Anda di halaman 1dari 52

PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR PUBLIK

NIA AZURA SARI

11273203526

VIRA OCTARIANA

11273202848

PEMBUATANN

PRO
PENGERTIAN PELAKSANAAN AUDIT
Pelaksanaan audit adalah satu tahapan
dalam proses audit dimana auditor akan
mengembangkan suatu program audit, menilai
keefektifan sistem pengendalian internal
organisasi, dan melakukan pengujian-pengujian
yang diperlukan untuk memperoleh bukti audit
yang memadai.
INDIKATOR PELAKSANAAN AUDIT YANG BAIK
Indikator pelaksanaan audit sektor publik yang baik adalah yang dilakukan sesuai
dengan standar seperti yang telah ditetapkan, baik standar internasional maupun standar yang
ditetapkan didalam negara yang bersangkutan. Prinsip dasar audit sektor publik internasional (draft
eksposur INTOSAI, 15 februari 2013) harus dipertimbangkan auditor sebelum dimulainya dan
selama proses audit. Berikut adalah prinsip pelaksanaan proses audit :
1. Terkait kegiatan pelaksanaan audit.
a. Auditor harus memastikan bahwa prosedur audit memberikan bukti audit yang cukup
tepat untuk mendukung tujuan audit.
2. Kegiatan yang berkaitan dengan mengevaluasi bukti audit, menyimpulkan dan pelaporan
hasil audit.
a. Auditor harus mengevaluasi bukti audit dan menarik kesimpulan.
b. Auditor harus menyiapkan laporan tertulis berdasarkan kesimpulan yang diambil.
Sebagai contoh di Indonesia, indikator pelaksanaan audit sektor
publik yang baik adalah yang dilakukan sesuai dengan Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Didalam SPKN memberlakukan
tiga pernyataan standar pekerjaan lapangan (pelaksanaan) yang
ditetapkan oleh IAI sebagai berikut:
a. Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika
digunakan tenaga asisten harus disupervisi dengan semestinya.
b. Pemahaman yang memadai atas pengendalian internal harus
diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan
lingkup pengujian yang dilakukan.
c. Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang
diaudit.
Selain itu SPKN juga menetapkan standar pelaksanaan tambahan
sebagai berikut:
1. Komunikasi pemeriksa.
Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang berkaitan
dengan sifat, saat, lingkup pengujian, pelaporan yang direncanakan,
dan tingkat keyakinan kepada manajemen entitas yang diperiksa dan
atau pihak yang meminta pemeriksaan.
2. Pertimbangan terhadap Hasil Pemeriksaan Sebelumnya.
Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya
serta tindak lanjut atas rekomendasi yang signifikan dan berkaitan
dengan tujuan pemeriksaan yang sedang dilaksanakan.
3. Merancang pemeriksaan untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan
dari ketentuan peraturan perundang-undangan, kecurangan (fraud),
serta ketidakpatutan (abuse).
4. Pengembangan temuan pemeriksaan.
Pemeriksa harus merencanakan dan melaksanakan prosedur
pemeriksaan untuk mengembangkan unsur-unsur temuan pemeriksaan.
5. Dokumentasi pemeriksaan.
Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi
pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja pemeriksaan. Dokumentasi
pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak mempunyai
hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa
dokumentasi pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung
pertimbangan dan simpulan pemeriksa. Dokumentasi pemeriksaan harus
mendukung opini, temuan, simpulan dan rekomendasi pemeriksaan.
STRUKTUR PENGENDALIAN INTERNAL
Suatu proses yang dijalankan oleh eksekutif (kepala daerah, instansi/dinas,
pimpinan organisasi sektor publik dan segenap personel yang ada didalamnya),didesain
untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan
sebagai berikut:
a. Keandalan laporan keuangan
b. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
c. Efektivitas dan efisiensi operasional
Apabila sistem pengendalian internal organisasi baik, maka akan menjadi
sebuah proses penyaringan dan mencegah atau mendeteksi tingkat salah saji. Hal itu
sejalan bahwa sebuah sistem yang baik akan mengurangi tingkat pengujian substantif.
A. Konsep Pengendalian Internal
Pengendalian internal seharusnya bisa membuat para pegawai
bertanggungjawab atas berbagi tugasnya, pengendalian akuntansi membuat para
