Anda di halaman 1dari 18

ULUMUL HADITS

BAB 1

Disusun Oleh:
Aghfar Fidaus
Ahmad Adnan
Ai Siti Rahayu
Aufia Muslimatun Nisa
Arin Nur Idzatul F.
Edra Adha
Fahmi
BAB 1 PENDAHULAN

PENGERTIAN HADITS & URGENSI & RUANG LINGKUP


ILMU HADITS STUDI HADITS

Peta
Pengertian
Pengertian Ilmu Konsep Pentingnya Mempelajari
Hadits
Hadits Hadits
Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu
Hadits
Pengertian Hadits

Kata Hadits berasal dari bahasa Arab. Menurut Ibn Manzhur, kata ini berasal dari
kata Al-Hadits. Secara etimologis memiliki arti Al-Jadid (yang baru), dan al-
Khabar (Kabar atau berita).
Sedangkan secara terminologis pengertian hadits dibagi menjadi dua yaitu
pengertian secara terbatas dan juga pengertian secara luas.
Pengertian hadits secara terbatas sebagaimana dikemukakan oleh Jumhur Al-
Muhaditsi, ialah :






Ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa
perkataan, perbuatan, pernyataan ( taqrir) dan yang sebagainya. ( Manhaj
Dzawin Nadhar, Muhammad At-Tarmusy, hal; 7).
Dengan demikian, menurut umumnya ulama Hadits, esensi hadits adalah segala berita yang
berkenaan dengan dengan : sabda, perbuatan, taqrir dan hal ihwal Nabi Muhammad SAW. Hal ihwal
adalah segala sifat dan kepribadian Nabi SAW.
Adapun pengertian hadits secara luas sebagaimana dikatakan Muhammad Mahfuzh al-Tarmizi :

Sesungguhnya hadits itu bukan hanya yang dimarfukan kepada Nabi Muhammad Saw saja,
melainkan dapat pula disebutkan pada apa yang maukuf (dinisbatkan pada perkataan dan
sebagainya dari sahabat), dan pada apa yang maqthu (dinisbatkan pada perkataan dan sebagainya
dari tabiin)

Hal ini menunjukan bahwa para ulama beragam dalam mendefinisikan Hadits, karena mereka
berbeda dalam meninjau hadits itu sendiri.
Pengertian hadits
Menurut bahasa kata hadits memiliki arti:
a. Al jadid minal asyya (sesuatu yang baru), lawan dari qadim. Hal ini mencakup sesuatu (perkataan), baik banyak ataupun sedikit.
b. Qorib (yang dekat)
c. Khabar (warta), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada kemungkinan benar
atau salahnya. Dari makna inilah diambil perkataan hadits Rasulullah SAW.
2. Pengertian sunnah
Sunnah menurut bahasa adalah perjalanan (jalan yang ditempuh), baik terpuji atau tidak. Sunnah itu sesuatu yang ditempuh (tidak
wajib efeknya). Sedangkan sunnah menurut istilah adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi baik berupa perkataan, perbuatan,
taqrirs, difat, kelakuan, maupun perjalanan hidup.
3. Pengertian khabar
Khabar menurut bahasa adalah berita yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain. Sedangkan, menurut
istilah khabar sinonim dari hadits namun khabar memiliki arti yang lebih luas dari hadits.

Pengertian Al-Quran, Hadits Qudsi & Hadits Nabawi

1. Pengertian Al-Quran
Al-Quran adalah kitab suci agama islam. Umat islam percaya bahwa al-quran merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang
diperuntukkan bagi manusia dan bagian dari rukun iman yang disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril dan
sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Alaq ayat 1-5.

2. Pengertian Hadits Qudsi


Secara etimologi hadits qudsi adalah nisbah kepada kata quds yang mempunyai arti bersih atau suci. Sedangkan secara terminologi,
hadits qudsi merupakan kalam Allah (baik dalam struktur maupun substansi bahasanya), dan Nabi hanya sebagai penyampai.

