Anda di halaman 1dari 116

Kata manajemen yang kita pakai dalam

berorganisasi adalah terjemahan baku dari


management dalam Bahasa Inggris. Management
berasal dari kata kerja to manage yang dalam
bahasa Indonesia berarti mengurus, mengatur,
mengemudikan, mengendalikan, menangani,
mengelola, menyelenggarakan, menjalankan,
melaksanakan, dan memimpin.
Para ahli di bidang ilmu manajemen menemukan
akar katanya dari Bahasa Latin yaitu mano berarti
tangan, menjadi manus artinya bekerja berkali-kali
dengan menggunakan tangan ditambah imbuhan
agere yang artinya melakukan sesuatu sehingga
menjadi managiare yang berarti melakukan sesuatu
berkali-kali dengan menggunakan tangan-tangan.
Maksudnya dalam mengerjakan sesuatu pimpinan
dari suatu organisasi tidak hanya bekerja sendirian,
akan tetapi dibantu melalui kegiatan orang
lain/bawahan yang merupakan perpanjangan tangan
dalam menyelesaikan pekerjaan sampai berhasil
mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam Bahasa Italia ada kata managgio yang berasal
dari kata managgiare artinya melatih kuda. Dengan
tujuan agar kuda yang dilatih itu bisa mengerti dan
dapat melakukan apa yang diperintahkan oleh
pelatihnya. Kata manage berarti suatu pertunjukan
permainan kuda contohnya suatu permainan kuda
dalam sirkus/lokarya. segala sesuatu keberhasilan dari
pertunjukan itu tergantung dan menjadi tanggung jawab
majikan atau pimpinan sirkus. Apakah ia mampu melatih
sebelumnya, tegas dan disiplin perintahnya, sehingga
kuda bersama jokinya dapat melakukan tugas dalam
pertunjukkan dengan sebaik-baiknya. Dari gambaran itu
dapat kita simpulkan, yang disebut pemimpin dalam
sirkus adalah manager.
Terdapat pula adanya seni manajemen.
Arti seni adalah: sesuatu kekuatan pribadi yang
kreatif ditambah dengan skill dalam pelaksanaan
pekerjaan.
hal yang pertama timbul karena dipelajarinya
problem-problem, kejadian-kejadian serta
kemungkinan-kemungkinan.
hal kedua (skill dalam pelaksanaan pekerjaan) timbul
karena pengalaman, observasi (pengamatan) serta
studi.
Dengan perkataan lain: seni manajemen meliputi
kemampuan untuk melihat totalitas banyak bagian-
bagian yang terpisah yang berbeda dan untuk
menciptakan sesuatu gambaran tentang visi tersebut
sehingga dengan demikian dapat diciptakan
keberatan dari hal-hal yang kacau. Sebagai tambahan
dapat dikatakan bahwa seni manajemen mencakup
pula kemampuan, untuk mengkomunikasi visi
tersebut dengan skill efektif atau kepandaian.
Manajemen merupakan salah satu diantara
semua seni yang paling kreatif. Ia merupakan seni
daripada seni karena ia merupakan organisator dan
pemanfaatan daripada bakat manusia.
Seorang manajer (George R. Terry dalam Winardi:8)
adalah seorang ilmuwan dan seorang seniman. Untuk
situasi tertentu ilmu pengetahuan dapat mengurangi
jumlah seni menejemen yang diperlukan, tetapi hal itu
tidak pernah dapat mengeliminasinya. Seni menejemen
senantiasa ada.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sesuatu
kemajuan dalam ilmu menyebabkan kemajuan dalam
seni, sedikitnya hingga derajat diterapkannya kemajuan
dalam ilmu.
Dipandang dari sudut tertentu dapat kita mengatakan
bahwa: Seni menejemen mulai sewaktu ilmu
menejemen berhenti.
Apakah manajemen itu,
Manajemen adalah suatu proses atau
kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan
atau pengarahan suatu kelompok orang-
orang kearah tujuan-tujuan organisasional
atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen
adalah suatu kegiatan, pelaksanaannya adalah
managing Pengelolaan-, sedang
pelaksanaannya disebut manager atau
pengelola.
Taylor yang terkenal dengan bukunya The
Principles of Scientific Management agaknya
dianggap orang yang menjadi bapak dan pelopor
Management Ilmiah. Nama lengkapnya
Frederick Winslow Taylor, seorang pemuda
Quacker yang dilahirkan pada tahun 1859,
seorang mahasiswa tehnik yang besar sekali
perhatiaannya terhadap effisiensi. Prinsip-prinsip
effisiensi ini yang berlandaskan kepada time and
motion study pada mesin dan tenaga disebut
sebagai dasar Management Ilmiah.
John D. Millet dalam buku Management
in the Public Service memberikan definisi
sebagai berikut : manajemen adalah proses
pemberian bimbingan dan pemberian fasilitas
daripada pekerjaan orang-orang yang
diorganisasikan di dalam organisasi-
organisasi formal guna mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
(Management is the process of directing and
facilitating the work of people organized in
formal groups to achieve a desired goal).
Koontz dan ODonnel dalam
bukunya Principles of Management
menjelaskan bahwa : Manajemen adalah
mendapatkan sesuatu dikerjakan atau
dilakukan melalui usaha-usaha orang-
orang lain.
(Management is getting thing done
through the efforts of other people).
George R. Terry dalam bukunya
Principles of Management (Winardi:4)
menjelaskan, bahwa: Manajemen adalah
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya melalui usaha-usaha orang lain;
Kekuatan yang menjalankan sebuah
perusahaan dan yang bertanggung jawab atas
sukses atau kegagalannya; Manajemen adalah
tindakan memikirkan dan mencapai hasil-
hasil yang diinginkan melalui usaha
kelompok yang terdiri dari tindakan
mendayagunakan bakat-bakat manusia dan
sumber-sumber daya;
Manajemen adalah pemuasan kebutuhan-
kebutuhan ekonomi dan sosial karena bersifat
produktif bagi manusia, bagi perekonomian dan
bagi masyarakat.
Dari semua definisi yang disajikan dapat
disimpulkan bahwa:
Manajemen merupakan sebuah proses yang khas,
yang terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan,
pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan
yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui
pemanfaatan SDM serta sumber-sumber lain.
Disamping itu suatu definisi diwarnai dan sangat
tergantung serta ditentukan oleh latar belakang
kehidupan, pendidikan, dasar falsafah, tujuan
maupun sudut pandang darimana para ahli dalam
memulai melihat persoalan, kepentingan, proses,
maupun sarana yang ingin dicapai. Untuk lebih
konkritnya marilah kita ikuti batasan/definisi dari
berbagai sudut pandang:
1. Alat/Cara (Means)
a. Millon Brown, Effective Work of Management (1960).
Manajemen berarti alat/cara untuk menggunakan orang-
orang, uang, perlengkapan, bahan-bahan dan metode
secara efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2. Tenaga/Daya/Kekuatan (Force)
a. Albert Lepawsky, Administration: The art of
Organization and Management (1942). Manajemen
adalah tenaga/kekuatan yang memimpin, memberi
petunjuk dan mengarahkan suatu organisasi dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b. Earl F. Lundgren, Organizational Management, (1947).
Manajemen adalah sebuah tenaga/ kekuatan, dengan
melalui pembuatan sebuah keputusan yang di dasari
pengetahuan dan pengertian yang saling terkait dan
terpadu melalui lingkungan proses yang tepat dari
semua unsur sistem organisasi dalam suatu cara
yang di disain untuk mencapai tujuan organisasi.
3. Sistem (System)
a. A. Sanusi Prof. Dr. SH. MPA. Dimensi-dimensi Ilmu
Manajemen (1969). Manajemen merupakan suatu sistem
tingkah laku manusia yang kooperatif (suatu sistem
