Anda di halaman 1dari 36

BAB 8

PEMERIKSAAN DAN PENYIDIKAN


PAJAK
KELOMPOK 5 :
1. Alan Dwi Zein Nur Yunus (02)
2. Alif Miftahul Hidayah (03)
3. Dwi Anita Ningrum (09)
4. Irfan (17)
5. Nuriyana (22)
PEMERIKSAAN PAJAK
- PEMERIKSAAN ADALAJH SERANGKAIAN KEGIATAN UNTUK
MENCARI, MENGUMPULKAN, MENGOLAH DATA DAN/ATAU
KETERANGAN LAINNYA UNTUK MENGUJI kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan
perundang undangan perpajakan.

- Pemeriksaan pajak adalah pegawai negeri sipil di lingkungan direktorat jendral


pajak atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh dirjen pajak untuk diberi tugas,
wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan pemeriksanaan pajak.
- Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban,
modal, penghasilan dan biaya.
- Laporan pemeriksaan pajak adalah laporan tentang hasil pemeriksaan yang
disusun oeh pemeriksa pajak secara ringkas dan jelas serta sesuai dengan ruang
lingkup dan tujuan pemeriksaan
Tujuan Pemeriksaan

Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dan untuk


tujuan lain dalam rangak melaksanakan ketentuan peraturan perundang
undangan perpajakan. Antara lain :
- Surat pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan menunjukkan rugi
- Surat pemberitahuan yang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh dirjen
Pajak
- Surat Pemberitahuan menunjukkan kelebihan pembayaran pajak
Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang
undangan perpajakan. Meliputi :
- Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan
- Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak
- Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan pengusaha kena pajak
- Wajib Pajak mengajukan keberatan
- Pencocokan data dan alat keterangan
- Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terkecil
HAL HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM
PEMERIKSAAN PAJAK
- Untuk keperluan pemeriksaan, petugas pemeriksa harus memiliki
tanda pengenal yang dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan
serta memperlihatkan kepada Wajib Pajak yang diperiksa.
- Buku, catatan dan dokumen,serta data yang diperlukan oleh Wajib
Pajak paling lama 1 bulan sejak permintaan disampaikan
- Wajib Pajak yang diperiksa :
1) Memperlihatkan atau meminjamkan buku. Dokumen yang
menjadi dasarnya
2) Memberikan kesepatan untuk memasuki tempat atau ruang yang
dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran
pemeriksaan
3) Memberikan keterangan lain yang diperlukan
WAJIB PAJAK GO PUBLIC
Terhadap Wajib Pajak Badan yang pernyataan pendaftaran emisi sahamnya telah dinyatakan
efektif oleh badan pengawas pasar modal dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan
dilampiri laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik dengan pendapat Wajar
Tanpa Pengecualian jika :
1. Surat Pemberitahuan Tahunan Wajib Pajak menyatakan lebih bayar.
2. Terpilih untuk diperiksa berdasarkan analisis risiko
Dapat dilakukan pemeriksaan malalui Pemeriksaan Kantor.
a. Tata cara pemeriksaan diantaranya mengatur tentang pemeriksaan ulang, jangka waktu
pemeriksaan, kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada
wajib pajak, dan hak wajib pajak untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan
dalam batas waktu yang ditentukan, diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri
keuangan.
b. Apabila dalam pelaksanaan pemeriksaan Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban sehingga
perhitungan penghasilan kena pajak dilakukan secara jabatan, Dirjen Pajak wajib
menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan kepada Wajib Pajak dan
memberikan hak kepada Wajib Pajak untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil
pemeriksaan dalam batas waktu yang ditentukan.
Perwakilan Wajib Pajak dalam Pemeriksaan Pajak.
1. Dalam menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan, Wajib Pajak diwakili dalam hal berikut :
a. Badan oleh pengurus
b. Badan yang dinyatakan pailit oleh kurator
c. Badan dalam pembubaran oleh orang atau badan yang ditugasi untuk melakukan pemberesan
d. Badan dalam likuidasi atau likuidator
e. Suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli warisnya, pelaksana wasiatnya, atau yang
mengurus harta peninggalanya.
f. Anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam pengampuan oleh wali atau pengampunya.
2. Wakil dari Wajib Pajak bertanggung jawab secara pribadi dan/ atau secara renteng atas pembayaran pajak
yang terutang, kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan Dirjen Pajak bahwa mereka dalam
kedudukannya benar-benar tidak mungkin untuk dibebani tanggung jawab atas pajak yang terutang
tersebut.
3. Orang pribadi atau Badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan
hak dan memnehi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
4. Persyaratan serta pelaksanaan hak dan kewajiban kuasa diatur dengan atau berdasarkan peraturan
menteri keuangan.
5. Termasuk dalam pengertian pengurus adalah seorang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut
menentukan kebijakan dan/atau mengambil keputusan dalam menjalankan perusahaan.
Mekanisme Pemeriksaan Pajak sebagai
Tindakan Pengawasan

