Anda di halaman 1dari 36

Teknik Sungai

(RC09 1407)
I. Pendahuluan
1.1. Definisi
Sungai adalah suatu sistem aliran yang dibentuk oleh
alam untuk mengalirkan air.
Karakteristik sungai merupakan hasil interaksi antara
aliran air (debit), angkutan sedimen, yang keduanya
dipengaruhi proses alam serta campur tangan manusia
di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan di sepanjang sungai.
Karakteristik sungai dipengaruhi oleh kondisi DAS-nya
Topografi, yang membentuk luas DAS, tipe DAS, trase
sungai dan kemiringan dasar sungai.
Iklim, hidrologi dan hidrogeologi, menentukan ketersediaan
air/ debit dalam sungai, fluktuasi debit sepanjang tahun.
Tanah dan geologi, mempengaruhi geometri sungai, dan
trase sungai serta tipe sungai. Geometri sungai relatif
tetap pada sungai-sungai yang mengalir didataran cadas
(rock), sedang yang di dataran aluvial mudah berubah,
karena proses penggerusan dan pengendapan. Tanah
permukaan medan merupakan salah satu sumber sedimen
sungai.
Tataguna lahan, yang menentukan koefisien pengaliran C,
berperan pada ketersediaan air tanah dan limpasan air
permukaan.
1.2. Peran sungai bagi manusia
Sungai sebagai salah satu sumber air yang potensial.
Ada dua aspek peran sungai bagi manusia, yaitu
aspek pemanfaatan sebagai salah satu sumber air tawar yang
besar dan lebih mudah dikelola, serta
aspek pengendalian karena sungai dapat merugikan baik harta
maupun jiwa karena kerusakan-kerusakan yang ditimbulkannya.

Banjir adalah aliran sungai di atas normal.


Banjir tahunan (T = 1,1 tahun)
Banjir periode ulang 5 tahun 10 tahun dst.
Selama aliran tetap berada di sungai dan tidak merusak
alurnya sendiri, tidak menjadi masalah.
Masalah timbul apabila kondisi aliran merusak alur sungai
(penggerusan / pengendapan) atau aliran meluap ke bantaran/
ke lembah sungai dan menimbulkan genangan dan kerusakan.
1.3. Perbedaan antara sungai dan saluran

Komponen Sungai Saluran


a. DAS - Lebih luas dibentuk oleh - Luas terbatas, dibuat menurut
topografi setempat kebutuhan
b. Trase - Secara alami mengikuti - Ada saluran punggung (saluran
topografi. irigasi), saluran lembah (saluran
drainase) dan saluran yang dibuat
mengikuti kontur (saluran irigasi)
c. Penampang - Geometri tidak teratur - Geometri teratur
- Penutup tebing bervariasi - Tebing teratur (tanah asli,
plengsengan dsb).

d.Kemiringan - Bervariasi mengikuti - Dibuat dengan mempertimbangkan


toporgafi kecepatan yang mampu ditahan
tanah.
e. Debit - Dari limpasan hujan di - Dari sungai atau sumber lain, dari
DAS dan pasokan air hujan dan buangan daerah
tanah. sekitarnya.
- Berfluktuasi menurut - Dapat diatur menurut kebutuhan
musim

f. Angkutan - Sumber sedimen dari DAS - Dari DAS ( erosi permukaan),


sedimen (erosi permukaan) dan masukan dari sungai (melalui
dari alumya sendiri intake).
g.Perubahan - Tergantung karakter - Relatif tetap kecuali tidak
sungai terpelihara dan berada ditempat
yang kondisi tanah ,dan geologinya
rawan terhadap perubahan.
1.4. Teknik Sungai
Tennis Sungai mempelajari karakteristik sungai yang ditinjau dari
sifatsifat aliran dan angkutan sedimennya untuk mendapatkan
keuntungan/ manfaat sungai dan mengeliminir kerugian yang
ditimbulkan oleh sungai.