perilaku kerjasama manusia) yang diarahkan untuk
mencapai suatu tujuan tertentu malalui tindakan-tindakan
rasional yang dilakukan secara terus-menerus.
4. Proses (Process)
a. Mondy, Sharplin, Premeaux, Management (1991).
Manajemen adalah proses mendapatkan sesuatu melalui
usaha-usaha orang lain.
b. Joseph L. Massie, Essential of Management (1973).
Manajemen didefinisikan sebagai suatu proses dimana
suatu kelompok bekerja sama mengarahkan kegiatan-
kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan bersama.
c. Arthur G. Bedeian And William F. Gulleck, Management
(1977). Manajemen sebagai suatu proses pencapaian
hasil yang diinginkan melalui penggunaan sumber daya
manusia dan bahan-bahan secara efisien.
d. Henry L. Sisk, Management and Organization (1977).
Manajemen adalah koordinasi dari semua sumber daya
melalui proses perencanaan, pengorganisasian,
kepemimpinan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
e. Robert L. Trewartha & M, Gena Newport, Management
(1982). Manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan
pelaksanaan operasional perusahaan melalui koordinasi
sumber daya manusia dan material yang penting untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
f. John A. Pears II & Richard B. Robinson,
Management (1986). Manajemen adalah proses
daripada usaha mengoptimalkan pendayagunaan
manusia, materi, dan keuangan sehingga
memberikan kontribusi untuk mencapai tujuan
organisasi.
g. Longennecker, Management (1981). Manajemen
adalah suatu proses untuk mendapatkan dan
mengkombinasikan unsur-unsur manusia,
keuangan dan sumber-sumber fisik untuk
mencapai tujuan utama daripada organisasi dalam
menghasilkan produk atau jasa yang dikehendaki
oleh masyarakat.
5. Fungsi (Function)
a. L. L. Bethel Oc. Industrial Organizational And
Management (1984). Manajemen adalah fungsi dari
Dewan Manajer (bisa dinamakan management)
untuk menetepkan kebijakan-kebijakan mengenai
jenis produk apa yang akan dibuat, bagaiamana
pembiayaannya, sistem distribusinya/penyalurannya,
pelayanan/jasa yang akan diberikan, pemilihan dan
pelatihan pegawai, serta faktor-faktor lain yang
mempengaruhi kegiatan organisasi. Lebih jauh lagi
manajemen bertanggung jawab dalam
pembentukan struktur organisasi untuk
melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan
tersebut.
6. Tugas (Task)
a. Vermon A. Musselman, Eugene H. Hughes,
Introduction to Modern Business (1969). Manajemen
sebagai tugas daripada perencanaan, pengorganisasian
dan penyetafan dan pengawasan pekerjaan yang
lainnya agar mencapai satu atau lebih tujuan.
7. Aktivitas/Usaha (Activities/Efforts)
a. James H. Donnely Jr. Cs. Fundamentals of
Management: Function, Behavior, Models (1975).
Manajemen merupakan aktivitas yang diambil alih
oleh satu atau lebih orang agar supaya dapat
mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas lainnya di dalam
mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai hanya oleh
perorangan.
b. R. W. Morell, Management: End and Means
(1969). Manajemen adalah merupakan kegiatan
di dalam suatu organisasi dan penetapan
tujuan organisasi serta penetapan penggunaan
alat-alat dengan mana tujuan akan dicapai
dengan efektif.
c. Clayton Reeser, Management, Function and
Modern Concepts (1973). Manajemen adalah
aktivitas dalam suatu organisasi dan penetapan
tujuan organisasi serta penetapan pemilihan
cara yang tepat dengan mana tujuan akan
dapat dicapai secara efektif.
d. H. Koontz & C. O. Donnel, Principles of
Management (1959). Manajemen
adalah usaha mendapatkan sesuatu
melalui kegiatan orang lain.
e. Van Fleet, Contemporary Management
(1988). Manajemen merupakan
seperangkat kegiatan yang ditunjukan
kepada penggunaan daripada sumber-
sumber daya secara efektif dan efisien
untuk mencapai satu atau lebih tujuan.
Kesimpulan:
Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik
kesimpulan, bahwa pada pokoknya manajemen
adalah suatu proses/kegiatan/Usaha pencapaian
tujuan tertentu melalui kerja sama dengan orang-
orang lain.
Ciri utama daripada pekerjaan manajemen
yang membedakan dengan pekerjaan yang lain
adalah adanya keharusan bahwa aktivitas yang
dilaksanakan wajib melalui orang-orang lain.
Jadi apabila ada suatu macam/jenis
pekerjaan yang dikerjakan atau dijalankan
tanpa melalui orang-orang lain, akan
tetapi ditangani secara langsung kepada
materi pekerjaan, maka pekerjaan seperti
yang disebutkan belakangan ini bukan
pekerjaan manajemen.
Berbagai istilah yang kini dikenal sebagai
pengganti/pengindonesiaan istilah manajemen,
antara lain sebagai berikut:
1. Lembaga Administrasi Negara menggunakan
istilah kepemimpinan sekarang manajemen.
2. Universitas Indonesia menggunakan istilah
ketatalaksanaan.
3. Angkatan Darat menggunakan istilah
pembinaan.
4. Universitas Gajah Mada menggunakan istilah
pengurusan.
5. Balai Pembinaan Administrasi di Yogyakarta
menggunakan istilah manajemen.
Dari istilah-istilah tersebut menunjukan belum
ada keseragaman di Indonesia mengenai istilah
manajemen. Sehingga tidak mustahil akan
menimbulkan pertentangan istilah yang tiada
faedahnya. Karena masing-masing pencipta akan
mempertahankannya dengan alasan-alasan yang
biasa diterima oleh akal dan logis, dan mungkin
sekali tidak ada akhirnya.
Guna mencegah hal-hal yang tidak dikehen-
daki karena hanya perbedaan istilah (bukan
perbedaan yang bersifat mendasar) kiranya lebih
tepat menggunakan istilah manajemen saja.
Sebab dengan istilah yang tersebut belakangan
ini:
Pertama : Setidak-tidaknya pertentangan istilah
dapat dihindari.
Kedua : Dengan istilah manajemen kiranya
umum sudah dapat memahami
akan arti dan maksudnya.
Pada zaman sebelum perang
sesungguhnya juga telah banyak pula
digunakan istilah-istilah yang
mengandung pengertian atau mirip
dengan istilah manajemen seperti
dikenal sekarang dan seterusnya.
Unsur utama manajemen adalah faktor
orang atau orang-orang. Akan tetapi setiap
insan memahami dan meyakini bahwa
apabila hanya semata-mata mengandalkan
atau menggantungkan faktor orang atau
orang-orang saja sukar diharapkan tujuan
yang dikehendaki menjadi kenyataan.
Oleh sebab itu selain faktor yang baru saja di
sebutkan di atas juga diperlukan faktor atau unsur
lain yang sangat membantu (menunjang) dan yang
memungkinkan orang atau orang-orang sebagai
unsur utama manajemen dapat melakukan tugas dan
kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Hal ini hanya
bisa terwujud apabila ada dan tersedia sarana yang
dapat dipergunakan untuk menjalankan tugas
pekerjaan yang dibebankan di atas pundaknya serta
yang menjadi tanggung jawabnya. Karena sarana
mempunyai fungsi membantu dan memudahkan
serta melancarkan orang atau orang-orang
menangani tugas pekerjaannya.
Sarana memegang peranan penting
sebagai salah satu unsur manajemen dan
sangat diperlukan oleh manajemen guna
mencapai tujuan yang dikehendaki. Sebab
tanpa sarana yang memadai sulit kiranya
dibayangkan akan tercapainya tujuan
manajemen, dengan kata lain, tanpa sarana
manajemen tidak dapat berbuat banyak.
Mungkin ada baiknya dijelaskan secara
singkat alasan mengapa dipergunakan istilah
