Anda di halaman 1dari 137

ANAMNESIS &

PEMERIKSAAN FISIK
PADA ANAK

YUSMALA HELMY
MEDINA ATHIAH
ANAMNESIS
PENGERTIAN
ANAMNESIS: PEMERIKSAAN YANG DILAKUKAN
DENGAN WAWANCARA

AUTOANAMNESIS: LANGSUNG KE PASIEN


ALOANAMNESIS : SEMUA KETERANGAN DIPEROLEH
SELAIN DARI PASIENNYA SENDIRI
ORANG TUA
WALI
ORANG YANG DEKAT DENGAN PASIEN
KETERANGAN DARI DOKTER YANG MERUJUK
REKAM MEDIS
PERAN ANAMNESIS

DIAGNOSIS

80% ANAMNESIS PEMERIKSAAN LAIN-LAIN


PERAN ANAMNESIS
BERPERAN SANGAT PENTING DALAM DIAGNOSIS DAN
TATALAKSANA PENYAKIT ANAK
CARA TERCEPAT DAN SATU-SATUNYA MENUJU
DIAGNOSIS
MISALNYA: KEJANG DEMAM
SERING DAPAT DITENTUKAN SIFAT DAN BERATNYA
PENYAKIT DAN TERDAPATNYA FAKTOR-FAKTOR YG
MUNGKIN MENJADI LATAR BELAKANG PENYAKIT, YANG
BERGUNA DALAM MENENTUKAN SIKAP UNTUK
TATALAKSANA

ANAMNESIS MERUPAKAN BAGIAN YANG SANGAT


PENTING DAN SANGAT MENENTUKAN DALAM
PEMERIKSAAN KLINIS
ANAMNESIS SEBAGAI SARANA
PENDEKATAN HOLISTIK DALAM
PEMBINAAN TUMBUH-KEMBANG ANAK
Tugas utama dokter:
Bukan hanya mengobati penyakit, melainkan mengobati pasien.

Anamnesis harus lengkap!


Keluhan utama
Keluhan tambahan
Tanda-tanda
Riwayat terjadinya keluhan dan tanda sampai saat anak
dibawa berobat
Riwayat kehamilan ibu
Riwayat kelahiran pasien
Riwayat makan
Riwayat imunisasi
Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
Riwayat keluarga
PERAN ANAMNESIS
PADA SEMUA PASIEN ANAK:
MENCAKUP MASALAH YANG BERHUBUNGAN
DENGAN PENYAKIT SEKARANG
MENCAKUP RIWAYAT PASIEN SEJAK DALAM
KANDUNGAN IBU SAMPAI SAAT DILAKUKAN
WAWANCARA
HARUS TERGAMBAR STATUS KESEHATAN DAN
STATUS TUMBUH KEMBANG SECARA
KESELURUHAN
TEKNIK ANAMNESIS
CIPTAKAN SUASANA KONDUSIF AGAR ORANG TUA
ATAU PASIEN DAPAT MENGEMUKAKAN KEADAAN
PASIEN DENGAN SPONTAN DAN WAJAR

PEMERIKSA HARUS MENGAJUKAN PERTANYAAN


YANG LEBIH RINCI DAN SPESIFIK SEHINGGA
DAPAT DIPEROLEH GAMBARAN KEADAAN PASIEN
YANG JELAS DAN AKURAT.
TEKNIK ANAMNESIS
ANAMNESIS DILAKUKAN DG WAWANCARA SECARA TATAP
MUKA
KEBERHASILAN ANAMNESIS BERGANTUNG PADA
KEPRIBADIAN, PENGALAMAN DAN KEBIJAKAN PEMERIKSA

PEMERIKSA HARUS BERSIKAP EMPATIK DAN MENYESUAIKAN


DIRI DENGAN KEADAAN SOSIAL, EKONOMI DAN
PENDIDIKAN, SERTA EMOSI ORANG YANG DIWAWANCARAI
PERTANYAAN YANG DIAJUKAN OLEH PEMERIKSA SEBAIKNYA
TIDAK SUGESTIF DAN SEDAPAT MUNGKIN DIHINDARI
PERTANYAAN YANG JAWABANNYA YA ATAU TIDAK.
LANGKAH LANGKAH
ANAMNESIS
SISTEMATIKA
IDENTITAS PASIEN
KELUHAN UTAMA DAN KELUHAN TAMBAHAN
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT SEKARANG
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
RIWAYAT PASIEN DALAM KANDUNGAN IBU
RIWAYAT KELAHIRAN
RIWAYAT MAKANAN
RIWAYAT IMUNISASI
RIWAYAT TUMBUH KEMBANG
RIWAYAT KELUARGA
IDENTITAS PASIEN

BAGIAN YANG PALING PENTING DALAM


ANAMNESIS

TUJUAN: MEMASTIKAN BAHWA YANG


DIPERIKSA BENAR-BENAR ANAK YANG
DIMAKSUD DAN TIDAK KELIRU DENGAN
ANAK LAIN
IDENTITAS PASIEN
IDENTITAS TERDIRI DARI:

1. NAMA: HARUS JELAS DAN LENGKAP NAMA DEPAN, NAMA TENGAH,


NAMA KELUARGA

2. USIA : TANGGAL LAHIR


3. JENIS KELAMIN:
GUNA: IDENTITAS DAN PENILAIAN DATA PEMERIKSAAN KLINIS
4. NAMA ORANG TUA
GUNA: AGAR TIDAK KELIRU DENGAN PENDERITA LAIN
5. ALAMAT
GUNA: AGAR DAPAT DIHUBUNGI, UNTUK KUNJUNGAN RUMAH, UNTUK
PENELITIAN DAN MEMPUNYAI ARTI EPIDEMIOLOGIS
6. UMUR/PENDIDIKAN/PEKERJAAN ORANG TUA
GUNA: IDENTITAS,,MENGGAMBARKAN KEAKURATAN DATA,DAN DAPAT
DITENTUKAN POLA PENDEKATAN ANAMNESIS
7. AGAMA & SUKU BANGSA
GUNA: MEMANTAPKAN IDENTITAS, BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU
TENTANG KESEHATAN & PENYAKIT
RIWAYAT PENYAKIT

KELUHAN UTAMA
KELUHAN ATAU GEJALA YANG MENYEBABKAN
PASIEN DIBAWA BEROBAT

KELUHAN UTAMA TIDAK SELALU MERUPAKAN


KELUHAN YANG PERTAMA DISAMPAIKAN OLEH
ORANGTUA

KELUHAN UTAMA TIDAK HARUS SEJALAN


DENGAN DIAGNOSIS UTAMA
RIWAYAT PERJALANAN
PENYAKIT
DISUSUN CERITA YANG KRONOLOGIS, TERINCI
DAN JELAS SEJAK SEBELUM TERDAPAT KELUHAN
SAMPAI IA BEROBAT
APAKAH PASIEN SUDAH BEROBAT SEBELUMNYA.
BILA PASIEN TELAH BEROBAT SEBELUMNYA
TANYAKAN KAPAN, KEPADA SIAPA, OBAT APA YANG
DIBERIKAN DAN BAGAIMANA HASILNYA
PERLU DITANYAKAN PERKEMBANGAN PENYAKIT,
KEMUNGKINAN TERJADINYA KOMPLIKASI,
ADANYA GEJALA SISA, BAHKAN JUGA KECACATAN.
RIWAYAT PERJALANAN
PENYAKIT
PADA DUGAAN PENYAKIT MENULAR, PERLU
DITANYAKAN APAKAH ADA ANGGOTA KELUARGA
SERUMAH ATAU ANAK LAIN MENDERITA
PENYAKIT YANG SAMA.
PADA DUGAAN PENYAKIT KETURUNAN (MISAL:
ASMA) DITANYAKAN ADAKAH ORANG TUA,
SAUDARA SEDARAH ADA YANG MEMPUNYAI
STIGMATA ALERGI.
PERLU PULA DIKETAHUI PENYAKIT YANG
MUNGKIN BERKAITAN DENGAN PENYAKIT
SEKARANG (MISAL: PENYAKIT KULIT
MENDAHULUI PENYAKIT GINJAL).
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT
HAL-HAL BERIKUT PERLU DIKETAHUI MENGENAI KELUHAN ATAU GEJALA:

LAMANYA KELUHAN BERLANGSUNG

BAGAIMANA SIFAT TERJADINYA GEJALA:


MENDADAK/PERLAHAN-LAHAN/TERUS MENERUS/BERUPA
BANGKITAN/HILANG TIMBUL/BERHUBUNGAN DENGAN WAKTU

KELUHAN LOKAL DIRINCI LOKALISASI DAN SIFATNYA:


MENETAP/MENJALAR/MENYEBAR/SIFAT
PENYEBARANNYA/BERPINDAH

BERAT-RINGANNYA KELUHAN DAN PERKEMBANGANNYA


MENETAP/CENDERUNG BERTAMBAH BERAT/CENDERUNG BERKURANG

TERDAPATNYA HAL YANG MENDAHULUI KELUHAN

APAKAH KELUHAN TERSEBUT PERTAMA KALI ATAU BERULANG

APAKAH ADA SAUDARA ATAU TETANGGA MENDERITA KELUHAN YANG


SAMA

UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN DAN BAGAIMANA HASILNYA


KELUHAN YANG SERING DIJUMPAI DALAM
ANAMNESIS PADA BAYI & ANAK
DEMAM
KELUHAN YANG SERING DIKEMUKAKAN
YANG PERLU DITANYAKAN
LAMA DEMAM
APAKAH TIMBULNYA MENDADAK, REMITEN,
INTERMITTEN, KONTINU
APAKAH TERUTAMA TERJADI PADA MALAM HARI,
ATAU BERLANG- SUNG BEBERAPA HARI KEMUDIAN
MENURUN LALU NAIK LAGI DSB
APAKAH PASIEN MENGGIGIL, KEJANG, KESADARAN
MENURUN, MERACAU, MENGGIGAU, MENCRET,
MUNTAH, SESAK NAFAS, TERDAPATNYA
MANIFESTASI PERDARAHAN
BATUK
YANG PERLU DITANYAKAN
BERAPA LAMA
APAKAH BATUK SERING BERULANG ATAU KAMBUH
SIFAT BATUK: SPASMODIK, KERING,
PRODUKTIF/BANYAK DAHAK
DIRINCI SIFAT DAHAKNYA: KEKENTALAN,WARNA, BAU
SERTA ADANYA DARAH PADA DAHAK
KELUHAN LAIN YG MENYERTAI BATUK: SESAK NAPAS,
MENGI, BERKERINGAT PD MALAM HARI, SIANOSIS,
BERAT BADAN MENURUN, APAKAH PASIEN
MEMERLUKAN PERUBAHAN POSISI, MUNTAH DSB
TERDAPATNYA ORANG DISEKITAR PASIEN YANG JUGA
BATUK DAPAT MEMBERI PETUNJUK DIAGNOSIS.
MENCRET
KELUHAN MENCRET SERING MENYERTAI
GANGGUAN TRAKTUS GASTROINTESTINALIS
ATAU KELUHAN PENYERTA PENYAKIT LAIN
PERLU DIKETAHUI:
APAKAH MENCRET BERLANGSUNG AKUT ATAU
KRONIK
FREKUENSI DEFEKASI SEHARI
BANYAKNYA FESES SETIAP BUANG AIR BESAR
KONSISTENSI FESES, APAKAH DISERTAI LENDIR
ATAU DARAH
WARNA FESES( HITAM,HIJAU,KUNING,PUTIH
SEPERTI DEMPUL)
BAUNYA ( BUSUK, ANYIR),
SELAIN RASA MULAS,TENESMUS ATAU KOLIK, PERLU
DITANYAKAN KELUHAN LAIN YANG MENYERTAI
MENCRET, MIS: MUNTAH, SESAK NAPAS, KEJANG,
GANGGUAN KESADARAN, KENCING BERKURANG,
LEMAS, LECET DIDUBUR, DUBUR KELUAR DSB
KEJANG
YANG PERLU DITANYAKAN
KAPAN KEJANG TERJADI : PERTAMA KALI ATAU
BERULANG
FREKUENSI KEJANG
SIFAT KEJANG : KLONIK , TONIK, UMUM ATAU FOKAL
LAMA SERANGAN, INTERVAL ANTARA DUA SERANGAN,
KESADARAN PADA WAKTU KEJANG DAN PASCA KEJANG.
GEJALA LAIN YANG MENYERTAI: DEMAM, MUNTAH,
LUMPUH, PENURUNAN KESADARAN, ATAU
KEMUNDURAN KEPANDAIAN.
MUNTAH
PADA KELUHAN MUNTAH PERLU DIKETAHUI
SEJAK UMUR BERAPA KELUHAN MUNTAH
MULAI BERLANGSUNG.
HAL-HAL YANG PERLU DITELITI:
BERAPA KALI FREKUENSI MUNTAH
SIFAT MUNTAH: ( PROYEKTIL ATAU DENGAN
KELUHAN NAUSEA LEBIH DAHULU)
BERAPA BANYAK MUNTAHAN
JENIS MUNTAHAN DAN WARNANYA
APAKAH MUNTAHNYA TERJADI SETELAH
MAKAN/MINUM
APKAH MUNTAHNYA BERHUBUNGAN DENGAN
PERUBAHAN POSISI DARI BERBARING KE DUDUK.
KELUHAN LAIN YANG SERING MENYERTAI : PERUT
KEMBUNG, KONSTIPASI,ATAU MENCRET, DEMAM,
BATUK SPASMODIK DLL
SESAK NAPAS
KELUHAN SESAK NAPAS SERING BERHUBUNGAN DG
PENYAKIT SALURAN NAPAS DAN PENYAKIT
KARDIOVASKULAR
DITELITI SAAT KELUHAN SESAK NAPAS TIMBUL,
APAKAH BARU PERTAMA KALI ATAU BERULANG-ULANG
BERAPA BANTAL ANAK TIDUR
APAKAH SESAK NAPAS TIMBUL SETELAH AKTIVITAS
(DISEBUT TOLERANSI LATIHAN). PADA BAYI
DITANYAKAN BAGAIMANA SIBAYI MINUM SUSU ATAU
MENETEK.
KELUHAN LAIN YANG MENYERTAI SESAK NAPAS,
SEPERTI: BATUK, MENGI, PERUT MEMBESAR, PERNAH
SAKIT SENDI YANG BERPINDAH, DEMAM, SAKIT DADA,
SIANOSIS DAN APAKAH ADA RIWAYAT TERSEDAK.
RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH
DIDERITA

PERLU DIKETAHUI KARENA MUNGKIN ADA


HUBUNGAN DENGAN PENYAKIT SEKARANG

MISAL: DUGAAN PENYAKIT CAMPAK, BILA ORANG TUA


MENGATAKAN ANAKNYA PERNAH SAKIT CAMPAK
BEBERAPA BULAN LALU, MAKA DUGAAN TSB AGAKNYA
MERAGUKAN.
PADA DUGAAN PENYAKIT JANTUNG REMATIK,
DITANYAKAN APAKAH ANAK SEBELUMNYA ADA SAKIT
NYERI TENGGOROKAN DENGAN DEMAM TINGGI.
RIWAYAT KEHAMILAN IBU

BAGAIMANA KESEHATAN IBU SELAMA HAMIL


UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MENGATASI PENYAKIT IBU
OBAT-OBATAN YANG DIMINUM SELAMA KEHAMILAN MUDA
TALIDOMID : AMELIA/FOKOMELIA

INFEKSI VIRUS YG TERJADI PADA TRIMESTER I KEHAMILAN


VIRUS RUBELLA : SINDROM RUBELA

APAKAH MEROKOK/MINUMAN KERAS


BAYI YANG LAHIR KECIL

ANAMNESIS YANG CERMAT MENGENAI MAKANAN IBU


RIWAYAT KELAHIRAN
PERLU DITANYAKAN TELITI:
TANGGAL DAN TEMPAT KELAHIRAN
SIAPA YANG MENOLONG
CARA KELAHIRAN
ADANYA KEHAMILAN GANDA
KEADAAN SETELAH LAHIR
BERAT BADAN DAN PANJANG BADAN PADA WAKTU
LAHIR
RIWAYAT MAKANAN

DAPAT DIPEROLEH KETERANGAN TENTANG MAKANAN YANG


DIKONSUMSI ANAK

DINILAI APAKAH KUALITAS DAN KUANTITAS ADEKUAT


(MEMENUHI ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN)

PADA BAYI PERLU DIKETAHUI SUSU APA YANG DIBERIKAN:


ASI / PASI
RIWAYAT IMUNISASI
STATUS IMUNISASI PASIEN HARUS
SECARA RUTIN DITANYAKAN
BCG, DPT, POLIO, HEPATITIS B DAN CAMPAK.

GUNA : MENGETAHUI STATUS


PERLINDUNGAN PEDIATRIK YANG
DIPEROLEH DAN DAPAT MEMBANTU
DIAGNOSIS PADA BEBERAPA KEADAAN
TERTENTU (MIS: POLIO)
RIWAYAT PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN

RIWAYAT PERTUMBUHAN
DAPAT DITELAAH DARI KURVA BB/U DAN PB/U
KURVA PB/U MENGGAMBARKAN STATUS PERTUMBUHAN SEBENARNYA. DARI
KURVA INI DAPAT DIDETEKSI RIWAYAT PENYAKIT KRONIK, MEP, PENYAKIT
ENDOKRIN.
KURVA BB/U : MENCERMINKAN RIWAYAT KESEHATAN ANAK

RIWAYAT PERKEMBANGAN
TAHAPAN PERKEMBANGAN SESUAI NORMAL ATAU ADA PENYIMPANGAN
PERLU DITANYAKAN BEBERAPA PATOKAN (MILESTONES) DIBIDANG
MOTORIK KASAR/HALUS, SOSIAL-PERSONAL DAN BAHASA.
RIWAYAT KELUARGA

PERLU DIKETAHUI DENGAN AKURAT, UNTUK MEMPEROLEH GAMBARAN


KEADAAN SOSIAL-EKONOMI-BUDAYA DAN KESEHATAN KELUARGA PASIEN.

