Anda di halaman 1dari 35

Keperawatan endokrin II

Asuhan keperawatan pada pasien


anak dengan Atresia Bilier

Teguh Dwi Saputro


131511133090
A3 - 2015
ANATOMI
Hati (hepar) merupakan kelenjar aksesoris
terbesar dalam tubuh, berwarna coklat, dan
beratnya 1000 - 1800 gram. Hati terletak di
dalam rongga perut sebelah kanan atas di
bawah diafragma, sebagian besar terletak
pada regio hipokondria dan regio
epigastrium.

Hati dibagi dalam empat lobus :


Lobus Sinistra
Lobus Dekstra
Lobus Kaudatus
Lobus Kuadratus
Sistem Bilier Sistem bilier terdiri dari organ-organ dan
saluran (saluran empedu, kandung empedu,
dan struktur terkait) yang terlibat dalam
produksi dan transportasi empedu.

Ketika sel-sel hati mengeluarkan


empedu, yang dikumpulkan oleh sistem
saluran yang mengalir dari hati melalui
duktus hepatika kanan dan kiri. Saluran
ini akhirnya mengalir ke duktus hepatik.
Duktus hepatika kemudian bergabung
dengan duktus sistikus dari kantong
empedu untuk membentuk saluran
empedu, yang berlangsung dari hati ke
duodenum (bagian pertama dari usus
kecil).

Fungsi utama sistem bilier yang meliputi:


1. Untuk mengeringkan produk limbah
dari hati ke duodenum.
2. Untuk membantu dalam pencernaan
dengan pelepasan terkontrol empedu.
Atresia Bilier?
Atresia bilier adalah suatu defek kongenital yang merupakan hasil dari
tidak adanya obstruksi atau obstruksi pada salah satu atau lebih saluran
empedu pada ekstrahepatik atau intrahepatik (Yulianni, 2006).

Atresia bilier merupakan proses inflamasi progresif yang menyebabkan


fibrosis saluran empedu intrahepatik maupun ekstrahepatik sehingga
pada akhirnya akan terjadi obstruksi saluran tersebut (Donna L. Wong,
2010).

Jadi, kesimpulannya Atresia Bilier merupakan suatu penyakit yang


didapat pada kehidupan pascanatal dini akibat percabangan saluran
bilier yang sebelumnya paten menjadi sklerotik sehingga terbentuk
tidak adanya lumen pada traktus bilier ekstrahepatik yang menyebabkan
hambatan aliran empedu.
Atresia Bilier
Penyakit yang berat, tetapi sangat jarang terjadi
Rasio atresia bilier pada anak perempuan dan anak laki-laki adalah 2:1.
Atresia bilier dtemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran.

Di Amerika kurang lebih 1:10000-15000 kelahiran


hidup, dan lebih sering pada anak perempuan dan
prematur dibanding laki-laki. Sering terjadi pada bayi
Di dunia
Asia dan Afrika-Amerika dibanding dengan bayi
Caucasian.

Di rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada


tahun 2002-2003, mencapai 37-38 bayi atau 23 persen
dari 162 bayi berpenyakit kuning akibat kelainan
fungsi hati.
Di Instalasi Rawat Inap Anak RSU Dr. Suromo
Di Indonesia Surabaya antara tahun 1999-2001 dari 19270 penderita
rawat inap, didapat 96 penderita dengan penyakit
kuning gangguan fungsi hati di dapatkan atresia bilier
9 (9,4%)
Klasifikasi Atresia Bilier
Menurut Behrmen (2000) mengatakan bahwa klasifikasi Atresia bilier
berdasarkan tipe dari anatomis organ yang terganggu:
No. Tipe Keterangan

