Anda di halaman 1dari 18

Ketua : Immanuel Habeahan

Sekretaris : Martha Hellen K.Boruhite


Anggota : Amy Ivani Margaretha Manurung
Desi Natalia br.Simbolon
Ivone Angelia
Julikrianto Marsahala Gultom
Miory Theresia Uli Sigalingging
Melva Anggreini Situmorang
Willy Jhony Sinaga
Tiurlan Oktaviani
LEARNING ISSUE
1. HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN DAN DOKTER
2. DEFENISI MALPRAKTEK
3. JENIS-JENIS MALPRAKTEK
4. PANDANGAN MALPRAKTEK DARI SEGI:
- HUKUM
- KODEKI
- MASYARAKAT
- AGAMA
5. UPAYA PENCEGAHAN MALPRAKTEK
6. LEMBAGA YANG MELINDUNGI DOKTER APABILA
TERJADI PELANGGARAN
HAK PASIEN
1. HAK UNTUK MENDAPATKAN PELAYANAN MEDIS YANG BERMUTU SESUAI DENGAN STANDAR

PROFESI KEDOKTERAN/KEDOKTERAN GIGI DAN TANPA DISKRIMINASI.

2. HAK ATAS PRIVACY DAN KERAHASIAAN PENYAKIT YANG DIDERITA TERMASUK DATA-DATA

MEDISNYA KECUALI APABILA DITENTUKAN BERBEDA MENURUT PERATURAN YANG BERLAKU

3. HAK UNTUK MEMPEROLEH INFORMASI /PENJELASAN SECARA LENGKAP TENTANG TINDAKAN

MEDIK YANGG AKAN DILAKUKAN TERHADAP DIRINYA.

4. HAK UNTUK MENOLAK TINDAKAN YANG HENDAK DILAKUKAN TERHADAP DIRINYA DAN

MENGAKHIRI PENGOBATAN SERTA PERAWATAN ATAS TANGGUNG JAWAB SENDIRI SESUDAH

MEMPEROLEH INFORMASI YANG JELAS TENTANG PENYAKITNYA.

5. HAK ATAS KEAMANAN DAN KESELAMATAN SELAMA DALAM PERAWATAN DI RUMAH SAKIT
1. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur
tentang masalah kesehatannya kepada dokter yang
merawat
2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter
gigi dan perawat dalam pengobatanya.
3. Mematuhi ketentuan/peraturan dan tata-tertib yang
berlaku di rumah sakit
4. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang
diterima. Berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah
disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya
HAK DOKTER
1. Hak pemperoleh perlindungan hukum sepanjang
melaksanakan Tugas sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional.
2. Hak untuk menolak keinginan pasien yang bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan, profesi dan etika.
3. Hak memperoleh informasi yang lengkap & jujur dari
pasien atau keluarganya.
4. Hak untuk diperlakukan adil dan jujur, baik oleh rumah
sakit maupun oleh pasien.
5. Hak mendapatkan imbalan jasa profesi yang diberikan
berdasarkan perjanjian dan atau ketentuan/peraturan yang
berlaku di rumah sakit
KEWAJIBAN DOKTER
Malpraktek adalah praktek
kedokteran yang salah atau
tidak sesuai dengan standar
profesi atau standar prosedur
operasional.
JENIS-JENIS MALPRAKTEK
1. Criminal Malpractice
A. CONTOH KASUS INTENSIONAL
- Melakukan aborsi tanpa indikasi medik.
- melakukan euthanasia kriminal
- membocorkan rahasia dokter.
B. CONTOH KASUS RECKLESSNESS
- Melakukan tindakan medis yang tidak sesuai prosedur.
- Melakukan tindakan medis tanpa informed consent.
C. CONTOH KASUS NEGLIGENCE
- Alpa atau kurang hari-hati sehingga meninggalkan gunting dalam
perut pasien.
- Alpa atau kurang hati-hati sehingga pasien menderita luka-luka
(termasuk cacat) atau meninggal dunia.
2. Civil Malpractice
Dikategorikan sebagai civil malpractice karena :
1. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
2. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat.
3. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.
4. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukannya.
3. Administrative Malpractice
Contoh yang dapat dikategorikan sebagai adminsitrative malpractice antara lain :
1. Menjalankan praktik kedokteran tanpa lisensi atau izin.
2. Menjalankan tindakan medik yang tidak sesuai lisensi atau izin yang dimiliki.
3. Melakukan praktik kedokteran dengan menggunakan lisensi atau izin yang sudah
kedaluwarsa.
4. Tidak membuat rekam medik.
I. HUKUM
Apabila seorang dokter telah terbukti dan dinyatakan telah melakukan
tindakan malpraktek maka dia akan dikenai sanksi hukum sesuai dengan UU
No.23 tahun 1992 tentang kesehatan. Dan, UU Praktek Kedokteran dalam BAB X
Ketentuan Pidana Pasal 75,76,77,78, dan 79.
II. KODEKI
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi.
Pasal 7
Seorang Dokter hanya memberi keterangan atau mendapat yang dapat dibuktikan
kebenarannya.
Pasal 10
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi mahluk
insani.
Pasal 11
Dalam hal tidak mampu melakukan suatu pemeriksaaan atau pengobatan maka
ia wajib merujuk penderita kepada Dokter lain yang mempunyai keahlian dalam
penyakit tersebut.
III. MASYARAKAT
Maraknya malpraktek di Indonesia membuat masyarakat tidak percaya lagi
pada pelayanan kesehatan di Indonesia. Ironisnya lagi, pihak kesehatan pun khawatir
kalau para tenaga medis Indonesia tidak berani lagi melakukan tindakan medis karena
takut berhadapan dengan hukum. Lagi-lagi hal ini disebabkan karena kurangnya
komunikasi yang baik antara tenaga medis dan pasien. Tidak jarang seorang tenaga
medis tidak memberitahukan sebab dan akibat suatu tindakan medis. Pasien pun enggan
berkomunikasi dengan tenaga medis mengenai penyakitnya. Oleh karena itu,
Departemen Kesehatan perlu mengadakan penyuluhan atau sosialisasi kepada
masyarakat tentang bagaimana kinerja seorang tenaga medis.
Sekarang ini tuntutan professional terhadap profesi ini makin tinggi. Berita
yang menyudutkan serta tudingan bahwa dokter telah melakukan kesalahan dibidang
medis bermunculan. Di Negara-negara maju yang lebih dulu mengenal istilah
makpraktek medis ini ternyata tuntutan terhadap tenaga medis yang melakukan
ketidaklayakan dalam praktek juga tidak surut. Biasanya yang menjadi sasaran terbesar
adalah dokter spesialis bedah (ortopedi, plastic dan syaraf), spesialis anestesi serta
spesialis kebidanan dan penyakit kandungan.
IV. AGAMA

