Anda di halaman 1dari 70

NENNY IKA PUTRI, M.

Psi
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN
2010
I. Gangguan Identitas Jenis
(Gender Identity Disorders)

Ditandai oleh perasaan tidak


senang (discomfort) dan tidak
sesuai terhadap alat jenis
kelaminnya, dan perilaku menetap
yg mirip dg perilaku lawan
jenisnya. Contoh :
Transseksualisme
Ditandai oleh adanya kegairahan
seksual terhadap benda (objek)
atau situasi seksual yg tidak
merupakan bagian dari pola
aktifitas rangsang seksual yg lazim
dan yg dlm pelbagai taraf dapat
menghambat kemampuan untuk
aktivitas seksual mesra secara
terbalik
Contoh :
Zoofilia (302.10)
Pedophilia (302.20)
Transvestisme (302.30)
Exhibitionism (302.40)
Fetishism (302.81)
Voyeurism (302.82)
Masochism seksual (302.83)
Sadism seksual
Ditandai oleh hambatan dlm selera seksual atau
perubahan psikofisiologik yg khas dari siklus
respons seksual. Contoh :
Hambatan selera seksual (302.71)
Hambatan gairah seksual (302.72)
Hambatan orgasme wanita (302.73)
Hambatan orgasme pria (302.74)
Ejakulasi prematur (302.75)
Dispareunia fungsional (302.76)
Vaginismus fungsional (306.51)
Gambaran Utama. Ketidak sesuaian antara alat
kelamin dengan identitas jenis (gender identity)
Identitas Jenis :
Perasaan seseorang tergolong dalam jenis kelamin
tertentu
Kesadaran bahwa dirinya adalah pria atau wanita
Suatu penghayatan pribadi dari peran jenis (gender
rule)
Peran jenis
Pernyataan terhadap masy dari identitas jenisnya
Segala sesuatu yg dilakukan atau dikatakan oleh
seseorang termasuk gairah seksual untuk
menyatakan pada orang lain atau diri sendiri sampai
berapa jauhnya dirinya itu pria atau wanita
Terdiri dari 4 subtipe, sesuai dgn yg paling
dominan dalam riwayat seksual sebelumnya :
1. Aseksual
Individu mengatakan tidak pernah berhasrat
dan bergairah seksual yg kuat. Kadang-kadang
ada sedikit atau tidak ada sama sekali aktivitas
seksual, atau perasaan menyenangkan yg
didapat dari alat kelaminnya
2. Homoseksual
3. Heteroseksual
Dalam masa anak-anak sudah mempunyai
masalah identitas jenis, meskipun demikian,
beberapa diantaranya mengatakan bahwa hal
itu hanya diketahui oleh mereka sendiri dan
tidak nyata di mata keluarga ata kawan-
kawan mereka.
Untuk subtipe aseksual atau homoseksual,
biasanya sindrom lengkap timbul pada akhir
masa remaja atau usia dewasa muda.
A. Terdapat perasaan tidak senang dan tidak sesuai
terhadap alat kelamin
B. Keinginan untuk menghilangkan alat kelaminnya
dan hidup sebagai lawan jenisnya
C. Gangguan ini terjadi terus menerus (tidak terbatas
dalam periode stress), selama paling sedikit 2
tahun
D. Tidak ada keadaan interseks biologik (fisik) atau
abnormalitas genetik
E. Tidak di sebabkan oleh gangguan mental lain
seperti Schizophrenia
Diagnosa differensial:
Anak-anak dg perilaku yang tidak sesuai
dg jenis kelamin mereka menurut norma-
norma kebudayaan.
Abnormalitas alat kelamin
Contoh : Anak perempuan tomboy
Keinginan yg kuat dan menetap
untuk menjadi anak laki-laki atau
bersikeras menyatakan bahwa
dirinya seorang anak laki-laki, bukan
semata-mata berkeinginan untuk
menjadi anak laki-laki, karena secara
kebudayaan menjadi laki-laki lebih
menguntungkan.
