Anda di halaman 1dari 54

TRAUMA (CIDERA)

MEDULA SPINALIS

By : Ns.Azni Firmania. S.Kep


Pendahuluan..
Trauma / Cidera medulla
spinalis adalah suatu
kerusakan fungsi neurologis
yang disebabkan seringkali
oleh kecelakaan lalu lintas.
Apabila cedera itu mengenai
daerah L1-2 dan/atau di
bawahnya maka dapat
mengakibatkan hilangnya
fungsi motorik dan sensorik
serta kehilangan fungsi
defekasi dan berkemih.
Lanjut.
Vertebra yang paling sering mengalami cedera
adalah medula spinalis pada daerah servikal
(leher) ke-5,6, dan ke 7,torakal ke 12 dan
lumbal pertama

Karena ada rentang mobilisasi yang lebih besar


dalam kolumna vertebra
Lanjutan.
Cedera sumsum tulang belakang merupakan
kelainan yang pada masa kini banyak memberikan
tantangan karena perubahan dan pola trauma serta
kemajuan dibidang penatalaksanaannya. kalau
dimasa lalu cedera tersebut lebih banyak
disebabkan oleh jatuh dari ketionggian seperti
pohon kelapa , pada saat sekarang penyebabnya
lebih beraneka ragam seperti kecelakaan lalu
lintas,jatuh dari tempat ketinggian dan kecelakaan
olah raga.
PENYEBAB DAN BENTUK
Cedera sumsum tulang belakang
terjadi akibat patah tulang belakang
dan terbanyak mengenai daerah
servikal dan lumbal.Cedera terjadi
akibat hiperfleksi, hiperekstensi,
kompressi, atau rotasi tulang
belakang.Didaerah torakal tidak
banyak terjadi karena terlindung
dengan struktur toraks.
Lanjutan
Jenis-jenis trauma yang paling sering
menyebabkan cedera medula spinalis
adalah kecelakaan lalu lintas, luka
tembak, kecelakaan sewaktu menyelam
dan terjatuh
Lanjutan
Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana,
kompressi, kominutif, dan dislokasi,
sedangkan kerusakan pada sumsum tulang
belakang dapat berupa memar, contusio,
kerusakan melintang, laserasi dengan atau
tanpa gangguan peredaran darah, atau
perdarahan.
Patofisiolgi
Tulang belakang yang mengalami
gangguan trauma dapat menyebabkan
kerusakan pada medulla spinalis, tetapi
lesi traumatic pada medulla spinalis tidak
selalu terjadi karena fraktur dan
dislokasi. Efek trauma yang tidak
langsung bersangkutan tetapi dapat
menimbulkan lesi pada medulla spinalis
disebut whiplash/trauma indirek.
Whiplash adalah gerakan dorsapleksi
dan anterofleksi berlebihan dari tulang
belakang secara cepat dan mendadak.
Lanjutan
Kerusakan medulla spinalis berkisar dari komosio
sementara sampai kontusio, laserasi, dan
kompresi substansi medula
Bila hemoragi terjadi pada daerah medula
spinalis, darah dapat merembes ke ekstradural,
subdural, atau daerah subaracknoid pada kanal
spinal
Segera setelah terjadi kontusio atau robekan
akibat cedera, serabut-serabut saraf mulai
membengkak dan hancur sirkulasi darah
kesubstansia grisea medulla spinalis menjadi
terganggu
Lanjutan
Proses patogenik kerusakan yang
terjadi pada cedera medulla spinalis akut
Akibat sekunder akan terjadi iskemia,
hipoksia, edema, dan lesi-lesi hemoragi
yang akan mengakibatkan kerusakan
mielin dan akson, sebagai prinsip
cedera medula spinalis dianggap reversibel
4 sampai 6 jam setelah cedera.
Jika kerusakan medulla tidak dapat
diperbaiki, maka metode mengawali
pengobatan dgn meng. Kortikosteroid dan
obat anti inflamasi
GAMBARAN KLINIK
Gambaran klinik tergantung
pada lokasi dan besarnya
kerusakan yang
terjadi.Kerusakan melintang
memberikan gambaran berupa
hilangnya fungsi motorik
maupun sensorik kaudal dari
tempat kerusakan disertai
shock spinal.Shock spinal
terjadi pada kerusakan
mendadak sumsum tulang
belakang karena hilangnya
rangsang yang berasal dari
pusat .
Lanjutan
Jika px sadar, pasien mengeluh nyeri akut pada
belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf yang
terkena.
Px merasa takut
Cedera saraf spinal dapat menyebabkan gambaran
paraplegi atau quadriplegia
Tingkat neurologikbagian bawah mengalami paralisis
sensori dan moorik total, kehilangan kontrol kandung
kemih dan usus besar
Muncul masalah pernapasan (otot-otot yang berperan
dalam pernapasan adalah abdominal, interkostal T1-T11
dan diafragma).
Pada cedera medulla servikal tinggi, kegagalan
pernapasan akut adalah penyebab kematian
Lanjutan.
Sindrom sumsum belakang bagian
depan menunjukkan kelumpuhan
otot lurik dibawah tempat
kerusakan disertai hilangnya rasa
nyeri dan suhu pada kedua
sisinya, sedangkan rasa raba dan
posisi tidak terganggu
PERAWATAN DAN
PENGOBATAN
Perhatian utama pada penderita cedera tulang
belakang ditujukan pada usaha mencegah terjadinya
kerusakan yang lebih parah atau cedera
sekunder.untuk maksud tersebut dilakukan
immobilisasi ditempat kejadian dengan
memanfaatkan alas yang keras.
pengangkutan penderita tidak dibenarkan tanpa
menggunakan tandu atau sarana papan yang beralas
keras.selalu harus diperhatikan jalan nafas dan
sirkulasi.
bila dicurigai cedera didaerah servikal harus
diusahakan agar kepala tidak menunduk dan tetap
ditengah dengan menggunakan bantal kecil untuk
menyanngga leher pada saat pengangkutan.
Lanjutan
Pemeriksaan fisik dan neurologik yang
lebih cermat
Pemeriksaan penunjang/radologi
Pemasangan kateter
Lanjutan..
Perawatan penderita memegang peranan
penting untuk mencegah timbulnya
penyakit.perawatan ditujukan pada
pencegahan :
1. Kulit : agar tidak timbul
dekubitus karena daerah yang
anaestesi.
Perawatan posisi berganti dapat
mencegah timbulnya decubitus yaitu
dengan cara miring kanan kiri telentang
dan telungkup.
2. Anggota gerak : agar tidak
timbul kontraktur.
Karena kelainan saraf maka
timbul pula posisi sendi
akibat inbalance kekuatan
otot.pencegahan ditujukan
terhadap timbulnya
kontraktur sendi dengan
melakukan fisioterapi,
latihan dan pergerakan sendi
serta meletakkan anggota
dalam posisi netral.
3. Traktus urinarius : menjamin
pengeluaran air kemih.