3. Pengertian Hadits Nabawi


Fungsi Hadits terhadap Al-Quran dan Hukum

1. Fungsi hadits terhadap al-quran


Secara universal, fungsi hadits terhadap al-quran adalah merupakan penjabaran makna tersurat dan tersirat dari isi kandungan al-quran.
Fungsi hadits terhadap al-quran secara detail ada 4, yaitu:
1. Sebagai Bayanul Taqrir
Sebagai taqrir (penguat) yaitu memperkuat keterangan dari ayat-ayat al-quran dimana hadits menjelaskan secara rinci apa yang telah
dijelaskan oleh al-quran, seperti hadits tentang sholat, zakat, puasa, dan haji.
2. Sebagai Bayanul Tafsir, ada 3 macam fungsi:
- Sebagai Tafshilul Mujmal
Dalam hal ini hadits memberikan penjelasan terperinci terhadap ayat-ayat al-quran yang bersifat universal. Contoh: ayat-ayat al-quran
tentang sholat, zakat, haji.
- Sebagai Takhshishul amm
Dalam hal ini hadits memperluas ayat-ayat al-quran yang bersifat umum. Contoh: surat an-Nisa ayat 11 Allah berfirman tentang haq waris.
Secara umum saja, maka disisi lain hadits menjabarkan ayat ini secara lebih khusus.
- Sebagai Bayanul Mutlaq
Hukum yang ada dalam al-Quran bersifat mutlak amm (mutlak umum) maka dalam hal ini hadits membatasi kemutlakan hukum dalam al-
quran.
3. Sebagai Bayanul Naskhi
Hadits berfungsi sebagai pendelete (penghapus) hukum yang diterangkan dalam al-quran. Contoh: dalam surat al-Baqarah ayat 180 Allah
mewajibkan kepada orang yang akanwafat memberi wasiat, kemudian hadits menjelaskan bahwa tidak wajib bagi waris.
4. Sebagai Bayanul Tasyri
Dalam hal ini hadits menciptakan hukum syariat yang belum dijelaskan secara rinci dalam al-quran. Contoh: dalam al-quran tidak
dijelaskan tentang kedudukan hukum makan daging keledai, binatang berbelalai dan menikahi wanita bersama bibinya, maka hadits
menciptakan kedudukan hukumnya dengan tegas.
UNSUR-UNSUR HADITS
1. Sanad
Secara bahasa, sanad berasal dari kata sanad yang berarti penggabungan sesuatu ke sesuatu yang lain, karena di
dalamnya tersusun banyak nama yang tergabung dalam satu rentetan jalan. Bisa juga berarti pegangan. Dinamakan
demikian karena hadits merupakan sesuatu yang menjadi sandaran dan pegangan. Sedangkan, secara terminologi adalah
jalan yang dapat menghubungkan matan hadits sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, sanad adalah
rentetan perawi-perawi (beberapa orang) yang sampai kepada matan hadits.
2. Matan
Matan, berasal dari bahasa Arab yang memiliki makna punggung jalan atau bagian tanah yang keras dan menonjol ke
atas.
3. Rawi
Kata perawi atau al-rawi dalam bahasa Arab dari kata riwayat yang berarti memindahkan atau menukilkan, yakni
memindahkan suatu berita dari seseorang kepada orang lain. Dalam istilah, al-rawi adalah orang yang meriwayatkan
hadits dari seseorang guru kepada orang lain yang tercantum dalam buku hadits. Jadi, nama-nama yang terdapat dalam
sanad disebut rawi.
4. Mukharrij
Mukharrij secara bahasa adalah orang yang mengeluarkan. Kaitannya dengan hadits, mukharrij adalah orang yang telah
menukil atau mencatat hadits pada kitabnya, seperti kitab al-Bukhari. Memindahkan hadits dari seseorang guru kepada
orang lain lalu membukukannya dalam kitab disebut mukharrij. Oleh sebab itu, semua perawi hadits yang membukukan
hadits yang diriwayatkannya disebut mukharrij seperti para penyusun al-kutub altisah (kitab sembilan).
Tarif Khabar dan Atsar
Secara etimologis Khabar memiliki arti berita dan atsar memiliki arti bekas
sesuatu. Adapun secara terminologis sebagian berpendapat bahwa khabar adalah
sinonim dari Hadits dan sebagian lagi menentangnya karena khabar adalah berita baik
dari Nabi SAW para sahabatnya atau para tabiin nya.
Kata ashar akan lebih jelas jika diberi keterangan dibelakangnya seperti atsar Nabi,
atsar shahabat. Namun dalam istilah Hadits, kata Atsar diidentikan kepada yang
diterima sahabat, tabiin dan lain-lain.
Hadits menurut teori tarifnya adalah segala yang dinisbahkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan secara praktis, Hadits adalah segala sesuatu yang terkoleksi
kedalam kitab Hadits. Hadits yang diwurudkan masa Nabi oleh Nabi, diterima
shahabat, diterima tabiin, dan para pelanjutnya melalui periwatan yang antara lain
berupa tadwin atau pembukuan, yang menghasilkan terkoleksinya Hadits dalam
sejumlah kitab Al-Hadits.
Pengertian Ilmu Hadits
Ilmu hadits adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan
dan sistemik mengenai hadits. Ilmu hadits disebut juga Ilmu Mushthalah Hadits.
Musthalah menurut Bahasa adalah sesuatu yang telah disetujui sedangkan
menurut Muhaditsin ialah lafazh-lafazh yang diistilahkan untuk suatu makna oleh
ulama Hadits dan diperguankan di dalam pembahasan mereka.
Ilmu Musthalah Hadits lingkup luas yang mencakup berbagai macam ilmu Hadits.
Disebut ilmu Musthalah karena prosesnya yang terdiri dari kesepakatan penggunaan
istilah-istilah, juga karena ilmu hadits terdiri dari banyak istilah istilah yang sangat
ketat pengetiannya antara satu dengan yang lain.
Lalu ada dua pembagian ilmu hadits:
1. Ilmu hadits dan Ilmu Ushul Hadits
2. Ilmu Riwayah dan Ilmu Dirayah Hadits
Hubungan antara Ilmu Hadits dengan Imu Ushul Hadits sama dengan hubungan
antaa Ilmu Fiqh dan Ilmu Ushul al-Fiqh.
Ilmu Hadits Riwayah
Ilmu untuk mengetahui ucapan Nabi SAW, perbuatan, taqrir, dan sifat sifatnya.
Ilmu Hadits Dirayah
Kaidah kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara cara penerimaan dan
penyampaian, sifat perawi dan lain sebagainya.
Ilmu untuk mengetahui hal ihwal sanad, dan matan dari segi diterima atu ditolak dan yang
berkaitan dengannya.