Keuntungan / aspek manfaat


Untuk pengairan dan sebagai air baku untuk pemanfaatan lainnya.
Pembangkit tenaga air (turbin, listrik).
Pemupukan secara alami bantaran / lembah sungai (banjir
membawa lumpur dan unsur hara yang menyuburkan).
Pengendapan di rawa-rawa, di muara sungai / delta
memperluas daratan, contoh : di muara S. Bengawan Solo
tanah oloran untuk tambak.
Pelayaran sungai / inland navigation (S. Musi, S. Barito dll).
Kerugian / aspek pengendalian :
Genangan banjir _ merusak permukiman dll, menghambat
lalu lintas ekonomi,korban jiwa.
Erosi tebing merusak lahan potensial dan bangunan
dalam sungai (jembatan). Erosi lokal merusak bangunan
dalam sungai (pilar jembatan, bangunan air).
Agradasi dasar sungai Mengurangi kapasitas penampang
sungai dan saluran,sehingga menimbulkan banjir,
menghambat operasional pintu-pintu air.
Degradasi dasar sungai merusak bangunan dalam sungai,
menyebabkan kelongsoran tebing, menurunkan muka air,
sehingga menghambat pengambilan air irigasi).
1.5. Ruang Lingkup Teknik Sungai
Dalam kuliah Teknik Sungai ini tidak mencakup pemanfaatan
sungai, namun meliputi pengendalian sungai meliputi :
Pengendalian alur sungai, berkaitan dengan kondisi arus/
aliran dalam sungai yang perlu diatur agar tidak merusak
tebing dan dasar sungai.
Pengendalian debit, berkaitan dengan kapasitas alur yang
tidak mencukupi untuk mengalirkan debit dengan aman.
Pengendalian sedimen/ debris, berkaitan dengan pengaturan
sungai sehubungan dengan jumlah sedimen dalamjumlah
besar.
2. Daerah Pengaliran Sungai dan Karakteristik Sungai
2.1. Daerah Aliran Sungai (DAS, DPS)
Daerah Pengaliran Sungai adalah suatu luasan di mana aliran
permukaan di luasan tersebut mengalir menuju suatu titik
konsentrasi tertentu.
Daerah aliran sungai (sub DAS, sub basin) suatu titik
konsentrasi selalu dikaitkan dengan suatu titik konsentrasi.

Gambar 2.1
Daerah Aliran Sungai
Setiap anak sungai dan ruas sungai mempunyai hirarki tersendiri
yang dinamakan tingkat aliran (stream order). Lihat Gambar 2.3.

Gambar 2.2 dan 2.3


Klasifikasi Tingkat Aliran
System Sungai
Bentuk sungai dikategorikan : seringkali meandering atau braided.
Braiding adalah ditandai oleh sediment yg relatif tinggi, perbedaan
kemiringan yg relatif tinggi, aliran/arus bervariasi, dan
lereng/tebingnya tdk stabil, kurang bervegetasi.
Meandering sebaliknya.

Meandering
Braided
2.2. Corak Daerah Aliran Sungai
Corak DAS tergantung pada kondisi geologinya. periksa
Gambar 2.4 di bawah ini :
Dendritic, terdapat pada daerah cadas (rock) di mana resistan
terhadap erosi seragam, kemiringan medan sedang
Paralel, terdapat pada daerah yang kemiringan medannya curam
Trellis, terdapat pada daerah lipatan (folded) cadas dengan batas
catchment area terbentuk sepanjang daerah cadas yang resistan
dan lembah yang terdiri dari batuan cadas yang erosif.
Rectangular, terdapat pada daerah dimana joints dan patahan
(fault) berpotongan pada sudut siku-siku.
Radial, terdapat menyisi pada daerah perbukitan dan daerah
volkano dimana tidak ada efek perbedaan resistansi cadas.
Radial, terdapat menyisi pada daerah perbukitan dan daerah
volkano dimana tidak ada efek perbedaan resistansi cadas.
Annular, terdapat pada daerah perbukitan yang resistan
membentuk batas catchment, dan cadas yang lemah membentuk
lembah.
Multi basinal, terdapat pada daerah di mana pola asli sistem
drainase dihancurkan oleh aliran glacial, aliran lahar baru atau
peleburan batu kapur.
Contorted, terdapat pada daerah dengan kondisi geologi yang
kompleks dimana dike veins, patahan (faults) atau cadas metamorf
mengontrol pola drainase.
Gambar 2.4.
Corak Daerah Aliran Sungai
Rectanguler
Trellis