Kerangka pemikiran tentang pemeriksaan pajak sebagai tindakan pengawasan


terhadap sistem self assessment merupakan manifestasi dari adanya upaya pemberdayaan
terhadap Wajib Pajak dalam kaitannya dengan kepatuhan, secara sederhana dapat dilihat
pada gambar berikut ini :
Sistem Pemeriksaan Pajak sebagai Tindakan Pengawasan
terhadap Pelaksanaan Sistem Self Assessment

Kebijakan Sitem Pemberdayaan


Self Assessment Wajib Pajak

Tindakan
Pemeriksaan Pajak
Pengawasan

Kepatuhan Wajib
Pajak

Umpan Balik
Mekanisme Pemeriksaan Pajak sebagai
Tindakan Pengawasan
Mekanisme pemeriksaan pajak sebagai tindakan pengawasan atas
pelaksanaan sistem self assessment untuk menumbukan kepatuhan Wajib Pajak
pada dasarnya merupakan rangkaian kegiatan yang berproses secara terpadu
sehingga membentuk suatu sistem khas dalam rangka mewujudkan efektivitas
dan efisiensi pemeriksaan. Secara visual, sistem pemeriksaan pajak dapat dilihat
pada Gambar berikut ini :
Sistem Pemeriksaan Pajak sebagai Tindakan
Pengawasan atas Pelaksanaan Sistem Self Assessment

1. Dasar Pelaksanaan sistem self Pemeriksaan pajak sebagai Tingkat kepatuhan wajib pajak

Output

Input
Proses

assessment. tindakan pengawasan atas dilihat atas dasar indikator :