Untuk ini perlu apakah


gangguan saraf
menimbulkan gejala UMN
dan LMN terhadap buli-buli,
karenanya maka kateterisasi
perlu dikerjakan dengan baik
, agar tidak menimbulkan
infeksi.
4. Traktus digestivus : menjamin
kelancaran bab.

Menjamin kelancaran
defekasi dapat dikerjakan
secara manual .
5. Traktus respiratorius : apabila
yang terkena daerah servikal
sehingga terjadi pentaplegi.
Apabila lesi cukup tinggi (daerah
servikal dimana terdapat pula
kelumpuhan pernapasan
pentaplegia), maka resusitasi
dan kontrol resprasion
diperlukan.
Penatalaksanaan Kedaruratan
Penatalaksanaan ditempat kejadian sangat
penting, krn penatalaksanaan yang tidak
tepat dapat menyebabkan kerusakan dan
kehilangan fungsi neurologik.
Ditempat kecelakaan, korban harus
dimobilisasi pada papan spinal (punggung),
dan kepala dan leher dalam posisi netral,
untuk mencegah cedera komplet
Salah satu anggota tim harus mengontrol
kepala pasien untuk mencegah fleksi, rotasi
dan ekstensi kepala
Lanjutann
Tangan ditempatkan pada kedua sisi dekat telinga
untuk mempertahankan traksi dan kesejajaran
sementara papan spinal atau alat imobilisasi
servikal dipasang
Paling sedikit empat orang harus mengangka
korban dengan hati-hati keatas papan untuk
memindahkan kerumah sakit. Adanya gerakan
memuntir dapat merusak medula spinalis
ireversibel yang menyebabkn fragmen tulang
vertebra terputus, patah, atau memotong medulla
komplet
Pasien harus selalu dipertahankan dalam posisi
ekstensi. Tidak ada bagian tubuh yang terpuntir
atau tertekuk, juga tidak boleh pasien dibiarkan
mengambil posisi duduk.
Penatalaksanaan dalam fase akut

Tujuan penatalaksanaan adalah untuk


mencegah cedera medula spinalis lebih
lanjut dan untuk mengobservasi gejala
perkembangan defisit neurologis. Lakukan
resusitasi sesuai kebutuhan dan
pertahankan oksigenasi dan kestabilan
kardiovaskuler.
Lanjutan
@ Farmakoterapi :
Berikan steroid dosis tinggi (metilpredisolon)
untuk melawan edema medela.

