Anda di halaman 1dari 45

LOGO

KEGAWATDARURATAN I
MEDICAL EMERGENCY
RESPONSE SYSTEM

MAHASISWA KEPERAWATAN
SEMESTER VII

Ns. Nofita Dewi Kok Mesa,S.Kep


Tujuan Pembelajaran

1 Mengetahui pengertian dan Tujuan SPGDT

Memahami Fase-fase dalam SPGDT


2

Membuat SPGDT di Lingkungan sekitar


3

Melaksanakan SPGDT dalam kehidupan sehari-hari


4
TOPIK PEMBAHASAN

1. Trimodal Death Distribution

2. Fase Pertolongan

3. SPGDT

www.thmemgallery.com Company Logo


1. TRIMODAL DEATH
American College Of Surgeon (ACS) menguraikan distribusi
kematian akibat trauma

Puncak Puncak Puncak


pertama Kedua Ketiga

50 % Kematian 35 % Kematian 15 % Kematian


TRIMODAL DEATH
1) Puncak pertama
50 % kematian akibat trauma terjadi beberapa detik
atau beberapa menit setelah kejadian.

Diakibatkan karena laserasi otak, batang otak, jantung, dan


pecahnya pembuluh darah besar

2) Puncak kedua
35 % kematian terjadi 1-2 jam setelah trauma, dikenal
dengan nama the golden hour

Disebabkan oleh trauma kepala berat, trauma thoraks, trauma


abdomen (rupture limpa atau laserasi hati), multiple trauma
dengan perdarahan yang masif.

Pencegahan kematian dilakukan 1-2 jam harus dilakukan


dengan agresif dengan melakukan penilaian dan resusitasi
yang cepat
TRIMODAL DEATH

3) Puncak ketiga
15% kematian terjadi beberapa hari
atau beberapa minggu setelah
kejadian.

Kebanyakan terjadi karena sepsis dan


gagal sistem organ multiple
TRIMODAL
DEATH

Sistem penanggulangan penderita gawat darurat


mulai dari tempat kejadian sampai dengan
rumah sakit, disebut SPGDT (Sistem
Penanggulangan Penderita Gawat Darurat
Terpadu) / Integreated Emergency Response
System (IERS)
IERS/ SPGDT

Suatu alur penanganan Penderita gawat darurat


yang berkesinambungan dan terintegrasi/terpadu
dalam suatu siste dengan melibatkan seluruh
komponen dan sumberdaya penderita
mendapatkan pertolongan secara
CEPAT dan TEPAT dari mulai tempat
kejadian, di rumah sakit dan setelah
keluar dari rumah sakit
2. FASE PERTOLONGAN

1) Fase Pra-rumah sakit (Pre hospital


phase)
Periode pertolongan di tempat kejadian
sesaat setelah kejadian sapai dengan tiba di
rumah sakit
Yang terlibat dalam pertolongan adalah
orang awam / masyarakat umum
Keberhasilan pertolongan pada fase ini akan
menentukan keberhasilan pertolongan
selanjutnya, begitu juga sebaliknya.
Keberhasilan pertolongan penderita gawat
darurat ditentukan oleh fase berikut :

Kecepatan dan ketepatan dalam menemukan dan


melakukan pertolongan sesaat setelah kejadian

Kemudahan akses meminta pertolongan ke


pusat komunikasi gawat darurat (crisis center)

Kecepatan response time ambulans gawat darurat ke


lokasi kejadian dan meneruskan pertolongan

Ketepatan dalam memilih rumah sakit


2) Fase rumah sakit (hospital phase)
Fase ini adalah periode pertolongan
dari mulai korban / pasien masuk ke
Unit Gawat Darurat (UGD) kemudian
melakukan rujukan inter rumah sakit.