2. Data yang akurat mengenai : pelaksanaan sistem self 1. Patuh terhadap kewajiban
Wajib pajak, Objek pajak, SPT assessment terhadap kepatuhan interin, yakni dalam
dan data pendukung Wajib Pajak, terutama pembayaran/laporan masa, SPT
difokuskan kepaa lima dimensi masa, SPT PPN setiap bulan.
3. Aparatur pajak : KARIKPA, KPP- pokok sasaran pemeriksaan,
KPP, Aparatur Pajak yaitu antara lain sebagai berikut : 2. Patuh terhadap kewajiban
4. Kelengkapan administrasi tahunan, yakni dalam
1. Pos peredaran usaha menghitung pajak atas dasar
perpajakan
2. Pos beban pokok penjualan sistem (self assessment)
5. Kelengkapan peranti keras dan melaporkan pajak dalam SPT
peranti lunak. 3. Pos penghasilan dari luar
usaha pada akhir tahun pajak, serta
melunasi utang pajak.
4. Pos kompensasi
3. Patuh terhadap ketentuan
5. Pos penyusutan aset materil dan yuridis formal
perpajakan melalui pembukuan
sebagaimna selanjutnya.
Ruang Lingkup Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Sederhana, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak
dalam rangka kerja sama operasi atau konsorsium, untuk seluruh jenis pajak atau jenis-
jenis pajak tertentu, termasuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) ,
baik untuk Masa Pajak atau tahun berjalan dan/atau Masa Pajak/tahun-tahun
sebelumnya, yang dilaksanakan dengan menerapkan teknik-teknik pemeriksaan dengan
bobot kedalaman yang sederhana.
Pemeriksaan Sederhana dilakukan melalui pemeriksaan berikut ini:
a. Pemeriksaan Sederhana Kantor (PSK), yaitu Pemeriksaan Sederhana yang dilakukan
terhadap Wajib Pajak di kantor Unit Pelaksana Pemeriksaan Sederhana, untuk satu
jenis pajak tertentu, baik untuk tahun berjalan dan/atau tahun-tahun sebelumnya.
b. Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL), yaitu Pemeriksaan Sederhana yang dilakukan
terhadap Wajib Pajak di lapangan dan di kantor Unit Pelaksana Pemeriksaan
Sederhana, untuk seluruh jenis pajak atau jenis-jenis pajak tertentu dan/atau untuk
tujuan lain, baik untuk tahun berjalan dan/atau tahun-tahun sebelumnya.
2. Pemeriksaan Lengkap (PL), yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak
dalam rangka kerja sama operasi atau konsorsium, di lapangan dan di kantor Unit
Pelaksana Pemeriksaan Pajak Lengkap, untuk seluruh jenis pajak, termasuk Bea Perolehan
Hak ata Tanah dan Bangunan (BPHTB), baik untuk tahun berjalan dan/atau tahun-tahun
sebelumnya, yaitu yang dilaksanakan dengan menerapkan teknik-teknik pemeriksaan pada
umumnya.
Unit Pelaksana Pemeriksaan Lengkap adalah Direktorat Pemeriksaan Pajak, Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak, dan Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak (Karikpa),
sedangkan Unit Pelaksana Pemeriksaan Sederhana adalah Kantor Pelayanan Pajak.
Jenis dan Prioritas Pemeriksaan
Jenis Pemeriksaan antara lain :
1) Pemeriksaan Rutin, yaitu pemeriksaan yang bersifat rutin dilakukan terhadap Wajib Pajak
sehubungan dengan pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak yang
bersangkutan.
2) Pemeriksaan Khusus, yaitu pemeriksaan yang dilakukan tehdap Wajib Pajak berkenaan dengan
adanya masalah dan/atau keterangan yang secar khusus berkatian dengan Wajib Pajak yang
bersangkutan.
3) Pemeriksaa Bukti Permulaan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak untuk