@ Tindakan Respiratori :
1. Berikan oksigen untuk mempertahankan PO2
arterial yang tinggi.
2. Terapkan perawatan yang sangat berhati-hati untuk
menghindari fleksi atau eksistensi leher bila
diperlukan inkubasi endrotakeal.
3. Pertimbangan alat pacu diafragma (stimulasi listrik
saraf frenikus) untuk pasien dengan lesi servikal
yang tinggi.
LANJUTAN
@Reduksi dan Fraksi skeletal:
1. Cedera medulla spinalis membutuhkan
immobilisasi, reduksi, dislokasi, dan stabilisasi
koluma vertebrata.
2. Kurangi fraktur servikal dan luruskan spinal
servikal dengan suatu bentuk traksi skeletal, yaitu
teknik tong /capiller skeletal atau halo vest.
3. Gantung pemberat dengan batas sehinga tidak
menggangu traksi
LANJUTAN.
@ Intervensi bedah = Laminektomi
Dilakukan Bila :
1. Deformitas tidak dapat dikurangi dengan fraksi
2. Terdapat ketidakstabilan signifikan dari spinal
servikal
3. Cedera terjadi pada region lumbar atau torakal
4. Status Neurologis mengalami penyimpanan
untuk mengurangi fraktur spinal atau dislokasi
atau dekompres medulla.
PEMERIKSAN
DIAGNOSTIK
Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis cedera tulan
(fraktur, dislokasi), unutk kesejajaran, reduksi
setelah dilakukan traksi atau operasi

Skan ct
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi
ganggaun struktural
LANJUTAN
MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal,
edema dan kompresi
- Mielografi.
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal
vertebral) jika faktor putologisnya tidak jelas atau
dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid
medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan
setelah mengalami luka penetrasi).
LANJUTAN.
@Foto ronsen torak, memperlihatkan keadan
paru (contoh : perubahan pada diafragma,
atelektasis)
@Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita,
volume tidal) : mengukur volume inspirasi
maksimal khususnya pada pasien dengan
trauma servikat bagian bawah atau pada
trauma torakal dengan gangguan pada saraf
frenikus /otot interkostal).
@GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas
atau upaya ventilasi
Pengkajian
Observasi pola pernapasan
Kaji kekuatan batuk pasien serta
auskultasi paru-paru
Adanya perubahan fungsi motorik dan
sensorik dan gejala kerusakan neurologik
progresif.
Fungsi motorik dan sensorik dikaji melalui
pemeriksaan neurologik cermat dengan
cara;
Lanjutan
Kemampuan motorik dikaji dengan meminta
pasien untuk meregangkan jari-jari tangan,
meremas tangan pemeriksa, dan
menggerakkan ibu jari kaki atau membalik
kaki
Sensasi dikaji dengan mencubit kulit atau
menusuk kulit dengan ujung patahan lidi
kapas, mulai dari tingkat bahu dan berjalan
turun ke kedua sisi ekstremitas. Pasien
ditanya apakah sensasi dirasakan
Adanya penurunan pada fungsi neurologik
dilaporkan dengan segera
Lanjutan.
Kaji adanya syok spinal;terjadi kehilangan reflek
komplet, motorik, sensorik,dan aktivitas otonom
dibawah tingkat lesi yang menyebabkan
paralisis kandung kemih dan distensi.
Palpasi adanya retensi urin dan distensi
kandung kemih yang berlebihan.
Kaji dilatasi lambung dan usus sebagai akibat
gangguan autonom
Pantau suhu; hipertemia akibat perubahan
kontrol suhu karena gangguan autonom
Diagnosa Keperawatan
Pola nafas tidak efektif yang berhubungan
dengan kelemahan atau paralisi otot
abdominal dan interkostal
Kerusakan mobilitas fisik yang
berhubungan dengan gangguan sensorik dan
motorik
Risiko terhadap kerusakan integritas kulit
yang berhubungan dengan kehilangan
sensori dan imobilitas
Lanjutan

