Anda di halaman 1dari 31

POLIETILENA

KUSUMA DEWI
AFIF DHARMAWAN
MALVIN MUHAMMAD ZAIN
M.G. ULSAK
Katalis pada Polietelina

Polietilena bermassa molekul sangat tinggi (Ultra high


molecular weight polyethylene / UHMWPE) = katalis Ziegler
Polietilena berdensitas tinggi (High density polyethylene /
HDPE) = katalis kromium/silika, katalis Ziegler-Natta, atau
katalis metallocene
Polietilena berdensitas menengah (Medium density
polyethylene / MDPE) = katalis kromium/silika, katalis
Ziegler-Natta, atau katalis metallocene.
Pemilihan Reaktor
High Presure Process
Autoclave reaktor atau tubular reaktor (jacketted tube)
yang mempunyai kondisi operasi yang berbeda
1. Autoclave reaktor
Tekanan operasinya antara 150-200 Mpa (typical)
Waktu tinggal 30-60 detik (typical)
2. Tubular Reaktor
Tekanan operasi yang digunakan antara 200-250 Mpa
(typical)
Temperatur reaksinya tergantung dari jenis inisiator
oksigen maka temperatur reaksinya 1900 C dan jika
menggunakan inisiator peroxycarbonate maka temperatur
reaksinya menjadi 1400C
Suspension (Slurry)
Ada 2 macam proses dalam suspension (slurry)
proses, yaitu autoclave process dan loop reaktor process.
1. Autoclave Process
Tekanan operasinya 0.5-1 Mpa (typical)
Temperatur reaksinya antara 80-900 C (typical)
Diluent yang digunakan adalah hexane
Katalis yang digunakan dicampur dengan alkyl alumunium
2. Loop Reactor Process
Tekanan operasinya 3-4 Mpa (typical)
Temperatur reaksinya 1000 C (typical)
Diluent yang digunakan adalah isobutene
Jika menggunakan Philip type maka katalisnya adalah
campuran Ti dan Alkyl alumunium
Gas Phase
Process Union Carbide banyak menggunakan
proses ini dengan menggunakan reaktor fluidized
bed.
Disebut gas phase process karena hampir semua
bahan baku disuplai dalam bentuk gas.
Tekanan operasi yang digunakan antara 0.7-2
Mpa (typical)
Temperatur reaksinya antara 80-100 C (typical) -
Poison catalyst : CO2, CO, H2O
TINJAUAN
TERMODINAMIKA
Dengan mengunakan H energi ikat maka
akan menentukan sifat dari suatu reaksi apakah
berjalan secara eksotermis atau secara
endotermis.
Reaksi eksoterm adalah kalor yang
dihasilkan oleh suatu proses pembakaran
dipindahkan dari sistem ke lingkungannya.
Reaksi endoterm adalah reaksi yang
menyerap kalor (terjadi perpindahan kalor dari
lingkungan ke sistem).
Berdasarkan keadaan operasi pada pabrik
bahwa:
N2
C2H4 + H2 (C2H4)n

Pada suhu 80-1000C dengan tekanan 7-20


atm
Energy ikat
C-H : 415 kJ/mol
C=C: 611 kJ/mol
H-H: 436 kJ/mol

H= energi ikat reaktan energi ikat produk


= {[611 + (4x415) + 436] [611 +(4x415)]n}
= 2707 (2271)n = -(-2707+(2271)n)
Polietilena merupakan polimer, maka n>1

Bila n=2 maka hasil dari H = -1838 Kj/mol.


Nilai H adalah negatif, sehingga reaksinya
adalah eksotermis. untuk nilai n>1 berapapun
itu, nilai H akan selalu negatif.
Tabel Nilai Energi
Ikatan Beberapa Senyawa
Reaksi dapat bersifat bolak-balik (reversible) atau
searah (irreversible) dapat ditentukan secara
termodinamika, yaitu berdasarkan persamaan Vant
Hoff
=

Dengan,
= -RT ln K
Dimana :
= Energi Gibbs produk energy Gibbs reaktan
K = Konstanta kesetimbangan reaksi
T = Suhu
(Levenspiel, 1957)
Maka didapat, =

Jika H merupakan perubahan enthalpi


standar (panas reaksi) dan dapat
diasumsikan konstan terhadap suhu, maka
persamaan dapat diintegralkan menjadi:
ln = - ( - )
Data energi Gibbs (Gibbs heat of formation)
Gof C2H4 = 68, 2 kJ/mol
Gof H2 = 0 kJ/mol
Gof C2H2 = 209,2 kJ/mol
(Levenspiel, 1957)
N2
C2H4 + H2 (C2H4)n

