karya
Bergeret. Brouardel menggambarkan kasus anak
yang baru lahir yang diotopsi oleh dia pada 15
Januari 1878 . Tubuh mumi dihuni oleh beberapa
arthropoda, termasuk larva kupu-kupu dan Acari
(yaitu, tungau), yang menyebabkan permintaan
bantuan dari Monsieur Perier, profesor di Museum
Sejarah Alam di Paris, dan tentara dokter hewan
Pierre Mgnin. Perier melaporkan bahwa tubuh
kemungkinan besar kering sebelum ditinggalkan.
Penentuan tungau yang tersisa untuk Mgnin
sedangkan Perier menentukan larva kupu-kupu
sebagai "chenilles d'aglosses", yaitu, larva dari genus
Aglossa (ngengat kecil, keluarga Pyralidae).
Dari negara pelestarian, dan dari larva yang
ditemukan, Perier menyatakan bahwa bayi
mungkin telah lahir dan meninggal musim panas
sebelum ("de l'Ete probablement dernier"), yaitu,
sekitar enam sampai tujuh bulan sebelum mayat
itu diotopsi.

Mgnin melaporkan bahwa seluruh tubuh


ditutupi dengan lapisan kecoklatan terdiri kulit
tungau dan kotoran tungau, tetapi tidak hidup
tungau. Di dalam tempurung kepala, ia
menemukan sejumlah besar spesies tungau
tunggal. Awalnya, larva tungau dibawa ke mayat
oleh arthropoda
lain. Mgnin menghitung bahwa pada seluruh tubuh, 2,4 juta
Acari telah mati atau hidup. Dia juga menghitung bahwa
setelah 15 hari, generasi pertama dengan 10 betina dan 5
jantan telah dikembangkan; setelah 30 hari, 100 betina dan 50
jantan; setelah 45 hari. 1.000 betina dan 500 jantan. Akhirnya,
setelah 90 hari, 1 juta betina dan 500.000 jantan yang
hadir.semenjal itulah jumlah individu ia diperkirakan berada di
mayat itu, ia membuat menebak konservatif dan melaporkan
bahwa mayat harus telah ditinggalkan selama paling sedikit
lima bulan (tiga bulan perkembangan tungau, didahului oleh
dua bulan untuk pengeringan) tetapi lebih cenderung tujuh
sampai delapan bulan. Ini adalah kasus sama yang dengan
Kasus di Mgnins "La faune de cadavres" , dan Mgnin
mengatakan bahwa ini study medicolegal pertamanya.
Kasus ini juga menggambarkan dengan baik bagaimana peneliti
awal di lapangan menyelidiki dengan menggunakan cetakan,
jamur lendir, krustasea, tungau, dan tanaman selain serangga.

