Anda di halaman 1dari 145

Pemicu 3 repro

Alexandra Yofishia
405120175
Learning Objectives
1. Menjelaskan penyulit pada kehamilan.
Penyakit ibu ( HELLP syndrome, HT, DM, Tiroid)
2. Menjelaskan ketuban pecah dini (KPD).
3. Menjelaskan kehamilan dengan faktor risiko.
4. Menjelaskan malposisi dan malpresentasi
serta manajemennya.
LO1.

PENYULIT PADA KEHAMILAN


Penyulit Kehamilan
Faktor dari ibu:
1. Penyakit:
Infeksi: sistitis, toksoplasmosis, HIV, TBC, hepatitis
Kelainan endokin/metabolisme: DM, tiroid, hipertensi, pre-
eklampsia, eklampsia
HELLP syndrome
2. Ketuban Pecah Dini
3. Perdarahan: plasenta previa, solutio plasenta
4. Faktor risiko: merokok, usia ibu, jarak kehamilan, ANC kurang,
sering hamil
Faktor dari janin:
1. Malposisi
2. Malpresentasi
3. Makrosomia
Hipertensi Dalam
Kehamilan
Klasifikasi Hipertensi pada kehamilan
Hipertensi kronik sebelum20 minggu
Preeklampsia >20 minggu,proteinuria
Eklampsia preeklampsia dengan kejang/koma
Hipertensi kronik dengan superimposed
preeklampsia kronik dengan tanda
preeklampsia
Hipertensi gestasional timbul saat hamil,
proteinuria, <3 bulan pasca melahirkan hilang
Faktor Risiko
Primigravida, primipaternitas
Hiperplasentosis (molahidatidosa, kehamilan
multipel, DM, hidrops fetalis, bayi besar)
Umur yang ekstrim
Riwayat keluarga pernah preeklampsia / eklampsia
Penyakit ginjal dan hipertensi yg sudah ada sebelum
hamil
Obesitas
Patofisiologi
Teori kelainan vaskular plasenta
Invasi trofoblas ke dalam lapisan otot dilatasi
a.spiralis penurunan tek darah peningkatan
aliran darah pada uroplasenta darah cukup
banyak remodeling arteri spiralis
Pada hipertensi, tidak terjadi invasi trofoblas,
sehingga kegagalan remodeling hipoksia dan
iskemi plasenta
Teori iskemia plasenta, radikal bebas, disfungsi
endotel:
Iskemi dan hipoksia menghasilkan oksidan
hidroksil yang sangat toksis merusak membran
sel yang mengandung banyak asam lemak tak
jenuh menjadi peroksida lemak merusak
nukleus, protein sel endotel
Produksi oksidan yang bersifat toksis dapat
diimbangi dengan antioksidan
Peroksida lemak sebagai oksidan pada hipertensi.
Antioksidan spt vit E pada hipertensi kehamilan
menurun dominasi kadar oksidan peroksida lemak
yang tinggi merusak sel endotel
Disfungsi endotel
Sel endotel terpapar peroksida lemak kerusakan sel
endotel gangguan fungsi endotel (disfungsi endotel).
Pada kerusakan ini akan terjadi:
Gangguan metabolisme prostaglandin prostaglandin
menurun
Agregasi sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami
kerusakan
Perubahan khas pada glomerular endotheliosis
Peningkatan permeabilitas kapiler
Peningkatan faktor koagulasi
Teori intoleransi imunologik antara ibu dan
janin
Primigravida memiliki resiko lebih besar terjadi
hipertensi dibanding multigravida
Ibu multipara yang kemudian menikah lagi
mempunyai resiko lebih besar dibandingkan
dengan suami sebelumnya
Seks oral mempunyai resiko lebih rendah
terjadinya hipertensi dalam kehamilan
Teori adaptasi kardiovaskular
Teori genetik
Genotip ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam
kehamilan secara familial jika dibandingkan dengan genotip
janin
Teori defisiensi gizi
Diberikan banyak minyak ikan dan kalsium untuk pencegahan
hipertensi
Teori stimulus inflamasi
Lepasnya debris trofoblas dalam sirkulasi darah merupakan
rangsangan utama terjadinya inflamasi
Adanya debris trofoblas berlebihan mengakibatkan aktivitas
leukosit yang tinggi pada sirkulasi ibu
*HIPERTENSI KRONIK*
Definisi:
Hipertensi yang didapatkan sebelum
timbulnya kehamilan
Timbul apabila tekanan darah sistolik 140
mmHg, diastolik 90 mmHg sebelum umur
kehamilan 20 minggu
Etiologi

Primer
Idiopatik : 90%

Sekunder
10%, berhubungan dengan penyakit ginjal,
vaskular kolagen, endokrin dan pembuluh darah
Diagnosis
Bila didapatkan hipertensi yang telah timbul sebelum
kehamilan atau < 20 minggu
Ciri-ciri :
Umur ibu > 35 tahun
TD sangat tinggi
Umumnya multipara
Umumnya ditemukan penyakit DM, kelainan jantung,
ginjal
Obesitas
Penggunaan obat-obat antihipertensi sebelum kehamilan
Hipertensi yang menetap pasca kehamilan
Dampak Hipertensi Kronik
Bagi ibu
Bila pasien mendapat terapi dan hipertensi terkendali
tidak berpengaruh buruk pada kehamilan
Tapi punya risiko terjadinya solusio plasenta,
superimposed pre-eklampsia
Hipertensi kronik yang diperberat oleh kehamilan akan
memberi tanda :
Kenaikan mendadak TD kemudian proteinuria
Tekanan darah > 200/130 mmHg dengan akibat segera terjadi
oliguria dan gangguan ginjal
Penyulit :
Solutio plasenta : risiko terjadinya 2-3x
Superimposed pre-eklampsia
Dampak Hipertensi Kronik
Bagi janin :
Pertumbuhan terhambat atau fetal growth
restriction, intrauterine growth restriction (IUGR)
Insiden fetal growth restriction berbanding
langsung dengan derajat hipertensi yang
disebabkan perfusi uteroplasenta insufisiensi
plasenta
Risiko pe persalinan preterm
Pemeriksaan Penunjang
Ekokardiograf, elektrokardiograf
Pemeriksaan mata
Usg ginjal
Fungsi ginjal
Fungsi hepar
Hb
Hematokrit
Trombosit
Pemeriksaan Pada Janin