G = Gproduk - GReaktan
G = 209,2 kJ/mol - (68, 2 kJ/mol+0 kJ/mol)
G = -144 kJ/mol
G = - RT ln K
-141 kJ/mol = - (8,314) (298) ln K
0,0569 = ln K
k = 1,05
Berdasarkan perhitungan, nilai K diatas 1,
maka reaksi polimerisasi etilen merupakan
reaksi searah (irreversible).
Nilai konstanta kesetimbangan (k) didapat
1.05, maka dapat dihitung konversi
Suhu yang digunakan pada hubungan suhu
dengan konversi dinamika adalah 278-284,42
K pada tekanan 1 atm.
Suhu dan tekanan diperoleh dari
perbandingan kondisi optimum pabrik yaitu
suhu 80-1000C pada tekanan 7-20 atm (PT
Chandra Asri, 2012)

Dengan rumus hubungan suhu dan konversi
termodinamika maka didapatkan data sebagai
berikut:
Pada suhu 278 K
G = - RT ln K
- 141 kJ/mol = - (8,314) (278) ln K
0,062122 = ln K
Maka, K = 1,064

= 0,515246
Pada suhu 279 K
G = - RT ln K
- 141 kJ/mol = - (8,314) (279) ln K
0,061895 = ln K
Maka, K = 1,0638

= 0,51519
Tabel Suhu vs Konversi Termodinamika
Suhu (K) Konversi Termodinamika
278 0,5152
279 0,5151
280 0,5151
281 0,515
282 0,5149
283 0,5149
284,42 0,5148

(SDK Proses PT Chandra Asri)


Grafik Hubungan Suhu dan Konversi

Karena reaksi pada polietelina merupakan reaksi


eksotermis, maka hubungan antara suhu dengan
konversi adalah saat suhu mengalami kenaikan
maka konversinya menurun
TINJAUAN KINETIKA
Tinjauan kinetika digunakan untuk
mengetahui pengaruh perubahan suhu
terhadap kecepatan reaksi.
N2
C2H4 + H2 (C2H4)n

A+B C
rc = k CACB
Kecepatan reaksi pembentukan polietilena
akan semakin besar dengan kenaikan suhu. Hal ini
dapat dijelaskan dengan persamaan Arhenius :

k = A e Ea/RT

Dengan :
k = konstanta kecepatan reaksi
A = faktor frekuensi tumbukan
Ea = energi aktivasi
R = konstanta
T = suhu
k = A e Ea/RT
Dari persamaan di atas, harga A, Ea, R adalah
tetap, sehingga harga k hanya dipengaruhi oleh suhu,
dengan kenaikan suhu maka kecepatan reaksi akan
semakin besar, pembentukan polietilena juga makin
cepat.

Berdasarkan pada refferensi nilai k pada pembentukan


polietilena adalah: k = 16,1664 x e-3980/1.987T

Setelah mendapatkan nilai konstanta kecepatan


reaksi (k), maka didapat mencari konversi dengan
rumus di bawah ini :
-ln (1- Xa)= kt
(Sumber: Levenspiel, 1957)
-ln (1- Xa)= kt

Berdasarkan persamaan maka nilai k hanya


dipengaruhi oleh suhu.
Pemilihan suhu pada tinjauan termodinamika ini
berdasarkan kondisi operasi pabrik adalah 278-284,42
K pada tekanan 1 atm. Suhu dan tekanan diperoleh
dari perbandingan kondisi optimum pabrik yaitu suhu
80-1000C pada tekanan 7-20 atm

Pada suhu 278 K
k=16,1664 x
k=16,1664 x
k= 0.010523
-ln (1- Xa) = kt
-ln (1- Xa) = 0,010523 x 60 detik
(1-Xa) = 0,4866187
Xa = 0,513482
Pada suhu 279 K
k=16,1664 x
k=16,1664 x
k= 0.010809
-ln (1- Xa) = kt
-ln (1- Xa) = 0,010809 x 60 s
(1-Xa) = 0,47743283
Xa = 0,52256937
Tabel Suhu vs Konversi Kinetika
Suhu (K) Konversi Kinetika

278 0.5135

279 0.5219

280 0.5315

281 0.5407

282 0.5497

283 0.5578

284,42 0.5709
Hubungan Suhu Vs Konversi Kinetika

Dari tinjauan kinetika, maka diperoleh grafik diatas


dimana saat suhu naik maka konversinya mengalami
kenaikan juga.