Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN

KEPERAWATAN
GANGGUAN
ESOFAGUS
ALI MUSTHOFA,
S.Kep., Ners
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah menyelesaikan perkuliahan ini mahasiswa di
harapkan mampu :
Mendiskripsikan beberapa gangguan di esofagus
Melakukan pengkajian pada pasien dengan
gangguan esofagus
Menjelaskan etiologi dan patofisiologi masalah
keperawatan pada pasien dengan gangguan
esofagus
Memberikan intervensi yang sesuai dengan
masalah pada pasien gangguan esofagus
DISFAGIA
Jenis-jenis gangguan pada esogaus
Asuhan Keperawatan Gangguan menelan
(disfagia) merupakan suatu keadaan dimana pasien
mengalami kesulitan menelan, kondisi tersebut bisa
diakibatkan karena resfon dari aspirasi pneumonia,
malnutrisi, dan dehidrasi (paik, 2008).
Gangguan/kesulitan menelan ini dapat juga terjadi
bersamaan dengan rasa nyeri seperti terbakar, keadaan
ini bisa disebabkan oleh spasme esofagus yang
diakibatkan oleh peradangan akut atau
peradangan mukosa esofagus (Briggs, 2000)
Etiologi dan patofisiologi
Gangguan pada proses menelan merupakan suatu sistem yang kompleks,
adanya gangguan pada salah satu unsur menelan dapat menyebabkan
gangguan menelan dan gangguan koordinasi. Selain itu, integrasi pada
unsur-unsur tersebut juga dapat menyebabkan gangguan menelan
(Briggs, 2000).
Etiologi disfagia bersifat multifaktoral dan diklasifikasikan dalam beberapa
kondisi :
- sumbatan mekanik
- kelainan neurologis
- kelainan kongenital
- inflamasi/radang
- benda asing
- trauma esofagus
- gangguan neoplasma
- letrogenik seperti akibat operasi, kemoterapi, dan radiasi
PENGKAJIAN
Pengkajian anamnesa di lakukan untuk memudahkan rencana
intervensi dengan melakukan anamnesa pada pasien disfagia,
meliputi :
Keluhan utama
Kaji bagaimana keluhan utama pasien
Riwayat kesehatan sekarang
Kaji berapa lama keluhan di rasakan pasien? Bagaimana
perjalanan keluhan bertambah berat, apakah awal keluhan
dengan cepat menjadi keluhan yang berat dalam proses
menelan? Kaji adanya penurunan berat badan,
Riwayat kesehatan dahulu
Kaji apakah pasien mengalami disfagia sebelumnya, kaji adanya
riwayat pneumonia aspirasi, dan adanya keluhan fisik secara
umum
Riwayat kesehatan keluarga
Pemeriksaan fisik
Periksa TTV pasien
Lakukan pemeriksaan fisik secara head to toe
Lakukan pengkajian ADL pasien
Lakukan pengkajian diagnostik pada pasien meliputi :
barium swallow (esofagogram), CT Scan, MRI,
laringoskopi direk, esofaguskopi, endoskopi,
manometri, pH materi 24 jam, (Lynell Bassett, dkk
2009)
Penatalaksanaan medis
Pemberian obat antiradang (antibiotik)
Jika ada masa yang menekan saluran
pencernaan dilakukan pembedahan
Diagnosa keperawatan
Gangguan menelan b.d gangguan pengiriman, transit dan
adanya obstruksi gastrointestinal
Resiko aspirasi b.d refluks material dari esofagus,
ketidakmampuan menelan akibat kerusakan saraf kontrol
fasial
Nyeri b.d iritasi mukosa esofagus, spasme esofagus,
peradangan mukosa esofagus, refluks asam lambung
Resti ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b.d kurangnya makanan yang adekuat
Resti ketidakseimbangan cairan dan elektrolit b.d intake yang
kurang adekuat
Kecemasan b.d prognosis penyakit, misintervensi penyakit
Intervensi keperawatan
Buat intervensi sesuai diagnosa yang ada, misal :
Dx. kep, Kecemasan b.d prognosis penyakit, misintervensi
penyakit
intervensi keperawatan :
1. Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan, dalam
waktu 1x24 jam pasien secara subjektif melaporkan rasa
cemas berkurang dengan kriteria evaluasi :
Pasien mampu mengungkapkan perasaanya terhadap
penyakit
Pasien dapat mendemontrasikan keterampilan pemecahan
masalahnya dan koping individunya sesuai dengan kondisi
yang dihadapi
Pasien dapat rilex atau tidur/istirahat dengan baik
Cont...