USG

Bila dicurigai IUGR : (intrauterine growth


retardation)
NST

Profil biofisik
Penatalaksanaan
Untuk mencegah hipertensi yang ringan menjadi berat dapat
dilakukan dengan :
Perubahan pola hidup :
Diet, Merokok, alkohol, Substance abuse
Antihipertensi
Pada hipertensi kronik berat umumnya hanya memperhatikan
keselamatan ibu dibanding status kehamilan guna mencegah :
CVA (Cardiovascular Accident)
Infark miokard
Disfungsi jantung & ginjal
Antihipertensi diberikan :
Sedini mungkin pada batas hipertensi stage 1 yaitu 140
mmhg/ 90 mmhg
Jika terjadi disfungsi end organ
Antihipertensi
-metildopa
Suatu 2 reseptor agonis ]
Dosis awal 500 mg 3x/hari, maks 3gr/hari
Calsium channel blockers
Nifedipin : dosis bervariasi antara 30-90 mg/hari
Diuretik tiazid
Tidak diberikan karena akan menggangu volume
plasma ganggu aliran darah uteroplasenta
*PRE EKLAMPSIA*
Definisi:
Hipertensi yang timbul > 20 minggu kehamilan
dan proteinuria
Dibagi menjadi preeklampsia ringan dan
preeklampsia berat
Urutan gejala pada preeklamsia -> edema,
hipertensi dan proteinuria. Bila gejala-gejala
ini timbul tidak dalam urutan diatas, dianggap
bukan preeklampsia
Preeklampsia Ringan
Definisi
Suatu sindroma spesifik dengan menurunnya
perfusi organ yang berakibat terjadinya
vasospasme pembuluh darah dan aktivasi
endotel
Diagnosis
Ditegakkan berdasar timbulnya hipertensi disertai
proteinuria dan/edema setelah kehamilan 20
minggu
Hipertensi 140/90 mmHg
Proteinuria 300 mg/24 jam atau 1 + dipstik
Edema: edema lokal tidak dimasukkan dalam
kriteria preeklampsia, kecuali edema pada
lengan, muka dan perut, edema generalisata
Preeklampsia Berat
Definisi
Preeklampsia dengan TD sistolik 160 mmHg
dan diastolik 110 mmHg disertai proteinuria
> 5g/24 jam
Diagnosis
TD sistolik 160 mmHg & diastolik 110 mmHg. TD tdk turun meskipun ibu
sdh dirawat di RS & sdh menjalani tirah baring.
Proteinuria > 5g/24 jam atau 4 + dlm pemeriksaan kualitatif.
Oligouria, produksi urin < 500 cc/24 jam.
Kenaikan kadar kreatinin plasma
Ggg visus & serebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala, skomata &
pandangan kabur.
Nyeri epigastrium atau nyeri pd kuadran kanan atas abdomen.
Edema paru2 & sianosis
Hemolisis mikroangiopati
Trombositopenia berat < 100.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit dg
cepat.
Ggg fx hepar (kerusakan hepatoseluler): peningkatan kadar alanin &
aspartate aminotransferase
Pertumbuhan janin intrauterine yg terhambat.
Sindrom HELLP
Pembagian Preeklampsia Berat
Preeklampsia berat tanpa impending eclampsia

Preeklampsia berat dengan impending eclampsia


(preeklampsia berat disertai gejala2 subjektif berupa
nyeri kepala hebat, ggg visus, muntah2, nyeri
epigastrium & kenaikan progresif TD)
Pengobatan
Pre eklampsia ringan Pre eklampsia berat
Istirahat yg cukup Larutan MGSO4 40% sebanyak 10 ml
Pemberian fenobarbital 3 X 300 mg scr IM dan diulang 4 gr tiap 6 jam
sehari Antihipertensi
Pengakhiran janin Obat hipotensi, glukosa 20% scr IV
Pemberian obat diuretika dan Menghentikan kehamilan
antihipertensi tdk di anjurkan
*EKLAMPSIA*
Definisi:
Kejang dan atau koma pada seorang wanita hamil yang
preeklamtik, tidak ada penyebab kejang yang lainnya

44% dari pasien eklamsia postpartum tidak mempunyai


riwayat PE sebelumnya

Eklamsia bisa ante/ intra / postpartum


Postpartum : 24 28 jam
Late post-partum eklampsia : kejang > 24 jam sampai 4
minggu postpartum
MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar didahului keluhan subjektif imminen
/ impending eklamsia ( sakit kepala, nyeri ulu hati,
pandangan kabur)