SARANA bukan ALAT?
Secara harafiah istilah ALAT mengandung
pengertian yang semata-mata menyangkut
benda mati, sedang istilah SARANA
mencerminkan akan adanya berbagai hal
yang memungkinkan manajemen melakukan
operasi ke arah tujuan yang dikehendaki
menjadi kenyataan.
Di bawah ini akan disebutkan sarana-sarana
manajemen, maka akan dapat dilihat bahwa sarana-
sarana itu tidak semata-mata terdiri atas benda-
benda mati.
Maka tidak tepat apabila orang atau manusia ini
disamakan dengan ALAT secara harafiah, meskipun
secara simbolis dibenarkan pemakaian istilah ALAT
ini diterapkan pula atas manusia (contoh ungkapan
perkataan : Pegawai Negeri (orang-orang yang
dipekerjakan pada jabatan-jabatan negeri) adalah
Alat Negara Republik Indonesia).
Adapun sarana-sarana manajemen dapat
dirumuskan ke dalam 6 M, yaitu :
1. Man :Tenaga kerja manusia
2. Money : Uang yang diperlukan untuk membiayai
usaha pencapaian tujuan.
3. Methods : Metode-metode yang dipergunakan untuk
mencapai tujuan.
4. Materials : Bahan-bahan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan.
5. Machines : Mesin-mesin yang diperlukan untuk
mencapai tujuan
6. Market: Pasar, tempat untuk melempar
hasil/produksi.
Definisi yang paling sederhana, tetapi sekaligus
paling klasik tentang manajemen mengatakan
bahwa manajemen adalah seni memperoleh hasil
melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh orang
lain. Definisi yang sangat sederhana tersebut
memberi petunjuk bahwa manajemen dapat disoroti
dari paling sedikit empat sudut pandangan.
Pertama: Betapapun berhasilnya para ilmuwan
mengembangkan teori tentang manajemen yang
antara lain berakibat pada pengakuan bahwa
manajemen merupakan salah satu cabang ilmu
pengetahuan sosial penerapan berbagai teori
manajemen itu tetap berdasarkan pendekatan yang
situasional.
Artinya, penerapan berbagai teori tersebut masih
harus dibarengi oleh seni menggerakkan orang lain
agar mau dan mampu berkarya demi kepentingan
organisasi.
Kedua: Manajemen selalu berkaitan dengan
kehidupan organisasional ketika terdapat
sekelompok orang yang menduduki berbagai jenjang
tingkat kepemimpinan dan sekelompok orang lain
yang tanggung jawab utamanya adalah
menyelenggarakan berbagai kegiatan operasional.
Pandangan ini sangat mendasar karena
keberhasilannya menyelenggarakan kegiatan
operasional, melainkan dari kemahiran dan
kemampuannya menggerakkan orang lain dalam
organisasi.
Ketiga: Keberhasilan organisasi sesungguhnya
merupakan gabungan antara kemahiran
manajerial dan keterampilan teknis para
pelaksana kegiatan operasional.
Keempat: Kedua kelompok utama dalam
organisasi, yaitu kelompok manajerial dan
kelompok pelaksana mempunyai bidang
tanggung jawab masing-masing yang secara
konseptual dan toeretikal dapat dipisahkan.
Akan tetapi, hal itu secara operasional menyatu
dalam berbagai tindakan nyata dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Tidak dapat disangkal bahwa keberhasilan
organisasi mencapai tujuan dan berbagai sasarannya
sangat tergantung pada berbagai faktor berikut ini:
1. Mampu tidaknya kelompok manajerial dalam
organisasi menjalankan fungsi-fungsi manajerialnya.
2. Tersedia tidaknya tenaga operasional yang matang
secara teknis dan mempunyai keterampilan yang
sesuai dengan berbagai tuntutan tugas yang harus
diselenggarakannya.
3. Tersedianya anggaran yang memadai untuk
pembiayaan berbagai kegiatan yang telah
diterapkan untuk diselenggarakan.
4. Tersedianya sarana dan prasarana kerja yang
jenis, jumlah, dan mutunya sesuai dengan
kebutuhan.
5. Mekanisme kerja yang tingkat formalisasinya
disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
6. Iklim kerja dalam organisasi yang mendorong
terwujudnya kerja sama yang harmonis antara
berbagai satuan kerja dalam organisasi.
7. Situasi lingkungan yang diharapkan mendukung
pelaksanaan kegiatan operasional yang menjadi
tanggung jawab organisasi.
Karena manajemen berperan selaku motor
penggerak dalam kehidupan organisasi, berarti
bahwa diantara sekian banyak faktor yang telah
diidentifikasikan, maka faktor kemampuan manajerial
merupakan faktor yang paling dominan. Terdapat
enam alasan untuk mengatakan demikian:
1. Betapapun tingginya tingkat keterampilan yang
dimiliki oleh para pelaksana kegiatan operasional,
mereka masih tetap memerlukan pengarahan,
bimbingan, dan pengembangan.
2. Harus disadari bahwa setiap organisasi menghadapi
situasi keterbatasan kemampuan menyediakan
dana yang sesungguhnya diperlukan untuk
membiayai semua kegiatan yang harus
diselenggarakan.
3. Sebagai akibat keterbatasan dana, tidak ada
organisasi yang mampu menyediakan semua
sarana dan prasarana kerja yang lengkap sesuai
dengan kebutuhan yang sebenarnya. Artinya,
setiap organisasi dihadapkan kepada
keterbatasan kemampuan dalam menyediakan
berbagai sarana dan prasarana tersebut.
4. Efektivitas kerja sangat dipengaruhi kerjasama
tentang peraturan permainan yang harus
ditaati oleh seriap orang dalam organisasi,
tanpa kecuali.
5. Pengalaman banyak orang menunjukkan
bahwa iklim kerja sangat berpengaruh pada
jalannya roda organisasi. Pada dasarnya dapat
dikatakan bahwa semakin demokratis iklim
dalam organisasi, semakin mudah
menggerakan para pelaksana kegiatan
operasional.
6. Tidak ada organisasi yang bergerak dalam
kondisi kehampaan. Setiap organisasi
merupakan bagian dari lingkungannya. Setiap
organisasi merupakan subsistem dari suatu
sistem sosial.
Menurut Maskun (1984:1) Management
merupakan proses mengatur, memimpin
dan menjamin kelancaran jalannya
pekerjaan para karyawan yang terorganisir
secara resmi dalam suatu kelompok dalam
rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
Management ini dapat saja tidak digunakan
atau sama sekali tidak terdapat di dalam
suatu kegiatan atau usaha bersama.
Tanpa adanya pimpinan dan bimbingan yang
terpusat, maka para karyawan dalam jumlah yang
bagaimana pun tidak akan dapat bekerja sama
dengan baik atau effisien dalam jangka waktu yang
telah ditentukan.
Management merupakan suatu sistem wewenang
dan tanggung jawab apabila dipakai di dalam usaha-
usaha administrasi. Di dalam pemerintahan,
management ini fungsinya terbatas pada tujuan dan
prosedur yang ditentukan oleh Pemerintah dengan
melalui suatu proses politik.
Management merupakan istilah yang
kolektif. Management bukanlah merupakan
sang Manager atau administrator saja. Akan
tetapi istilah ini mempunyai makna lebih dari
pada itu. Management merupakan gabungan
sejumlah orang yang dengan cara bersama-
sama melaksanakan wewenang dan
mengemban tanggung jawab sebagai akibat
tindakannya menggunakan wewenang itu
dalam usaha mereka untuk mencapai tujuan
bersama.
Dilihat dari segi sistem, menurut Thierauf
(Sugandha, 1996:20) manajemen adalah proses
penempatan input-input organisasi (sumberdaya
manusia dan sumber ekonomi) melalui perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, serta pengawasan
yang diharapkan oleh konsumen sehingga sasaran
organisasi dapat dicapai. Di dalam prosesnya,
pekerjaan-pekerjaan dilakukan melalui dan oleh
personel organisasi dalam suasana lingkungan usaha
(bisnis) yang selalu berubah.
