Anda di halaman 1dari 36

IKATAN KIMIA

Oleh Aras Hidayat & Laurelia Luciana


Membahas tentang konsep-konsep dasar
ikatan kimia, teori OM tumpang tindih
orital, kesetabilan molekul, teori OM untuk
molekul poliatom, pendekatan ikatan
terlokalisasi, resonansi, ikatan berpusat
banyak, bentuk molekul, jari-jari atom dan
pengemasan elektron.
Tujuan pembelajaran

a. Memahami konsep dasar ikatan kimia


b. Memahami teori tumpang tindih orbital
c. Memahami kestabilan molekul
d. Mengetahui teori OM untuk diatom mononuklir
e. Mengetahui ikatan terlokalisasi
f. Pemahaman resonansi
g. Mengetahui teori atom ikatan berpusat banyak
h. Mengetahui teori bentuk molekul
i. Mengetahui teori jari-jari atom dan panjang ikatan
j. Mengetahui teori pengemasan elektron
Tumpang tindih orbital

Ikatan-ikatan kimia dapat terjadi bila orbital-orbital


luar pada atom yang berlainan tumpang tindih
sehingga memekatkan rapatan elektron antara
atom.
Dua atom yang berdekatan sampai satu orbital,
setiap atom mempunyai amplitudo yang besar
dalam daerah ruang yang dipunyai bersama.
Besarnya amplitudo bisa brnilai positif, bernilai
negatif atau nol tergantung pada sifat orbital yang
terlibat.
1. Tumpang tindih bertanda positif
jika pertindihan kedua orbital
mempunyai tanda yang sama,
seduanya ( + atau - ).
2. Tumpang tindih bertanda negatif
jika daerah pertindihan kedua
orbital mempunyai arah
berlawanan.
3. Tumpang tindih tepat nol terjadi
jika terdapat daerah pertindihan
yang sama tepat dengan tanda yang
berlawanan.
Mengapa Molekul H2 Stabil Sedangkan He2 Tidak
Stabil

Atom He berbeda dengan atom H karena memiliki dua


elektron, dan ini rumit karena dalam molekul He2 lalu
diduduki oleh sepasang elektron. Karenanya, apapun
kestabilan yang diperoleh dari penghunian , akan dilawan
oleh efek anti-ikatan elektron-elektron dalam . Hasilnya
adalah tidak adanya ikatan yang berarti, dan atom-atom
He lebih stabil secara terpisah daripada terikat bersama.
teori OM bagi diatom mononuklir pada
umumnya

Dua pokok penting yang perlu Contoh:


ditekankan pada diatom a. F2
mononuklir:
b. Li2
1. Makin berbeda kedua orbitas
atom, maka makin kurang
interaksinya dan makin kecil
energi ikatan potensialnya.
Molekul-molekul diatom heteronuklir

Perluasan teori kuantitatif bagi molekul diatom homonuklir ke


heteronuklir, seperti : CO dan NO. Dua set orbital atom yang berinteraksi
mempunyai energi yang berbeda.
Contoh : molekul NO.
Teori orbital molekul bagi molekul poliatom

Hal penting mengenai molekul poliatom/keempat OM adalah


sebagai berikut:
1. Dalam setiap OM ikatan, rapatan elektron besar dan
bersinambungan antara atom-atom yang berdekatan, sedangkan
dalam OM anti-ikatan terdapat simpul antara sepasang nti yang
berdekatan.
2. Dalam setiap OM, fungsi gelombangnya menunjukan bahwa
pasangan elektron yang menempatinya terbesar keseluruh
molekul, digunakan bersama oleh sekalian atom.
Pendekatan Ikatan Terlokalisasi

Keadaan Valensi
Keadaan dimana setiap elektron terletak dalam orbital yang
berlawanan, dan setiap spin harus saling dipisahkan, agar siap untuk
berpasangan lagi dengan spin elektron pada atom yang akan
digunakan untuk pengikatan.
Resonansi

Suatu molekul yang strukturnya sama tetapi konfigurasi elektronnya


berbeda.
Resonansi terjadi apabila suatu molekul dapat dinyatakan atau
digambarkan dengan lebih dari satu struktur yang satu sama lain
berbeda hanya pada susunan elektronnya, sedangkan intinya sama.
Resonansi hanya dapat terjadi antara struktur yang hubungannya
sangat dekat di mana posisi semua inti atom relatif sama.
Semua struktur harus memenuhi struktur Lewis.
Resonansi
Ikatan Tuna Elektron