1. Tipe I Atresia sebagian atau totalis yang disebut duktus hepatikus komunis,
segmen proksimal paten.

2. Tipe IIa Obliterasi dari duktus kholedekus, duktus biliaris komunis, dan
duktus sistikus, duktus hepatikus normal.

3. Tipe IIb Atresia/obliterasi dari duktus biliaris komunis, duktus


hepatikus komunis, duktus sistikus dengan struktur kistik tampak
pada daerah porta hepatica, namun duktus kholedekus normal.
4. Tipe III Obliterasi pada semua sistem duktus bilier ekstrahepatika
sampai ke hilus. Lebih dari 90% pasien, atresia pada duktus hepatikus
kiri dan kanan setinggi porta hepatis. Variasi ini tidak boleh
dibingungkan dengan hipoplasia duktus biliaris intra hepatal, yang
tidak dapat dikoreksi dengan pembedahan.
Manifestasi Klinis
Ikterus/Jaundice
Penurunan berat
badan

Urin gelap dan Pasien dengan bentuk


terdapat noda fetal/neonatal
pada popok pertengahan liver bisa
teraba pada
epigastrium

Feses berwarna Adanya murmur


pucat jantung
Etiologi
Etiologi Atresia Billiary masih belum diketahui dengan pasti. Atresia Billiary terjadi antara
lain karena proses inflamasi berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan progresif pada
duktus bilier ekstra hepatik sehingga menyebabkan hambatan aliran empedu. Ada juga
sebagian ahli yang menyatakan bahwa faktor genetik ikut berperan, yang dikaitkan dengan
adanya kelainan kromosom trisomi 17, 18 dan 21 serta terdapatnya anomali organ pada 10-
30 % kasus Atresia Billiary. Namun, sebagian besar berpendapat bahwa atresia bilier adalah
akibat proses inflamasi yang merusak duktus bilier, bisa karena infeksi atau iskemi.

Kemungkinan yang "memicu" dapat mencakup satu atau kombinasi dari faktor-faktor
predisposisi berikut (Richard, 2009):
Infeksi virus atau bakteri
Masalah dengan sistem kekebalan tubuh
Komponen yang abnormal empedu
Kesalahan dalam pengembangan saluran hati dan empedu
Hepatocelluler dysfunction
Cont
Pada saat usia bayi mencapai 2-3 bulan, akan timbul
gejala berikut:
Gangguan pertumbuhan yang mengakibatkan gagal
tumbuh dan malnutrisi akibat defisiensi vitamin A, D,
E, K;
Gatal-gatal (pruritus);
Rewel dan sulit tenang;
Hepatomegali dan perut kembung; bahkan
Splenomegali yang menunjukkan sirosis secara
progresif dengan hipertensi portal (pembuluh darah
yang mengangkut darah dari lambung, usus dan limpa
ke hati).
Patofisiologi
Atresia bilier terjadi karena proses inflamasi progresif yang menyebabkan
kerusakan progresif pada duktus bilier ekstrahepatik sehingga menyebabkan
hambatan aliran empedu, dan tidak adanya atau kecilnya lumen pada sebagian atau
keseluruhan traktus bilier ekstrahepatik juga menyebabkan obstruksi aliran empedu.
Obstruksi saluran bilier ekstrahepatik dapat total maupun parsial. Obstruksi total
dapat disertai tinja yang alkoholik. Penyebab tersering obstruksi bilier ekstrahepatik
adalah: sumbatan batu empedu pada ujung bawah ductus koledokus, karsinoma
kaput pancreas, karsinoma ampula vateri, striktura pasca peradangan atau operasi.
Obstruksi pada duktus kholedokus ekstrahepatik menyebabkan obstruksi
aliran normal empedu dari hati ke kantong empedu dan usus. Akhirnya terbentuk
sumbatan yang menyebabkan cairan empedu refluks ke hati sehingga menyebabkan
peradangan, edema, dan degenerasi hati. Jika, asam empedu terakumulasi maka
dapat merusak hati. Bahkan hati menjadi fibrosis dan sirosis. Kemudian terjadi
pembesaran hati yang menekan vena portal sehingga mengalami hipertensi portal
yang akan mengakibatkan gagal hati. Selain itu, jika cairan empedu tersebar ke
dalam darah dan kulit, maka akan menyebabkan pruritus. Bilirubin yang tertahan
dalam hati juga akan dikeluarkan ke dalam aliran darah, yang dapat mewarnai kulit
dan bagian sklera mata sehingga berwarna kuning. Hal ini diakibatkan karena
degerasi secara gradual pada hati bahkan bisa terjadi hepatomegali. Selain itu, tidak
adanya aliran cairan empedu dari hati ke dalam usus, maka lemak dan vitamin yang
larut dalam lemak tidak dapat diabsorbsi, sehingga terjadi defisiensi vitamin A, D,
E, K yang mengakibatkan kegagalan dalam pertumbuhan.
Penatalaksanaan Medis

