Anda di halaman 1dari 46

HIV-TB

Presented by:
Dani Fitrah Hayati
1
Debby Irma Suryani
Ika Yulia Rizki
Poppy Apriani

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER ANGKATAN II


UNIVERSITAS ANDALAS
2017
KASUS

Seorang mahasiswi, Nn. M 27 tahun dengan berat 60,2 kgdatang ke poli


mata RSS dengan keluhan pandangan mata kabur dan nyeri kedua mata.
Disamping itu dia sering merasakan batuk, dahak (+), BB turun (+),
keringat malam (+), sariawan dimulut (+), dan nafsu makan menurun (+).
Pasien didiagnosis HIV/B20. Dan disarankan ke poli paru.
Dari gejala klinis dan tes ELISA reaktif serta PCR (+), dan TB paru. Pasien
berada stadium I I: HIV
Pasien datang ke poli paru untuk kontrol, mengambil OAT dan memulai
terapi ARV, karena HB rendah, pasien disarankan untuk transfusi darah.
Dari wawancara diketahui pasien mempunyai faktor resiko free sex (+) dan
tatto (+).
APA ITU TB DAN HIV ????
Tuberkulosis (tb)

Mycrobacterium
tuberculosis.

HIV Sitem imun

AIDS
PATOFISIOLOGI HIV
PATOFISIOLOGI HIV
PATOFISIOLOGI HIV
3. Dipadukan pada nukleus
sel induk dengan
integrase
HIV
DNA MANUSIA
4.Menggandaka
n unsur virus
DNA HIV
1. Ikat pada sel
CD4 induk DNA MANUSIA

5. Virus baru
dirakitkan dengan
protease

2. Reverse
2. transcriptase 6. Virus
membuat DNA baru
dari RNA virus keluar
PATOFISIOLOGI TB
1200 Infeksi
Primer Sindrom HIV Primer Kematian
1100
1000 Infeksi
Oportunistik
900
Infeksi laten
800

Plasma Viremia Titer


CD4 T Cells/mm3

700
)

600 Gejala
(

konstitusi
500
400
300
200
100
0
0 3 6 9 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Weeks Years
PEMERIKSAAN LABORATORIUM HIV

JUMLAH CD4
Kadar CD4 limfosit pada orang dewasa
normal adalah 500-1600 cells/mm3.

ELISA (enzyme-linked
immunoabsorbent assay).
Sensivitas ELISA antara 98,1%-100%
dan dapat mendeteksi adanya antibodi
terhadap HIV dalam darah.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM HIV
WESTERN BOLT
Western Blot
JUMLAH CD4 memiliki spesifisitas
antara 99,6% 100%. Tes ini juga tidak
bisa menyimpulkan seseorang
menderita HIV atau tidak.

HIV VIRAL LOAD


Viral Load HIV adalah jumlah partikel
virus HIV yang ditemukan dalam setiap
mililiter darah.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM TB

Tiga spesimen dahak yang dikumpulkan dalam


waktu Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS).

Menggambarkan kelainan gambaran seperti


nodule (daerah buram yang khas pada paru),
kavitas (struktur lubang berdinding di dalam
paru), dan abnormalitas pleura.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM TB

Uji ini dilakukan dengan cara menginjeksikan


Uji Tuberkulin
tuberkulin PPD (purified protein derivative)
secara intrakutan pada bagian lengan bawah.
Diameter indurasi 5 mm (positif TB).
Diameter indurasi 15 menunjukkan hasil yang
positif pada semua individu.
Pemeriksaan
mikrobiologis
Diagnosis terbaik dari penyakit TB
diperoleh dengan pemeriksaan
mikrobiologi melalui isolasi bakteri.
TERAPI FARMAKOLOGI
Prinsip pengobatan
Pengobatan TB pada Pengobatan TB pada
ODHA yang belum ODHA sedang dalam
dalam pengobatan ARV pengobatan ARV
Terapi farmakologi ko infeksi TB-HIV