Kategorisasi Unit Gawat Darurat sesuai


dengan kemampuan personilnya
(IKABI, 1997) :
LEVEL II
LEVEL I Hanya terdapat dokter
Dokter spesialis 4 (bedah, jaga (dokter umum) &
jantung, obgyn, syaraf) yang dokter spesialis tiba
ada 24 jam dan langsung bersamaan dengan
melakukan tindakan kedatangan pasien

LEVEL
UGD
LEVEL III LEVEL IV
Hanya terdapat dokter
jaga (dokter umum), Hanya terdapat dokter
dokter spesialis dtg 30 jaga (dokter umum),
menit setelah dipanggil, tidak terdapat dokter
sehingga ada spesialis yang
keterlambata menangani pasien
pertolongan
3) Fase paska rumah sakit (post hospital
phase)
Periode dimana korban / pasien keluar dari
rumah sakit baik sembuh, cacat atau
harus menjalani perawatan lanjutan di
rumah atau melakukan kontrol ke rumah
sakit.
Kepulangan pasien bisa sembuh total,
sembuh dengan cedera atau masih
memerlukan perawatan selanjutnya
(berobat jalan/kontrol)
ACCIDENT MEDICAL DIRECTION
/ VICTIM

FIRST DISPATCHER
(alarm center)
RESPONDER

POLICE (polisi)
Fire Fighter (pemadam kebakaran)
Rescue (tim penolong
lain)
ALUR
Emergency ambulance SPGDT

Hospital
SISTEM PENANGGULANGAN PENDERITA
GAWAT DARURAT TERPADU (SPGDT)
1) Ketika terjadi kecelakaan / kegawatdaruratan medis maka
penderita akan telebih dahulu ditemukan oleh orang awam
yang ada di sekitarnya
2) Orang awam bertugas untuk mengamankan terlebih dahulu
diri sendiri, lingkungan dan penderita
3) Setelah mengamankan lingkungan dan korban, orang yang
pertama kali menemukan korban harus mengaktifkan
SPGDT dengan cara meminta bantuan kepada pusat
komunikasi gawat darurat (dispatcher)
SISTEM PENANGGULANGAN PENDERITA
GAWAT DARURAT TERPADU (SPGDT)
4) Dispatcher yang menerima panggilan harus melakukan
bimbingan pertolongan awal kepada penolong pertama.
Setelah itu dispatcher memberikan informasi kepada polisi,
pemadam kebakaran, rescue dan ambulans gawat darurat
yang terdekat dengan lokasi. Informasi berupa :

a. Data pribadi korban, jumlah korban

b. Lokasi kejadian dan kronologi kejadian

c. Permasalahan dan kondisi korban

d. Dan penanganan pra rumah sakit yang telah dilakukan


SISTEM PENANGGULANGAN PENDERITA
GAWAT DARURAT TERPADU (SPGDT)

5) Petugas yang datang ke lokasi bertugas untuk melanjutkan


pertolongan sebelumnya. Selain itu polisi bertugas
mengamankan lingkungan, pemadam kebakaran bertugas
memadamkan api dan memeriksa potensi kebakaran, rescue
bertugas untuk mengeluarkan korban yang terjepit atau
terperangkap.

6) Petugas ambulans gawat darurat bertugas untuk stabilisasi


penderita di lokasi kejadian dan membawa penderita ke
rumah sakit rujukan yang sudah dihubungi dan ditunjuk oleh
dispatcher
SISTEM PENANGGULANGAN PENDERITA
GAWAT DARURAT TERPADU (SPGDT)
7) Sesampainya di rumah sakit rujukan petugas ambulans dan
petugas UGD melakukan serah terima penderita, di mana
petugas pra rumah sakit memberikan informasi sebagai
berikut :
a. Kejadian
b. Permasalahan
c. Penanganan di tempat kejadian dan selama dalam perjalanan

8) Petugas UGD melanjutkan tindakan sebelumnya, melakukan


tindakan invasif dan pemeriksaan penunjang yang
diperlukan. Petugas UGD juga menentukan rujukan
selanjutnya ke kamar operasi, ICU, ruang perawatan atau
rumah sakit yang lebih mampu
FIRST RESPONDER
1) Orang awam biasa

Orang yang berada paling dekat dengan lokasi


kejadian.

