Anda di halaman 1dari 32

MANAJEMEN TANGGAP

DARURAT GEDUNG
BERTINGKAT
PT. BAYU BUANA GEMILANG

PT Bayu Buana Gemilang


Complete Energy Solution
LATAR BELAKANG
Gedung bertingkat terus berkembang yang dipengaruhi oleh
kegiatan penduduk, mobilitas, harga tanah dan kebutuhan
pemukiman.
Gedung bertingkat digunakan untuk berbagai keperluan seperti
perkantoran, apartemen, hotel, mal, rumah susun dan lainnya.
Gedung bertingkat berbeda dengan bangunan biasa, karena memiliki
potensi bahaya yang tinggi.
Banyak terjadi kebakaran, kecelakaan dan kejadian lainnya dalam
gedung bertingkat.
Keselamatan gedung bertingkat belum banyak dipahami masyarakat
luas.
KESELAMATAN BANGUNAN GEDUNG
(BUILDING SAFETY)
TUJUAN KESELAMATAN PROPERTI :
Melindungi investasi dari kerugian
Melindungi pekerja, tenant dan konsumen dari berbagai bahaya yang
dapat timbul
Memberikan kenyamanan dan keamanan bagi tenant/konsumen
Meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan property
Pemenuhan persyaratan perundangan
ASPEK KESELAMATAN BANGUNAN
GEDUNG
Keselamatan Kerja
Keselamatan Konstruksi
Keselamatan Mekanik
Keselamatan Listrik
Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran
Tanggap Darurat
Kesehatan Kerja
Keselamatan Lingkungan
Keselamatan Konsumen
KARATERISTIK GEDUNG BERTINGKAT
Penghuni beragam
Akses terbatas
Penyebaran bahaya relatif cepat
Bantuan dari luar terbatas (self defence)
Terdapat banyak bahan mudah terbakar dalam ruangan
POTENSI BAHAYA DALAM GEDUNG
Di ruang Basement
Gas beracun dari kendaraan
Penyakit akibat kerja (kurang ventilasi, debu, bising dll)
Kecelakaan kerja
Kecelakaan lalu lintas
Kebakaran
Ruangan kantor/akomodasi
Bahaya kebakaran
Bahaya listrik, sengatan listrik
Kecelakaan kerja
POTENSI BAHAYA DALAM GEDUNG
Ruangan Dapur
Bahaya kebakaran
Bahaya gas dan uap beracun
Kecelakaan kerja
TANGGAP DARURAT
GEDUNG BERTINGKAT
EMERGENCY RESPONSE TEAM
TANGGAP DARURAT GEDUNG
Banyak kasus terjadi karena keterlambatan sistem tanggap darurat
Sistem tanggap darurat sangat penting sebagai langkah awal yang cepat dan akurat.

PENANGG
ERP ULANGAN
KEJADIAN

INSIDEN

5 Menit pertama Tier 1


menentukan menit Tier 2
jam hari berikutnya Tier 3
TUJUAN DAN DASAR
HUKUM
TUJUAN MANAJEMEN BENCANA
Sistem Manajemen Bencana Yang Bertujuan Untuk :
Mempersiapkan diri menghadapi semua bencana atau kejadian yang
tidak diinginkan.
Menekan kerugian dan korban yang dapat timbul akibat dampak
suatu bencana atau kejadian.
Meningkatkan kesadaran semua pihak dalam masyarakat atau
organisasi tentang bencana sehingga terlibat dalam proses
penanganan bencana.
Melindungi anggota masyarakat dari bahaya atau dampak bencana
sehingga korban dan penderitaan yang dialami dapat dikurangi.
TUJUAN EMERGENCY PREPAREDNESS
Aspek Kemanusiaan
Aspek Loss Prevention
Aspek Finansial (Bisnis)
Aspek Hukum
PERUNDANGAN
Beberapa perundangan yang menyangkuut manajemen bencana
antara lain sebagai berikut :
Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Manajemen
Bencana.
PP No. 21/2008 tentang Penyelanggaraan Penanggulangan
Bencana.
Peraturan Presiden No. 08 tahun 2008 tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana.
PP No. 05 tahun 2016 tentang SMK3 mencakup tanggap
darurat.
PERSYARATAN TEKNIS KEBAKARAN
GEDUNG
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PEKERJAAN UMUM NOMOR: 10/KP/PTS/2000 TENTANG
KETENTUAN TEKNIS PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN
GEDUNG DAN LINGKUNGAN
1. Perencanaan tapak untuk proteksi kebakaran
2. Sarana penyelamatan
3. Sistem proteksi pasif
4. Sistem proteksi aktif, Means of escape
SISTEM MANAJEMEN
TANGGAP DARURAT
EMERGENCY RESPONS PLANE
MANAJEMEN KEADAAN DARURAT
Keadaan darurat dan disaster
harus dikelola dengan baik
melalui Sistem Manajemen
Keadaan Darurat.
Manajemen Keadaan Darurat
adalah suatu upaya terpadu dan
terencana untuk menanggulangi
semua keadaan darurat dengan
cepat dan tepat sejak tahap pra
kejadian saat kejadian dan
setelah kejadian
10 ELEMEN MANAJEMEN KEADAAN
DARURAT
1 KEBIJAKAN
2 IDENTIFIKASI KEADAAN DARURAT
3 PERENCANAAN AWAL
4 PROSEDUR TANGGAP DARURAT
5 ORGANISASI TANGGAP DARURAT
6 SUMBER DAYA DAN SARANA
7 PEMBINAAN DAN PELATIHAN
8 KOMUNIKASI
9 INSPEKSI DAN AUDIT
10 INVESTIGASI DAN PELAPORAN
MANAJEMEN KEADAAN DARURAT
EMERGENCY MANAGEMENT SYSTEM
1. Kebijakan
2. Identifikasi Keadaan
Darurat
3. Perencanaan Awal
(preplanning)
4. Prosedur Keadaan Darurat 1. Investigasi dan
5. Organisasi Keadaan
CALL OUT
Darurat AND Sistem Pelaporan
6. Prasarana Keadaan RESPONSE dan Audit
Darurat
7. Pembinaan Dan Pelatihan
8. Komunikasi
9. Inspeksi Dan Audit

