Anda di halaman 1dari 14

Syok Anafilaksis

Oleh kelompok:

1. Santi dwi h

2. Suciati ningsih

3. Dwi yuda utama

4. Liyon galra
Definisi

Syok anafilaktik adalah reaksi anafilaksis yang disertai hipotensi dengan atau tanpa
penurunan kesadaran. Reaksi anafilaktoid adalah suatu reaksi anafilaksis yang terjadi
tanpa melibatkan antigen-antibodi kompleks. Karena kemiripan gejala dan tanda
biasanya diterapi sebagai anafilaksis.
Anafilaksis adalah reaksi alergi umum dengan efek pada beberapa sistem organ terutama
kardiovaskular, respirasi, kutan dan gastro intestinal yang merupakan reaksi imunologis
yang didahului dengan terpaparnya alergen yang sebelumnya sudah tersensitisasi.
Klasifikasi

1. Lokal : reaksi anafilaktik lokal biasanya meliputi urtikaria serta angioedema pada
tempat kontak dengan antigen dan dapat merupakan reaksi yang berat tetapi jarang
fatal.
2. Sistemik : reaksi sistemik terjadi dalam tempo kurang lebih 30 menit sesudah kontak
dalam sistem organ.
Etiologi

Syok anafilaktik sering disebabkan oleh obat, terutama yang diberikan intravena seperti
antibiotik atau media kontras. Obat-obat yang sering memberikan reaksi anafilaktik
adalah golongan antibiotik penisilin, ampisilin, sefalosporin, neomisin, tetrasiklin,
kloramfenikol, sulfanamid, kanamisin, serum antitetanus, serum antidifteri, dan
antirabies. Alergi terhadap gigitan serangga, kuman-kuman, insulin, ACTH, zat
radiodiagnostik, enzim-enzim, bahan darah, obat bius (prokain, lidokain), vitamin,
heparin, makan telur, susu, coklat, kacang, ikan laut, mangga, kentang, dll juga dapat
menyebabkan reaksi anafilaktik.
Ada yang menyebutkan beberapa golongan alergen yang dapat menimbulkan reaksi
anafilaksis, yaitu makanan, obat-obatan, bisa atau racun serangga dan alergen lain yang
tidak bisa di golongkan
Gejala Manifestasi klinis
Sedang 1. Rasa kesemutan serta hangat pada bagian perifer, dan dapat disertai dengan perasaan
penuh dalam mulut serta tenggorok.
2. Kongesti nasal
3. Pembengkakan periorbital
4. Pruritus
5. Bersin bersin dan mata yang berair

Sedang 1. Rasa hangat


2. Cemas
3. Gatal gatal
4. Bronkospasme
5. Oedem saluran nafas atau laring dengan dispnea
6. Batuk serta mengi
Berat Reaksi sistemik yang berat memiliki onset mendadak dengan tanda tanda serta gejala
yang sama seperti diuraikan diatas dan berjalan dengan cepat hingga terjadi
bronkospasme, oedem laring, dispnea berat, serta sianosis. Disfagia (kesulitan menelan),
kram abdomen, vomitus, diare dan serangan kejang kejang dapat terjadi. Kadang
kadang timbul henti jantung dan koma.
Pemeriksaan Diagnostik

Skin tes
Kadar komplemen dan antibody

Pelepasan histamin oleh lekosit in vitro


Radio allergo sorbent test ( RAST )
Hitung eosinofil darah tepi
Komplikasi

1. Henti jantung (cardiac arrest) dan nafas.


2. Bronkospasme persisten.

3. Oedema larynx (dapat mengakibatkan kematian).


4. Relaps jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).
5. Kerusakan otak permanen akibat syok.

6. Urtikaria dan angoioedema menetap sampai beberapa bulan


Pengobatan Syok Anafilaktik

Salah satu pengobatan yang diberikan pada pasien syok anafilaktik adalah suntikan
adrenalin. Suntikan adrenalin harus segera diberikan jika reaksi alergi disertai gejala
seperti kesulitan bernapas dan kehilangan kesadaran. Pastikan untuk memindahkan
sumber alergi, seperti sengat lebah, sebelum memberikan pertolongan lanjutan kepada
penderita.