Dalam definisi manajemen ini dapat
dirumuskan bahwa manajemen sebagai
pengkoordinasian orang-orang melalaui
perencanaan, eksekusi, pengorganisasian, persuasi,
pemimpinan, penilaian dan pengawasan ke arah
pencapaian sasaran yang dicita-citakan. Untuk
lebih singkatnya dapat diterjemahkan menjadi:
management is coordinating people through
PEOPLE towards desired objectives.
Seperti telah pula dikemukakan, PEOPLE
adalah akronim dari Planning, Executing,
Organizing, Persuading, Leading, serta
Eveluating dan Controlling. Penilaian digabung
dengan pengawasan karena kegiatan manajer
untuk memberikan nilai kepada bawahannya
haruslah dari pengukuran hasil kegiatan
dengan standar tertentu. Pengukuran dengan
membandingkan hasil dengan standar kerja
itulah yang disebut pengawasan.
Bila disimak lebih jauh fungsi manajer
atau administrator itu jauh lebih banyak,
bukan hanya enam atau tujuh fungsi,
apalagi bila hanya empat hal, melainkan
dapat mencapai 50 fungsi. Di bawah ini
penulis daftar kegiatan manajer di
perusahaan atau administrator di
pemerintahan, sbb:
Penentuan sasaran (Determining objectives),
Perkiraan (Forecasting),
Penelitian (Research),
Penetapan kebijaksanaan (Policy making),
Pelaksanaan kebijaksanaan (Executing),
Perencanaan (Planning),
Pemrograman (Programming),
Penganggaran (Budgeting),
Penataan organisasi (Organizing),
Pemberian perintah (Commanding),
Pemberian petunjuk (Guiding),
Pemberian nasihat dan mencari nasihat (Consulting),
Pengarahan (Direecting),
Perwakilan/mewakili (Representing),
Pelimpahan wewenang (Delegating),
Pemimpinan (Leading),
Pengkoordinasian (Coordinating),
Pemberi motivasi (Motivating),
Pembujukan (Persuading), membujuk orang agar
mau membantu
Penggerakan (Actuating),
Pengembangan staf (Upgrading/staff deve-
lopment),
Pemilihan dan Pengangkatan pegawai (Staffing),
Penyediaan sumber-sumber (Facilitating),
Peberian hukuman (Punishing),
Pemberian ganjaran (Rewarding),
Pemberhentian pegawai (Firing),
Peningkatan kependudukan pegawai (Promoting),
Pemindahan pegawai (Rotating),
Pemantauan (Monitoring),
Pemeriksaan (Supervising),
Pemberitahuan (Notifying),
Pemberian pesan/informasi (Communicating),
Pengiriman/penerimaan laporan (Reporting),
Pengenalan semua bawahan dan kegiatan
(Knowing),
Pengambilan keputusan (Decision Making),
Pemecahan masalah (Problem solving),
Pembicaraan (Negotiating),
Pembicaraan untuk mencari dukungan (Lobbying),
Penyelenggaraan rapat/pertemuan (Meeting),
Pemberian penjelasan dan instruksi (Briefing),
Penciptaan pembaharuan (Innovating),
Pemrakarsa (Innitiating),
Pengukuran prestasi (Appraising),
Pengawasan (Controlling),
Pemberian Nilai (Evaluating), dan masih banyak lagi
yang belum disebut.
Walaupun tugas manajer cukup banyak,
namun kegiatannya tersebut tidak sekaligus
dilaksanakan, melainkan silih berganti
bergantung kepada tuntutan situasi dan
kondisinya. Apapun yang dilakukannya yang
penting adalah dilaksanakan dengan sebaik-
baiknya. Pelaksanaan tugas manajer yang
baik ini berhubungan dengan filosofi
manajemen sendiri dan filosofi organisasinya.
Baik organisasi maupun para manajer
menghendaki efektivitas dan efisiensi. Ke arah
itulah manajer harus mengendalikan organisasinya
dengan cara-cara dan sikap-sikap tertentu.
Di dalam ilmu administrasi selalu ada teori
maupun prinsip yang dapat diterapkan agar
administrasi maupun manajemennya dapat berjalan
sebaik-baiknya. Beberapa pakar telah banyak
mengembangkan teori-teori dan prinsip-prinsip ini.
Antara lain teori dan prinsip dari Taylor, Fayol,
Emerson, Gulick dan Urwick, Maslow, McGregor,
Barnard, Sheldon, dsb.
Dalam perkembangan ilmu administrasi cukup
banyak jumlah pakar yang telah memberikan
kontribusinya sehingga dapat digolong-golongkan ke
dalam beberapa aliran. Dalam hal ini Robbins 7)
membagi periode-periode perkembangan ilmu
administrasi ke dalam masa:
Industrial revolution,
Scientific,
General Administration Theorists,
Human Relations Movement,
Decision-science Movement,
Behavioral Movement,
Organizational-humanist Movement,
System Movement,
Power Dynamic Movement,
dan Contingency Movement.
Melalui human relations movement mulai
muncul perhatian orang terhadap unsur
manusia, sehingga dalam mengendalikan
organisasi, disarankan agar dalam manusia
harus dibedakan dengan menghadapi unsur
lainnya.
Karena itu juga organisasi jangan hanya dipandang
sebagai struktur pembagian tugas, melainkan juga
kumpulan manusia yang memiliki kekuatan-
kekuatan tertentu. Keberhasilan organisasi akan
mencerminkan keberhasilan para manajernya
dalam menghadapi para bawahannya (personnel
yang ada di bawah tanggung jawabnya) maupun
rekan sekerja, atasan, dan masyarakat yang harus
dilayaninya. Di Indonesia sayang sekali hal ini
sering dilupakan.
Di dalam mengendalikan organisasi, orang
hanya melihat teori dan prinsip yang
dikemukakan oleh para penulis asing saja,
melupakan bahwa dirinya adalah orang
Indonesia dan memimpin pegawai bangsa
Indonesia. Banyak para penulis yang
menganjurkan agar manajer yang memimpin
organisasi mengikuti teori dan mengikuti teori
dan filsafat Taylor, Barnard, Olver Sheldon, dan
sebagainya, padahal filsafat negaranya sendiri
telah ada.
Negara Indonesia berdasar Pancasila, dan
Pancasila adalah filsafat bangsa serta filsafat negara.
Oleh karena itu juga Pancasila harus menjadi filsafat
para administrator dan manajer Indonesia. Kalaupun
administrasi, dan manajemen harus menerapkan
prinsip-prinsip tertentu agar dapat berjalan baik,
maka prinsipnya harus dicari dari Pancasila sendiri.
Khususnya bagi administrasi negara di Indonesia harus
juga diterapkan prinsip yang orientasinya kepada
hukum, karena Indonesia adalah negara hukum.
Jadi prinsip-prinsipnya pun harus juga
digali dari hukum yang berlaku di
Indonesia. Dengan demikian akan ada
kepribadian administrasi, manajemen
serta organisasi di Indonesia. Namun
demikian berbagai teori dan prinsip dari
luar yang sesuai dengan filosofi bangsa
dan dapat diterima, dapat saja dijadikan
bahan referensi.
Dewasa ini orang telah meninggalkan teori
klasik yang lebih banyak memperlakukan
manusia/pegawai sebagai abrang komoditi saja
tanpa memperhatikan hakekat manusia yang
sebenarnya. Mulai dengan gerakan Human
Relations ini para pakar melihat bahwa unsur
manusia sangat penting dalam menjamin
produktivitas, terutama yang perlu diperhatikan
bukan hanya tenaganya, melainkan juga
perasaan dan semangat kerjanya yang didorong
oleh motif-motif tertentu.
Dengan memperhatikan hal tersebut, maka
penataan organisasi dan pelaksanaan
administrasi tidak hanya berasaskan norma-
norma kemanusiaan. Hal ini berarti banyak
asas yang dikembangkan dengan memperhatikan
unsur manusiawi. Dengan diterapkannya asas
tersebut maka kecenderungan
manajemen/administrasi modern sekarang
adalah memperlakukan personel/tenaga
kerja/manusia seba-gaimana hakekat manusia.
(Sugandha : 23)
Prinsip-prinsip manajemen yang diusahakan
diajarkan dalam berbagai latihan manajemen dan
yang diusahakan diterapkan dalam organisasi dan
manajemen di Indonesia ternyata jauh terbelakang
oleh jamannya. Jamannya Taylor atau Fayol berkiprah,