BANYAK PENYEBAB KESAKITAN MAUPUN KEMATIAN DENGAN LATAR


BELAKANG SOSIAL EKONOMI KELUARGA, MISALNYA: MALNUTRISI ATAU
TBC

BERBAGAI JENIS PENYAKIT BAWAAN DAN KETURUNAN JUGA MEMPUNYAI


LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA, ATAU KECENDERUNGAN FAMILIAL.
MENCUCI TANGAN
SEBELUM MELAKUKAN PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK
LANGKAH-LANGKAH:
PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK

INSPEKSI (PERIKSA LIHAT)


PALPASI (PERIKSA RABA)
PERKUSI (PERIKSA KETUK)
AUSKULTASI (PERIKSA DENGAR)
INSPEKSI

INSPEKSI UMUM
LIHAT PERUBAHAN SECARA UMUM
KESAN KU PASIEN

INSPEKSI LOKAL
LIHAT PERUBAHAN LOKAL
PALPASI
PEMERIKSAAN DENGAN MERABA
MEMPERGUNAKAN TELAPAK TANGAN
DENGAN PALPASI DAPAT DITENTUKAN:
BENTUK
BESAR CM
TEPI TAJAM/TUMPUL
PERMUKAAN RATA / BERBENJOL-BENJOL
KONSISTENSI LUNAK/KERAS/KENYAL/KISTIK/FLUKTUASI
PALPASI ABD : FLEKSI PANGGUL & LUTUT
TELAPAK TANGAN MENDATAR DENGAN JARI 2, 3, 4
MERAPAT.
PERKUSI
TUJUAN: UTK MENGETAHUI PERBEDAAN SUARA KETUK
DAPAT DITENTUKAN BATAS ORGAN/MASSA
PERKUSI:
LANGSUNG : UJUNG JARI 2 ATAU 3
TIDAK LANGSUNG:
JARI 2 ATAU 3 TANGAN KIRI DILETAKKAN LURUS PADA BAGIAN TUBUH YANG
DIPERIKSA SEDANGKAN JARI LAINNYA TIDAK MENYENTUH TUBUH YANG DIPERIKSA (
SEBAGAI LANDASAN )
KETUKLAH JARI INI PADA FALANG BAGIAN DISTAL, PROKSIMAL KUKU, DENGAN JARI 2
ATAU 3 TANGAN KANAN YANG MEMBENGKOK
KETUKAN DILAKUKAN DENGAN ENGSEL PERGERAKAN TERLETAK
PADA PERGELANGAN TANGAN BUKAN PADA SIKU
SUARA PERKUSI
SONOR/PEKAK/TIMPANI
REDUP ( ANTARA SONOR DAN PEKAK)
HIPERSONOR ( ANTARA SONOR DAN TIMPANI )
AUSKULTASI

MEMPERGUNAKAN STETOSTOP
STETOSKOP BINAURAL
SISI MEMBRAN: NADA TINGGI
SISI SUNGKUP: NADA RENDAH
PEMERIKSAAN UMUM
KEADAAN UMUM
KESAN KEADAAN SAKIT :
KESADARAN
STATUS GIZI
TANDA VITAL:
NADI: FREKUENSI, IRAMA, ISI, KUALITAS, EKUALITAS
TD
PERNAPASAN
SUHU
DATA ANTROPOMETRIK :
BERAT BADAN,TINGGI BADAN, LINGKARAN KEPALA,
LINGKARAN DADA, LINKARAN LENGAN ATAS, TEBAL
LIPATAN KULIT.
PEMERIKSAAN
BERAT BADAN
Pemeriksaan
tinggi badan
PEMERIKSAAN PANJANG BADAN
TEBAL LIPATAN KULIT
KESADARAN DAPAT DINILAI BILA OS TDK TIDUR
TINGKATAN:
KOMPOS MENTIS: SADAR SEPENUHNYA
APATIS: SADAR TAPI ACUH TAK ACUH
SOMNOLENS : MENGANTUK, TIDAK RESPONS TERHADAP
STIMULUS RINGAN, RESPONS TERHADAP STIMULUS AGAK
KERAS
SOPOR: TIDAK ADA RESPONS TERHADAP STIMULUS
RINGAN/SEDANG, REFLEKS CAHAYA MASIH POSITIF
KOMA: TIDAK ADA RESPON TERHADAP SEMUA STIMULUS,
REFLEKS CAHAYA NEGATIF
DELIRIUM : KESADARAN MENURUN SERTA KACAU, BIASANYA
DISORIENTASI, IRITATIF DAN SALAH PERSEPSI
MODIFIKASI GLASGOW COMA SCALE UNTUK ANAK-ANAK:
NADI
IDEALNYA DIHITUNG DALAM KEADAAN TENANG
POSISI BERBARING ATAU DUDUK
BAYI/ANAK KECIL: NADI DIHITUNG DENGAN MERABA
A.BRAKIALIS ATAU A.FEMORALIS
ANAK BESAR : NADI DIHITUNG DENGAN MERABA A. RADIALIS
PERABAAN NADI DENGAN UJUNG JARI 2, 3 DAN 4 TANGAN
KANAN. IBU JARI BERADA DI BAGIAN DORSAL TANGAN ANAK
SEBAIKNYA PENGHITUNGAN NADI BERSAMAAN DENYUT
JANTUNG, SELAMA 1 MENIT PENUH
NADI
FREKUENSI
TAKIKARDI: FREKUENSI NADI LEBIH CEPAT DARI NORMAL
DEMAM :KENAIKAN SUHU 1 DERAJAT DIATAS 37,5 C, NADI NAIK 15-20
X/MN
BRADIKARDI: FREKWESI NADI LEBIH LAMBAT DARI NORMAL
IRAMA : RABA NADI DAN AUSKULTASI JANTUNG
NORMAL : TERATUR
DISRITMIA
KUALITAS NADI
NORMAL : CUKUP
PULSUS SELER: NADI TERABA SANGAT KUAT, TEKANAN NADI BESAR
NADI
PULVUS PARVUS ET TARDUS : NADI DENGAN AMPLITUDO
RENDAH, TERDAPAT PADA STENOSIS AORTA.
PULSUS ALTERNANS : DENYUT NADI SELANG SELING KUAT
DAN LEMAH.
PULSUS PARADOKSUS : NADI TERABA LEMAH SAAT
INSPIRASI, NORMAL ATAU KUAT SAAT EKSPIRASI, PADA
TAMPONADE JANTUNG.
EKUALITAS NADI
NORMAL: TERABA SAMA PADA KE 4 EKSTREMITAS
KOARKTASIO AORTA: NADI PADA EKSTREMITAS ATAS KUAT
SEDANGKAN EKSTREMITAS BAWAH LEMAH/TAK TERABA
TAKAYASU: SEBALIKNYA
TROMBO EMBOLI PADA ARTERI PERIFER: NADI DISTAL TAK
TERABA
TEKANAN DARAH
POSISI : BERBARING TELENTANG DENGAN LENGAN LURUS
DISAMPING BADAN, ATAU DUDUK DENGAN LENGAN BAWAH
DILETAKKAN DIATAS MEJA LENGAN BERADA SETINGGI JANTUNG
CARA:
PASANG MANSET MELINGKARI LENGAN ATAS ATAU TUNGKAI ATAS
DENGAN BATAS BAWAH + 3 CM DARI SIKU ATAU LIPAT LUTUT
DENGAN CEPAT MANSET DIPOMPA SAMPAI DENYUT NADI A.RADIALIS
ATAU DORSALIS PEDIS TIDAK TERABA, KEMUDIAN TERUSKAN DIPOMPA
SAMPAI 20-30 MM HG LAGI.
SAMBIL MENDENGAR DENGAN STETOSKOP PADA A.BRAKIALIS ( DI FOSSA
CUBITI) ATAU PADA A.POPLITEA ( DI FOSA POPLITEA), KOSONGKAN
MANOMETER PERLAHAN DENGAN KECEPATAN 2-3 CM TIAP DETIK.
PADA PENURUNAN AIR RAKSA INI AKAN TERDENGAR BUNYI KOROTKOFF
TEKANAN DARAH
BUNYI KOROTKOFF :
I : BUNYI PERTAMA KALI TERDENGAR, BERUPA BUNYI DETAK PERLAHAN
II: SEPERTI K I TETAPI DISERTAI BUNYI DESIS
III: SEPERTI K II TETAPI LEBIH KERAS
IV: BUNYI TIBA-TIBA MELEMAH
V : BUNYI MENGHILANG
TEKANAN SISTOLIK:
SAAT MULAI TERDENGAR BUNYI K I
NORMAL: DILENGAN < 10-15 MMHG DARI TUNGKAI ( KECUALI BAYI
< 1TH)
TEKANAN DIASTOLIK:
SAAT MULAI TERDENGAR BUNYI K IV
PD BAYI DAN ANAK BERSAMAAN/HAMPIR SAMA DG
MENGHILANGNYA BUNYI K V.
BILA MELEMAH DAN MENGHILANGNYA BUNYI TAK BERSAMAAN
MAKA HASIL PEMERIKSAAN DITULIS KEDUANYA,,MIS: 100/70/40
MMHG.
TEKANAN DARAH
IDEAL : DIUKUR PADA KE 4 EKSTREMITAS
LENGAN ATAS KANAN
TEKANAN SISTOLIK DAN DIASTOLIK TINGGI : KELAINAN
GINJAL
TEK SISTOLIK TINGGI TANPA PENINGKATAN DIAST (
TEKANAN NADI BESAR ): PDA, AI, FISTULA, ANEMIA, ANXIETAS
(HIPERKINETIK)
TEK SISTOLIK RENDAH DENGAN TEK DIAST NORMAL (TEK
NADI KECIL) : STENOSIS AORTA
TEK SISTOLIK DAN DIASTOLIK MENURUN : SYOK
PERNAPASAN
FREKUENSI
TAKIPNU
BRADIPNU
DISPNU : KESULITAN BERNAPAS, DITANDAI DG PERNAPASAN
CUPING HIDUNG, RETRAKSI (SUBCOSTAL, INTERCOSTAL,
SUPRASTERNAL), SIANOSIS
IRAMA/KETERATURAN
KEDALAMAN
TIPE/POLA PERNAPASAN
BAYI : ABDOMINAL/DIAFRAGMA
ANAK BESAR : TORAKAL
TIPE PERNAPASAN

