Anda di halaman 1dari 24

TUGAS KOMUNIKASI, INFORMASI DAN KONSELING OBAT

WAWANCARA OBAT
DOSEN : Dra. Refdanita M.Si, Apt

DISUSUN OLEH :
SELPINA ( 17340046 )

PROGRAM STUDI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
ISNTITUT SAINS & TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2017
Latar Belakang
Pertanyaan-
Wawancara
pertanyaan yang
Tujuan
Obat wawancara
Tepat

Pengambilan Keputusan Tingkat Komunikasi


Terapeutik , Evaluasi
Pengetahuan
Kepatuhan Pasien & yang Efektif
Penggunaan Obat yang Pasien
Benar

Aspek-Aspek yang Perlu


Cara Wawancara yang Baik Diperhatikan
Tujuan dan Manfaat
1. Untuk mengetahui definisi wawancara
obat ?
TUJUAN
2. Untuk mengetahui cara wawancara
obat yang baik sebagai Apoteker ?

Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi


MANFAAT mengenai wawancara obat dan cara wawancara obat yang
baik sebagai Apoteker.
PEMBAHASAN
Wawancara obat adalah suatu komponen yang penting dalam
proses manajemen penyakit yang farmasis peroleh untuk pengambilan
keputusan terapeutik. Wawancara yang efektif, dengan menanyakan
pertanyaan-pertanyaan yang tepat, memungkinkan farmasis untuk dapat
mengevaluasi kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan.
Riwayat kesehatan adalah ringkasan singkat dari permasalahan-
permasalahan medis saat ini dan lampau, riwayat pengobatan, riwayat
keluarga, riwayat sosial, dan ulasan sistem dari pasien. Tujuan dari
riwayat kesehatan adalah untuk memperoleh informasi subyektif pasien
atau dengan kata lain, apa yang pasien sampaikan mengenai
kesehatannya, pengobatan, dan seterusnya. Biasanya, data subyektif ini
kemudian digabungkan dengan pemeriksaan fisik obyektif dan data
laboratorium untuk mengevaluasi status kesehatan pasien saat ini.
A. Keterampilan dasar dalam mewawancarai pasien
Salah satu saat kritis pada pengkajian pasien oleh farmasis adalah

ketika mengajukan pertanyaan kepada pasien. Untuk memperoleh informasi

yang berguna, farmasis harus menggunakan keterampilan yang tepat dalam

mewawancarai pasien.

1. Lingkungan
Karakteristik lingkungan yang sesuai meliputi:
a. Suhu ruangan yang nyaman.
b. Pencahayaan ruang yang memadai.
c. Lingkungan yang tenang, tempat yang bersih dan terorganisir.
d. Jarak empat sampai lima kaki antara farmais dan pasien.
e. Privasi.
f. Posisi duduk yang sama rata atau berdiri padaposisi sejajar mata dan
berhadapan atau membentuk sudut 90 derajat.
A. Keterampilan dasar dalam mewawancarai pasien

2. Kalimat Pembuka

Kalimat-kalimat pembuka antara farmasis dan pasien


menentukan tahap interaksi. Pasien sebaiknya dipanggil dengan
nama keluarganya (apabila diketahui). Farmasis harus
memperkenalkan dirinya dan menjelaskan alasan perlunya
interaksi apabila pasien belummengenalnya. Sebagai
tambahan, pasien perlu diberi tahu perkiraan jumlah waktu
yang diperlukan untuk interaksi.
A. Keterampilan dasar dalam mewawancarai pasien