Masa penggalian kembali jenazah


Pada tanggal 6 april 1881, dr reinhard seorang medis
jerman yang pertama kali melaporkan studi tentang
ento,ology forensic. Dia mengumpulkan lalat
pharoid berdasarkan taksonomi yang di identifikasi
oleh entomologi brauner di Vienna. Ia juga
menjelaskan tentang adanya kumbang di kuburan >
15 tahun. Dalam beberapa kasus, ia menemukan
serangga yang berkembang biak dalam, celah-celah
adiposity, reinhard menyimpulkan bahwa kehadiran
mereka lebih berkaitan dengan makan akar tanaman
yang ada di kuburan bukan berhubungan langsung
dengan mayat.
Laporan lain yang berhubungan dengan serangga
dari penggalian kembali jenazah, kali ini dari
Franconia, oleh hofmann tahun 1886, hofmann
menemukan paroid juga dan mengidentifikasinya
sebagai conicera tibialis Schmitz atau dikenal
sebagai coffin fly.
Pada tahun yang sama, dokter yang berumur 60
tahun Jean pieremegnin mulai mengembangkan
teori akologi kehidupan serangga di mayat, buku-
bukunya yang terkenal antara lain penyakit kulit
pada hewan dan penyakit yang disebabkan oleh
parasit. Megnin sangat memajukan ilmu forensic
entomologi, kontribusi sebagai ahli fauna umum,
flora murni, antropoda pembusuk mayat kemudian
ia di hormati dalam penemu cetakan endoconidium
megnin.
Pada tahun 1945 terinspirasi di megnin, peneliti
Canadian buyyet Johnston dan geografis
villeneuve, memulai sejumlah studi yang
berhubungan dengan serangga pada mayat
manusia. Penelitian entomologi forensic lainnya
yang di lakukan oleh hough di new Bedford 1854-
1897 tidak tersedia, karena datanya tidak di
publikasi
Pergantian abad
Dokter Jerman Klingelhoffer & Maschka dan alhi patogoli
forensik Stefa Von Horoskiewich dari Universitas Krakau
Polandia. Mereka memfokuskan pada gigitan kecoa dan
semut. Klingelhoffer bertanggung jawab di area Frankfurt,
ada keluarga miskin yang ada seorang bayi yang meninggal
setelah 9 bulan sakit-sakitan. Meninggal tanggal 26 Mei
1889 dan diotopsi 3 hari kemudian tanggal 29 Mei 1889,
dilaporkan kepada polisi karena ada luka pada bayi
tersebut yang mengarah kepada penangkapan si ayah bayi
tersebut. Selama diotopsi patch ditemukan di bibir,
hidung, mulut,lidahnya tidak berwarna tapi ada
perdarahan di ujungnya. Polisi curiga ayah bayi itu telah
mencoba meracuni anaknya dengan asam sulfat, tp abrasi
tersebut disebabkan oleh kecoa. Ayahnya dibebaskan
setelah dipenjara 3 minggu.
Horoszkiewicz dengan kasus yang sama, ada anak yang
diotopsi pada bulan april, pada otopsi tidak ditemukan
tanda-tanda kekerasan, tapi banyak lecet(abrasi) di
hidung, pipi,bibir,dagu, pada permukaan leher, belakang
tangan kiri,jari,alat kelamin,bagian dalam paha. Ibunya
ketika pulang untuk mempersiapkan pemakaman
tubuhnya tampak ditutupi kain kafan hitam dari kecoa.
Tapi tidak melihat ada lecet pada waktu itu. Untuk
memastikan ditaruh potongan daging segar dan kecoa.
Tapi kecoa tidak makan potongan daging segar tetapi
makan setelah kulit kering.
Eksperimen dilakukan oleh Eduard Ritter Von Nieza
Bitowski menggunakan janin gugur dan
kucing,rubah,tikus,mayat betis ditaruhnya dikebun sayur
dia mengamati dihinggapi dengan lalat: Calliphorids,
Lucilia Caesar, Cornia Sarcophaga, termasuk kumbang.
Kesimpulannya mayat manusia sama dengan hewan baik
vertebrata dan invertebrata.
Di Itali, G. Bianchini, direktur dari Institut Hukum Kedokteran
Universitas Bari menulis sebuah kontribusi terhadap studi
praktis dan eksperimental terhadap fauna pada mayat pada
1929. Laporan kasus milik Bianchini berhubungan dengan
mayat anak usia 4 tahun terdapat lesi kulit pada telinga,
lengan, area perut, dan bagian atas paha yang telah
mengering. Arthropoda yang terkumpul dari tubuh mayat
tersebut tungau, kalajengking sangat kecil, kumbang kecil dan
semut. Identifikasi semut-semut dilakukan oleh professor Carlo
Minozzi dan setelah eksperimentasi lanjut, Bianchini
menyimpulkan bahwa lesi yang timbul akibat semut dari
spesies yang sama seperti yang ditemukan pada mayat dalam
kurun waktu 24 jam. Laporan kasus dari Raimoni dan Rossi
berhubungan dengan pengaruh dari Gammarus pulex, sebuah
crustacea air tawar, pada mayat, dapat menghasilkan sejumlah
besar lesi seperti jarum dan disimpulkan bahwa tubuh tersebut
telah disimpan dalam penampung air tawar.
Satu-satunya laporan kasus selama tahun 1930an berasal
dari Josef Holzer, pemeriksa medis dari institut Hukum
kedokteran di Innsbruck, Austria. Ia menginvestigasi tipe
kerusakan yang diakibakan oleh lalat caddis yang
memakan mayat yang terendam di air tawar. Kasus aktual
dari April 1937, ia menemukan lalat-caddis telah merusak
seluruh lapisan kuli paha hingga batas bawah dari
sepasang celana serta sebagian besar kulit wajah. Pada
saat itu akhir musim dingin/awal musm semi dengan
temperatur yang rendah dan disana sudah jelas tidak ada
lalat belatung yang muncul. Oleh karena itu, ia
mengumpulkan lalat-caddis dari tubuh mayat yang
terendam air dan meletakkannya dalam 3 akarium yang
terdapat sebuah janin gugur, tikus dan marmut secara
berurut-turut. Selama melakukannya, ia menunjukkan
bahwa lalat-caddis merupakan penyebab lesi yang
ditemukan pada si anak.
K. Walcher dari Institut Hukum Kedokteran di
Munich juga melaporkan bahwa ia menenmukan
belatung memasuki spongiosa dari tulang
panjang mencapai sumsum tulang (keadaan:
bunuh diri, postmortem interval 100 hari diluar).
Selama kerangka utuh, ia menyatakan bahwa
binatang tersebut merayap melalui Foramina
nutritia, celah kecil pada tulang yang
memungkinkan pembuluh darah dan saraf untuk
masuk ke tulang.
Komentar akhir
Antara tahun 1960-an dan pertengahan 1980-an,
entomologi forensik dipertahankan primarily by
medis dokter Marcel Leclecq (Belgia) [55,56] dan
profesor biologi Pekka Nuorteva (pertama, Helsinki
Museum Zoologi, kemudian, profesor di
Departemen Perlindungan Lingkungan dan
Konservasi, University of Helsinki, Finlandia) [77,78],
dengan fokus pada pekerjaan kasus.
Sejak itu, penelitian dasar dan aplikasi canggih
entomologi forensik di Amerika Serikat, Rusia, dan
Kanada telah membuka jalan untuk kerja kasus rutin.
Sekarang, peneliti menggunakan entomologi di
seluruh dunia dalam penyelidikan kriminal termasuk
pembunuhan dan kasus-kasus highprofile lainnya
Terima kasih