mendapatkan bukti permulaan tenang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana dibidang
perpajakan.
4) Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi, yaitu pemeriksaan yang dilaukan terhadap cabang,
perwakilan, pabrik, atau tempat usaha dari Wajib Pajak Domisili, yang lokasinya berada di luar
wilayah kerja Unit Pelaksana Pemeriksaan Wajib Pajak Domisili.
5) Pemeriksaan Tahun Berjalan, yaitu pemeriksaan terdhadap Wajib Pajak yang dilakukan dalam
tahun berjalan untuk jenis-jenis tertentu dan untuk mengumpulkan data atau keterangan atas
kewajiban pajak lainnya.
Prioritas pemeriksaan ditetapkan sebagai berikut.
1. Pemeriksaan rutin terhadap SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi atau
Badan yang menyatakan lebih bayar dan/atau SPT Tahunan PPh Pasal 21 yang
menyatakan lebih bayar dan/atau SPT Masa PPN yang menyatakan meminta
pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
2. Pemeriksaan Bukti Permulaan.
3. Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi
4. Pemeriksaan Khusus
5. Pemeriksaan Rutin selain pemeriksaan rutin sebagaimana dimaksud pada
nomor 1.
6. Pemeriksaan Tahun Berjalan
Jangka Waktu Penyelesaian Pemeriksaan
Jangka waktu penyelesaian ditetapkan sebagai berikut:
1. PSK harus diselesaikan dalam jangka waktu 2 minggu, terhitung sejak saat surat panggilan
dikirimkan kepada WP.
2. PSL harus diselesaikan dalam jangka waktu 1 bulan, terhitung sejak Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Pajak disampaikan kepada WP.
3. PL harus diselesaikan dalam jangka waktu 2 bulan, terhitung sejak Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Pajak disampaikan kepada WP.
4. Permintaan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang diajukan oleh pengusaha Kena
PET harus diselesaikan dalam jangka waktu 6 hari, terhitung sejak tanggal permohonan
diterima dan jangka waktu tidak dapat diperpanjang.
5. PSL sehubungan dengan pelaksanaan Pemeriksaan WP Lokasi harus diselesaikan dalam jangka
waktu paling lama 30 hari, terhitung sejak SP3 WP Lokasi diteribitkan dan jangka waktu tidak
dapat diperpanjang.
6. PL sehubungan dengan Pemeriksaan WP Lokasi harus diselesaikan dalam jangka
waktu paling lama 45 hari, terhitung sejak tanggal SP3 WP Lokasi diterbitkan dan
jangka waktu tidak dapat diperpanjang.
7. PSL atau PL sehubungan dengan Pemeriksaan Tahun Berjalan harus diselesaikan
dalam jangka waktu 1 bulan, terhitung sejak SP3 disampaikan kepada WP dan
jangka waktu tidak dapat diperpanjang.
8. PSL atau PL sehubungan dengan pelaksanaan Pemeriksaan Khusus berdasarkan
instruksi Direktur Pemeriksaan Pajak atau Kepala Kantor Wilayah DJP harus
diselesaikan dengan memperhatikan jangka waktu yang tertera pada instruksi
Pemeriksaan Khusus.
9. PL sehubungan dengan pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Pembayaran berdasarkan
instruksi Direktur Pemeriksaan Pajak atau Kepala Kantor Wilayah DJP harus
diselesaikan dengan memperhatikan jangka waktu yang tertera pada instruksi
Pemeriksaan Bukti Pembayaran.
Jangka waktu penyelesaian paling lama untuk pemeriksaan yang penyelesaiannya
dapat diperpanjang:
1. 3 minggu untuk PSK, dan tidak dapat diperpanjang lagi.
2. 1 bulan untuk PSL, dan tidak dapat diperpanjang lagi.
3. 2 bulan untuk PL, dan dapat diperpanjang 2 bulan lagi.
Ruang Lingkup dan Jangka Waktu Pemeriksaan
terhadap WP Tertentu
No Golongan WP Ruang Lingkup Jangka Waktu
