Anda di halaman 1dari 19

Dasar-dasar

penyiaran
Sejarah dan
Perkembangan Penyiaran

Ms. Tata
0815.369.66666
intan_tataku@ymail.com
intantataku26@gmail.com
Penyiaranatau dalam bahasa Inggris dikenal
sebagai broadcasting, adalah keseluruhan
proses penyampaian siaran yang dimulai dari
penyiapan materi produksi, proses produksi,
penyiapan bahan siaran, kemudian
pemancara sampai kepada penerimaan siaran
tersebut oleh pendengar/pemirsa di satu
tempat.
Sejarah media penyiaran dibagi menjadi 2 alur
yaitu sejarah media sebagai:
a. Penemu teknologi
b. Sejarah media sebagai suatu industri.
Sejarah sebagai penemu teknologi ditandai
oleh tiga tonggak sejarah, yaitu berawal dari
teori matematis yang ditemukan oleh Maxwell
(1864) seperti diuraikan sebelumnya, yang
kemudian dilanjutkan pengembangannya oleh
Heinrich Hertz (1887) dan diimplementasikan
secara praktis oleh Marconi (1901) dengan
pengiriman sinyal telegraf trans-Atlantik dari
Cornwall, Inggris ke New Foundland, Kanada.
Selanjutnya penemuan demi penemuan
dilakukan oleh para ilmuan, baik yang
merupakan penemuan baru atau inovasi dari
penemuan sebelumnya.
1. Sejarah Radio
Awal kegiatan penyiaran dengan format seperti atau mirip dengan
yang kita lihat sekarang, dimulai dengan penyiaran radio yang
memancarkan siaran berupa sinyal suara dengan sistem modulasi
amplitudo(amplitude modulation=AM) yang dikenal luas pada tahun
1920.
Namun, dalam catatan sejarah, pada 1916, Lee de Forest telah memulai
siaran untuk reportase pemilihan presiden saat itu di New York.
Kemudian tahun demi tahun muncul inovasi dari berbagai sistem radio,
mulai dari FM, UHF sampai sistem berjaringan.
Di Indonesia. Sejarah radio sebagai Industri dibagi menjadi 4 periode,
zaman penjajahan belanda, jepang, zaman kemerdekaan dan zaman
reformasi
Media penyiaran yang dikelola oleh masyarakat pribumi
bersifat sangat ketat, karena terdapat kecenderungan media
pemancar radio itu digunakan sebagai propaganda cinta
Indonesia walaupun stasiun pribumi hampir semuanya
menggunakan bahasa Belanda..
Pemerintah belanda mengeluarkan regulasi yaitu radiowet
(undang2 radio) dalam menertibkan organisasi penyiaran
radio pada masa itu, terutama pada frekuensi dan isi siaran.
Diresmikannnya stasiun berafiliasi dengan pemerintah, yaitu
NIROM (Nederland Indische Radio Omroep Maatschappi)
pada 1 April 1934.
Nirom diberikan hak untuk menerima iuran pendengar yang
kini dapat kita samakan dengan pajak radio sebesar F 1,50
(1,5 gulden perbulan)
Daerah Indonesia ditempatkan dibawah
pemerintahan militer jepang. Segala kegiatan politik
dan rencana jepang selanjutnya dimaksudkan untuk
menjamin tercapainya tujuan ekspansi jepang.
Jepang menghentikan kegiatan PPRK (perikatan
perkumpulan radio ketimuran) dan perkumpulan
radio nasional lainnya.
Kemudian dibentuk suatu jawatan yang mengurus
siaran radio yang disebut Hoso Kanri Kyoku (jawatan
urusan radio). Pusat radio jepang untuk pulau jawa
berada di jakarta. Pada waktu siaran radio berada
dibawah pengawasan Sandenbu (bagian propaganda
tentara jepang)
Untuk mengurusi pesawat penerima radio, hoso
kyoku di daerah2 mendirikan kantor cabang
yang dinamai Shodanso. Kantor shodanso
antara lain bertugas menyegel pesawat2 radio
dan menggantikannya dengan pesawat radio
umum yang diinstalansi di tempat2 yang
strategis dan ramai.
Lalu dilarangnya pesawat radio perorangan
serta dimulainya pemakaian radio umum oleh
jepang dimaksudkan untuk melarang
mendengarkan siaran radio yang berasal dari
luar negeri. Sebaliknya rakyat digiring untuk
hanya mendengarkan siaran2 hoso kyoku.
ERA ORDE LAMA
Stasiun dari jaman penjajahan berubah menjadi
RRI stasiun daerah bersangkutan, yang dinamai
stasiun nusantara, stasiun regional I, II.
Semua stasiun penyiaran tersebut merupakan
stasiun penyiaran pemerintah yang merupakan
corong dari pemerintahan tanpa syarat yang
dikenal, yaitu memberikan dukungan penuh
kepada pemerintah.
Pelaksanaan penyiaran masih diwarnai semangat
kemerdekaan, sehingga pemerintah tidak perlu
mengeluarkan regulasi yang bersifat sangat
membatasi.