Kejang
Durasi 60 75 detik, tidak lebih dari 3 4 menit
Antepartum (25%), intrapartum (50%), postpartum (25%)
2 fase :
Fase 1 : Facial twitching (15 20 detik)
Fase 2 : Kontraksi otot rahang, bola mata, dan seluruh tubuh (60
detik) koma sadar
TANDA & GEJALA
Kejang didahului dengan memburuknya preeklampsia
dan munculnya gejala
Nyeri kepala daerah frontal
Gangguan penglihatan
Mual
Nyeri epigastrium
Hiperrefleksia
Selama serangan kejang, TD akan meninggi, nadi cepat,
suhu meningkat sampai 40 C
Komplikasi serangan : lidah tergigit, fraktur, trauma,
gangguan pernapasan, solusio placenta dan
perdarahan otak
TINGKATAN KONVULSI EKLAMPSIA
TINGKAT DURASI KETERANGAN
AWAL / AURA 30 detik Mata penderita terbuka tanpa melihat, kelopak mata dan
tangan bergetar, kepala diputar ke kanan atau ke kiri
KEJANG 30 detik Seluruh otot menjadi kaku, wajah terlihat kaku, tangan
TONIK menggenggam, kaki membengkok ke dalam.
Pernapasan berhenti, wajah menjadi sianotik, lidah dapat
tergigit
KEJANG 1-2 menit Spasmus tonik menghilang, semua otot berkontraksi dan
KLONIK berulang-ulang secara cepat, mulut membuka dan
menutup, lidah dapat tergigit, bola mata menonjol, keluar
ludah berbusa, muka tampak kongesti dan sianosis,
penderita tak sadar, penderita dapat terjatuh dari tempat
tidur
KOMA Tidak menentu Kemudian kejangan berhenti dan penderita menarik napas
secara mendengkur. Secara perlahan penderita dapat
sadar lagi, tapi dapat pula sebelum itu timbul serangan
berulang dan tetap jatuh dalam koma
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM ELEKTROMEDIK
Darah lengkap CT scan
Urinalisa MRI
Fungsi hati MRA : terutama kejang
Hapusan darah tepi berulang / laboratorium
Asam urat bermakna
Kadar gula darah
Fungsi ginjal
Koagulasi
PENATALAKSANAAN
Menjaga jalan nafas / fungsi vital
Cegah terigigitnya lidah
Cegah aspirasi
Oksigenasi
Menghentikan kejang / cegah kejang berulang
DOC : MgSO4
Mengendalikan tekanan darah dalam batas aman
Manajemen cairan koreksi hipoksia dan atau
asidemia pada ibu
Manajemen persalinan
MgSO4
Mekanisme kerja Level terapeutik : 4 7
Serebral vasodilator mEq/L (4,8 8,4 mg/dl atau
Perbaiki fx endotel 2,0 3,5 mmol/L)
Hambat pelepasan AcH di
NMJ
Tidak mempengaruhi
Blok N methly D aspartate
kontraksi uterus
Parenteral : eksresi lewat
ginjal Efek tokolitik : 8 10 mEq/l

Monitoring intoksikasi Dapat melalui plasenta


Produksi urine
Refleks patela Janin terafeksi bila terjadi
Frek. nafas hipermagnesemia berat
PENATALAKSANAAN
Manajemen cairan
Profil hemodinamik bervariasi
Terapi bersifat individual
Terapi cairang RL / Ringer asetat : 60 125 cc/jam
Monitoring hemodinamik !!!
KOMPLIKASI
Solutio placenta
Lebih sering terjadi pada preeklampsia
Hipofibrinogenemia
Biasanya pada preeklampsia berat
Hemolisis
Ditemukan nekrosis periportal hati
Penyebab ikterus
Perdarahan otak
Penyebab utama kematian maternal
Kelainan mata
Dapat terjadi kehilangan penglihatan sementara
Dapat pula terjadi perdarahan retina tanda gawat apopleksia serebri
Edema paru-paru
Karena payah jantung
KOMPLIKASI
Nekrosis hati
Akibat vasospasmus arterial umum
Sindroma HELLP
Haemolysis, elevated liver enzymes, low platelet
Kelainan ginjal
Endoteliosis glomerulus (pembengkakan sitoplasma sel endotelial
tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya)
Anuria s/d ginjal
Lidah tergigit
Trauma & fraktur
Pneumonia aspirasi
DIC
Prematuritas, dismaturitas, kematian janin intra uterin
Kematian ibu & janin
DIAGNOSIS BANDING
Epilepsi
Adanya serangan sebelum hamil/pada hamil muda
Tidak ada tanda-tanda preeklampsia
Kejang karena obat anestesi
Apabila obat anestesia lokal disuntikkan ke vena
Koma karena sebab lain
Diabetes
Perdarahan otak
Meningitis
Ensefalitis, dll
*HIPERTENSI GESTATIONAL*
Hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai
proteinuria
Menghilang setelah 3 bulan pasca persalinan atau
kehamilan dengan tanda-tanda preeklampsia tetapi
tanpa proteinuria
Tekanan darah 140/90 mmHg untuk pertama kali
dalam kehamilan di atas 20 minggu
Terjadi karena peningkatan tekan darah selama
kehamilan atau hilangnya hipertensi kronik yang
pernah ada sebelumnya dan tanda preeklampsia
lainnya pada 24 pertama setelah melahirkan. (Harrison,
2007 : 33)
Penatalaksanaan
Jika kehamilan < 37 minggu, tangani secara rawat jalan:
Pantau tekanan darah, proteinuria dan kondisi janin setiap
minggu.
Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai
preeklampsia.
Jika kondisi janin memburuk atau pertumbuhan janin
terhambat, rawat dan pertimbangkan terminasi kehamilan.
Beritahu klien dan keluarga tanda bahaya dan gejala
preeklampsia atau eklampsia.
Jika tekanan darah stabil janin dapat dilahirkan secara
normal.
HELLP Syndrome
Definisi
Preeklampsia-eklampsia disertai timbulnya
hemolisis, peningkatan enzim hepar, disfungsi
hepar, dan trombositopenia
H : Hemolysis
EL : Elevated Liver Enzyme
LP : Low platelet count
Diagnosis
Didahului tanda dan gejala tidak khas:
Malaise
Lemah
Nyeri kepala
Mual dan muntah
Muncul gejala dan tanda preeklampsia
Tanda hemolisis intravaskular (kenaikan LDH, AST, dan
bilirubin indirek)
Tanda kerusakan/disfungsi sel hepatosit hepar (kenaikan
ALT, AST, LDH)
Trombosit 150.000/mL
Nyeri kuadran atas abdomen
Klasifikasi Sindroma HELLP -
Mississippi
Klas I Klas II Klas III
Trombosit < 50.000/ml > 50.000/ml > 100.000/ml
< 100.000/ml < 150.000/ml
LDH > 600 IU/L > 600 IU/L > 600 IU/L
AST / ALT > 40 IU/L > 40 IU/L > 40 IU/L
Sikap Pengelolaan Obstetrik
Sindroma HELLP aktif: kehamilan diakhiri
(diterminasi) tanpa memandang umur
kehamilan
Persalinan dapat dilakukan pervaginam
atau perabdominam
Kematian Ibu dan Janin
Kematian ibu pada sindroma HELLP 24%
Penyebab kematian pada ibu:
Kegagalan kardiopulmoner
Gangguan pembekuan darah
Perdarahan otak
Ruptur hepar
Kegagalan organ multipel
Kematian perinatal sindroma HELLP
disebabkan o/ persalinan preterm
Kehamilan vs Gangguan Endokrin
Kehamilan gangguan endokrin
Kelainan endokrin yang umumnya terjadi pada
ibu hamil:
Diabetes Melitus
Tiroid
Faktor faktor predisposisi yang
mempengaruhinya:
Genetik
lingkungan
Pengaruh terhadap kehamilan Pengaruh terhadap persalinan
Inersia Uteri dan atonia
Abortus dan partus uteri
prematurius
Distosia karena janin
hidramnion Kelahiran mati
Pre-eklampsia Persalinan lebih sering
Kesalahan letak janin ditolong secara operatif
Insufisiensi plasenta Angka kejadian perdarahan
dan infeksi tinggi
Morbiditas dan mortalitas
ibu tinggi
Pengaruh terhadap Janin Pengaruh terhadap nifas
Hambatan pertumbuhan Luka luka jalan lahir sulit
Karena timbul kelainan pada sembuh
pembuluh darah ibu dan
perubahan metabolik selama Perdarahan dan infeksi
masa kehamilan. puerperal lebih tinggi
Makrosomia
Bayi pada waktu lahir besar
akibat penumpukan lemak di
bawah kulit.
Cacat bawaan karena diabetes
mellitus yang tidak diobati
waktu kehamilan.
Meningkatnya kadar bilirubin
bayi serta gangguan napas dan
kelainan jantung.
Terapi medikamentosa
Terapi preeklampsia-eklampsia dengan
monitoring kadar trombosit tiap 12 jam
Trombosit < 50.000/ml pemeriksaan PT, TT,
APTT dan fibrinogen
Pemberian dexamethasone antepartum
Trombosit < 100.000/ml atau 100.000-
150.000/ml disertai tanda2 eklampsia,
hipertensi berat, nyeri epigastrium IV
dexametason 10mg tiap 12 jam
Diabetes Gestational
Diabetes Melitus Gestasional
a. Definisi
Intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa
terganggu) maupun berat (diabetes melitus), terjadi
pertama kali saat kehamilan berlangsung.