Penolakan yg menetap akan struktur
anatomik yg bermanifestasi secara berulang
oleh paling sedikit satu dari pernyataan
berikut ini :
1. Bahwa dirinya akan tumbuh menjadi laki-
laki (bukan hanya dalam peranan laki-laki
saja)
2. Bahwa secara biologik ia tidak bisa hamil
3. Bahwa ia tidak mempunyai vagina
4. Bahwa pada dirinya tidak akan
berkembang payudara
5. Bahwa pada dirinya telah ada atau akan
tumbuh penis
Keinginan yg kuat dan menetap untuk menjadi
anak wanita atau bersikeras bahwa dirinya
seorang anak wanita. Terdapat salah satu dari yg
berikut ini :
1. Penolakan yg menetap akan struktur anatomik
pria, yg bermanifestasi secara berulang oleh
paling sedikit satu dari pernyataan berikut ini
a. Bahwa dirinya akan tumbuh menjadi wanita
(bukan hanya peranan wanita saja)
b. Bahwa penis dan testisnya menjijikan atau
akan menghilang
c. Bahwa lebih baik bila tidak mempunyai penis
atau testis sama sekali.
2. Terdapat preokupasi dengan
aktivitas stereotipik wanita, yg
dimanifestasikan oleh kesenangan
untuk memakai baju wanita atau
meniru pakaian wanitaatau
keinginan yg kuat ikut dalam
permainan anak wanita. Usia timbul
gangguan ini sebelum masa
pubertas
Parafilia = deviasi
seksual
(terjadi penyimpangan tdk menyukai
lawan jenisnya)
Perlu khayalan/perbuatan tak lazim/aneh untuk
mendapatkan gairah seksual. Khayalan perbuatan itu
cenderung berulang secara involunter (tidak bisa dikuasai
lagi) dan bersifat mendesak dan meliputi hal hal :
Lebih menyukai/memilih benda (bukan manusia untuk
menimbulkan kegairahan seksual
Aktivitas seksual dengan manusia secara berulang yg
mencakup penderitaan/penghinaan, baik yg dibuat-
buat (simulasi) maupun yg sungguh, atau
Aktivitas seksual berulang dengan pasangan yang tidak
menghendaki atau menginginkannya.
Khayalan parafilia dapat membahayakan diri
pasangannya (misalnya dalam keadaan sadisme
seksual berat) atau dirinya sendiri (masokisme seksual
berat)
Karena dari beberapa ggn in berkaitan
dg pasangannya yg tidak
menghendaki/menginginkan hal itu,
maka keadaan itu sering berkaitan
dengan aspek hukum dan masyarakat
Parafilia dapat terjadi secara berganda
atau bersamaan dengan gangguan jiwa
lainnya, seperti schizophrenia atau
pelbagai jenis gangguan keperibadian
perlu dibuat diagnosa ganda
Zoofilia ini tidak untuk orang yg di
padang gurun/medan perang, terpaksa
melakukan zoofilia karena tidak
memungkinkan adanya wanita
misalnya.
Aktivitas dapat berupa persetubuhan
atau binatang itu diajar untuk
menjilat/menggosok alat kelamin
parafiliak. Seringkali binatang itu sudah
lama tinggal bersama penderita
Diagnosis differensial
Aktivitas seksual patologik dengan
binatang
Kriteria diagnosis
terdapat perbuatan/fantasi
mengadakan aktivitas seksual
dengan hewan yg berulang kali, lebih
disukai sebagai satu-satunya cara
untuk menimbulkan gairah seksual
Paling banyak adalah seksual abuse,
disamping physical abuse.
Umumnya terjadi pada orang-orang
yg:
lemah, impoten, imatur dan sering pada
orang dengan retardasi mental atau
orang tua yang terisolasi.