pegawai akuntabel terhadap tindakan-tindakannya.
Berikut penjelasan jenis-jenis pengendalian internal.
a) Organisasi.
Penyerahan wewenang dan tanggung jawab, termasuk jalur pelaporan untuk
semua aspek operasi, dan pengendaliannya seharusnya disebutkan secara rinci dan
jelas.
b) Pemisahan Tugas.
Salah satu fungsi utama pengendalian adalah pemisahan tugas dan tanggung
jawab. Apabila kedua hal tersebut digabungkan, maka seseorang mampu melakukan
pencatatan dan memproses sebuah transaksi secara lengkap. Dengan kata lain,
pemisahan tugas dapat mengurangi risiko terjadinya manipulasi maupun kesalahan
yang disengaja.
c) Fisik.
Pengendalian ini berhubungan dengan supervisi aset. Prosedur dan keamanan yang
memadai dirancang untuk memberi keyakinan bahwa akses baik langsung maupun tidak langsung
lewat dokumentasi terhadap aset terbatas pada personel yang berwenang.
d) Persetujuan dan otorisasi.
Seluruh transaksi seharusnya diotorisaasi ataupun disetujui oleh orang yang tepat. Batas
wewenang juga harus dijelaskan.
e) Akuntansi.
Pengecekan keakuratan catatan, penghitungan jumlah total, rekonsiliasi, pemakaian nomor
rekening, jurnal-jurnal, dan akuntansi untuk dokumen.
f) Personel.
Keberadaan prosedur menjamin penempatan personel sesuai kemampuan dan tanggung
jawabnya.
g) Supervisi.
Setiap sistem pengendalian internal seharusnya mencakup supervisi oleh atasan yang
bertanggung jawab atas transaksi dan pencatatannya sehari-hari.
h) Manajemen.
Ini adalah pengendalian yang dilakukan manajemen diluar tugas rutinnya, dimana hal ini
meliputi pengendalian secara keseluruhan, fungsi pengendalian internal dan prosedur review
khusus lainnya.
B. Pengendalian Organisasional
Pengendalian ini berkaitan dengan cara dimana
organisasi yang diaudit mengelola pegawainya. Beberapa ciri
berikut seharusnya terdapat dalam sebuah organisasi, agar
struktur organisasi kondusif dengan pengendalian internal yang
memadai.
1) Perekrutan dan pelatihan personel yang jujur dan kompeten
2) Pemisahan fungsi
3) Pembagian tugas dalam fungsi akuntansi
4) Tanggung jawab yang dirinci dengan baik untuk semua
personel.
C. Pengendalian Supervisory
Aspek penting dari pengendalian adalah supervisi manajemen
terhadap aktivitas organisasi yang diaudit secara keseluruhan dan
keefektifan pengendalian internal khusus lainnya. Supervisi yang efektif
dihasilkan dalam pelibatan manajemen pada titik-titik penting sistem
pengendalian internal, yaitu laporan keuangan dan analisis selisih
anggaran. Di organisasi yang lebih besar, tanggung jawab untuk
mengawasi dan mengendalikan didelegasikan ke departemen
pengendalian internal.
Pengendalian organisasional dan pengendalian supervisory
merupakan dasar penting untuk evaluasi auditor terhadap sistem yang
berlaku.
D. Pengendalian Terhadap Kelengkapan dan Keakuratan Transaksi
Ada empat teknik pengendalian yang berhubungan secara khusus dengan kelengkapan dan
keakuratan pemrosesan transaksi, yaitu:
1) Sequence checking
Dokumen kunci seharusnya diberi nomor urut bercetak dan secara rutin dicek untuk
menghindari kehilangan pencatatan.
2) Perbandingan (comparison)
Perbandingan antara sekumpulan dokumen atau catatan akuntansi dengan yang lainnya
mendeteksi ada tidaknya bukti-bukti atau catatan yang hilang.
3) Control totals
Manfaat pembandingan sekumpulan dokumen atau catatan pada permulaan proses
dibandingkan dan sekumpulan yang ada pada saat proses tersebut sudah selesai adalah
keyakinan tentang kelengkapan dan keakuratannya. Idealnya, sekumpulan tersebut dicek oleh
seseorang yang independen terhadap prosesnya.
4) Reperformance
Reperformance meruapakan teknik pengendalian dimana sebuah prosedur dilakukan oleh
seorang personel dan kemudian, dilakukan kembali secara independen oleh seorang lainnya, yang
kemudian membandingkan hasilnya dengan hasil dengan hasil yang asli. Teknik ini biassa
digunakan untuk mengecek hasil perhitungan.
E. Rancangan Pengendalian untuk Penjagaan Aset
Manajemen mempunyai tanggung jawab untuk menjaga
aset-aset organisasi. Pengendalian di kategori ini signifikan bagi
auditor, terutama dalam hubungannya dengan keterjadian dan
keberadaan sebuah aset.

