Anda di halaman 1dari 43

Guillain Barre Syndrome

(GBS)
Kasus
STATUS PASIEN IRD

No. RM : 817166
Nama : An. AI
Alamat : Jl. Mapala, Makassar
No. Tlp :-
Tgl. Lahir : 21-02-2004
Umur : 3 Tahun 7 Bulan
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Bangsa Suku : Bugis
STATUS NEONATAL
TEMPAT LAHIR : RUMAH SAKIT
DITOLONG OLEH : DOKTER
LAHIR : SC
SEGERA MENANGIS : YA
BAYI CUKUP BULAN, SESUAI MASA KEHAMILAN
BERAT BADAN LAHIR : 2500 GRAM
PANJANG BADAN LAHIR : 46 CM
RIWAYAT IMD : TIDAK
VITAMIN K : YA
DATA KELUARGA

NO. JENIS KELAMIN UMUR SEHAT/SAKIT APA NAMA AYAH : TN. A


UMUR : 36 TAHUN
1 PEREMPUAN 3 TAHUN 7 PENDERITA
BULAN PEKERJAAN : PNS
PEND. TERAKHIR : S2
STATUS KESEHATAN : SEHAT

NAMA IBU : NY. N


UMUR : 27 TAHUN
PEKERJAAN : IRT
PEND. TERAKHIR : S1
STATUS KESEHATAN : SEHAT
STATUS TUMBUH KEMBANG

MENGAMATI TANGAN : 3 BULAN


MERAIH BENDA : 7 BULAN
TENGKURAP SENDIRI : 6 BULAN
SATU SUKU KATA : 18 BULAN
MENUNJUK SATU GAMBAR : 12 BULAN
GIGI PERTAMA : 8 BULAN
STATUS GIZI

MAKANAN : NASI, IKAN, SAYUR,TEMPE, TAHU


ASI : SAMPAI 2 TAHUN, EKSKLUSIF
ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA : KELEMAHAN PADA KEDUA TUNGKAI

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :


PASIEN DATANG DENGAN KELUHAN KELEMAHAN PADA KEDUA TUNGKAI
DIPERHATIKAN SEJAK 3 MINGGU YANG LALU DISERTAI DENGAN NYERI DI
BELAKANG LUTUT. TIDAK DEMAM, TIDAK KEJANG. TIDAK BATUK, TIDAK SESAK.
TIDAK MUNTAH. BUANG AIR BESAR BIASA KUNING. BUANG AIR KECIL KUNING
LANCAR.
ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT SEBELUMNYA :
RIWAYAT DEMAM 4 MINGGU LALU SELAMA 4 HARI, TERUS-MENERUS. ADA BATUK,
PILEK, TIDAK SESAK. LALU PASIEN BEROBAT DI KLINIK KOLAKA DAN MENDAPAT
TERAPI CEFADROXIL, AMBROXOL, DAN SANMOL.
RIWAYAT DIRAWAT DI RS. FAISAL 2 MINGGU LALU, SELAMA 5 HARI, LALU DITERAPI DI
REHAB MEDIK RS. BAYANGKARA SELAMA 3 KALI DAN DICURIGAI GBS, LALU
DIANJURKAN UNTUK BEROBAT KE NEUROLOGIST ANAK.
RIWAYAT PENYAKIT LAIN:
DEMAM TIFOID : TIDAK PERNAH MALARIA : TIDAK PERNAH
CACAR : TIDAK PERNAH PERTUSIS : TIDAK PERNAH
POLIO : TIDAK PERNAH DIARE : PERNAH
IKTERUS NEONATORUM: TIDAK PERNAH CAMPAK : TIDAK PERNAH
TETANUS : TIDAK PERNAH TBC : TIDAK PERNAH
KEJANG : TIDAK PERNAH ALERGI : TIDAK PERNAH
DBD : TIDAK PERNAH ASMA BRONKIAL : TIDAK PERNAH
VARICELLA : TIDAK PERNAH DIFTERI : TIDAK PERNAH
HEPATITIS : TIDAK PERNAH LAIN-LAIN : TIDAK ADA
BOOSTER
BELUM
IMUNISASI 1 2 3 4 18 BULAN
PERNAH
2 TAHUN
BCG
HEP. B
POLIO
DPT
CAMPAK
HIB
PCV
ROTAVIRUS
INFLUENZA
MMR
VARISELA
HEP. A
TIFOID
HIV
PEMERIKSAAN FISIS
BB : 10,4 KG
PB/TB : 86 cm
LLA : 14 cm
LINGKAR KEPALA : 47 cm (NORMAL: 46-52 CM)
LINGKAR DADA : 48 cm
LINGKAR PERUT : 46 cm