Permasalahan yang ditemui adalah masih sangat sedikit


orang awam yang mendapat pelatihan khusus dalam
melakukan pertolongan pada penderita gawat darurat,
sehingga tidak jarang pertolongan yang diberikan
justru menambah cedera / menimbulkan cedera baru.
FIRST RESPONDER
1) ORANG AWAM BIASA
Kemampuan yang seharusnya dimiliki adalah :
a. Mengamankan diri sendiri, lingkungan dan korban
b. Meminta tolong ke pusat komunikasi gawat darurat
c. Memberikan nafas buatan pada penderita yang
mengalami henti nafas
d. Menghentikan perdarahan, melakukan pembidaian
e. Mengangkat dan memindahkan korban dengan benar
serta melakukan imobilisasi pada kecurigaan cedera
tulang belakang dan tulang leher
2) Orang awam khusus
Adalah orang yang bekerja pada pelayanan masyarakat
atau mempunyai tanggung jawab terhadap keamanan
& kenyamanan masyarakat yaitu polisi, damkar
(pemadam kebakaran), SATPAM, satpol PP, tentara,
tim SAR
Dilatih khusus untuk melakukan pertolongan kepada
penderita gawat darurat di lokasi kejadian
Pengetahuan mereka harus lebih baik dari orang awam
biasa
2) Orang awam khusus
Kemampuan yang harus dimiliki, antara lain :
a. Mengamankan diri sendiri, lingkungan dan korban
b. Meminta tolong ke pusat komunikasi gawat darurat
c. Memberikan nafas buatan pada penderita yang
mengalami henti nafas
d. Menghentikan perdarahan, melakukan pembidaian
e. Mengangkat dan memindahkan korban dengan benar
serta melakukan imobilisasi pada kecurigaan cedera
tulang belakang dan tulang leher
2) Orang awam khusus
Kemampuan yang harus dimiliki, antara lain :
f) Petugas keamanan bertugas untuk menjaga keamanan
& ketertiban lokasi kejadian dan orang yang berada di
sekitar lokasi, serta mengamankan barang bukti
g) Damkar / rescue bertugas untuk mengeluarkan korban
yang terjepit atau yang berada pada posisi yang sulit
dengan tetap memperhatikan jenis perlukaan dan
cedera korban
CRISIS CENTER
(Komunikasi Gawat Darurat)

Pusat komunikasi gawat darurat adalah bagian sangat


vital dalam sistem penanggulangan penderita gawat
darurat.

Operator yang siaga di pusat komunikasi gawat darurat


disebut DISPATCHER. Petugas ini yang akan menerima
semua panggilan darurat dan meneruskan informasi
kepada pihak terkait.
CRISIS CENTER
(Komunikasi Gawat Darurat)

Kemampuan yang harus dimiliki dispatcher :

a) Menerima panggilan darurat dari seluruh lapisan


masyarakat bantuan, data yang perlu dikumpulkan
(nama pemanggil, nomor tlp pemanggil, kejadian,
lokasi, jumlah korban, kondisi korban)

b) Melakukan pengecekan ulang untuk memastikan


kebenaran informasi yang masuk ke sarana pusat
komunikasi gawat darurat
CRISIS CENTER
(Komunikasi Gawat Darurat)

Kemampuan yang harus dimiliki dispatcher :


c) Meneruskan informasi kepada pihak terkait seperti ;
polisi, damkar, ambulans gawat darurat
d) Membimbing pemanggil bantuan / orang yang terdekat
dengan korban untuk melakukan pertolongan
sementara sebelum petugas datang
e) Melakukan komunikasi 2 arah dengan pemanggil
bantuan & petugas yang berangkat ke lokasi
CRISIS CENTER
(Komunikasi Gawat Darurat)

Kemampuan yang harus dimiliki dispatcher :

f) Menghubungi UGD rumah sakit yang sesuai dengan


kondisi korban

g) Menginformasikan kondisi jalan dan membimbing


ambulans yang membawa korban
CRISIS CENTER
(Komunikasi Gawat Darurat)

Di indonesia ada 3 nomor panggilan darurat :

a. 118 = ambulans gawat darurat

b. 113 = pemadam kebakaran

c. 130 / 112 = kepolisian

Ketiga nomor di atas seharusnya berada satu atap dan


berada dalam satu sistem pelayanan.
MEDICAL DIRECTION
Adalah dokter atau sekumpulan dokter (komite dokter)
yang bertanggung jawab terhadap kualitas pelayanan
dan tindakan medis yang dilakukan pada fase pra rumah
sakit.

Medical direction dibagi menjadi dua, yaitu :


MEDICAL DIRECTION
Medical direction dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Online medical direction
Dokter yang memonitor langsung pelayanan rumah
sakit & membimbing petugas dalam melakukan
pertolongan dilokasi kejadian & selama perjalanan
menuju rumah sakit rujukan.
Berada di pusat komunikasi gawat darurat &
berinteraksi langsung dengan petugas di lapangan
dengan menggunakan telepon atau radio komunikasi
MEDICAL DIRECTION
Medical direction dibagi menjadi dua, yaitu :
b) Off line medical direction
Dokter atau sekumpulan dokter yang bekerja untuk
menyusun protokol SOP pertolongan penderita gawat
darurat pada fase pra rumah sakit.

