Anda di halaman 1dari 26

MANAJEMEN LOGISTIK DAN

PERALATAN

Muhammad Dirhamsyah
Unsur Pengarah, Badan Penanggulangan Bencana Aceh
BIOGRAPHY
Muhammad Dirhamsyah
Muhammad Dirhamsyah lahir tanggal 2 Oktober 1962 dan menyelesaikan program
Doktor bidang Teknik Mesin, dengan fokus kajian pemantauan kondisi pemesinan,
sistem pengintegrasian manufaktur, Computer Aided Alternative Process Planning
(CAAPP) dan Computer Aided Design/Computer Aided Manufacturing (CAD/CAM).
Sejak 2005, sesudah bencana gempa bumi dan tsunami Aceh 2004, bersama rekan lokal,
nasional dan internasional berupaya berperan aktif dalam memberikan kontribusi ilmu
pengetahuan untuk aktivitas Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction-
DRR) dan kehilangan ibu dan anak pada saat bencana 2004.

Tahun 2006 hingga Oktober 2013, terpilih sebagai Ketua Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana
(Tsunami and Disaster Mitigation Research Center-TDMRC), yang merupakan salah satu pusat kajian di
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang fokus pada aktivitas kebencanaan. Menjadi narasumber
diberbagai pertemuan ilmiah internasional menjadi agenda untuk sharing pengetahuan pada pertemuan
dan seminar ke manca negara antara lain, pembicara di forum Asia Pacific Economic Conference (APEC)-
TFEP Workshop on Large-Scale Disaster Recovery (2008) di Taiwan, narasumber di Scientific National
Meeting, South-South Cooperation Meeting 2nd Session Global Platform for DRR mendampingi Dutabesar
Swiss (2009) di Geneva dan pembicara utama pada Symposium on Disaster Prevention, Recovery, and
Revitalization (2011) di Niigata. Sekarang ini aktif berkontribusi sebagai narasumber kebencanaan dan
manufaktur di Pemerintah Aceh, Nasional dan Internasional.

Karir mulai di Jurusan Teknik Mesin Unsyiah tahun 1988; sebagai Ketua Laboratorium CNC-CAD/CAM
(1990-1992), Ketua Laboratorium Teknik Produksi (2005), Ketua Jurusan Teknik Mesin (2005-2009), Ketua
Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana - TDMRC (2006-2013), Ketua Program Studi Magister Ilmu
Kebencanaan (2011-2016) dan Ketua Unsur Pengarah Profesional Badan Penanggulangan Bencana Aceh
(2014-2019), anggota Laboratorium Desain dan Manufaktur (2006-sekarang) dan Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Ar-Raniry (2016-sekarang)
MATERI
1. Pengertian Manajemen
2. Manajemen Logistik PB,
3. Logistik Kemanusiaan,
4. Manajemen Peralatan PB
5. Peralatan PB
6. Pergudangan
7. Sistem Manajemen Gudang

3
MANAJEMEN
Pengertian Manajemen atau definisinya secara umum memang
memiliki banyak sudut pandang dan persepsi. Namum dalam hal visi
dan tujuannya, kesemuan pengertian tersebut akan mengerucut
kepada satu hal, yaitu pengambilan keputusan.
Pengertian Manajemen seringkali kita dengar dalam keadaan
keseharian kita, sejatinya bermakna seni dalam mengelola dan
mengatur. Seni tersebut menjadi krusial dalam rangka menjaga
kestabilan sebuah entitas bisnis atau perusahaan dan organisasi.
Manajemen adalah skill atau kemampuan dalam mempengaruhi
orang lain agar mau melakukan sesuatu untuk kita. Manajemen
memiliki kaitan yang sangat erat dengan leader atau pemimpin.
Sebab pemimpin yang sebenarnya adalah seseorang yang
mempunyai kemampuan untuk menjadikan orang lain lebih dihargai,
sehingga orang lain akan melakukan segala keinginan sang leader.

4
MANAJEMEN adalah seni
manajemen adalah seni dalam mengelola. Sebuah seni
tentunya tidak hanya menggunakan satu metode semata.