Retensi urin yang berhubungan


dengan ketidakmampuan untuk
berkemih spontan
Konstipasi yang berhubungan
dengan adanya atonik kolon sebagai
akibat gangguan autonomik
Nyeri dan ketidaknyamanan yang
berhubungan dengan pengobatan
dan lamanya imobilitas
Intervensi
1. Tujuan : Meningkatkan pernapasan yang
adekuat
Kriteria hasil : Batuk efektif, pasien mampu
mengeluarkan seket, bunyi napas normal,
jalan napas bersih, respirasi normal, irama
dan jumlah pernapasan, pasien, mampu
melakukan reposisi, nilai AGD : PaO2 > 80
mmHg, PaCO2 = 35-45 mmHg, PH = 7,35
7,45
LANJUTAN
Rencana Tindakan
a. Kaji kemampuan batuk dan reproduksi sekret
R/ Hilangnya kemampuan motorik otot
intercosta dan abdomen berpengaruh terhadap
kemampuan batuk.
b. Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher,
brsihkan sekret)
R/ Menutup jalan nafas.
c. Monitor warna, jumlah dan konsistensi sekret,
lakukan kultur
R/ Hilangnya refleks batuk beresiko
menimbulkan pnemonia.
d. Lakukan suction bila perlu
R/ Pengambilan secret dan menghindari
aspirasi.
LANJUTAN.
d. Lakukan suction bila perlu
R/ Pengambilan secret dan menghindari aspirasi.
e. Auskultasi bunyi napas
R/ Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru.
f. Lakukan latihan nafas
R/ mengembangkan alveolu dan menurunkan
prosuksi sekret.
g. Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi
R/ Mengencerkan sekret
h. Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah
R/ Meninghkatkan suplai oksigen dan
mengetahui kadar olsogen dalam darah.
i. Monitor tanda vital setiap 2 jam dan status
neurologi
R/ Mendeteksi adanya infeksi dan status
respirasi.
LANJUTAN

2. Tujuan : Memperbaiki mobilitas


Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi
fungsi dibuktikan oleh tak adanya
kontraktur, footdrop, meningkatkan
kekuatan bagian tubuh yang sakit
/kompensasi, mendemonstrasikan teknik
/perilaku yang memungkinkan melakukan
kembali aktifitas.
Rencana Tindakan???
a. Kaji fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien
setiap 4 jam.
R/ Menetapkan kemampuan dan keterbatasan
pasien setiap 4 jam.
b. Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan
memperhatikan kestabilan tubuh dan
kenyamanan pasien.
R/ Mencegah terjadinya dekubitus.
c. Beri papan penahan pada kaki
R/ Mencegah terjadinya foodrop
d. Gunakan otot orthopedhi, edar, handsplits
R/ Mencegah terjadinya kontraktur.
LANJUTAN
e. Lakukan ROM Pasif setelah 48-72 setelah cedera
4-5 kali /hari
R/ Meningkatkan stimulasi dan mencehag
kontraktur.
f. Monitor adanya nyeri dan kelelahan pada pasien.
R/ Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan.
g. Konsultasikan kepada fisiotrepi untuk latihan dan
penggunaan otot seperti splints
R/ Memberikan pancingan yang sesuai.
LANJUTAN
3. Tujuan : Mempertahankan Intergritas kulit
Kriteria Hasil : Keadaan kulit pasien utuh,
bebas dari kemerahan, bebas dari infeksi
pada lokasi yang tertekan.
Rencana Tindakan????
a. Kaji faktor resiko terjadinya gangguan integritas kulit
R/ Salah satunya yaitu immobilisasi, hilangnya sensasi,
Inkontinensia bladder /bowel.
b. Kaji keadaan pasien setiap 8 jam
R/ Mencegah lebih dini terjadinya dekubitus.
c. Gunakan tempat tidur khusus (dengan busa)
R/ Mengurangi tekanan 1 tekanan sehingga mengurangi
resiko dekubitas
d. Ganti posisi setiap 2 jam dengan sikap anatomis
R/ Daerah yang tertekan akan menimbulkan hipoksia,
perubahan posisi meningkatkan sirkulasi darah.
Lanjutan
e. Pertahankan kebersihan dan kekeringan tempat
tidur dan tubuh pasien.
R/ Lingkungan yang lembab dan kotor
mempermudah terjadinya kerusakan kulit
f. Lakukan pemijatan khusus / lembut diatas
daerah tulang yang menonjol setiap 2 jam
dengan gerakan memutar.
R/ Meningkatkan sirkulasi darah
g. Kaji status nutrisi pasien dan berikan
makanan dengan tinggi protein
R/ Mempertahankan integritas kulit dan proses
penyembuhan
h. Lakukan perawatan kulit pada daerah yang
lecet / rusak setiap hari
R/ Mempercepat proses penyembuhan
Lanjutan
4. Tujuan : Peningkatan eliminasi urine
Kriteria Hasil : Pasien dpat
mempertahankan pengosongan blodder
tanpa residu dan distensi, keadaan urine
jernih, kultur urine negatif, intake dan
output cairan seimbang
Rencana tindakan???
a. Kaji tanda-tanda infeksi saluran kemih
R/ Efek dari tidak efektifnya bladder adalah
adanya infeksi saluran kemih
b. Kaji intake dan output cairan
R/ Mengetahui adekuatnya gunsi gnjal dan
efektifnya blodder.
c. Lakukan pemasangan kateter sesuai program
R/ Efek trauma medulla spinalis adlah adanya
gangguan refleks berkemih sehingga perlu
bantuan dalam pengeluaran urine
d. Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter setiap
hari
R/ Mencegah urine lebih pekat
Lanjutan.
e.Cek bladder pasien setiap 2 jam
R/ Mengetahui adanya residu sebagai akibat
autonomic hyperrefleksia
f. Lakukan pemeriksaan urinalisa, kultur dan
sensitibilitas
R/ Mengetahui adanya infeksi
g. Monitor temperatur tubuh setiap 8 jam
R/ Temperatur yang meningkat indikasi adanya
infeksi.
Lanjutan