ERA ORDE BARU
Radio amatir menjamur pada awal orde baru
(1966, namun dalam pertumbuhannya menyimpang
atau tidak mengikuti disiplin (kaidah) fungsi
amatir.
Direktorat jenderal RTF (jenderal radio, televisi
dan film) duduk bersama2 dalam tim antar
departemen, mulai memberikan peran pembinaan
terhadap siaran2 radio amatir yang dianggap
menyimpang.
Lingkup pembinaannya meliputi bidang software
dan hardware.
Adanya satu lembaga independent, yaitu komisi penyiaran Indonesia
yang mempunyai tugas utama mengendalikan isi penyiaran.
Regulasi lain dalam undang2 tersebut adalah izin siaran yang harus
dimiliki oleh setiap lembaga penyiaran yang menyangkut juga
penggunaan kanal tertentu, satu larangan pemusatan kepemilikan
beberapa media massa yang dituangkan dalam beberapa pasal.
Dunia penyiaran melahirkan banyak stasiun baru, sehingga diperlukan
payung hukum guna memuluskan operasionalisasi dan penataan di
lapangan. Oleh karena itu UU penyiaran itu lahir.
Selama rezim orde lama dan orde baru,
terjadi kevakuman atas status legislasi dari
ranah dunia media massa penyiaran
Indonesia. Secara khusus, produk
perundang2an yang menyangkut pengaturan
dan penataan ihwal penyiaran belum muncul.
Secara konseptual, terjadi pula contraditio in
terminis dalam perundang2an pers yang
hanya memasukkan objek media cetak
sebagai objek hukum. Sedangkan, media
penyiaran dieksklusikan dari definisi pers
sebenarnya.
Disamping itu, dalam dua rezim tersebut,
kekosongan status hukum menjadikan dunia
penyiaran mandul.
Dalam pertelevisian nasional misalnya, hanya
TVRI yang mendominasi sebelum disusul oleh
RCTI sebagai TV komersial yang pertama,
itupun dengan catatan TVRI dibacking penuh
sebagai instrumen media massa pemerintah
yang berkuasa kala itu. Konsekuensinya, di
tataran isi dan kualitas, TVRI lebih condong
pada pola penyiaran yang state oriented bukan
public oriented.
2. . Sejarah Televisi
Televisi mengalami perkembangan secara
dramatis, terutama melalui pertumbuhan
televisi kabel. Transmisi televisi kabel
menjangkau khalayak sampai ke pelosok
negeri dengan bantuan satelit dan diterima
langsung oleh layar televisi dengan
menggunakan wire atau microvawe yang
membuka tambahan saluran televisi bagi
pemirsah. Kemudian perkembangan televisi
semakin marak setelah dikembangkannya
Direct Broadcasting Satelite (DBS)
Menurut catatan Agee et.al, siaran
percobaan televisi di AS dimulai pada tahun
1920an. Para ilmuan terus menerus
mengembangkan teknolohi komunikasi
televisi.
Pada tahun 1948 merupakan tahun
penting dalam dunia pertelevisian dengan
dikembangkannya televisi komersial di AS.
Sejak saat itu televisi mengalami
perkembangan yang pesat dan berpengaruh
luar biasa terhadap khalayak.
Kegiatan penyiara televisi di Indonesia dimulai pada tanggal 24 Agustus
1962 bertepatan dengan dilangsungkannya pesta olahraga Asia ke 4 (Asia
Games) di Senayan Jakarta. Sejak itu pula TVRI di pergunakan sebagai
station call sampai sekarang. Selama tahun 1962-1963 TVRI mengundara
rata2 1 jam sehari dengan segala kesederhanaanya.
Sesuai dengan keinginan masyarakat dan kepentingan pemerintah, pada
tanggal 16 Agustus 1976 Presiden Soeharto meresmikan penggunaan
satelit Palapa untuk keperluan telekomunikasi dan televisi dan seiring
dengan itu dimulailah era baru bagi perkembangan pertelevisian di
Indonesia.
Pada akhir 1980an dan tahun 1990an bermunculan beberapa televisi
swasta di Indonesia seperti (RCTI, SCTV, Indosiar, TPI dan ANTV)
Setelah pemerintahan Soeharto (Orde Baru) jatuh pada bulan Maret 1998
oleh gerakan reformasi, bermunculan pula televisi swasta lainnya seperti
METRO TV, TRANS TV, GLOBAL TV dan berkembang pula televisi
berlangganan yang menyajikan berbagai program dalam dan luar negeri.
Pengertian new media secara umum memang
dapat diperdebatkan, dimana batas
dimulainya media yang masuk dalam kategori
new media. Titik temu dari berbagai
pendapat yang dikemukakan, ialah new
media memiliki karakteristik:
a. Sudah masuk era digital
b. Sudah memiliki sifat interaktif
c. Sudah tidak mengenali batas wilayah