seseorang yang bekerja dianggap hanya sebagian dari
mekanisme kerja saja, bahkan pegawai dianggap
hanya sebagian dari mesin saja, kalau tak boleh
dikatakan sebagai mesin. Gerak tangan dan anggota
tubuh lainnya sudah sedemikian dipola, sampai
kepada waktu yang boleh digunakan untuk setiap
gerakan.
Orang yang tak dapat bekerja sesuai denga pola itu
lebih baik diganti dengan cara dipindahkan ke
tempat kerja yang lebih cocok atau diputuskan
hubungan kerjanya.
Gerakan human relations dan gerakan perilaku
manusia akhirnya menganjurkan agar manusia
jangan dianggap sebagai mesin. Manusia memiliki
semangat kebersamaan, sentimen atau perasaan
serta akal. Kini mesin yang harus membantu
mempercepat kerja manusia agar dari dalam dirinya
tumbuh kecintaan terhadap pekerjaannya dan
tumbuh semangat kerjanya.
Di Indonesia dengan masih dipopulerkannya
prinsip-prinsip tradisional yang sudah banyak
ditinggalkan itu menyebabkan kurang sekali
perhatian para administrator/manajer terhadap
unsur yang sangat penting ini padahal mereka telah
harus berfilsafat Pancasila yang harus menganggap
manusia sebagaimana layaknya manusia. Perhatikan
prinsip pengorganisasian yang disarankan oleh
MENPAN dan yang pernah dijadikan dasar
reorganisasi departemen berdasarkan Keppres
No. 44 tahun 1974 yang menentukan prinsip-
prinsip sbb :
1. Prinsip Pembagian habis Tugas
2. Prinsip Perumusan Tugas dan fungsi
3. Prinsip Akordeon
4. Prinsip Fungsionalisasi
5. Prinsip Koordinasi, Integrasi dan sinkronisasi
6. Prinsip Kontinuitas
7. Prinsip Jalur dan Staf
8. Prinsip Kesederhanaan
9. Prinsip Fleksibilitas
10. Prinsip Pendelegasian wewenang Yang Jelas
11. Prinsip Pengelompokan Secara Homogin
12. Prinsip Rentang Pengendalian
Kedua belas prinsip di atas tak ada yang
menyentuh sumberdaya manusia dan sumber daya
lainnya, demikian juga tak ada yahg menyentuh
unsur formalitas serta unsur tujuan dan prosesnya.
Akibat dari tidak jelasnya prinsip untuk unsur
manusia misalnya walaupun struktur organisasi
telah baik, namun bila diisi oleh personel secara
sembarangan dalam arti tidak memenuhi prinsip-
prinsip tertentu, maka organisasi yang
bersangkutan tetap akan kurang berdayaguna. Tak
tampak juga asas-asas Pancasila di dalamnya yang
benar-benar mengakui hak-hak asasi manusia.
Bahkan prinsip yang dikemukakan tadi tertinggal
oleh prinsip yang dikembangkan lebih dari 70 tahun
yang lalu. Dengan melihat kenyataan bahwa
organisasi adalah kumpulan orang-orang yang
terstruktur dengan berbagai atributnya seperti telah
dikemukakan di bab pertama, maka prinsip-prinsip
yang harus dikembangkan agar organisasi apapun
sehat adalah prinsip yang menyangkut segala
unsurnya. Di samping itu karena administrasi adalah
proses dari organisasi maka prinsip yang perlu
diterapkan haruslah yang menyangkut pula
prosesnya ini, walaupun dapat saja dipisahkan secara
khusus menjadi prinsip administrasi.
Adapun prinsip-prinsip administrasi yang telah
dikembangkan oleh Fayol 8) berjumlah 14 buah,
yang oleh beberapa penulis sering diakui sebagai
prinsip manajemen. Ada empat prinsip yang utama,
yang kemudian ditambah dengan 10 prinsip lainnya.
1. Division of labour. Dengan menerapkan konsep
klasik tentang spesialisasi pekerjaan, dapat dicapai
peningkatan efisiensi. Menurut Fayol spesialisasi di
sini jangan dibatasi pada technical work
(pekerjaan teknis), sebab division of labour dapat
juga diterapkan pada tugas manajerial.
2. Authority and Responsibility. Kewenangan dan
tanggung jawab selalu bergandengan. Kewenangan
adalah hak untuk memerintah dan kekuatan untuk
menjadikan orang lain tunduk, sedangkan tanggung
jawab adalah ganjaran atau hukuman yang
mengikuti penggunaan kekuatan (power) tadi.
3. Disciplin. Ketaatan, energi, dan perilaku yang benar.
Dalam hal ini organisasi harus memiliki pemimpin
yang secara konsekuen mampu menerapkan sanksi
kepada mereka yang merusak disiplin atau
melakukan ketidaktaatan.
4. Unity of Command. Setiap orang hanya
mempunyai satu atasan saja (ketentuan ini
oleh Fayol tidak sekedar dianggap prinsip
melainkan suatu aturan yang tak dapat
dilanggar).
5. Unity of Management. Hal ini jangan
dikacaukan dengan kesatuan komando.
Kesatuan manajemen berarti harus ada satu
manajer dan satu rencana untuk setiap
kegiatan yang memiliki sasaran yang sama.
6. Subordination of Individual Interest to the
Common Good. Kepentingan individu harus
ada di bawah kepentingan umum. Ambisi,
egoisme,sering, menyisihkan kepentingan dan
menonjolkan kepentingan pribadi.
7. Remuneration of the staff. Pemberian gaji/upah
pada pegawai dengan beberapa tunjangan
seperti bonus, pembagian laba atau apapun
hendaknya bersifat adil, dan dapat mendorong
orang untuk bergairah kerja.
8. Cetralization. Pada batas-batas tertentu
sentralisasi kewenangan segarusnya tetap
ada, walaupun sebagian besar perlu
didesentralisasikan. Sejauh mana
kewenangan akan didesentralisasikan
akan bergantung kepada situasinya.
9. The Hierarchy. Harus ada tingkatan
kedudukan pejabat mulai dari tingkat
paling atas ke yang paling bawah.
10. Order. Harus ada tempat untuk setiap hal (orang
atau barang), dan setiap hal harus ada di
tempatnya. Segala sesuatu harus tertib, teratur
dan semerawut.
11. Equity. Adanya keadilan dan keseimbangan.
12. Stability of Staff. Harus ada staf yang mapan,
betah di dalam organisasinya, jangan banyak yang
keluar (berhenti) walaupun banyak juga yang
masuk, karena membentuk staf yang terampil
pada dasarnya akan meminta waktu dan biaya.
13.Initiative.Staf/pegawai harus memiliki
kemampuan untuk berkarya merancang
sesuatu dan melaksanakannya dalam
batas kewenangannya.
14.Esprit de Corps. Harus ada keharmonisan
dan rasa persatuan di antara staf. Untuk
ini diperlukan kesatuan komando dan
komunikasi lisan. (Sugandha : 26)
G.R. Terry (Principles of Management)
menyatakan bahwa fungsi-fungsi fundamental
manajemen meliputi hal-hal sebagai berikut:
Planning (perencanaan);
Organizing (pengorganisasian);
Actuating (menggerakkan);
Controlling (mengawasi).
Ingat singkatan: P.O.A.C.
H. Albers (Management, The Basic
Concepts) mengemukakan fungsi-fungsi
manajemen berikut:
Planning;
Organizing;
Directing;
Controlling.
Ingat singkatan: P.O.D.C.
Richard D. Anderson (Management Practice)
membagi manajemen dalam 5 elemen sebagai
berikut:
Planning;
Organizing;
Staffing;
Excecuting;
Appraising.
Ingat singkatan: P.O.S.E.A.
Henri Fayol (Bapak Konsepsi Proses)
memasukkan fungsi-fungsi berikut dalam aktivitas
manajemen:
Planning;
Organizing;
Command;
Coordinat;
Control.
Ingat singkatan: P.O.C.C.C. (POC3)
Luther Gulick pada tahun 1930 memberikan garis-
garis tugas disingkat dengan kata-kata POSDCORB
yang merupakan singkatan dari:
Planning;
Organizing;
Staffing;
Directing;
Coordinating;
Reporting;
Budgetting.
Ernest Dale dalam bukunya: Management: Theory
and Practice membagi fungsi-fungsi manajemen
dalam:
Planning;
Organizing;
Stafing;
Direction;
Innovation;
Representation.
Ingat singkatan: P.O.S.D.I.R.
Herbert G. Hicks (The Management of
Organizations) mengemukakan pembagian berikut:
Gambar 1:
Fungsi-fungsi manajemen menurut Hicks

