Anda di halaman 1dari 80

Pengelolaan Bencana 23

QBD 2: Pengelolaan
Bencana Kasus Gempa
Sumatera Barat 2009

Oleh Syarafina
1506677465
1. Jelaskan langkah-langkah pengelolaan bencana
pada siklus bencana sesuai dengan teori dan
kasus!
Apakah itu Bencana?
Pengertian bencana dari berbagai literatur

Kamus Besar Bahasa Indonesia


Sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau
penderitaan; kecelakaan; bahaya.

Undang-Undang RI No. 24 tahun 2007


Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menggangu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor
alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Siklus Bencana
Pengertian Siklus
Bencana

Siklus bencana adalah suatu rencana yang


dibuat untuk mengurangi, mencegah
kerugian, menjamin terlaksananya bantuan
secara memadai terhadap korban dan
usaha pemulihan kembali daerah yang
terkena bencana secara cepat dan efektif

Damon P. Coppola. Introduction to International Disaster


Management. United States of America: Elsevier; 2007
Siklus Bencana: Mitigasi (Mitigation) atau
Pengurangan

Mitigasi merupakan upaya untuk mengurangi bahaya dengan menghilangkan


kemungkinan dan atau konsekuensi dari risiko bahaya tersebut. Terdapat 2 tipe mitigasi, yaitu:

Ketika mempertimbangkan pilihan mitigasi yang cocok untuk mengatasi risiko Mitiga Struktural
bahaya, beberapa tujuan umum mengklasifikasikan the outcome that disaster
managers may seek: pengurangan kemungkinan riisiko, pengurangan
konsekuensin risiko, menghindari risiko, penerimaan risiko, dan risk transfer,
sharing, or spreading.
Mitigasi non-
Struktural
Mitigasi nonstruktural memiliki
Mitigasi Struktural Mitigasi non-Struktural
beberapa kategori, yaitu:
Mitigasi struktural melibatkan Melibatkan pengurangan Regulatory measures
beberapa bentuk konstruksi kemungkinan / konsekuensi Community awareness and
atau perubahan mekanik atau dari risiko melalui modifikasi education programs
perbaikan yang mengarah perilaku manusia atau proses Nonstructural physical
pada pengurangan risiko alam, tanpa memerlukan modifications
ancaman konsekuensi penggunaan struktur rekayasa Environmental control
Behavioral modification

Kedua jenis mitigasi tersebut dapat dilakukan dalam menghadapi bencana gempa
bumi
Contoh:
o Di negara Jepang, konstruksi untuk pembangunan rumah maupun gedung-gedung
sudah menerapkan teknik bangunan tahan gempa hingga 5,5 Skala Richter. Usaha ini
termasuk dalam mitigasi jenis struktural.
Contoh:
o Pada kategori community awareness and education programs dengan mengedukasi
publik mengenai kesadaran akan risiko bencana serta peringatan bencana.
Siklus Bencana: Kesiapsiagaan (Preparedness)

sebagai tindakan yang diambil sebelum


bencana untuk memastikan respon yang
Definisi memadai terhadap dampak yang
ditimbulkannya, dan bantuan pemulihan
dari konsekuensinya.

Kesiapsiagaan yang dilakukan


Pembagian pemerintah dibagi menjadi 5 kategori
umum, yaitu: planning, exercise,
Kategori training, equipment, dan statutory
authority.
Siklus Bencana: Kategori Kesiapsiagaan
(Preparedness)
Planning
Pemerintah harus mengetahui dengan baik apa yang mereka butuhkan,
bagaimana melakukannya, apa peralatan yang dibutuhkan, dan bagaimana orang
lain membantu pemerintah. Oleh karena itu perlu membuat rencana.

Exercise
Latihan merupakan cara untuk berlatih peran dan tanggung jawab mereka
sebelum kejadian yang sebenarnya terjadi. Latihan juga membantu menemukan
masalah dalam rencana dalam situasi tidak darurat. Hal ini memungkinkan untuk
waktu yang cukup untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga kesulitan yang
tidak perlu tidak mempengaruhi respon yang sebenarnya. Latihan ada 4, yaitu
drill, tabletop exercise, functional exercise, dan full-scale exercise.
Training
Pelatihan khusus yang berada di luar standar : evakuasi, perawatan
massa, manajemen korban massal, manajemen puing-puing, operasi
banjir berjuang, peringatan koordinasi, manajemen relawan spontan
bahan berbahaya, senjata pemusnah massal, respon badai siklon,
perkotaan dan padang gurun pencarian dan penyelamatan, respon
radiologis, pengendalian massa, menanggapi serangan teroris, api dan
wildland respon api.

Equipment
Pengembangan alat dan peralatan lainnya untuk membantu dalam
respon bencana dan pemulihan bisa membantu mengurangi jumlah
cedera dan kematian dan jumlah properti yang rusak atau hancur akibat
peristiwa bencana.
Statutory Authority
Siklus Bencana: Respon
Fungsi respon dari manajemen darurat meliputi tindakan yang ditujukan untuk
membatasi cedera, hilangnya nyawa, dan kerusakan properti dan lingkungan saat
sebelum, selama, dan setelah peristiwa bahaya.