Metode yang digunakan haruslah banyak untuk kemudian


menjadikannya sebagai seni yang bernilai tinggi. Begitu
pula dengan manajemen. Untuk semata sebuah sistem
diperlukan manajemen yang handal agar sistem tersebut
bisa berjalan sebagaimana mestinya

5
MANAJEMEN menurut para ahli
Mary Parker Follet, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.
Definisi ini berarti bahwa seseorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk
mencapai tujuan organisasi.
Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan
efesian.
Efektif berarti bahwa tujuan dapat diselesaikan sesuai dengan perencanaan, sementera efisien berarti
bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Lawrence A. Appley berpendapat bahwa pegertian manajemen merupakan keahlian untuk menggerakan
orang agar melakukan sesuatu.
George R. Terry, mengatakan bahwa manajemen merupakan proses yang khas yang terdiri dari tindakan
tindakan : perencanaan, pengorganisasian, menggerkan dan pengawasan yang dilakukan untuk
menentukan serta mencapai sasaran saran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya
manusia serta sumber sumber lain.

Simpulan, manajemen adalah seni dalam mengatur sistem baik orang dan perangkat lain agar dapat berjalan
dan bekerja sesuai dengan ketentuan dan tujuan entitas yang terdiri dari berbagai aktivitas sebagaimana
disebutkan oleh George Terry.

Manajemen dalam ekonomi adalah suatu keadaan terdiri dari proses yang ditunjukkan oleh garis (line)
mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, yang mana ke
empat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi,
yaitu pengambilan keputusan 6
MANAJEMEN LOGISTIK bantuan kemanusiaan
Secara geografis dan stuktur geologi, Indonesia terletak
pada kawasan rawan bencana, baik bencana alam seperti
gempa bumi, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi,
badai, tsunami, kebakaran hutan dan lahan, maupun
bencana non alam seperti kegagalan teknologi, gagal
modernisasi, epidemik, dan wabah penyakit.
Untuk menanggulangi bencana, Pemerintah telah
membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB) di tingkat nasional dan Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) di tingkat daerah.

7
Geografis dan struktur geologi

Indonesia terletak pada kawasan rawan bencana, baik bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, letusan gunung
berapi, badai, tsunami, kebakaran hutan dan lahan, maupun bencana non alam seperti kegagalan teknologi, gagal modernisasi,
epidemik, dan wabah penyakit. 8
MANAJEMEN LOGISTIK PB
Upaya penanggulangan bencana, terutama pada saat prabencana,
kesiapsiagaan, dan respon penanganan bencana, untuk dapat memastikan tujuh
tepat, yaitu :
(1) tepat jenis bantuan barang;
(2) tepat kuantitas;
(3) tepat kualitas;
(4) tepat sasaran;
(5) tepat waktu;
(6) tepat pelaporan; dan
(7) tepat biaya.

Pengelolaan logistik yang efektif, efisien, dan andal menjadi faktor pengting
dalam penanggulangan bencana.

9
MANAJEMEN LOGISTIK (SAMBUNGAN)

Bencana dan tindakan destruktif menurut upaya logistik yang lebih tinggi dalam
pengetahuan dan biaya karena kejadian bencana mendadak memerlukan
respon yang sangat cepat di daerah daerah yang hancur, berbagai jenis
bencana perlu dikelola dengan cara pendekatan solusi yang berbeda.

Logistik adalah unsur yang paling penting dalam setiap upaya bantuan
kemanusiaan atau bantuan bencana dan bagaimana cara kita mengelola logistik
bantuan kemanusiaan akan menentukan apakah operasi penanggulangan
bencana tersebut sukses atau gagal (van wassenhove, 2006).

Namun demikian, logistik juga menjadi aktivitas yang paling mahal dari setiap
bantuan becana. Berdasarkan studi, diperkirakan bahwa biaya logistik untuk
penanggulangan bencana sekitar 80% dari total biaya dalam bantuan bencana
(van wassenhove, 2006)

10
MANAJEMEN LOGISTIK (SAMBUNGAN)

Manajemen logistik untuk penanggulangan bencana dikenal dengan logistik


kemanusian (humanitarian logistic) atau sering disebut juga dengan logistik
bantuan kemanusiaan. Logistik kemanusiaan merupakan kegiatan perencanaan,
pelaksnaan, dan pengendalian aliran bantuan kemanusian secara efisien, hemat
biaya dan penyimpanan bantuan kemanusiaan serta informasi terkait, dari titik
asal ke titik konsumsi untuk tujuan mengurangi penderitaan korban bencana
(Thomas dan Kopczak,2005).

