Anda di halaman 1dari 39

EPILEPSI

Renata Cilestrina
406152002
DEFINISI
Secara klinis merupakan gangguan
paroksismal dimana cetusan neuron
korteks serebri mengakibatkan
serangan penurunan kesadaran,
perubahan fungsi motorik atau
sensorik, perilaku atau emosional
yang intermiten dan stereotipik
DEFINISI
Suatu keadaan yang ditandai dengan
manifestasi klinis yang serupa dan
berulang sebagai akibat lepasnya
muatan listrik abnormal dan
berlebihan di neuron-neuron secara
paroksismal yang disebabkan
berbagai etiologi.

(Konsensus Perkumpulan Dokter Spesialis Saraf Indonesia)


DEFINISI
Epilepsi berbeda dengan kejang
(seizure)
Kejang merupakan cardinal sign
dari epilepsi
Epilepsi merupakan suatu penyakit
kronik, berupa kejang berulang,
tanpa provokasi dan biasanya tidak
terduga (unpredictable)
ILAE Classification of Seizures
Seizures

Partial Generalized

Simple Partial Absence

Complex Partial Myoclonic

Secondarily
Atonic
Generalized

Tonic

Tonic-Clonic
ILAE International League Against Epilepsy
American Epilepsy Society 2015
KLASIFIKASI KLINIS
1. Bangkitan Parsial/fokal

1.1 Bangkitan Parsial Sederhana

1.1.1. Dengan gejala motorik


1.1.2. Dengan gejala somato sensorik
1.1.3. Dengan gejala otonom
1.1.4. Dengan gejala psikis
KLASIFIKASI KLINIS

1.2 Bangkitan Parsial Kompleks


1.2.1.Bangkitan parsial sederhana yang diikuti
dengan gangguan kesadaran
1.2.2.Bangkitan parsial yang disertai gangguan
kesadaran sejak awal bangkitan
KLASIFIKASI KLINIS
1.3 Bangkitan Parsial yang menjadi Umum
Sekunder

1.3.1. Parsial sederhana yang menjadi umum


1.3.2. Parsial kompleks menjadi umum
1.3.3. Parsial sederhana menjadi parsial
kompleks, lalu menjadi umum.
KLASIFIKASI KLINIS
2. Bangkitan Umum
2.1. Lena (absance)
2.1.1. Tipikal Lena
2.1.2. Atipikal Lena
2.2. Mioklonik
2.3. Klonik
2.4. Tonik
2.5. Tonik-Klonik
2.6. Atonik / Astatik

3. Bangkitan Tak Tergolongkan


ETIOLOGI
I. Idiopatik (primer)
Tidak diketahui penyebabnya
Merupakan jenis epilepsi terbanyak
Sering kali menunjukkan predisposisi
genetik
Tidak terdapat lesi struktural di otak
atau defisit neurologis
ETIOLOGI
II.Simptomatik (sekunder)
Penyebabnya diketahui :
- Trauma kepala
- Tumor otak
- Gangguan metabolik
- Infeksi susunan saraf pusat
- Anomali kongenital
- Obat-obatan dan alkohol
- Penyakit serebrovaskuler
- Penyakit degeneratif
ETIOLGI