Diagnosis differensial
Retardasi mental
Sindrom kepribadian organik
Intoksikasi alkohol
Schizophrenia
Ekshibisionisme
Sadisme seksual
A. Perbuatan/fantasi untuk melakukan
aktivitas seksual dengan anak
prapubertas yg berulang kali, lebih
disukai sebagai satu-satunya cara
untuk mendapatkan gairah seksual.
B. Pada individu dewasa dimana beda
usia dengan anak paling sedikit 10
tahun.
Lebih sering terjadi pada pria, dan ibu penderita
sebetulnya menginginkan seorang anak wanita
sehingga merawat/membesarkan penderita
sebagai seorang wanita
Transvestisme tidak boleh disamakan dengan
homoseksual oleh karena orientasinya tetap
hubungan heteroseksual dan pergaulan
sosialnya juga dengan jenis kelamin
berlawanan. Mereka seringkali dapat menikah
Biasa mulai pd usia 5-14 thn bersamaan dengan
pemakaian pakaian wanita dan pemuasan
seksual melalui masturbasi.
Kriteria diagnosis:
Transseksualisme
Pemakaian pakaian lawan jenis untuk
menghilangkan ketegangan/perasaan tak
senang tentang identitas jenis
Female impersonators
Pria homoseksual
Fetihisme
Jenis parafilia yg paling sering muncul
Penderita biasanya putra dari seorang ibu yg
dominan, agresif, menyesalkan peranan wanitanya
dan menjalankan hidupnya melalui anak-anaknya
terutama putra-putrinya. Sang ayah merupakan
seorang yg lemah, kurang efektif dan sedikit
pengaruhnya terhadap perkembangan emosional
penderita. Hal ini menyebabkan penderita
mengidentifikasikan dirinya kepada ibunya timbul
keinginan incest tetapi hal ini disadari terlarang
mekanisme pertahanan tak sadar yg bersifat
kompulsif dg memperlihatkan alat kelamin untuk
meyakinkan dirinya terhadap bahaya kastrasi.
Keadaan ini sering bercampur dengan pedofilia,
voyeurisme dan homoseksual
Diagnosis Differensial
Perilaku memperlihatkan alat kelamin
secara berulang tanpa menghayati
rangsang seksual pada penderita ggn
jiwa lain.
Pada pedofilik dpt terjadi perilaku
memperlihatkan alat kelamin sebagai
tindakan permulaan untuk melakukan
aktivitas seksual dg anak
Perilaku berulang dg
mempertunjukkan alat kelaminnya
secara tak terduga kepada org yg tak
dikenal, dg tujuan untuk mendapat
kegairahan seksual tanpa upaya
lanjut untuk mengadakan aktivitas
seksual dg org yg tak dikenalnya itu
Khusus terdapat pd pria
Benda-benda fetish mempunya nilai genital dan
bertujuan untuk mengakal perbedaan anatomi dari
pria dan wanita
Fetihisme biasanya dianggap sebagai subtitusi adanya
dorongan genital terhadap rasa takut akan kastrasi
Beberapa psikoanalisa menganggap fetihisme sebagai
usaha untuk mendapatkan identifikasi ego melalui
kontak dg benda pengganti yg memberi kepuasan
Pada anak-anak yg tdk bisa dipisahkan dari boneka,
selimut, sarung bantal, dll dpt dianggap sbg usaha
pemuasan pada saat tak ada ibu. Sehingga benda-
benda fetis dapat dianggap pemuasan keinginan
pregenital
Eksperimen seksual yg
tidak patologik
Transvestisme
Penggunaan benda (fetish) yg
berulangkali lebih disukai sebagai
satu-satunya cara untuk
mendapatkan kegairahan seksual.
Benda fetish yg digunakan tdk
terbatas pada perangkat pakaian
wanita yg biasa diapakai pada
transvestisme atau pada alat khusus
untuk merangsang gairah seksual
(seperti vibrator)
Penderita voyeurisme sering mempuyai
perasaan takut utuk melihat langsung dan tak
dapat menerima pandangan/tatapan orang lain.