PLANNING

CREATING ORGANIZING
PERILAKU
MANUSIA
CONTROLLING MOTIVATING

COMMUNICATING
Para manajer adalah anggota organisasi yang menyuruh
orang lain melakukan sesuatu dan memberi tahu cara
melakukannya. Menurut Stephen P. Robbins dan Mary Coulter
dalam bukunya Manajemen mengatakan, Manajer adalah
seseorang yang bekerja dengan dan melalui orang lain dengan
mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan pekerjaan mereka guna
mencapai sasaran organisasi. Manajer Lini Pertama adalah
manajer pada tingkatan paling rendah dalam oeganisasi yang
mengelola pekerjaan karyawan non-manajerial yang terlibat
dalam produksi dan penciptaan produk organisasi. Manajer
Menengah adalah manajer diantara tingakatan lini pertama dan
tingakatan puncak organisasi yang mengelola pekerjaan para
manajer lini pertama. Manajer Puncak adalah manajer didekat
tingkatan puncak organisasi yang bertanggung jawab membuat
keputusan yang berlingkup keseluruhan organisasi dan
menyusun sasaran serta rencana yang mempengaruhi organisasi
secara keseluruhan. (Lihat gambar 1)
Stoner, Freeman dan Gilbert mengatakan bahwa Manajer
Puncak terdiri dari kelompok yang relatif sedikit, Manajer
Puncak bertanggung jawab untuk manajemen keseluruhan dari
sebuah organisasi. Orang-orang ini disebut eksekutif. Mereka
menetapkan kebijakan operasional dan pedoman interaksi
organisasi dengan lingkungan. Biasanya nama jabatan Manajer
Puncak adalah chief executive officer, presiden, dan wakil
presiden. Disamping itu ada juga Manajer Fungsional yaitu
bertanggung jawab hanya untuk satu bidang fungsional, seperti
produksi, pemasaran, atau keuangan. Kemudian ada Manajer
Umum yaitu sebaliknya, berarti membawahi unit yang
kompleks seperti sebuah perusahaan, sebuah anak perusahaan,
atau sebuah devisi informasi independen. Dia bertanggung
jawab atas semua kegiatan dari unit tersebut seperti produksi
pemasaran dan keuangan. Sebuah perusahaan kecil mungkin
hanya mempunyai satu Manajer Umum yaitu Presiden atau
Wakil Presiden Eksekutif.
Gambar 1
Tingkatan Keorganisasian

Manajer
Puncak

Manajer Menengah

Manajer Lini Pertama

Karyawan Non-manajerial
Secara sederhana, manajemen adalah apa yang
dilakukan oleh manajer. Manajemen adalah proses
mengkoordinasi kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga
secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain.
Proses di sini menggambarkan fungsi-fungsi yang
sedang berjalan atau kegiatan-kegiatan utama yang
dilakukan oleh para manajer. Fungsi-fungsi itu lazimnya
disebut merancang, mengorganisasi, memimpin, dan
mengandalikan.
Selain itu, manajemen memasukan efisiensi dan
efektivitas penyelesaian kegiatan-kegiatan pekerjaan
orgnisasi atau sekurang-kurangnya itulah yang
didambakan oleh manajer.
Efisiensi adalah memperoleh output terbesar dengan input yang
terkecil; digambarkan sebagai melakukan segala sesuatu secara
benar.
Efektivitas adalah menyelesaikan kegiatan-kegiatan sehingga
sasaran organisasi dapat tercapai digambarkan sebagai melakukan
segala sesuatu yang benar.
Gambar 2
Efisiensi dan Keefektifan Manajemen
Efisiensi (Sarana) Keefektivan (Hasil Akhir)
Penggunaan Sumber Daya Penerapan Sasaran
Kemubaziran Rendah Pencapaian Tinggi

Upaya Keras Manajemen:


Kemubaziran sumber daya yang rendah (efisiensi tinggi)
Pencapaian sasaran yang tinggi (efektivitas tinggi)
Menurut George R. Terry Seperti
didefinisikan dahulu, proses atau pendekatan
operasional mempersamakan manajemen dengan
apa yang dibuat seorang manajer untuk
memenuhi persyaratan sebagai seorang manajer.
Sebaliknya, apa yang dibuat oleh sang manajer
adalah berbeda; ia adalah suatu aktivitas yang
dibentuk oleh beberapa fungsi pokok, yang lantas
membentuk suatu proses yang unik proses
manajemen. Fungsi-fungsi pokok ini merupakan
pokok pembicaraan.
Fungsi dan Proses Manajemen (menurut Robbins dan
Coulter dalam bukunya Manajemen, 2004:8)
Merencanakan, fungsi manajemen yang mencakup proses
mendefinisikan sasaran, menetapkan strategi untuk mencapai
sasaran itu, dan menyusun rencana untuk mengintegrasikan dan
mengkoordinasikan sejumlah kegiatan.
Mengorganisasi, fungsi manajemen yang mencakup proses
menentukan tugas apa yang harus dilakukan, siapa yang harus
melakukan, bagaimana cara mengelompokkan tugas-tugas itu,
siapa harus melaporkan ke siapa, dan dimana keputusan harus
dibuat.
Memimpin, fungsi manajemen yang mencakup memotivasi
bawahan, mempengaruhi indivudu atau tim sewaktu mereka
bekerja, memiliki saluran komunikasi yang paling efektif, dan
memecahkan dengan berbagai cara masalah perilaku karyawan.
Mengendalikan, fungsi manajemen yang
mencakup memantau kinerja aktual,
membandingkan aktual dengan standar,
dan membuat koreksinya, jika perlu.
Proses Manajemen, serangkaian
keputusan dan kegiatan kerja yang sedang
terjadi yang dialami oleh para manajer
sewaktu mereka merencanakan,
mengorganisasi, memimpin dan
mengandalikan.
Penting untuk diingat, bahwa manajemen adalah
suatu bentuk kerja. Manajer, dalam melakukan
pekerjaannya, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan
tertentu, yang dinamakan fungsi-fungsi manajemen, yaitu
terduru dari:
Planning menentukan tujuan-tujuan yang hendak
dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa
yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan
itu.
Organizing mengelompokkan dan menentukan
berbagai kegiatan penting dan meberikan kekuasaan
untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan itu.
Staffing menentukan keperluan-keperluan sumber
daya manusia, pengarahan, penyaringan, latihan dan
pengembangan tenaga kerja.
Motivating mengarahkan atau menyalurkan perilaku
manusia kearah tujuan-tujuan.
Controlling mengukur pelaksanaan dengan tujuan-
tujuan, menentukan sebab-sebab penyimpangan-
penyimpangan dan mengambil tindakan-tindakan
korektif dimana perlu.
Selanjutnya memerinci jenis-jenis khusus kegiatan-
kegiatan yang terlibat dalam masing-masing fungsi
manajemen. Setiap manajer, terlepas dari tingkatnya