Monitor resfon fisik, seperti kelemahan, perubahan ttv,


gerakan yang berulang-ulang, catat kesesuaian resfon
verbal dan nonverbal selama komunikasi
Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan
dan mengekpresikan rasa takutnya
Catat reaksi dari pasien/keluarga, berikan kesempatan
untuk mendiskusikan perasaanya/konsentrasinya, dan
harapan masa depan
Berikan informasi tentang penyakit dan perawatnya jika
diminta oleh pasien dan tidak melanggar etika
keperawatan atau medis
Implementasi dan evaluasi
Lakukan implementasi sesuai dengan rencana
keperawatan yang telah di buat
Dalam melakukan implementasi catat apa yang
telah dilakukan, dan lakukan apa yang telah di
catat
Evaluasi setelah diberikan intervensi
keperawatan untuk mengetahui sejauhmana
keberhasilan intervensi keperawatan yang telah
kita berikan (SOAP)
ESOFANGITIS
Asuhan keperawatan esofagitis
Esofagitis Merupakan peradangan pada mukosa
esofagus, resfon peradangan pada mukosa esofagus
disebabkan oleh multifaktor. Patofisilogi pada
esofagitis bergantung pada penyebabnya, penyebab
dari esofagitis diantaranya adalah infeksi, penurunan
fungsi imun, refluks gastroesogeal, dan trauma kimia
Infeksi ini bisa juga berhubungan dengan resfon
penurunan sistem imun pada setiap individu.
Pengkajian
Pada pasien dengan esofagitis biasanya dalam riwayat
kesehatan akan ditemukan kondisi imunosupresi, baik berupa
terapi steroid, antibiotik, atau adanya penyakit sistemik
seperti hipertensi dan diabetes militus.
Kaji juga adanya keluhan nyeri pada pasien saat menelan,
nyeri dada, terutama pada bagian epigastrium.
Pada pemfis dibagian efigastrium ditemukan adanya mual,
muntah, nyeri pada retrosternal, nyeri tekan pada abdomen
bagian atas, hemetamesis, anoreksia, dan penurunan berat
badan.
Pada pasien yang terpapar oleh zat kimia kaji jenis,
konsentrasi, jumlah zat korosif, lama kontak dengan zat
korosif, dan apakah zat dimuntahkan kembali atau tidak
Pengkajian diagnostik
1. Pemeriksaan laboratorium
2. Pemeriksaan radiologi
3. Pemeriksaan endoskopi dan biopsi mukosa
4. Monitor pH
penatalaksanaan
Manajemen diet, bertujuan untuk
menurunkan stimulus peradangan pada
mukosa esofagus
Terapi endoskopik, bertujuan untuk
mendilatasi lumen esofagus yang menyempit
Kortikosteroid
Penyekat leukotrin, untuk menghambat
kontraksi otot polos yang mempersempit
lumen esofagus
Diagnosa keperawatan
Nyeri b.d iritasi mukosa esofagus, spasme
esofagus, peradangan mukosa esofagus, serta
refluks asam lambung atau sekret empedu ke
esofagus
Resiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurangnya
intake makanan yang adekuat
Pemenuhan informasi kurang b.d kurangnya
informasi penyakit dan program pengobatan
KANKER ESOFAGUS
Kanker esofagus
Kanker esofagus merupakan suatu keganasan yang terjadi
pada esofagus.
Kanker ini pertama kali di deskripsikan oleh frank torek
pada tahun 1913, pada abad ke-19 yaitu tahun 1930-an di
oshinawa jepang dan marshall amerika berhasil melakukan
pembedahan pertama dengan metode transtorak
esofagotomi dengan rekonstruksi (Fisichella, 2009)
Dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat sekarang
intervensi untuk kanker bisa melalui kemoterapi,
radioterapi, dan pembedahan memberikan dampak pada
asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan
kanker esofagus.
etiologi
Penyebab pasti kanker esofagus belum diketahui, tetapi
ada beberapa faktor yang dapat menjadi predisposisi yang
diperkirakan berperan dalam patogenesis kanker.
Predisposisi ini biasanya berhubungan dengan terpajanya
mukosa esofagus dari agen berbahaya atau stimulus toksik,
yang kemudian menghasilkan terbentuknya displasia yang
bisa menjadi karsinoma
1. Defisiensi vitamin dan mineral (Doyle C, 2006)
2. Sigaret pada rokok dan penggunaan alkohol secara
kronik meningkatkan resiko kanker (Edmondso, 2008)
3. Infeksi papilomavirus pada manusia dan Helicobacter
pylori (Fisichella, 2009)
Penatalaksanaan
- Non bedah
1. Radiasi (Enzinger, 2003)
2. Kemoterapi (Le Prise, 1994)
3. Terapi Laser (wang, 2008)
4. Photodynamic Therapy (PDT) jika sudah
terjadi keganasan pada jaringan displatik
(Fischella, 2009)

