Anda di halaman 1dari 44

ST ELEVATION

MYOCARDIAL
INFARCTION

OLEH :

CHAIDIR SEPTIA PUTRA

CUT MUTIA GUSTI NADIA

MUHAMMAD HARRIS

Pembimbing : dr. Komaria


PENDAHULUAN

Infark Miokard Akut (IMA) merupakan gangguan aliran


darah ke jantung yang menyebabkan sel otot jantung mati.
Aliran darah di pembuluh darah terhenti setelah terjadi
sumbatan koroner akut, kecuali sejumlah kecil aliran
kolateral dari pembuluh darah di sekitarnya.1Paling sering
disebabkan oleh ruptur lesi aterosklerotik pada arteri
koroner. Hal ini menyebabkan pembentukan trombus yang
menyumbat arteri, sehingga menghentikan pasokan darah ke
regio jantung yang disuplainya.1
STEMI

STEMI adalah salah satu tipe serangan jantung yang


diakibatkan oleh karena menurunnya aliran darah koroner
ke miokardium secara mendadak yang dapat dideteksi
melalui pemeriksaan EKG (Elektrokardiografi) dan
ditemukan adanya elevasi ST. IMA dengan elevasi ST (ST
Elevation Myocardial Infarction=STEMI) juga merupakan
bagian dari spektrum SKA yang terdiri dari angina pektoris
tak stabil, IMA tanpa elevasi ST, dan IMA dengan elevasi ST.
1.3
STEMI
Epidemiologi :
Merupakan penyakit penyebab tersering di dunia.

Kejadian lebih sering pada pria usia 45- 65 tahun.

Mortalitas dan morbiditas STEMI di Indonesia :


Dm
Hipertensi
Merokok
Keterlambatan penanganan.
FAKTOR RESIKO
Tidak dapat dimodifikasi :

Usia

Jenis Kelamin

Ras

Riwayat keluarga

Dapat dimodifikasi :

Kadar serum lipid

Hipertensi

Merokok

Gangguan Tolerasi Glukosa

Diet tinggi lemak jenuh, Kolesterol dan Kalori


PATOFISIOLOGI
STEMI

Manifestasi klinis :
Nyeri dada tipikal ( angina ), seperti rasa sakit yang ditekan, rasa
terbakar, ditindih benda berat seperti distusuk, rasa diperas dan dipelintir;
berlokasi di substernal, retrosternal, dan precordial.

Berkurang dengan istirahat dan nitrat.

Penjalarannya biasanya ke lengan kiri dapat juga ke leher, rahang bawah,


gigi, punggung/interskapula, perut, dan dapat juga ke lengan kanan.

Dicetuskan oleh Aktifitas


STEMI
Pemeriksaan fisik :
Pasien tampak cemas dan tidak bisa beristirahat (gelisah) dengan
ekstremitas pucat disertai keringat dingin.

Penurunan intensitas bunyi jantung pertama dan split paradoksikal bunyi


jantung kedua.

Dapat ditemukan murmur midsistolik atau late sistolik apikal

Peningkatan suhu sampai 38 C dapat dijumpai dalam minggu pertama


pasca STEMI.4
STEMI
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan enzim jantung ; Kreatinin kinase, CKMB, dan cardiac spesific troponin
(cTn) T atau cTn I. peningkatan nilai enzim diatas 2 kali nilai batas noraml menunjukan
adanya nekrosis jantung.
Pemeriksaan EKG : Pemeriksaan EKG 12 sandapan harus dilakukan pada semua pasien
dengan nyeri dada atau keluhan yang dicurigai STEMI, dalam waktu 10 menit sejak
kedatangan di IGD sebagai landasan dalam menentukan keputusan terapi reperfusi. Jika
pemeriksaan EKG awal tidak diagnostik untuk STEMI tetapi pasien tetap simptomatik
dan terdapat kecurigaan kuat STEMI, EKG serian dengan interval 5-10 menit atau
pemantauan EKG 12 sandapan secara kontinyu harus dilakukan untuk mendeteksi
potensi perkembangan elevasi segmen ST. EKG sisi kanan harus diambil pada pasien
dengan STEMI inferior, untuk mendeteksi kemungkinan infark ventrikel kanan.
Lokasi infark Elevasi segmen ST Perubahan resiprokal
Antero-septal V1, V2, V3, V4 V7, V8, V9
Anterior V3 dan V4 V7, V8, V9
Septum V1 dan V2 V7, V8, V9
Lateral V5 dan V6 II, III, aVF