BB/TB : BERADA DI ANTARA -1 SD DAN -2 SD (GIZI BAIK)


BB/U : BERADA DI GARIS -3 SD (STUNTING)
TB/U : BERADA DI GARIS -3 SD
STATUS GIZI : GIZI BAIK
PEMERIKSAAN FISIS

K.U : SAKIT SEDANG, GIZI BAIK, GCS 15


TEKANAN DARAH : 90/60 MMHG
FREKUENSI NADI : 132 KALI/MENIT
FREKUENSI NAPAS : 32 KALI/MENIT
SUHU (C) : 36,6C
PEMERIKSAAN FISIS
PUCAT : TIDAK ADA UBUN-UBUN BESAR : SUDAH MENUTUP
SIANOSIS : TIDAK ADA TELINGA : OTOREA TIDAK ADA
TONUS : BAIK MATA : CEKUNG TIDAK ADA
IKTERUS : IKTERUS TIDAK ADA HIDUNG : RINORE TIDAK ADA
KULIT : SCAR BCG ADA BIBIR : KERING TIDAK ADA
EDEMA : TIDAK ADA LIDAH : KOTOR TIDAK ADA
KEPALA : NORMOCEPHAL MULUT : STOMATITIS TIDAK ADA
MUKA : SIMETRIS KIRI SAMA CARIES : TIDAK ADA
DENGAN KANAN TENGGOROK : HIPEREMIS TIDAK ADA
RAMBUT : HITAM, SUKAR DICABUT TONSIL : T1-T1 HIPEREMIS TIDAK ADA
LEHER : KAKU KUDUK TIDAK ADA
THORAKS
- BENTUK : SIMETRIS KIRI DAN KANAN
- PAYUDARA : TIDAK ADA KELAINAN
- JANTUNG :
- ICTUS CORDIS : TIDAK TAMPAK
- THRILL : TIDAK TERABA
- BATAS KIRI : LINEA MIDCLAVICULARIS KIRI
- BATAS KANAN : LINEA PARASTERNALIS KANAN
- BATAS ATAS : INTERCOSTAL III KIRI
- BUNYI JANTUNG : I/II MURNI REGULER
- BUNYI TAMBAHAN : BISING (-)
PARU
- PP : SIMETRIS KIRI SAMA DENGAN KANAN
- PR : SELA IGA KIRI SAMA DENGAN KANAN
- PK :
- BATAS PARU HEPAR INTERCOSTAL IV KANAN
- BATAS PARU BELAKANG KANAN VERTEBRA THORAKAL X
- BATAS PARU BELAKANG KIRI VERTEBRA THORAKAL XI
- PD :
- BUNYI PERNAPASAN : BRONKOVESIKULER
- BUNYI TAMBAHAN : RONKHI DAN WHEEZING TIDAK ADA
ABDOMEN:
- PP : MENGIKUTI GERAK NAPAS
- PD : PERISTALTIK ADA KESAN NORMAL
- PR :
- LIEN : TIDAK TERABA
- HATI : TIDAK TERABA
- MASSA : TIDAK TERABA
- PK : TIMPANI
KELENJAR LIMFA : LIMFADENOPATI TIDAK ADA
ALAT KELAMIN : TIDAK ADA KELAINAN
STATUS PUBERTAS : A1M1P1
ANGGOTA GERAK : LEMAH PADA KEDUA TUNGKAI
KOL. VERTEBRALIS : GIBBBUS DAN SKOLIOSIS TIDAK ADA
REFLEKS FISIOLOGIS :
- KPR : MENURUN/MENURUN
- APR : ADA/ADA
- BPR : ADA/ADA
- TPR : ADA/ADA
KEKUATAN :
- EKSTREMITAS ATAS : 5/5
- EKSTREMITAS BAWAH : 4/4
REFLEKS PATOLOGIS : BABINSKY, CHADDOCK, GORDON,
OPPENHEIM TIDAK ADA
Status Neurologis
Kesadaran : GCS 15 E4M6V5
Nervus Kranialis : N.II Pupil bulat isokor 2,5 mm/2,5 mm,
refleks cahaya normal
Nervus kranialis lainnya normal
Tanda rangsang menings kaku kuduk negatif
Motorik :
Kekuatan : ektremitas atas 5/5, ekstremitas bawah 4/4
Tonus : ekstremitas atas normal/normal, ekstremitas
bawah menurun/menurun
Status Neurologis

