Anda di halaman 1dari 17

Soy protein sensitization in cows

milk allergy patients


Dina Muktiarti, Zakiudin Munasir, Alan R. Tumbelaka

Pembimbing : dr. Aswitha Damayanti Sp.A

Oleh :
Rezky Wulandari Putri
(2013730092)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak


Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2017
Definisi

Alergi Susu Sapi adalah reaksi imunologis


simpang terhadap protein susu sapi. Reaksi ini
dapat diperantai oleh IgE (awitan cepat) atau
tidak diperantai IgE (awitan lambat).
Gejala alergi susu sapi dibagi menjadi 2 tipe.

Tipe cepat (IgE-mediated). Timbul cepat dalam beberapa menit 2 jam.


1. Gejala pada saluran cerna: oral allergy syndrome, muntah, diare, kolik.
2. Gejala pada kulit: Urtikaria, angiodema, dermatitis atopik.
3. Gejala pada saluran napas: sesak, mengi, meler.
4. Gejala sistemik: anafilaksis (reaksi alergi berat yang dapat menyebabkan
kematian).

Tipe lambat (Non- IgE-mediated). Bisa sampai 2 -3 hari kemudian.


1. Gejala pada saluran cerna: diare kronik, diare berdarah, gumoh, menolak
menyusu, gagal tumbuh.
2. Gejala pada kulit: dermatitis atopik.
3. Gejala pada saluran napas: batuk, pilek (di luar infeksi).
Pendahuluan
Alergi susu sapi (CMA) adalah salah satu alergi
makanan yang paling umum terjadi pada masa bayi dan anak
usia dini.

Pengelolaan alergi susu sapi atau Cow Milk Allergy


(CMA) adalah penghindaran susu sapi seketat mungkin.
Formula berbasis protein terhidrolisis dan asam amino
adalah produk diet yang direkomendasikan untuk
pengobatan CMA.

Namun, memiliki beberapa kekurangan, seperti rasanya yang


pahit dan harga yang mahal.
Sumber protein alternatif dari protein nabati,
seperti kedelai, bisa dijadikan pengganti susu
Prevalensi alergi kedelai pada pasien CMA
berkisar antara 0 sampai 63%
Tujuan Penelitian

Untuk menentukan proporsi sensitisasi protein kedelai


pada pasien CMA dan ciri-ciri pasien CMA yang sensitif
terhadap protein kedelai.
Metode Penelitian

Metode penelitian :
Penelitian deskriptif dan cross-sectional

Tempat penelitian:
Departemen Kesehatan Anak,
Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo, Jakarta

10/4/2017
Metode Penelitian
Pengambilan Sample:
Melalui Wawancara dan Pengambilan darah oleh
Pharmacia CAP system specific IgE fluoroenzymeimmunoassay
(FEIA)

Jumlah sampel :
Lima puluh tujuh pasien CMA yang mengkonsumsi protein kedelai
diambil sampel darahnya untuk memeriksa IgE spesifik kedelai.

Kriteria inksklusi :
Pasien didiagnosis CMA dan mengkonsumsi protein kedelai
Hasil
Diskusi
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar formula
kedelai dapat diberikan pada pasien CMA mediasi IgE di atas berusia
enam bulan

Formula kedelai dideskripsikankan sebagai pengganti susu sapi untuk


CMA sejak tahun 1929 dengan beberapa kelebihan, yaitu bebas dari
protein susu sapi, memiliki imunogenisitas dan alergenisitas yang lebih
rendah daripada susu formula sapi, kecukupan gizi mirip dengan formula
susu sapi, palatabilitas yang lebih baik dan lebih murah daripada formula
hidrolisis ekstensif

penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa prevalensi alergi kedelai pada


pasien CMA relatif tinggi, dan akibatnya, pasien CMA diberi formula
hidrolisis ekstensif sebagai pengganti susu untuk menghindari potensi
sensitisasi terhadap protein kedelai
Kesimpulan

Kesimpulannya, proporsi sensitisasi kedelai pada pasien CMA


dalam penelitian ini adalah 17,5%, serupa dengan penelitian lain di
Asia, dan IgE spesifik kedelai rendah (0,48 kUA / L). Untuk praktik
klinis, protein kedelai dapat digunakan sebagai alternatif pengganti
susu sapi pada pasien CMA dengan kewaspadaan terhadap alergi
kedelai.

Penelitian lebih lanjut terdiri dari ukuran sampel yang lebih besar
dengan uji eliminasi dan challenge test diperlukan untuk
mengetahui proporsi alergi kedelai pada pasien CMA di Indonesia.
IgE-mediated soy protein sensitization in children
with cows milk allergy
Agustina Santi, Mohammad Juffrie, Sumadiono

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak


Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2017