Anda di halaman 1dari 67

FGD SISTEM PERNAFASAN

(BAGIAN I)
IAI CAB. TULUNGAGUNG 2016
Forum Group Discussion
Tujuan untuk meningkatkan kemampuan guna menjalankan
kompetensi sebagai Apoteker. Bukan ajang menge-TEST
penyaji.
Merupakan review penyakit yang diulas superficial
Waktu yang disediakan singkat
1 pertemuan terdapat bbrp materi dengan waktu 2 jam
Menititik beratkan peran APOTEKER pada penguasaan obat,
konseling dan edukasi.
RULES OF FGD
Semua peserta wajib hadir
PenyajiWAJIB menyetorkan materi dan post test yang akan
disuguhkan minimal 1 minggu sebelumnya ke tim editorial
Tim editorial (Bidang Diklat) akan mengedit dan dijadikan
satu ppt agar semua pembicara memberikan materi yang
sama.
Sebisa mungkin semua pembicara terkait briefing terlebih
dahulu agar terjadi transfer knowlegde yang sama
Setiap materi memiliki format penyusunan dari Bidang
Diklat
Materi dikumpulkan dalam bentuk file PPT
Materi yg disampaikan harus berasal dari literatur yg jelas
MATERI
INFLUENZA
PNEUMONIA
DIFTERI
INFLUENZA
IAI CAB. TULUNGAGUNG 2016
DEFINISI
Influenza (flu) adalah penyakit pernapasan menular yang
disebabkan oleh virus influenza yang dapat menyebabkan
penyakit ringan sampai penyakit berat.
Flu sendiri merupakan suatu penyakit yang self-limiting,
dimana bila tidak terjadi komplikasi dengan penyakit lain,
maka setelah 4-7 hari penyakit akan sembuh sendiri.
ETIOLOGI
Ada 3 tipe virus influenza, yaitu :
Influenza virus A
Paling berbahaya dan menyebabkan penyakit yang parah
Dapat menginfeksi manusia maupun hewan
Serotype yg dpt menyebabkan kematian :
H1N1, menyebabkan Spanish flu pada 1918 dan pandemi flu pada 2009
H2N2, menyebabkan Asian Flu pada 1957
H3N2, menyebabkan Hong Kong Flu pada 1968
H5N1, ancaman pandemi saat ini
H7N7, memiliki potensi zoonosis yang tidak biasa
H1N2, endemi pada manusia dan babi
Influenza virus B : biasanya hanya menyebabkan penyakit yg lebih ringan dari tipe A
Influenza virus C : diragukan patogenitasnya, mungkin menyebabkan gangguan ringan
saja
PATOGENESIS
Walaupun infeksi influenza telah cukup sering diteliti, namun
pola inflamasi dan regulasi sistem imun pada pasien influenza
masih belum dapat dimengerti sepenuhnya. Infeksi influenza
pada saluran nafas akan segera diikuti dengan produksi sitokin
pro inflamasi yang bersifat kemoreaktan menarik sel-sel imun
menuju ke lokasi infeksi di saluran nafas dan semakin
memperberat inflamasi yang ada.
Sitokin-sitokin ini juga akan memprovokasi timbulnya gejala
tambahan lain baik lokal respiratorik maupun sistemik
GEJALA
Symptoms Flu Cold

Fever Usually high, sudden onset, Rare


lasts 3-4 days
*May not be prominent in
adults > 65 years

Headache Common can be severe Rare

Muscle aches and pains Common often severe Sometimes, Mild

Tiredness and weakness Common severe, Sometimes, Mild


may last 2-3 weeks

Extreme tiredness Usually early onset, Unusual


can be severe

Runny, stuffy nose Common Common

Sneezing Sometimes Common

Sore throat Common Common

Coughing Common can be severe Sometimes, Mild to Moderate

Gastrointestinal Symptoms Sometimes Unusual


Tes Laboratorium
Rapid Test
Metode rapid test untuk diagnostik influenza merupakan metode yang
baru digunakan untuk mendiagnosa lebih awal penyakit influenza dalam
rangka pemberian obat anti viral. Prinsip dari pemeriksaan rapid test adalah
mendeteksi antigen virus yang ada pada sampel dengan memakai antibodi
terhadap virus influenza A atau influenza B yang dimasukkan ke dalam stick
rapid test.
PCR
Polymerase Chain Reaction adalah suatu teknik sintesis dan amplifikasi
DNA secara in vitro. Proses tersebut mirip dengan proses replikasi DNA di
dalam sel. RT-PCR Dilakukan terhadap semua sampel baik dari hidung
maupun sampel tenggorok. Saat ini semua sampel tersebut akan diperiksa
terlebih dahulu untuk Influenza A H5N1 (Influenza burung, atau subtype
lain dari flu burung) untuk skrining sampai dipastikan tidak ada lagi resiko
dari flu burung. Jika sampel tersebut terbukti negatif, akan dilanjutkan
dengan pemeriksaan untuk influenza A H1N1, Influenza A H3N2 dan
Influenza B dan isolasi
KOMPLIKASI INFLUENZA
Pneumonia
Infeksi bakterial sekunder
Infeksi telinga
Infeksi sinus
Dehidrasi
Memburuknya kondisi medis kronis, seperti CHF, asma
atau diabetes
TERAPI INFLUENZA Non Farmakologi