F. Pengendalian Dokumentasi
Pengendalian ini memberi keyakinan bahwa sistem dibuat
sesui dengan tujuan awal, yaitu memberikan pemahaman yang
jelas kepada personel organisasi mengenai tugas dan tanggung
jawabnya, dan membuat pencatatan transaksi dengan benar
secara sederhana.
G. Keterbatasan Pengendalian Internal
Beberapa penyebabnya antara lain karena:
1. Pengendalian internal yang bergantung pada pemisahan tugas dapat dimanipulasi
dengan kolusi
2. Otorisasi dapat diabaikan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan tertentu atau
oleh manajemen
3. Personel keliru dalam memahami perintah sebagai akibat dari kelalaian, tidak
perhatian, maupun kelelahan.
Berikut ciri-ciri sistem pengendalian yang baik:
1. Independen dalam proses pemeriksaan
2. Hanya dapat dimanipulasi dengan kolusi
3. Terdapat personel dengan senioritas yang memadai
4. Dilakukan secara tepat waktu
G. Prosedur Pengujian Pengendalian
Auditor melakukan pengujian kepatuhan untuk mendapatkan keyakinan yang
memadai bahwa sistem pengendalian yang ada berfungsi dengan baik selam periode
tersebut.
Jika auditor memperoleh keyakinan bahwa prosedur pengendalian dilakukan
dengan baik, maka auditor harus mendapatkan bukti mengenai keefektifan pengendalian
selama periode tersebut secara keseluruhan. Ada beberapa alternatif prosedur yang
dapat dilakukan, yaitu:
1. Hasil pengujian pengendalian sebelumnya
2. Berdasarkan pertanyaan yang dibuat, apakah pengendalian tetap sama untuk
waktu yang tersisa sampai berakhirnya periode tersebut
3. Sifat dan ukuran transaksi dan jumlah akun yang terlibat
4. Pengujian substantif yang akan dilakukan tanpa melihat kecukupan prosedur
pengendalian.
Jika terjadi perubahan sistem pengendalian internal selama masa review,
auditor harus mengevaluasi dan menguji pengendalian internal sebelum dan sesudah
adanya perubahan.
H. Unsur Struktur Pengendalian Internal
a. Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian menggambarkan keseluruhan sikap
organisasi yang mempengaruhi kesadaran dan tindakan personel
organisasi mengenai pengendalian. Berbagai faktor yang
membentuk lingkungan pengendalaian suatu entitas, antara lain:
1. Nilai integritas dan etika
2. Komitmen terhadap kompetensi
3. Filosofi dan gaya operasi manajemen
4. Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab
5. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
b. Penaksiran risiko
Penaksiran risiko mencakup pertimbangan khusus risiko
yang timbul dari:
1. Perubahan standar akuntansi baru
2. Hukum dan peraturan baru
3. Perubahan yang berkaitan dengan revisi sistem dan
teknologi baru yang digunakan untuk pengolahan
informasi
4. Pertumbuhan pesat suatu entitas yang menuntut
perubahan fungsi pengolahan dan pelaporan informasi
dan karyawan yang terlibat dalam fungsi tersebut.
c. Informasi dan komunikasi
Sistem akuntansi yang efektif dapat memberikan keyakinan yang memadai
bahwa transaksi yang dicatat atau yang terjadi adalah sah, telah diotorisasi,
telah dicatat, telah dinilai secara wajar, telah digolongkan secara wajar, telah
dicatat dalam periode yang seharusnya, telah dimasukkan ke dalam buku
pembantu dan telah diringkas dengan benar.
d. Aktivitas pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk
memastikan pelaksanaan dan petunjuk yang dibuat oleh manajemen.
Kebijakan dan prosedur ini memberikan keyakinan bahwa tindakan yang
diperlukan telah dilaksanakan untuk mengurangi risiko dalam pencapaian tujuan
entitas. Aktivitas pengendalian dapat dibagi atas beberapa kelompok:
1. Pengendalian pengolahan informasi
2. Pemisahan fungsi yang memadai
3. Pengendalian fisik atas kekayaan pemerintah daerah dan catatan
4. Review atas kinerja.
e. Pemantauan
Pemantauan adalah proses penilaian kualitas kinerja
struktur pengendalian internal sepanjang waktu.
Pemantauan dilaksanakan oleh personel yang semestinya
melakukan pekerjaan tersebut baik pada tahap desain,
maupun pengoperasian pengendalian, pada waktu yang
tepat untuk menentukan apakah struktur pengendalian
internal beroperasi sebagaimana yang diharapkan, dan
untuk menentukan apakah struktur pengendalian internal
tersebut telah memerlukan perubahan, akibat terjadinya
perubahan keadaan.
e. Pemahaman atas sistem pengendalian internal
Dalam memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian internal, auditor
menggunakan tiga macam prosedur audit, yaitu:
1. Mewawancarai personel dinas/instansi yang berkaitan dengan unsur
struktur pengendalian
2. Melakukan inspeksi terhadap dokumen dan catatan
3. Melakukan pengamatan atas kegiatan organisasi.
Informasi yang dikumpulkan oleh auditor dalam pelaksanaan prosedur
audit tersebut diatas adalah:
1. Rancangan berbagai kebijakan dan prosedur dalam setiap unsur
struktur pengendalian internal
2. Apakah kebijakan dan prosedur tersebut telah benar-benar
dilaksanakan.
SIFAT-SIFAT PENGUJIAN AUDIT
1. Prosedur audit mana yang akan dilaksanakan terkait
dengan tujuan spesifik yang ingin dicapai auditor
2. Harus relevan
3. Mempertimbangkan biaya relatif serta efektivitas
dalam kaitannya dengan tujuan audit
4. Pendekatan compliance dan substantive test.
BUKTI AUDIT
Standar ketiga pekerjaan lapangan menyatakan bahwa :
Bahan bukti kompeten yang mencukupi dapat diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
permintaan keterangan, dan konfirmasi yang digunakan sebagai dasar yang layak untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan terdapat beberapa hal penting yang
berkaitan dengan bukti audit:
1. Kecukupan bukti audit
2. Kompetensi bukti audit
3. Dasar yang memadai atau rasional
4. Prosedur yang dapat dilakukan untuk menghimpun bukti audit
A. Kecukupan Bukti Audit
Kecukupan bukti audit lebih berkaitan dengan
kuantitas bukti audit. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kecukupan bukti audit laporan keuangan adalah:
1. Materialitas
2. Risiko audit
3. Faktor-faktor ekonomi
4. Ukuran dan karakteristik populasi.
B. Kompetensi Bukti Audit
Kompetensi atau reliabilitas bahan bukti yang
berupa catatan akuntansi berkaitan erat dengan
efektivitas pengendalian internal organisasi, dalam hal ini
organisasi penyedia layanan publik. Kompetensi bukti
audit yang berupa informasi penguat tergantung pada
faktor berikut:
1. Relevansi bukti
2. Sumber informasi bukti
3. Ketepatan waktu
4. Objektivitas
C. Dasar yang Memadai
Dasar yang bersifat memadai atau rasional
dipengaruhi oleh berbagai faktor berikut :
1. Pertimbangan profesional auditor
2. Integritas pengurus struktural entitas
3. Transaksi yang terjadi di entitas
4. Kondisi keuangan
D. Prosedur untuk Menghimpun Bukti Audit
Terdapat empat prosedur atau tindakan yang dapat dilakukan untuk menghimpun bukti
audit, yaitu:
1. Inspeksi
2. Pengamatan
3. Pengajuan pertanyaan
4. Konfirmasi
Disamping prosedur atau tindakan tersebut, beberapa hal lain yang perlu diketahui
berkaitan dengan keputusan auditor dalam proses pengumpulan bukti audit laporan
keuangan, yaitu:
1. Penentuan prosedur audit
2. Penentuan besarnya sampel audit
3. Penentuan elemen tertentu yang harus dipilih sebagai sampel bukti
4. Penentuan waktu pelaksanaan prosedur audit
E. Jenis Bukti Audit
Jenis-jenis bukti audit laporan keuangan, dapat digolongkan
sebagai berikut:
1. Bukti fisik
2. Bukti konfirmasi
3. Bukti dokumenter
4. Catatan akuntansi
5. Bukti surat pernyataan tertulis
6. Bukti matematis
7. Bukti lisan
8. Bukti analitis dan perbandingan
9. Struktur pengendalian internal
10. Bukti elektronik
SISTEM PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR PUBLIK
PENGUMPULAN DATA
A. Wawancara
Hal-hal terkait wawancara adalah:
1. Pertanyaan pembukaan
2. Gaya bicara
3. Nada dan irama dalam memberi pertanyaan
4. Sikap pewawancara
5. Uraian dengan kata-kata sendiri
6. Mengadakan penggalian dari suatu wawancara
7. Membuat catatan
8. Menilai jawaban
B. Me-review Dokumen
Dalam konteks audit, auditor harus mengumpulkan, menganalisis,
menginterpretasikan, dan mendokumentasikan informasi (bukti) untuk mendukung hasil
audit. Hal ini berarti bahwa:
1. Auditor harus mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan sasaran dan ruang
lingkup pekerjaan audit.
2. Bukti audit harus cukup, kompeten, relevan, dan bermanfaat untuk memberikan dasar
bagi temuan-temuan audit, dan penyusunan rekomendasi.
3. Prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti audit harus diseleksi lebih
lanjut, dapat dipraktikan dan diperluas atau diubah bila situasi memungkinkan.
4. Guna memelihara objektivitasnya dan untuk mencapai sasaran audit, pengumpulan,
penganalisisan, interpretasi dan pendokumentasian bukti audit harus diawasi
(disupervisi).
5. Kertas kerja audit harus disiapkan dan di-review guna mendokumentasikan bukti
audit.
ANALISIS DATA