Pada masa kecil penderita sering melihat
ibunya telanjang. Ia tak berani mengadakan
hubungan seks oleh karena bayangan
ketakutan akan persatuan dengan ibunya
Penderita biasanya melakukan masturbasi pada
waktu mengintip dan sering menikmati fantasi
agresif dan tindakan pembun uhan terhadap
wanita.
Perilaku yg berulang dg cara
melihat/mengintip orang lain telanjang,
membuka pakaian atau melakukan
aktivitas seksual tanpa sepengetahuan
mereka, dan tidak ada usaha lanjut
untuk melakukan aktivitas seksual dg
orang yg dilihat/diintipnya itu.
Perilaku melihat/mengintip itu adalah
cara yang berulang kali lebig disukai
atau satu-saunya cara untuk
mendapatkan kegairahan seksual.
Berasal dari nama org yaitu Sacher Masoch yg
juga merupakan seorang masokhis
Masokisme mungkin berasal dari proses
identifikasi seorang anak pada seseorang yg
sedang dihukum dan pada saat bersamaan
mengalami kenikmatan / kegairahan seksual
ketika rasa nyeri diberikan oleh seorang yg
dicintai. Misalnya seorang anak menyenangi
pukulan seorang saudara saingannya. Dengan
menderita, seorang melatih kepuasan (power) dg
menyebabkan rasa bersalah pada objek yg cinta
yg diingini, yg memberikan kepuasan seksual
Fantasi yg bersifat masokistik
Ciri kepribadian masokistik
Salah satu dari kedua hal berikut
Bahwa caa yg lebih disukai atau satu-satunya
untuk mendapatkan kegairahan seksual yaitu
dg cara dihina, diikat, dipukul atau
penderitaan lainnya.
Individu itu dengan sengaja turut dalam
aktivitas dimana ia mendapat penderitaan
atau rudapaksa jasmani atau kehidupannya
terancam demi tercapainya kegairahan seks.
Tulisan otobiografi Marquis De Sade pertamakali
menggambarkan hubungan antara seksualitas
dengan kekeasan
Mula-mula penderita sering berfantasi + masturbasi
melakukan tindak kekerasan + penghinaan
terhadap objek tertentu timbul kegairahan
seksual
Kraff Ebing (1882): memandang sadisme sebagai
suatu keinginan untuk menaklukan orang lain,
dengan kekuasaan sebagai tenaga motivasinya
Para psikoanalisa memandang sadisme sebagai
pelampiasan (acting out) keinginan-keinginan
terhadap korban yg telah ditransfernya dg
perasaan-perasaan ambivalen tentang seksualitas
Terhadap pasangan yg tidak menginginkan hal
itu, individu telah secara berulang kali dan
dengan sengaja menimbulkan penderitaan
psikologi/fisik agar timbul kegairahan seksual.
Dengan pasangan yg memang menginginkan hal
itu, cara yg berulang kali telah disukai atau satu-
satunya cara untuk mendapat kegairahan seksual
adalah dengan melakukan kombinasi penghinaan
dengan penderitaan yg dibuat-buat, atau
penderitaan fisik dengan cedera ringan. Terhadap
pasangan yg menginginkan hal itu menimbulkan
cedera fisik berat, luas, permanen, atau bahkan
dapat berakhir dengan kematian agar tercapainya
kegairahan seksual.
Koprofilia (feces)
Fronturisme (menggosok)
Klismafilia (enema)
Misofilia (kotoran)
Nekrofilia (mayat)
Urofilia (urin)
Skatologia (bicara kotor melalui
telepon)
Gambaran Utama
Terdapat hambatan (inhibisi) pada
selera (appetitive) atau perubahan
patofisiologik yg merupakan ciri khas
dari siklus respon seksual yg lengkap.
