Anda di halaman 1dari 15

Kelompok 5

Kahfi Wiratama 165080100111019


Elvana Nur Yulinda 165080100111021
Ferri Alfian 165080100111023
Indri Maranatha Siringoringo 165080100111039
Amalia Resti Ramdhani 165080100111045
Uha Sukma Kantata Elyesdey 165080107111039
Biodegradasi merupakan proses perombakan senyawa organik kompleks
menjadi senyawa yang lebih sederhana oleh aktifitas mikroorganisme.
Bahan organik bisa didegradasikan secara aerob dengan oksigen atau
secara anaerob tanpa oksigen

Kahfi Wiratama
165080100111019
Tidak semua bahan di alam ini dapat terurai menjadi komponen kecil
penyusunnya. Segala bahan yang dapat diuraikan menjadi komponen-
komponen penyusunnya disebut bahan biodegradable.
Bahan biodegradable umumnya memiliki jenis ikatan asetal, amida, atau
ester, dan memiliki berat molekul, kristalinitas rendah serta hidrofilitas
tinggi.

Kahfi Wiratama
165080100111019
Berbagai macam bahan organik mudah terdegradasi dalam kondisi
aerobik. Dalam metabolisme aerobik, O2 adalah terminal akseptor
elektron. Ketika biodegradasi berikut, populasi mikroba cepat beradaptasi
dan mencapai kepadatan tinggi. Akibatnya, laju biodegradasi cepat menjadi
terbatas oleh laju pasokan oksigen atau beberapa gizi, bukan kapasitas
mikroba yang melekat untuk menurunkan polimer atau kontaminan lainnya

Amalia Resti R
165080100111045
Mikroorganisme membantu menguraikan bahan organik di lingkungan.
Banyak faktor yang mempengaruhi kekuatan potensial dan laju yang
terjadi secara alami biodegradasi di situs tertentu, seperti sebagai: kadar
air tanah, porositas, temperatur tanah, pH tanah, ketersediaan O2,
kehadiran mikroba yang cocok, kehadiran kontaminan dan konsentrasi
mereka, dan ketersediaan nutrisi (Matsunaga, 2000).

Amalia Resti R
165080100111045
Khusus untuk polimer biodegradable dalam tanah, tingkat di biodegradasi
yang terjadi tergantung pada kondisi tanah seperti suhu, kadar air (ukuran
dari konsentrasi air), tingkat aerasi (ukuran konsentrasi oksigen),
keasaman (ukuran konsentrasi asam) dan konsentrasi mikroorganisme
sendiri.

Amalia Resti R
165080100111045
Sutanto (2005), menyebutkan bahwa senyawa organik dibedakan atas:
Karbohidrat, yaitu gula dan pati (mengandung sel), pektin, hemiselulosa,
selulosa (dinding sel). Karbohidrat merupakan penyusun senyawa organik
terbesar penyusun bahan organik (>50% dari berat kering total bahan
organik)
Lignin, yaitu bahan kayu (dinding sel), menyusun 10%-40% berat kering
organik
Senyawa nitrogenus, yaitu protein sederhana dan kompleks, asam amino,
asam nukleat. Senyawa ini terdapat <20% dari berat kering bahan organik.
Lemak, lilin, resin, kulit, dan bahan pewarna dalam jumlah yang kecil. Kadar
senyawa ini <10% dari berat kering bahan organi
Uha Sukma
165080107111039
Mikroorganisme mampu menghasilkan enzim ekstraseluler yang digunakan
untuk depolimerisasi senyawa berukuran besar menjadi senyawa
berukuran kecil yang larut dalam air.
Miroorganisme memproduksi dua sistem enzim ekstraseluler, yaitu
Sistem hidrolitik, menghasilkan hydrolase dan berfungsi untuk mendegradasi
selulosa dan hemiselulosa.
Sistem oksidatik, bersifat ligninolitik dan berfungsi mendepolimerisasi lignin.

Uha Sukma
165080107111039
Proses perombakan bahan organik mengalami dua hal penting, yaitu
dekomposisi dan humifikasi
Sutanto (2005) menuliskan bahwa terdapat 3 proses utama yang tumpang
tindih pada proses dekomposisi, yaitu:
1. Proses Biokimia
2. Proses Peruraian
3. Proses Peruraian oleh mikroorganisme heterotrofik dan saprofitik

Ferri Alfian
165080100111023
Menurut Sutanto (2005), humifikasi adalah proses menghasilkan senyawa
humin. Dalam proses humifikasi terdapat 2 hal penting, yaitu:
Pembentukan senyawa humin melalui proses penguraian senyawa
organik yang telah mempunyai struktur (lignin, protein).
Neoformasi senyawa humin dari residu karbohidrat linier dan protein
melalui pembentukan cincin dan polimerasi.

Indri Maranatha
165080100111039
Proses humifikasi terjadi melalui:
Reaksi kimia senyawa-senyawa tertentu, mikroorganisme tanah
berperan aktif pada awal pembentukan senyawa tersebut. Reaksi kimia
kemungkinan besar terjadi pada kondisi asam, kandungan hara rendah,
dan tanah gambut dengan aktivitas mikroorganisme yang rendah.
Metabolisme biologi dan autolysis yang terjadi di dalam pencernaan
fauna (makrofauna dan mesofauna). Proses humifikasi biologi terjadi
pada kondisi pH agak masam sampai netral, tanah yang memiliki
banyak kandungan hara, dan aktivitas mikroorganisme yang tinggi.

Indri Maranatha
165080100111039
1. Bakteri
Dalam merombak bahan organik biasanya bakteri hidup bebas di luar
organisme lain tetapi ada pula yang hidup dalam saluran pencernaan
hewan (mamalia, rayap, dsb). Bakteri merombak lignin, selulosa, dan
hemiselulosa lebih lama dibanding merombak polisakarida sederhana
seperti amilum, disakarida, dan monosakarida. Proses penguraian
senyawa organik yang banyak mengandung protein secara alami juga
berjalan relatif cepat.

Elvana Nur Y
165080100111021
2. Fungi
Pada umumnya fungi memiliki kemampuan mendegradasi bahan organik
lebih baik dibanding bakteri. Perombakan komponen polimer pada
tumbuhan dibantu oleh adanya enzim ekstraseluler yang dihasilkan fungi.
Enzim tersebut diantaranya yaitu -glukosidase, lignin peroksidase (LiP),
manganese peroksidase (MnP), laktase, dan vertile peroksidase. Enzim-
enzim ini dihasilkan oleh Pleurotus eryngii, Pleurotus ostreatus, dan
Bjekandera adusta.

Elvana Nur Y
165080100111021
3. Masofauna
Mesofauna merupakan fauna yang berukuran 0,2-10,4 mm. meskipun
bukan termasuk mikroorganisme, namun peran mesofauna dalam
degradasi bahan organik cukup penting. Cacing tanah sering kali
disebut usus bumi (intestines of earth) karena perannya dalam
mencerna organisme yang telah mati. Organisme yang telah mati akan
dicerna oleh cacing tanah dan diubah menjadi menjadi humus (nutrisi
alami).

Elvana Nur Y
165080100111021
THANK YOU