Kategori pengobatan TB tidak dipengaruhi oleh status HIV pada pasien TB.
Pada prinsipnya pengobatan TB pada pasien ko-infeksi TB HIV harus diberikan
segera
Pengobatan ARV dimulai setelah pengobatan TB dapat ditoleransi dengan baik,
dianjurkan diberikan paling cepat 2 minggu dan paling lambat 8 minggu.
PENGOBATAN
TUBERCULOSIS
Pengobatan pada pasien TB baru yang hidup dengan HIV

fase intensif Fase lanjutan


HRZE selama 2 bulan* HR 4 bulan H : isoniazid
R : rifampicin
*WHO tidak lagi merekomendasikan penghilangan Z : pirazinamid
etambutol selama pengobatan fase intensif untuk pasien E : etambutol
dengan PTB non-kavitasi, BTA-negatif atau EPEPTB yang S : streptomicin
diketahui HIV-negatif. Pada meningitis tuberkulosis,
etambutol harus diganti dengan streptomisin

fase intensif Fase lanjutan


HRZE selama 2 bulan* HRE 4 bulan*
*untuk pasien yang resisten terhadap isoniazid atau
kerentaran terhadap isoniazid belum ditentukan

WHO : treatment of tuberculosis guideline


Pengobatan HIV
Pilihan pengobatan ARV pada ODHA dengan TB
Pengobatan pencegahan
kotrimoksazol (PPK)

Profilaksis Profilaksis
primer sekunder pemberian pengobatan
pemberian pengobatan pencegahan yang
pencegahan untuk ditujukan untuk
mencegah suatu infeksi mencegah berulangnya
yang belum pernah suatu infeksi yang
diderita pernah diderita
sebelumnya
Pneumonia Pneumocystis

Abses otak toksoplasmosi

Penyakit
oportunistik Pneumonia yang disebabkan oleh S. Pneumoniae
yang
risikonya
dapat Isospora belli, tipe mikroorganisme yang menyebabkan
dicegah diare kronik yang disertai dengan penurunan berat badan.
dengan PPK
Salmonella sp, dengan gejala gastrointestinal dan demam.

malaria
Pengobatan
ko infeksi
TB-HIV
KASUS
KASUS

Seorang mahasiswi, Nn. M 27 tahun dengan berat 60,2 kgdatang ke poli


mata RSS dengan keluhan pandangan mata kabur dan nyeri kedua mata.
Disamping itu dia sering merasakan batuk, dahak (+), BB turun (+),
keringat malam (+), sariawan dimulut (+), dan nafsu makan menurun (+).
Pasien didiagnosis HIV/B20. Dan disarankan ke poli paru.
Dari gejala klinis dan tes ELISA reaktif serta PCR (+), dan TB paru. Pasien
berada stadium I I: HIV
Pasien datang ke poli paru untuk kontrol, mengambil OAT dan memulai
terapi ARV, karena HB rendah, pasien disarankan untuk transfusi darah.
Dari wawancara diketahui pasien mempunyai faktor resiko free sex (+) dan
tatto (+).
KASUS
Pemeriksaan Darah
CD4 43 sel/ml
Asam Urat 10,6 g/dl
HB 6,7 mg/dl
Viral load 100.000 kopi/ml
Na 133
Kalium 2,8
Ig G (CMV) +
Ig M (CMV) +
Dahak + (TB)
PENYELESAIAN
KASUS
S ubjektiv O A P
Nama Nn. M
Jenis kelamin Perempuan
Umur 27 tahun
Berat badan 60,2 kg
Keluhan Pandangan mata kabur dan nyeri kedua mata, sering
merasakan batuk, dahak (+), BB turun (+), keringat malam,
sariawan dimulut dan nafsu makan menurun. Pasien
didiagnosis HIV/B20. Dan disarankan ke poli paru.
Status Pasien free Sex, bertatto
Riwayat penyakit HIV , B20 stadium II
Riwayat pengobatan Sistenol, acyclovir, cotrimoxazole
S ubjektiv Objektif A P
Pemeriksaan Darah Kadar normal Tingkat
CD4 43 sel/ml 500-1600 sel Rendah
Asam Urat 10,6 g/dl 2-6,5 mg/dl Tinggi
Viral load 100.000 kopi/ml Tinggi
HB 6,7 g/dl 13-18 g/dl Rendah
Leukosit 11.500 sel/L 4000-11.000 sel/L Tinggi
Na 133 135-145 mEq/L Rendah
Kalium 2,8 3,5 5,0 mEq/L Rendah
Ig G (CMV) +
Ig M (CMV) +
Dahak + + (TB)
S ubjektiv O A bjektif ssasment P
1 2