Terapi Medis Terapi Non Medis

Terapi Farmakologi Diet dan Nutrisi

Melindungi hati dari zat toksik, dengan Perawatan Paliatif


memberikan: Asam ursodeoksikolat, 310
mg/kgBB/hari, dibagi 3 dosis, per oral
Terapi bedah : Kasai Prosedur, Perawatan Suportif
Pencangkokan atau Transplantasi Hati
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Laboratorium. Yakni tes darah dan tes urin dan feses

Imaging. Yakni USG abdomen, Skintigrafi-HIDA scan, dan MRI dengan


MRCP

(a) (b) (c) (d)

Gambar Gambaran USG anak dengan Atresia bilier


Sumber: : (Soetikno, Rista D., 2012)

Gambaran Skintigrafi
Sumber: (Soetikno, Rista D., 2012)
Pemeriksaan Diagnostik
Diagnostik pasti. Yakni Intra operatif atau perkutaneus
kholangiografi melalui kandung empedu dan Endoscopic
retrograde cholangiopancreatography (ERCP)

Biopsi liver
Komplikasi Atresia Bilier
Kolangitis

Hipertensi portal

Hepatopulmonary syndrome dan hipertensi pulmonal

Keganasan

Hasil setelah gagal operasi Kasai


Prognosis

Keberhasilan portoenterostomi ditentukan oleh usia anak saat dioperasi,


gambaran histologik porta hepatis, kejadian penyulit kolangitis, dan pengalaman
ahli bedahnya sendiri. Bila operasi dilakukan pada usia < 8 minggu maka angka
keberhasilannya 71,86%, sedangkan bila operasi dilakukan pada usia > 8 minggu
maka angka keberhasilannya hanya 34,43%. Sedangkan bila operasi tidak
dilakukan, maka angka keberhasilan hidup 3 tahun hanya 10% dan meninggal
rata-rata pada usia 12 bulan. Anak termuda yang mengalami operasi Kasai
berusia 76 jam. Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan operasi adalah
usia saat dilakukan operasi > 60 hari, adanya gambaran sirosis pada sediaan
histologik hati, tidak adanya duktus bilier ekstrahepatik yang paten, dan bila
terjadi penyulit hipertensi portal (Dewi, Kristiana, 2010).
Asuhan Keperawatan Umum
Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada anak dengan
atresia bilier meliputi pengkajian anamnesa dan
beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan
fisik, diagnostik, penunjang, dll. Saat melakukan
pengkajian jangan lupa menuliskan ruangan,
tanggal MRS, Dx medis masuk, nomor registrasi,
jam dan tanggal pengkajian.
a. Identitas
Meliputi Nama, Umur, Jenis Kelamin dan data-data umum lainnya.
Umumnya Atresia billiaris lebih banyak terjadi pada perempuan.
Atresia bilier ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran. Rasio atresia
bilier pada anak perempuan dan anak laki-laki adalah 2:1.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama dalam penyakit Atresia Biliaris adalah Jaundice
dalam 2 minggu sampai 2 bulan.
Jaundice adalah perubahan warna kuning pada kulit dan mata bayi
yang baru lahir. Jaundice terjadi karena darah bayi mengandung
kelebihan bilirubin, pigmen berwarna kuning pada sel darah
merah.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Anak dengan Atresia Biliaris mengalami Jaundice yang terjadi dalam
2 minggu atau 2 bulan lebih, apabila anak buang air besar tinja
atau feses berwarna pucat. Anak juga mengalami distensi
abdomen, hepatomegali, lemah, pruritus. Anak tidak mau minum
dan kadang disertai letargi (kelemahan).
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya suatu infeksi pada saat Infeksi virus atau bakteri
masalah dengan kekebalan tubuh. Selain itu dapat juga
terjadi obstruksi empedu ektrahepatik. yang akhirnya
menimbulkan masalah dan menjadi factor penyebab
terjadinya Atresia Biliaris.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Anak dengan atresia biliaris diduga dalam keluarganya,
khususnya pada ibu pernah menderita penyakit terkait
dengan imunitas HIV/AIDS, kanker, diabetes mellitus,
dan infeksi virus rubella. Akibat dari penyakit yang di
derita ibu ini, maka tubuh anak dapat menjadi lebih