Siklus ini terdiri dari 4 fase:
Selera (Appetitive)
Gairah (Excitement)
Orgasme
Resolusi
FANTASI TENTANG AKTIVITAS SEKS
dan KEINGINAN untuk MELAKUKAN
AKTIVITAS SEKS
Perasaan senang seks secara subjektif. Dan
perubahan-perubahan fisiologik yg menyertainya
Pada Pria
Pembesaran penis ereksi
Sekresi kelenjar Cowper
Pada Wanita
Vasokongesti menyeluruh dalam pelvis dengan
pelumas vagina dan pembengkakan genetalia luar.
Perkembangan platform organik yg berupa
penyempitan 1/3 dinding luar vagina oleh karena
ketegangan otot pubokoksingeal dan
vasokongesti; vasokongesti labia minor;
pembengkakan buah dada, perpanjangan +
pelebaran 2/3 dinding dalam vagina
Pemuncakan kepuasan seks dengan
pelepasan ketegangan seks dan
kontraksi ritmik otot-otot perineum dan
alat-alat reproduksi dalam pelvis. Pada
pria terjadi perasaan ejakulasi yg tidak
dapat ditahan lagi dan diikuti oleh
pengeluaran air mani (kontraksi prostat,
vesikula seminal, uretera). Pada wanita
kontraksi 1/3 dinding luar vagina. Baik
pria dan wanita sering terjadi kontraksi
otot menyeluruh seperti gerakan
involunter pelvis ke depan
Relaksasi dan rasa puas yg menyeluruh
serta relaksasi otot. Selama fase ini pria
secara fisiologik tak dapat (refraktor) ereksi
dan orgasme untuk suatu periode tertentu.
Sebaliknya wanita dapat hampir segera
menanggapi stimulasi tambahan.
Hambatan dapat timbul pada satu atau
lebih fase, meskipun hambatan pada fase
resolusi jarang bermakna secara klinis
Disfungsi dapat bersifat menetap
seumur hidup, atau didapat
imbangan sesudah suatu periode
berfungsi (sementara), menyeluruh
atau situasional terbatas pada situasi
(pasangan tertentu), dan total, atau
sebagian derajat (frekuensi
gangguan itu). Pada beberapa kasus
perlu ditelaah apakah disfungsi
timbul juga sewaktu masturbasi.
Depresi, cemas, rasa salah, malu,
frustasi dan keluhan somatik
Ketakutan gagal dan sensitivitas luar
biasa terhadap reaksi pasangannya
Paling sering dalam usia dewasa
muda (awal 30-an dan akhir 20-an)
Untuk ejakulasi prematur
perjumpaan seksual pertama kali
Usia dewasa lanjut hambatan
gairah seksual pada pria
Komplikasi
Gangguan dlm hubungan perkawinan
atau seksual
Pada wanitas ciri kepribadian
histrionik hambatan gairah seks dan
hambatan orgasme
Pada prias ciri kepribadian kompulsif
hambatan selera dan gairah seks
Kecemasan ejakulasi prematur
Sikap negatif terhadap seksualitas
akibat pengalaman tertentu, konflik
internal, berpegang teguh kepada nilai-
nilai budaya tertentu yg kaku
Sering ditemukan khususnya dalm
bentuk ringan
Hambatan selera seks +
orgasme pada wanita lebih
banyak daripada pria
Dispareunia fungsional pada
wanita lebih banyak daripada
pria
Depresi berat
Gangguan kepribadian
Gejala sementara akibat robekan selaput
dara hambatan gairah seks
Keadaan sementara dari kegagalan ereksi
penis oleh karena kelelahan, kecemasan,
alkohol dan obat-obatan
Problem perkawinan atau problem hubungan
interpersonal lainnya
Keadaan dengan stimulus seks tidak
adekuat, baik dalam fokus, intensitas atau
lamanya stimulus
Kriteria Diagnosis
Terapat hambatan selera seks yg
enetap serta meresap (pervasif).