3. Jenis-jenis Pertanyaan
Melanjutkan perkenalan singkat, farmasis harus menanyakan
kepada pasien beragam pertanyaan. Agar dialog antara pasien dan
farmasis dapat efektif dan produktif, perlu digunakan kombinasi
pertanyaan terbuka dan prtanyaan tertutup.
Pertanyaan-pertanyaan terbuka bermanfaat dalam
mengumpulkan informasi pasien yang kurang terstruktur.
Pertanyaan-pertanyaan tertutup atau pertanyaan langsung,
menanyakan informasi-informasi spesifik dan terinci. Pertanyaan ini
menuntun jawaban-jawaban pendek, satu atau dua kata (misalnya; ya
atau tidak). Pertanyaan-pertanyaan tertutup membatasi pilihan
jawabana pasien. Selain itu, pertanyaan tertutup membuat pasien
pasif selama interaksi karena mereka didorong untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan berdasarkan perspektif farmasis.
A. Keterampilan dasar dalam mewawancarai pasien
4. Verifikasi Informasi Pasien
Farmasis perlu memverifikasi detil tertentu mengenai pasien untuk memastikan
bahwa dia mengerti benar apa yang pasien katakan.
Teknik-teknik verifikasi informasi obat :
a. Klarifikasi: berguna jika pasien memberikan informasi yang membingungkan atau
meragukan. Klarifikasi juga membantu melengkapi informasi dengan beberapa detail yang
lebih spesifik.
b. Refleksi: melibatkan pengulangan sebagian atau seluruh tanggapan pasien.
c. Empati: mengenali perasaan, kemudian direfleksikan kembali kepada pasien dengan cara
memahami, memperhatikan, dan tidak menilai.
d. Fasilitasi: Fasilitasi menyemangati pasien untuk terus mengkomunikasikan lebih banyak
informasi.
e. Keheningan: ketika mendapat pertanyaan, kadang-kadang pasien membutuhkan waktu
untuk berpikir dan untuk mengorganisasi apa yang ingin ia sampaikan.
f. Ringkasan : ulasan dari apa yang pasien telah komunikasikan.
A. Keterampilan dasar dalam mewawancarai pasien

5. Komunikasi nonverbal
Komunikasi yang tepat melibatkan tidak hanya keahlian-keahlian
verbal tetapi juga nonverbal, di mana media pertukaran merupakan sesuatu
selain kata-kata yang diucapkan. Komunikasi nonverbal mencerminkan
pemikiran dan perasaan mendalam seseorang dan secara konstan bekerja,
bahkan bila orang itu tidak menyadarinya.
Elemen-elemen komunikasi nonverbal:
a. Jarak
b. Kontak mata
c. Ekspresi wajah
d. Gerak isyarat
A. Keterampilan dasar dalam mewawancarai pasien

6. Pernyataan Penutup
Membawa wawancara kepada penutupan yang tepat
merupakan bagian penting dari proses komunikasi. Banyak kali,
pasien akan mengevaluasi keseluruhan interaksi berdasarkan
pada pernyataan-penyataan terakhir. Cara efektif untuk
menutup interaksi adalah memberikan ringkasan singkat. Hal ini
memungkinkan untuk farmasis dan pasien mengulas apa yang
telah didiskusikan dan menjernihkan setiap informasi yang
salah.
B. KESALAHAN-KESALAHAN UMUM DALAM MEWANCARAI PASIEN

1. Mengubah subyek

Seringkali, farmasis merasa tidak yakin bagaimana menanggapi suatu


pernyataan atau pertanyaan pasien. Dalam kasus ini, cara yang paling mudah
adalah mengganti subyek (misalnya dengan memperkenalkan topik yang
baru). Namun, dalam situasi seperti itu, pasien akan merasa bahwa prsoalan-
persoalan mereka tidak didengar atau dipahami. Farmasis juga harus
menghindari mengubah subyek pembicaraan ketika dikejar waktu atau sangat
menginginkan untuk memperoleh informasi pasien yang spesifik. Mengubah
subyek harus digunakan hanya ketika semua informasi pasien yang tepat
mengenai satu topik telah dikumpulkan dan adalah waktunya untuk
berpindah ke yang selanjutnya.
B. KESALAHAN-KESALAHAN UMUM DALAM MEWANCARAI PASIEN

2. Memberi nasehat

Pasien seringkali akan meminta nasehat kepada farmasis


mengenai pengobatan atau berbagai permasalahan kesehatan.
farmasis harus memberi pasien informasi medis yang mencukupi
(misalnya gejala umum terkait dengan permasalahan medis yang
spesifik, efek samping pengobatan, resiko dan manfaat
meminum obat tertentu) dan membuat rekomendasi profesional
berdasarkan informasi pasien yang spesifik.
B. KESALAHAN-KESALAHAN UMUM DALAM MEWANCARAI PASIEN

3. Memberikan penghiburan yang tidak tepat

Penghiburan yang tidak tepat dapat menyepelekan


perasaan-perasaan pasien dengan mencoba untuk
mengubahnya daripada berusaha mengerti dan menerimanya.
Tanggapan penghiburan yang tidak tepat ini juga dapat menutup
komunikasi lebih lanjut antara farmasis dan pasien.
B. KESALAHAN-KESALAHAN UMUM DALAM MEWANCARAI PASIEN