rentan terhadap penyakit atresia biliaris. Selain itu
terdapat kemungkinan adanya kelainan kongenital yang
memicu terjadinya penyakit atresia biliaris.
f. Riwayat Imunisasi
Imunisasi yang biasa diberikan yaitu BCG, DPT, Hepatitis, dan
Polio.
g. Riwayat Perinatal
1) Antenatal:
Pada anak dengan atresia biliaris, diduga ibu dari anak pernah
menderita infeksi penyakit, seperti HIV/AIDS, kanker, diabetes
mellitus, dan infeksi virus rubella.
2) Intra natal:
Pada anak dengan atresia biliaris diduga saat proses kelahiran
bayi terinfeksi virus atau bakteri selama proses persalinan.
3) Post natal:
Pada anak dengan atresia diduga orang tua kurang
memperhatikan personal hygiene saat merawat atau bayinya.
Selain itu kebersihan peralatan makan dan peralatan bayi lainnya
juga kurang diperhatikan oleh orang tua ibu.
H. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
Pemeriksaan tingkat perkembangan terdiri dari
adaptasi sosial, motorik kasar, motorik halus, dan
bahasa. Tingkat perkembangan pada klien atresia
biliaris dapat dikaji melalui tingkah laku klien maupun
informasi dari keluarga. Selain itu, pada anak dengan
atresia biliaris, kebutuhan akan asupan nutrisinya
menjadi kurang optimal karena terjadi kelainan pada
organ hati dan empedunya sehingga akan
berpengaruh terhadap proses tumbuh kembangnya.
I. Lingkungan
Kedaan lingkungan yang mempengaruhi timbulnya
atresia pada anak yaitu pola kebersihan yang
cenderung kurang. Orang tua jarang mencuci tangan
saat merawat atau menetekkan bayinya. Selain itu,
J. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : lemah
TTV :
Tekanan Darah : terjadi peningkatan terutama pada vena porta
Suhu : Suhu tubuh dalam batas normal
Nadi : takikardi
RR : terjadi peningkatan RR akibat diafragma yang tertekan
(takipnea)
Pemeriksaan B1-B6
BI : sesak nafas, RR meningkat.
B2: takikardi, berkeringat, kecenderungan perdarahan (kekurangan
vitamin K).
B3: gelisah atau rewel.
B4: urine warna gelap dan pekat.
B5: distensi abdomen, kaku pada kuadran kanan, asites, feses warna
pucat, anoreksia, mual, muntah, regurgitasi berulang, berat badan
menurun, lingkar perut 52 cm.
B6: ikterik pada sclera kulit dan membrane mukosa, kulit berkeringat
dan gatal (pruritus), oedem perifer, kerusakan kulit, otot lemah.
K. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
a) Bilirubin direk dalam serum meninggi (nilai normal bilirubin total <
12 mg/dl) karena kerusakan parenkim hati akibat bendungan empedu
yang luas.
b) Tidak ada urobilinogen dalam urine.
c) Pada bayi yang sakit berat terdapat peningkatan transaminase
alkalifosfatase (5-20 kali lipat nilai normal) serta traksi-traksi lipid
(kolesterol fosfolipid trigiliserol)
2) Pemeriksaan diagnostik
a) USG yaitu untuk mengetahui kelainan congenital penyebab
kolestasis ekstra hepatic (dapat berupa dilatasi kristik saluran empedu)
b) Memasukkan pipa lambung cairan sampai duodenum lalu cairan
duodenum di aspirasi. Jika tidak ditemukan cairan empedu dapat
berarti atresia empedu.
c) Sintigrafi radio kolop hepatobilier untuk mengetahui kemampuan
hati memproduksi empedu dan mengekskresikan ke saluran empedu
sampai tercurah ke duodenum. Jika tidak ditemukan empedu di
duodenum, maka dapat berarti terjadi katresia intra hepatik
d) Biopsy hati perkutan ditemukan hati berwarna coklat kehijauan
dan noduler. Kandung empedu mengecil karena kolaps. 75% penderita
tidak ditemukan lumen yang jelas
Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mengabsorpsi nutrien.
2. Gangguan pola nafas b.d hiperventilasi.
3. Kerusakan integritas kulit b.d gangguan
pigmentasi.
4. Ansietas b.d ancaman pada status terkini.
5. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan
aktif.
Intervensi Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mengabsorpsi nutrien.