Keadaan darurat terjadi dalam tiga tahap, dengan kegiatan respon yang berbeda berlaku untuk
masing-masing:
1. Prehazard. Selama periode ini darurat, bahaya yang akan datang dapat dihindari.
2. Darurat: efek Hazard yang sedang berlangsung.
Periode ini dimulai ketika efek merusak pertama dimulai, dan meluas sampai semua efek merusak
yang berhubungan dengan bahaya dan semua bahaya sekunder tidak ada lagi. Ini dapat diukur
dalam detik untuk beberapa bahaya, seperti sambaran petir atau gempa bumi. Namun, untuk yang
lain, seperti banjir, angin topan, kebakaran hutan, atau kekeringan, fase ini dapat memperpanjang
selama berjam-jam, hari, minggu, atau bahkan bertahun-tahun. Selama ini, responden menjawab
kebutuhan masyarakat dan properti serta efek bahaya.
3. Darurat: Efek Hazard telah berhenti.
Selama fase akhir ini darurat, bahaya telah diberikan semua pengaruhnya, dan kerusakan lebih lanjut
diabaikan diharapkan. Responden tidak lagi menangani efek bahaya, sehingga usaha mereka
berdedikasi untuk menangani kebutuhan korban, mengelola orang mati, dan memastikan
keselamatan struktur dan lingkungan. Darurat masih ada dan situasi masih berpotensi memburuk,
tapi bahaya atau bahaya yang menghasut darurat tidak lagi hadir.
Siklus Bencana: Pemulihan (Rehabilitation)

Upaya yang dilakukan untuk mengembalikan kondisi hidup dan kehidupan


masyarakat seperti semula atau lebih baik dibanding sebelum bencana
terjadi melalui kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Tahapan Pengelolaan Bencana
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana, terdapat 3 tahapan dalam penyelenggaraan penanggulangan
bencana, yaitu:

Tahapan prabencana dilaksanakan dalam situasi tidak


Tahap Prabencana terjadi bencana dan dalam situasi terdapat potensi
terjadinya bencana

Tahap Tanggap Darurat

Tahap Pascabencana
Tahap Prabencana
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 pasal 5 ayat 1

Perencanaan Penanggulangan Bencana


Merupakan bagian dari perencanaan pembangunan yang disusun berdasarkan hasil analisis risiko
bencana
Rencana penanggulangan bencana direncanakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah untuk
Jika jangka waktu 5 tahun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh kepala BNPB dan ditinjau
dalam secara berkala tiap dua tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana
situasi
tidak Pengurangan Risiko Bencana
terdapat
Merupakan kegiatan untuk mengurangi ancaman dan kerentanan serta meningkatkan
potensi kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana
bencana
Pencegahan
Dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana dengan cara mengurangi
ancaman bencana dan kerentanan pihak yang terancam bencana yang menjadi tanggung jawab
pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat
Pemaduan dalam Perencanaan Pembangunan
Dilaksanakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah melalui koordinasi, integrasi dan
sinkronisasi dengan cara memasukkan unsur-unsur penanggulangan bencana ini disusun dan
ditetapkan oleh kepala BNPB

Persyaratan Analisis Risiko Bencana


Jika Untuk mengetahui dan menilai tingkat risiko dari suatu kondisi atau kegiatan yang dapat
dalam menimbulkan bencana. Persyaratan analisis risiko bencana ini disusun dan ditetapkan oleh
situasi kepala BNPB
tidak
terdapat Pelaksanaan dan Penegakkan Rencana Tata Ruang
potensi Dilaksanakan untuk mengontrol pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah
bencana
Pendidikan dan Pelatihan
Ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kepedulian, kemampuan, dan kesiapsiagaan
masyarakat dalam menghadapi bencana

Persyaratan Standar Teknis Penanggulangan Bencana


Kesiapsiagaan
Dilaksanakan oleh pemerintah (pusat dan daerah) bersama
dengan masyarakat dan lembaga usaha agar pada saat terjadi
bencana dipastikan dapat dilaksanakan tindakan yang cepat dan
Jika tepat
dalam
situasi Peringatan Dini
terdapat
potensi Dilaksanakan untuk mengambil tindakan yang cepat dan tepat
terjadi dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana dan
bencana mempersiapkan tindakan tanggap darurat oleh instansi/lembaga
yang berwenang sesuai dengan jenis ancaman bencananya
Mitigasi Bencana
Untuk mengurangi risiko dan dampak bencana terhadap
masyarakat yang berada dalam kawasan rawan bencana
Tahap Tanggap Darurat
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 pasal 21

Pengkajian Secara Cepat dan Tepat Terhadap Lokasi , Kerusakan,


Kerugian, dan Sumber Daya
Bertujuan untuk menentukan kebutuhan dan tindakan yang tepat dalam
penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat yang dilakukan oleh tim kaji
cepat dan dikoordinasikan oleh kepala BNPB atau kepala BPBD

Penentuan Status Keadaan Darurat Bencana

Dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan tingkat bencana

Penyelamatan dan Evakuasi Masyarakat

Dilaksanakan melalui usaha dan kegiatan pencariaan, pertolongan, dan


penyelamatan masyarakat sebagai korban bencana yang dilaksanakan oleh tim
reaksi cepat dengan melibatkan unsur masyarakat dibawah komando komandan
penanganan darurat bencana
Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat,
lembaga usaha, lembaga internasional, dan/atau lembaga asing
nonpemerintah sesuai dengan standar minimum
Perlindungan Terhadap Kelompok Rentan

