Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sungai . merupakan sungai utama yang membentang di dengan bentuk morfologi yang
berliku-liku dan alur sungai relatif tidak stabil. Perubahan bentuk sungai Batanghari sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
Jenis tanah pada tebing-tebing sungai yang tidak mendukung kestabilan tebing
Faktor morfologi sungai yang dinamis menimbulkan gerakan yang lateral yang terjadi dan sering
menimbulkan erosi tebing dan longsor
Meningginya gelombang sungai akibat meningkatnya perkembangan lalu lintas transportasi sungai
sehingga tebing sungai terkikis dan rusak
Terjadinya arus banjir pada beberapa daerah yang merupakan berkembangnya erosi sehingga
menambah hancurnya tebing sungai.
Sungai . memiliki anak-anak sungai yang juga berpotensi menimbulkan bencana, karena anak sungai
tersebut sangat dekat dengan pemukiman masyarakat dan jalur akses lalulintas transportasi.

2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penulisan tugas akhir ini adalah bagaimana cara
melakukan perhitungan perencanaan sheet pile baja sebagai struktur perkuatan
tebing agar struktur dapat berkerja dengan baik dan mendapatkan ukuran dimensi
profil yang tepat.
3. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dari penulisan ini adalah :
Merencanakan perkuatan tebing sungai dengan menggunakan turap sheet pile baja berangkur.
Mendapatkan ukuran profil sheet pile baja yang tepat untuk digunakan pada turap yang
direncanakan.
Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mendapatkan teknis pelaksanaan
pembangunan struktur penahan tanah dengan menggunakan sheet pile baja, berdasarkan
literatur pustaka.

4. Batasan Masalah
Batasan masalah pada penulisan tugas akhir ini meliputi hal-hal sebagai berikut :
Perhitungan analisis gaya yang bekerja pada turap.
Perhitungan dimensi profil turap dan diameter baja angkur.
Tidak meninjau metode pemancangan sheet pile dan angkur
Tidak melakukan pengujian laboratorium

5. Metodologi Penulisan
Penulisan tugas akhir ini memakai metode analisa perhitungan menggunakan
buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang ditinjau dan pengambilan
data dari konsultan supervisi berupa data tanah, data sondir dan spesifikasi
sheet pile baja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Uraian Umum
Dinding turap adalah dinding vertikal relatif tipis yang berfungsi kecuali untuk menahan
tanah, juga berfungsi untuk menahan masuknya air kedalam lubang galian. Karna pemasangan
yang mudah dan biaya pelaksanaan yang yang relatif murah, turap banyak digunakan pada
pekerjaan-pekerjaan, seperti:
Penahan tebing galian sementara.
Bangunan-bangunan di pelabuhan.
Dinding penahan tanah.
Bendungan elak, dan lain-lain.
Bila tanah yang ditahan dangkal, maka cukup digunakan turap kantilever. Namun, bila
kedalaman tanah yang ditahan sangat dalam, maka harus digunakan turap yang diangker. Dinding
turap tidak cocok untuk menahan tanah yang sangat tinggi, karena akan memerlukan luas tampang
bahan turap yang besar. Selain itu, turap juga tidak cocok digunakan pada tanah yang
mengandung banyak batuan-batuan, karena menyulitkan pemancangan.
Definisi tanah
Menurut Hardiyatmo, H. C, 2002 adalah tanah di alam
terdiri dari campuran butiran-butiran mineral dengan atau tanpa
kandungan bahan organik. Tanah berasal dari pelapukan batuan
yang prosesnya dapat secara fisik maupun kimia. Diantara
faktorfaktor yang mempengaruhi struktur tanah adalah bentuk,
ukuran, komposisi mineral dan butiran tanah serta sifat dan
komposisi dari air tanah.
Tanah Granuler
Tanah Granuler, seperti: Pasir, kerikil, batuan, dan
campurannya, mempunyai sifat-sifat teknis yang sangat baik.
Sifat-sifat tanah tersebut, antara lain:
1.Merupakan material yang baik untuk mendukung bangunan
dan badan jalan.
2.Merupakan tanah yang baik untuk tanah urug pada dinding
penahan tanah.
3.Tanah yang baik untuk timbunan.
4.Bila tidak dicampur dengan tanah kohesif, tidak dapat
digunakan sebagai bahan tanggul, bendungan, kolam, dan lain-
lain karena permeabilitasnya besar.
Tanah Kohesif
Tanah kohesif, seperti : Lempung, lempung
belanau, lempung berpasir atau berkerikil yang sebagai besar
butiran tanahnya terdiri dari butiran halus. Kuat geser tanah
jenis ini ditentukan terutama dari kohesinya. Tanah-tanah
kohesif, umumnya mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
Kuat geser rendah
Bila dasarnya bersifat plastis dan mudah mampat (mudah
turun)
Menyusut bila kering dan mengembang bila basah
Berkurang kuat gesernya, bila kadar air bertambah
Berkurang kuat gesernya bila struktur tanahnya terganggu
Berubah volumenya dengan bertambahnya waktu akibat
rangkak (creep) pada beban yang konstan
Merupakan material kedap air
Material yang jelek untuk tanah urug, karena menghasilkan
tekanan lateral yang tinggi.
Tekanan Tanah Lateral
Tekanan tanah lateral adalah gaya yang
ditimbulkan oleh akibat dorongan tanah di belakang struktur
penahan tanah. dua macam tekanan lateral batas, yaitu:
Tekanan Tanah Aktif (Pa)
Tekanan Tanah Pasif (Pp)

