Anda di halaman 1dari 40

NECROTIZING

ENTEROCOLITIS
WILLIANA SUWIRMAN
TOPICS
1. Pendahuluan
2. Patogenesis & Patofisiologi
3. Diagnosis
4. Differential Diagnosis
5. Tatalaksana
6. Komplikasi
7. Prognosis
8. Pencegahan
1.
PENDAHULUAN
1.1 DEFINISI
1.2 GAMBARAN UMUM
1.3 ETIOLOGI
1.4 FA K TO R R I S I KO
1.4 EPIDEMIOLOGI
1.1 DEFINISI

Nekrosis usus berbagai derajat (mucosal transmural)


1.2 GAMBARAN UMUM
Most common life-threatening emergency of GIT in newborns
Nekrosis usus berbagai derajat
90% pada bayi premature
Pada bayi full term biasanya disertai penyakit penyerta
1.3 ETIOLOGI

?
Multifaktorial
Imaturitas usus

TRIAD:
1. Intestinal ischemia (Injury)
2. Enteral nutrition (metabolic substrate)
3. Bacterial translocation
1.3 ETIOLOGI

Aggressive enteral nutrition


Infeksi (Jarang ditemukan pada kultur): E coli ; Klebsiella;
Clostridium perfringens ; Staphylococcus epidermidis ; astrovirus ;
rotavirus ; norovirus
1.4 FAKTOR RISIKO

#1 PREMATURITY

Hx: Asfiksia, Downs syndrome, Congenital heart disease, Rotavirus,


Hirschsprungs disease NEC sekunder pada bayi full-term
Transfusi (pada bbrp kasus BBLSR)
Tx ARH2
Tx antibiotika empiric durasi lama
1.5 EPIDEMIOLOGI

Insidensi = 1-5% infants di NICU


Insidensi dan case fatality rate meningkat seiring
derajat keparahan BBLR dan prematuritas
2.
PATOLOGI
2 . 1 PAT H O G E N E S I S
2 . 2 G A M B A R A N PAT O L O G I S
2.1 PATOGENESIS

Multifaktor
Iskemi
Infeksi Coagulation
Imunologis necrosis
Imflamatori
Sirkulasi
Nekrosis usus
2.2 GAMBARAN PATOLOGI

Segmen nekrotik pada usus


Pneumatosis intestinalis (akumulasi gas pada submucosa dinding
abdomen)
Progresi Perforasi Peritonitis Sepsis RIP
Paling banyak pada ileum distal dan kolon proksimal
Kasus parah : Gangrene dari lambung sampai rektum
3.
DIAGNOSIS
3.1 ANAMNESIS & PEMERIKSAAN FISIK
3.2 RADIOLOGI
3.3 LAB
3.1 ANAMNESIS & PEMERIKSAAN
FISIK
Onset: mgg 2-3 (bisa sampai 3 bln pada BBLSR)
Berbanding terbalik dengan usia janin saat lahir
Riwayat:
Prematur
Feeding terlalu dini dan/atau agresif

Gejala:
Pertama2 tidak spesifik (letargi, suhu naik turun)
gx GIT (distensi abd, retensi gaster)
3.1 ANAMNESIS & PEMERIKSAAN
FISIK
Gejala GIT: Gejala sistemik:
Abdominal distension, tenderness Letargi
& mass
Apnea/respiratory distress
Intoleransi makanan
Waktu pengosongan lambung
Suhu naik turun
terlambat Perfusi buruk shock
Muntah
Darah pada feses (makros/mikros)
Diare
Eritema dinding lambung
3.2 RADIOLOGI
(Biasanya klinis sudah cukup; bahkan px sudah diterapi sblm imejing)
Foto polos abdomen: (Normal pada awal penyakit)
Pneumatosis intestinalis (50-75%) konfirmasi klinis
Gas pada vena porta severe
Pneumoperitoneum perforasi
- Pada kedua sisi abd; luminal&peritoneal (Rigler sign)
- Football sign (jarang; lebih banyak pd perforasi gaster)
Foto polos abdomen SERIAL (Follow up tiap 6-12 jam / 4 jam bila parah)