Macam macam Ilmu hadits


1. Ilmu Rijal al-Hadits
2. Ilmu Jarh wa al-tadil
3. Ilmu fan al-mubhamat
4. Ilmu Tashhif
5. Ilmu Illal al-hadits
6. Ilmu Gharib al-hadits
7. Ilmu nasikh wa al-mansukh
8. Ilmu asbab wurud al-hadits
9. Ilmu talfiq al-hadits
10.Ilmu Mushthalahah al-hadits
B. Urgensi Dan Ruang Lingkup Studi Hadits
1. Pentingnya mempelajari hadits dan Ilmu hadits
Hadits (Sunnah) merupakan Sumber ajaran islam yang kedua setelah Al-Quran. Umat
islam diharuskan mengikuti dan menaati Allah SWT. Dan Rasul-Nya SAW. (Q.S.Al-
imron ayat 132). Dan taatilah Allah dan Rasul supaya kamu dirahmati
Taat kepada Allah caranya dengan mengikuti ketentuan yang tertera dalam Al-Quran,
baik berupa perintah-Nya maupun larangan-Nya. Menaati rasul berarti mengikuti rasul
tentang segala perintahnya dan juga larangannya, dengan kata lain mengikuti
Sunnahnya. Karena itu, segala hadits yang diakui keshahihannya wajib diikuti dan
diamalkan oleh umat islam, sama halnya dengan mengikuti Al-Quran, sebab hadits
merupakan interpretasi (bayan) dari Al-Quran.
Setiap umat islam harus mempelajari Hadits dan mendalami ilmu-
ilmunya, agar dapat mengetahui an memahami hal ihwal hadits
secara maksimal untuk pengalaman syari'at islam.
Penulisan hadits secara individu telah berlangsung semenjak masa
Nabi SAW, yang kemudian dikodifikasi secara resmi pada masa
khalifah Umar bin Abdul Aziz, hingga terkoleksi pada akhir abad 3
hijriyah dalam kitab mushannaf, musnad, sunan dan kitab shahih.
Sejak abad 4 hijriah telah ditekuni pada upaya pembinaan terhadap
teks hadits itu berupa penyusunan kitab-kitab: jami', zawaid, takhrij,
athraf, mukhtasar, kitab materi khusus, dll.
Dari pembahasan tentang ta'rif hadits dimuka, disebutkan bahwa hadits adalah perkataan (aqwal),
perbuatan (af'al), pernyataan (taqrir) dan sifat, keadaan, himmah dan lain-lain yang diidhafakhan
kepada Nabi SAW.
Definisi operasional.
a. Perkataan ( aqwal) ialah perkataan-perkataan yang pernah beliau ucapkan, yakni sesuatu bunyi
yang dilisankan dan mempunyai makna, baik mengenai akidah, hukum, akhlak, pendidikan dll.
b. Perbuatan (af'al) ialah apa yang beliau kerjakan yang merupakan penjelasan dan pengamalan
praktis terhadap peraturan syari'at, praktek ibadah, aktivitas muamalah, dll
c. Pernyataan (taqrir) ialah kesan adanya ketetapan aturan dan ajaran dari keadaan beliau
mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau
diperkatakan oleh para sahabat dihadapan beliau.
d. Sifat, keadaan, dan himmah
1. Sifat-sifat nabi yang dilukiskan oleh para sahabat dan ahli tarikh, seperti sifat-sifat dan bentuk
jasmaniah beliau
2). Keadaan, antara lain silsilah, nama-nama dan tahun kelahiran yang ditetapkan para
sahabat dan ahli tarikh.