NORMAL

kussmaul

Cheyne-Stokes

Biot
PERNAPASAN
FREKUENSI PERNAPASAN DAPAT DIHITUNG DENGAN CARA :
INSPEKSI:
PEMERIKSA MELIHAT GERAKAN NAPAS DAN MENGHITUNG
FREKUENSINYA ( TIDAK PRAKTIS DAN TIDAK DIANJURKAN )
PALPASI
TANGAN PEMERIKSA DILETAKKAN PADA DINDING DADA, KEMUDIAN
DIHITUNG GERAKAN PERNAPASAN YANG TERASA PADA TANGAN,
SEMENTARA PEMERIKSA MEMPERHATIKAN JARUM JAM
AUSKULTASI
DENGAN STETOSKOP DIDENGAR DAN DIHITUNG BUNYI PERNAPASAN

SEMUA PERHITUNGAN HARUS DILAKUKAN SELAMA


SATU MENIT PENUH
LAJU PERNAFASAN NORMAL PER MENIT

Umur Rentang Rata-rata waktu tidur


Neonatus 30 60 35
1 bulan 1 tahun 30 60 30
1 tahun 2 tahun 25 50 25
3 tahun 4 tahun 20 30 22
5 tahun 9 tahun 15 30 18
10 tahun 15 30 15
FREKUENSI NAFAS (WHO)
USIA

FN
< 2 bulan < 60 x/mt
2-12 bulan < 50 x/mt
1-5 tahun < 40 x/mt
6-8 tahun < 30 x/mt
SUHU
DIUKUR DENGAN TERMOMETER BADAN
UMUMNYA DIUKUR SUHU AKSILA
SEBELUM TERMOMETER DIPAKAI, PERMUKAAN AIR RAKSA
DITURUNKAN SAMPAI DIBAWAH 35 C
BAYI < 2 THN : SUHU DPT DIUKUR DI REKTUM ( DENGAN
TERMOMETER REKTAL). CARANYA POSISI BAYI TIDUR
MIRING DENGAN LUTUT SEDIKIT DIBENGKOKKAN
ANAK > 6 TH : DAPAT DIUKUR SUHU ORAL ( LETAKKAN
TERMOMETER DIBAWAH LIDAH/SUBLINGUAL)
SEMUA PENGUKURAN SUHU HARUS SELAMA 3 MENIT
BERAT BADAN
ALAT
BAYI : TIMBANGAN BAYI
ANAK : TIMBANGAN BERDIRI
CARA
SEBELUM MENIMBANG, PERIKSA ALAT APAKAH SUDAH
SEIMBANG
( JARUM MENUNJUK ANGKA 0 )
WAKTU
SAMPAI UMUR 1 TH : TIAP BULAN
1TH-3 TH : TIAP 3 BULAN
3TH-5 TH : TIAP 6 BULAN
>5 TH : SETIAP TAHUN
NORMAL : 4 BLN : 2 X BBL
1 THN : 3 X BBL
LINGKARAN KEPALA
BAYI < 2 TH : RUTIN DIUKUR
ALAT : PITA METAL YANG FLEKSIBEL
CARA:
LETAKKAN PITA MELINGKARI KEPALA
MELALUI GLABELA PADA DAHI, BAGIAN glabella
ATAS ALIS MATA DAN BAGIAN
BELAKANG KEPALA YANG PALING
MENONJOL YAITU PROTUBERANSIA Protuberantia occipitalis
OKSIPITALIS
NORMAL
LAHIR : SEKITAR 35 CM
UMUR 6 BULAN : 43,5 CM
1 TH : BERTAMBAH 12 CM DARI WAKTU LAHIR
UMUR 6 TH : BERTAMBAH LAGI 6 CM
DEWASA : 55 CM
LINGKARAN DADA

ALAT : PITA METAL


UMUMNYA DIUKUR HANYA PADA BAYI < 2 TH
CARA:
LETAKKAN PITA MENGELILINGI DADA MELALUI PUTTING SUSU
DALAM KEADAAN EKSPIRASI MAKSIMAL
NORMAL : LINGKARAN DADA BBL ADALAH 2 CM LEBIH KECIL DARI
LINGKARAN KEPALA. KEMUDIAN LINGKARAN DADA MENJADI
LEBIH BESAR DARI KEPALA KARENA DADA TUMBUH LEBIH CEPAT
LINGKARAN LENGAN ATAS

ALAT : PITA PENGUKUR LINGKAR LENGAN ATAS


CARA :
LINGKARKANLAH PITA PENGUKUR PADA PERTENGAHAN LENGAN
KIRI, ANTARA AKROMION DAN OLEKRANON
PADA BBL
LLA 11 CM
UMUR 1 TH : 16 CM
UMUR 5 TH : 17 CM
TEBAL LIPATAN KULIT

ALAT : KALIPER LIPATAN KULIT ( SKINFOLD CALIPERS )


CARA
LIPATAN KULIT YANG DIUKUR : TRISEPS, SUBSKAPULAR,
SUPRAILIAKA
PENGUKURAN DILAKUKAN DENGAN MENCUBIT KULIT
SAMPAI TERPISAH DARI OTOT DASARNYA
KEMUDIAN LIPATAN KULIT TERSEBUT DIUKUR DENGAN
KALIPER
TINGGI BADAN
ALAT
BAYI: ALAT PENGUKUR TERBUAT DARI KAYU YANG SALAH SATU
UJUNGNYA MEMPUNYAI BATAS TETAP SEDANG UJUNG LAIN
DAPAT DIGERAKKAN.
ANAK : DIUKUR BERDIRI TANPA SEPATU DAN TELAPAK KAKI
DIRAPATKAN
NORMAL:
PANJANG BADAN LAHIR (PBL): 50 CM
UMUR 1 THN : 1,5 KALI PBL
UMUR 4 THN :2 KALI PBL
TINGGI BADAN WAKTU DUDUK
ANAK DISURUH DUDUK DIATAS PERMUKAAN YANG KERAS DAN
BERSANDAR TEGAK PADA DINDING
UKURLAH JARAK ANTARA PERMUKAAN ITU DENGAN UJUNG
KEPALA. JARAK INI ADALAH TINGGI WAKTU DUDUK