Refleks fisiologis : Ekstremitas atas normal/normal


Ekstremitas bawah menurun/menurun
Refleks patologis : babinsky negatif
Sensibilitas menurun
Sistem saraf otonom normal
DIAGNOSIS KERJA

ACUTE FLACCID PARALYSIS EC. GUILLAIN BARRE


SYNDROME
ANJURAN & TATALAKSANA
PERIKSA : TATALAKSANA :
DARAH RUTIN INFUS DEXTROSE 5 % 12 TETES/MENIT
GDS
UREUM
KREATININ
SGOT
SGPT
ALBUMIN
ELEKTROLIT
JAMIN HIDRASI
PEMBAHASAN
Definisi

GBS adalah kelumpuhan motorik akut jenis lower motor


neuron yang bersifat progresif pada kedua tungkai dan
atau keempat anggota gerak, biasanya muncul sesudah
infeksi. Sering didahului influenza atau infeksi saluran
napas bagian atas atau saluran pencernaan (diare).
Epidemiologi

Angka kejadian penyakit GBS kurang lebih 0,6-1,6 setiap


10.000-40.000 penduduk.
Laki-laki lebih banyak daripada perempuan
Etiologi

Tidak diketahui
Immune-mediated
Patofisiologi
Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinis
Infeksi saluran cerna (Campylobacter
jejuni, Helicobacter pylori) atau

Infeksi saluran pernapasan


(Mycoplasma pneumonia)
Manifestasi Klinis
Landrys Ascending Paralysis

Paralisis Nervus Otot-otot bulbar


Kranialis
Kelumpuhan
saraf kranilais
Ekstremitas atas
Disfagia
Disartria
Ptosis Batang Tubuh
Paralisis Otot-
otot pernapasan
Gagal napas

Ekstremitas bawah
Manifestasi Klinis
Landrys Ascending Paralysis

Otot-otot bulbar

Ekstremitas atas

Refleks
tendon
menghilang Batang Tubuh

Ekstremitas bawah
Manifestasi Klinis

Kelainan Sensorik
Rasa nyeri
Baal
Parestesia
Hilangnya sensasi
getar, sentuh, nyeri, dan propioseptif di bagian
distal
Disfungsi Otonom
Hipotensi postural
Hipertensi
Irama Jantung tidak teratur
Takikardi atau bradikardi sinus
Hipersalivasi
Anhidrosis
Fluktuasi tekanan darah yang lebar
Manifestasi Klinis
Pada umumya pasien mencapai titik nadir
setelah 12 hari dan memasuki fase plateau
setelah 3-4 minggu.
Gejala tidak berubah
Setelah fase Plateau kondisi pasien akan
membaik seiring dengan terjadinya
remielinisasi
Manifestasi Klinis
Remielinisasi

Otot-otot bulbar

Ekstremitas atas

Refleks
tendon
menghilang Batang Tubuh

Ekstremitas bawah
Penegakan Diagnosis
Gambaran
Klinis
Kelemahan otot yang progresif,
Riwayat infeksi
ascending, simetris, arefleksia

Pemeriksaan Cairan Cerebrospinal

Akut disosiasi albumin (tingginya kadar protein >0,55 g/L) tanpa


disertai peningkatan jumlah leukosit pada CSS
Monosit <10/mm3 dan tidak terjadi pleositosis
Pemeriksaan serial CSS dengan hasil disosiasi albumin konsiten
adalah diagnostik kuat pada GBS, namun biasanya baru terlihat
setelah 1-2 minggu setelah paralisis terjadi
Penegakan Diagnosis

Elektromiografi (EMG)
AIDP : kecepatan konduksi berkurang, blokade konduksi, atau disperse response,
gelombang F menghilang atau pemanjangan fase laten dan latensi terminal.
Perubahan konduksi ditemukan pada minimal dua neuron dalam satu regio seperti
lengan, tungkai, atau wajah.
AMAN : amplitudo compound muscle action potential (CMAP) berkurang atau hilang,
sementara kecepatan konduksi normal dan potensial aksi sensorik juga normal
AMSAN : amplitudo sensory nerve action potential (SNAP) berkurang atau
menghilang. CMAP berkurang atau menghilang, kecepatan konduksi normal.
Penegakan Diagnosis
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap dan merabolik dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain
paralisis