b. Epidemiologi
Di Indonesia insiden DMG sekitar 1,9-3,6% dan sekitar 40-
60% wanita yang pernah mengalami DMG pada pengamatan
lanjut pasca persalinan akan mengidap diabetes mellitus
atau gangguan toleransi glukosa.
Diabetes Melitus Gestasional
c. Patofisiologi
Kehamilan

Plasenta melakukan sekresi hormon diabetogenik :
Hormon pertumbuhan (growth hormon)
Corticotropin releasing hormon
Placental lactogen
Progesteron

Resistensi Insulin

Jika fungsi pankreas tidak cukup untuk mengatasi keadaan ini

Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Melitus Gestasional
Dampak DMG pada bayi :
1. Bayi biasanya lebih besar
2. Bisa terjadi pembesaran organ (hepar, kelenjar
adrenal, jantung)
3. Bayi dapat mengalami hipoglikemia karena produksi
insulin juga meningkat (akibat kadar glukosa ibu yang
tinggi)
Diabetes Melitus Gestasional
d. Diagnosis
Pemeriksaan kadar gula darah sewaktu
Kadar glukosa 2 jam pasca beban glukosa 75 g

Glukosa darah Kriteria

>200 mg/dl Diabetes melitus

140-200 mg/dl Toleransi glukosa terganggu

<140 mg/dl Normal


Kriteria Diagnostik
Diagnosis dan Screening DMG
Screening awal pemeriksaan beban glukosa 50 g pada
kehamilan 24-38 minggu (tanpa puasa)
Kadar glukosa serum atau plasma normal 130 mg per
dl (7,2 mmol per l) atau < 140 mg per dl (7,8 mmol per l)
Bila tes awal abnormal pemeriksaan beban glukosa
100 g glukosa (3 hari pasien melakukan diet yang tidak
ketat, kemudian dilakukan pemeriksaan darah puasa,
setelah 1-3 jam pemberian 100 g glukosa, selama
pemeriksaan pasien harus duduk dan tidak boleh
merokok)
Diagnosis pasti dengan menggunakan beban 75 g
glukosa, apabila ditemukan nilai >140mg/dl -> DMG dan
nilai > 200mg/dl -> DM jelas (berat)
Pemeriksaan Reduksi Urine
Merupakan bagian dari pemeriksaan urine rutin yang
selalu dilakukan di klinik.
Hasil yang (+) menunjukkan adanya glukosuria.
Digunakan pada pemeriksaan pertama sekali untuk tes
skrining, bukan untuk menegakkan diagnosis
Nilai (+) sampai (++++)
Reduksi (+): masih mungkin oleh sebab lain, seperti: renal
glukosuria, obat-obatan, dan lainnya
Reduksi (++) kemungkinan KGD: 200 300 mg%
Reduksi (+++) kemungkinan KGD: 300 400 mg%
Reduksi (++++) kemungkinan KGD: > 400 mg%
Diabetes Melitus Gestasional
Faktor risiko tinggi yang membutuhkan pemeriksaan
penyaring antara lain
A.Riwayat kebidanan
Riwayat lahir mati
Riwayat melahirkan bayi dengan berat > 4000 gr
Adanya riwayat melahirkan prematur
Adanya riwayat preeklamsia pada multipara
Polihidramnion
Riwayat >3 kali abortus spontan
Hipertensi kronik
Moniliasis berat yang berulang
Infeksi saluran kemih yang berulang selama
Diabetes Melitus Gestasional
B. Riwayat Ibu :
1. Adanya riwayat DM pada keluarga
2. Umur > 30 tahun
3. Pernah menderita DMG pada kehamilan sebelumnya
Pada penderita dengan faktor risiko tinggi seperti di atas :
Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan lebih awal yaitu pada usia
kehamilan 18-22 minggu
Jika hasilnya negatif maka pemeriksaan dapat diulang kembali pada
kehamilan 26-30 minggu
Diabetes Melitus Gestasional
Pembagian diabetes mellitus pada kehamilan:
1. DM yang memang sudah diketahui sebelumnya dan
kemudian menjadi hamil (DM hamil = DM progestasional).
Sebagian besar termasuk golongan IDDM (Insulin Dependent
DM)
2. DM yang baru saja ditemukan pada saat kehamilan (DM
Gestasional = DMG). Umumnya termasuk golongan IIDDM
(Non Insulin Dependent DM)
Komplikasi
Maternal : Neonatal :
Infeksi saluran kemih Prematuritas
Hidramnion Kematian intrauterin
Hipertensi kronik
Kematian neonatal
Preeklampsia
Kematian ibu Trauma lahir
Hipoglikemia
Fetal : Hipomagnesemia
Abortus spontan Hipokalsemia
Kelainan kongenital Hiperbilirubinemia