NOC NIC

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Manajemen Nutrisi


- Tentukan status gizi klien dan kemampuan klien untuk
3x24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi / memenuhi kebutuhan gizi.
adekuat, kriteria hasil : - Identifikasi alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki
- Asupan gizi klien terpenuhi klien.
- Lakukan atau bantu klien terkait dengan perawatan mulut.
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi - Beri obat-obatan sebelum makan (mis., penghilang rasa
- Adanya peningkatan berat badan sesuai sakit, antiemetik).
dengan tujuan - Monitor kecenderungan terjadinya penurunan dan
kenaikan berat badan.
- Frekuensi mual dan muntah klien Manajemen Gangguan Makan
berkurang. - Rundingkan dengan ahli gizi dalam menentukan asupan
- Klien tidak mual dan muntah. kalori harian yang diperlukan untuk mempertahankan berat
badan.
- Klien memiliki rangsangan untuk makan. - Timbang berat badan klien secara rutin.
- Klien memiliki hasrat / keinginan untuk - Monitor intake / asupan dan asupan cairan secara tepat.
makan. - Gunakan teknik modifikasi perilaku untuk meningkatkan
perilaku yang berkonstribusi terhadap penambahan berat
- Intake makanan adekuat badan dan batasi perilaku yang mengurangi berat badan.
- Beri tanggung jawab terkait dengan pilihan-pilihan
makanan dan aktivitas fisik dengan klien.
Intervensi Keperawatan
2. Gangguan pola nafas b.d hiperventilasi.

NOC NIC

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Monitor tanda-tanda vital :


selama 3x24 jam pola nafas klien kembali - Monitor tanda-tanda vital (TD, Nadi,
efektif, kriteria hasil : pernafasan, suhu).
- Monitor pernafasan sebelum, sesudah,
- Frekuensi pernafasan normal (12-20x/
selama dan setelah beraktivitas.
menit) - Monitor irama dan laju pernafasan.
- Irama pernafasan normal - Monitor pola pernafasan abnormal.
- Tidak ada suara nafas abnormal - Monitor sianosis.
(ronchi, wheezing) Monitor pernafasan :
- Tidak ada penggunaan otot bantu nafas. - Catat pergerakan dada, ketidaksimetrisan,
- Tidak ada dispnea. penggunaan otot-otot bantu nafas.
- Klien tidak mengalami sianosis - Monitor saturasi oksigen.
- Auskultasi suara nafas.
- Saturasi oksigen normal (95-100%)
- Monitor keluhan sesak nafas klien termasuk
kegiatan yang meningkatkan atau yang
memperburuk.
Intervensi Keperawatan
3. Kerusakan integritas kulit b.d gangguan pigmentasi.

