Anda di halaman 1dari 29

ETIKA PERILAKU

KONTRIBUSI FILSUF
Etika adalah cabang dari filsafat yang
menyelidiki penilaian normatif tentang
apakah perilaku ini benar atau apa yang
seharusnya dilakukan.
Dilema etika muncul ketika norma-norma
dan nilai-nilai mengalami konflik, dan
terdapat beberapa tindakan alternatif yang
dapat dilakukan. Hal ini berarti pengambil
keputusan harus membuat sebuah pilihan.
Encyclopedia of Philosophy mendefinisikan
etika dalam tiga cara :
Pola umum atau cara hidup
Seperangkat aturan perilaku atau
kode etik dan
Penyedikan tentang cara hidup dan
aturan perilaku.
Moralitas dan kode etik didefinisikan dalam Encyclopedia of
Philosophy sebagai istilah yang mengandung empat
karakteristik :
Keyakinan tentang sifat manusia;
Keyakinan tentang cita-cita, tentang apa yang baik atau
diinginkan, atau kelayakan untuk mengejar kepentingan
diri sendiri;
Aturan yang menjelaskan apa yang harus dilakukan dan
apa yang seharusnya
Motif yang cenderung membuat kita memilih jalan yang
benar atau salah
Proses Penalaran Etika

Teori-Teori Filosofi
Utilitarianisme / Konsekuenalisme (Consequentialism)
Deontologi
Keadilan dan Kewajaran (Justice & Fairness)
Etika Kebajikan

Praktik
Pengambilan
Dilema Etika Perilaku
Keputusan
Etis

Kendala Praktis
Karakteristik Pribadi
Fitur Organisasi
Kekuatan Lingkungan
Etika dan Bisnis

Archie Carrol, menyatakan bahwa :


Laba merupakan tujuan mendasar dari
bisnis, tetapi bukan satu-satunya tujuan.
Bisnis juga harus mematuhi hukum dan
peraturan yang berlaku, serta bertanggung
jawab secara etika dan sosial.
Mengapa pelaku bisnis harus beretika ?
- Pandangan tentang agama
- Hubungan kita dengan orang lain
- Persepsi kita tentang diri sendiri

Kepentingan Pribadi Keegoisan


Keegoisan hanya menyangkut individu, menempatkan
kebutuhan dan kepentingan individu di atas kebutuhan dan
kepentingan orang lain.
Kepentingan pribadi : suatu ketertarikan terhadap kepentingan
diri, bukan kepentingan untuk diri sendiri
Kepentingan pribadi memiliki hubungan erat dengan perilaku
ekonomi
Kepentingan Pribadi dan Ekonomi
Thomas Hobbes (1588-1679) :
Kepentingan Pribadi Memotivasi Orang untuk Membentuk Masyarakat
Sipil yang Damai
PENGAMATAN

Orang punya Orang punya


keinginan alami keinginan alami
Perlidungan Diri Perlindungan Diri

Kepentingan Kepentingan
Jangka Pendek Jangka Pendek

Konflik, Perang, MENERIMA ATURAN YANG


Tindakan Anarki MEMBATASI KEBEBASAN
INDIVIDU
ORANG TIDAK AKAN
- Kesejahteraan Ekonomi MENGEJAR KEINGINAN
- Infrastruktur Sosial PERDAM PRIBADI KETIKA
- Tatanan Sosial yg Beradab AIAN KEINGINAN ITU MEMBERI
PENGARUH NEGATIF
TERHADAP ORANG LAIN
Adam Smith (1723-1790)
Kepentingan Pribadi Mengarah pada Kerja Sama
Ekonomi
Pembeli dan penjual tertarik untuk memuaskan
kebutuhan dan keinginan masing-masing
Keseimbangan
Penjual Pareto Optimal Pembeli
Harga setinggi (harga alami) Harga serendah
mungkin Keseimbangan harga mungkin