(perhitungan faktor: umur, jenis
kelamin, kesehatan, intensitas dan
frekwensi selera seks, konteks
kehidupan individu)
Faktor organis tidak ada
Gangguan jiwa lain pada axis I tidak
ada
Termasuk frigiditas dan
impotensi psikogenik
(karena faktor
psikologis bukan
karena faktor fisik)
A. Hambatan yg berulang dan menetap dari
gairah selama aktivitas seks yang
bermanifestasi sebagai berikut :
1. Pada pria terdapat kegagalan
sebagian/menyeluruh untuk mencapai
atau mempertahankan ereksi sampai
akhir aktivitasseks, atau
2. Pada wanita terdapat kegagalan
sebagian/menyeluruh untuk mencapai
atau mempertahankan respon
pelumasan dan pembengkakan alat
kelamin yg merupakan respon gairah
seks sehingga akhir dari aktivitas seks
B. Penilaian klinik bahwa individu itu
melakukan aktivitas seks yg cukup
adekuat dalam fokus, intensitas dan
lamanya
C. Faktor organik tidak ada

Gangguan jiwa lain pada aksis I tidak


ada
Hambatan orgasme pada wanita yg berulang
dan menetap serta bermanifestasi sebagai
keterlambatan atau tiodak terjadinya orgasme
setelah terjadi fase gairah yg cukup kuat dalam
fokus, intensitas dan lamanya individu itu
mungkin pula memenuhi kriteria hambatan
gairah seks. Apabila pada saat-saat lain
terdapat masalah selama fase gairah dari
aktivitas seks. Dalam hal demikian kedua
kategori diagnosa disfungsi psikoseksual harus
dicatat
Faktor organik dan gangguan jiwa lain pada
aksis I tidak ada
Kriteria diagnosis
Sama dengan wanita kecuali kata
orgasme diganti dengan ejakulasi
1. Ejakulasi yg terjadi sebelum individu
itu menghendaki karena secara
berulang dan menetap tidak ada
pengendalian volunter yg wajar
terhadap ejakulasi dan orgasme
selama aktivitas seks (pertimbangan
faktor umur, ciri pasangan seks,
frekwensi serta lamanya senggama)
2. Gangguan jiwa pada aksis I tidak ada
Kriteria Diagnosis
A. Rasa nyeri berulang dan menetap
pada alat kelamin pada waktu
senggama baik pada wanita
maupun wanita
B. Gangguan fisik/kurang pelumasan
dalam vagina/vaginismus
fungsional/gangguan jiwa lain pada
aksis I tidak ada
Dikategorikan sebagai faktor
psikologik yg mempengaruhi
kondisi fisik
Kriteria diagnostik
A. Terdapat riwayat yg berulang dan
menetap dari spasme involunter
otot 1/3 bagian luarvagina sehingga
menghalangi senggama
B. Gagguan fisik/jiwa lain pada aksis I
tidak ada
Terapi disfungsi seksual: bila ada
cemas/depresi beri antisiolotik/anti
depresan
Konseling pernikahan
Psikoterapi individual untuk pasien
dengan kepribadian neurotik
Terapi tingkah laku : sex therapy
Master dan Johnson
Prognosis : baik bila mempunyai fungsi
seksual yg adekuat sebelumnya
Termasuk lesbianisme yg ego-
distonik
Homoseksualitas: rasa tertarik
secara perasaan (kasih sayang,
hubungan emosional) dan atau
secara erotik, baik secara
predominan (lebih menonjol)
maupun eksklusif (semata-mata)
terhadap orang-orang yg berjenis
kelamin sama, dengan atau tanpa
hubungan fisik (jasmaniah)
Homoseksualitas dan
heteroseksualitas adalah suatu
kontinum dengan pelbagai gradasi
kelabu diantaranya ada 7 gradasi:
1. Heterosexual exclusive (semata-mata)
2. Heteroseks predominan (lebih menonjol),
homoseks. Hanya kadang-kadang (gradasi sedikit
saja)
3. Heteroseks predominan, homoseks lebih sering
(gradasi lebih banyak)
4. Heteroseks dan homoseks kurang lebih sama
banyak/gradasinya
5. Homoseks predominan, heteroseks lebih sering
(gradasi lebih banyak)
6. Homoseks predominan, heteroseks hanya kadang-
kadang (gradasi sedikit saja) 7 13%
7. Homoseks eksklusif (semata-mata) 2 4%
Epidemiologi : homoseks terdapat pada hampir
semua bentuk budaya dan lapisan masyarakat
sepanjang sejarah
Hasil penelitian masih kontroversial
Bell, Weinberg, Hammersmith (1981) + Kallman
(1952). Kondisi konstitusionalyg berdasarkan
bawaan biologik converdance rate 100% diantara
anak kembar monozigot homoseks
Pengaruh peran orang tua (ayah lemah/absen, ibu
dominan)
Bujukan orang dewasa homoseks terhadap remaja.