Tekanan Tanah Diam ( Po )


Tekanan tanah dikatakan diam apabila tidak terjadi
gerakan pada dinding atau tidak diperkenankan
bergerak. Besarnya koefisien tekanan tanah diam
tergantung pada jenis tanahnya :

NO JENIS TANAH Ko

1 Pasir padat 0,35

2 Pasir lepas 0,45

3 Lempung normally consolidated 0,4 0,8

4 Lempung ver consolidated 0,8 2,0


Tekanan Tanah Akibat Beban
Beban yang bekerja baik pada sisi tanah ataupun pada sisi
galian akan menyebabkan tambahan tekanan lateral pada
dinding. Beban yang bekerja dapat berupa :
1.Beban Titik
Beban titik dapat berupa tiang-tiang lampu atau rambu.

Diagram tekanan tanah


akibat beban titk
2. Beban Garis
Didalam praktek, Beban garis dapat berupa
dinding beton, pagar, saluran yang terletak di
dalam tanah dll.

Tekanan tanah lateral akibat


beban garis
3. Beban Jalur
Beban jalur dapat berupa jalan raya, jalur
kereta api, atau timbunan tanah yang sejajar
dengan dinding penahan tanahnya.

Diagram tekanan tanah


akibat beban jalur
Tekanan Pengaruh Air Tanah
Stabilitas suatu dinding penahan tanah tidak
hanya bergantung pada tekanan tanah yang bekerja
saja akan tetapi juga pada tekanan air tanah yang
bekerja pada dinding tersebut.

Diagram tegangan aktif memperhitungkan pengaruh air tanah


A

H1 Tegangan Tanah Aktif

Muka Air Tanah B C

H Tegangan Air

H2

D E F
Turap kayu
digunakan untuk dinding penahan
tanah yang tidak begitu tinggi,
karena tidak kuat menahan beban-
beban lateral yang besar.

Turap beton
merupakan balok-balok beton yang
telah dicetak sebelum dipasang
dengan bentuk tertentu. Balok-balok
turap dibuat saling mengkait satu
sama lain. Masing-masing balok
kecuali dirancang kuat menahan
beban-beban yang bekerja pada
turap, juga terhadap beban-beban
yang akan bekerja pada waktu
pengangkatannya.
Turap baja
sangat umum digunakan, baik digunakan untuk
bangunan permanen maupun sementara, karena
lebih menguntungkan dan mudah penanganannya.
Keuntungan-keuntungannya antara lain:
Turap baja kuat menahan gaya-gaya
benturan pada saat pemancangan.
Bahan turap relatif tidak begitu berat.
Turap dapat digunakan berulang-ulang.
Turap baja mempunyai keawetan yang
tinggi.
Penyambungan mudah, bila kedalaman
turap besar.
Jenis dan Metode Konstruksi Turap
Pada prinsipnya, perencanaan dinding turap dapat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
Dinding kantilever (cantilever walls)
Dinding berjangkar (anchored walls)

Dinding turap kantilever


Yang dinamakan dinding turap kantilever adalah dinding penahan tanah yang tidak
menggunakan jangkar.
Dinding turap kantilever diperoleh dengan memancangkan turap tersebut pada suatu kedalaman
tertentu.