5. Tujuan : Memperbaiki fungsi usus


Kriteria hasil : Pasien bebas
konstipasi, keadaan feses
yang lembek, berbentuk.
Rencana tindakan ??
a. kaji pola eliminasi bowel
R/ Menentukan adanya perubahan eliminasi
b. Berikan diet tinggi serat
R/ Serat meningkatkan konsistensi feses
c. Berikan minum 1800 2000 ml/hari jika tidak ada
kontraindikasi
R/ Mencegah konstipasi
d. Auskultasi bising usus, kaji adanya distensi
abdomen
R/ Bising usus menentukan pergerakan perstaltik
Lanjutan
e. Hindari penggunaan laktasif oral
R/ Kebiasaan menggunakan laktasif akan tejadi
ketergantungan
f. Lakukan mobilisasi jika memungkinkan
R/ Meningkatkan pergerakan peritaltik
g. Berikan suppositoria sesuai program
R/ Pelunak feses sehingga memudahkan eliminasi
h. Evaluasi dan catat adanya perdarah pada saat
eliminasi
R/ Kemungkinan perdarahan akibat iritasi
penggunaan suppositoria
Lanjutan
6. Tujuan : Memberikan rasa nyaman
Kriteria hasil : Melaporkan
penurunan rasa nyeri /ketidak
nyaman, mengidentifikasikan cara-
cara untuk mengatasi nyeri,
mendemonstrasikan penggunaan
keterampilan relaksasi dan aktifitas
hiburan sesuai kebutuhan individu.
Rencana tindakan ???
a. Kaji terhadap adanya nyeri, bantu
pasien mengidentifikasi dan
menghitung nyeri, misalnya lokasi,
tipe nyeri, intensitas pada skala 0 1-
R/ Pasien biasanya melaporkan nyeri
diatas tingkat cedera misalnya dada /
punggung atau kemungkinan sakit
kepala dari alat stabilizer
b. Berikan tindakan kenyamanan,
misalnya, perubahan posisi, masase,
kompres hangat / dingin sesuai
indikasi.
R/ Tindakan alternatif mengontrol
nyeri digunakan untuk keuntungan
emosionlan, selain menurunkan
kebutuhan otot nyeri / efek tak
diinginkan pada fungsi pernafasan.
Lanjutan
c. Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya,
pedoman imajinasi visualisasi, latihan nafas
dalam.
R/ Memfokuskan kembali perhatian,
meningkatkan rasa kontrol, dan dapat
meningkatkan kemampuan koping
d. kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi,
relaksasi otot, misalnya dontren (dantrium);
analgetik; antiansietis.misalnya diazepam
(valium)
R/ Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme
/nyeri otot atau untuk menghilangkan-ansietas
dan meningkatkan istrirahat.
Evaluasi
1. Klien dapat meningkatkan pernafasan yang
adekuat
2. Klien dapat memperbaiki mobilitas
3. Klien dapat mempertahankan integritas kulit
4. klien mengalami peningkatan eliminasi urine
5. Klien mengalami perbaikan usus / tidak
mengalami konstipasi
6. Klien menyatakan rasa nyaman
Terima Kasih