Pemeriksaan Pemeriksaan
1. WP Badan Khusus:
a. WP Masuk Bursa PSK 2 minggu
b. Bentuk Usaha Tetap Bank PSK 2 minggu
c. BUMN/BUMD PSK 2 minggu
2. WP Orang Pribadi dan WP Badan Besar PL/PSL/PSK 2 bulan/1 bulan
lainnya
3. WP Orang Pribadi dan WP Badan PL/PSL/PSK 2 bulann/1 bulan/2
Menengah, termasuk para profesional minggu
4. WP Kecil dan WP Orang Pribadi tidak PSL/PSK 1 bulan/2 minggu
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
Pemeriksaan Ulang
Pelaksanaan Pemeriksaan Ulang diatur sebagai berikut:
1. Pemeriksaan ulang hanya dapat dilakukan berdasarkan instruksi atau persetujuan Dirjen Pajak.
2. Instruksi atau persetujuan Dirjen Pajak dapat diberikan apabila:
a. Adanya indikasi bahwa WP melakukan tindakan pidana di bidang perpajakan.
b. Terdapat data baru dan data yang semula terungkap yang mengakibatkan penambahan pajak
terutang.
c. Terdapat sebab-sebab lain berdasarkan instruksi Dirjen Pajak.
3. Sesuai dengan ketentuan Ps. 15 ayat 1 UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan (UU No. 16 Tahun 2000), yang dimaksud data baru aadalah data yang belum
dilaporkan WP dalam Surat Pemberitahuan dan data semula belum terungkap adalah data yang
sudah dilaporkan WP dalam Surat Pemberitahuan namun tidak diungkapkan secara jelas.
4. Dalam kebijakan pemeriksaan tahun 2000, pemeriksaan ulang merupakan Pemeriksaan Bukti
Pembayaran atau Pemeriksaan Khusus sesuai dengan kriteria dilakukannya pemeriksaan ulang
tersebut.
Perluasan Pemeriksaan
Instruksi atau persetujuan perluasan pemeriksaan dapat diberikan dalam hal:
a. Terdapat indikasi bahwa WP melakukan tindakan pidana di bidang perpajakan.
b. Hasil pemeriksaan terhadap WP untuk tahun pajak yang diperluas diperkirakan
dapat mengakibatkan penambahan pajak terutang dengann jumlah yang signifikan.
c. Terdapat sebab-sebab lain berdasarkan instruksi Dirjen Pajak.
Penerapan Teknik Sampling
Penerapan teknik sampling dalam pemeriksaan ditujukan membantu
pemeriksa pajak dalam pelaksanaan pemeriksaan agar lebih efektif dan efisien.
Pemahaman konsep sampling akan membantu pemeriksa dalam mengevaluasi
keseluruhan mengenai sistem pengendalian internal yang diterapkan oleh WP
dan menyusun kesimpulan yang tepat mengenai kesimpulan yang tepat tentang
kebenaran SPT.
PEER REVIEW
Melalui pelaksanaan sejawat (peer review), Kantor Pusa c.q. Direktorat Pemeriksaan
Pajak atau Kantor Wilayah Jendral Pajak melakukan pengawasan atas kualitas
pemeriksaan dan kepatuhan Pemeriksa Pajak terhadap ketentuan-ketentuan yang
berlaku untuk kemudian hasilnya akan dijadikan bahan perumusan kebijakan
pemeriksaan di masa yang akan datang.
Tata Cara Pemerikasaan
Pemerikasaan dilakukan dengan pedoman norma pemeriksaan yang
berkaitan denganpemeriksaan pajak. Pemeriksaan pajak dilakasanakan oleh
pemerikasa pajak yang bergabung dalam tim pemeriksa pajak terdiri oleh
seorang supervisor,seorang ketua tim dan seprang atau lebih anggota.
Susunan Tim pembahas pada unit pelaksana
pemeriksaan seerhana sebagai berikut :
Ketua : kepala kantor pelayanan pajak
Anggota : para kepala seksi PPh perseorangan,kepala seksi PPh badan,ke[ala seksi
pemotongan/pemungutan PPh dan kepala seksi PPn
Susunan tim pembahasan dan pelaksana
pemeriksaan lengkap sebagai berikut :
1. Pada kantor pemeriksa dan penyidikan pajak
Ketua : kepala kantor pelayanan pajak
Anggota : para supervisor