Pemulihan dengan Segera Prasarana dan Sarana Vital


Bertujuan mengembalikan fungsi prasarana dan sarana vital
masyarakat dengan segera untuk menjaga keberlangsungan
kehidupan masyarakat
Tahap Pascabencana
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 pasal 55

Merupakan tanggung jawab pemerintah


dan/atau pemerintah daerah yang terkena

Rehabilitasi bencana yang menyusun rencana rehabilitasi


berdasarkan analisis kerusakan dan kerugian
akibat bencana dengan mempertimbangkan
aspirasi masyarakat

Rehabilitasi pada wilayah pasacabencana dapat dilakukan melalui kegiatan:


a. Perbaikan lingkungan daerah bencana h. Pemulihan keamanan dan ketertiban
b. Perbaikan prasarana dan sarana umum i. Pemulihan fungsi pemerintahan
c. Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat j. Pemulihan fungsi pelayanan publik
d. Pemulihan sosial psikologis
e. Pelayanan kesehatan
f. Pekonsiliasi dan resolusi konflik
g. Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya
Menjadi tanggung jawab pemerintah daerah
yang terkena bencana atau pemerintah pusat
yang dilaksanakan dengan menyusun rencana
rekonstruksi yang memperhatikan rencana
Rekonstruksi tata ruang, pengaturan mengenai standar
konstruksi bangunan, kondisi sosial, adat
istiadat, budaya, lokal, dan ekonomi

Rehabilitasi pada wilayah pasacabencana dapat dilakukan melalui kegiatan:


Pembangunan kembali prasarana dan sarana;
a. Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;
b. Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat;
c. Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan
bencana;
d. Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan
masyarakat;
e. Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;
f. Peningkatan fungsi pelayanan publik; atau
g. Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.
Persyaratan standar teknis
Tahap penanggulangan bencana
Pendidikan dan pelatihan terkait
Prabencana bencana

Tahap Beberapa jam setelah gempa, pemerintah segera menyatakan


satu bulan masa tanggap darurat
Penyelamatan dan evakuasi masyarakat Sumatera Barat yang

Tanggap terkena gempa


UNICEF berkomitmen untuk mendukung program tersebut
selama enam bulan guna memenuhi kebutuhan mendesak para
Langkah Pengelolaan
Bencana Gempa Bumi
Darurat perempuan dan anak-anak, serta membantu memperkuat
kapasitas kesiapsiagaan bencana Sumatera Barat 2009

Tahap Pembersihan, penghapusan, dan


pembuangan puing
Pascabencana Penyediaan perumahan sementara atau
tempat berteduh jangka panjang
Program rehabilitasi sosial
Berikut ini pemberitaan yang terkait dengan
langkah pengelolaan bencan gempa Sumatera
Barat 2009
2. Jelaskan mengenai triase pada bencana!
Pengertian Triase
Triase berasal dari bahasa Prancis Trier yang artinya untuk memperpendek, mengklasifikasi,
dan/atau memilih (Victoria Departement of Human Service, 2001).
Triase adalah sebuah konsep untuk memilih atau menggolongkan semua pasien yang datang ke
UGD dan menetapkan prioritas penanganannya (Kathleen, 2002).
Triase terdiri dari upaya klasifikasi kasus cedera secara cepat berdasarkan keparahan cedera
mereka dan peluang kelangsungan hidup mereka melalui intervensi medis yang segera.
Tujuan dilakukan Triase:

Menginisiasi atau melakukan intervensi yang cepat dan tepat


kepada pasien

Menetapkan area yang paling tepat untuk dapat melaksanakan


pengobatan lanjutan

Memfasilitasi alur pasien melalui unit gawat darurat dalam proses


penanggulangan/pengobatan gawat darurat
Pengambilan keputusan Selama Triase
Keputusan Triase Terdiri dari Tiga Tahap Utama, yaitu:

Keputusan Primer Identifikasi Masalah


Berhubungan dengan penilaian triase, alokasi kategori
triase dan deposisi pasien

Penentuan Alternatif
Keputusan Sekunder

Berhubungan dengan insisasi intervensi keperawatan


darurat untuk mencapai kenyamanan pasien Pemilihan alternatif yang paling
tepat

Faktor yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan, yaitu:


Kebutuhan fisik
Tumbuh kembang
Psikososial
Triase Lapangan
Triase di Tempat
Dilakukan di tempat korban ditemukan atau pada tempat penampungan yang dilakukan oleh tim
Pertolongan Pertama atau Tenaga Medis Gawat Darurat. Triase di tempat mencakup pemeriksaan,
klasifikasi, pemberian tanda dan pemindahan korban ke pos medis lanjutan