Anterolateral I, Avl, V3, V4, V5, V6 II, III, Avf, V7, V8, V9
Anterior-Ekstensif I, Avl, V1-V6 II, III, aVF
High lateral I, Avl, V5, V6 II, III, Avf
Posterior V7-V9 V1, V2, V3
Inferior II, III, aVF I, Avl, V2, V3
Right ventrikel V2R-V4R I, aVL
KARAKTERISTIK EKG DARI STEMI DAN EVOLUSINYA :
Fase 1. Hyperacute T wave

Gelombang T yang tinggi dan simetris pada area yang mengalami


infark
Muncul pada 5 - 30 menit pertama dari saat infark miokardium mulai
terjadi
Fase 2. ST Elevasi pada minimal 2 lead yang berdekatan

ST Elevasi > 0.2 mV pada lead V2-3 pada pria > 40 tahun, > 0.25mV pada pria < 40 tahun dan > 0.15mV pada wanita

ST Elevasi > 0.2 mV pada lead V2-3 pada pria > 40 tahun, > 0.25mV pada pria < 40 tahun dan > 0.15mV pada wanita.
Lead Standar yang lain : > 0.1 mV
Lead V3R, V4R, V7-9 : > 0.05 mV
Bisa terdapat reciprocal ST depresi dan merupakan tanda yang sensitif dan spesifik untuk infark miokardium akut
Muncul pada waktu 0 - 12 jam setelah awal terjadi infark miokardium.
Fase 3. Gelombang Q patologis mulai muncul dan gelombang R mulai memendek.

Gelombang Q mulai muncul disertai gelombang R yang makin memendek


Telah terjadi nekrosis miokardium secara perlahan dan mengakibatkan skar pada
miokardium
Mulai muncul pada waktu 2 - 12 jam pertama dari onset infark miokardium akut dan
memuncak 24 - 48 jam kedua
Fase 4. Inversi gelombang T dan resolusi dari segmen ST

Gelombang Q menetap, ST segmen mengalami resolusi dan terjadi inversi


dari gelombang T
Otot jantung seluruhnya mengalami nekrosis pada area yang terkena
Mulai terjadi setelah 2 - 5 hari pasca infark miokardium akut atau recent
infarction
Fase 5. Gelombang T kembali positif disertai sequele
gelombang Q patologis
Gelombang Q menetap, gelombang T kembali positif seperti
semula
Muncul dalam waktu minggu dan bulanan pasca infark
PENATALAKSANAAN

Tujuan utama tatalaksana IMA adalah mendiagnosis secara cepat,


menghilangkan nyeri dada, menilai dan mengimplementasikan strategi
reperfusi yang mungkin dilakukan, memberi antitrombotik dan anti
platelet, memberi obat penunjang

Pengobatan segera dengan prinsip MONA :


O2 4 L/menit
Aspirin 160-325 mg
Nitrogliserin
Morfin IV ( bila skit dada tidak hilang dengan nitrogliserin )
1. Tirah baring
2. Suplemen oksigen harus diberikan segera bagi mereka dengan saturasi
O2 arteri <95% atau yang mengalami distres respirasi
3. Suplemen oksigen dapat diberikan pada semua pasien SKA dalam 6 jam
pertama, tanpa mempertimbangkan saturasi O2 arteri
4. Aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien yang tidak
diketahui intoleransinya terhadap aspirin
5. Penghambat reseptor ADP (adenosine diphosphate) : ticagretol atau
clopidogrel
6. Nitrogliserin (NTG) spray/tablet sublingual bagi pasien dengan nyeri
dada yang masih berlangsung saat tiba di ruang gawat darurat
7. Morfin sulfat 1-5 mg intravena, dapat diulang setiap 10-30 menit, bagi
pasien yang tidak responsif dengan terapi tiga dosis NTG sublingual
Terapi reperfusi
Percutaneous Coronary Interventions (PCI)
Fibrinolitik (streptokinase, ateplase, reteplase, tenekteplase)
OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN
PADA PASIEN STEMI
ANTIPLATELET
Antiplatelet Dosis

Aspirin Dosis loading 150-300 mg, dosis pemeliharaan 75-100


mg
Ticagrelor Dosis loading 180 mg, dosis pemeliharaan 2x90 mg/hari

Clopidogrel Dosis loading 300 mg, dosis pemeliharaan 75 mg/hari


PENYEKAT BETA

Penyekat beta Selektivitas Aktivitas agonis parsial Dosis untuk angina


Atenolol B1 - 50-200 mg/hari
Bisoprolol B1 - 10 mg/hari
Carvedilol a dan b + 2x6,25 mg/hari, titrasi sampai
maksimum 2x25 mg/hari