2. Pada kantor wilayah direktorat jendral pajak


Ketua : kepala kantor wilayah direktorat jenderal pajak
Anggota : kepala bidang pemeriksaan dan penagihan,kepala bidang PPh,keala bidang
PPN dan PTLL,dan supervisor

3. Pada direktorat pemeriksa pajak


Ketua : direktur pemeriksa pajak
Anggota : para kepala sub direktorat dan para supervisor
Langkah-Langkah Pemeriksaan Pajak
1. Program pemeriksaan pajak
2. Teknik pemeriksaan pajak
Menelusuri
Mencari
mengumpulkan
mengolah menjadi data
3. Prosedur Pemeriksaan
Mengevaluasi
Menganalisis angka angka
Menguji keterkaitan
Memanfaatkan informasi dan data dari pihak ketiga
Menguji kebenaran fisik
Kembali memnjumlah angka angka dari atas ke bawah dan dari samping
Mengadakan inspeksi
Melkukan verifikasi
Menguji keabsahan dan keaslian data
Melakukan konfirmasi ke pihak pihak terkait
Melakukan wawancara dengan wajib pajak
4. Metode pemeriksaan
Metode langsung
Metode tidak langsung
5. Hasil pemeriksaan Laporan Hasil Pemeriksaan
Tingkat kepeatuhan administrative
Tingkat kepatuhan materil dan yuridis formal
Selesih koreksi
KEBIJAKAN PEMERIKSAAN
Kebijakan pemeriksaan yang akan datang tetap diutamakan pada upaya peningkatan
kepatuhan wajib pajak dan diarahkan lebih mendorong akuntanbilitas serta tingkat
pengawasan. Upaya tersebut dilakukan dengan cara berikut :
1. Penentuan sasaran pemeriksaan yang tepat
2. Peningkatan efisiensi dan efektivitas pemeriksaan melalui :
a) Penyempurnaan teknik audit sampling
b) Penggalakan pelaksanaan peer review
c) Pengembangan lebih lanjut pemeriksaan
d) Penggunaan audit program per sektor usaha
e) Peningkatan kinerja SDM (pemeriksaan pajak) melalui program khusus
3. Peningkatan pemeriksaan melalui :
a) Pemantauan dan tindak lanjut pemeriksaan
b) Pengawasan berjenjang
c) Pelaksanaan sistem reward and punishment secara konsisten
SISTEM KRITERIA SELEKSI
Unit kerja yang terkait dengan sistem seleksi meliputi pusat pengolahan data
dan informasi perpajakan, direktorat pemeriksaan pajak, kantor wilayah direktorat
pemeriksaan pajak, kantor pelayanan pajak dan kantor pemeriksaan, dan penyidikan
paja. Ruang linkup pemeriksaan yang bedasarkan sistem kriteria seleksi meliputi PL, PSL,
dan PSK.
Pada sistem kriteria seleksi, semua SPT yang disampaikan oleh wajib pajak akan
diberi bobot tertentu yang pada akhirnya menghasilkan skor. Dengan demikian, setiap
SPT tahunan PPh wajib pajak orang pribadi dan badan akan memiliki skor mulai dari
yang terendah sampai dengan yang tinggi. Makin tinggi skor yang dimiliki oleh suatu
SPT, makin tinggi prioritasnya untuk dilakukan pemeriksaan.
HAK-HAK WAJIB PAJAK APABILA
DILAKUKAN PEMERIKSAAN
1) Meminta pemeriksa pajak untuk memperlihatkan tanda pengenal pemeriksa
2) Meminta tindasan surat perintah pemeriksaan pajak
3) Menolak diperiksa pemeriksa tidak bisa memperlihatkan identitas dan surat perintah
pemeriksaan
4) Meminta penjelasan maksut dari pemeriksaan
5) Meminta tanda bukti peminjaman buku-buku serta dokumen yang dipinjam oleh
pemeriksa pajak
6) Meminta perinciaan jika ada perbedaan antara pemeriksaan dengan SPT
7) Mengajukan pengaduan apabila rahasia usaha dibocorkan pada pihak yang tidak berhak
8) Mendapatkan lembar asli berita acara apabila pemeriksa pajak melakukan penyegelan
atas tempat atau ruangan.
KEWAJIBAN WAJIB PAJAK APABILA DILAKUKAN PEMERIKSAAN

1) Memperlihatkan dan meminjamkan buku-buku, catatan-catatan, dokumen-


dokumen yang diperlukan pemeriksa.
2) Memberi kesempatan pada pemeriksa untuk memasuki tempat yg dipandang
diperlukan oleh pemeriksa.
3) Memberi keterangan lisan atau tertulis yang diminta pemeriksa.
PENYIDIKAN PAJAK
Penyidikan tindakan pidana di bidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh
pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi
wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan.

WEWENANG PENYIDIK
1. Menerima, mencari, mengumpulkan, meneliti keterangan dan laporan
2. Menerima, mencari, mengumpulkan keterangan pribadi atau badan.
3. Meminta keterangan bahan bukti dari orang pribadi atau badan.
4. Menerima buku, catatan, dokumen di bidang perpajakan
5. Melakukan penggeledahan dan penyitaan terhadap barang bukti
6. Meminta bantuan tenaga ahli dalam tugas
7. Memberhentikan atau melarang pergi seseorang di dalam ruangan yang diperiksa
8. Memotret seseorang yang berkaitan tindak pidana
9. Memanggil orang untuk jadi saksi / tersangka
10. Menghentikan penyidikan
PENGHENTIAN PENYIDIK
Penyidikan diberhentikan dalam hal berikut ini:
a) Tidak terdapat cukup bukti
b) Peristiwa bukan tindak pidana di bidang perpajakan
c) Peristiwa telah kadaluarsa
d) Tersangka meninggal dunia
e) Untuk kepentingan penerimaan negara, atas permintaan Menteri keuangan, Jaksa
Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan paling
lama 6 bulan sejak tanggal surat permintaan.