III. Kriptogenik
Dianggap simtomatis tetapi
penyebabnya belum diketahui.
EPIDEMIOLOGI
Insidens sebesar 44 kasus per 100,000
populasi setiap tahun (hauser & co, 1990)
2/3 kasus terjadi pada masa kanak-kanak
Insidens meningkat kembali pada usia
diatas 60 tahun
1.1 1.5 kali lebih sering terkena dari
Semakin meningkat, insidens mencapai 80
kasus per 100,000 pop/tahun
KEJANG PARSIAL (FOKAL)
A. Kejang Parsial Sederhana
Kejang parsial sederhana timbul bila
cetusan kejang terjadi pada daerah
yang terbatas dan terlokalisir
dikorteks fokus epileptogenik
Pasien dpt berinteraksi secara normal
dgn lingkungannya selama serangan,
kec.pd kejang yg fokus epileptogenik
daerah tertentu
KEJANG PARSIAL SEDERHANA
Gejala aura yg mendahului bersifat
subyektif berupa gerakan motorik
maupun gangguan sensorik
unilateral
Aura yang sering timbul berupa rasa
tidak enak di epigastrium, ketakutan,
deja vu serta halusinasi penciuman
KEJANG PARSIAL
B. Kejang parsial kompleks
Secara klinis timbul penurunan
kesadaran yg diakibatkan penyebaran
cetusan kejang pada jaringan otak
secara bilateral, kearah basal otak
bagian frontal dan sistem limbik
Timbul automatism
Post iktal pasien terlihat bingung dan
disorientasi
KEJANG PARSIAL KOMPLEKS
70 80 % berasal dari fokus di di
lobus temporal
Sisanya berasal dari fokus di lobus
frontal dan lobus occipital
KEJANG PARSIAL
KEJANG UMUM (GENERALIZED)
A. Absans atau petit mal
Kehilangan kesadaran sesaat yg
disertai pandangan mata kosong dan
berhentinya segala aktifitas penderita
Serangan timbul dan berakhir secara
tiba-tiba tanpa tanda-tanda
sebelumnya
Gejala post iktal tidak ada
Perbaikan terjadi dalam waktu
singkat
ABSANS (PETITMAL)
Gerakan mioklonik ringan pada
kelopak mata atau otot-otot wajah
Kehilangan tonus otot dan
automatism dapat timbul bila
serangan memanjang
Tipikal dan atipikal absans
ABSANS (PETITMAL)
KEJANG UMUM (GENERALIZED)
B. Kejang mioklonik
Gerakan menyentak, involunter, mendadak
dan cepat
Dapat timbul bilateral maupun unilateral
Bervariasi dari gerakan hanya pada otot
wajah, lengan / otot kaki sampai spasme
otot masif bilateral pada kepala, batang
tubuh dan ektremitas secara simultan
MIOKLONIK
KEJANG UMUM (GENERALIZED)
C. Atonik
Disebut juga sebagai drop attacks
Kehilangan tonus otot secara
mendadak pada bagian tubuh
tertentu / keseluruhan shg
menyebabkan pasien terjatuh
Bila disertai kejang mioklonik
seringkali menimbulkan perlukaan
pada tubuh
KEJANG UMUM (GENERALIZED)
D. Kejang tonik-klonik (grand mal)
Kehilangan kesadaran secara tiba-tiba
dengan ekstensi tonik ekstremitas dan
batang tubuh (fase tonik), tangisan
epileptik diikuti gerakan klonik (fase klonik)
Timbul dalam berbagai variasi
Dapat didahului oleh gejala berupa kejang
klonik singkat sblm fase tonik-klonik
KEJANG TONIK-KLONIK (GRAND
MAL)
Post iktal pasien sulit dibangunkan
sesaat, kemudian terlihat letargi dan
cenderung mengantuk
Dapat dijumpai gejala prodormal bbrp
menit sampai jam sblm serangan,
berupa ansietas, irratabilitas,
penurunan konsentrasi serta sakit
kepala
TONIK-KLONIK (GRANDMAL)
PENATALAKSANAAN
Epilepsi atau bukan ?
Primer atau sekunder ?
Faktor presipitasinya dan resiko?
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan laboratorium
Elektroensefalografi (EEG)
Pemeriksaan neuroimaging
ANAMNESIS
Sangat penting untuk menentukan
diagnosis
Harus dilakukan seteliti mungkin
untuk mendapatkan gambaran jenis
kejang, faktor presipitasi dan resiko
Pada anak-anak riwayat
perkembangan harus ditanyakan
ANAMNESIS
* Faktor resiko (Hauser WA, 1990)
Trauma kepala (luka dlm peperangan)
Stroke
Ensefalitis virus
Alkohol
Penyakit Alzheimer
Cedera kepala sedang
PEMERIKSAAN FISIK
Biasanya tidak dijumpai kelainan
Bila dijumpai defisit fokal neurologis
menunjukan adanya proses patologis
di otak
Asimetris wajah atau ekstremitas
dapat menunjukan atrofi serebri pada
kontra lateral
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Untuk mencari faktor-faktor yang
berkontribusi sbg penyebab kejang
Pemeriksaan serum elektrolit,
glukosa, fungsi ginjal dan hati
Elektolit, cbc dan lft sebagai base line
sblm terapi
Pemeriksaan toksikologi urine dan
darah
LP bila ada tanda-tanda infeksi
EEG
Merupakan pemeriksaan yg paling
penting untuk menegakkan diagnosis
Membantu menegakkan diagnosis
dan karakteristik spesifik sindroma
epilepsi
Menentukan manajemen dan
prognosis
Discharge epileptiform : gelombang
tajam dan runcing
NEUROIMAGING
MRI harus dikerjakan pada pasien-
pasien dengan epilepsi simptomatik,
usia >18 tahun, perkembangan yg
abnormal serta bila defisit fokal
neurologis +
CT scan < sensitif utk lesi-lesi tertentu
CT scan > sensitif utk lesi kalsifikasi
PENGOBATAN
# Pada kejang parsial dan secondarily
generalized
Karbamazepine
Valproate
Phenytoin
Lamotrigine
Phenobarbital pada negara sedang
berkembang
PENGOBATAN
# Pada kejang umum tonik-klonik
Valproate
Karbamazepine
Lamotrigine
Phenytoin
Phenobarbital (negara sedang
berkembang)
PENGOBATAN
# Pada kejang mioklonus
Valproate
Klonazepam
Lamotrigine
# Pada kejang absans
Valproate
Ethosuximide
OPERASI

Dilakukan pada kasus-kasus yg


kejangnya tidak dapat dikontrol
dengan obat-obatan anti epilepsi yg
optimal serta telah mengganggu
kualitas hidup