Dendritic

Radial

Paralel
2.3. Pengaruh corak daerah aliran sungai terhadap
hidrograf
m3/ sec. km2

t(hr)

Gambar 2.5. Corak DAS dan hidrograf aliran


2.4. Tipe sungai berdasarkan alirannya

Sungai perenial, yaitu sungai yang berair sepanjang tahun


karena muka air tanah lebih tinggi dari dasar sungai.
Sungai intermitten, sungai berair saat muka air tanah
lebih tinggi dari dasar sungai, dan tak berair bila muka
air tanah lebih rendah dari dasar sungai
Sungai ephemeral, sungai hanya berair saat hujan saja,
karena muka air tanah selalu berada di bawah dasar
sungai.
Sungai Perenial
Sungai Intermitten
Sungai Intermitten

Musim Hujan Musim Kemarau


Wadi, Sungai Ephemeral
2.5. Klasifikasi genetik sungai.
Sungai dapat diklasifikasikan berdasar perkembangan proses erosi
a.Sungai muda (youthfull), terdapat di pegunungan, penampang
berbentuk V tidak beraturan, berarus deras, banyak teIjadi erosi,
seperti halnya sungaisungai yang berada di daerah pegunungan.
Anak-anak sungai terbentuk oleh aliran permukaan (overland flow).
b.Sungai dewasa (mature), penampang sungai dan lembah sungai
lebih lebar, kemiringan lebih landai, erosi ke arah tebing lebih
banyak dibanding erosi dasar, terdapat pola meander. Energi sungai
cukup untuk mengangkut sedimen. Lembah sungai yang luas baik
untuk pengembangan pertanian dan pennukiman. Namun demikian
bagian sungai ini merupakan obyek pekeIjaan stabilisasi dan
perbaikan sungai untuk mengatasi perubahan/migrasi sungai.
c. Sungai tua (old), penampang sungai lebih lebar, kemiringan
lebih landai, terdapat meander dan meander belt.
Terbentuk tanggui alam sepanjang sungai. Pada daerah-
daerah rendah dekat sungai terbentuk rawa-rawa. Anak-
anak sungai tumbuh paralel dengan sungai utama cukup
panjang sebelum pertemuan sungai. Lembah sungai subur,
namun diperlukan perbaikan sungai, tanggul, revetment
(plengsengan) untuk mengamankan daerah sekitarnya dari
luapan banjir.
2.6. Bantaran sungai dan formasi delta.
Dengan berlangsungnya waktu daerah tinggi menjadi
berkurang, sungai menggerus tebingnya dan hasil gerusan
terbawa ke hilir membentuk tebing baru dari endapannya dan
proses meandering berlangsung. Pada daerah yang landai
pengendapan teIjadi, menjadikan bantaran sungai semakin
lebar dan membentuk delta. Sungai semakin panjang dan
kemiringan semakin berkurang.
Muka air banjir meningkat dan meloop ke bantaran sungai.
Untuk sungai yang bermuara di laut, perubahan muka air laut
mempengaruhi angkutan sedimen dan pola pengendapan
material sungai.
2.7. Aspek geologi
Karakter sungai dibentuk oleh karakteristik geologi dan morfologi
lapisan tanah
Gempa tektonik dapat menyebabkan longsoran besar. Material dalam
jumlah besar masuk ke dalam sungai. Sungai-sungai di daerah volkano
mengangkut sedimen/ debris dalam jumlah besar.
Berdasarkan kondisi geologi tempatnya mengalir sungai dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu :
Sungai yang mengalir di dataran cadas (rock)
Geometri sungai ini tidak banyak berubah, karena gerusan pada dasar
dan tebing relatif kecil, meskipun kemiringan dasar sungai re1atif
curam.
Sungai aluvial yang mengalir di dataran aluvial, atau sungai yang mengalir di
atas endapannya sendiri.
Sungai ini sangat peka terhadap perubahan debit dan pasokan sedimen.
Sedimen dihasilkan oleh erosi permukaan dan erosi dalam alur sungainya
sendiri.
2.8. Profil memanjang sungai
Sungai ideal, contoh Kali Grindulu, Pacitan