Meniadakan keegoisan, mengenali emosi


orang lain, berusaha membangun hubungan
baik dengan orang lain

Etika perilaku didasarkan pada sentimen


terhadap simpati, yang selanjutnya membatasi
kepentingan pribadi yang tidak terkendali
1. Ekonomi merupakan kegiatan kerja sama
sosial
Bisnis merupakan aktivitas sosial, dan
masyarakat beroperasi dengan prinsip-prinsip
etika
Teori Ekonomi
??
2. Pasar bersifat kompetitif, bukan
permusuhan
Perdagangan bergantung pada permainan yg
adil, menghormati kontrak, dan kerja sama yg
saling menguntungkan

Akhirnya, etika membatasi oportunisme ekonomi. Etika


menjaga batas keegoisan dan keserakahan tak
terkendali tetap berada dalam jalurnya. Menurut Smith,
individu mengikuti pedoman etika demi kebaikan
masyarakat. Secara analogi, mereka juga harus
mengikuti pedoman etika demi kebaikan perekonomian
Etika, Bisnis, dan Hukum
BISNIS
1. Aspek kegiatan usaha yang tidak tercakup
oleh hukum dan etika
2. Mencakup hukum yang tidak berhubungan
dengan etika dan bisnis
3. Etika pelarangan yang tidak berhubungan
dengan bisnis dan tidak ilegal
4. Berbagai peraturan dan hukum yang harus
diikuti oleh perusahaan
5. Tumpang tindih antara hukum dan etika
6. Tumpang tindih antara aktivitas bisnis dan
norma-norma etika
7. Area perpotongan hukum, etika, dan bisnis,
biasanya hanya menjadi masalah jika
HUKUM ETIKA hukum mengatakan satu hal sementara
etika mengatakan sebaliknya
Teori-Teori Etika Utama yang
Berguna dalam Menyelesaikan
Dilema Etika
1. Teleologi: Utilitarianisme dan Konsekuensialisme -
Analisis Dampak
John Locke (1632-1704), Jeremy Bentham (1748-1832),
Melihat etika dari
James Mill (1773-1836), dan John Stuart Mill (1806-
perspektif teleologi
1873)
Teleologi berasal dari
bahasa Yunani telos
yang berarti akhir,
konsekuensi, hasil

Teori teleologi adalah teori yang mempelajari etika perilaku dalam hal akibat
atau konsekuensi dari keputusan etis.

Teleologi cocok untuk banyak pelaku bisnis yang berorientasi hasil karena berfokus
pada dampak dari pengambilan keputusan. Teleologi mengevaluasi keputusan
sebagai baik atau buruk, diterima atau tidak diterima, dalam hal konsekuensi dari
keputusan tersebut
Keputusan etis berkaitan dengan benar atau salah ketika
keputusan tersebut mengakibatkan keputusan yang positif atau
negatif
Keputusan Baik Keputusan
Buruk

Secara etika menghasilkan


Secara etika
sesuatu yang kurang positif/
memberikan hasil positif
konsekuensi negatif

Teleologi memiliki artikulasi yang jelas dalam utilitarianisme


Dalam Utilitarianism, Mill menulis:
... tindakan merupakan hal yang benar sesuai porsinya jika cenderung untuk
meningkatkan kebahagiaan, salah jika tindakan tersebut cenderung menghasilkan
kebalikan dari kebahagiaan...
Utilitarianisme mendefinisikan bahwa tindakan yang benar secara etika adalah salah
satu yang akan menghasilkan sejumlah kesenangan terbesar atau jumlah rasa sakit
terkecil.
Jika menggunakan utilitarianisme, pembuat keputusan harus mengambil perspektif
yang luas tentang siapapun, dalam masyarakat, tidak hanya memihak salah satu
pihak.
Akhirnya, para pengambil keputusan harus tidak memihak dan tidak memberi beban
ekstra terhadap perasaan pribadi ketika menghitung keseluruhan kemungkinan
bersih konsekuensi dari sebuah keputusan
Undang-Undang dan Peraturan Utilitarianisme
Seiring waktu, utilitarianisme telah berkembang di sepanjang dua jalur utama:

