Anda di halaman 1dari 8

ASSALAMUALAIKUM

HADIS MUAMALAH
SUMPAH DAN NAZAR
Kelompok 9
M. Ansoruddin
Nunun Masnunah
Sumpah a. Hukum sumpah
Secara bahasa merupakan bentuk plural Dalam perkara hukum, ada beberapa pendapat para ulama
dari kata ( qasam) yang berarti sumpah yang diungkapkan dengan dasar pikiran dan dalil dasarnya.
yang memiliki dua makna dasar, yaitu indah Wajib
dan baik, serta bermakna membagi sesuatu. Sunnah.
Menurut pengertian syara yaitu menahkikkan Mubah
atau menguatkan sesuatu dengan menyebut
Makruh
nama Allah S WT, seperti; wallahi, billahi, tallahi.










Secara etimologis arti sumpah yaitu:
Sumpah itu memang bisa melariskan dagangan akan
Pernyataan yang diucapkan secara resmi tetapi menghapuskan berkahnya. (HR. Al- Bukhari no. 1945)
dengan bersaksi kepada Allah SWT untuk
Haram
menguatkan kebenaran dan kesungguhan.






Pernyataan yang disertai tekad melakukan
Barangsiapa yang bersumpah dengan menggunakan
sesuatu menguatkan kebenarannya atau selain nama Allah maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.
berani menerima sesuatu bila yang dinyatakan (HR. Abu Daud no. 2829 dan At-Tirmizi no. 1455).
tidak benar. Termasuk di dalam kesyirikan ini adalah bersumpah dengan
menggunakan nama Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Janji atau ikrar yang teguhakan menunaikan
sesuatu.
b. Sumpah yang gugur
Sumpah Yang Gugur
Sumpah, juga bisa gugur. Ialah sumpah-sumpah yang berikrarkan sesuatu yang tidak dalam kebaikan. Seperti
bersumpah untuk memutuskan silaturrahmi.
Allah berfirman :
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa
mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang
yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"
[Q.S An-Nur 24 : 22]
Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya
ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini
melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka
sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

"Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa
dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
[Q.S Al-Baqoroh 2 :224]
Maksudnya: melarang bersumpah dengan mempergunakan nama Allah untuk tidak mengerjakan yang baik,
seperti: demi Allah, saya tidak akan membantu anak yatim. Tetapi apabila sumpah itu telah terucapkan, haruslah
dilanggar dengan membayar kafarat.

Demi Allah, sungguh, orang yang berkeras hati untuk tetap melaksanakan sumpahnya, padahal sumpah tersebut
dapat membahayakan keluarganya, maka dosanya lebih besar di sisi Allah daripada dia membayar kaffarah yang
diwajibkan oleh Allah. (HR. Al-Bukhari no. 6625 dan Muslim no. 1655)
Barangsiapa yang mau bersumpah maka hendaknya dia bersumpah dengan nama Allah atau dia diam saja. (HR.
Al-Bukhari no. 2482 dan Muslim no. 3105)
C. Konsekuensi atau Kaffarat dari pelanggaran sumpah. Nazar

Dalam hal konsekuensi, ada dua sisi yang akan kita pandang Nazar adalah mewajibkan kepada diri sendiri sebuah ibadah
disini. Dari sudut pandang manfaat, dengan menyertakan yang pada dasarnya tidak wajib dengan menggunakan lafaz
pernyataannya dengan sumpah secara lahirnya pernyataannya yang menunjukkan hal itu. Seperti berkata, Jika Allah
akan semakin kuat. Kebenaran dari pernyataannya akan lebih menyembuhkan penyakitku, aku akan berpuasa selama tiga
diyakini. Tapi sebaliknya jika dipandang dari sisi kaffarat ( jika ia hari .Suatu nazar dinyatakan sah, apabila dilakukan oleh orang
melanggar sumpahnya ) maka ia akan memiliki kewajiban untuk balig, berakal, mampu memilih (tidak ada paksaan), meski
menebusnya. mereka tidak beragama Islam.

Barangsiapa yang bersumpah kemudian dia melihat selainnya Hadits No. 1402
lebih baik daripada apa yang dia bersumpah atasnya maka )




(



:
hendaklah dia melakukan hal yang lain itu dan dia membayar
kafarah atas (pembatalan) sumpahnya. (HR. Muslim no. 1649) Menurut Hadits riwayat Bukhari dari 'Aisyah r.a: "Barangsiapa
bernadzar hendak maksiat kepada Allah, janganlah ia

:
melakukan maksiat tersebut."