Terdapat tiga pendekatan yang dilakukan oleh


auditor dalam memeriksa laporan keuangan klien yang
telah mempergunakan Sistem Informasi Akuntansi,
antara lain:
1. Pemeriksaan sekitar komputer
2. Pemeriksaan dengan komputer
3. Pemeriksaan melalui komputer
SIKLUS PELAKSANAAN
AUDIT SEKTOR PUBLIK
PENGUJIAN KEPATUHAN
Dalam audit kinerja, auditor melaksanakan pengujian kepatuhan organisasi
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dan pengendalian internal. Saat
melakukan audit kinerja, auditor harus mengkomunikasikan sifat pekerjaan audit dan
tingkat keyakinan, dengan memberikan penekanan bahwa pekerjaan audit dan pelaporan
yang berkaitan dengan pengujian pengendalian internal, kepatuhan atas ketentuan
peraturan perundang-undangan. Pada tahap perencanaan sebelumnya, auditor hendaknya
mengkomunikasikan tanggung jawab auditor untuk menguji pengendalian internal dan
kepatuhan atas ketentuan peraturan perundang-undangan. Pernyataan tentang hasil
pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern
diatur dalam standar pelaporan tambahan pertama, yaitu Laporan hasil pemeriksaan harus
menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Standar Pemeriksaan.
Pemahaman atas pengendalian ini dapat membantu auditor untuk merencanakan audit
terhadap tingkat ekonomis dan efisiensi organisasi.
A. Pengujian Validitas Bukti Transaksi
Pengujian validitas bukti transaksi dilakukan untuk menentukan:
1. Ketepatan otorisasi transaksi akuntansi klien
2. Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi tersebut dalam jurnal
3. Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi tersebut ke dalam buku
besar dan buku pembantu
Pada pengujian detail transaksi ini, auditor menggunakan bukti yang
diperoleh untuk mencapai suatu kesimpulan mengenai kewajaran saldo
akun. Auditor biasanya menggunakan dokumen yang tersedia pada file
untuk pengujian ini. Efektivitas pengujian detail transaksi tergantung pada
prosedur dan dokumen yang digunakan.
B. Pengujian Pelaksanaan Peraturan/Regulasi
1. Pelaporan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
pengendalian internal dalam laporan audit atas laporan keuangan atau dalam suatu
laporan terpisah.
2. Pengujian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dimana
auditor dituntut untuk merancang audit untuk dapat memberikan keyakinan memadai
guna mendeteksi ketidakberesan yang material bagi laporan keuangan akibat
langsung dari adanya unsur perbuatan melanggar/melawan hukum yang material dan
menerapkan prosedur audit khusus jika ditemukan kemungkinan unsur perbuatan
melanggar/melawan hukum yang secara tidak langsung berdampak material terhadap
laporan keuangan.
3. Pelaporan ketidakpatuhan atas hal material