NOC NIC

Manajemen Pruritus
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
- Tentukan penyebab dari terjadinya pruritus.
tidak ada kerusakan intergitas kulit - Lakukan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi terjadinya
kerusakan kulit.
pada klien, kriteria hasil: - Pasang perban atau balutan pada tangan atau siku ketika klien
tidur untuk membatasi gerakan menggaruk yang tidak terkontrol.
- Suhu kulit klien normal - Berikan antipruritik.
Pengecekan Kulit
- Tekstur kulit klien normal - Periksa kulit dan selaput lendir terkait dengan adanya
- Integritas kulit klien normal kemerahan, kehangatan ekstrem, edema atau drainase.
- Amati warna, kehangatan, bengkak, pulsasi, tekstur, edema dan
- Tidak ada pigmentasi yang ulserasi pada ekstremitas.
- Monitor warna dan suhu kulit.
abnormal - Ajarkan anggota keluarga/ pemberi asuhan mengenai tanda-
tanda kerusakan kulit.
- Efek terapeutik yang diharapkan Pemberian Obat: Kulit
- Perubahan gejala yang diharapkan - Ikuti prinsip 5 benar pemberian obat.
- Catat riwayat medis klien dan riwayat alergi.
- Tidak ada reaksi alergi - Tentukan pengetahuan klien mengenai medikasi dan pemahaman
klien mengenai metode pemberian obat.
- Tidak ada intoleransi pengobatan - Ajarkan dan monitor teknik pemberian obat mandiri.
Intervensi Keperawatan
4. Ansietas b.d ancaman pada status terkini.

NOC NIC

Pengurangan Kecemasan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
- Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
selama 3 x 24 jam diharapkan klien tidak - Pahami situasi krisis yang terjadi dari perspektif klien.
- Berada disisi klien untuk meningkatkan rasa aman dan
merasa cemas terhadap kondisinya, kriteria
mengurangi ketakutan.
hasil : - Dorong keluarga untuk mendampingi klien dengan cara
yang tepat.
- Klien dapat beristirahat dengan baik - Dengarkan klien
- Klien tidak merasa gelisah lagi - Identifikasi pada saat terjadi perubahan tingkat kecemasan.
Teknik menenangkan
- Klien tidak menunjukkan wajah tegang
- Pertahankan sikap yang tenang dan hati-hati.
- Tidak ada gerakan meremas-remas - Pertahankan kontak mata.
- Kurangi stimuli yang menciptakan perasaan takut maupun
tangan
cemas.
- Klien mendapat dukungan social dari - Yakinkan keselamatan dan keamanan klien.
- Berikan waktu dan tempat untuk menyendiri.
keluarga
- Instruksikan klien untuk menggunakan metode mengurangi
- Klien mendapat dukungan social dari kecemasan (mis, teknik bernafas dalam, distraksi,
visualisasi, meditasi, relaksasi otot progressif, mendengar
teman-temannya
musik lembut).
- Hubungan klien dengan keluarga baik
Intervensi Keperawatan
5. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif.

