Anda di halaman 1dari 8

Public Accountings Role in

Fraud Detection
Peran Akuntan Publik dalam Mendeteksi Kecurangan
Statement on Auditing Standards AICPA yang paling pertama, yaitu SAS No. 1
menyatakan:

The auditor has no responsibility to plan and perform the audit to obtain reasonable
assurance that misstatements, whether caused by errors or fraud, that are not material to
the financial statements are detected.

Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna
memperoleh keyakinan memadai bahwa salah saji, baik yang disebabkan oleh kekeliruan
atau kecurangan, yang tidak material terhadap laporan keuangan telah terdeteksi.
Pada tahun 1997, setelah banyak tekanan dari para professional dan berkembangnya
investasi, AICPA menyatakan kembali tanggung jawab auditor terkait fraud dalam SAS No.
82:

The auditor has a responsibility to plan and perform the audit to obtain reasonable
assurance about whether the financial statements are free of material misstatement,
whether caused by error or fraud.

Auditor memiliki tanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji
material, baik yang disebabkan oleh kesalahan atau kecurangan.
Enron, WorldCom collapse.
Pada Desember 2002, AICPA merilis SAS No. 99 tentang tanggung jawab auditor dalam
mendeteksi kecurangan dalam laporan keuangan.
SAS No. 99 mengharuskan auditor eksternal untuk memiliki sikap professional
skepticism terkait kecurangan yang mungkin terjadi.
Tiga karakteristik penyebab terjadinya kecurangan:
Insentif
Opportunities
Ability to rationalize
Dengan adanya SAS No. 99:
Professional Skepticism
External auditor diharapkan untuk mewawancarai manajemen dan orang-orang dari
semua level karyawan di dalam perusahaan terkait persepsi mereka terhadap risiko
kecurangan, dan apakah mereka sadar akan adanya masalah atau kecurangan yang
sedang terjadi. Dengan cara ini, mereka memiliki kesempatan untuk mengungkapkan
apa yang terjadi dalam perusahaan tersebut.
Mengakui bahwa manajemen seringkali memiliki kekuasaan untuk mengabaikan
kontrol demi melakukan kecurangan. Oleh karena itu, SAS No. 99 memberikan
penekanan dalam mendeteksi kecurangan, di antaranya dengan melakukan prosedur
pengujian terhadap potential management overrides of controls.

Inilah yang kemudian menjadi pembeda antara SAS No. 99 dengan standar sebelumnya.
Sebagai pendukung penerapan standar audit dalam mendeteksi kecurangan bagi para
anggotanya, AICPA mengarahkan para auditor eksternal agar selalu up-to-date dengan
kondisi yang berpotensi kecurangan, yaitu melalui edukasi dan studi kasus.
Dalam websitenya, terdapat berbagai macam studi kasus, publikasi, dan referensi terkait
management fraud issues.
Brinks mengambil contoh salah satu materi terkait fraud, ditunjukkan dalam Exhibit Fraud
Risk Factors Relating to Misappropriation of Assets berikut.
Faktor risiko terkait salah saji yang timbul akibat penyalahgunaan aset diklasifikasikan
menurut tiga kondisi yang umumnya ada saat terjadi kecurangan: (1) insentif/tekanan, (2)
kesempatan, dan (3) attitudes/rasionalisasi.

Incentives/Pressures
A. Personal financial obligations may create pressure on management or employees with
access to cash or other assets susceptible to theft to misappropriate those assets.
B. Adverse relationships (hubungan buruk) between the entity and employees with
access to cash or other assets susceptible to theft may motivate those employees to
misappropriate those assets. For example, adverse relationships may be created by
the following:
Known or anticipated future employee layoffs
Recent or anticipated changes to employee compensation or benefit plans
Promotions, compensation, or other rewards inconsistent with expectations
Opportunities
A. Certain characteristics or circumstances may increase the susceptibility of assets to misappropriation. For example, opportunities to
misappropriate assets increase when there are the following:
Large amounts of cash on hand or processed
Inventory items that are small in size, of high value, or in high demand
Easily convertible assets, such as bearer bonds, diamonds, or computer chips
Fixed assets that are small in size, marketable, or lacking observable identification of ownership
B. Inadequate internal control over assets may increase the susceptibility of misappropriation of those assets. For example,
misappropriation of assets may occur because there is the following:
Inadequate segregation of duties or independent checks
Inadequate management oversight of employees responsible for assets (for example, inadequate supervision or monitoring of
remote locations)
Inadequate job applicant screening of employees with access to assets
Inadequate recordkeeping with respect to assets
Inadequate system of authorization and approval of transactions (for example, in purchasing)
Inadequate physical safeguards over cash, investments, inventory, or fixed assets
Lack of complete and timely reconciliations of assets
Lack of timely and appropriate documentation of transactions (for example, credits for merchandise returns)
Lack of mandatory vacations for employees performing key control functions
Inadequate management understanding of information technology, which enables information technology employees to perpetrate
a misappropriation
Inadequate access controls over automated records, including controls over and review of computer systems event logs.