Triase Medik
Dilakukan saat korban memasuki pos medis lanjutan oleh tenaga medis yang berpengalaman
(sebaiknya dipilih dari dokter yang bekerja di Unit Gawat Darurat, kemudian ahli anestesi dan terakhir
oleh dokter bedah). Tujuan triase medik adalah menentukan tingkat perawatan yang dibutuhkan oleh
korban.
Triase Evakuasi
Ditujukan pada korban yang dapat dipindahkan ke Rumah Sakit yang telah siap menerima korban
bencana massal
Klasifikasi Triase
Saat ini, dua protokol triase paling umum diterima adalah START dan SALT. Akan tetapi berbagai
macam triase telah digunakan diseluruh dunia, yaitu:

The Australian The Manchester


Triage Scale (ATS) Triage Scale

The Canadian Emergency


Triage and Acuity Severity Index
Scale (CTAS) (ESI)
The Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS)
Diakui sebagai sistem triage yang handal dalam penilaian pasien dengan cepat.
Kehandalan dan validitasnya telah dibuktikan dalam triage pada pasien pediatrik dan
pasien dewasa (Lee, Et al, 2011).

Model SALT Triage untuk Insiden Korban Masal


(Mass Casualty Incident)
Pedoman triase ini digunakan untuk semua bahaya dan dapat diterapkan pada orang
dewasa dan anak-anak.
SALT Triage singkatan (sort assess lifesaving interventions treatment/transport).
SALT terdiri dari dua langkah ketika menangani korban. Hal ini termasuk triase awal
korban menggunakan perintah suara, perawatan awal yang cepat, penilaian masing-
masing korban dan prioritas, dan inisiasi pengobatan dan transportasi.
Model SALT Triage (Mass Casualty Incident)
Step 1: SORT
SALT dimuali dengan menyortir pasien
secara global melalui penilaian korban
secara individu. Pasien yang bisa berjalan
diminta untuk berjalan ke suatu area
tertentu dan dikaji pada prioritas terakhir
untuk penilaian individu.
Penilaian kedua dilakukan pada korban
yang diminta untuk tetap mengikuti
perintah atau di kaji kemampuan gerakan
secara terarah/gerakan bertujuan.
Pada korban yang tetap diam tidak bergerak
dari tempatnya dan dengan kondisi yang
mengancam nyawa yang jelas harus dinilai
pertama karena pada korban tersebut tang
paling membutuhkan intervensi untuk
penyelamatan nyawa.
Model SALT Triage (Mass Casualty Incident)
Step 2: ASSES
Prioritas pertama selama penilaian individu adalah
untuk memberikan intervensi menyelamatkan
nyawa. Termasuk mengendalikan perdarahan utama;
membuka jalan napas pasien, dekompresi dada
pasien dengan pneumotoraks, dan menyediakan
penangkal untuk eksposur kimia. Intervensi ini
diidentifikasi karena injury tersebut dapat dilakukan
dengan cepat dan dapat memiliki dampak yang
signifikan pada kelangsungan hidup pasien.
Intervensi live saving harus diselesaikan sebelum
menetapkan kategori triase dan hanya boleh
dilakukan dalam praktek lingkup responder dan jika
peralatan seudah tersedia.
Setelah itu, pasien diprioritaskan untuk pengobatan
berdasarkan ke salah satu dari lima warna-kode
kategori.
5 Kategori Kode Warna
Pasien yang Pasien yang tidak Pasien yang tidak
Warna Hijau

Warna Merah
Warna Hitam
mengalami luka bernapas bahkan mematuhi
ringan yang self- setelah intervensi perintah, tidak
limited dan dapat live saving yang memiliki pulsa
mentolerir diprioritaskan perifer, mengalami
penundaan dalam sebagai meninggal gangguan
perawatan tanpa pernapasan atau
meningkatkan perdarahan yang
risiko kematian tidak terkendali
dan diprioritaskan
immedite

Pasien yang Jika pasien

Warna Kuning

Warna Abu-Abu
diprioritaskan sebagai
sebagai delayed expectant/hamil
Model START Triage untuk Insiden Korban Masal
(Mass Casualty Incident)
Stein, L., 2008 menjelaskan sistem START tidak harus dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan yang
sangat terampil. Bahkan, dapat dilakukan oleh penyedia dengan tingkat pertolongan pertama pelatihan.
Tujuannya adalah untuk dengan cepat mengidentifikasi individu yang membutuhkan perawatan, waktu
yang dibutuhkan untuk triase setiap korban kurang dari 60 detik.
START membagi korban menjadi 4 kelompok dan masing-masing mempunyai warna kelompok
tersendiri. START Triase memiliki empat warna untuk mengidentifikasi status korban.

Kode Warna
Intervensi dapat ditunda hingga tiga jam. Perlu dinilai
Green kembali untuk menentukan apakah status mereka berubah.
Intervensi dapat ditunda sampai satu jam. Perlu dinilai
Yellow
kembali untuk menentukan apakah status mereka berubah.

Red Membutuhkan intervensi langsung.