PADA WAKTU LAHIR TINGGI DUDUK 70% TB. PERBANDINGAN INI MENURUN
SEHINGGA PADA UMUR 2 TH MENJADI 60% DAN PADA UMUR 10 TH 52%.
BILA TINGGI DUDUK MENCAPAI 50% DIKATAKAN TUBUH TIPE DEWASA.
TUBUH DG TIPE INFANTIL PERSISTEN GANGGUAN PERTUMBUHAN
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
WARNA
PIGMENTASI KULIT NORMAL MELANIN PADA KULIT
DAERAH KULIT YANG MENGALAMI DEPIGMENTASI
VITILIGO
DEPIGMENTASI UMUM ALBINISME, KELAINAN BAWAAN
METABOLISM TIROSIN
KULIT PASIEN THALASSEMIA WARNA COKLAT GELAP
SINDROM ALBRIGHT BERCAK-BERCAK CAF AU LAIT
(BERCAK BERWARNA COKLAT MUDA ATAU COKLAT, YANG
MENIMBUL, DAN TIDAK GATAL) YANG BESAR DAN UNILATERAL
NEVUS PIGMENTOSUS DAERAH HIPERPIGMENTASI YANG
MENETAP
SPIDER NEVI NEVI YANG TERBENTUK DARI PEMBULUH
KAPILER YANG BERCABANG-CABANG MIRIP LABA-LABA
SIROSIS HEPATIS ATAU HEPATITIS KRONIK
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
SIANOSIS WARNA KEBIRUAN PADA KULIT
DAN MUKOSA
SIANOSIS SENTRAL PENYAKIT PARU ATAU
PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SIANOTIK
SIANOSIS TEPI HANYA TERDAPAT SIANOSIS DI
KAPILER KEDINGINAN, DEHIDRASI, RENJATAN
IKTERUS
PALING JELAS DISKLERA, KULIT SERTA SELAPUT
LENDIR
BILIRUBIN INDIREK: KUNING TERANG
BILIRUBIN DIREK KUNING KEHIJAUAN
BEDAKAN DENGAN KAROTENEMIA : KUNING DI
TELAPAK TANGAN/KAKI, TIDAK PADA SKLERA
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
HEMANGIOMA
PALING SERING DI PANGKAL HIDUNG, KELOPAK MATA
ATAS, BIBIR ATAS, LEHER
LESI RATA, DIFUS, BERWARNA DARI MERAH MUDA SAMPAI
BIRU GELAP
EKZEMA
DERMATITIS ATOPIC PADA BAYI SERING TERDAPAT DI PIPI
ATAU DAHI, DAN DAPAT MELUAS KE KULIT KEPALA. PADA
ANAK SERING TERDAPAT PADA DAERAH LEHER, LIPATAN
SIKU, ATAU LIPATAN LUTUT.
DERMATITIS KONTAK DISEBABKAN PERLBAGAI BAHAN
KIMIA (SABUN, BEDAK, KOSMETIK, PAKAIAN, ATAU BAHAN
PLASTIK) LESI ERITEMA EDEMA VESIKULA BERBATAS
TEGAS
DERMATITIS KONTAK
DERMATITIS NUMULARIS BERCAK-BERCAK BULAT ATAU
OVAL DENGAN VESIKULA, EKSUDASI, DAN KRUSTA
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
PUCAT
PADA PASIEN ANEMIA
PALING BAIK DINILAI PADA TELAPAK TANGAN/KAKI,
KUKU, MUKOSA MULUT DAN KONJUNGTIVA
PURPURA
PERDARAHAN KULIT DAN SELAPUT LENDIR
PURPURA YANG KECIL PETEKIE
PURPURA YANG BESAR EKIMOSIS
ERITEMA
LESI KULIT YANG BERWARNA KEMERAHAN
ERITEMA MULTIFORME, ERITEMA MARGINATUM,
ERITEMA NODOSUM
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
MAKULA
LESI KULIT YANG TIDAK MENIMBUL
MAKULA YANG TIMBUL CEPAT EKSANTEMA
CAMPAK, RUBEOLA, SKARLATINA, ROSEOLA
INFANTUM
PAPULA
ELEVASI KULIT DAN JARINGAN SUBKUTAN YANG
KERAS
VESIKULA
ELEVASI KULIT YANG BERISI CAIRAN SEROSA
VESIKULA BERUKURAN BESAR BULA
VARISELA, VARIOLA, HERPES SIMPLEKS, HERPES
ZOSTER
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
PUSTULA
ELEVASI KULIT YANG BERISI NANAH
DISEBABKAN INFEKSI BAKTERI ATAU ABSES KULIT
IMPETIGO KELOMPOK PUSTULA YANG TERJADII AKIBAT
INFEKSI STREPTOKOKUS ATAU STAFILOKOKUS
EKTIMA INFEKSI KULIT DALAM
FURUNKEL ABSES PADA FOLIKEL RAMBUT
KARBUNKEL ABSES YANG MENGENAI JARINGAN
KELENJAR LEMAK
ULKUS
NEKROSIS LAPISAN SUPERFISIAL DAN BAGIAN DALAM KULIT
ETIOLOGI: TRAUMA, SEKUNDER AKIBAT LESI KULIT YANG
LAIN, PEMBERIAN SUNTIKAN SUBKUTAN ATAU INTRAKUTAN,
ATAU HIPERSENSITVITAS TERHADAP OBAT YANG DIBERIKAN
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
NODUL SUBKUTAN
AKIBAT KALSIFIKASI HEMATOMA, ABSES STERIL, ATAU
BEKAS SUNTIKAN YANG LAMBAT DIABSORBSI.
TURGOR KULIT
DIPERIKSA PADA KULIT ABDOMEN, DENGAN MENCUBIT
KULIT SECARA RINGAN DAN MEMBIARKANNYA
KEMBALI
TURGOR KULIT BURUK BEKAS CUBITAN LAMA
KEMBALI (DEHIDRASI BERAT, MALNUTRISI)
MILIARIA
PERADANGAN KULIT AKIBAT TERDAPATNYA OBSTRUKSI
MEKANIS PADA SALURAN KERINGAT.
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
KELEMBABAN KULIT
HIPERHIDROSIS PALMARIS (BERKERINGAT
BERLEBIHAN PADA TELAPAK TANGAN)
ANHIDROSIS (TIDAK ADA ATAU KURANGNYA
KERINGAT)
TEKSTUR KULIT
KULIT KASAR
KULIT KERING
KULIT YANG TEBAL DAN KERAS
SKLEREMA
KULIT, RAMBUT DAN KGB
KULIT
EDEMA
CAIRAN EKSTRASELULER ABNORMAL, YANG DAPAT
DISEBABKAN OLEH BERTAMBAHNYA TEKANAN
HIDROSTATIK, BERTAMBAHNYA PERMEABILITAS
KAPILER, BERKURANGNYA TEKANAN ONKOTIK,
RETENSI NATRIUM DAN ELEKTROLIT LAIN,
BENDUNGAN LIMFA, ATAU EKSKRESI CAIRAN
YANG BERKURANG.
PITTING EDEMA
NON-PITTING EDEMA
EDEMA PALPEBRA
EDEMA ANASARKA
PITTING EDEMA
EDEMA ANASARKA
KGB: MEMERLUKAN PERHATIAN KHUSUS
YANG DIPERIKSA
KGB OKSIPITAL
KGB RETROAURIKULER
KGB SERVIKAL ANTERIOR
KGB INGUINAL
RINCI
UKURAN, BENTUK, MOBILITAS, TANDA RADANG
KGB TERABA SAMPAI 3 MM : NORMAL
KGB DI SERVIKAL/INGUINAL < 1CM : NORMAL
KGB TAK TERABA : AGAMAGLOBULINEMIA ?
KEPALA DAN LEHER
BENTUK KEPALA
KEPALA DAN LEHER
BENTUK DAN UKURAN KEPALA
LINGKAR KEPALA HARUS DIPERIKSA RUTIN SAMPAI USIA 2 TAHUN
DIAMETER OKSIPITOFRONTAL TERBESAR
NORMOSEFALI
MAKROSEFALI HIDROSEFALUS
MIKROSEFALI INFEKSI VIRUS KONGENITAL (TORCH)

KONTROL KEPALA
3 BULAN MAMPU MENGANGKAT KEPALA
5 BULAN MENEGAKKAN KEPALA DALAM POSISI DUDUK

KRANIOTABES
PERLUNAKAN TABULA EKSTERNA TULANG TENGKORAK
DIPERIKSA DENGAN MENEKAN TENGKORAK DI BELAKANG KEPALA DAN
DI ATAS TELINGA DENGAN CUKUP KERAS.
NORMAL POSITIF PADA BAYI SAMPAI USIA 6 BULAN
KEPALA DAN LEHER
RAMBUT DAN KULIT KEPALA
WARNA
KETEBALAN
DISTRIBUSI PERTUMBUHAN RAMBUT KEPALA
KULIT KEPALA

UBUN-UBUN (FONTANEL)
UUB RATA
UUB CEKUNG DEHIDRASI
UUB MEMBONJOL TEKANAN INTRACRANIAL MENINGGI
90% MENUTUP PADA USIA 19 BULAN
100% MENUTUP PADA USIA 24 BULAN