USG hepar: Gas pada vena porta, echogenisitas parenkim liver (bahkan pada foto
polos abdomen yg normal) TIDAK SPESIFIK
3.3 LAB

Asidosis (metabolic/respiratori)
Glukosa tidak stabil
DIC
Kultur darah (+) pathogen infeksius
STAGING: BELLS CLASSIFICATION
Stage Clinical findings Radiographic findings
I: Suspected NEC
Ia Suhu tidak stabil, apnea, letargi,Normal / mild ileus (nonspesifik)
distensi abdomen Loss of normal gas (polygonal)
Ib Ia + Darah makroskopis pada feses pattern; distensi gas usus diffuse
II: Proven NEC
IIa Ib + suara usus hilang _ abd Dilatasi usus, ileus, ascites,
tenderness. Appear mildly ill pneumatosis intestinalis
IIb IIa + metabolic acidosis +
trombositopeni. Appeare
moderately ill
III: Advanced NEC
IIIa II + NO PERFORASI + Hipotensi Portal venous gas
+ bradycardi + apnea + peritoneal Pneumoperitoneum untuk IIIb
sign + DIC + neutropenia (football sign)
IIIb III + PERFORASI
4.
DIFFERENTIAL
DIAGNOSIS
Infeksi spesifik (sistemik/intestinal)
Obstruksi GIT
Volvulus
Perforasi usus terisolasi (spontan / pasca tx corticosteroid &
Indomethacin)
Hirschsprungs disease

Bisa muncul pneumoperitoneum pada penyakit2 tsb tapi tidak


separah pada NEC!
5.
TATAL AKSANA
5 . 1 S U P O RT I F
5 . 2 A N T I B I OT I C S I S T E M I K
5 . 3 B E DA H
5. TATALAKSANA

Tujuan terapi:
1. Suportif
2. Cegah injury lebih lanjut
5.1 SUPORTIF
!!! Status respiratori, profil koagulasi, keseimbangan elektrolit!!!

Stop Enteral feeding


Dekompresi Nasogastric
Volume replacement: IV fluid crystalloid atau transfuse
Support kardiovaskuler : Fluid bolus atau inotropic
Lepas kateter umbilikalis
5.2 ANTIBIOTIC EMPIRIK
Segera setelah kultur darah
Broad spectrum antibiotics (coverage: Gram + dan -, anaerob)
5.3 BEDAH
Indikasi: perforasi (pneumoperitoneum), terlihat dari X-ray
Hasil paracentesis abdomen + (feses ; bakteri dgn Gram stain cairan
peritoneum)
Indikasi relative: Eritema dinding abdomen
Fixed single bowel loop (obstruksi)
Palpable mass
Exploratory laparotomy

Px unstable dengan perforasi Peritoneal drainage sbg alternatif Kadang


masi perlu laparotomi setelahnya
6.
KOMPLIK ASI
Early post-OP:
Wound infection
Dehiscence (bocor)
Prolapse, necrosis

Later post-OP:
Striktur usus (10%) tx: Reseksi
After massive resection:
Short-bowel syndrome (malabsorpsi, gagal tumbuh, malnutrisi)
Sepsis, thrombosis (Karena kateter vena)
Cholestatic jaundice

Bayi preterm atau dengan bacteremia:


Adverse growth
Ggn neurodevelopmental : Mental Developmental Index <70
Psychomotor Developmental Index <70
Overal neurodevelopmental impairment
7.
PROGNOSIS
20-40% px dengan pneumatosis intestinalis GAGAL
10-30%-nya RIP
8.
PENCEGAHAN
ASI eksklusif
Minimalisasi pemberian makanan enteral (blm terbukti)
Antibiotik profilaksis enteral (blm terbukti; resiko
resistensi)
Probiotik
SUMBER

Awolaran OT. Radiographic signs of gastrointestinal perforation in children: A pictorial review. Afr J Paediatr
Surg [serial online] 2015 [cited 2017 Mar 28];12:161-6. Available
from: http://www.afrjpaedsurg.org/text.asp?2015/12/3/161/170177

Kuliah radiologi pediatri dr Leny Violetta

Nelson Pediatrics 20th edition

Radiopaedia.org