Metoprolol B1 - 50-200 mg/hari


Propanolol Nonselektif - 2x20-80 mg/hari
ACE INHIBITOR

Inhibitor ACE dosis

Captopril 2-3 x 6,25-50 mg

Ramipril 2,5-10 mg/hari dalam 1 atau 2 dosis

Lisinopril 2,5-20 mg/hari dalam 1 dosis

Enalapril 5-20 mg/hari dalam 1 atau 2 dosis


ANTIKOAGULAN

Antikoagulan Dosis

Fondaparinuks 2,5 mg subkutan


Enoksaparin 1mg/kg, dua kali sehari

Heparin tidak Bolus i.v. 60 U/g, dosis maksimal


terfraksi 4000 U.
Infus i.v. 12 U/kg selama

24-48 jam dengan dosis maksimal 1000 U/jam


target aPTT 11/2-2x kontrol
KOMPLIKASI
Disfungsi Ventrikular
Gangguan Hemodinamik
Syok kardiogenik
Infark ventrikel kanan
Aritmia paska STEMI
Ekstrasistol ventrikel
Takikardia dan fibrilasi ventrikel
Fibrilasi atrium
Aritmia supraventrikular
Asistol ventrikel
Bradiaritmia dan Blok
Komplikasi Mekanik
Terdapat beberapa sistem untuk menentukan prognosis paska IMA 11:

Klasifikasi Killip berdasarkan pemeriksaan fisik bedside sederhana, S3 gallop, kongesti paru
dan syok kardiogenik

Kelas Definisi Mortalitas (%)

I Tak ada tanda gagal jantung 6

II +S3 dan atau ronki basah 17

III Edema Paru 30-40

IV Syok kardiogenik 60-80


LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : Tn. RSD
Usia : 57 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Peunaga / Meureubo
Suku : Aceh
Agama : Islam
Pekerjaan : Staf Polri
Masuk sejak : 16 juli 2016
LAPORAN KASUS

ANAMNESA :
Keluhan utama : Nyeri dada
Telaah : Pasien datang dengan keluhan nyeri dada
sebelah kiri kurang lebih 1 jam. Nyeri dirasakan saat pasien
sedang olahraga/jogging,rasaseperti tertimpa. Nyeri bersifat
menjalar ke leher, rahang, bahu, sampai kelengan kiri. Nyeri
semakin lama semakin memberat dan tidak menghilang
dengan istirahat. Ini kali pertama pasien merasakan seperti
ini. Keluhan ini disertai keringat dingin, mual, muntah (-),
sesaknafas (-), demam (-).
LAPORAN KASUS

Riawayat penyakit dahulu : Hipertensi (disangkal),


DM (disangkal)
Kebiasaan sosial : Merokok
Riwayat penyakit keluarga: Tidak ada keluarga pasien
yang mempunyai riwayat penyakit jantung.
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan Umum : Sakit berat
Vital Sign : TD : 100/70 mmHg
HR : 80 x/i ( Reguler )
RR : 24 x/i ( Abdominothorakal )
T : 36,5 % ( Axilla )
Pemeriksaan Kepala :
Mata : Anemis (-), Ikterus (-).
Bibir : Sianosis (-).
Leher : DVS R+2 CmH2O, Pembesaran kelenjar tiroid (-)
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Paru :

Inspeksi : Simetris kiri = kanan.

Palpasi : massa (-) VF kiri = kanan.

Perkusi : Sonor, batas paru-hepar : ICS IV anterior kanan.

Auskultasi : bunyi pernafasan : Bronkovesikular.

bunyi tambahan :Ronki (-/-) Wheezing (-/-).

PemeriksaanJantung :

Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : iktus kordis tidak teraba

Perkusi : batas kanan jantung :garis parasternalis kanan.

batas kiri jantung : 1 cm lateral dari garis midclavicularis

Auskultasi : BJ I/II murni regular, murmur (-)


LAPORAN KASUS
PemeriksaanAbdomen :
Inspeksi : datar, ikut gerak nafas.
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal.
Palpasi : Massa (-), Hati dan limpa tidak teraba.
Perkusi : Timpani, asites (-).