Undang-Undang Utilitarianisme Peraturan Utilitarianisme

Jalur Undang-undang menganggap sebuah tindakan baik atau benar secara etika
jika tindakan tersebut mungkin menghasilkan keseimbangan kebaikan yang lebih
besar atas kejahatan

Peraturan utilitarianisme, di sisi lain, mengatakan bahwa kita harus mengikuti


aturan yang mungkin akan menghasilkan keseimbangan kebaikan yang lebih
besar atas kejahatan dan menghindari aturan yang mungkin akan menghasilkan
sebaliknya

Peraturan utilitarianisme bagaimanapun lebih sederhana. Peraturan tersebut


mengakui bahwa pengambilan keputusan oleh manusia sering dipandu oleh aturan-
aturan.
Jadi, prinsip penuntun untuk aturan utilitarian adalah mengikuti aturan yang
cenderung menghasilkan sejumlah besar kesenangan terhadap rasa sakit untuk
sejumlah besar orang yang mungkin akan terpengaruh oleh tindakan.
Sarana dan tujuan akhir

Prinsip utilitarianisme mempromosikan jumlah terbesar


kebahagiaan untuk sejumlah besar orang, tidak berarti bahwa
akhirnya membenarkan sarana. Namun, hal yang bergaris
bawah adalah teori politik, bukan prinsip etika.

Prinsip politik-tujuan akhir menghalalkan segala cara-bukan


teori etika. Pertama, prinsip tersebut salah mengasumsikan
bahwa cara dan tujuan setara secara etika, dan kedua, prinsip
tersebut salah mengasumsikan bahwa hanya ada satu cara
untuk mencapai tujuan akhir.
Beberapa orang menyalahgunakan utilitarianisme dengan
mengatakan tujuan menghalalkan segala cara. Namun, ini adalah
sebuah aplikasi yang tidak tepat dari teori etika.
Daya tarik keseluruhan utilitarinisme adalah bahwa hal ini
tampak cukup sederhana sedangkan perimbangan penuh dari
semua konsekuensi merupakan hal yang menantang jika
menginginkan hasil yang komprehensif. Alternatif etika yang
terbaik adalah yang memberikan kesenangan terbesar bagi semua
pihak. Manajer dibiasakan untuk membuat keputusan dalam
kondisi yang tidak pasti, menilai kemungkinan konsekuensi
untuk pemangku kepentingan yang diidentifikasi dan kemudian
memilih alternatif yang mungkin akan memiliki hasil bersih
terbaik bagi semua pihak.
Kelemahan dalam Utilitarianisme

Tidak ada pengukuran umum untuk kebahagiaan.


Masalah distribusi dan integritas terhadap
kebahagiaan.
Masalah ruang lingkup

Utilirianisme dengan sendirinya tidak cukup untuk


menghasilkan keputusan etis yang komprehensif. Untuk
mengatasi masalah ini, sebuah teori etika alternatif hadir, yaitu
deontologi, menilai etikalitas pada motivasi pembuat keputusan
bukan pada konsekuensi dari keputusan tersebut.
2. Etika Deontologi
Deontologi mengevaluasi perilaku berdasarkan
motivasi pembuat keputusan, dan menurut
prinsip deontologi tindakan dapat dibenarkan
secara etika meskipun tidak menghasilkan
keuntungan bersih atas kebaikan terhadap
kejahatan bagi para pengambil keputusan atau
bagi masyarakat secara keseluruhan.
Immanuel Kant (1724-1804) : satu-satunya baik
yang tanpa pengecualian hanyalah iktikad baik,
iktikad ini mengikuti alasan apa yang
menentukan tanpa memedulikan
konsekuensinya pada diri sendiri.
Kant mengembangkan dua hukum untuk menilai etikalitas,
antara lain :