4. Menanyakan pertanyaan yang mengarahkan atau bias

Pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan atau bias


adalah pertanyaan yang mengandung asumsi mengenai tingkah
laku atau perasaan-perasaan pasien, dan menyatakan secara
tidak langsung bahwa suatu jawaban lebih baik dari yang lain.
Bertanya yang mengarahkan atau bias juga membawa penilaian
negatif, dan hal ini mengarahkan pasien untuk menjawab dengan
cara yang sesuai dengan asumsi-asumsi farmasis, yang
mengurangi kesempatan untuk memperoleh informasi pasien
yang akurat.
B. KESALAHAN-KESALAHAN UMUM DALAM MEWANCARAI PASIEN

5. Menggunakan terminologi profesional

Banyak pasien tidak mengerti istilah-istilah umum farmasi


dan medis yang sering digunakan. Untuk komunikasi yang efektif,
farmasis harus menggunakan kata-kata yang dengannya pasien
merasa akrab. Untuk memastikan bahwa pasien mengerti apa
yang sedang dibicarakan, farmasis perlu untuk menyesuaikan
kosakatanya ke tingkatan pasien.
C. MEMPERTIMBANGKAN UNSUR-UNSUR
WAWANCARA YANG EFEKTIF

1. Mendengarkan

Secara umum, orang lebih baik dalam bertindak sebagai


pengirim informasi daripada sebagai penerima informasi. Kita
telah diajarkan bagaimana meningkatkan keterampilan
komunikasi verbal dan tulisan, tetapi tidak keterampilan
mendengar. Oleh karena itu, kita harus lebih berkonsentrasi
pada saat kita mendengar pada suatu proses berkomunikasi.
Tidak akan ada yang menjadikan wawancara lebih cepat berakhir
daripada ketika pasien sadar bahwa kita tidak mendengarkan
mereka.
C. MEMPERTIMBANGKAN UNSUR-UNSUR
WAWANCARA YANG EFEKTIF
2. Probing
Keterampilan penting lainnya dalam berkomunikasi
adalah belajar bertanya untuk memperoleh informasi yang
paling akurat. Teknik ini disebut probing. Probing adalah
mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi yang
dibutuhkan dari pasien atau untuk membantu mengklarifikasi
masalah atau keprihatinan mereka. Pada sebagian besar situasi,
mengajukan pertanyaan nampaknya merupakan suatu tugas
yang bersifat langsung mengarah ke sasaran.
C. MEMPERTIMBANGKAN UNSUR-UNSUR
WAWANCARA YANG EFEKTIF

3. Mengajukan pertanyaan yang sensitif

Beberapa pertanyaan yang kita ajukan kepada pasien mungkin


sensisitif bagi mereka. Pertanyaan mengenai ketaatan mereka dalam
mengunakan obat, penggunaan alkohol, atau penggunaan narkoba
mungkin sulit untuk ditanyakan. Menilai efek (termasuk efek samping)
dari suatu pengobatan yang berhubungan dengan fungsi seksual atau
penyakit kelamin mungkin juga memerlukan pendekatan diplomatik.
Sebelum bertanya mengenai topik yang sensitif, beritahu pasien
bahwa perilaku atau masalah yang akan kita tanyakan adalah hal yang
biasa.
C. MEMPERTIMBANGKAN UNSUR-UNSUR
WAWANCARA YANG EFEKTIF
4. Menggunakan Diam
Keterampilan lain yang harus kita pelajari agar lebih efektif sebagai
pewawancara adalah menggunakan diam dengan tepat. Selama wawancara,
akan ada waktu di mana baik kita maupun pasien tidak berbicara, terutama
pada saat awal wawancara. Kita harus mempelajari menggunakan waktu jeda
ini sebagai bagian penting dari proses dan tidak menjadi gelisah. Seringkali,
pasien perlu waktu untuk berfikir atau bereaksi terhadap informasi yang telah
kita berikan atau pertanyaan yang kita ajukan.
Menyela kesunyian akan mengganggu pasien berfikir. Namun, bisa
juga waktu jeda tersebut mungkin dikarenakan pasien tidak mengerti maksud
pertanyaan. Pada situasi seperti ini, pertanyaan harus diulang atau disusun
kembali. Harus diperhatikan juga, bahwa terlalu lama diam ketika pasien
mengungkapkan perasaannya, misalnya rasa khawatir, takut atau depresi,
mungkin ditafsirkan pasien sebagai sikap penolakan. Pada kasus ini, si pasien
mungkin mencari suatu petunjuk bahwa kita mengerti keprihatinan yang
diungkapkannya. Menanggapi dengan empati merupakan komponen yang
kita perlukan dalam komunikasi dengan pasien.
C. MEMPERTIMBANGKAN UNSUR-UNSUR
WAWANCARA YANG EFEKTIF
5. Membangun Hubungan