Mereka yang sudah meninggal, tidak dibutuhkan


Black
intervensi yang mendesak.
Kode Warna International dalam Triase
1. Prioritas 1 atau Emergency Warna Merah (kasus berat)
Pasien dengan kondisi mengancam nyawa, memerlukan evaluasi dan intervensi segera,
perdarahan berat, pasien dibawa ke ruang resusitasi, waktu tunggu 0 (nol)
Asfiksia, cedera cervical, cedera pada maxilla
Trauma kepala dengan koma dan proses shock yang cepat
Fraktur terbuka dan fraktur compound
Luka bakar > 30% / Extensive Burn
Shock tipe apapun

2. Prioritas 2 atau Urgent Warna Kuning (kasus sedang)


Pasien dengan penyakit yang akut, mungkin membutuhkan trolley, kursi roda, waktu tunggu 30
menit, area critical care
Trauma thorax non asfiksia
Fraktur tertutup pada tulang panjang
Luka bakar terbatas (< 30% dari TBW)
Cedera pada bagian/jaringan lunak
3. Prioritas 3 atau Non-Urgent: Warna Hijau (kasus ringan)
Pasien yang biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang minimal, luka lama, kondisi
yang timbul sudah lama, area ambulatory/ruang P3.
Minor injuries
Seluruh kasus-kasus ambulant/jalan

4. Prioritas 0: Warna Hitam (kasus meninggal)


Pasien yang tidak bernapas bahkan setelah intervensi life saving yang diprioritaskan sebagai
meninggal.
Tidak ada respon pada semua rangsangan
Tidak ada respirasi spontan
Tidak ada bukti aktivgasi jantung
Tidak ada respon pupil terhadap cahaya
Meminta semua korban dengan luka ringan yang mampu
merespon peritah dan berjalan singkat jarak ke area
Prosedur pengobatan

Menilai pernapasan. Jika respirasi lebih besar dari 30


bpm, maka korban masuk ke kelompok MERAH
(Immediate). Jika tidak ada reposisi jalan napas, maka
korban masuk ke kelompok HITAM (mati)

Jika tingkat pernapasan kurang dari 30 bpm, periksa


denyut nadi radial dan refill kapiler. Jika tidak ada pulsa
radial teraba, maka korban masuk ke kelompok MERAH
(Immediate)

Jika tidak ada perdarahan yang jelas, maka kontrol perdarahan dengan tekanan.
Jika ada nadi radial, nilai status mental korban dengan meminta mereka untuk
mengikuti perintah sederhana seperti meremas tangan. Jika mereka tidak bisa
mengikuti perintah sederhana, maka korban ditandai kelompok MERAH
(Immediate) dan jika mereka dapat mengikuti perintah sederhana, maka korban
dintandai kelompok KUNING (Delayed)
Model JUMPSTART Triage untuk Insiden
Korban Masal (Mass Casualty Incident)
Anak-anak memiliki nilai rentang normal yang berbeda dari pernapasan pada usia dewasa. Sehingga
metode START yang berdasarkan pernapasan 30 bpm tidak akan sesuai dengan anak-anak.
Merupakan modifikasi sistem START. Digunakan untuk anak-anak usia 1 sampai 8 tahun. Modifikasi
dan penilaian tambahan akan diperlukan untuk anak-anak kurang dari usia 1 tahun, dengan
keterlambatan perkembangan, cacat kronis atau cedera yang terjadi sebelum bencana (Jumpstart,
2008 dalam Stein, L., 2008).
3. Jelaskan mengenai rapid need assessment
secara teori dan kasus!
Rapid Need Assassment
Rapid need assessment merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan
informasi dan data yang berguna untuk melakukan tindakan intervensi pasca bencana yang
dilakukan secara cepat.
Pengumpulan data dilakukan kurang dari 1 pekan setelah kejadian bencana, sehingga dapat
digunakan untuk mengambil keputusan segera.
Tujuan:

Mengkonfirmasi keadaan darurat

Menggambarkan jenis, dampak dan kemungkinan perkembangan dari keadaan

Mengukur dampak kesehatan yang sekarang dan potensial

Menilai kecukupan kapasitas respon yang ada dan kebutuhan tambahan

Merekomendasikan prioritas tindakan untuk respon segera


Pertimbangan dalam Assesssment
Jenis informasi yang dibutuhkan (asas kemanfaatan), yang didukung
asas kecepatan, keakuratan dan kekinian
Jenis intervensi yang mungkin/mampu dilakukan (asas kemampuan)
Keamanan assessor (asas keamanan)

Sumber Informasi Assessment


Sumber Sekunder misalnya laporan instansi/lembaga terkait,
media massa, masyarakat dan internet
Sumber Primer misalnya survey lapangan

Unit Kerja Asssessment


Unit kerja assessmen dipimpin oleh Koordinator yang ditunjuk dan disepakati ketua
Tanggap Darurat Bencana yang beranggotakan orang-orang/relawan yang mempunyai
keahlian pemetaan, analisa medis, dan mengerti kondisi lingkungan serta karakter
wilayah yang terkena bencana. Koordinator tim assessmen bertanggung jawab kepada
Ketua Tanggap Darurat bencana.
Hal yang Dinilai/ Di-assess
Pada dasarnya, bencana adalah gangguan serius atas keberfungsian masyarakat, yang menyebabkan
kerugian manusia, material maupun lingkungan. Gangguan yang terjadi mungkin menimbulkan
kebutuhan medis (needs- kesenjangan antara yang diperlukan dan yang tersedia). Atas dasar
pemahaman ini, maka assessment harus dapat menghasilkan gambaran nyata:
a. Bentuk-bentuk gangguan atas keberfungsian masyarakat tersebut, baik pada ranah keamanan,
kesehatan, ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kebertinggalan dan lain sebagainya
b. Kesenjangan antara keperluan masyarakat pasca kejadian dengan ketersediaan sumber daya
c. Intervensi yang perlu dilakukan