,
(




)

, , Macam-macam Nazar

) ,

(

a. Menjanjikan ibadah apabila mendapat nikmat atau

) , (
terhindar dari bahaya.
Hadits No. 1392 b. Mewajibkan ibadah dengan tidak ada sebab
Dari Abdurrahman Ibnu Samurah Radliyallaahu 'anhu bahwa Syarat-syarat Nazar
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila
engkau bersumpah terhadap suatu hal, lalu engkau melihat ada a. Islam
sesuatu yang lebih baik daripada sumpahmu, maka bayarlah
b. Mukallaf
kafarat untuk sumpahmu dan lakukan hal yang lebih baik itu."
Muttafaq Alaihi. Menurut lafadz riwayat Bukhari "Lakukan hal yang c. Berakal
lebih baik itu dan bayarlah kafarat sumpahmu." Menurut riwayat
Tidaklah sah nazar orang yang kafir,anak-anak,orang gila,dan
Abu Dawud: "Bayarlah kafarat sumpahmu, kemudian lakukan apa
nazarnya orang yang kurang waras.
yang lebih baik itu. Sanad kedua hadits tersebut shahih.
Sah atau Tidaknya Nazar Dinyatakan
Hal-hal yang tidak boleh di nazarkan; Nazar dinyatakan sah, apabila dimaksudkan sebagai bentuk
a. Barang yang wajib dikerjakan menurut pendekatan (taqarrub) kepada Allah. Nazar seperti itu wajib
syara,umpamanya,shalat lima waktu(shalat dipenuhi atau dilaksanakan. Sedangkan nazar dengan maksud
wajib),puasa,dan sebagainya.Hal ini karena nazar melakukan maksiat kepada Allah, dinyatakan tidak sah untuk
menjdikan wajib sesuatu yang sesungguhnya dilaksanakan, seperti bernazar meminum khamar, membunuh,
tidak wajib menurut syara,sedangkan shlat lima meninggalkan shalat, atau menyakiti orang tua. Apabila
waktu adalah wajib. bernazar seperti demikian, maka tidak wajib memenuhinya,
bahkan haram melakukannya, dan tidak kafarat bagi
b. Barang yang tidak dapat dikerjakan karena pelanggarnya, karena nazar tersebut tidak sah.
berat,kuka,dan sebagainya.
Kafarat Nazar
c. Perbuatan yang maksiat, sebab melanggar
aturan Allah SWT.,bukan untuk menjauhinya. Seseorang bernazar, akan tetapi ia melanggar atau
membatalkannya, maka ia wajib membayar kafarat.
d. Orang yang tidak dimiliki, baik hamba ataupun Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Uqbah bin Amir,
orang yang merdeka. bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya;
Kafarat nazar jika tidak disebutkan secara mendetail, maka
digolongkan sebagai kafarat sumpah. (HR Ibnu Majah dan
Tirmidzi)
Meninggal Dunia Sebelum Memenuhi Nazar Puasa
Dalam riwayat dari Ibnu Majah disebutkan bahwa seorang
wanita bertanya kepada Rasulullah SAW: Ibuku telah meninggal
dunia, namun ia meninggal dunia sebelum memenuhi nazar
puasanya. Rasulullah menjawab, Hendaknya Walinya yang
melakukan puasa tersebut.
Nazar Yang Mewajibkan Kaffarah
Sebagaimana keadaan sumpah,nazar yang tidak di penuhi oleh orang yang bernazar wajib dibayarkan
kaffarahnya:
1. Karena Nazar itu dalam perkara maksiat,ketika itu haram dipenuhi nazar itu.
2. Pada barang yang tidak dapat dikerjakan,karena berat,susah,dan sebagainya.
3. Karena nazar itu tidak disebut,umpamanya seseorang mengatakan,jika penyakitku sembuh aku bernazardan
sebagainya,tanpa menyebutkan nazarnya.
Sabda Rasulullah SAW. Yang Artinya:
Dari ibnu Abbas r.a.,ia berkata,Rasulullah SAW.Barang siapa yang bernazar dengan suatu nazar,yang tidak
disebutkannya,kaffarahnya ialah kaffarah sumpah.Dan barang siapa yang bernazar dengan suatu nazar dalam hal
maksiat,kaffarahnya adalah kaffarah sumpah,dan barang siapa yang bersumpah yang dapat di
lakukannya,hendaklah ia bersumpah nazarnya itu,.(H.R.Dawud dan Tirmizi).

Hadits No. 1407

,
( :
:


:
:

:


,

) ,
,

:



,

Tsabit Ibnu ad-Dhahhak Radliyallaahu 'anhu berkata: Pada masa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ada
seseorang bernadzar hendak menyembelih unta di Buwanah, lalu ia menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam dan menanyakan hal itu. Beliau bertanya: "Apakah di situ pernah ada berhala yang disembah?". Ia
menjawab: Tidak. Beliau bertanya: "Apakah di situ pernah dirayakan hari raya mereka?". Ia menjawab: Tidak. Beliau
bersabda: "Penuhilah nadzarmu, sesungguhnya nadzar itu tidak boleh dilaksanakan bila ia mendurhakai Allah,
memutuskan tali persaudaraan, dan nadzar pada suatu benda yang tidak dimiliki oleh manusia." Riwayat Abu
Dawud dan Thabrani dengan lafadz menurutnya. Sanadnya shahih.
MOHON MAAF APABILA BANYAK
KEKURANGAN, SEKIAN DAN
TERIMAKASIH

WASSALAMUALAIKUM