Anda di halaman 1dari 11

LEPTOSPIROSIS

DEFINISI
Merupakan suatu penyakit zoonosis yang disebabkan
oleh mikroorganisme genus Leptospira.

EPIDEMIOLOGI
Indonesia merupakan negara dengan insidens
leptospirosis tinggi yaitu peringkat ketiga dunia untuk
mortalitas akibat leptospirosis menurut International
Leptospirosis Society. Infeksi ini tersebar di wilayah
Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, & NTB dengan
insidens meningkat bersamaan dengan banjir. Orang yg
rentan terkena infeksi adalah petani, peternak, pekerja
tambang, pekerja rumah potong hewan, penebang
kayu, dan dokter hewan.
Patogenesis
Infeksi dimulai apabila terjadi kontak kulit atau
selaput lendir manusia yg luka dengan air,
tanah, atau lumpur yang tercemar air kemih
binatang yg terinfeksi leptospira. Minum air
yang terkontaminasi juga menyebabkan
masuknya leptospira. Leptospira yang masuk
menyebar ke organ dan jaringan tubuh
melalui darah, setelah itu terjadi multiplikasi
sehingga leptospira dpt terdeteksi dlm darah
& cairan serebrospinal.
Cont.
Leptospira dapat mencederai dinding pembuluhdarah
kecil. Vaskulitis menyebabkan kebocoran plasma serta
ekstravasasi sel, termasuk perdarahan dpt muncul.
Vaskulitis merupakan dasar dari berbagai manifestasi
klinis leptospirosis. Kelainan spesifik organ antara lain,
sbb:
Ginjal : nefritis interstisial, tubular nekrosis akut, gagal
ginjal;
Hati : nekrosis setrilobuler fokal, infiltrasi sel limfosit,
proliferasi sel Kupfer, kolestasis, dapat ditemukan
leptospira;
Jantung: kelainan epikardium, endokardium, miokardium
berupa edema interstisial & infiltrasi sel radang.
Cont.
Otot rangka: nekrosis, vakuolisasi, kehilangan striata,
nyeri otot akibat invasi langsung, dpt ditemukan
antigen leptorpira;
Mata : dapat masuk bilik mata anterior selama fase
leptospira, uveitis;
Pembuluh darah : vaskulitis;
SSP : dpt ditemukan di cairan serebrospinal,
meningitis.
Manifestasi Klinis
Masa inkubasi leptospirosis sekitar 7-14 hari (rata-rata
10 hari) dgn perjalanan penyakit yg dibagi mnjdi 3
fase yaitu fase leptospiremia, fase imun, & fase
resolusi.
1. Fase leptospiremia (4-9 hari), dengan gejala demam
mendadak, menggigil, nyeri kepala terutama regio
frontal, mialgia, nyeri tekan otot (terutama m.
garstrocnemius), hipersetesia kulit, mual, muntah,
diare, penurunan kesadaran. Pemfis ditemukan
bradikardi relatif, ikterus srta injeksi konjunctiva &
fotofobia pada hari 3-4. terkadang ditemukan ruam
kulit, splenomegali, hepatomegali & limfadenopati.
2. Biasanya (tdk selalu) , setelah demam 7 hari akan diikuti
keadaan bebas demam 1-3 hari sebelum kemudian demam
kembali. Fase ini disebut fase imun yg ditandai dengan
peningkatan titer antibodi, demam hingga 40C, menggigil,
kelemahan umum, nyeri leher, perut, otot kaki, kerusakan
gnjal, hati, uremia, ikterus, perdarahan (epistaksis, injeksi
konjunctiva, perdarahan gusi). Pada fase ini dapat terjadi
meningitis.
Leptospirosis berat (weil disease)
1. ikterus, disfungsi ginjal, & diatesis hemoragik
2. Biasanya setelah 4-9 hari, ketiga gejala tsb muncul :
- Ikterus : jelas terlihat, hepatomegali, & nyeri kuadran
kanan atas, splenomegali (20%)
- Gagal ginjal: nekrosis tubular akut, oliguria, anuria;
- Perdarahan : epistaksis, petekie, purpura, ekimosis.
Apabia ada keterlibatan paru, pasien mengalami batuk,
sesak napas, nyeri dada & sputum berdarah.
Diagnosis
Anamnesis : riwayat pekerjaan beresiko tinggi
(bepergian, ke hutan, rawa, sungai, atau petani), gejala
klinis demam tiba2, nyeri kepala terutama frontal, mata
merah, fotofobia, keluhan gastrointestinal, dll.
Pemfis : demam, bradikardi, nyeri tekan otot, rum kulit,
hepatomegali.
Lab:
darah lengkap : leukositosis/normal, neutrofilia, LED;
Urinalisis : proteinuria, leukosituria & sedimen sel toraks;
Kimia darah : bila ada hepatomegali, bilirubin darah &
transaminase . Apabila ada komplikasi ginjal dpt
terjadi BUN, ureum & kreatinin;
Kultur : spesimen darah/ LCS pada fase leptospiremia;
Serologi : microscopic agglutination test (MAT) ,
macroscopic slide agglutination test (MSAT),
polymerase chain reaction (PCR), silver stain,
fluorescent antibody stain, & mikroskop lapang
pandang gelap.
Tata laksana
Tatalaksana suportif : atasi dehidrasi, hipotermi,
perdarahan, gagal ginjal;
Terapi antibiotik:
indikasi Regimen obat Dosis

Leptospirosis -Doksisiklin -2 x 100 mg


ringan -Ampisilin - 4x 500-750 mg
-Amoksisilin -4x 500 mg
Leptospirosis -Penisilin C -1,5 jt unit/6 jam (IV)
sedang/berat -Ampisilin -1 gram/ 6 jam (IV)
-Amoksisilin -1 gram/ 6 jam (IV)
Kemoprofilaksis Doksisiklin 200 mg/ minggu
Prognosis
Tergantung keadaan umum pasien, usia,
virulensi leptospira.
Jika disertai ikterus biasanya penyakitnya
sudah berat.