4. Unsur perbuatan melanggar/melawan hukum, Standar Audit Pemerintah
mengharuskan auditor untuk melaporkan hal-hal atau indikasi unsur perbuatan
melanggar/melawan hukum yang dapat berakibat ke penuntutan pidana. Namun,
auditor tidak memiliki keahlian untuk menyimpulkan tentang apakah suatu unsur
pelanggaran hukum atau kemungkinan pelanggaran hukum dapat berakibat ke
penuntutan pidana.
PENGUJIAN SUBSTANTIF

A. Perancangan Pengujian Substantif


Perancangan pengujian substantif meliputi penentuan: Sifat pengujian; Waktu pengujian;
Luas pengujian substantif
B. Prosedur untuk Melaksanakan Pengujian Substantif
Ada delapan prosedur untuk melaksanakan pengujian pengendalian sustantif , yaitu:
1. Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan berkaitan dengan kinerja tugas mereka
2. Pengamatan atau observasi terhadap persoalan dalam melaksanakan tugas mereka
3. Menginspeksi dokumen dan catatan
4. Melakukan perhitungan kembali atau reperforming
5. Konfirmasi
6. Analitis
7. Tracing atau pengusutan
8. Vouching atau penelusuran
PROSEDUR ANALITIS

Merupakan pengevaluasian informasi keuangan yang dilakukan dengan


mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data nonkeuangan.
Ada enam langkah yang harus dilakukan auditor dalam melakukan prosedur analitis,
yaitu:
1. Mengidentifikasi perhitungan dan perbandingan yang akan dibuat
2. Mengembangkan ekspektasi
3. Melakukan perhitungan dan perbandingan
4. Menganalisis data
5. Menyelidiki perbedaan atau penyimpangan yang tidak diharapkan yang signifikan
6. Menentukan pengaruh perbedaan atau penyimpangan terhadap perencanaan audit
TEKNIK PELAKSANAAN AUDIT SEKTOR PUBLIK
TEKNIK MENGELOLA RISIKO
AUDIT SEKTOR PUBLIK
A. Teknik Mengelola Risiko Audit Sektor Publik
a. Mengetahui Risiko
1. Risiko deteksi (detection risk)
Alasan tingginya risiko adalah:
Badan pengatur sedikit dan lemah
Umumnya miskin kualitas auditor
Hukuman yang rendah untuk pelanggaran
2. Inherent risk
Adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu
salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat pengendalian yang
terkait.
Alasan tingginya inherent risk :
Integritas manajemen
Karakteristik organisasi;
Banyaknya BUMN
Insentif yang lemah untuk mengurangi asimetri informasi
Pilihan organisasi pada auditor, seperti memilih kantor audit kecil dan lokal
yang kurang independen dan mudah untuk berkolusi.
Lingkungan hukum dan tata kelola organisasi, seperti lemahnya budaya
hukum dan sistem penegakan.
3. Risiko pengendalian (Control risk)
Alasan tingginya risiko pengendalian:
Lemahnya Badan Pengawas dalam organisasi terbuka
Penguasaan prang dalam terhadap kebijakan organisasi
b. Audit Risk
AR (Audit Risk) = IR x CR x DR
TEKNIK MENULIS KERTAS KERJA AUDIT