Dalam kontek bencana, tentu penting untuk memastikan pengiriman bantuan


kemanusiaan yang efektif da efisien, sehingga kebutuhan jenis bantuan
kemanusiaan yang sesuai dan relawan dapat mencapai ke lokasi korban dengan
cepat dan tepat. Optimalisasi kinerja logistik bantuan kemanusiaan men-
syaratkan bahwa semua hubungan antara pihak atau pelaku yang terlibat dalam
penanggulangan bencana dikelola melalui pendekatan terpadu secara efisien
dan efektif dalam mengkoordinasikan kinerja antar-organisasi, menghilangkan
redundansi, dan memaksimalkan efisiensi seluruh rantai pasok darurat.
11
Sekilas UU 24 - 2007
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 24 TAHUN 2007
TENTANG
PENANGGULANGAN BENCANA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

12
Sekilas Penyelenggaraan PB

13
Sekilas Berita

Rombongan mulai bergerak dari Banda Aceh sekitar


pukul 15:00 wib.
Adapun logistik yang akan
didistribusikan berupa beras, mie
instan, sarden, dan minyak
goreng. Selain itu juga ada kain
sarung dan sejumlah pakaian
serta paket sembako lainnya. -

14
Lingkup Logistik Bantuan Kemanusiaan
Manajemen bencana sering digambarkan
sebagai proses yang terdiri dari beberapa
tahap, yaitu: (1) mitigasi; (2) persiapan;
(3) respon; dan (4) rekonstruksi.

Keempat tahapan itu merupakan siklus


manajemen bencana. Fokus pada logistik
dan manajemen rantai pasokan, proses
yang melibatkan logistik terutama
menyangkut persiapan, respon, dan
rekonstruksi secara bersama-sama
merupakan aliran logistik kemanusiaan.

15
TAHAPAN MITIGASI
Tahapan mitigasi mengacu pada
identifikasi dan sistem hukum,
sosial, dan infrastruktur untuk
mengurangi dampak risiko bencana.
Mitigasi bencana berhubungan
dengan tanggung jawab pemerintah
dan tidak melibatkan partisipasi
langsung logistik.

16
TAHAPAN PERSIAPAN
Tahapan persiapan mengacu pada
berbagai operasi yang terjadi
selama periode sebelum bencana
terjadi. Tahap ini menggabungkan
berbagai strategi yang
memungkinkan pelaksanaan respon
operasional penanggulangan
bencana yang sukses. Tahapan ini
sangat penting karena untuk
menghindari konsekuensi
kemungkinan bencana. Tahapan ini
juga mencakup upaya yang dibuat
dan pengalaman dalam beradaptasi
dari kejadian bencana di masa lalu
sehingga dapat memenuhi
tantangan baru 17
TAHAPAN RESPON
Tahapan respon mengacu pada
berbagai operasi yang langsung
diimplementasikan setelah bencana
terjadi. Pada tahap respon,
koordinasi dan kolaborasi antara
semua pihak yang terlibat dalam
darurat bantuan kemanusiaan perlu
dilakukan.
Tahapan ini memiliki dua tujuan
utama (Cozzolino et al, 2012), yaitu:
Tujuan pertama adalah untuk segera
merespon dengan mengaktifkan jaringan
sementara atau jaringan darurat;
Tujuan kedua adalah untuk
mengembalikan dalam waktu sesingkat
mungkin layanan dasar dan pengiriman
barang ke penerima bantuan bencana. 18
TAHAPAN REKONSTRUKSI
Tahap rekonstruksi mengacu pada
operasi yang berbeda setelah terjadinya
bencana. Tahapan ini melibatkan
rehabilitasi dan bertujuan untuk
mengatasi masalah dampak bencana
dari perspektif jangka panjang. Efek dari
bencana dapat terus berdampak untuk
jangka waktu yang panjang dan memiliki
konsekuensi parah pada penduduk yang
terkena bencana

19
PERAN PENTING LOGISTIK
Logistik memberikan layanan
antara kesiapsiagaan dengan
penanggulangan bencana, antara
pengadaan dan distribusi bantuan
kemanusiaan dengan peralatan,
antara BNPB dengan BPBD, dan
logistik juga memainkan peran
penting dalam efektivitas dan
tanggap dalam hampir semua
program bantuan kemanusiaan,
seperti: kesehatan, makanan,
shelter, air, dan sanitasi.