Alat dan Perlengkapan


Formulir Rapid Assessment Papan data dan informasi
Buku pedoman Assessment Peta Induk kegiatan PosKo
Alat komunikasi Peta lokasi geografi, peta wilayah topografi
Seperangkat computer dan multimedia Data logistic : perncanaan, ketersediaan,
Alat transportasi : mobil, motor, perahu karet distribusi, dan stok barang
Alat tulis kantor Data personil / relawan
Meja kursi kantor Data Peralatan
Media presentasi : LCD projector Jadwal tugas dan lokasi masing masing
anggota unit
Tujuan Rapid Need Assessment menurut WHO
Menentukan besarnya masalah kegawatdaruratan
Mendefinisikan kebutuhan kesehatan spesifik pada populasi yang terkena
dampak
Menegakkan prioritas dan tujuan untuk aksi
Mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat yang ada dan potensial
Mengevaluasi kapasitas lokal (sumber daya dan logistik) dalam
penanganan kegawatdaruratan
Menentukan kebutuhan sumber daya eksternal untuk aksi prioritas
Membuat basis sistem informasi kesehatan
Prioritas Rapid Health Assessment menurut
WHO

Stase 1 (Hari ke-1)

Menilai serentak dan merespon cepat


Respon medis kegawatdaruratan
Pertolongan pertama terhadap cidera selama 24 jam pertama
Estimasi korban
Prioritas Rapid Health Assessment menurut
WHO

Stase 2 (Hari ke-2)


Pasien paling kritis harus sudah mendapat perhatian medis inisial
Kebutuhan medis utnuk korban yang sulit diakses
Menentukan kekurangan sumber daya kesehatan primer
Menentukan kebutuhan sekunder pelayanan kesehatan lanjutan, tempat bernaung, makanan, dan air
Menentukan kebutuhan medis lainnya dan peralatan lain (re-stock)
Prioritas Rapid Health Assessment menurut
WHO

Stase 3 (hari ke 3-5)

Mengembalikan layanan kesehatan primer


Mengembalikan sistem layanan kehidupan
Membangun tempat penampungan
Mendistribusikan makanan dan meningkatkan keamanan
Merencanakan merekonstruksi kesehatan lingkungan
Prioritas Rapid Health Assessment menurut
WHO

Stase 4 (Setelah hari ke-5)

Penilaian kesehatan berdasarkan pengawasan


Penilaian kesehatan berdasarkan peningkatan kesehatan korban
respon dan rehabilitasi
HAL YANG PERLU DICEK DALAM
RAPID NEED ASSESSMENT

ARII M. Rapid Assessment in Disasters. JMAJ. 2013;56(1):20 .


ARII M. Rapid Assessment in Disasters. JMAJ. 2013;56(1):20.
Menyusun perencanaan kegiatan
assessment

Mengumpulkan data primer dan/atau


sekunder

Membuat pemetaan lokasi kejadian


Tahap
bencana dan peta camp pengungsian
Pelaksanaan
Membuat kajian dan analisis kondisi lokasi
bencana secara tepat dan cepat
Assessment
Menentukan titik lokasi pendampingan
dan menentukan jenis bantuan yang akan
diberikan

Melaporkan hasil assessment kepada Ketua


Tanggap Darurat Bencana

Mempersiapkan assessment
berikutnya jika diperlukan
Contoh Form
Pengumpulan
Data dalam
Rapid
Assessment
Kaitan dengan Bencana Gempa Bumi
Sumatera Barat tahun 2009
Konteks bencana gempa bumi bantuan darurat bencana untuk pemenuhan kebutuhan dasar tentunya
harus menganut prinsip standar minimal kebutuhan dasar.
Dengan demikian azas pemberian bantuan harus berdasarkan pada prioritas untuk kelompok rentan
ini dan harus adil.
Hal yang sangat penting adalah adanya Tim Rapid Need Assesment dalam rangka membantu
pemerintah daerah setempat dalam memantau dan memberikan saran dan jalan keluar tentang jenis
kebutuhan yang diperlukan korban bencana secara proposional dan cepat.
4. Jelaskan kesiapan (mitigasi, early warning, dan
kesiapsiagaan) menghadapi bencana pada skala
lokal, nasional, dan internasional meliputi struktur,
peraturan, edukasi serta community resilience
secara teori dan sesuai dengan kasus
Kesiapsiagaan
Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui
langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana).
Tujuan:
Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk merespon efektif ancaman & dampak bencana
Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk pulih dengan cepat dari dampak jangka panjang

Penyusunan dan uji coba rencana penanggualangan kedaruratan bencana

Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini

Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan dasar

Pengorganisasian penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme tanggap darurat

Penyiapan lokasi evakuasi

Penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tanggap darurat

Penyediaan, dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan prasarana dan sarana
Pasal 45 UU No.24 tahun 2007
Peringatan Dini (Early Warning)
Merupakan pengambilan tindakan cepat dan tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena
bencana serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat.