Insufisiensi plasenta Sindrom gawat napas
Makrosomia Polisitemia
Kematian intrauterin
Penatalaksanaan
1. Diet
Penanganan DMG yang terutama adalah diet,
dianjurkan diberikan 25 kalori/kgBB ideal, kecuali
pada penderita yang gemuk dipertimbangkan kalori
yang lebih mudah.
Cara yang dianjurkan adalah cara Broca yaitu BB ideal
= (TB-100)-10% BB.
Kebutuhan kalori adalah jumlah keseluruhan kalori
yang diperhitungkan dari:
Kalori basal 25 kal/kgBB ideal
Kalori kegiatan jasmani 10-30%
Kalori untuk kehamilan 300 kalori
Kebutuhan protein ibu hamil 1-1.5 gr/kgBB.
Pemantauan gula darah dilakukan pada :
Dianjurkan secara teratur minimal 2 kali
seminggu (ideal setiap hari, jika mungkin
dengan alat pemeriksaan sendiri di rumah).
Dianjurkan kontrol sesuai jadwal pemeriksaan
antenatal, semakin dekat dengan perkiraan
persalinan maka kontrol semakin sering.
Hb glikosilat diperiksa secara ideal setiap 6-8
minggu sekali.
Diabetes Melitus Gestasional
2. Insulin
Terapi insulin dimulai jika dengan terapi diet
selama 2 minggu kadar glukosa darah belum
mencapai normal yaitu
Kadar glukosa darah puasa di bawah 105 mg/dl
2 jam pp di bawah 120 mg/dl
Diabetes Melitus Gestasional
3. Penatalaksanaan Obstetri
Pantau ibu dan janin dengan :
Mengukur tinggi fundus uteri
Mendengarkan bunyi jantung janin
Memakai USG dan KTG (Kardiotokograf)
Nilai janin secara menyeluruh dengan skor Fungsi Dinamik Janin
Plasenta (FDJP)
Dilakukan dengan menilai :
USG
NST (Non-stress Test)
USG Doppler
Skor <5 merupakan tanda gawat janin
Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak kehamilan 36 minggu
Janin sehat (skor FDJP >9) dapat dilahirkan pada umur kehamilan
cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa
Penatalaksanaan Obstetrik Kehamilan Dengan DM
Tiroid
*Hipertiroid*
a. Definisi
Merupakan kelainan yang terjadi ketika
kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid
yang berlebihan dari kebutuhan tubuh
Insiden kehamilan dengan gejala klinik
tirotoksikosis atau hipertiroidisme adalah
1 : 2.000 kehamilan.
Hipertiroid
Patofisiologi
1. Peningkatan konsentrasi hCG
Peningkatan konsentrasi hCG

Merangsang kelenjar tiroid

Peningkatan sintesis hormon tiroid

Hipertiroid
Hipertiroid
2. Peningkatan ekskresi iodida

Peningkatan GFR

Pengeluaran iodin melalui ginjal

konsentrasi iodin plasma

Pembesaran kelenjar tiroid (kompensasi)

Hormon tiroid yang cukup (eutiorid)
Hipertiroid
3. Peningkatan TBG
Estrogen selama kehamilan

Peningkatan TBG (2 x normal)

Peningkatan ikatan tiroksin

Mekanisme umpan balik pelepasan TSH

TT4 (hormon tiroksin total) dengan FT4 normal
Hipertiroid
Penyebab Gejala Tanda Lab
Graves disease Intoleransi panas Takikardi >100 T4 dan FT4
BB menurun curah jantung TSH
Palpitasi tekanan nadi (+) anti tiroid
Berkeringat Oftalmiopati antibodi
Dermopati
Hiperemesis Mual muntah Dehidrasi T4,FT4 normal
gravidarum hebat atau sedikit
BB TSH normal
Gangguan
elektrolit
Mola hidatidosa Mual/muntah Toksemia T4, FT4
Perdarahan perkembangan TSH
trimester I bayi bhCG
Penatalaksanaan Hipertiroid
Dosis Efek / Komplikasi Pengawasan
Thionamides
Propylthiouracil 100 - 150 mg tiap 8 Ibu Tiap 4 minggu dan
(PTU) jam Skin rash menyesuaikan
Agranulositosis (0.5%) dengan terapi anti-
Hepatitis TFT tiroid
Methimazole 10-15 mg tiap 8 jam Fetus
(Tapazole) Fetus Hipotiroid
Adrenergic Blockers
Propranolol 20 - 40 mg tiap 6 jam Fetus Denyut Jantung
(Inderal) Intrauterine growth
Atenolol (Tenormin) 50 - 100 mg tiap hari retaration
Respiratory distress
Bradikardi
Hipoglikemia
Hipoterimia
Pembedahan
Thyroidectomy Ibu Sca++
Keguguran TFTs
Hipoparatiroid
Paralysis nervus laringeus
Komplikasi Hipertiroid
Maternal :
Resiko kelahiran prematur
CHF
Pre-eklampsia
Badai tiroid