WAJAH
ASIMETRI WAJAH PARALISIS FASIALIS
PEMBENGKAKAN WAJAH EDEMA, RADANG LOCAL, INFEKSI KELENJAR
DISMORFIK SINDROM DOWN, SINDROM WILLIAM, SINDROM PIERRE
ROBIN
KEPALA DAN LEHER
MATA
VISUS/KETAJAMAN PENGLIHATAN
PALPEBRA
EDEMA
PTOSIS
LAGOFTALMUS
HEMANGIOMA
HORDEOLUM
ALIS DAN BULU MATA
GLANDULA LAKRIMALIS DAN DUCTUS NASOLAKRIMALIS
EPIFORA (RADANG, ULKUS KORNEA, BENDA ASING, ALERGI)
MATA YANG KERING (DEHIDRASI, DEFISIENSI VITAMIN A,SINDROM SJOGREN)
KONJUNGTIVA
PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVA
OFTALMIA NEONATORUM
XEROFTALMIA DEFISIENSI VITAMIN A
KONJUNGTIVITIS
KEPALA DAN LEHER
MATA
BERCAK BITOT : DEF. VIT A
MASSA PUTIH SEPERTI BERBUSA, BERBENTUK SEGITIGA DENGAN
PUNCAK MENGHADAP KE ARAH LUAR KORNEA
SKLERA
NORMAL BERWARNA PUTIH
BLUE SCLERA OSTEOGENESIS IMPERFEKTA
IKTERUS BAYI HYPERBILIRUBINEMIA
KORNEA
NORMAL: JERNIH
ABNORMAL: RADANG, ULKUS, KEKERUHAN
PUPIL
NORMAL: BERBENTUK BULAT DAN SIMETRIS
DIAMETER PUPIL NORMAL: 3-4 MM
REFLEKS CAHAYA PUPIL LANGSUNG DAN TAK LANGSUNG
LENSA
NORMAL: JERNIH
KERUH: KATARAK
KEPALA DAN LEHER
MATA
EKSOFTALMUS: BOLA MATA TAMPAK MEMBONJOL KELUAR DAN
BESAR (HIPERTIROIDISME, GLAUCOMA, TUMOR RETROBULBAR)
ENOFTALMUS: BOLA MATA YANG KECIL ATAU DALAM (SINDROM
HORNER, MIKROFTALMOS, DEHIDRASI BERAT, MALNUTRISI)
SUNSET SIGN (HIDROSEFALUS)
STRABISMUS: MANIFESTASI SUMBU VISUAL YANG TIDAK SEJAJAR
PADA PELBAGAI LAPANGAN GERAKAN BOLA MATA
NISTAGMUS: GERAKAN BOLA MATA RITMIK, BIASANYA CEPAT
DAN DAPAT HORIZONTAL, VERTICAL, BERPUTAR, ATAU
CAMPURAN.
DOLLS EYE PHENOMENON MENGEVALUASI PASIEN KOMA
KEPALA DAN LEHER
TELINGA
1. TELINGA LUAR: DAUN TELINGA, LIANG
TELINGA
2. TELINGA TENGAH: KAVUM TIMPANI,
MEMBRANA TIMPANI, TULANG-TULANG
PENDENGARAN
3. TELINGA DALAM: KOKLEA, LABIRIN YANG DI
DALAMNYA MENGANDUNG KANALIS
SERMISIKULARIS, UTRIKULUS, DAN SAKULUS.
KEPALA DAN LEHER
TELINGA
DAUN TELINGA
BENTUK, BESAR, DAN POSISI NORMAL ATAU TIDAK
LOW SET EAR SINDROM DOWN, SINDROM APERT, SINDROM NOONAN
DAUN TELINGA LEBAR VARIASI NORMAL; SINDROM MARFAN
LIANG TELINGA
MENGGUNAKAN SPECULUM TELINGA ATAU OTOSKOP
DILIHAT ADAKAH SEKRESI MUKOPURULEN, NYERI TARIK DAUN TELINGA,
LASERASI, KORPUS ALIENUM
MEMBRAN TIMPANI
NORMAL: SEDIKIT CEKUNG MENGKILAT
ABNORMAL: RATA ATAU CEMBUNG DAN KUSAM
OTITIS MEDIA: MEMBRANE TIMPANI KEMERAHAN DAN REFLEX CAHAYA
MENURUN SAMPAI MENGHILANG
PERFORASI OMSK, GIGITAN SERANGGA, TRAUMA
KEPALA DAN LEHER
TELINGA
MASTOID
TANDA-TANDA PEMBENGKAKAN DAN NYERI PADA DAERAH BELAKANG
TELINGA
MASTOIDITIS
BATTLE SIGN: PERDARAHAN DI SEKITAR MASTOID FRAKTUR BASIS KRANII
KETAJAMAN PENDENGARAN
BILA DICURIGAI GANGGUAN PENDENGARAN PEMERIKSAAN KETAJAMAN
PENDENGARAN KHUSUS TES BERRA, AUDIOMETRI, GARPU TALA
KEPALA DAN LEHER
HIDUNG
PERNAPASAN CUPING HIDUNG AKIBAT KESULITAN BERNAPAS
BENTUK HIDUNG YANG ABNORMAL ALLERGIC SHINE, SADDLE NOSE
(SIFILIS KONGENITAL)
MUKOSA HIDUNG
MUKOSA MERAH DAN EDEMA: INFEKSI
MUKOSA PUCAT: ALERGI
MUKOSA KEABUAN DAN EDEMA: RHINITIS KRONIK
SEKRET HIDUNG
SEKRET PURULEN: INFEKSI LOCAL PADA HIDUNG, SINUSITIS
SEKRET PURULEN BERCAMPUR DARAH: BENDA ASING
SEKRET BERDARAH: DIFTERIA HIDUNG
SEKRET JERNIH: ALERGI
EPISTAKSIS
EPISTAKSIS SPONTAN: PECAHNYA PLEKSUS KIESSELBACH
EPISTAKSIS LAIN: KELAINAN DARAH, DEMAM, BENDA ASING
KEPALA DAN LEHER

MULUT
TRISMUS : KESUKARAN MEMBUKA MULUT
SEBAIKNYA DIUKUR BERAPA MM/CM MULUT
DAPAT DIBUKA ( DIUKUR DARI UJUNG GIGI
SERI ATAS DAN BAWAH)

FARING
PERHATIKAN DINDING POSTERIOR ( HIPEREMIA,
EDEMA, ABSES, POST NASAL DRIP )

TONSIL : NYATAKAN BESARNYA DALAM TO, T1,T2,T3


KEPALA DAN LEHER

LEHER
TORTIKOLIS: KEL POSISI KEPALA MIRING KESATU SISI DAN
TERPUTAR KESISI LAIN AKIBAT PEMENDEKAN M.STERNO
KLEIDOMASTOIDEUS
UKUR TEKANAN VENA YUGULARIS:
POSISI PASIEN TELENTANG DENGAN DADA DAN KEPALA DIANGKAT 15-30
DERAJAT
LIHAT BATAS ATAS DISTENSI VENA YUGULARIS , BILA PERLU DENGAN
MENGOSONGKAN TERLEBIH DULU DENGAN MENEKAN BAGIAN KRANIAL VENA
DAN MENGURUT KEARAH KAUDAL, KEMUDIAN DILEPAS.
DADA
INSPEKSI
DINDING DADA
BENTUK DAN BESAR DADA
SIMETRISASI DADA DALAM KEADAAN STATIS /DINAMIS
BENTUK DADA
PEKTUS EKSKAVATUM
STERNUM BAGIAN BAWAH SERTA RAWAN IGA MASUK KE DALAM
TERUTAMA INSPIRASI
PEKTUS KARINATUM
STERNUM MENONJOL BIASANYA DISERTAI DEPRESI VERTIKAL
KOSTOKONDRAL
BARREL CHEST
DADA BERBENTUK BULAT SEPERTI TONG
STERNUM TERDORONG KEARAH DEPAN DENGAN IGA-IGA
HORIZONTAL
PARU
INSPEKSI : CUKUP PADA WAKTU INSPEKSI DADA
PALPASI
LETAKKAN TELAPAK TANGAN SERTA JARI-JARI PADA SELURUH
DINDING DADA DAN PUNGGUNG
TENTUKAN:
SIMETRI/ASIMETRI TORAKS, KELAINAN TASBIH, BENJOLAN
FREMITUS SUARA
MUDAH DILAKUKAN PADA ANAK YANG MENANGIS ATAU ANAK YANG
BISA DIAJAK BICARA ( SURUH KATAKAN TUJUH PULUH TUJUH)
MENINGGI : KONSOLIDASI
BERKURANG: ATELEKTASIS, EFUSI PLEURA DAN TUMOR
KREPITASI SUBKUTIS ( TERDAPATNYA UDARA DIBAWAH JARINGAN
KULIT)
PERKUSI
DAPAT DILAKUKAN DENGAN 2 CARA
LANGSUNG
TIDAK LANGSUNG
SUARA PERKUSI
NORMAL : SONOR
ABNORMAL : HIPERSONOR/ REDUP
SUARA PERKUSI BERKURANG : REDUP ATAU PEKAK
DAERAH PEKAK HATI
SETINGGI IGA KE 6 GARIS AKSILARIS MEDIA KANAN
PEKAK HATI MENUNJUKKAN PERANJAKAN DENGAN GERAKAN
PERNAPASAN, YAKNI MENURUN PADA SAAT INSPIRASI DAN NAIK
PADA EKSPIRASI. PERANJAKAN BERKISAR 1-2 SELA IGA, SULIT
DIPERIKSA PADA ANAK < 2 TH
PEKAK HATI MENINGGI : HEPATOMEGALI, MASSA INTRA
ABDOMINAL, ATELEKTASIS, KOLAPS PARU KANAN
PEKAK HATI MENURUN PADA ASMA/EMFISEMA PARU.
AUSKULTASI
DETEKSI SUARA NAPAS DASAR DAN TAMBAHAN
DILAKUKAN DISELURUH DADA DAN PUNGGUNG
STETOSKOP SEBAIKNYA DITEKAN DENGAN CUKUP KUAT PADA SELA IGA
DIMULAI DARI ATAS KEBAWAH DAN BANDINGKAN KANAN DAN KIRI DADA
AUSKULTASI
SUARA NAPAS DASAR
VESIKULER :
TERJADI KARENA UDARA MASUK DAN KELUAR MELALUI JALAN NAPAS
SAAT INSPIRASI LEBIH KERAS DAN LEBIH PANJANG
TERDENGAR SEPERTI MEMBUNYIKAN FFFF DANWWWW
BRONKIAL
TERDENGAR INSPIRASI KERAS YANG DISUSUL OLEH EKSPIRASI YANG LEBIH KERAS,
NORMAL TERDENGAR PADA BRONKUS BESAR KANAN DAN KIRI.
DAPAT DISAMAKAN DENGAN BUNYI KHKHKHKH
AMFORIK
MENYERUPAI BUNYI TIUPAN DIATAS MULUT BOTOL KOSONG,
TERDENGAR PADA CAVERNE
SUARA NAPAS TAMBAHAN
RONKI BASAH( RALES)
SUARA NAPAS TAMBAHAN BERUPA VIBRASI TERPUTUS-PUTUS AKIBAT
GETARAN YANG TERJADI KARENA CAIRAN DALAM JALAN NAPAS
DILALUI UDARA
RBH : DARI DUKTUS ALVEOLUS, BRONKIOLUS, BRONKUS HALUS
RBS : DARI BRONKUS KECIL ATAU SEDANG
RBK: DARI BRONKUS DILUAR JARINGAN PARU
RB NYARING: BERARTI NYATA BENAR TERDENGAR KARENA SUARA
DISALURKAN MELALUI BENDA PADAT ( INFILTRAT/KONSOLIDASI),
KARENA MELALUI MEDIA NORMAL ( TDK ADA
INFILTRAT/KONSOLIDASI)
RB TAK NYARING SUARA RONKI DISALURKAN MELALUI MEDIA
NORMAL (TIDAK TERDAPAT INFILTRAT ATAU KONSOLIDASI).
RONKI KERING ( RHONCHI)
SUARA KONTINU YANG TERJADI KARENA UDARA MELALUI JALAN
NAFAS YANG SEMPIT
LEBIH JELAS TERDENGAR PADA EKSPIRASI
JENIS RONKI KERING YANG TERDENGAR LEBIH MUSIKAL ATAU SONOR
WHEEZING ( MENGI )
TERDENGAR FASE EKSPIRASI
MENGI FASE INSPIRASI : OBSTRUKSI SALURAN NAPAS ATAS
MENGI FASE EKSPIRASI: OBSTRUKSI SALURAN NAPAS BAWAH (ASMA,
BRONKIOLITIS)
KREPITASI
SUARA MEMBUKANYA ALVEOLI
NORMAL DIBELAKANG BAWAH DAN SAMPING PADA INSPIRASI
DALAM
PATOLOGIS : PADA PNEUMONIA
PLEURAL FRICTION RUB
BUNYI GESEKAN PLEURA
SUARA GESEKAN KASAR SEOLAH-OLAH DEKAT TELINGA
PALING JELAS AKHIR INSPIRASI
BIASANYA TERDENGAR DI BAGIAN BAWAH BELAKANG PARU
SUARA NAFAS TAMBAHAN
JANTUNG
Inspeksi dan Palpasi
Denyut apeks dan aktivitas ventrikel
Denyut apeks/ Iktus kordis:
Bayi/anak kecil: ICS IV linea midclavicularis kiri, sedikit lateral
Anak usia > 3 th: ICS V sedikit medial L midclavicularis kiri