Dilakukan melalui, yaitu:

Pengamatan gejala bencana

Analisis hasil pengamatan gejala bencana

Pengambilan keputusan oleh pihak yang berwenang

Penyebarluasan informasi tentang peringatan bencana

Pengambilan tindakan oleh masyarakat

Pasal 46 UU No.24 tahun 2007


Mitigasi Bencana
Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU No. 24 tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana).
Tujuan: Untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana
Mitigasi dapat dilakukan melalui, yaitu:

Penyelenggaraan
Pengaturan
pendidikan,
Pelaksanaan pembangunan,
penyuluhan, dan
pembangunan
penataan ruang pelatihan baik secara
infrastruktur, tata
konvensional maupun
bangunan
modern
Terdapat 2 tipe mitigasi, yaitu:

Mitigasi Struktural Mitigasi non-Struktural

Mitigasi struktural melibatkan Melibatkan pengurangan


Mitiga Struktural beberapa bentuk konstruksi kemungkinan / konsekuensi
atau perubahan mekanik atau dari risiko melalui modifikasi
perbaikan yang mengarah perilaku manusia atau proses
pada pengurangan risiko alam, tanpa memerlukan
Mitigasi non- ancaman konsekuensi penggunaan struktur rekayasa
Struktural
Struktur Pengelolaan
Bencana Skala Lokal

o Dilakukan oleh BPBD yang


dibentuk oleh Pemerintah
Daerah
o BPBD akan mengeluarkan
peringatan dini untuk bencana
berdasarkan data dari BMKG
o Kesiapsiagaan dialkukan dengan
berkoordinasi dengan LSM dan
PMI meliputi pengorganisasian
tenaga kesehatan, transportasi
saat kendaraan darurat, dan
pemberitahuan kepada
penduduk yang terkena bencana
Struktur Pengelolaan Bencana
Kepala BNPB Skala Nasional
Pasal 10 UU No. 24 tahun 2007
Seketaris Umum 1) Pemerintah sebagaimana
dimaksud dalam pasal 5
Inspektorat
Unsur Pengarah membentuk Badan Nasional
Utama Penanggulangan Bencana
2) Badan Nasional Penanggulangan
Deputi Bidang Deputi Bidang Deputi Bidang Deputi Bidang Bencana sebagaimana dimaksud
Pencegahan dan Penanganan Rehabilitas dan Logistik dan pada ayat (1) merupakan
Kesiapsigaan Darurat Rekontruksi Peralatan Lembaga Pemerintah
Nondepartemen setingkat
Pusdiklat Pusat Data
Penanggulangan Informasi dan meneteri
Bencana Humas

UPT
Bencana Skala
Internasional
Peraturan Kesiapsiagaan

PP 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan


Bencana
UURI Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2008
tentang Peran Serta Lembaga Internasional Dan Lembaga Asing
Nonpemerintah Dalam Penanggulangan Bencana
Community Resilience
Merupakan kemampuan masyarakat untuk kembali kepada keadaan semula setelah terkena
bencana.
Komponen community resilience, yaitu:
Kemampuan untuk menahan atau beradaptasi terhadap tekanan atau kerusakan, penghancuran dan pemusnahan
secara paksa
Kemampuan untuk mengatur, mempertahankan struktur dan fungsi dasar tertentu selama terjadi bencana

Kemampuan untuk pulih kembali setelah terjadi bencana

Edukasi
Penyuluhan
Simulasi pelatihan
Mengenai
terhadap bencana
Bencana
Kesiapan pada Skala Lokal

Kesiapsiagaan Mitigasi Peringatan dini

Peta resiko bencana daerah Meningkatkan keamanan fasilitas Menindaklanjuti informasi


dan menentukan tempat- umum peringatan dini
tempat yang rawan bencana Pembentukan BPBD - pada setiap
Memasang Alat untuk
kabupaten/kota
Edukasi bencana dan memberi informasi sebagai
Penyuluhan terhadap masyarakat
pemberian informasi tanda peringatan
Menyelenggarakan pelatihan semua
masyarakat setempat unit terkait
Simulasi kejadian bencana Inventarisasi sumber daya sesuai
Perencanaan tempat dan jalur dengan potensi bahaya yang
evakuasi pada saat terjadi mungkin terjadi (jumlah dan lokasi
bencana fasilitas kesehatan)
Kesiapan pada skala Nasional

Kesiapsiagaan Mitigasi Peringatan dini

Pemetaan daerah-daerah rawan bertanggung jawab terhadap bencana


bencana BNPB
pemberitahuan
Koordinasi lintas program dan lintas Melakukan pengawasan terhadap informasi mengenai
sektor meliputi sinkronisasi kegiatan pelaksanaan berbagai peraturan yang kemungkinan terjadinya
penanggulangan bencana dari Pusat berkaitan dengan pencegahan
sampai Daerah bencana, seperti peraturan tentang bencana
Penilaian resiko bencana - penataan ruang, peraturan tentang Mengembangkan sistem
mengidentifikasi potensi kerugian izin mendirikan bangunan (IMB), dll
Membuat standar penanggulang
komunikasi dan
bencana termasuk mekanisme informasi termasuk early
penerimaan bantuan warning
Kesiapan pada Skala Internasional