Fetus :
Mortalitas
BBLR
Goiter pada janin
*Hipotiroid*
a. Penyebab
Autoantibodi (antithyroid peroxidase)
Tirotoksikosis graves

b. Diagnosis
Kadar Tiroksin (T4) bebas yang rendah
Kadar tirotropin yang meningkat
Hipotiroid
c. Insiden dalam kehamilan
Insiden kejadian hipotiroid adalah sekitar
2,5 %
Defisiensi kelenjar tiroid klinik ditemukan
pada 1,3 per 1.000 dan subklinis 23 per
1.000 orang.
Hipotiroid
d. Efek Hipotiroid Subklinis pada Hasil Akhir Kehamilan
Fungsi tiroid sangat bergantung pada cukup tidaknya
asupan iodin.
Defisiensi asupan iodin pada awal kehamilan
keadaan hipotiroid pada ibu.
Hipotiroid dengan gambaran klinik yang jelas
berhubungan dengan keadaan perinatal yang buruk.
Jika gangguan tiroid dapat diatasi sebelum terjadi
kehamilan perinatal dapat normal.
Hipotiroid
Ibu dengan keadaan hipotiroid :
1.Pertumbuhan anak <10 persentil
2.Beresiko terjadinya ketidakseimbangan
psikomotor
3.Persalinan prematur
4.Solusio plasenta
5.Perawatan bayi di NICU
Hipotiroid
e. Penatalaksanaan
Terapi pengganti yang digunakan adalah
Tiroksin
Dosis : 50-100 g per hari
Kadar serum tirotropin diukur setiap 4-6 minggu dan
dosis tiroksin ditingkatkan antara 25-50 g sampai
mencapai nilai normal.
Asupan iodin saat kehamilan yang dianjurkan
adalah 220 g/hari mempengaruhi
perkembangan neurologik janin.
Hipotiroid
f. Hipotiroid kongenital
Insiden : 1 di antara 4.000-7.000 bayi
75 % bayi dengan hipotiroid memiliki
kondisi agenesis kelenjar tiroid atau
dishormonogenesis sedangkan 10% lainnya
menderita hipotiroid transien.
Terapi : Pengganti tiroksin secara dini dan
agresif kecuali pada yang menderita
hipotiroid kongenital yang berat.
LO2.

KETUBAN PECAH DINI (KPD)


Ketuban Pecah Dini (KPD)
Selaput ketuban pecah dalam proses persalinan
Terdiri atas sel epitel, mesenkim, trofoblas yang terikat
erat dalam matrix kolagen
Berfungsi menghasilkan air ketuban dan melindungi
dari infeksi
KPD pada kehamilan prematur : pecah <37 minggu. 1%
pada wanita.
8-10% wanita aterm akan mengalami KPD
Disebabkan prostaglandin, sitokinin, protein hormon
yang mengaktifkan matrix degrading enzymes akibat
infeksi maupun peregangan selaput ketuban
Mekanisme
Normalnya : bagian inferior selaput ketuban akan menjadi
rapuh karena reaksi biokimia ditambah peregangan
berulang (krn kontraksi)
Faktor resiko terjadi KPD :
Kurangnya asam askorbat dalam komponen kolagen
Merokok kurang tembaga dan asam askorbat
periodontitis
Degradasi kolagen dimediasi metalloproteinase (MMP),
yang dihambat inhibitor
Menjelang persalinan, keseimbangan MMP dan inhibitor
lebih ke arah degradasi proteolitik
KPD pada kehamilan prematur : infeksi dari vagina,
polihidroamnion, inkompetensi serviks, solusio plasenta
Komplikasi
Persalinan prematur : segera setelah KPD. Semakin tua
umur kehamilan, makin cepat persalinan akan terjadi
Infeksi : korioamnionitis pada ibu; septikemia,
pneumonia, omfalitis pada janin, dapat terjadi setelah
ibu korioamnionitis. Infeksi lebih sering pada KPD
prematur
Hipoksia dan afiksia : oligohidroamnion tekan tali
pusat asfiksia dan hipoksia. Makin dikit amnion,
makin gawat
Sindrom deformitas janin : hambat pertumbuhan janin
prematur kompresi.
Tatalaksana
Diagnosis :
Cairan jernih keluar dari vagina yang kadang-kadang disertai
tanda persalinan. Coba gerakkan bagian terbawah janin atau
minta pasien batuk/mengedan
Inspekulo : cairan ketuban keluar dari kavum uteri. pH 7,1-7,3
Ultrasound : oligohidroamnion. Juga tentukan usia kehamilan
Tentukan ada tidaknya infeksi (>38C, ketuban keruh dan bau,
leukosit >15000/mm3. Infeksi intrauterin : takikardia
Nilai tanda-tanda persalinan dan skoring pelvik : kontraksi
teratur
Curiga KPD masuk RS. Jika stop keluar air ketuban, boleh
rawat jalan, kalo ada tanda persalinan aktif tetap rawat.
Jika ada korioamnionitis atau gawat janin : kehamilan
diterminasi
Tatalaksana
Konservatif
Rawat, beri antibiotika (ampicillin 4x500mg atau
eritromisin dan metronidazole 2x500mg selama 7 hari)
Jika <32-34 minggu : rawat selama ketuban keluar
32-37 minggu, belum inpartu, tdk infeksi, tes busa negatif :
dexamethasone, observasi infeksi dan kesejahteraan janin.
Terminasi pada minggu 37
32-37 minggu, inpartu, tanpa infeksi : tokolitik
(salbutamol), dexamethasone, induksi setelah 24 jam
Steroid diberikan utk kematangan paru janin
Periksa juga kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu
Betametason 12 mg dosis tungga selama 2 hari,
dexamethasone IM 5 mg 4x sehari
Tatalaksana
Aktif
Kehamilan >37 minggu : induksi dengan oxytocin.
Jika gagal : SC. Alternatif : misoprostol 25-50mcg
intravaginal max 4x/hari.
Jika (+) tanda infeksi : antibiotik dosis tinggi dan
akhiri kehamilan
Nilai skor pelvik :
<5 : pematangan serviks, kemudian induksi. Jika gagal,
terminasi dengan SC
>5 : induksi
Penatalaksanaan ketuban Pecah Dini

