Anda di halaman 1dari 30

dr.

Didon MT, SpOG, MKes


Penyebab kematian ibu terbesar :
PEB (30%)
Mrp salah satu pembunuh utama ibu, dengan
rentang tingkat kejadian rata-rata antara 2-10%
dari kehamilan di seluruh dunia (WHO, 2015)
WHO memperkirakan kejadian preeklampsia
tujuh kali lebih tinggi di negara berkembang,
termasuk Indonesia (2,8% dari kelahiran hidup)
dibandingkan di negara maju (0,4%)

Perdarahan
Infeksi
Pre Eklampsia tanpa gejala berat
Tekanan darah 140/90 mmHg pada usia kehamilan > 20 minggu
Proteinuria +1 atau pemeriksaan protein kuantitatif menunjukkan
hasil >300 mg/24 jam

Pre Eklampsia Berat (PEB)


Tekanan darah >160/110 mmHg pada usia kehamilan > 20 minggu
Proteinuria menunjukkan +2 atau pemeriksaan protein kuantitatif
menunjukkan hasil >5 g/24 jam
Dapat disertai keterlibatan organ lain:
Trombositopenia (<100.000 sel/uL)
Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas
Sakit kepala, skotoma penglihatan
Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion
Edema paru dan/atau gagal jantung kongestif
Oliguria (< 500ml/24jam), kreatinin > 1,1 mg/dl
Early Onset < 34 mgg
Manifestasi klinis outcome
maternal dan fetal lebih berat
PEB Prognosis lebih buruk

Late Onset 34 mgg


Manifestasi klinis outcome lebih
baik dibanding early onset
Prognosis lebih baik dprd early
Superimposed preeklampsia pada hipertensi
kronik
Ibu dengan riwayat hipertensi kronik (sudah ada
sebelum usia kehamilan 20 minggu)
Proteinuria +1 atau trombosit <100.000 sel/uL pada
usia kehamilan > 20 minggu

Eklampsia
Kejang umum dan/atau koma
Ada tanda dan gejala preeklampsia
Tidak ada kemungkinan penyebab lain (misalnya
epilepsi, perdarahan subarakhnoid, dan meningitis)
Sering terjadi pada TM III, semakin sering mendekati
aterm, dan periode pasca partum
Faktor yang meningkatkan risiko terjadinya
preeklamsia
Risiko yang berhubungan dengan partner laki
Primigravida
Umur yang ekstrim : terlalu muda atau terlalu tua untuk kehamilan
Partner laki yang pernah menikahi wanita yg hamil dgn preeklamsia

Risiko yang berhubungan dengan riwayat penyakit terdahulu


dan riwayat penyakit keluarga
Riwayat preeklamsia
Hipertensi kronik
Penyakit ginjal
Obesitas
Diabetes gestational, diabetes mellitus tipe 1
Antiphospholipid antibodies dan hiperhomocysteinemia

Risiko yang berhubungan dengan kehamilan


Mola hidatidosa
Kehamilan ganda
Infeksi saluran kencing pada kehamilan
Hydrops fetalis
Tatalaksana
Tatalaksana Umum (Terapi simptomatik)
Pencegahan dan tatalaksana kejang
Bila terjadi kejang, perhatikan Airway, Breathing
(oksigen), dan Circulation (cairan intravena).
MgSO4 diberikan secara intravena kepada ibu dengan
eklampsia (tatalaksana kejang) dan preeklampsia
berat (pencegahan kejang).
Pada kondisi di mana MgSO4 tidak dapat diberikan
seluruhnya, berikan dosis awal (loading dose) lalu
rujuk ibu segera ke fasilitas kesehatan yang
memadai.
Lakukan intubasi jika terjadi kejang berulang dan
segera kirim ibu ke ruang ICU (bila tersedia) yang
sudah siap dengan fasilitas ventilator tekanan positif.
Antihipertensi
Ibu dengan hipertensi berat selama kehamilan
perlu mendapat terapi antihipertensi.
Jenis antihipertensi yang dapat digunakan
misalnya:
Ibuyang mendapat terapi antihipertensi di
masa antenatal melanjutkan terapi
antihipertensi hingga persalinan

Pemeriksaan penunjang tambahan :


Hitung darah perifer lengkap (DPL)
Golongan darah ABO, Rh
Fungsi hati (LDH, SGOT, SGPT)
Fungsi ginjal (ureum, kreatinin)
Profil koagulasi (PT, APTT, fibrinogen)
USG (terutama jika ada indikasi gawat
janin/pertumbuhan janin terhambat)
Pertimbangan persalinan/terminasi
kehamilan (Terapi definitif) :

Eklampsia bayi harus dilahirkan dalam 12


jam
Pada ibu dengan preeklampsia berat dgn uk
antara 34 dan 37 minggu, manajemen
ekspektan diperbolehkan jk tidak terdapat
perburukan pada ibu dan janin. Lakukan
pengawasan ketat
Pada ibu preeklampsia berat dgn kehamilan
aterm, lakukan terminasi
Pada ibu preeklampsia ringan atau hipertensi
gestasional hamil aterm, induksi persalinan
dianjurkan
Diagnosis
Hemolisis (LDH), peningkatan kadar enzim hati (SGOT
& SGPT), dan trombositopenia

Klasifikasi
a. Missisippi
Klas I : Trombosit 50 rb/ml
Serum LDH 600 rb IU/l
SGOT dan atau SGPT 40 IU/l
Klas II : Trombosit > 50 rb/ml sd 100 rb/ml
Serum LDH 600 rb IU/l
SGOT dan atau SGPT 40 IU/l
Klas III : Trombosit > 100 rb/ml sd 150 rb/ml
Serum LDH 600 rb IU/l
SGOT dan atau SGPT 40 IU/l
b. Tennesse
Klas lengkap :
Trombosit < 100 rb/ml
Serum LDH 600 rb IU/l
SGOT dan atau SGPT 70 IU/l
Klas tidak lengkap :
Bila ditemukan hanya satu atau dua tanda2
di atas

Tatalaksana
Lakukan terminasi kehamilan
Diagnosis
Sesak napas, hipertensi, batuk berbusa, ronki
basah halus pada basal paru pada ibu dengan
preeklampsia berat

Tatalaksana
Posisikan ibu dalam posisi tegak
Berikan oksigen
Berikan furosemide 40 mg IV
Bila produksi urin masih rendah (<30 ml/jam
dalam 4 jam), furosemid dapat diulang
Ukur keseimbangan cairan, batasi cairan yg
masuk
Yang dapat dilakukan :
Gaya hidup sehat
Konsumsi susu
Multivitamin (antioksidan)
Kurangi stress psikososial
Kontrol problem kesehatan kronis
Rencanakan kehamilan pada saat yang tepat
(Usia, jumlah)
Syukron
Matur Nuwun
Terima Kasih
Thank You
Xie-Xie