Kesiapsiagaan Mitigasi Peringatan dini

Melakukan hazard assessment serta Perbaikan segi struktural


risk and vulnerability assessment
Pengembangan sistem
Melaksanakan pelatihan teknis
dari suatu daerah atau peringatan dini
berbasis internasional : UNDAC , ERAT, bangunan Membantu membuat sistem
INSARAG Meningkatkan kesiapan manajemen bencana dan
militer dan pertahanan early warning
Menghimpun kekuatan global
dari berbagai bidang untuk
bersama-sama membantu
menanggulangi kejadian
bencana di dunia
Kaitan dengan Kasus
Pada intinya kesiapan menghadapi bencana dari pihak dalam yaitu negara Indonesia sendiri
masih belum maksimal, sehingga memakan banyak korban dan kerusakan material lainnya.
Akan tetapi, dengan adanya bantuan dari kesiapan pihak lain yaitu pihak internasional dalam
membantu pengelolaan bencana gempa sehingga setidaknya dapat mencegah lebih jauh
kerugian yang akan terjadi.
5. Jelaskan respon yang dilakukan sebagai individu,
dan masyarakat secara teori dan sesuai dengan
kasus
Respon/Tanggap Darurat
serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani
dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta
benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta
pemulihan prasarana dan sarana.

KMPB adalah organisasi yang terdiri dari anggota masyarakat manapun, baik laki-laki maupun
perempuan, yang peduli pada penanggulangan bencana dalam bentuk dan nama apapun
sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat dan dibentuk atas hasil keputusan bersama.
Masyarakat sendiri berhak untuk melakukan segala usaha untuk mengurangi risiko dan dampak
bencana.
Tiga Periode Respon Bencana Secara Umum:
Periode impak (impact period)
korban selalu diliputi perasaan tidak percaya dengan apa yang dialami (selama
kejadian).

Periode recoil
korban mulai merasakan diri mereka lapar dan mencari bekal makanan untuk dimakan
(beberapa hari setelah kejadian)

Periode post traumatik (post-trauma period)


korban bencana berjuang untuk melupakan pengalaman yang berupa tekanan,
gangguan fisiologi, dan psikologi akibat bencana yang mereka alami (berlangsung lama)

(Fahrudin, 2005)
Fase-fase Respon Komunitas / masyarakat terkait Bencana

Biasanya 1 minggu 6 bulan setelah bencana


Komunitas ada kohesi dan kerjasama untuk pulih
Bantuan biasanya sudah berjalan lancar
Honeymoon Emosi yang muncul biasanya rasa syukur dan harapan-harapan

Biasanya 2 bulan 2 tahun


Realita pemulihan sudah ditetapkan
Orang-orang akan merasa kecewa, marah, benci jika terjadi
Disillusionment kemunduran dan janji bantuan tidak terpenuhi

Berlangsung selama bertahun-tahun


Mereka yang bertahan fokus pada membangun kembali
kehidupannya
Reconstruction

Source: DeWolfe, D.J. (2000). Training manual for


mental health and human service workers in
major disasters.
Fase-fase Respon Komunitas / masyarakat terkait Bencana

Normal, dengan atau tanpa warning, bisa ada persiapan


Predisaster

Perhatian muncul, ada semangat menata kembali


Untuk sementara akan merasa tertekan atau bingung
Impact / atas kejadian bencana ini, tapi kemudian dengan cepat
Inventory akan pulih dengan support orang2 terdekat

Orang merasa terpanggil untuk melakukan aksi heroik


seperti menyelamatkan nyawa dan harta orang lain
Heroik

Source: DeWolfe, D.J. (2000). Training manual for


mental health and human service workers in major
disasters.
Kaitan dengan Kasus
Berdasarkan dari keenam fase respon yang telah dikemukakan oleh DeWolfe, D.J. (2000). Individu maupun
masyarakat yang mengalami bencana gempa berada di semua fase. Akan tetapi, karena mengacu kepada
pengalaman akan bencana gempa di sumatera barat pada tahun sebelumnya. Masyarakat cenderung
menyikapi benca gempa 2009 dengan semangat bangkit dan tetap berjuang seiring dengan berjalannya waktu
untuk melewati kenangan buruk, tekakanan, gangguan fisiologis, dan psikologis akibat bencana yang mereka
alami, walaupun tidak menutup kemungkinan masih membekasnya perasaan takut dan semacammnya.
Referensi
1. http://nasional.kompas.com/read/2009/10/12/05352728/penanganan.gempa.tak.sistematis
2. Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
3. Manchester Triage Group. 2006. Emergency Triage 2nd ed. Blackwell Publishing Ltd: USA
4. Damon P. Coppola. Introduction to International Disaster Management. United States of America: Elsevier;
2007
5. Koenig K. Schultz C. Koenig and schultzs disaster medicine: comprehensive principles and practices. New
York: Cambridge University Press; 2009.
6. Rapid Needs Assessment [Internet]. Paho.org. 2017 [cited 12 Maret 2017]. Available from:
http://www.paho.org/disasters/index.php?option=com_content&view=article&id=744:rapid-needs-
assessments&Itemid=800&lang=en
7. Pan American Health Organization. 2000.Natural Disasters : Protecting the publics health.Washington,