Tindakan yang dianjurkan untuk meringankan gejala flu tanpa pengobatan


meliputi antara lain :
1. Beristirahat 2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik berlebihan.
2. Meningkatkan gizi makanan. Makanan dengan kalori dan protein yang
tinggi akan menambah daya tahan tahan tubuh. Makan buah-buahan
segar yang banyak mengandung vitamin.
3. Banyak minum air, teh, sari buah akan mengurangi rasa kering di
tenggorokan, mengencerkan dahak dan membantu menurunkan
demam.
4. Sering-sering berkumur dengan air garam untuk mengurangi rasa nyeri
di tenggorokan.
Penatalaksanaan

Umumnya tanpa obat (self-limited disease).

Meningkatkan daya tahan tubuh.

Tindakan untuk meringankan gejala flu adalah beristirahat 2-3 hari,


mengurangi kegiatan fisik berlebihan, meningkatkan gizi makanan dengan
makanan berkalori dan protein tinggi, serta buah-buahan yang tinggi
vitamin.
Cont..
Terapi simptomatik per oral

Antipiretik
Pada dewasa yaitu parasetamol 3-4 x 500 mg/hari (10-15
mg/kgBB), atau ibuprofen 3-4 x 200-400 mg/hari (5-10
mg/kgBB).
Dekongestan, seperti PPA, pseudoefedrin (60 mg setiap 4-6 jam)
Antihistamin, seperti klorfeniramin 4-6 mg sebanyak 3-4
kali/hari, atau difenhidramin, 25-50 mg setiap 4-6 jam, atau
loratadin atau cetirizine 10 mg dosis tunggal (pada anak loratadin
0,5 mg/kgBB dan cetirizine 0,3 mg/kgBB).
Dapat pula diberikan antitusif atau ekspektoran bila disertai batuk.
Cont..
Oseltamivir ( nama dagang Tamiflu ) atau Zanamivir ( nama
dagang Relenza ) direkomendasikan untuk semua orang
yang diduga influenza yang memerlukan rawat inap .
Prioritas pengobatan dengan antivirus
influenza :
Orang yang dirawat di rumah sakit dengan dugaan atau
dikonfirmasi influenza
Orang yang diduga atau dengan influenza yang berisiko tinggi
untuk komplikasi
Anak-anak < 2 tahun
Dewasa 65 tahun
Wanita hamil
Orang dengan kondisi medis atau imunosupresif kronis tertentu
Orang < 19 tahun yang menerima terapi aspirin jangka panjang
Pencegahan
Gaya Hidup
Ada beberapa kebiasaan yang di sarankan untuk dilakukan sebagai
upaya pencegahan lebih dini.
1. Mencuci tangan dengan air sabun dan dengan cairan antiseptik
2. Jangan menutup bersin dengan tangan tapi dengan tissu saat batuk
atau bersin lalu buang pada tmpat sampah tertutup
3. Jangan menyentuh muka
4. Minum banyak air
5. Lakukan olahraga aerobik secara teratur
6. vaksinasi
KIE
Pencegahan
1. Cuci tangan yang benar
2. Olahraga teratur
3. Istirahat cukup
4. Vaksinasi
5. Konsumsi makanan sehat
6. Jaga jarak dengan penderita
7. Menghindari pandemik flu

Rujukan
Bila didapatkan tanda-tanda pneumonia (panas tidak turun 5 hari disertai
batuk purulen dan sesak napas)
References
http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/
en
http://www.cdc.gov/flu/about/disease/
http//:www.info.gov.hk/info/influenza. Htm
dwidjoseputro. 1998. Dasar-dasar mikrobiologi. Jakarta:
Djambatan
J.pelczar, Michael. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta:
UI-Press
PNEUMONIA
IAI CAB. TULUNGAGUNG 2016
DEFINISI

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang


mengenai jaringan paru-paru (alveoli) biasanya
disebabkan oleh masuknya kuman bakteri, yang
ditandai oleh gejala klinis batuk, demam tinggi
dan disertai adanya napas cepat ataupun tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam.
Pneumonia yang ada di kalangan masyarakat
umumnya disebabkan oleh bakteri, virus,
mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan
virus) dan protozoa.
klasifikasi
A. Berdasarkan klinis dan epidemiologi
Pneumonia komuniti (Community-acquired pneumonia= CAP)
Penumonia nosokomial (Hospital-acquired Pneumonia= HAP)
Pneumonia pada penderita immunocompromised Host
Pneumonia aspirasi
B. Berdasarkan lokasi infeksi
Pneumonia lobaris
Bronko pneumonia (Pneumonia lobularis)
Pneumonia interstisial
Microbiology of CAP among hospitalized
patients
Streptococcus pneumoniae
Outpatient
Mycoplasma pneumoniae
Haemophilus influenzae
Chlamydophila pneumoniae
Respiratory viruses