1. Imperatif Kategoris (Categorical Imperative)


Saya seharusnya tidak pernah bertindak kecuali saya
juga bisa membuat maksim saya menjadi hukum
universal.
Ada 2 aspek dari Imperatif Kategoris : (1) Kant
menganggap bahwa hukum memerlukan suatu kewajiban,
(2) tindakan benar secara etika jika pepatah tersebut dapat
diuniversalkan secara konsisten.
2. Imperatif Praktis ( Practical Imperative)
Berlakulah dengan cara yang sama dengan
Anda memperlakukan kemanusiaan, baik dalam
diri anda sendiri atau pada pribadi lainnya, tidak
sesederhana cara, tetapi selalu pada saat yang
sama dengan tujuan akhir
Kelemahan Deontologi

Imperative kategoris tidak memberikan panduan


yang jelas untuk menentukan mana yang benar
dan yang salah jika dua atau lebih hukum moral
mengalami konflik dan hanya satu yang dapat
diikuti. Satu-satunya hal yang penting adalah niat
dari pembuat keputusan dan kepatuhan para
pengambil keputusan untuk mematuhi imperativ
kategoris seraya memperlakukan seseorang
sebagai tujuan bukan sebagai sarana untuk
mencapai tujuan.
3. Keadilan dan Kewajaran
Memeriksa Saldo
Filsuf Inggris, David Hume (1771-1776) :
bahwa kebutuhan akan keadilan terjadi karena
dua alasan : orang tidak selalu bermanfaat dan
terdapat sumber daya yang langka.
Kemudian ini adalah makna keadilan untuk
memberikan atau mengalokasikan manfaat dan
beban berdasarkan alasan rasional.
Keadilan Prosedural

Keadilan Prosedural berfokus pada bagaimana


keadilan diberikan.
Aspek utama dari sistem hukum yang adil
adalah bahwa prosedurnya adil dan transparan.
Blind justice (keadilan tidak pandang bulu)
dimana semua diperlakukan secara adil di
hadapan hukum.
Keadilan Distributif
Aristoteles (384-322 SM) :
suatu hal yang setara harus diperlakukan
sama, dan suatu hal yang tidak setara
harus diperlakukan berbeda sesuai
dengan proporsi perbedaan relevan di
antara mereka.
Dalam keadilan distribusi, terdapat 3 kriteria utama untuk
menentukan distribusi yang adil, yaitu
Keadilan distribusi berdasarkan pada kebutuhan.
Keadilan distribusi berdasarkan pada kesetaraan
aritmatika.
Keadilan distribusi berdasarkan prestasi.
Keadilan sebagai Kewajaran

Dikemukakan oleh John Rawls berdasarkan


pada asumsi dasar bahwa konflik yang
melibatkan masalah keadilan pertama haruslah
dihadapi dengan membuat metode yang tepat
dalam memilih prinsip-prinsip untuk
menanganinya.
4. Etika Kebajikan-
Meneliti Kebajikan yang Diharapkan

Aristoteles berpikir bahwa kita dapat memahami


dan mengidentifikasi kebajikan dengan mengatur
karakteristik manusia pada tiga hal, dengan dua
hal yang ekstrem adalah menjadi jahat dan yang
tengah menjadi baik. Kebajikan adalah golden
mean, yang berarti jalan di antara posisi ekstream
yang akan bervariasi tergantung pada keadaan.
Kelemahan Etika Kebajikan
Masalah dengan etika kebajikan adalah
bahwa kita tidak dapat menyusun daftar
panjang dari kebajikan dan kebajikan
mungkin hanya berlaku pada situasi
tertentu.
Imajinasi Moral
Manajer bisnis diharapkan dapat membuat
keputusan yang sulit. Para manajer harus
menggunakan imajinasi moral mereka
untuk menentukan alternatif etika yang
sama-sama menguntungkan (win-win
solution).