Aktivitas ventrikel:
Pembesaran ventrikel kiri peningkatan aktv ventrikel kiri (left ventricular lift
atau left ventricular thrust)
Apeks jantung kebawah dan lateral
Biasanya disertai denyut apeks yang lebih kuat
Pembesaran ventrikel kanan peningkatan aktv ventrikel kanan ( right ventricular
heave )
Apeks jantung tetap pada tempatnya yang normal
Teraba peningkatan aktv. Ventrikel kanan di parasternal kiri bawah serta epigastrium
PALPASI
DETAK PULMONAL
NORMAL :BJ II TIDAK TERABA
HIPERTENSI PULMONAL: BJ II MENGERASDAPAT DIRABA DI SELA IGA 2 TEPI KIRI
STERNUM
(DISEBUT DETAK PULMONAL/PULMONARY TAPPING)
PENYEBAB HIPERTENSI PULMONAL :

PJB PIRAU KIRI KEKANAN YANG BESAR(


PDA,VSD,ASD)
STENOSIS MITRAL REMATIK
KOR PULMONALE
Palpasi
Getaran bising/ thrill
Thrill adalah getaran pada dinding dada yang terjadi
akibat bising jantung yang keras
Perabaan : ujung jari 2 dan 3 atau telapak tangan
dengan palpasi ringan
Thrill menandakan ada bising jantung yang keras
(derajat 4/6 atau lebih )
Tempat getaran: merupakan pungtum maksimum
bising.
Dapat diraba pada fase sistolik dan diastolik
PERKUSI
PADA ANAK BESAR PERKUSI DAPAT MEMBERIKAN:
INFORMASI BESARNYA JANTUNG (TERUTAMA PADA KARDIOMEGALI
YANG NYATA )

PADA BAYI DAN ANAK KECIL


PERKUSI SULIT DILAKUKAN
INFORMASI DAPAT MENYESATKAN
AUSKULTASI
STETOSKOP
BIANURAL: MEMPUNYAI SISI MANGKOK DAN SISI DIAFRAGMA
BESARNYA STETOSKOP SESUAI DENGAN BESAR BAYI/ANAK
SISI MANGKOK LEBIH BAIK UNTUK MENANGKAP BUNYI ATAU BISING
YANG BERNADA RENDAH
SISI DIAFRAGMA : NADA TINGGI
AUSKULTASI
TEKNIK
SISTEMATIK: MULAI DARI APEKS
TEPI KIRI STERNUM BAG BAWAH
BERGESER KEATAS SEPANJANG
TEPI KIRI STERNUM
SEPANJANG TEPI KANAN STERNUM
DAERAH INFRA DAN SUPRAKLAVIKULA KIRI DAN KANAN LEKUK
SUPRASTERNAL
DAERAH KAROTIS KANAN DAN KIRI
BUNYI JANTUNG
Bunyi jantung: Bunyi akibat vibrasi pendek
pada siklus jantung.
Bising jantung: Bunyi akibat vibrasi yang lebih
panjang.
Bunyi Jantung:
Bunyi-bunyi jantung I, II, III, dan IV
Opening snap
Irama derap
Klik
BUNYI JANTUNG I:
TERJADI KARENA PENUTUPAN KATUP MITRAL DAN TRIKUSPID
PALING JELAS DI APEKS
BERSAMAAN DENGAN IKTUS KORDIS
BERSAMAAN DENGAN DENYUT KAROTIS
PADA AUSKULTASI, DINILAI INTENSITAS BUNYI JANTUNG I:
NORMAL
MELEMAH (INSUFISIENSI MITRAL, STENOSIS TRICUSPID)
MENGERAS (ASD, STENOSIS MITRAL, STENOSIS TRIKUSPID)
DINILAI APAKAH TERDAPAT DUPLIKASI ATAU SPLIT
BUNYI JANTUNG II

Penutupan katup aorta dan pulmonal


Paling jelas di sela iga 2 tepi kiri sternum
Normal terpecah pada inspirasi dan tunggal pada
ekspirasi
BUNYI JANTUNG II
Pada auskultasi, dinilai intensitas bunyi jantung II dan terpecahnya bunyi jantung II.
Intensitas bunyi jantung II:
Normal
Melemah
Mengeras
Bunyi jantung II terpecah lebar:
-RBBB
-ASD
-PS sedang
-Gagal jantung kanan berat
-Dilatasi a. pulmonalis
-Insufisiensi mitral akut
-VSD (jarang)
Bunyi jantung II terpecah sempit: hipertensi pulmonal
Bunyi jantung III

Bernada rendah
Paling terdengar di apeks atau parasternal kiri bawah
dan lebih jelas bila pasien miring ke kiri
Dapat terdengar pada anak dan dewasa muda normal.
Terjadi karena deselerasi darah pada akhir pengisian
cepat ventrikel saat diastolik
BJ III mengeras pada dilatasi ventrikel
Jika BJ III mengeras disertai takikardi maka terjadi
irama derap (gallop rhythm) patologis
Bunyi Jantung IV

Bernada rendah
Terjadi akibat deselerasi darah pada saat
pengisian ventrikel oleh atrium
Normal: tidak terdengar
Patologis: terdengar
Dilatasi/hipertropi ventrikel
fibrosis miokardium
PEMERIKSAAN THORAX
ABDOMEN
PADA BAYI & ANAK KECIL PEMERIKSAAN ABDOMEN SERINGKALI
DIDAHULUKAN DARI BAGIAN TUBUH LAIN
PADA PEMERIKSAAN ABDOMEN PALPASI PALING BERPERAN. TETAPI
AUSKULTASI DILAKUKAN LEBIH DULU (AGAR INTERPRETASI AUSKULTASI
TIDAK SALAH KARENA SETIAP MANIPULASI ABDOMEN AKAN MENGUBAH
BUNYI PERISTALTIK USUS)
HASIL PEMERIKSAAN SELAIN DINYATAKAN DENGAN KATA ATAU ANGKA,
DIANJURKAN UNTUK DIGAMBARKAN SECARA SKEMATIS.
AUSKULTASI
NORMAL : SUARA PERISTALTIK TERDENGAR SBG SUARA DG INTENSITAS

