Anda di halaman 1dari 19

Teori Green, Snehandu

dan WHO
LUTFI FAJAR NURAIDAH
ADITA PUSPITASARI SWASTYA PUTRI
KONSEP PERILAKU

Perilaku Respon/reaksi seseorang terhadap stimulus (Skiner dalam Notoatmodjo,


2012)
Proses Perilaku : S 0 R
Perilaku Manusia:
a) Perilaku Tertutup (Covert Behaviour) : Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap
stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas.
Bentuk unobservable behaviour atau covert behaviour yang dapat diukur
adalah pengetahuan dan sikap.
b) Perilaku Terbuka : Perilaku terbuka terjadi bila respon terhadap stimulus sudah berupa
tindakan atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau observable
behaviour.
Teori GREEN

Menurut teori Green et al. (1999),


kesehatan individu dan masyarakat
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
perilaku dan faktor-faktor diluar perilaku
(non-perilaku).
PRECEDE & PROCEED

Precede = Pendahulu Proceed = Proses yang Precede :


berlangsung dan hasilnya Menjamin sebuah program yang akan
P = Predisposing dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan
R = Reinforcing P = Policy keinginan individu/masyarakat
E = Enabling R = Regulatory
C = Constructs in O = Organizational Proceed :
E = Educational C = Constructs in Menjamin program yang akan dijalankan akan :
Environmental E = Educational and -tersedia sumber dayanya
D = Diagnosis E = Environmental -Mudah diakses/dicapai
E = Evaluation D = Development -Dapat diterima secara politik dan peraturan
yang ada
-Dapat dievaluasi oleh policy makers,
consumers, dan administrators
Phase 5 Phase 4 Phase 3 Phase 1
Phase 2
Administrative and Educational and Behavioral and
Epidemiological Social
Policy diagnosis Organizational Environmental diagnosis
diagnosis
diagnosis diagnosis

Predisposing
Factor

HEALTH
PROMOTION

Health Behaviour
Reinforcing
Education And
Factor
Lifestyle

Health Quality
Status Of life
Policy
Regulation Enabling Environment
organization Factor

Phase 6 Implementation Phase 7 Process Phase 8 Impact Phase 9 Outcome

The Precede-Proceed model for health promotion planning and evaluation


FASE 1 : DIAGNOSA SOSIAL

Menyoroti kualitas dari hasil keluaran

Mengetahui apa yang dirasakan masyarakat

Menemukan masalah yang dihadapi


FASE 2 : DIAGNOSIS EPIDEMIOLOGI

Penelusuran masalah yang menjadi penyebab dari


diagnosis sosial yang telah diprioritaskan.

Social
Environment
Health Problem Problem/Quality
Problem
of life
Fase 3: Diagnosis Perilaku

Penelusuran masalah perilaku yg mjd timbulnya masalah


kesehatan yg telah diprioritaskan.

Masalah yang berkaitan dengan preventif lebih diutamakan

Masalah Importance

Masalah Changeability
Fase 4: Diagnosis Pendidikan

Penelusuran mslhh yg berpengaruh/mjd penyebab tjdnya masalah perilaku


yg tlh diprioritaskan.

Kelompok Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)

Kelompok Faktor Pemungkin (Enabling Factors)

Kelompok Faktor Penguat (Reinforcing Factors)


Fase 5 : Administrative and Policy
Diagnosis

Fokus utama pda fase ini adalah


keselarasan untuk penetapan intervensi,
dan memastikan kebijakan serta semua
dukungan administrative lain yang
memungkinkan untuk mengembangkan
dan melaksanakan program baik SDM,
Pendanaan, Kebijakan ataupun Sarana
dan Prasarana
FASE 6 : Implementasi

Menetapkan metode yang akan


digunakan untuk mensosialisaikan
pada masyarakat tentang masalah
yang telah diprioritaskan dan
penyelesaiannya.
Fase 7, 8, 9 ( Evaluasi)

Evaluasi Proses : Evaluasi yang ,uncul selama


pelaksanaan Program
Evaluasi Impact : Evaluasi yang diukur setelah
program selesai untuk mengetahui pengaruh dari
intervensi yang telah dilaksanakan
Evaluasi Hasil: evaluasi terhadap masalah pokok
awal yang pada awal perencanaan ini akan
diperbaiki dan yang menjadi masalah kesehatan
dan kualitas Hidup
Teori Snehandu B. Karr