Normal Operation Emergency Pasca Emergency


1. KEBIJAKAN
Penerapan Manajemen Keadaan Darurat dalam
perusahaan harus didasarkan kepada kebijakan
Manajemen Perusahaan yang disertai dengan
komitmen yang tinggi.
Kebijakan Manajemen Keadaan Darurat merupakan
bagian dari Sistem Manajemen K3 yang
dilaksanakan dalam perusahaan.
2. IDENTIFIKASI KEADAAN DARURAT
Merupakan langkah awal dalam penerapan manajemen keadaan
darurat dalam perusahaan.
Bertujuan untuk mengidentifikasi semua potensi keadaan
darurat yang mungkin timbul dalam operasi perusahaan disertai
dengan evaluasi potensi dan resiko yang mungkin timbul
(melalui Risk Analysis)
Identifikasi kesiapan perusahaan baik dari segi sumber daya
manusia, peralatan dan finansial dalam menghadapi setiap
kemungkinan keadaan darurat.
2. IDENTIFIKASI KEADAAN DARURAT
Potensi Keadaan Darurat Gedung
Kecelakaan
Kebakaran
Peledakan
Ancaman Bom
Gempa Bumi
Banjir
Huru Hara (Gangguan Sosial)
3. PERENCANAAN AWAL/PRE-
PLANNING
Menyusun strategi dasar pengendalian keadaan darurat
perusahaan berdasarkan hasil identifikasi yang telah
dilaksanakan.
Mengadakan Scenario Based Planning untuk menetapkan
besarnya potensi keadaan darurat yang terjadi, dan simulasi
penanggulangan dan penanganan yang paling efektip untuk
setiap kejadian.
Menginventarisir sumber daya, sarana dan teknologi
penanggulangan yang diperlukan.
ERP LEVEL
Tier 3 Tier 1

Scene of Incident

Incident Management

Regional/Site
Emergency Management

National/Corporate/Company
Crisis Management Tier 2
STRATEGIC VS TRACTICAL

Tier 3
Crisis
Management

Tier 2
Emergency
Management
Tier 1
Incident
TACTICA
L
Management
STRATEGI
C
4. PROSEDUR TANGGAP DARURAT
Berdasarkan scenario planning disusun Prosedur Keadaan
Darurat (SOP) sebagai landasan operasional.
Prosedur Keadaan Darurat menentukan jenis keadaan darurat
yang akan ditanggulangi, tugas dan tanggung jawab tim, sarana
yang diperlukan dan sistem komunikasi.
Prosedur Keadaan Darurat harus mendapatkan legimitasi dari
manajemen perusahaan dan mengikat semua pihak terkait.
5. ORGANISASI TANGGAP DARURAT
Berdasarkan SOP yang ada, ditetapkan
susunan organisasi keadaan darurat
lengkap dengan nama, telpon dan tugas
serta tanggung jawab masing-masing
individu.
Organisasi Keadaan Darurat harus
mencantumkan dengan jelas garis
komando dan sistem pertanggungan
jawab (akuntabilitas dan responsibilitas
dari setiap individu/fungsi)
6. SUMBERDAYA DAN SARANA
Harus disusun daftar kebutuhan sarana penanggulan keadaan
darurat yang diperlukan baik yang tersedia dalam perusahaan
atau mungkin dapat dimanfaatkan dari sumber di luar
perusahaan.
Harus disusun sistem untuk memelihara dan memeriksa semua
sarana keadaan darurat agar selalu dalam kondisi baik dan siap
digunakan setiap saat.
7. PEMBINAAN DAN PELATIHAN
Semua unsur terlibat dalam keadaan darurat
yang terlibat dengan pencegahan,
pengendalian atau penanggulangan harus
dibina dan dilatih.
Secara berkala dilakukan simulasi keadaan
darurat sesuai dengan scenario yang telah
disusun.
8. KOMUNIKASI
Komunikasi merupakan unsur penting dalam sistem manajemen
tanggap darurat sebelum, saat insiden dan selama
penanggulangan.
Komunikasi diperlukan untuk semua stake holder yang terkait
dengan manajemen tanggap darurat.
Komunikasi antar tim, komunikasi internal perusahaan,
komunikasi eksternal.
Harus dibuat prosedur dan sistim komunikasi yang baik
termasuk dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.
9. INSPECTION AND AUDIT
Harus dilakukan inspeksi berkala dan audit untuk memastikan
bahwa semua peralatan, sumber daya dan sistim penanganan
darurat telah berjalan baik.

Audit Keadaan Darurat sebagai bagian dari audit Keselamatan


Kerja.
10. INVESTIGASI DAN PELAPORAN
Setiap kejadian darurat harus ditindaklanjuti dengan melakukan
investigasi untuk mengetahui :
Penyebab kejadian
Efektivitas pelaksanaan penanggulangan
Efektivitas sistim keadaan darurat yang berlaku.