Suntikan adrenalin dapat membantu mengurangi pembengkakan, melancarkan saluran


udara sehingga memudahkan pernapasan, serta meningkatkan tekanan darah pasien.
Pencegahan Syok Anafilaktik

Kenali alergen anda dengan melakukan tes alergi di rumah sakit atau klinik terdekat.
Buat dan bawalah selalu obat-obatan serta catatan kecil berisi daftar alergen anda dan
apa yang harus dilakukan oleh orang di sekitar anda, termasuk dokter anda, jika
serangan syok anafilaktik terjadi. Selalu perbarui persediaan obat-obatan anda agar
terhindar dari kekurangan obat saat situasi darurat terjadi.
Hindari juga makanan atau pemicu alergi lain yang dapat menimbulkan reaksi alergi
dengan cara membaca label keterangan pada kemasan makanan, menggunakan losion
antiserangga, dan mengonsumsi antibiotik jenis lain yang tidak menyebabkan alergi.
Terapi Yang Digunakan

Jika pasien dalam keadaan henti jantung, resusitasi kardiopulmoner harus segera
dilakukan. Oksigen diberikan dengan konsentrasi yang tinggi selama pelaksanaan
resusitasi kardiopulmoner atau kalau pasien tampak mengalami sianosis, dispnea atau
mengi.
Epinephrine dalam bentuk larutan dengan pengenceran 1:1000 disuntikkan subkutan
pada ekstrimitas atas atau paha dan dapat diikuti dengan pemberian infuse yang
kontinu. Antihistamin dan kortikosteroid dapat pula diberikan untuk mencegah
berulangnya reaksi dan urtikaria serta angiodema.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola Nafas Tidak Efektif Berhubungan Dengan Spasme Otot Bronkeolus .
2. Gangguan Perfusi Jaringan, Berhubungan Dengan Penurunan Curah Jantung Dan Vasodilatasi
Arteri.
3. Intoleransi Aktivitas Berhubungan Dengan Kelemahan Umum.
4. Gangguan Integritas Kulit Berhubungan Dengan Peningkatan Produksi Histamine Dan
Bradikinin Oleh Sel Mast.
5. Resiko Ketidakseimbangan Volume Cairan Berhubungan Dengan Peningkatan Kapasitas
Vaskuler.
DX .1
TUJUAN : MEMPERTAHANKAN POLA NAFAS EFEKTIF PASIEN
KH : Setelah Dilakukan Tindakan Keperawatan Selama X 24 Jam Pasien Mampu
Mempertahankan Pola Pernapasan Efektif Dengan Jalan Nafas Yang Paten.
INTERVENSI KEPERAWATAN :
1. Pastikan Tidak Terdapat Benda Atau Zat Tertentu Atau Gigi Palsu Pada Mulut Pasien
2. Letakkan Pasien Pada Posisi Miring, Permukaan Datar Dan Miringkan Kepala Pasien
3. Lakukan Penghisapan Sesuai Indikasi
DX. 2
TUJUAN : Memperbaiki Perfusi Jaringan Pasien
KH : Setelah Dilakukan Tindakan Keperawatan Selama X 24 Jam :
- Kulit Pasien Hangat.
- Tanda Vital Dalam Batas Normal.
- Pasien Sadar Atau Berorientasi.
INTERVENSI KEPERAWATAN :
Selidiki Perubahan Tiba Tiba Atau Gangguan Mental Kontinu Contoh Cemas, Bingung Letargi,
Pingsan.
Lihat Kulit Apakah Pucat, Sianosis, Belang, Kulit Dingin Atau Lembab, Catat Kekuatan Nadi Perifer.
Pantau Pernapasan, Catat Kerja Pernapasan.
DX. 3
TUJUAN : Peningkatan Toleransi Aktivitas
KH : Setelah Dilakukan Tindakan Keperawatan Selama X 24 Jam :
Pasien Mencapai Peningktan Toleransi Aktivitas Yang Dapat Di Ukur.
INTERVENSI KEPERAWATAN :
Periksa Tanda Vital Sebelum Dan Segera Setelah Aktivitas
Catat Respon Cardiopulmonal Terhadap Aktivitas .
Kaji Penyebab Kelemahan
Evaluasi Peningkatan Intoleran Aktivitas.