KETUBAN PECAH DINI


< 37 MINGGU > 37 MINGGU
Infeksi Tidak Ada Infeksi Infeksi Tidak Ada Infeksi
Berikan penisilin, Amoksisilin + Berikan penisilin, Lahirkan bayi
gentaminisin dan eritromisin untuk 7 gentaminisin dan
metronidazol hari metronidazol Berikan pemisilin
dan ampisilin
Lahirkan bayi Steroid untuk Lahirkan bayi
pematangan paru
ANTIBIOTIKA SETELAH PERSALINAN
Profilaksis Infeksi Tidak Ada Infeksi
Stop antibiotik Lanjutkan untuk 24 Tidak perlu antibiotik
48 jam setelah bebas
panas
Korioamnionitis (1-2%)
Infeksi bakteri korion, amnion dan cairan
ketuban. Dapat sepsis
Biasa oleh bakteri dari tractus urogenitalis ibu
(vagina, anus atau rectum)
Biasa pd lahir prematur, ketuban pecah lama
Gejala : demam, nadi cepat, keringat, uterus
lembek, cairan bau keluar vagina, asimptom.
Ditegakkan dengan PF, anamnesa, kultur
darah, cairan amnion.
Tatalaksana korioamnionitis
Pantau kesejahteraan janin (US atau
kardiotokografi)
Janin segera dilahirkan
Bila sudah meninggal : persalinan pervaginam (SC
sebabkan sepsis). Lakukan induksi
Beri antibiotika sedini mungkin; pilih spektrum
luas
Ampisillin 3x1g, gentamisin 5mg/kgBB/hari,
metronidazole 3x500mg
Berikan uterotonika : cegah mmasuknya bakteri
melalui pembuluh darah di dinding uterus
LO3.

KEHAMILAN DENGAN FAKTOR


RISIKO
Kehamilan dengan Faktor Risiko Lain
Usia ibu terlalu muda atau tua
Anemia
Perokok aktif
Alkohol
Kehamilan terlalu sering
Jarak kehamilan terlalu dekat
USIA
Kehamilan Remaja :
< 18 tahun memiliki resiko kehamilan dan persalinan yang
tinggi
Pasien sering anemia dan BBLR oleh karena :
Status sosial ekonomi rendah
Pendidikan kurang
Nutrisi yang buruk
Akses pelayanan antenatal kurang
Penyalah guna obat
Kehamilan Pada Usia TUA :
Primigravida Tua memiliki resiko kehamilan dan
persalinan tinggi oleh karena :
Hipertensi esensial
Diabetes Gestasional
Perdarahan antepartum
Sindrome Downs
Epidemiologi
Frekuensi ibu hamil dengan anemia di Indonesia relatif
tinggi yaitu 63,5%.
Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara
berkembang berkaitan dengan anemia dalam
kehamilan

Derajat Anemia pada Ibu Hamil


1. Hb 11 gr% : Tidak anemia
2. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3. Hb 7 8 gr% : Anemia sedang
4. Hb < 7 gr% : Anemia berat
Klasifikasi
Anemia Defisiensi Besi
akibat kekurangan zat besi dalam darah
Anemia Megaloblastik
karena kekurangan asam folik
Anemia Hipoplastik
disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang,
membentuk sel darah merah baru
Anemia Hemolitik
disebabkan penghancuran atau pemecahan sel
darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya.
Gejala dan Tanda
Lemah
Pucat
Mudah pingsan
Cepat lelah
Sering pusing
Mata berkunang-kunang
Malaise
Lidah luka
Nafsu makan turun (anoreksia)
Konsentrasi hilang
Nafas pendek (pada anemia parah)
Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda
Kebutuhan Fe selama kehamilan
300 gr janin dan plasenta
500 gr penambahan eritrosit ibu
Kebutuhan total 800 gr
Membutuhkan tambahan 2-3 mg besi/hari

Diagnosa
Pemeriksaan kadar Hb
Pemeriksaan sel darah tepi
Akibat Anemia Kehamilan
Trimester I Trimester II
Abortus Persalinan prematus
Missed Abortus Perdarahan antepartum
Kelainan kongenital Gangguan pertumbuhan
janin dalam rahim
Asfiksia intrauterin sampai
kematian
BBL rendah
Gestosis dan mudah
terkena infeksi
IQ rendah
Dekompensasio kodis
kematian ibu
Akibat Anemia Kehamilan
Saat inpartu Pascapartus
Gangguan his Atonia uteri perdarahan
Janin lahir dengan anemia Retensio plasenta
Ibu cepat lelah Perlukaan sukar sembuh
Gangguan perjalanan Mudah terjadi frbris
persalinan perlu tindakan puerperalis
operatif Gangguan involusi uteri
Kematian ibu tinggi
Pengaruh Rokok
ketika Anda merokok bayi dan plasenta adalah
kekurangan oksigen dan nutrisi
Plasenta kemudian menyebar lebih lanjut ke seluruh
rahim, mencoba mencari luas permukaan lebih rahim
dari yang untuk menarik oksigen dan nutrisi

Akibat Merokok pada Kehamilan


BBL rendah
Fungsi paru bayi yang rendah
Ketuban Pecah Dini
Menigkatkan resiko kehamilan ektopik, abruption
plasenta, plasenta previa
Pengaruh Alkohol
Janin berkembang memiliki toleransi sangat sedikit
untuk alkohol masalah yg serius
Mengganggu kemampuan untuk mendapatkan oksigen
yang cukup dan nutrisi untuk perkembangan sel normal
di otak dan organ tubuh lainnya