Pemeriksaan Antibodi Ganggliosida

GM1 dan GD1 meningkat terutama pada varian AMAN dan AMSAN

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan MRI dan CT Scan dapat menunjukkan penyangatan didaerah radiks yang sugestif
pada GBS dan untuk menilai dan menyingkirkan penyaba mekanik pada tulang belakang
Diagnosa banding
GBS harus dibedakan dari kondisi medis lainnya dengan gejala kelemahan motorik subakut lainnya,
antara lain sebagai berikut:

Miastenia gravis akut, tidak muncul sebagai paralisis asendens, meskipun terdapat ptosis dan
kelemahan okulomotor. Otot mandibula penderita GBS tetap kuat, sedangkan pada miastenia otot
mandibula akan melemah setelah beraktivitas; selain itu tidak didapati defisit sensorik ataupun
arefleksia.
Thrombosis arteri basilaris, dibedakan dari GBS dimana pada GBS, pupil masih reaktif, adanya
arefleksia dan abnormalitas gelombang F; sedangkan pada infark batang otak terdapat hiperefleks
serta refleks patologis Babinski
Paralisis periodik, ditandai oleh paralisis umum mendadak tanpa keterlibatan otot pernafasan dan
hipo atau hiperkalemia.
Botulisme, didapati pada penderita dengan riwayat paparan makanan kaleng yang terinfeksi.13
Gejala dimulai dengan diplopia13 disertai dengan pupil yang non-reaktif pada fase awal, serta adanya
bradikardia; yang jarang terjadi pada pasien GBS.
Tick paralysis, paralisis flasid tanpa keterlibatan otot pernafasan; umumnya terjadi pada anak-anak
dengan didapatinya kutu (tick) yang menempel pada kulit.
Penatalaksanaan
Setiap orang dengan GBS harus dirawat dirumah sakit untuk dilakukan observasi. Gejala
dapat segera menghilang dan dapat fatal jika tidak diobati segera. Pada kasus yang berat,
seseorang dengan GBS dapat terjadi paralisis diseluruh tubuh termasuk otot respirasi
sehingga membutuhkan ventilator. GBS sangat mengancam jiwa jika paralisis terkena otot
diafragma dan otot dada, yang menimbulkan gagal nafas.

GBS tidak dapat diobati total. Tujuan pengobatan adalah untuk meredakan derajat
keparahan gejala dan menjaga tubuh dapat berfungsi untuk aktivitas sehari-hari.
Pengobatan meliputi:
Penatalaksanaan
1) Plasmapharesis (pergantian Plasma)

Sistem imun kita memproduksi protein yang disebut antibody yang normalnya menyerang
segala partikel asing seperti bakteri dan virus. Pada GBS, terjadi ketika imunitas anda gagal
mengenali dan membuat antibody malah menyerang syaraf yang sehat dan normal.

Plasmapharesis digunakan untuk membuang antibdi yang menyerang syaraf dari darah
anda. Selama prosedur ini, darah di keluarkan dari tubuh dengan mesin. Mesin akan
membuang antibody dari darah penderita dan kemudian mengembalikan darah bebas
antibody ke tubuh penderita lagi.
Penatalaksanaan
2) Imunoglobulin Intravena (IV Ig)

Imunoglobulin dosis tinggi dapat membantu menghambat dan memblokadi antibody yang
menyebabkan GBS. Immunoglobulin terdiri dari antibody sehat dan normal dari donor.

plasmapharesis dan Imunoglobulin intravena sangat efektif. Pengobatan ini sering digunakan dan dipilih
untuk penyakit GBS. dapat juga diberikan obat pereda nyeri dan pencegah gumpalan darah (pembekuan
darah) ketika mobilitas berkurang karena paralisis.

Pasien juga dapat menerima pengobatan fisioterapi. Dengan menggerakkan tangan, kaki, tubuh tetap
fleksibel. Juga latihan mengkontraksikan otot untuk menjaga kekuatan otot
KOMPLIKASI

Gagal nafas
Aspirasi makanan atau cairan ke dalam paru
Pneumonia
Trombosis vena dalam
Paralisa permanen
Kontraktur pada sendi
PROGNOSIS
Baik dengan terapi yang cepat dan adekuat

Penyembuhan dapat memakan waktu beberapa minggu sampai beberapa tahun.

Sembuh sempurna : 75%-90%

Sembuh dengan gejala sisa berupa dropfoot atau tremor postural : 25%-36%