- Penatalaksanaan Bedah
Diagnosa keperawatan
Risiko injuri b.d pascaprosedur bedah esofagus
Resti ketidakefektifan jalan nafas b.d kemampuan batuk
menurun nyeri pascaoperasi
Resti ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d kurangnya makanan yang adekuat
Nyeri b.d iritasi mukosa esofagus, resfon pembedahan
Resti infeksi b.d adanya port de entree luka pascbedah
Kecemasan
Pemenuhan informasi
Cont...

1. Asuhan Keperawatan penyakit divertikulum


esofagus
2. Asuhan Keperawatan Refluks Gastroesofageal
3. Asuhan Keperawatan Akalasia
4. Asuhan Keperawatan striktur esofagus
5. Asuhan Keperawatan varises esofagus
6. Asuhan Keperawatan Hiatal Hernia
rUU KEPERAWATAN
Kewenangan perawat
Berdasarkan KEPMEN 1239 BAB IV pasal 15:
1. Melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi
pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan,
melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi
keperawatan
2. Tindakan yang dimaksud adalah intervensi keperawatan,
observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan.
3. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan harus sesuai
dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh
organisasi profesi
4. Pelayanan tindakan medis hanya dapat dilakukan
berdasarkan permintaan tertulis dari dokter
KEWENANGAN PERAWAT

Berdasarkan Pasal 8 permenkes 148 :


a. pelaksanaan asuhan keperawatan;
b. pelaksanaan upaya promotif, preventif,
pemulihan, dan pemberdayaan masyarakat; dan
c. pelaksanaan tindakan keperawatan
komplementer.
d. Dalam memberikan askep boleh memberikan
obat bebas dan atau obat bebas terbatas.
Berdasarkan Draft RUU Keperawatan Pasal 32
Perawat dalam menjalankan perannya terhadap Klien berwenang:
a. melakukan pengkajian keperawatan secara holistik;
b. menetapkan diagnosis keperawatan;
c. merencanakan tindakan keperawatan;
d. melaksanakan tindakan keperawatan;
e. mengevaluasi hasil tindakan keperawatan;
f. melakukan rujukan;
g. memberikan konsultasi keperawatan dan berkoordinasi dengan
dokter;
h. melaksanakan penugasan khusus;
i. melakukan penyuluhan kesehatan; dan
j. menerima dan melaksanakan pelimpahan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (4).
Tindakan Keperawatan Mandiri Berdasarkan
SK DIRJEN DIRJEN YAN MED
NO HK. 00.06.5.1.311

Terdapat 23 tindakan mandiri yang dapat dilakukan


perawat saat melakukan praktik mandiri :
1. vital sign 14. Latihan dalam rangka rehabilitasi
2. memasang nasogastric tube medis
3. memasang selang susu besar 15. Tranpostasi klien untuk
4. memasang cateter pelaksanaan pemeriksaan
5. penggantian tube pernafasan diagnostik
6. merawat luka decukbitus 16. Penkes
7. suction 17. Konseling kasus terminal
8. memasang peralatan O2 18. konsultasi/telepon
9. penyuntikan (IV,IM, IC,SC) 19. Fasilitasi ke dokter rujukan
10. Pemasangan infus maupun obat 20. Menyaipkan menu makanan
11. Pengambilan preparat 21. Membersihkan tt pasien
12. Pemberian huknah/laksatif 22. Fasilitasi kegiatan sosial pasien
13. Kebersihan diri 23. Fasilitasi perbaikan sarana klien.