Wawancara yang sukses ditandai dengan tingginya hubungan antara kedua


belah pihak. Hubungan dibangun terutama berdasarkan rasa saling perhatian dan
menghormati. Kita dapat membantu proses ini dengan menggunakan kontak mata
yang baik, tulus, ramah selama membahas, dan tidak meniru atau mendakwa si
pasien. Setiap pasien harus dilihat sebagai individu yang unik. Sebagaimana
disebutkan sebelumnya, persepsi pasien terhadap kita sebagai seorang farmasis, akan
mempengaruhi hubungan mereka dengan kita. Jadi, adalah penting kita memulai
interaksi dengan ramah dan sikap profesional.

Wawancara Sebagai Suatu Proses Perencanaan yang tepat dan urutan


wawancara mempengaruhi efektivitas penilaian pasien. Sebelum wawancara dimulai,
beberapa keputusan harus dibuat mengenai bagaimana wawancara tersebut disusun.
Jenis pendekatan yang dipakai biasanya tergantung dari tipe informasi yang
diinginkan, suasana, dan waktu yang tersedia.
C. MEMPERTIMBANGKAN UNSUR-UNSUR
WAWANCARA YANG EFEKTIF
6. Tipe Informasi

Sebelum memulai wawancara, kita harus menentukan jumlah dan


tipe informasi apa yang diinginkan. Dengan kata lain, apa tepatnya yang ingin
kita dapatkan? Jika kita perlu mendapatkan potongan informasi tertentu, kita
harus mengendalikan proses wawancara. Hal seperti ini disebut pendekatan
wawancara yang terarah/directeve. Tetapi, jika hasil yang diinginkan belum
diketahui atau ambigu, kita harus menggunakan pendekatan yang lebih non
directive. Pendekatan ini menjadikan wawancara menjadi lebih mengalir
bebas; pokok-pokok bahasan lebih banyak dimunculkan oleh pasien daripada
kita.
C. MEMPERTIMBANGKAN UNSUR-UNSUR
WAWANCARA YANG EFEKTIF
7. Suasana saat wawancara

Ketika merencanakan wawancara harus mempertimbangkan juga


suasana pada saat wawancara. Suasana wawancara merupakan hal yang
penting, karena salah satu prinsip dasar dalam mewawancarai adalah
memberikan sebanyak mungkin privacy. Penelitian telah menunjukkan
bahwa tingkat privacy berkaitan erat dengan hasil wawancara (sebagai
contoh, tingkat pemahaman pasien atas informasi yang diberikan dan
kepatuhan pasien terhadap regimen pengobatan). Dengan meningkatkan
privacy, jumlah informasi yang didapat dari pasien juga meningkat, diikuti
dengan kecenderungan bahwa pasien akan menggunakan obat yang
diresepkan sesuai regimen dan cara pemakaiannya (Beardsley, 1977).
C. MEMPERTIMBANGKAN UNSUR-UNSUR
WAWANCARA YANG EFEKTIF
8. Mengakhiri wawancara
Mengakhiri wawancara seringkali lebih sulit dilakukan daripada memulai wawancara.
Menutup wawancara adalah bagian penting dari proses wawancara karena evaluasi seorang
pasien dari keseluruhan wawancara dan kinerja kita mungkin ditentukan oleh pernyataan akhir.
Kebanyakan orang nampaknya paling ingat apa yang terakhir dikatakan. Oleh karena itu, harus
lebih diperhatikan akhir wawancara, sebaiknya tidak mengakhiri wawancara tersebut secara
mendadak atau tergesa-gesa mengajak pasien keluar ruangan.

Untuk menyimpulkan wawancara, kita perlu merangkum dengan singkat informasi


kunci yang telah diberikan oleh pasien. Suatu rangkuman akan memberikan kedua belah pihak
kesempatan untuk meninjau kembali apa yang telah dibahas sebelumnya dan membantu
menjernihkan semua kesalahpahaman. Penting bagi kedua belah pihak untuk menyetujui
mengenai apa yang telah dikatakan. Rangkuman juga berperan sebagai tahap menyiapkan
hubungan dengan pasien di masa yang akan datang dan harapan-harapan yang kita miliki
bersama pasien. Rangkuman juga merupakan isyarat yang bijaksana bagi pasien bahwa
wawancara akan berakhir.
Wassalamualaikum Wr. Wb