Berkas kertas kerja yang berasal dari klien dapat berupa :


neraca saldo, rekonsiliasi bank, analisis umur piutang, rincian
persediaan, rincian utang, rincian biaya umum dan administrasi,
rincian biaya penjualan, surat pernyataan langganan.
Hasil analisis yang dibuat auditor, misalnya: berita acara
cash opname, ICQ dan evaluasi serta hasil analisis
pengendalian internal.
Berkas yang diperoleh dari pihak ketiga yang independen
meliputi antara lain: hasil konfirmasi piutang, hasil konfirmasi
utang, informasi dari bank, pernyataan dari penasihat hukum.
A. Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit:
1. Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pengendalian
2. Sebagai pendukung yang penting terhadap pendapat akuntan atas laporan keuangan yang
diauditnya
3. Sebagai peguat kesimpulan akuntan dan kompetensi pengauditannya
4. Sebagai pedoman dalam pengauditan berikutnya.
B. Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit
1. Pembuatan heading
2. Nomor indeks
3. Tick marks
4. Pencantuman tanda tangan pembuat maupun penelaah, dan tanggal pembuatan serta penelaahan
C. Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Pembuatan Kertas Kerja Audit
1. Teliti
2. Ringkas
3. Jelas
4. Rapi
5. Harus mempunyai maksud dan tujuan yang jelas
6. Hindarkan pekerjaan salin-menyalin yang tidak diperlukan
7. Buktikan keterangan lisan yang diperoleh melalui pengajuan pertanyaan (inquiry)
8. Jangan meninggalkan suatu pertanyaan tanpa ada jawaban yang jelas.
D. Tipe Kertas Kerja
1. Audit program
2. Working trial balance
3. Summary of adjusment journal entries
4. Top schedule
5. Supporting schedule

E. Isi kertas kerja


Dalam SA 339, SPAP IAI dan SAP 7.63, kertas kerja biasanya berisi
dokumentasi yang memperlihatkan:
1. Pemeriksaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik yang menunjukkan
dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan yang pertama.
2. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian internal telah diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang telah
dilakukan.
3. Bukti audit telah diperoleh, prosedur pemeriksaan yang telah diterapkan, dan pengujian yang telah
dilaksanakan, yang memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar yang memadai untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, yang menunjukkan dilaksanakannya standar
pekerjaan lapangan ketiga.

Secara umum kertas kerja audit memiliki susunan sebagai berikut:


1. Draft laporan pemeriksaan (audit report)
2. Laporan keuangan yang telah diaudit
3. Ringkasan informasi bagi penelaah
4. Program pemeriksaan
5. Laporan keuangan atau neraca lajur yang dibuat klien
6. Ringkasan jurnal penyesuaian
7. Working trial balance
8. Top schedule
9. Supporting schedule
F. Penelaahan Kertas Kerja
Auditor harus menelaah kertas kerja yang dibuat oleh staf maupum
asistennya. Penelaahan kertas kerja dilakukan terhadap pekerjaan yang
dilakukan, bukti yang diperoleh, judgement yang diambil, dan kesimpulan
yang diambil penyaji kertas kerja.
Penelaahan kertas kerja pada umumnya dilakukan dalam dua
tahap. Tahap pertama dilakukan jika pekerjaan pemeriksaan pada suatu
segmen tertentu sudah selesai. Penelaahan pada tahap ini meliputi
pekerjaan yang dilakukan dan bukti yang diperoleh. Dan, kesimpulan
diperoleh pembuat kertas kerja. Sedangkan, tahap kedua dilakukan bila
semua pekerjaan lapangan sudah diselesaikan.
G. Pemilikan dan Penyimpanan Kertas Kerja
Kertas kerja adalah milik lembaga yang mengaudit (seperti KAP dan BPK), bukan milik pribadi auditor
maupun yayasan.
Berkaitan dengan penyimpanan kertas kerja, auditor biasanya menyelenggarakan dua jenis pengarsipan
berikut ini:
1. Arsip permanen (permanent file) untuk kertas kerja yang berisi informasi yang relatif tidak pernah
mengalami perubahan. Informasi yang ada didalam arsip permanen seperti berikut:
Salinan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
Salinan surat perjanjian penting yang berlaku dalam jangka panjang
Salinan notulen rapat dan bagan yayasan
Pedoman akun dan prosedur pengendalian internal
Ringkasan prinsip akuntansi yayasan
Manfaat pembentukan arsip permanen adalah:
Mengingatkan auditor mengenai informasi untuk audit yang akan datang
Memberi ringkasan informasi pada staf auditor yang baru pertama kali melakukan audit
atas yayasan tersebut
Menghindari pembuatan kertas kerja yang sama pada audit tahun berikutnya.
2. Arsip kini (current file) untuk kertas kerja yang hanya dipakai untuk suatu audit yang telah
diselesaikan.
H. Pelaporan Tentang Pengendalian Internal
Secara umum pelaporan pengendalian internal berkaitan dengan pelaksanaan
pengendalian internal organisasi selama ini, kelemahan pengendalian internal organisasi
dan rekomendasi perbaikan bagi sistem pengendalian internal organisasi. Sedangkan
secara khusus pelaporan pengendalian internal berisi tentang efektivitas dan efisiensi
operasi, tingkat kehandalan pelaporan keuangan, dan ketaatan pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
I. Isi dan Bentuk Laporan
Laporan hasil audit disiapkan dengan pengarahan ketua tim audit yang
bertanggungjawab atas keakuratan dan kelengkapan laporan hasil audit. Pembicaraan
awal tentang daftar temuan audit merupakan bagian dari tahap penyiapan konsep laporan
hasil audit. Sebelumnya penyusunan laporan hasil audit, terlebih dahulu dilakukan
komunikasi internal tim audit dengan tujuan:
1. Mencapai kata sepakat mengenai seluruh temuan audit
2. Memperoleh tanggapan dan persetujuan final dari pengendali teknis bahwa seluruh
temuan audit telah objektif dan rekomendasi yang diberikan layak dan dapat
dilaksanakan
3. Memastikan bahwa kertas kerja audit telah disusun secara memadai dan substansi
kertas kerja auditnya cukup sebagai bahan untuk menyusun laporan hasil audit.
Komunikasi yang terjadi pada tahap penyiapan konsep laporan hasil audit antara lain adalah:
1. Kesepakatan tim atas hasil-hasil audit
2. Penyusunan atas laporan hasil audit
3. Review kertas kerja audit dan laporan oleh pengendali teknis dan pengendali mutu.
Secara umum laporan audit berisi beberapa hal sebagai berikut :
1. Tujuan dan lingkup audit
2. Rincian rencana audit, identitas anggota tim audit dan perwakilan teraudit atau klien, tanggal
pelaksanaan audit, dan identitas unit organisasi teraudit
3. Identitas dokumen standar yang dipakai dalam audit
4. Temuan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan audit. Temuan harus didukung dengan kertas
kerja yang memadai, objektif dan konstruktif
5. Penilaian tim audit mengenai keluasan kesesuaian teraudit dengan standar mutu yang
berlaku dan dokumen terkait
6. Kemampuan sistem mutu untuk mencapai tujuan pengendalian yang telah ditetapkan
7. Daftar distribusi laporan hasil audit
Sedangkan untuk laporan hasil audit mutu harus memuat
beberapa hal sebagai berikut:
1. Aktivitas
2. Klausul
3. Bukti
4. Kesimpulan
5. Rekomendasi