Pendapat sekarang homoseks bukan suatu
gangguan atau penyakit jiwa
1973 APA (American Psychiatric Association)
1975 American Psychology Association
1982 Depkes RI
Psikopatologi kalangan homoseks setara
heteroseks (Saabter 1970, Bell + Weinberg 1978)
Hopmoseks mampu mencapai taraf pendidikan,
pekerjaan dan ekonomi yg setara heteroseks
(Saghir, dkk 1970)
Homoseks dapat berfungsi secara efektif dalam
bidang seksual, sosial maupun pekerjaan (Bell +
Weinberg)
Test psikologik (Rorschach, MMPI, dll) homo dan
heteroseks tak ada perbedaan berarti
Sikap tak manusiawi/tak toleran/fobik terhadap
homoseks sumber tekanan mental bagi kalangan
homoseks
Keinginan untuk
mendapatkan/menambah kegairahan
heteroseks, agar hubungan heteroseks
dpt terbentuk atau dipertahankan dan
yg pola kegairahan homoseksnya yang
nyata (overt) dengan jelas dinyatakan
oleh individu itu sebagai sesuatu yg
tidak diinginkan dan merupakan sumber
penderitaan bagi dirinya
Perasaan kesepian
(sering), rasa
bersalah, malu,
cemas dan depresi
Banyak individu dg gangguan ini
akhirnya melepaskan keinginan
untuk menjadi heteroseks dan
akhirnya menerima diri mereka
sebagai homoseks (perlu sikap
suportif dan pengertian terhadap
homoseks)
Perubahan ke heteroseks pada
homoseks eksklusif jarang sekali
walaupun dengan terapi
.
Hendaya : Hendaya ringan dalam
fungsi sosial
Komplikasi : depresi neurotik
Faktor predisposisi : Pandangan
negatif masyarakat terhadap
homoseks yg telah di internalisasi
oleh
Individu itu mengeluh secara terus menerus,
kegairahan heteroseks tidak ada atau lemah, dan
secara cukup bermakna menghalangi upaya
dirinya untuk memulai atau mempertahankan
hubungan heteroseksnya.
Terdapat pola kegairahan homoseks yg menetap
dan oleh individu itu secara jelas dinyatakan
bahwa hal itu tidak dikehendakinya dan
merupakan suatu sumber penderitaan yg terus
menerus.
Tetapkan tujuan terapi yang jelas
Obati masalah-masalah yg menyertainya (ggn
afektif neurotik)
Pertahankan kesungguhan motivasi untuk
beralih ke heteroseks (tanpa paksaan)
Terapi tingkah laku
Fokus pengobatan
Pengurangan ansietas heteroseks
Peningkatan respon heteroseks
Mengembangkan rasa puas pada tingkah laku
heteroseks
Mengurangi minat penyimpangan seks
Homoseks tidak sama dengan sexual obsession
(hanya pikirannya saja
.
.