dalam organisasi itu, sampai batas tertentu
melaksanakan semua fungsi ini. Namun, banyaknya
waktu yang secara relatif dihabiskan untuk tiap-tiap
fungsi, mungkin berbeda antar situasi yang satu dengan
yang lain. Setiap tingkat manajemen tidak menggunakan
kombinasi yang sama dari fung-fungsi ini.
Seorang manajer tingkat pertama (pengawas) mungkin
menggunakan kombinasi 10 persen perencanaan, 10 persen
pengaturan, 10 persen kepegawaian, 40 persen pemberian
motivasi, dan 30 persen pengawasan. Sebaliknya, seorang
manajer tingkat puncak, seperti seorang presiden sebuah
korporasi, mungkin menggunakan kombinasi 30 persen
perencanaan, 20 persen pengorganisasian, 20 persen penggunaan
pegawai, 15 persen pemberian motivasi dan 15 persen
pengawasan. Selanjutnya manajer-manajer yang saling berbeda
dan menduduki posisi yang sama dalam organisasi itu, mungkin
menggunakan berbagai kombinasi yang berbeda dari fungsi-
fungsi itu. Hal ini mungkin disebabkan karena tingkat-tingkat
keahlian perorangan yang berbeda-beda atau faktor-faktor
lingkungan. Tidak diharuskan adanya banyak waktu yang
diperlukan bagi suatu fungsi khusus. Penentuan banyaknya waktu
adalah keputusan dari manajer itu sendiri. Namun, seorang
manajer yang melewatkan hampir semua waktunya untuk
menjalankan satu fungsi saja dengan mengabaikan satu atau lebih
fungsi-fungsi lainnya, seharusnyalah menganalisa dengan cermat
pelaksanaan pekerjaannya.
Robert L. Katz, seorang guru dan eksekutif
bisnis, memopulerkan konsep yang dikembangkan
pada awal abad ini oleh Henri Fayol, seorang ahli
teori manajemen terkenal, yang akan kita temui lagi
dalam Bab 2. Fayol mengidentifikasi tiga macam
keterampilan dasar: teknis, manusiawi, dan
konseptual. Setiap manajer memerlukan ketiganya.
Keterampilan teknis adalah kemampuan
manusia untuk menggunakan prosedur, teknik, dan
pengetahuan mengenai bidang khusus. Ahli bedah,
insinyur, musisi, dan akuntan semuanya mempunyai
keterampilan teknis dalam bidang masing-masing.
Keterampilan manusiawi adalah kemampuan
untuk bekerja sama, memahami, dan memotivasi
orang lain sebagai individu atau dalam kelompok.
Keterampilan konseptual adalah kemampuan
untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan
semua kepentingan dan aktivitas organisasi. Ini
termasuk melihat organisasi secara keseluruhan,
memahami bagaimana bagian-bagiannya, saling
tergantung, dan mengantisipasi bagaimana perubahan
dalam salah satu bagian tersebut akan
mempengaruhi seluruh organisasi.
Selanjutnya keterampilan manajemen dalam Manajemen;
Konsep, Prinsip dan Aplikasi (Maman Ukas, 2004:111)
sebagai berikut:
1. Kompetensi Manajemen
Seseorang akan dapat mengelola organisasi apabila ia
memiliki kemampuan manajerial dengan atau karateristik
personal yang membantu tercapainya kinerja yang tinggi
dalam tugas manajemen. Adapun karakteristik personal
(kompetensi pribadi) yang harus ada dan diperlukan pada
diri seorang manajer agar mencapai keberhasilan, sebagai
berikut:
1) Kepemimpinan (Leadership): kemampuan untuk
mempengaruhi orang lain agar mau melaksanakan tugas.
2) Objektivitas sendiri (My Objectivity): kemampuan untuk
menilai diri sendiri secara realistis.
3) Berpikir Analitis (Analytic Thingking): kemampuan untuk
menginterpretasikan dengan menyampaikan segala
macam bentuk informasi.
4) Fleksibilitas perilaku (Behavior Flexibility): kemampuan
untuk menyesuaikan perilaku dalam mencapai suatu
tujuan.
5) Komunikasi lisan (Oral Communication): kemampuan
untuk mengungkapkan pendapat secara jelas dalam
berbicara.
6) Komunikasi tulis (Written Communication):
kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dengan
baik secara tertulis.
7) Dampak pribadi (Personal Impact): kemampuan untuk
menumbuhkan kesan baik dan kepercayaan orang.
8) Daya tahan terhadap stres (Ristence to stress):
kemampuan untuk tetap dapat bekerja dalam
keadaan tertekan.
9) Toleransi terhadap ketidakmenentuan (Tolerance
for uncertainty): kemampuan untu bekerja dalam
situasi yang tidak menentu.
(J. R. Schermerhorn, 1996)
Sedangkan keterampilan dan kemampuan
yang harus dimiliki oleh seorang manajer yang
diidentifikasikan oleh SCAN (Secretarys
Commision on Achieving Necessary Skills)
dibangun oleh 3 keterampilan dasar dan
kemampuan kerja, sebagai berikut:
Tiga Dasar Keterampilan dan Kualitas Pribadi
Ada tiga persyaratan yang harus dikuasai oleh setiap
individu agar memiliki keterampilan, ia membutuhkan:
a. Kecakapan dasar (Basic Skill). Membaca menulis, aritmetik
dan matematik, berbicara dan kemampuan mendengarkan
(semua fungsi-fungsi dan keahlian manajemen membutuhkan
keahlian dasar, keahlian membaca dapat dikembangkan
melalui bacaan dari buku, membutuhkan kemampuan
matematika, keahlian berbicara dapat dikembangkan dari
berbagai kegiatan di kelas, memberikan saran-saran masukan
untuk mengembangkan kemampuan menulis berbicara dan
mendengarkan.
b. Kemampuan berpikir (Thinking Skill). Berpikir secara kreatif,
membuat keputusan, menyelesaikan masalah, kemampuan
cara melihat/sudut pandang dalam melihat segala sesuatu,
tahu bagaimana mempelajari dan beradu argumentasi.
c. Kualitas individu (Personal Qualities). Tanggung jawab
individu, penghargaan atas dirinya sendiri, kemampuan
bersosialisasi manajemen diri sendiri dan integritas.
2. Keterampilan Manajerial
Untuk dapat menangani pekerjaan dengan baik, para
manajer disyaratkan agar mempunyai keterampilan
sesuai dengan lapangan kerja yang dipegangnya.
Menurut pendapat para ahli praktek sukses dibidang
manajemen banyak dibantu oleh pengetahuan dan
keterampilan dalam ketiga bidang berikut: (1)
Konseptual (Conceptual Skill). (2) Kemanusiaan (Human
Skill). (3) Teknis (Technical Skill). Ketiga keterampilan
tersebut ada kaitannya dengan kompetensi yang harus
dimiliki oleh manajemen dalam setiap tingkatan
organisasi yang didudukinya. Ketiga keterampilan
tersebut dapat diilustrasikan pada gambar berikut:
Keahlian yang dibutuhkan
Pada setiap tingakatan manajemen organisasi