PemeriksaanExtremitas :
Edema pretibial (-/-)

Edema dorsum pedis (-/-)


LAPORAN KASUS

Pemeriksaan penunjang :
A. EKG :
LAPORAN KASUS
Interpretasi Hasil EKG :
Irama : Sinus
QRS rate : 72x/i
Gelombang P : < 0,11 detik
PR interval : < 0,20 detik
Kompleks QRS : < 0,12 detik
Axis : Normoaxis
SegmenST : ST elevasi di aVL, V2, V3
ST depresi di II, III, aVF, V5, V6
Gelombang T : T tall di V2, V3, aVL
T inversi di III, aVF
Kesan :
STEMI ANTERIOR EKSTENSIF
LAPORAN KASUS

Diagnosa :
STEMI Anterior Ekstensif onset 1/2 jam
Terapi :
Bed rest
LAPORAN KASUS
O2 2-4 lilter/menit
IVFD Nacl 0.9% 20 gtt/i
Inj. Arixtra ( Fondaparinuks ) SC 2,5 mg / 24 jam (5 hari)
Inj. Morfin 2,5 mg ( K/P )
Loading :
-Clopidogrel 75 mg (4 tablet )
-Aspilet 80 mg ( 2 tablet )
-ISDN 5 mg ( 1 tablet )
-Simvastatin 10 mg (2 tablet )
Dilanjutkan :
- ISDN 1x1
- CPG 1x1
- Simvastatin 1x1
- Aspilet 1x1
FOLLOW UP
Tanggal 17-07-2017
S/ Nyeri dada
O/ TD : 100/70 mmhg
HR : 80x/i
RR : 20x/i
T : 36,5c
A/ STEMI ANTERIOR EKTENSIF onset jam Killip I
P/ - IVFD NaCL 0,9% 20 gtt/I ( mikro )
- Inj. Arixtra 25 mg/24 jam - ISDN 3x5 mg
- Inj. Morfin 2,5 mg (k/p) - Simvastatin 1x 40 mg
- CPG 1x75 mg - laxadyn 1x1 c
- Alprazolam 1x 0,5 mg - Aspilet 1x80 mg
Pemeriksaan EKG :
FOLLOW UP

Interpretasi hasil EKG :


Irama : sinus
QRS rate : 83x/i
Gelombang P : 0,10 detik
PR interval : 0,20 detik
Kompleks QRS : 0,10 detik, Q patologis di V4
Axis : Normoaxis
Segmen ST : ST elevasi di I, aVL, V2, V3, V4, V5
ST depresi di III, aVF
Gelombang T : T inversi di V1
FOLLOW UP
Tanggal 18-07-2016
S/ Nyeri dada atipikal
O/ TD : 120/80 mmHg
HR : 85 x/i
RR : 22 x/i
T : 36,5 c
A/ STEMI ANTERIOR EKTENSIF onset jam Killip I
P/ - Bed rest
- O2 2-4 L / menit (K/P) - Concor 1x 1,25 mg
- IVFD NaCl 0,9 % 10 gtt/I (mikro) - ISDN 5 mg (k/p)
- Inj. Arixtra 25 mg/24 jam - Furosemid 1x20 mg
- Aspilet 1x80 mg - Simvastatin 1x 40 mg
- CPG 1x75 mg - laxadyn 1x1 c
- Alprazolam 1x 0,5 mg
Pemeriksaan EKG :
FOLLOW UP
Interpretasi Hasil Ekg :
Irama : sinus
QRS rate : 94x/i
Gelombang P : 0,08detik
PR interval : 0,16detik
Kompleks QRS: 0,08detik, Q patologis di V4
Axis : normoaxis
Segmen ST : ST elevasi di I, aVL, V2, V3, V4, V5
ST depresi di III
Gelombang T : T inversi di V1
FOLLOW UP
Tanggal 19-07-2016

S/ Pasien mengeluh demam semalam, nyeri dada (-)

O/ TD : 110/90 mmHg

HR : 80 x/i
RR : 20 x/i
T : 36,5 c

A/STEMI ANTERIOR EKSTENSIF onset jam Killip I

P/- IVFD NaCL 0,9% 10 gtt/I ( mikro )

- Inj. Cefriaxone 1 gr/12 jam - ISDN 5 mg (k/p)

- Inj. Arixtra 25 mg/24 jam - Furosemid 1x20 mg

- Aspilet 1x80 mg - Simvastatin 1x 40 mg

- CPG 1x75 mg - laxadyn 1x1 c

- Alprazolam 1x 0,5 mg - Paracetamol 500mg ( k/p)

- Captopril 3x 6,25 mg - Concor 1x1,25 mg

- PBJ
TERIMA KASIH