Protokol tersebut dijadikan sebagai bahan untuk


melakukan tindakan medis & pertolongan di tempat
kejadian & selama perjalanan ke RS
AMBULANS GAWAT DARURAT
KETERLAMBATAN PERTOLONGAN KEMUNGKINAN
BERHASIL

1 Menit 98 %

4 Menit 50 %

10 Menit 1%

Waktu tanggap respon idelanya adalah 4 6 menit setelah


panggilan bantuan sampai dengan ambulans tiba di lokasi kejadian
TRANSPORT AMBULANCE
Digunakan untuk penderita yang tidak memerlukan
perawatan khusus/tindakan darurat untuk
menyelamatkan nyawa
Digunakan untuk penderita yang diperkirakan tidak
akan mengalami kegawatdaruratan selama dalam
perjalanan
Biasanya digunakan untuk pasien dengan penyakit
ringan atau berobat jalan
TRANSPORT AMBULANCE
Petugas yang mengoperasikan terdiri dari (
1 org perawat, 1 org pengemudi )
Peralatan yang ada :
a. Tabung oksigen dengan kanul atau masker
b. Tensimeter
c. Thermometer
d. Tandu
e. Kursi roda
f. Alat komunikasi
TIPE AMBULANS BERDASARKAN
JENISNYA
a. Basic Ambulance
Digunakan untuk menangani penderita darurat tidak
memerlukan peralatan invasif
Peralatan yang tersedia hanya peralatan dasar untuk
menyelamatkan jiwa penderita di lokasi kejadian
sampai dengan ke RS.
Pemakaian hanya kepada penderita yang sudaj stabil
dan diperkirakan tidak menimbulkan kegawatan
selama dalam perjalanan ke RS
Terdiri dari 2 perawat yang terlatih BCLS (Basic Life
Support System) dan sebaiknya 2 org perawat tersebut
bisa mengemudi
Peralatan Airway a. Suction Pump with canule
b. orophayngeal airway
c. Nasopharyngeal airway
d. Spatel lidah
e. Gastric tube
f. Mouthgage
g. Magil spatel
Peralatan breathing a. Tabung oksigen
b. Nasal canule
c. Simple mask
d. Rebreathing mask
e. Non rebreathing mask
Peralatan circulation a. Traumatic bandage
b. Plester
c. Streril gauze
d. Electic bandage
e. Roll bandage
f. Tensimeter
g. Stetoscope
Peralatan Extrication & a. Neck collar / bidai leher
stabilization b. Long spine board
c. Bidai
d. Safe belt
e. Triction splint
Peralatan lain-lain a. APD (handscoen, masker,
kacamata, baju pelindung,
kap kepala, sepatu pelindung)
b. Antiseptik
c. Gunting
d. Pinset
e. Penlight
f. Peralatan komunikasi
TIPE AMBULANS BERDASARKAN JENISNYA
b) Advance Ambulance
Digunakan untuk melakukan pertolongan terhadap
penderita gawat darurat yang kritis
Peralatan yang ada digunakan untuk melakukan
tindakan medis yang invasif, pemberian obat darurat.
Digunakan untuk akses rujukan ke RS lain .
Terdiri dari petugas yang lebih berpengalaman dalam
penanganan pasien darurat dan kritis. Salah satu nya
adalah dokter gawat darurat.
Peralatan Airway a. ETT (endotrakeal tube)
b. Laringoskope
c. Laringeal mask
Peralatan breathing a. Pulse oksimetri
b. Portable ventilator
Peralatan circulation a. AED ( automatic ekternal
defibrilator)
b. Defibrilator
c. ECG monitor
d. IV cateter
e. Foley cateter
Cairan dan obat gawat darurat a. IV cateter
b. Cairan infus
c. Set infus
d. Obat darurat sirkulasi
(epinefrin, atropin, dll)
e. Obat darurat pernafasan misal
; bronkodilator
f. Obat alergi
g. Anti racun
h. Dll
Ambulans
Laut

Ambulans Ambulans
Darat Udara

Tipe
ambulans
berdasark
an daerah
operasi
Tugas Minggu Depan
Menyiapkan Materi Biomechanic
Trauma (Motor, Mobil, Pesawat,
Kapal, Ledakan/
LOGO

www.themegallery.com