Teori Snehandu mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik


tolak bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari:
a) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan
(behavior intention)
b) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support)
c) Ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan
(accesbility of information)
d) Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan
atau keputusan (personal anatomi)
e) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action
Teori WHO

Tim Kerja WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu


berperilaku tertentu adalah karena adanya empat alasan pokok,
diantaranya adalah
a) Pemahaman dan Pertimbangan (Thoughts and feeling) dalam bentuk
pengetahuan, persepsi, sikap, keyakinan dan penilaian terhadap objek
(kesehatan)
b) Acuan/referensi (Personal reference) kelompok referensi atau role
model
c) Sumber Daya (resources) Fasilitas, uang, waktu, tenaga dll
d) Social Budaya (Culture) kebiasaan, tradisi, nilai yang menghasilkan way
of life
STUDI KASUS
Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas
Nguntoronadi Wonogiri

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang mengancam kesehatan


masyarakat di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. TB paru
menjadi penyebab kematian nomor tiga terbesar setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) pada semua
golongan umur (Budiman dan Mauliku, 2010). Indonesia menempati peringkat
ketiga jumlah penderita TBC di dunia setelah India (1.762.000) dan China
(1.459.000). (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2013). Kabupaten
Wonogiri menempati peringkat dua dengan angka CDR 23,95% tertinggi
setelah Kota Surakarta. Puskesmas Nguntoronadi I termasuk dalam 10 besar
Puskesmas se-Kabupaten Wonogiri dengan kasus terbanyak . Hasil survei pada
tanggal 28 Februari 2015 di Puskesmas Nguntoronadi I, dengan hasil angka
kematian akibat TB Paru sebesar 8,3% dan angka ketidakpatuhan >50%
(Dewanty, 2016). Tidak patuh bukan hanya diartikan sebagai tidak minum
obat, namun bisa memuntahkan obat atau mengkonsumsi obat dengan dosis
yang salah sehingga menimbulkan Multi Drug Resistance (MDR).
Lawrence Green
1. Faktor Predisposisi (Predisposing factor)
a. Karakteristik individu
b. Faktor sosial ekonomi
c. Pengetahuan penderita
d. Tidak percaya akan hasil diagnosis dokter
e. Lamanya waktu pengobatan
2. Faktor Pemungkin (Enebling factor)
a. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
b. Kurangnya pelatihan tenaga kesehatan di puskesmas
3.. Faktor Penguat (Reinforcing factor)
a. pengawasan langsung oleh seorang Pengawas Minum Obat (PMO)
b. Adanya peran keluarga
c. ketersedian dukungan tenaga kesehatan
d. sistem pembiayaan atau asuransi OAT dengan syarat tertentu
Teori Snehandu B. Kar

1. Behavior Intention
Niat untuk dapat segera sembuh dari penyakitnya
2. Social Support
Adanya orang terdekat seperti keluarga, tetangga atau petugas puskesmas yang dapat
memberikan solusi / dukungan dari permasalahan yang muncul akibat efek samping dari
pengobatan.
3. Accesebility of Information
a. Informasi mengenai tuberkulosis yang berupa poster atau selebaran
b. Sosialisasi secara rutin atau kampanye tentang penyakit tuberkulosis.
4. Personal Autonomy
Keputusan untuk dapat sembuh dari penyakit tuberkulosis.
5. Action Situation
a. Biaya pengobatan serta jarak untuk menuju ke puskesmas sebagai pertimbangkan
untuk melakukan pengobatan.
b. Bekerja sehingga tidak sempat berkunjung ke puskesmas.
Teori WHO (1984)

1. Pemahaman dan Pertimbangan (Thougts and Feeling)

a. Pengetahuan

Adanya kerabat atau tetangga sekitar yang meninggal atau kasus MDR akibat tuberkulosis

b. Kepercayaan

informasi yang didapatkan dari orangtua dan sering didengar dari cerita orang-orang disekelilingnya bahwa gejala tuberkulosis hanya sebatas
batuk berdahak.

c. Sikap

Penolakan akibat efek samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT)

2. Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai (Personal Reference)

a. Peranan penting dokter atau PMO

b. Sosialisasi melalui kader ataupun tokoh masyarakat

3. Sumber-sumber daya (Resources)

Kurangnya kualitas fasilitas kesehatan

4. Sosio Budaya (Culture)

Batuk seringkali dianggap sesuatu yang wajar dialami oleh setiap orang
TERIMA KASIH