RENDAH DAN TERDENGAR TIAP 10-30 DTK


BISING USUS MENINGKAT : OBSTRUKSI (BUNYI METALIK)
BISING USUS BERKURANG/HILANG : PERITONITIS/ILEUS
PERKUSI
ADANYA CAIRAN ( ASITES)
ADANYA UDARA
BATAS HATI
BATAS MASSA INTRAABDOMINAL
CARA DETEKSI ASITES
DILAKUKAN PERKUSI SISTEMIK DARI UMBILIKUS KE ARAH LATERAL, ATAS DAN
BAWAH UNTUK MENCARI BATAS BERUPA GARIS KONKAF ANTARA DAERAH YANG
TIMPANI DENGAN DAERAH PEKAK, YANG TERDAPAT BILA ADA ASITES
CARA DETEKSI ASITES
MENENTUKAN DAERAH REDUP YANG BERPINDAH ( SHIFTING DULLNESS) DENGAN
MELAKUKAN PERKUSI DARI UMBILIKUS KESISI PERUT UNTUK MENCARI DAERAH
REDUP ATAU PEKAK; DAERAH REDUP INI AKAN MENJADI TIMPANI BILA ANAK
BERUBAH POSISI DENGAN CARA MEMIRINGKAN PASIEN.
MENENTUKAN ADANYA ADANYA GELOMBANG CAIRAN (FLUID WAVE) ATAU
DISEBUT CARA UNDULASI. CARA INI DILAKUKAN JIKA ASITES SANGAT BANYAK
SERTA DINDING ABDOMEN TEGANG.
POSISI ANAK TENGKURAP
TENTUKAN DAERAH REDUP PADA BAGIAN TERENDAH PERUT DENGAN
POSISI ANAK TENGKURAP DAN MENUNGGING ( KNEE CHEST
POSITION)
DILAKUKAN PADA ANAK BESAR DENGAN ASITES SEDIKIT (PUDDLE
SIGN)
PEKAK HATI
DITENTUKAN DENGAN PERKUSI
PEKAK HATI HILANG BILA TERDAPAT UDARA BEBAS DALAM RONGGA
ABDOMEN : DISEBUT PNEUMOPERITONEUM (PADA PERFORASI USUS/TRAUMA
TUSUK)

FENOMENA PAPAN CATUR


PADA PERITONITIS TBC TANPA ASITES
BERUPA DAERAH REDUP DAN TIMPANI BERSELANG-SELING
KELAINAN INI SULIT DIDETEKSI PADA BAYI ATAU ANAK KECIL
PALPASI HATI
DILAKUKAN DENGAN UJUNG JARI
PATOKAN : PROYEKSI 2 GARIS (MISALNYA 1/3-1/2) ATAU DINYATAKAN
DALAM CM, LEBIH JELAS BILA DIGAMBAR
GARIS YANG MENGHUBUNGKAN PUSAT DG TITIK POTONG GARIS
MIDKLAVIKULARIS KANAN DENGAN ARKUS KOSTA
GARIS YANG MENGHUBUNGKAN PUSAT DG PROSESUS XIFOIDEUS
PENILAIAN
KONSISTENSI, TEPI, PERMUKAAN, NYERI
PALPASI HATI
SKEMA PENGUKURAN PERBESARAN
HEPAR
PALPASI LIMPA
BESARNYA LIMPA DIUKUR MENURUT CARA SCHUFFNER
JARAK MAKSIMUM DARI PUSAT KE GARIS SINGGUNG PADA ARKUS KOSTA KIRI
DIBAGI 4 BAGIAN YANG SAMA
GARIS INI DITERUSKAN KE BAWAH SEHINGGA MEMOTONG LIPAT PAHA, GARIS
DARI PUSAT KE LIPAT PAHA INIPUN DIBAGI MENJADI 4 BAGIAN YANG SAMA
PEMBESARAN LIMPA DINYATAKAN DENGAN MEMPROYEKSIKAN KEGARIS INI.
LIMPA YANG MEMBESAR SAMPAI KEPUSAT DINYATAKAN SEBAGAI S IV, SAMPAI
LIPAT PAHA S VIII

BEDA SPLENOMEGALI DENGAN PEMBESARAN LOBUS KIRI HATI


IKUT BERGERAK PADA PERNAPASAN
INSISURA LIENALIS
DAPAT DIDORONG KEMEDIAL, LATERAAL DAN ATAS
PALPASI LIMPA
SKEMA PENGUKURAN PERBESARAN
LIMFA
GINJAL
NORMAL : TIDAK DAPAT DIRABA KECUALI PADA NEONATUS
ABNORMAL: GINJAL DAPAT DIRABA DG CARA BALLOTEMENT
CARA:
LETAKKAN TANGAN KIRI PEMERIKSA DI BAGIAN POSTERIOR TUBUH PASIEN
SEDEMIKIAN SEHINGGA JARI TELUNJUK BERADA DI ANGULUS KOSTOVERTEBRALIS.
KEMUDIAN JARI TELUNJUK INI MENEKAN ORGAN ATAU MASSA KEATAS,
SEMENTARA ITU TANGAN KANAN MELAKUKAN PALPASI SECARA DALAM DARI
ANTERIOR DAN AKAN MERASAKAN ORGAN ATAU MASSA TERSEBUT MENYENTUH,
LALU JATUH KEMBALI.
PALPASI GINJAL
PEMERIKSAAN ABDOMEN
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

REFLEKS PATOLOGIS
BABINSKY
GORES PERMUKAAN PLANTAR KAKI DG ALAT YG SEDIKIT RUNCING
POSITIF BILA TERJADI REAKSI BERUPA EKSTENSI IBU JARI KAKI DISERTAI
DENGAN MENYEBARNYA JARI-JARI YANG LAIN
NORMAL PADA BAYI UMUR SAMPAI 18 BLN
ABNORMAL PADA LESI PIRAMIDAL
OPPENHEIM
TEKAN SISI MEDIAL PERGELANGAN KAKI
REFLEKS YG TERJADI SEPERTI BABINSKY
REFLEKS PATOLOGIS

REFLEKS HOFFMANN
DILAKUKAN KETUKAN PADA FALANG TERAKHIR JARI KEDUA
POSITIF TERJADI FLEKSI JARI PERTAMA DAN KETIGA
TERDAPAT PADA LESI PIRAMIDAL DAN TETANI
KLONUS PERGELANGAN KAKI
LAKUKAN DORSOFLEKSI KAKI PASIEN DENGAN CEPAT DAN KUAT SEMENTARA
SENDI LUTUT DILURUSKAN DENGAN TANGAN LAIN PEMERIKSA YANG
DILETAKKAN DIFOSSA POPLITEA
POSITIF TERJADI GERAKAN FLEKSI DAN EKSTENSI KAKI SECARA TERUS
MENERUS DAN CEPAT
REFLEKS PATOLOGIS
GRM
KAKU KUDUK
PASIEN TELENTANG
BILA LEHERNYA DITEKUK
SECARA PASIF TERDAPAT
TAHANAN, SEHINGGA
DAGU TIDAK DAPAT
MENEMPEL PADA DADA
GRM
BRUDZINSKI I:
LETAKKAN 1 TANGAN PEMERIKSA DIBAWAH
KEPALA PASIEN, TANGAN LAIN DILETAKKAN
DIDADA PASIEN AGAR BADAN TIDAK
TERANGKAT,

KEMUDIAN KEPALA PASIEN DIFLEKSIKAN


KEDADA SECARA PASIF.

BILA ADA GRM MAKA KEDUA TUNGKAI


BAWAH AKAN FLEKSI PADA SENDI PANGGUL
DAN SENDI LUTUT.

Fleksi abnormal sendi panggul &


sendi lutut
BRUDZINSKI II: GRM
PASIEN TELENTANG,

FLEKSI PASIF TUNGKAI ATAS


PADA SENDI PANGGUL AKAN
DIIKUTI OLEH FLEKSI TUNGKAI
LAINNYA PADA SENDI

PANGGUL DAN SENDI LUTUT.

Fleksi abnormal tungkai lainnya


GRM
KERNIG SIGN:

PASIEN TELENTANG DILAKUKAN


FLEKSI SENDI PANGGUL DAN SENDI
LUTUT MEMBENTUK SUDUT 90

Kemudian dicoba meluruskan


tungkai bawah pada sendi lutut
sehingga membentuk sudut 135.

Kernig sign (+) bila tungkai


bawah tidak dapat diekstensikan
sampai 135
SUARA NAFAS TAMBAHAN PARU
PEMERIKSAAN FISIK JANTUNG
PEMERIKSAAN ABDOMEN