3). Himmah, rencana atau hasrat nabi yang belum terealisasikan, misalnya hasrat beliau
untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura, tapi rasul tidak sempat menjalankan puasa di
tahun depan karena beliau telah wafat.

Salah satu lingkup atau objek pembahasan hadits adalah hal ihwal hadits dalam kriteria:
qauliyah, filiyah, taqririyah, kauniya dan hamiyah nabi itu sendiri. Sementara dalam suatu
hadits bisa terdiri dari keempat keriteria tersebut atau hanya trrdiri dari salah satu dari
keempat kriteria tersebut.
Pada periwayatan hadits harus terdapat 3 unsur, yakni: pemberita (rawi), sandaran berita
(sanad), dan materi berita (matan/marwi)
Rawi ialah subjek periwayatan, rawi atau yang meriwayatkan hadits yakni
orang yang menerima, memelihara dan memyampaikan hadits yang
menyertakan sandaran periwayatannya.
Sanad atau thariq atau sandaran hadits ialah jalan menghubungkan matan
hadits kepada junjunan kita nabi muhammad saw atau sumber yang
memberitakan hadits yakni rangkaian para rawi keseluruhan yang
meriwayatkan satu hadits.
Matan ialah materi berita yakni lafazh atau teks haditsnya berupa
perkataan, perbuatan atau taqrir baik yang diidhafahkan kepada nabi saw,
sahabat, atau tabiin yang letaknya pada penghujung sanad dalam suatu
hadits.
Antara sanad dan matan hadits sangat erah hubungannya yakni antara satu
dengan yang lainnya tida bisa dipisahkan karena posisi sanad dan matan sangat
menentukan shahih tidak shahihnya suatu hadits.
Ruang lingkup pembahasan hadits menelaah mengenai isi
kandungan hadits tersebut . Isi kandungan hadits nabi :
1) Akidah terkait dengan tauhid, sifat ketuhanan,
kerasulan, pembakitan di hari akhir
2) Hukum menerangkan tentang ibadah, jinayah
hukum keluarga dan lain-lain.
3) Budi pekerti, etika, hikmah, kesopanan yang tinggi
serta pengajaran yang
efektif
4) Sejarah, yakni yang menerangkan tentang keaadaaan
Rasulullah Shlalallahu
Alaihi Wassalaam, keadaan sahabat dan tentang
segala usaha dan karya yang dilaksanakan
Obyek ilmu hadist riwayah ialah bagaimana proses
menerima, memelihara, menyampaikan kepada orang
lain dan memindahkan atau mentadwinkan dalam satu
diwan/kitab hadist.

Manfaat mempelajari ilmu hadist riwayah ini


ialah untuk menghindari adanya kemungkinan
salah kutib terhadap apa yang disandarkan
kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi
Wassalaam.
Adapun objek ilmu hadist dirayah terutama ilmu
mushthalah yang khas, ialah meneliti kelakuan para
perawi, keaadaaan sanad dan keadaan marwi
(matan)-nya.

Cabang ilmu hadits dari segi rawi dan sanad,antara


lain ilmu Rizal al-Hadits,ilmu Thahaqah al-Ruwat, dan
ilmu Jarh wa al-Tadil.
Adapun Ilmu Hadits dari segit matan, antara lain Ilmu
Gharib al-Hadits,Ilmu Asbab Wurud al- Hadits, Ilmu
Talfiq al-Hadits,Ilmu Fan al-Mubhamat, dan Ilmu
Tashhif wa al-Tahrif