Dinding Turap Berjangkar


Pada dinding turap berjangkar , dikenal adanya sistem
penjangkaran yang ikut menahan tekanan-tekanan yang bekerja pada
dinding. Untuk analisis dinding turapnya sendiri, dikenal adanya dua
metode, yaitu
Dinding turap dengan perletakan bebas (free support method)
Dinding turap dengan perletakan jepit (fixed support method)
Dinding Turap Berjangkar Dengan Perletakan Bebas
Anggap-anggapan yang diambil dalam perancangan dinding turap dengan
perletakan bebas adalah :
Dinding turap mempunyai kekuatan yang cukup baik dibandingkan dengan tanah
disekelilingnya.
Tekanan tanah yang bekerja pada dinding turap dihitung berdasarkan kondisi rankine
atau coulomb.
Dinding turap bebas berotasi pada jangkar, tetapi tidak diperkanankan terjadi
pergerakan lateral.
Perletakan pada kedalaman d mempunyai momen = 0, hal ini berarti bahwa penetrasi
dari dinding tidak cukup dalam.

Dinding Turap Berjangkar Dengan Perletakan Jepit


Anggapan-anggapan yang diambil dalam metode ini adalah
penetrasi dari dinding turap cukup dalam sehingga perletakan yang
terjadi berfungsi sebagai jepit.
Penjangkaran
Penambahan
Timbunan 2 m

Blok Beton 100 x


100 x 100
Perencanaan Tiang
Pancang 40/40 Perencanaan
-20,
L=50 cm
Perencanaan

50
Pemancangan Sheet Besi Klem
Pemancangan Sheet SLINK 1"
Pile

100
Pile

50
Dilas

20
100

Tipe penjangkaran bila dilihat dari bentuk


konstruksinya, dibedakan sebagai berikut :
Blok beton menerus atau setempat (deadmen
anchorage), tahanan yang diperoleh merupakan
hasil mobilisasi tekanan pasif tanah.
Tiang pancang (braced piles) yang digunakan
apabila ditemukan adanya lapis tanah lunak yang
cukup tebal.
Dijangkarkan pada lapisan tanah (soil anchor)
atau pada lapisan batuan (rock anchor).
Dinding turap berfungsi sebagai deadmen.
Dijangkar pada existing structure.
Lokasi Jangkar Dan Panjang Penjangkaran
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi dan panjang
Penjangkaran adalah :
Segitiga gelincir aktif (active sliding wedge) tidak berpotongan dengan bidang
gelincir pasif.
Deadmen harus diletakkan di dalam bidang kelongsoran maksimum yang
mungkin terjadi.
Bab III
METODOLOGI PERENCANAAN

MULAI

STUDI LITERATUR

RUMUSAN MASALAH

PENGUMPULAN DATA

DATA PRIMER DATA SEKUNDER


Lokasi Pekerjaan Gambar Kerja
Foto Dokumentasi Data Penyelidikan Tanah
Elevasi Muka Air Data Topografi

PENGOLAHAN DATA
Tidak
Ya
PERHITUNGAN DESAIN TURAP BAJA:
Potongan Melintang Sungai
Diagram Tekanan Tanah Yang Terjadi
Perhitungan Tekanan Tanah
Perhitungan Panjang Dan Desain Profil Sheet Pile

KESIMPULAN/ SARAN

SELESAI
Lokasi Titik sungai Tembuku
Gambar : Sketsa Potongan Melintang Dinding Turap Sungai Tembuku

Gebalan rumput

Turap Baja

Tanah / Pasir
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
Perencanaan Turap
Lokasi perencanaan turap adalah sepanjang Sungai Tembuku. Berdasarkan
pengamatan dilapangan, turap yang akan dihitung adalah yang menerima atau
mendukung beban maksimal, yakni lokasi dimana bagian daratan dari turap
terdapat tambahan-tambahan beban yang terdiri dari beban terbagi rata, beban
titik dan jalan. b= m a= m q (t/m)

Muka tanah

Angker

Muka tanah
y

D
Konstuksi Turap dan
tinjauan perencanaan
dinding Turap

Gambar : Denah lokasi penelitian


Pemilihan Tipe Konstruksi Turap
Jl. Raden fatah Sijenjang

Anggapan-anggapan yang dipakai:


Elevasi air pada kondisi banjir = 11,35 m
Elevasi top sheet pile rencana = 11,75 m
Elevasi jalan raya/tanah tertinngi = 13,00 m
Elevasi dasar sungai = 5,61 m
Dari data diatas maka diketahui panjang sheet pile (h) yang di butuhkan untuk
menahan tanah adalah:
h = Elevasi top sheet pile Elevasi dasar sungai
h = 11,75 5,61 = 6,14 m
Perencanaan desain sheet pile
Dalam perencanaan dinding
Jalan
Timbunan
turap menggunakan sheet pile,
perlu diketahui dasar penentuan
lokasi titik pemancangan sheet
pile tersebut. Gambar ilustrasi
Galian
disamping menjelaskan
beberapa konsep dasar
Dasar galian
perencanaan turap.
Adapun konsep dasar yang
dipakai pada penelitian ini
adalah:

1. Luas penampang melintang sungai setelah dipancang harus lebih besar


atau sama dengan luas penampang melintang sungai sebelum dipancang.
2. Desain perencanaan tinggi top sheet pile harus mempunyai tinggi jagaan
diukur pada kondisi elevasi muka air sungai tertinggi.
Anggapan-anggapan diatas dipakai sebagai antisipasi dari meluapnya
air sungai pada saat kondisi banjir, agar nantinya konstruksi dapat bekerja
dengan maksimal.
Perhitungan Konstruksi
Dari data penyelidikan tanah di dua titik lokasi dengan
menggunakan bor mesin, sample tabung diambil 2 tabung per titik
dengan kedalaman yang berbeda. Dimana pengambilan sample pada
titik BM1 pada kedalaman 9,50-9,90 m dan 15,50-15,90 m. Pada titik
BM2 diambil pada kedalaman 6,50-6,90 m dan 15,50-15,90 m. Untuk
melakukan perhitungan dalam perencanaan turap baja maka data
yang digunakan adalah BM2, dimana kedalaman sample tabung yang
diambil sesuai dengan perkiraan kedalaman perencanaan turap,
sedangkan untuk sudut geser () diperoleh melalui korelasi nilai
NSPT terhadap parameter tanah.
Tabel 4.1 Data hasil penyelidikan tanah dengan bor mesin
BM 1 BM 2
Tb 1 Tb 2 Tb 1 Tb 2
Hasil Uji
9,50-9,90 15,50-15,90 6,50-6,90 15,50-15,90
M/MT M/MT M/MT M/MT
(t/m3) 1,482 1,544 1,364 1,535
e 1,1586 1,2076 0,9368 1,2048
w (%) 29,73 18,67 50,41 18,14
wL (%) 35,4 17,9 44,95 16,8
Ip (%) 16,80 8,15 23,32 8,02
c (kg/cm2) 0,05 0,06 0,04 0,04
(derajat) 37o37'3" 33o41'43" 31o30'12" 39o2'46"
Cc (mm) 0,21 0,24 0,19 0,2
Cv (cm2/det) 5,27 x 10-03 4,80 x 10-03 5,62 x 10-03 4,80 x 10-03
Gs 2,61 2,62 2,5 2,62
K (cm2/det) 3,15 x 10-03 2,48 x 10-03 3,57 x 10-03 3,25 x 10-03
% lolos # 200 50,18 7,70 98,87 6,98
Jalan
Pada gambar disamping dan
tabel 4.1, posisi tanah lapis 1 terdapat
dikedalaman 0,00 MT s/d 7,39 MT pada
dasar galian, sedangkan tanah lapis 2
terdapat dikedalaman 7,39 MT s/d 15,90
Dasar galian
MT. Dilihat dari data bor log (data
terlampir), diketahui:

hi (m) 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30

NSPT 2 3 7 13 15 17 29 33 42 51

(o) 25 28 28 35 35 35 35 38 38 38

Dari data tabel diatas maka didapat sudut geser sebagai berikut:

tanah lapis 1 = 28o

tanah lapis 2 = 35o

Pengambilan nilai sudut geser terkecil merupakan asumsi dari semakin kecil nilai sudut
geser yang terjadi maka semakin besar nilai koefisien tekanan tanah yang didapatkan.
Pada penelitian ini analisis gaya yang bekerja pada turap akan dihitung berdasarkan 2
(dua) kondisi:
- Kondisi level air di depan dan belakang turap sama tinggi.
- Kondisi tidak ada air di depan turap.

