Anda di halaman 1dari 23

ASPEK HUKUM

KESELAMATAN PASIEN

KULIAH PAKAR
BLOK ELEKTIF

DR RIMA SEMIARTY MARS


PENGERTIAN ASPEK HUKUM

HAKEKAT HUKUM Perlindungan


kepentingan manusia
Bentuk /Jenis hakekat hukum :
1. Peraturan Hukum Kekuatan Hukum
2. perundang-undangan mengikat

UNDANG-UNDANG

ALAT KEBIJAKAN
PEMERINTAH
UNDANG UNDANG KESEHATAN

UU no 29/2004 :UU Praktek Kedokteran


UU no 36/2009: Tentang Kesehatan
UU no 44/2009 : tentang Rumah Sakit
UU No 29/2004 : tentang PRAKTER
KEDOKTERAN

Norma hukum adminitrasi


Ketentuan pidana pasal 75-80
Menyangkut soal STR dan SIP
UU KESEHATAN NO 36/2009

Pasal 43 Keselamatan pasien (patient safety)

Proses dalam suatu Rumah sakit yang memberikan


pelayanan pasien yang lebih aman

Penjabarannya:
1.Assesment resiko
2.Identifikasi dan Manejemen resiko terhadap pasien
3.Pelaporan dan analisis insiden
4.Kemampuan untuk belajar &menindaklanjutin imsiden
5.Menerapkan solusi untuk mengurangi timbulnya resiko
UU 36/2009

Pasal 5 ayat (2), menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak dalam
memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau.

2. Pasal 19, menyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan


segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau.

3. Pasal 24 ayat (1), menyatakan bahwa tenaga kesehatan harus memenuhi


ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar
pelayanan, dan standar prosedur operasional.

4.Pasal 43 : Keselamatan pasien (patien safety) : proses dalam suatu


rumah sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman.

5. Pasal 53 ayat (3), menyatakan pelaksanaan pelayanan kesehatan harus


mendahulukan keselamatan nyawa pasien.

6. Pasal 54 ayat (1), menyatakan bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan


dilaksanakan secara bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan non
diskriminatif
Tanggung Jawab hukum keselamatan pasien
UU No.36/2009
Pasal 58 :
1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi
terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau
penyelenggara kesehatan yang menimbulkan
kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam
Pelkes yang diterimanya.
2) tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan
yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau
pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan
darurat.
DEFINISI PATIENT SAFETY

MENURUT IOM :
Freedom from accidental injury

Accidental injury disebabkan : error

Kegagalan Memakai rencana


perencanaan yang salah
OMISSION COMISION

TUJUAN
Accidental injury dalam Praktek

KTD (Adverse Even)


Hampir terjadi kejadian (near miss) disebabkan
karena :
1.Keberuntungan
2.Pencegahan
3.Peringanan
Tujuan Penerapan Keselamatan Pasien

1. Mengidentifikasi Pasien dengan Jelas


2. Meningkatkan komunikasi yang efektif
3. Meningkatkan keaman dari pemberian obat yang
membutuhkan pengawasan ketat
4. Menghilangkan salah posisi,salah pasien,salah
prosedur pembedahan
5. Menurunkan resiko imfeksi selama perawatan
6. Mengurangi resiko pasien dengan cedera akibat
jatuh
Keselamatan Pasien sebagai isu hukum

Pelaksanaan Pelayanan kesehatan harus


mendahulukan keselamatan nyawa pasien
Tujuan UU :
1.memberikan perlindungan : pasien,masyarakat,SDM
2.Mempertahankan & meningkatkan mutu RS
3.Memberi kepastian hukum kepada masyarakat
KEBIJAKAN yg Mendukung KESELAMATAN
PASIEN
UU No.44/2009
Pasal 43 :

1) RS wajib menerapkan standar keselamatan pasien

2) Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui


pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan
masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak
diharapkan.