Manajemen Keahlian
Tingkat Atas konseptual

Hubungan
Kemanu-
Manajemen Manajemen Tingkat
siaan
Tingkat Menengah Menengah

Keahlian
Teknis

Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen Manajemen


tingkat tingkat tingkat tingkat tingkat tingkat
bawah bawah bawah bawah bawah bawah
TEORI MANAJEMEN KLASIK
1. Henry Fayol (1841-1925)
(menurut Amirullah Haris Budiyono dalam bukunya
Pengantar Manajemen, 2004:36-39) Henry Fayol
adalah seorang industriawan Perancis yang kemudian
terkenal sebagai bapak manajemen operasional
mengembangkan manajemen sebagaimana yang
dikemukakannya dalam bukunya yang terkenal yang
berjudul Administration Industrielle et generale: Fayol
berpendapat bahwa dalam perusahaan industri
kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan manajemen dapat
dibagi ke dalam beberapa kelompok tugas, yaitu:
- Technical. Merupakan kegiatan memproduksi dan membuat
produk. Kegiatannya meliputi merencanakan dan mengorganisir
produk.
- Commercial. Meliputi kegiatan membeli bahan-bahan yang
dibutuhkan dan menjual barang (hasil produksi).
- Finacial. Kegiatan pembelanjaan, yakni meliputi kegiatan mencari
modal dan bagaimana menggunakan modal tersebut.
- Security. Yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menjaga keamanan
(keselamatan kerja dan harta benda yang dimiliki perusahaan).
- Akuntansi. Meliputi kegiatan yang terdiri dari mancatat,
menghitung, mengkalkulasi biaya yang dilaksanakan, menghitung dan
menentukan keuntungan yang diperoleh, mengetahui hutang-hutang
yang menjadi kewajiban perusahaan menyajikan neraca, laporan
rugi laba, dan mengumpulkan data-data dalam bentuk statistik.
- Tugas manajerial. Melaksanakan fungsi-fungsi yang ada dalam
manajemen.
2. James D. Mooney
Menurut James D. Mooney; kaidah-kaidah yang
diperlukan untuk menetapkan organisasi manajemen
adalah sebagai berikut:
- Koordinasi, merupakan kaidah yang menghendaki
adanya wewenang, saling melayani, perumusan tujuan
dan kedisiplinan yang tinggi.
- Prinsip skalar, yaitu suatu prinsip yang
mendefinisikan tentang hubungan kepemimpinan,
pendelegasian dan antar fungsi-fungsi tertentu yang
dibutuhkan.
- Prinsip fungsional, merupakan suatu prinsip yang
mendeinisikan berbagai macam tugas yang harus
diselesaikan serta dalam usaha mencapai tujuan
bersama.
- Prinsip staf, merupakan prinsip yang
membedakannya sebagai manajer staf dan lini lainnya.
3. Mary Parker Follet (1868-1933)
Dalam tulisan tentang perusahaan dan organisasi-
organisasi yang lain Follet mengulas pemahaman
tentang kelompok dan tentang komitmen yang
tinggi terhadap kerja sama antar manusia.
Menurutnya kelompok merupakan suatu
mekanisme dimana individu yang beraneka ragam
dapat menggabungkan bakat-bakat yang dimiliki
untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Lebih jauh
Follet berpendapat bahwa dengan membuat
karyawan merasa memiliki perusahaan akan
tercipta rasa tanggung jawab kolektif. Follet yakin
perusahaan seharusnya meberikan pelayanan dan
keuntungan yang diperoleh perusahaan harus
dikaitkan dengan kesejahteraan umum.
4. Chaster I. Barnard (1886-1961)
Chaster memandang organisasi sebagai sistem
kegiatan yang diarahkan pada tujuan. Fungsi-fungsi
utama manajemen menurut pandangan Barnard
adalah perumusan tujuan dan pengadaan
sumberdaya-sumberdaya yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan. Barnard menekankan pentingnya
peralatan komunikasi untuk pencapaian tujuan
kelompok. Menurut teorinya bawahan akan
menerima perintah hanya bila mereka memahami
dan mampu serta berkeinginan untuk menuruti
atasan. Barnard adalah pelopor dalam penggunaan
pendekatan sistem untuk pengelolaan organisasi.
EVOLUSI PEMIKIRAN MANAJEMEN
1. Pendekatan Pemikiran Manajemen
(menurut Maman Ukas dalam bukunya Manajemen;
Konsep, Prinsip dan Aplikasi, 2004:60-66) Berbagai
pendekatan analisa manajemen yang disimpulkan oleh
Harold Koonts dan Heinz Weirich (1988) dalam
bukunya Management dikelompokkan menjadi 12
pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan Kasus Atau Empiris.
Pendekatan ini menganalisa manajemen dengan
mempelajari penelitian yang biasanya dilakukan melalui
kasus-kasus. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa
keberhasilan dan kesalahan manajer pada kasus-kasus
individu dan usaha mereka untuk menyelesaikan
masalah-masalah khusus.
2. Pendekatan Perilaku Interpersonal.
Pendekatan dalam perilaku interpersonal didasarkan pada
gagasan bahwa mengatur itu menyelesaikan sesuatu melalui
orang. Biasanya disebut hubungan antar manusia, kepemimpinan
atau ilmu perilaku. Studi yang mengfokuskan manusia sebagai
aspek manajemen. Studi ini percaya bahwa pada saat orang
bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan. orang
seharusnya mengerti orang lain.
3. Pendekatan Perilaku Kelompok.
Pendekatan perilaku kelompok erat sekali hubungannya dengan
pendekatan perilaku interpersonal. Fokus utamanya pada
perilaku orang dalam kelompok daripada individu, jadi
cenderung didasarkan pada sosiologi dalam sosial psikologi
daripada psikologi individu.
4. Pendekatan Sistem Kerjasama Sosial.
Fokus perhatiaannya adalah hubungan manusia sebagai sistem
sosial kerjasama.
5. Pendekatan Sistem Sosio Teknis.
Studi dalam masalah produksi dalam perusahaan menemukan
bahwa dalam menghadapi masalah produktivitas sistem teknis
(mesin dan metode) memiliki pengaruh yang kuat pada sistem
sosial. Dengan kata lain perilaku personal dan perilaku
kelompok dipengaruhi oleh sistem teknis dimana para pekerja
tersebut bekerja.
6. Pendekatan Teori Keputusan.
Pendekatan ini didasarkan pada gagasan bahwa manajemen
keilmuan membuat keputusan-keputusan dan analisa dari
proses pembuatan keputusan.
7. Pendekatan Teori Sistem.
Esensinya Sistem merupakan kumpulan dari bagian-bagian
yang saling berhubungan, saling ketergantungan yang
membentuk kesatuan yang kompleks. Bagian-bagian ini bisa
berupa fisik seperti elemen mobil atau biologis seperti
komponen tubuh manusia. Semua sistem kecuali alam semesta
sering berinteraksi dan saling mempengaruhi.
8. Pendekatan Matematis.
Fokus utama pada pendekatan ini adalah model matematis.
Melalui alat ini masalah dapat dinyatakan dalam istilah hubungan
dasar, dan dimana tujuan yang diberikan mencari pemecahan,
maka seringkali model dapat dibuat untuk memberikan saran
keputusan atas apa yang terbaik untuk dilakukan. Jika anda tidak
dapat menyatakannya secara matematis, maka semua itu adalah
pernyataan yang tidak berarti.
9. Pendekatan Situasional/Kontingensi.
Salah satu pendekatan yang populer adalah pendekatan
kontingensi yang menekankan pada apa yang manajer lakukan
dalam praktek tergantung pada keadaan yang diberikan
(kontingensi atau situasi).
10. Pendekatan Peranan Manajerial.
Esensi dari pendekatan ini adalah mengamati apa yang biasanya
dilakukan oleh manajer dari observasi tersebut disimpulkan
sebagai aktivitas manajerial (peranan).
11. Pendekatan 7s Mc. Kinsey.
Ketujuh S ini adalah Strategi, Structur, System, Style, Staff, Shared
Value, Skill. Model 7s ini sudah diuji secara ekstensif oleh
perusahaan konsultan Mc. Kinsey. Teori dan praktek saling
mendukung dalam manajemen.
12. Pendekatan Operasional.
Pendekatan Operasional mengakui adanya inti pusat
pengetahuan mengenai pengetahuan tentang yang bersangkutan
dengan pengurusan adalah lapangan manajemen karena fungsi
manajemen ditekankan pada pendekatan operasional seringkali
disebut sekolah proses manajemen. Pendekatan operasional
atau proses manajemen menggambarkan berbagai aliran dan
mengintegrasikan secara sistematikal semua aliran itu.
Pendekatan operasional menggambarkan kebersamaan,
keterhubungan pengetahuan manajemen dengan pekerjaan
manajerial tentang apa yang manajer kerjakan.
TEORI PERILAKU
Teori perilaku ditandai oleh tiga tingkatan kelompok
perilaku yaitu: 1) perilaku individu per individu; 2)
perilaku antar kelompok-kelompok sosial; dan 3)
perilaku antar kelompok sosial.
Para penganut teori perilaku dapat dirangkum sebegai
berikut:
1. Organisasi sebagai satu keseluruhan dan pendekatan
manajer individual untuk pengawasan harus sesuai dengan
situasi.
2. Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen
pekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan.
3. Manajemen harus sistematik dan pendekatan yang digunakan
harus dengan pertimbangan secara hati-hati.
4. Manajemen teknik dapat dipandang sebagai suatu proses
teknik secara ketat.
Selain empat pokok pikiran ini, berdasarkan hasil
riset perilaku dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Manajer masa kini harus diberikan latihan dalam pemahaman
prinsip-prinsip dan konsep-konsep manajemen.
2. Organisasi harus menjalankan iklim yang mendatangkan
kesempatan bagi karyawan untuk memuaskan seluruh
kebutuhkan mereka.
3. Unsur manusia adalah faktor kunci penentu sukses atau
kegagalan pencapaian tujuan organisasi.
4. Komitmen dapat dikembangkan melalui partisipasi dan
keterlibatan para karyawan.
5. Pola-pola pengawasan dan manajemen positif yang
menyeluruh mengenai karyawan dan reaksi mereka terhadap
pekerjaan.
6. Pekerjaan setiap karyawan harus disusun sedemikian rupa
sehingga memungkinkan mereka mencapai kepuasan diri dari
pekerjaan tersebut.
TEORI KUANTITATIF
Teori kuantitatif menfokuskan perhitungan manajemen
didasarkan atas perhitungan-perhitungan yang dapat
dipertanggungjawabkan keilmiahannya. Dalam pemecahan
masalah terlebih dahulu diketahui masalahnya dengan
melakukan riset ilmiah, riset operasional, teknik-teknik ilmiah
seperti kegiatan penganggaran modal, manajemen aliran kas,
pengembangan strategi produk, perencanaan program, dan
pengembangan sumber daya manusia.
Pendekatan ini biasanya dengan prosedur dan langkah-
langkah, sbb: (1) Merumuskan masalah; (2) Menyusun model
matematik; (3) Mendapatkan penyelesaian dari model; (4)
Menganalisis model dan hasil yang diperoleh dari model; (5)
Menetapkan pengawasan atas hasil-hasil; (6) Mengadakan
implementasi kegiatan.
Pemecahannya harus memberikan dasar kepada manajer
menyangkut dasar-dasar pendekatan yang rasional.