Gambar 2.7: Profil Memanjang Sungai


Zone 1 (bagian atas, bagian hulu), yang mempunyai ciri-ciri :
Kemiringan sungai curam
Penampang melintang berbentuk V
Erosi terus menerus pada dasar sungai
Tinggi keamanan (wakking) atau jarak muka air dan permukaan tanah besar
Sedimen bervariasi dari ukuran kecil sampai besar (boulder).
Zone 2 (bagian tengah) dengan ciri-ciri :
Kemiringan memanjang lebih landai
Dibagian ini terjadi baik erosi maupun sedimentasi, sehingga
sifatnya lebih stabil dibanding bagian lainnya.
Zone 3 (bagianbawah, bagian hilir) dengan ciri-ciri :
Kemiringan dasar landai/sangat landai
Penampang melintang lebar
Banyak terjadi sedimentasi yang berperan pada perubahan alur.
Tinggi keamanan semakin kecil, mudah terjadi peluapan.
Pada sungai-sungai yang bermuara di laut, bagian ini sangat
dipengaruhi oleh pasang surut muka air laut.
Materi Teknik Sungai
1. Sifat2 Fisik dan Persamaan 3. Aliran Tetap di Sungai (Steady
Dimensi dan Satuan
Flow)
Sifat-2 Air
Aliran Sungai tetap
Sifat-2 Sedimen
Aliran Tetap tidak Seragam (Steady
Kinematika Aliran Sungai
non-uniform flow)
Kekekalan Massa
Angkutan Sedimen di Sungai
Persamaan Gerak
Hydraulic dan Energy Grade Lines
4. Aliran Tidak Tetap (Unsteady
2. Daerah Aliran Sungai Flow)
Karakteristik DAS Persamaan Kontinuitas Sungai
Presipitasi Persamaan Momentum
Intersepsi dan Infiltrasi Gelombang Banjir Sungai
Curah Hujan Rating Curve
Aliran Permukaan Routing Banjir
Erosi daerah Hulu Aliran Sungai dan Kurva durasi
Sumber Sedimen sedimen
5. Keseimbangan Sungai 7. Stabilisasi Sungai
Stabilitas Butiran (partikel) Stabilitas Tebing
Stabilitas Saluran Rip-Rap Revetment Tebing
Hubungan Regime Aliran Proteksi Tebing Sungai
Keseimbangan Tikungan Sungai Struktur Pengendali aliran Sungai
Geometri hidrolik bagian hilir Rekayasa Tebing Sungai
Endapan di Sungai Alluvial
Meandering Sungai 8. Rekayasa Sungai
Migrasi Lateral di Sungai Pengendalian Banjir Sungai
Pembendungan Sungai
6. Dinamika Sungai Bangunan Utama Saluran/Sungai
Dinamika Sungai Scouring pada Jembatan
Degradasi Dasar Sungai Alur Pelayaran di Sungai
Agradasi Dasar Sungai Pengerukan Sungai
Percabangan dan Pertemuan Sungai
Erosi daerah Hulu 9. Model Fisik untuk Sungai
Sumber Sedimen Kesamaan/Kesebangunan Hidrolik
Model dg. Dasar kaku
Model dg. Dasar bergerak
10. Pemodelan Matematik Sungai
Pendekatan Finite-difference
Pemodelan Satu Dimensi Sungai
Pemodelan Multi Dimensi Sungai

11. Gelombang dan Pasang Surut di Muara Sungai


Gelombang Permukaan
Pasang Surut di Muara Sungai
Pasak Garam (Saline wedges) di Muara Sungai
Daftar Pustaka
River Mechanics Pierre Y. Julien
Principle of River Engineering P.Ph.Jansen
(The non-tidal alluvial river)
Lecture Note on Sediment Transport Breusser
Sediment Transport, Theory and Practice Chih Ted Yang
Sediment Transport by Current and Waves: Leo C Van Rijn.