Dalam beberapa molekul, tidak cukup terdapat elektron untuk


membiarkan terjadinya satu (atau lebih) pasang elektron antara
setiap pasang atom yang berdekatan. Molekul semacam itu disebut
tuna elektron.
Ikatan Tuna Elektron yaitu ikatan tiga pusat dua elektron
merupakan sejenis ikatan kimia yang kurang elektron, di mana
tiga atom saling berbagi dua elektron.
Ikatan sejenis ini banyak terlihat pada senyawa boron:
Diboran (B2H6)
Monomer senyawa ini, BH3, tidak stabil

Karena atom boron dikelilingi oleh enam elektron valensi,


sehingga untuk membentuk oktet, ia berbagi elektron dengan
ikatan B-H atom boron lainnya, membentuk ikatan 3-pusat-2-
elektron B-H-B.
Pada borana, terdapat dua ikatan berjenis ini:
Dua atom H menjembatani dua atom B dengan
sisa dua atom H merupakan ikatan B-H yang biasa
Bentuk Molekul
Merupakan gambaran secara teoritis susunan atom-atom dalam
molekul berdasarkan susunan ruang pasangan elektron ikatan (PEI)
dan pasangan elektron bebas (PEB) atom pusat.

Bentuk molekul dapat ditentukan dengan cara:


1. Model Tolakan Pasangan Eketron Kulit Valensi (VSEPR)
2. Hibridisasi atau Teori Valensi Terarah
Bentuk Molekul berdasarkan teori VSEPR

R. G. Gillesepie (1970), mengajukan teori VSEPR (Valance Shell


Electron Pair Repulsion) atau teori tolakan pasangan elektron
valensi
Pasangan-pasangan elektron akan berusaha saling menjauhi
sehingga tolak-menolak antara pasangan elektron menjadi
seminimal mungkin.
Jarak yang diambil oleh pasangan elektron bergantung pada
keelektronegatifan atom yang bersangkutan.
Urutan gaya tolak : pasangan elektron bebas (PEB) > pasangan
elektron terikat (PEI), ikatan rangkap 3 > ikatan rangkap 2 > ikatan
tunggal.
Notasi yang dipakai: A = atom pusat, X = atom yang berikatan (PEI)
dan E = elektron valensi yang tidak berikatan (PEB).
Cara meramalkan bentuk molekul (VSEPR)

Gambarkan struktur Lewis senyawa.


Hitung jumlah pasangan elektron (PE), jumlah PEI dan PEB yang
ada di sekitar atom pusat.
Memprediksi sudut-sudut ikatan yang mungkin berdasarkan jumlah
kelompok elektron dan arah-arah yang mungkin akibat tolakan
pasangan elektron bebas.
Tentukan rumus bentuk molekulnya/klasifikasi VSEPR.
Memberi nama bentuk molekul berdasarkan jumlah PEI dan PEB.
Bentuk molekul berdasarkan teori VSEPR
PE PEI PEB Klasifikasi VSEPR Bentuk molekul Contoh

2 2 0 AX2 Linier BeCl2, CO2, CS2, HCN,


FeCl2
3 0 AX3 Trigonal BF3, SO3, NO3-, CO32-
planar/segitiga
3 datar
2 1 AX2E Trigonal bentuk V SO2, SnCl2,

4 0 AX4 Tetrahedral CH4, CCl4, SO42-.

4 3 1 AX3E Trigonal pyramidal NH3, PF3, H3O+,

2 2 AX2E2 Planar bentuk V H2O, OF2, SCl2,

5 0 AX5 Trigonal bipyramidal PCl5, PF5, AsF5,

4 1 AX4E Seesaw (jungkat SF4, XeO2F2,


5 jungkit/bidang
empat
3 2 AX3E2 Planar bentuk T BrF3, ClF3,

2 3 AX2E3 Linier XeF2, I3-, IF2-,

6 0 AX6 Oktahedral SF6,


6
5 1 AX5E Pyramida segiempat BrF5, XeOF4,

4 2 AX4E2 Segiempat planar XeF4, ICl4-,


Pengaruh PEB
Hibridisasi

Jika atom akan membentuk ikatan dengan atom lain maka atom
tersebut harus merubah bentuk orbitalnya sehingga memiliki
bentuk dan tingkat energi yang sama.