NOC NIC

Manajemen cairan
Setelah dilakukan tindakan
- Jaga intake/ asupan yang akurat dan catat output klien.
keperawatan selama 3x24 jam - Monitor status hidrasi (mis, membran mukosa lebab,
denyut nadi adekuat, dan tekanan darah ortostatik).
volume cairan klien adekuat, - Berikan cairan, dengan tepat.
Monitor cairan
kriteria hasil: - Tentukan jumlah dan jenis intake/asupan cairan serta
kebiasaan eliminasi.
- Turgor kulit klien baik. - Tentukan faktor-faktor risiko yang mungkin menyebabkan
ketidakseimbangan cairan (mis, poliuria, muntah).
- Membran mukosa lembab. - Tentukan apakah pasien mengalami kehausan atau gejala
perubahan cairan (mis, pusing, mual).
- Intake dan ouput cairan klien - Monitor membran mukosa, turgor kulit, dan respon haus.
- Monitor warna, kuantitas, dan berat jenis urine.
seimbang.
- Klien tidak mengalami haus.
Asuhan Keperawatan Kasus
Analisa Data
Data Etiologi MK

DS: Obstruksi aliran dari hati Ketidakseimbangan nutrisi


Menurut ibu keinginan kedalam usus : kurang dari kebutuhan
anak untuk minum ASI tubuh
Atresia Bilier
berkurang
DO: Cairan asam empedu balik ke
Perut membesar hati
Distensi Abdomen
Feces lunak, berwarna Kerusakan duktus empedu
pucat ekstrahepatik
Albumin 3,7 g/dL
Kekurangan penyerapan
lemak

Kekurangan vitamin larut


lemak

Nutrisi kurang

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
Analisa Data
Data Etiologi MK

DS: Pengingkatan kadar Kerusakan integritas kulit


Ibu mengatakan anak bilirubin
kuning sejak lahir
DO: Keluar ke aliran darah dan
Anak tampak kuning kulit
SGOT : 237 U/L
SGPT : 119 U/L Tersebar di kulit
Total bilirubin 16,79 mg/dL
Lengan bagian bawah dan Pruritus
tungkai bawah terlihat
kering Gangguan integritas kulit
Kulit terkelupas
Analisa Data
Data Etiologi MK

DS: Atresia Bilier Ansietas


Ibu menghawatirkan Cairan asam empedu balik ke hati
kondisi anak karena tidak
kunjung sembuh Gangguan suplai darah
DO:
Kerusakan duktus empedu
Orang tua tampak gelisah ekstrahepatik
dan bingung
Kerusakan sel ekskresi

Peningkatan Bilirubin

Kekuningan pada kulit dan mata

Ikterus

Kurang pengetahuan

Ansietas
Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mengabsorpsi nutrien.
2. Kerusakan integritas kulit b.d gangguan
pigmentasi.
3. Ansietas b.d ancaman pada status terkini.
Intervensi Keperawatan
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mengabsorpsi nutrien.

NOC NIC

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Nutrisi


- Tentukan status gizi anak dan kemampuan anak
selama 3x24 jam kebutuhan nutrisi anak
untuk memenuhi kebutuhan gizi.
terpenuhi / adekuat, kriteria hasil : - Tentukan apa yang jadi preferensi makan bagi
- Asupan gizi anak terpenuhi anak
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi - Tentukan jumlah kalori dan nutrisi untuk
memenuhi persyaratan gizi
- Anak memiliki rangsangan untuk - Monitor kalori dan asupan makan pada anak
minum ASI. Monitor Nutrisi
- Anak memiliki hasrat / keinginan untuk - Monitor intake dan output
- Timbang berat badan anak secara rutin.
minum ASI.
- Monitor pertumbuhan dan perkembangan anak
- Intake nutrisi adekuat - Identifikasi abnormalitas kulit
- Serum albumin dalam rentang normal - Identifikasi perubahan nafsu makan dan aktifitas
(3,8-5,4 mg/dL) akhir akhir ini
- Lakukan pemeriksaan laboratorium dan monitor
hasilnya.
Evaluasi keperawatan
1. Nutrisi anak terpenuhi
2. Anak tidak mengalami gangguan integritas
kulit
3. Anak tidak ansietas