Fetal Alcohol Syndrome (FAS)


Adalah pola cacat mental dan fisik yang berkembang pada
beberapa bayi yang belum lahir ketika ibu minum alkohol
berlebihan selama kehamilan
FAS cacat yang serius
Akibat Alkohol pada Kehamilan
kecil ukuran tubuh dan berat badan rendah
pertumbuhan terlambat
cacat tulang rusuk dan tulang dada
tulang belakang melengkung dan dislokasi hip
membungkuk, menyatu, berselaput, atau hilang jari
tangan atau kaki
gerakan sendi terbatas
kepala kecil
abnormalitas wajah
kelopak mata terkulai
rabun
strabismus
Kehamilan Terlalu Sering
Beberapa risiko :
1. Perdarahan
2. Placenta previa dan plasenta akreta. Placenta previa adalah
kelainan letak plasenta yang seharusnya di atas rahim malah di
bawah, sehingga menutupi jalan lahir
3. Meningkatnya intervensi dalam persalinan seperti pemasangan
infus atau induksi (rangsangan) agar tanda persalinan muncul.
Induksi bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan atau
memecahkan kantung ketuban
4. Usia ibu yang terlalu tua juga menyebabkan risiko kecacatan
janin, komplikasi pada ibu (preeklampsia atau diabetes
gestasional)
5. Risiko bayi dilahirkan prematur akibat jaringan parut dari
kehamilan sebelumnya bisa menyebabkan masalah pada plasenta
bayi.
Jarak Kehamilan Terlalu Dekat
meningkatkan risiko : prematur dan bayi dengan berat
lahir rendah, keguguran, komplikasi dalam kehamilan,
pertumbuhan janin terhambat, kelainan plasenta,
perdarahan dalam persalinan, dsb.
Hal ini berkaitan dengan kesiapan organ-organ
reproduksi dan juga tubuh dalam menerima kehamilan
kembali

hasil penelitian terbaru : jarak kehamilan yang kurang


dari 1 tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya
autisme pada anak Anda yang berikutnya
LO4.

MALPOSISI DAN MALPRESENTASI


SERTA MANAJEMEN
Malposisi & Malpresentasi
Malposisi Presentasi belakang kepala dengan ubun-
ubun kecil tidak berada di segmen depan
Ubun-ubun kecil belakang
Ubun-ubun kecil kanan belakang
Ubun-ubun kecil kiri belakang
Ubun-ubun kecil melintang
Malpresentasi Presentasi yang bukan presentasi
belakang kepala
Presentasi puncak kepala
Presentasi dahi
Presentasi muka
Presentasi bokong
Presentasi bahu
PRESENTASI
Seksio Sesarea
Definisi: Suatu persalinan buatan, dimana
janin dilahirkna melalui suatu insisi pada
dinding perut & dinding rahim dengan syarat
rahim adalah keadaan utuh serta berat janin
di atas 500 gram
Indikasi Seksio Sesarea
a.Ibu : b.Bayi:
1) disporposi sefaloserviks 1) gawat janin
2) plasenta previa 2) prolapsus funikuli
3) letak lintang 3) primi gravida tua
4) tumor jalan lahir 4) kehamilan dengan DM
5) jaringan parut bekas sesarea yg 5) infeksi intra partum
tidak baik
6) Malpresentasi janin
6) incoordinat uterine action
7) pre eklampsia / eklampsia
8) solusio plasenta
9) infelsi intra partum
Kontra Indikasi
a. Janin mati atau berada dalam keadaan kritis,
kemungkinan janin hidup kecil. Dalam hal ini
tidak ada alasan untuk melakukan operasi.
b. Jalan lahir ibu mengalami infeksi yang luas
dan fasilitas untuk seksio sesaria ekstra
peritoneal tidak ada.
c. Kurangnya pengalaman dokter bedah dan
tenaga medis yang kurang memadai
Komplikasi seksio sesaria

1. Infeksi puerperal ( nifas )


Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum keadaan pembedahan sudah
ada gejala-gejala infeksi intra parfum atau ada faktor-faktor yang
merupakan gejala infeksi.
a. Infeksi bersifat ringan : kenaikan suhu beberapa hari saja.
b. Infeksi bersifat sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai
dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung.
c. Infeksi bersifat berat : dengan peritonitis septis ileus paralitik, hal ini sering kita
jumpai pada partus teriambat, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi
intraportal karena ketuban yang telah lama.
2. Perdarahan
3. Emboli pulmonal
4. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialisasi
terlalu tinggi.
5. Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang.
Ekstraksi Vakum
Indikasi untuk melakukan ekstraksi vakum:

Indikasi Ibu: Pada ibu dengan penyakit paru, jantung


Indikasi Anak : Gawat janin (masih kontroversi)
Indikasi waktu: kala II lama / persalinan lama

Kontra indikasi dalam melakukan ekstraksi vakum:


Faktor ibu:
- Pada ibu yang tidak dapat mengedan sama sekali- Rupture uteri imminens-
Panggul sempit / DKP
Faktor Janin:
- Janin preterm- Presentasi muka- Malposisi
Faktor Penolong:
- Tidak berpengalaman / keahlian kurang- Tidak mengetahui pasti dimana posisi
kepala janin- Indikasi yang tidak jelas
Komplikasi ekstraksi vakum:

Pada Ibu Pada Janin


Perdarahan
Trauma jalan lahir
infeksi
Eskoriasi kulit kepala
Sefalhematoma
Subgaleal hematom
Neksrosi kulit kepala
Kesimpulan
Kami telah mempelajari:
Penyulit pada kehamilan (hipertensi, pre-
eklampsia, eklampsia, HELLP syndrome, tiroid,
DM)
Ketuban pecah dini
Kehamilan dengan faktor risiko
Malpresentasi, malposisi, dan manajemennya
Saran
Sering dilakukan kontrol dan konsultasi
dengan dokter.
Perbaiki keadaan umum.
Pasien kemungkinan pre-eklampsia berat
terminasi kehamilan.
Thank
You