Hibridisasi adalah peleburan orbital-orbital dari tingkat energy yang


berbeda menjadi orbital-orbital yang setingkat. Jumlah orbital hibrida
(hasil hibridisasi) sama dengan jumlah orbital yang terlibat pada hibridisasi
itu. Penjelasan bentuk molekul dengan menggunakan teori hibridisasi
berkaitan erat dengan teori diagram orbital.
Bentuk orbital sub kulit s dan p

Orbital s Px Py Pz
Molekul CH4
6 C : 1s 2 2s2 2p2

Atom C harus menyediakan 4 orbital dengan


e tunggal, karena akan mengikat 4 atom H

6C: 1 s2 2s1 2p3

Hibridisasinya sp3
Bentuk orbital 2s dan 2p

Bentuk terpisah

Pz
S
Px Py
Bentuk orbital 2s dan 2p

Bentuk terpisah

Pz
S
Px Py
Proses
Hibridisasi

S Px Py Pz

Setelah mengalami
hibridisasi
Hibrida
Hibrida siap menerima atom lain.
H

H
H

Karena yang mengalami hibridisasi terdiri 1 orbital S dan


3 orbital P, maka jenis Hibridisasinya sp3
Bentuk hibridanya Tetrahedral
H

H
H H

Antar Orbital dalam molekul saling


tolak menolak sehingga bentuk ruang
geometrinya sangat ditentukan oleh
jumlah Orbitalnya
Tabel : Berbagai macam tipe hibridisasi
Bentuk orbital
Orbital asal Orbital hibrida Besar sudut ikatan
hibrida
s, p Sp Linear 180
s, p, p sp2 Segitiga sama sisi 120
s, p, p, p sp3 Tetrahedron 109,5
s, p, p, p, d sp3d Bipiramida trigonal Ekuatorial=120
Aksial=90
s, p, p, p, d, d sp3d2 oktahedron 90
Panjang Ikatan

Panjang ikatan adalah jarak antara dua buah atom yang saling berikatan
atau jarak rata-rata antara inti dua atom yang terikat dalam molekul yang
berikatan kovalen.

Faktor-faktor yang menentukan panjang ikatan adalah


1. Jari-jari kovalen
2. Keelektronegatifan
3. Orde ikatan
Jari-jari Kovalen

Jari-jari kovalen adalah setengah dari jarak antara dua inti atom
homonuklear yang berikatan kovalen atau setengah dari jarak
ikatan antara dua atom yang identik.

Perbedaan panjang ikatan dalam ikatan antar molekul karena


perbedaan pada nomor atom dalam molekul-molekul tersebut.

Jika nomor atom dalam suatu molekul semakin besar maka


semakin besar jari-jari atom nya.
Keelektronegatifan

Panjang ikatan di pengaruhi oleh keelektronegatifan masing-masing


atom,
Semakin kecil perbedaan keelektronegatifan maka panjang ikatan akan
semakin besar, jadi panjang ikatan berbanding terbalik dengan
keelektronegatifan antara dua atom.
Orde Ikatan
Orde ikatan menunjukkan jumlah ikatan

Panjang ikatan berkurang dengan bertambahnya orde ikatan.


Makin tinggi orde ikatan, maka ikatannya semakin pendek, dan sebaliknya.

Namun makin tinggi orde ikatan suatu ikatan molekul, maka ikatan yang terjadi di
antara molekul semakin kuat.
Pada umumnya ikatan rangkap lebih kecil ikatannya dari ikatan tunggal.

Contoh:
Ikatan tunggal C-C ; rC-C = 1,54 A, artinya ikatan mempunyai orde ikatan = 1
Ikatan tunggal C=C ; rC-C = 1,33 A, yang berarti bahwa ikatan ini berorde
ikatan dua
Jari-jari atom

d Radius = d/2 d

Jari-jari logam/kovalen Jari-jari van der Waals


Jari-jari Van Der Waals

Jari-jari van der Waals digunakan untuk atom-atom tidak dapat


berikatan.
Jari-jari van der Waals diartikan sebagai jarak antara inti atom
dalam molekul-molekul yang tidak berikatan.
Jauh lebih besar daripada jari-jari kovalen dan pada garis
besarnya konstan bagi spesies isoelekktronik.
TERIMAKASIH
Ada pertanyaan?