1. Kondisi level air di depan dan belakang turap sama tinggi

Turap kondisi air dimuka dan


belakang turap sama tinggi
Muka Air

Jangkar

Sheet pile

Dasar galian

Tegangan yang bekerja


Perhitungan tekanan tanah.
Adapun gaya- gaya yang bekerja pada turap:
- Berat tanah itu sendiri, dimana tanah timbunan atau tanah yang berada diatas elevasi turap,
dianggap menjadi beban merata tambahan.
- Beban lajur , yaitu dengan memperhitungkan berat dari kendaraan.

q = 1,614 t/m2

1 2
A T
Beban-beban yang bekerja pada turap
P = 2,889 t/m
Pa = 16,378 t/m
total

z = 3.03
3 4 6
Dasar Galian 3,595 t/m2
5 2,699 t/m2
o

y = 0,514 m
Moment ke
Lengan ke A
No Tekanan Tanah Lateral Total A
(t/m) (m) (t.m)

1 0,583 x 0,4 = 0,233 -0,73 -0,170


2 0,5 x( 0,769 - 0,583 )x 0,4 = 0,037 0,66 0,025
3 0,769 x 5,74 = 4,414 2,34 10,329
4 0,5 x 3,595 - 0,769 x 5,74 = 8,111 3,29 26,684
5 0,5 x 0,514 x 2,699 = 0,694 5,43 3,766
6 P = 2,889 2,18 6,298
Jumlah = 16,378 d1Pa = 46,932
2. Kondisi tidak ada air di depan turap
Turap kondisi air dimuka dan
belakang turap sama tinggi
q = 1,614 t/m2

Jangkar

Sheet pile

Dasar galian

Tegangan yang bekerja


Hitungan tekanan tanah lateral dan momen terhadap A, diperlihatkan pada
gambar dibawah ini.

q = 1,614 t/m2

1 2
A T

P7 = 2,889 t/m

Beban-beban yang bekerja pada turap z = 3.03


Pa = 41,279 t/m
total

3 4 5 7
Dasar Galian 9,149 t/m2
8,439 t/m2
6
y = 1,608 m

o
Moment ke
Lengan ke A
No Tekanan Tanah Lateral Total A
(t/m) (m) (t.m)
1 0,583 x 0,4 = 0,233 -0,73 -0,170
2 0,5 x( 0,769 - 0,583 )x 0,4 = 0,037 0,66 0,025
3 0,769 x 5,74 = 4,414 2,34 10,329
4 0,5 x (9,149 - 0,769) x 5,74 = 24,051 3,29 79,126
5 0,5 x 5,74 X 1 = 2,870 3,29 9,442
6 0,5 x 1,608 x 8,439 = 6,785 5,75 39,013
7 P = 2,889 2,18 6,298
Jumlah = 41,279 d1Pa = 144,064

Dari 2 (dua) perhitungan analisis gaya yang bekerja pada


dinding turap diatas, maka pada penelitian ini dipakai kondisi paling
kritis untuk merencanakan struktur dinding turap tersebut. Adapun
rinciannya sebagai berikut:
Rincian analisis gaya yang bekerja

Kondisi level air di depan Kondisi tidak ada air

dan belakang turap sama tinggi di depan turap

Pa (total) 16,378 t/m 46,932 t/m

41,279 tm 144,064 tm
Jumlah momen ke A

Kondisi kritis yang ditunjukkan pada tabel diatas adalah kondisi tidak ada air di
depan turap, maka perhitungan dilanjutkan dengan menggunakan data tersebut.

A T
Menentukan panjang penetrasi
d1 = 3,465 m
turap, dilakukan dengan mengambil
Pa total = 41,279 t/m
MA = 0 (pada angker) (jumlah

o momen ke A = d1Pa = 144,064 tm):


Tekanan tanah pasif
d1Pa D12 2 (Kp2 Ka2) (HW + b + y +2/3 D1) = 0

144,064 D12 1,535(3,690 0,271)(5,74+1+1,608+2/3 D1) = 0

144,064 2,624 D12 (8,348 + 0,67 D1) = 0

144,064 21,905 D12 - 1,758 D13 = 0

Dengan cara coba-coba, diperoleh D1 = 2,352 m

y + D1 = 1,608 + 2,352 = 3,960 m

Kedalaman penetrasi turap yang aman: D = 1,2 3,960 = 4,752 m

Panjang turap total = 6,14 + 4,752 = 10,892 m 11 m


Dimana : d
t
b = 600 mm
h = 310 mm h
d = 7,5 mm b
t = 6,4 mm
Penentuan Diameter Baja Angkur
Jarak pemasangan baja angkur dipasang per 3 (Tiga) meter.
Perhitungan untuk menentukan diameter baja angkur, tegangan-tegangan yang bekerja di
pusatkan pada titik B. Jarak tegangan yang bekerja diperlihatkan pada gambar berikut:

q = 1,614 t/m2

1 2
A T

P7 = 2,889 t/m

3 4 5 7
Dasar Galian

6
y = 1,608 m

B
Tekanan Tanah Lateral Total Lengan ke B Moment ke B
No
(t/m) (m) (t.m)
1 0,583 x 0,4 = 0,233 9,9 2,309
2 0,5 x( 0,769 - 0,583 )x 0,4 = 0,037 9,84 0,366
3 0,769 x 5,74 = 4,414 6,83 30,148
4 0,5 x( 9,149 - 0,769 )x 5,74 = 24,051 5,88 141,418
5 0,5 x 5,74 x 1 = 2,870 5,88 16,876
6 0,5 x 1,608 x 8,439 = 6,785 3,42 23,205
7 P7 = 2,889 6,99 20,194
Jumlah = 41,279 dBPB = 234,515

Jarak antar angkur : 3 m


Maka Pa dan dBPB dikalikan dengan 3, sehingga:
Pa = 3 41,279 = 123,837 t/m
dBPB = 234,515 3 = 703,545 tm

Gaya dan momen akibat tekanan tanah pasif dan angkur

Tekanan Tanah Lateral Total Lengan ke B Moment ke B


No
(t/m) (m) (t.m)

PT T 9,17 9,17 T
Pp 0,5 x 1,535 x 3,69 x 2,352 = 6,661 0,78 5,196

Jumlah = 6,661 +T dTBPpB = 5,196+9,17T


Maka Pp dan dTBPpB dikalikan dengan 3, sehingga:
Pp = 3 6,661 + T = 19,983 + T t/m
dTBPpB= 3 5,196 + 9,17 T = 15,588 + 9,17 T tm
Pada kondisi balance, dBPB + dTBPpB = 0
-703,545 + 15,588 + 9,17.T = 0
687,957 = 9,17 T
T = 75,023 ton = 75023 kg
Diasumsikan angkur = 3200 kg/cm2 (Baja sedang U-32 menrut PBI 1971)
T = 75023 Kg
Perencanaan Blok Angkur
Ko diambil = 0,6
13.00
h = 0.56

10.800 H 3,16
Pp Pa

Diketahui:
Elevasi titik pusat blok angker = 10,80
h = 0.56 m T = 75,023 t/m L = 2,6 m
H = 3,16 m = 28o
h H/3 0,56 3,16/3 0,56 1,053 OK.!.

Maka dapat dianggap tinggi blok angker = H


Pp = H2 1 Kp1 2
= 3,162 1,364 2,770 2
= 37,728 t
Menentukan Panjang Baja Angker
Diketahui :
a = D (untuk metode ujung bebas) = 3,960 m
= 35o
.
13.00

10.800

Blok angkur

11

3,96

15,36

Penggambaran skalatis posisi blok angkur dan panjang baja angker.

Dari penggambaran secara skalatis diperoleh panjang baja angkur


yang digunakan, (L) = 15,36 m.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada dua jenis kondisi yang dihitung pada penelitian ini, kondisi yang paling
ekstrem digunakan sebagai dasar perhitungan, yaitu kondisi Tidak Ada Air di
Depan Turap dengan Pa (Total) = 46,932 t/m.
Panjang Profil Sheet Pile Baja hasil perhitungan yaitu 10,892 m 11 m, sehingga
pemakaian tiang dilapangan cukup aman.
Profil Sheet Pile Baja yang digunakan adalah profil Larssen L601, dengan W=
745 cm3.
Dari hasil perhitungan, gaya angkur T = 75023 kg, maka diameter angkur yang
didapat melalui perhitungan pada penelitian ini sebesar 5,5 cm.
Blok angkur yang digunakan pada penelitian ini adalah, blok angkur pendek
didekat permukaan tanah dengan tinggi H berdasarkan perhitungan adalah
H=2,6 m.
Pada penelitian ini, untuk menentukan panjang baja angker diperoleh
melalui penggambaran skalatis, dimana posisi blok angker harus
terletak didalam zona aman terhadap bidang longsor. Panjang baja
angker yang didapat, Langker = 15,36 m.