AMSAL 1:7
TAKUT AKAN TUHAN ADALAH PERMULAAN
PENGETAHUAAN, TETAPI ORANG BODOH
MENGHINA HIKMAT DAN DIDIKAN.
1. Senantiasa berpedoman pada standar pelayanan
medik dan standar prosedur operasional.
2. Bekerjalah secara profesional, berdasarkan etik dan
moral yang tinggi.
3. Ikuti peraturan perundangan yang berlaku, terutama
tentang kesehatan dan proetik kedokteran.
4. Jalin komunikasi yang harmonis dengan pasien dan
keluarganya dan jangan pelit informasi baik tentang
diagnosis, pencegahan dan terapi.
5. Tingkatan rasa kebersamaan, keakraban dan
kekeluargaan sesama sejawat dan tingkatkan
kerjasama tim medik demi kepentingan pasien.
6. Jangan berhenti belajar, selalu tingkatkan ilmu dan
keterampilan dalam bidang yang ditekuni.
Menurut IDI (Ikatan Dokter Indonesia)
IDI adalah organisasi profesi kedokteran yang menghimpun para dokter Indonesia, bersifat
independen, nirlaba, dijiwai oleh sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia.
Peraturan bagi dokter melakukan malpraktek:
1. adanya teguran tertulis,
2. Pencabutan izin praktek dan menyekolahkan lagi dokter yang bersangkutan.
Menurut MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran)
MKDKI adalah lembaga yang berwenang untuk :
1. Menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi
dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi
2. Menetapkan sanksi disiplin
Tujuan penegakan disiplin adalah :
* Memberikan perlindungan kepada pasien
* Menjaga mutu dokter / dokter gigi
* Menjaga kehormatan profesi kedokteran / kedokteran gigi
Sesuai dengan UU RI No. 29 Tahun 2004 pasal 67 , Sanksi disiplin yang
diberikan kepada dokter yang melakukan malpraktek medik berupa:
a. Pemberian peringatan tertulis.
b. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik.
c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan diinstitusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi.
MENURUT MKEK (MAJELIS KEHORMATAN ETIKA KEDOKTERAN)

MKEK ADALAH BADAN OTONOM YANG ADA DI ORGANISASI BAIK


TINGKAT CABANG, WILAYAH DAN PB.
DALAM HAL SEORANG DOKTER DIDUGA MELAKUKAN
PELANGGARAN ETIKA KEDOKTERAN (TANPA MELANGGAR NORMA
HUKUM), MAKA IA AKAN DIPANGGIL DAN DISIDANG OLEH MAJELIS
KEHORMATAN ETIK KEDOKTERAN (MKEK) IDI
UNTUK DIMINTAI PERTANGGUNG-JAWABAN (ETIK DAN DISIPLIN
PROFESI)NYA.
PERSIDANGAN MKEK BERTUJUAN UNTUK MEMPERTAHANKAN
AKUNTABILITAS, PROFESIONALISME DAN KELUHURAN PROFESI. SAAT
INI MKEK MENJADI SATU-SATUNYA MAJELIS PROFESI YANG
MENYIDANGKAN KASUS DUGAAN PELANGGARAN ETIK DAN/ATAU
DISIPLIN PROFESI DI KALANGAN KEDOKTERAN. DI KEMUDIAN HARI
MAJELIS KEHORMATAN DISIPLIN KEDOKTERAN INDONESIA (MKDKI),
LEMBAGA YANG DIMANDATKAN UNTUK DIDIRIKAN OLEH UU NO 29 /
2004, AKAN MENJADI MAJELIS YANG MENYIDANGKAN DUGAAN
PELANGGARAN DISIPLIN PROFESI KEDOKTERAN