S. pneumoniae
Inpatient (Ward)
M. pneumoniae
H. influenzae
C. Pneumoniae
Legionella species
Respiratory viruses
Aspiration

S. pneumoniae
Inpatient (ICU)
Legionella spp.
Staphylococcus aureus
Gram-negative bacilli
Mekanisme mikroorganisme mencapai permukaan saluran
napas melalui cara :
1. Inokulasi langsung
PATOGENESIS
2. Penyebaran melalui pembuluh darah
3. Inhalasi
4. Kolonisasi di permukaan mukosa Mikroorganism
e dan
Mikroorganisme masuk bersama sekret Lingkungan
bronkus ke dalam alveoli reaksi
radang + infiltrasi sel-sel PMN
+diapedesis eritrosit sehingga terjadi
permulaan fagositosis sebelum
terbentuk antibodi. Antibod
i
Sel PMN mendesak mikroorganisme ke permukaan
alveoli dan dengan bantuan leukosit yang lain melalui
pseudopodosis sitoplasmik mengelilingi bakteri tsb
kemudian difagosit
GAMBARAN KLINIS
DIAGNOSA PENUNJANG :
1. Foto thoraks
Gambaran inflitrat
2. Leukositosis
3. Pemeriksaan dahak, kultur
darah, serologi
4. Analisa gas darah
Hipoksemia dan
hipokarbia, asidosis
respiratorik pada stadium
lanjut
Gejala Klinis
Demam, menggigil, suhu tubuh meningkat
dapat melebihi 400C,
Batuk dengan dahak mukoid atau purulen
kadang-kadang disertai darah,
Sesak napas dan nyeri dada
Pemeriksaan Penunjang
Foto toraks
Laboratorium: leukosit > 10.000/ul

Untuk menentukan diagnosis etiologi


diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah
dan serologi (PDPI, 2003)
Terapi non farmakologi
Menghindari asap rokok. Asap rokok dapat memperparah
terjadinya pneumonia,
Istirahat yang cukup,
Memperbanyak minum air putih untuk mencegah terjadinya
dehidrasi,
Menerapkan pola makan yang sehat, misalnya dengan
meningkatkan asupan sayur dan buah serta mengurangi
makanan berlemak,
Mencuci tangan secara rutin untuk menghindari perpindahan
kuman dari pasien ke orang lain atau objek tertentu dan
sebaliknya,
Saat batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung dengan tisu
untuk menampung kuman, dan segera buang tisu yang sudah
terpakai di tempat sampah.
MANAJEMEN TERAPI
IDSA/ATS Guidelines for CAP in Adults . (2007).
Management Strategies
Preventif
Imunisasi PCV (Pneumococcal Vaccine) pada bayi dan dewasa
dapat menurunkan resiko terjadinya kasus pneumonia.
Contoh : Prevenar (Infant), Prevenar 13(Adult), Pediacel, dll
Cuci tangan
JADWAL IMUNISASI
Monitoring
Pemeriksaan tanda vital, seperti BP, RR, suhu (suhu
merupakan salah satu tanda vital yang penting, yang
menunjukkan perbaikan atau penurunan kondisi pasien),
Pemeriksaan parameter laboratorium, seperti BUN,
WBC, trombosit, HB.
Pemeriksaan gejala fisik/keluhan pasien
Intensitas batuk dan pemeriksaan ada/tidaknya sputum
Kepatuhan pasien minum obat
Mengawasi efek samping obat, seperti mual muntah,
kerusakan hati, dll.
KIE
Memberikan edukasi dan pemahaman kepada pasien dan
keluarga pasien tentang terapi obat apa saja yang diberikan
dan tujuan terapinya
DAFTAR PUSTAKA
DIFTERI
IAI CAB. TULUNGAGUNG 2016
DEFINISI
Difteri adalah penyakit infeksi akut yang
disebabkan oleh corynebacterium diphteriae.
Kuman ini termasuk gram positif yang
berasal dari membran mukosa hidung
dan nasofaring,kulit dan lesi lain dari
orang yang terinfeksi. kuman ini sering
menyerang infeksi saluran pernapasan
bagian atas.
MANIFESTASI KLINIS DIFTERI
SECARA UMUM

a. Panas lebih dari 38 C


b. Ada psedomembrane bisa di pharynx, larynx atau
tonsil.
c. Sakit waktu menelan
d. Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck),
disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Identifikasi secara fluorescent antibody technique

Isolasi C. diphteria dengan pembiakan pada media


beffer

Tes toksigenitas secara in viv0 (marmot) dan in vitro (tes


Elek)
DAFTAR PUSTAKA

PedomanTeknis Imunisasi Tingkat Puskesmas, 2005,JakartaKartono, 2008,

Profil Kesehatan,http:// www.Bank Data/Depkes.go.id/,KJ,2014.

Difteri ,http://.WWW.Balita Anda.Com ,2007

Difteriae, http://Medlineplus.com/Difteriae,2007Wijaya Kusuma, 2004,

Difteri,CaraMencegahdanMengatasinya,http:/Cyberhelath.com,2004Supriyanto,dkk,
2008,

Farmakologi dan Terapi, ed. 5, FKUI, 2009