20
LOGISTIK PB
Logistik bantuan kemanusiaan mencakup beberapa aktivitas dan
melibatkan banyak pihak, mulai dari aktivitas persiapan, perencanaan,
pengadaan, transportasi & distribusi, penyimpanan, tracking, dan
pelalubeaan (customs clearance). Umumnya para pihak yang terlibat
dalam serangkaian aktivitas rantai pasok bantuan kemanusian, antara
lain:
Donor dari dalam negeri maupun luar negeri, donor dari pemerintah,
perusahaan, warga, maupun NGO.
NGO nasional, PMI, dan BNPB/BPBD.

Penyedia jasa transportasi: darat, udara, laut, sungai, dan kereta api.

Penyedia jasa pergudangan.

Perusahaan pengurusan jasa transportasi (freight forwarding).

Bea cukai.

Penerima Bantuan
21
PERKA BNPB 13, 2008
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 13
Tahun 2008 tentang Pedoman Manajemen Logistik dan Peralatan
Penanggulangan Bencana telah menetapkan bahwa proses manajemen
logistik dalam penanggulangan bencana ini meliputi delapan tahapan
sebagai berikut:
Perencanaan kebutuhan bantuan kemanusiaan.

Pengadaan dan penerimaan bantuan kemanusiaan.

Pergudangan dan/atau penyimpanan bantuan kemanusiaan.

Perencanaan pendistribusian bantuan kemanusiaan.

Pengangkutan bantuan kemanusiaan.

Penerimaan bantuan kemanusiaan di tujuan.

Penghapusan bantuan kemanusiaan.

Pertanggungjawaban.

22
MANAJEMEN PERALATAN
Manajemen Peralatan adalah proses pengelolaan peralatan
penanggulangan bencana (PB) yang meliputi
perencanaan/investrisasi kebutuhan, pengadaan dan/atau
penerimaan, pergudangan dan/atau penyimpanan, pendistribusian,
pengangkutan, penerimaan di tujuan, penghapusan dan
pemeliharaan.

Peralatan dalam PB adalah segela bentuk alat dan peralatan yang


dapat dipergunakan untuk membantu penyelamatan dan evakuasi
masyarakat terkena bencana, pemenuhan kebutuhan dasar, dan
pemulihan segera prasarana dan sarana vital, misalnya: Mobil
Resque, Motor Rescque, Tenda, perahu karet, Mobil dapur lapangan,
Mobil penjernih air, dan sebagainya.

23
MANAJEMEN PERGUDANGAN
Pelaksanaan manajemen warehouse ini sering disebut dengan
manajemen gudang yang dijalankan oleh beberapa perusahaan
produksi.
Tempat kerja manajemen warehouse ini berada di gudang.
Gudang merupakan tempat penyimpanan barang sementara yang
digunakan selama proses produksi.

Secara rinci sistem manajemen gudang atau manajemen


warehouse ini diartikan sebagai pengelolaan dari aktifitas
yang saling berhubungan untuk melakukan penyimpanan
barang sementara. Beberapa kegiatan penyimpanan barang
sementara ini terbagi atas penerimaan bahan baku / barang
dari pemasok, handling barang dan pengeluaran barang ke
tujuan lokasi produksi. 24
AKTIVITAS DALAM GUDANG
1. Kegiatan administrasi. Kegiatan pengeluaran dan pemasukkan dana yang ada
dalam perusahaan ini diatur seluruhnya dalam aktivitas administrasi. Semua
kegiatan pendanaan yang dilakukan dalam administrasi ini diupayakan tercatat
seluruhnya untuk memudahkan pelaksanaan pengembangan produksi
perusahaan kaitannya dengan manajemen warehouse.
2. Penerimaan barang. Aktivitas penerimaan barang diatur sepenuhnya untuk bisa
memetakan besaran dana dan produk yang didapatkan oleh perusahaan.
3. Penyimpanan barang. Barang yang masuk dalam gudang perusahaan ini
diupayakan tersimpan dengan aman dari bahaya apapun di dalam lingkungan
gedung.
4. Pengepakkan barang ke tempat yang dituju. Pengepakkan barang ini
dilakukan untuk memastikan kondisi barang yang dikirimkan ke konsumen dalam
kondisi yang baik. Pengepakkan barang ini juga diatur dalam manajemen
warehouse.
5. Pengeluaran barang. Beberapa barang yang keluar dari perusahaan ini semua
tercatat dengan rapi pada perusahaan. Pengeluaran barang produksi ini
dilakukan untuk menciptakan suasana produksi yang tertib dan efisien
25
TERIMA KASIH

26