3) RS melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada


komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan
oleh menteri

4) Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara


anonym dan ditujukan untuk mengoreksi system dalam rangka
meningkatkan keselamatan pasien
Contd

Pasal 29 dan 32
pelayanan kesehatan yang aman merupakan hak
pasien dan menjadi kewajiban rumah sakit untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang aman
Pasal 32 UU No.44/2009
Pasien berhak memperoleh dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit. keamanan dan
keselamatan
KEWAJIBAN MENERAPKAN STANDAR
KESELAMATAN PASIEN

UU Rumah Sakit secara tegas menyatakan bahwa


rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan
pasien. Standar dimaksud dilakukan dengan
melakukan pelaporan insiden, menganalisa dan
menetapkan pemecahan masalah. Untuk pelaporan,
rumah sakit menyampaikannya kepada komite yang
membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan
oleh menteri (Pasal 43)
Contd

UU Rumah Sakit juga memastikan bahwa tanggung


jawab secara hukum atas segala kelalaian yang
dilakukan tenaga kesehatan berada pada rumah
sakit bersangkutan (Pasal 46).
Mekanisme perlindungan dalam patient safety

Organ untuk melindungi keselamatan pasien di


rumah sakit lengkap karena UU Rumah Sakit
menyatakan pemilik rumah sakit dapat membentuk
Dewan Pengawas. Dewan yang terdiri dari unsur
pemilik, organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan
dan tokoh masyarakat itu bersifat independen dan
non struktural
Salah satu tugas Dewan adalah mengawasi dan
menjaga hak dan kewajiban pasien. Pada level yang
lebih tinggi, UU Rumah Sakit juga mengamanatkan
pembentukan Badan Pengawas Rumah Sakit
Indonesia. Badan yang bertanggung jawab kepada
Menteri Kesehatan itu berfungsi melakukan
pembinaan dan pengawasan terhadap rumah sakit.
Komposisi Badan terdiri dari unsur pemerintah,
organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan, dan
tokoh masyarakat (Pasal 57).
Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Departemen
Kesehatan telah pula menyusun Standar
Keselamatan Pasien Rumah Sakit dalam instrumen
Standar Akreditasi Rumah Sakit. Departemen
Kesehatan RI telah menerbitkan Panduan Nasional
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety)
edisi kedua pada tahun 2008 yang terdiri dari dari 7
standar
7 Standar Keselamatan Pasien

1. Hak pasien
2. Mendididik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan
pelayanan
4. Penggunaan metoda metoda peningkatan kinerja
untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan
keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan
keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk
mencapai keselamatan pasien
Tanggung jawab Hukum Rumah Sakit

Pasal 29b UU No.44/2009


Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,
antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan
kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan
Rumah Sakit.
b. Pasal 46 UU No.44/2009
Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap
semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang
dilakukan tenaga kesehatan di RS.
c. Pasal 45 (2) UU No.44/2009
Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan
tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia.
Bukan Tanggung Jawab RS

Pasal 45 (1) UU No.44/2009 Tentang Rumah sakit


Rumah Sakit Tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau
keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat
kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang kompresehensif.
4. Hak Pasien
a. Pasal 32d UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu
sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional
b. Pasal 32e UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang efektif dan efisien
sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi
c. Pasal 32j UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko
dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang
dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan
d. Pasal 32q UU No.44/2009
Setiap pasien mempunyai hak menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila
Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik
secara perdata ataupun pidana
Kesimpulan

1. Keselamatan pasien upaya melindungi


hak orang pelayanan kesehatan : mutu &
aman.
2. Peraturan perundang-undangan jaminan
kepastian perlindungan hukum terhadap semua
komponen dalam keselamatan pasien :pasien itu
sendiri,SDM rumah sakit dan masyarakat.
3. Ketentuan mengenai keselamatan pasien dalam
peraturan perundang-undangan memberi
kejelasan atas tanggung jawab hukum bagi semua
komponen tersebut.