Pada pemeriksaan sputum Pemeriksaan radiologi (toraks)


terlihat status BTA + untuk melihat ada atau
tidaknya bercak pada paru.

Paru TB

+
S ubjektiv O A bjektif ssasment P
3

Pasien mengalami infeksi


virus HIV karena jumlah
CD4, leukosit sangat
rendah yaitu bawah 500 Diagnosa:
menunjukkan kerusakan HIV terkena infeksi
yang berat pada sistem oportunistik TB
kekebalan tubuh. Diikuti
dengan data darah viral
load yang sangat tinggi
serta data pendukung
lainnya.
S ubjektiv O A bjektif ssasment P
4 5

Perlunya penambahan
elektrolit tubuh karena Perlunya penambahan darah
kadarnya rendah. karena kadar HB pasien rendah
S ubjektiv O bjektif A Planning
ssasment

Untuk terapi nya, pertama pasien


Diagnosa: diberi terapi OAT tanpa obat ART
HIV dan TB (anti retro virus terlebih dahulu)
untuk mengubah infeksi aktif
menjadi tidak aktif dan tidak
menular lagi. Pengobatan intensif
dilakukan selama 2 bulan intensif.
S ubjektiv O bjektif A Planning
ssasment

TERAPI
1 2
FARMAKOLOGI
Infus NaCl 20tpm
dan KCl 3x1
Transfusi darah
Diberikan untuk
asupan/nutrisi hingga hb
cairan tubuh. mencapai nilai
Karena > 10 g/dl (3
kekurangan Na kantong)
dan K.
S ubjektiv O bjektif A Planning
ssasment

Terapi OAT

2HRZE/4(HR)
INH : 300 mg
Rifampisin: 450 mg
Pirazinamid: 500 mg
Etambutol: 500 mg
S1DD1

Vitamin B6 diberikan dengan dosis 25 mg 1 x 1. Dikonsumsi 30 menit


sebelum sarapan untuk mengatasi efek samping dari Isoniazid (neuritis
perifer, kesemutan, rasa terbakar dikaki, nyeri otot)
S ubjektiv O bjektif A Planning
ssasment

Terapi ARV

TDF + 3 TC (FTC)+ EFC

TDF (Tenofovir) : 300 mg 1x1


FTC (Emtricitabine) : 200 mg 1x1
EFV (Efavirenz) : 90 mg 2x1
TERAPI
NON
FARMAKOLOGI
ASUHAN KEFARMASIAN
a. Pengawasan dan Kepatuhan Pasien dalam Pengobatan OAT
Ketaatan pasien pada pengobatan TB sangat penting untuk mencapai
kesembuhan, mencegah penularan dan menghindari kasus resisten obat.
Kesembuhan pasien dapat dicapai hanya bila pasien dan petugas pelayanan
kesehatan berkerjasama dengan baik dan didukung oleh penyedia jasa kesehatan
dan masyarakat.

b. Jasa Pelayanan Kesehatan Pengawas Menelan Obat (PMO)


Fungsinya:
Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.
Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentuka.
Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala
mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan.
Memberikan informasi penting kepada pasien dan keluarganya tentang TB.
lampiran
OBAT-OBAT
TUBERCULOSIS
OBAT-OBAT HIV