Anda di halaman 1dari 26

PERENCANAAN STRUKTUR BETON

BERTULANG TAHAN GEMPA PADA


BANGUNAN 5 LANTAI DI UNIVERSITAS
KHAIRUN TERNATE

OLEH :
Rifaldy Jufri
0723 12 008

Pembimbing :
1. Kusnadi, ST., MT
2. Irnawati, ST., MT
Latar Belakang Masalah
KotaTernate merupakan daerah rawan gempa.

Gempa berkekuatan 5,7 SR pernah mengguncang KotaTernate.


Perkembangan yang pesat di Kota Ternate memicu pertumbuhan
pembangunan.
Luas willayah yang terbatas, maka dibutuhkan pembangunan tahan
gempa yang bersifatnya keatas bukan melebar.

Rumusan Masalah
Bagaimana cara mendesain struktur gedung beton bertulang tahan
gempa dengan berdasarkan peraturan terbaru SNI 03-1726-2012 dan
SNI 03-2847-2013 ?

Tujuan Penulisan
Untuk merencanakan komponen struktur gedung beton bertulang yang
tahan terhadap gempa dengan berdasarkan peraturan terbaru SNI 03-
1726-2012 dan SNI 03-2847-2013.
2
Batasan Masalah
1. Aspek-aspek yang ditinjau pada perencanaan struktur bangunan yaitu
dimensi balok, kolom, dan plat lantai;
2. Perhitungan gempa menggunakan analisis statis ekuivalen.
3. Perencanaan struktur didesain menggunakan program bantu ETABS;
4. Tidak meninjau perancangan pondasi;
5. Tidak meninjau aspek ekonomi.

Landasan Teori
Beton bertulang adalah gabungan logis dari dua jenis bahan yaitu, beton
polos yang memiliki kekuatan tekan yang tinggi akan tetapi kekuatan
tarik yang rendah dan batang-batang baja yang ditanamkan didalam
beton dapat memberikan kekuatan tarik yang diperlukan. (Wang,
1993:1)

Beban Mati (DL)


Beban mati merupakan berat sendiri gedung dan semua unsur
tambahan yang melekat pada gedung tersebut.

3
Beban Hidup (LL)
Beban hidup merupakan berat yang terjadi akibat penghunian atau
penggunaan suatu gedung, termasuk barang-barang yang dapat
berpindah.

Beban Hidup Gedung


Hunian atau Penggunaan Merata (KN/m2) Terpusat (KN)
Sekolah/pendidikan :
a. Ruang Kelas 1,92 4,5
b. Koridor di atas lantai 3,83 4,5
pertama
c. Koridor lantai pertama 4,79 4,5

Beban Gempa (E)


Beban gempa merupakan beban yang timbul akibat percepatan getaran
tanah pada saat gempa bumi terjadi.
Kategori Resiko Bangunan
Berdasarkan SNI 03-1726-2013, kategori resiko bangunan atau tingkat
resiko dapat ditentukan sesuai fungsi gedung.
4
Kategori Resiko Bangunan
Jenis Pemanfaatan Kategori Resiko
Gedung sekolah atau fasilitas pendidikan IV

Faktor Keutamaan Gempa (Ie)


Faktor Keutamaan Gempa
Kategori Resiko Ie
IV 1,50

Parameter Percepatan Gempa (Ss,S1)


Penentuan parameter percepatan gempa (Ss,S1) untuk suatu lokasi atau
koordinat dapat ditentukan berdasarkan situs dinas kementrian PU
http://puskim.pu.Go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

Dimana :
Ss = Parameter percepatan gempa 0,2 detik untuk probabilitas 2% dalam
50 tahun.
S1 = Parameter percepatan 1 detik untuk probabilitas 2% dalam 50
tahun.
5
Klasifikasi Situs

m Dimana :
ti N = Nilai hasil test penetrasi standar
i=l rata-rata;
N =
ti = Tebal lapisan tanah ke-i;
m
Ni = Hasil test penetrasi standar lapisan
ti / N m tanah ke-I;
i=l ti
i=l = 30 m

Koefisien Situs
Koefisien Situs Fa
Kelas Situs Parameter respons spektral percepatan gempa (MCER) terpetakan pada
perioda pendek, T=0,2 detik, Ss
Ss < 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1,0 Ss > 1,25
Tanah Sedang
1,6 1,4 1,2 1,1 1,0
(SD)
6
Koefisien Situs Fv
Parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan pada
Kelas situs
perioda 1 detik, S1
S1 < 0,1 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 > 0,5
Tanah Sedang
2,4 2 1,8 1,6 1,5
(SD)

Parameter Percepatan Spektral Desain

Berdasarkan aplikasi situs dinas kementrian pekerjaan umum (PU)


http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/
didapatkan parameter percepatan spektral desain SDS dan SD1, maupun
parameter respons percepatan pada periode pendek (SMS) dan periode 1
detik (SM1)

Atau dapat ditentukan dengan persamaan berikut :


SMS = Fa.Ss SM1 = Fv.S1

SDS = 2 SMS SD1 = 2 SM1


3 3
7
Koefisien Modifikasi Respons
faktor R, cd, dan 0 untuk sistem penahan gaya gempa
Koefisien Faktor
Sistem penahan- modifikasi Faktor kuat- lebih pembesaran
gaya seismik respons, (Ra) sistem, 0g defleksi, (Cdb)

Sistem rangka
pemikul momen
Rangka beton
bertulang pemikul 8 3 5,5
momen khusus

Periode Fundamental Perkiraan

Ta = Cthnx
Dimana :
hn = Ketinggian struktur (m)
Tmaks = Cu . Ta > Tc Ta = Periode fundamental pendekatan;
Ct & x = Koefisien ditentukan dari tabel 2.12 (nilai
parameter periode pendekatan)
Tc = Periode getar alami
Cu = Koefisien ditentukan dari tabel 2.13
8
Berdasarkan SNI 03-1726-2013, pasal 10.2.5 periode getar alami fundamental
struktur dapa juga ditentukan dengan rumus Rayleigh :
n
Dimana :
fi i2
fi = Distribusi gaya lateral disepanjang tinggi
i=l
T = 2 bangunan;
n
i = Simpangan antar lantai akibat gaya fi;
g fi i
g = Percepatan gravitasi 9,81 m/detik2 atau 9810
i=l mm/detik2

Kategori Desain Seismik


Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
periode pendek (SDS)
Kategori Resiko
Nilai SDS I atau II atau III IV

SDS < 0,167 A A

0,167 < SDS < 0,33 B C

0,33 < SDS < 0,50 C D

0,50 < SDS D D 9


Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
periode 1 detik (SD1)
Kategori Resiko
Nilai SDS I atau II atau III IV

SDS < 0,167 A A

0,067 < SD1 < 0,133 B C

0,133 < SDS < 0,20 C D

0,20 < SD1 D D

Koefisien Respons Seismik (Cs)


1. Koefisien respons seismik (Cs), dihitung dengan : SDS
Cs =
R
Ie

SD1
2. Nilai dari persamaan (1) diatas tidak boleh melebihi : Cs =
R
T
Ie

3. Dan nilai persamaan (1) tidak boleh kurang dari : Cs = 0,044SDS.Ie > 0,01

10
Geser Dasar Seismik / struktur
Dimana :
V = Cs.W
Cs = Koefisien respons seismik;
W = Berat struktur

Distribusi Vertikal Gaya Gempa

Perhitungan gaya gempa lateral (Fx) (KN) yang timbul di semua tingkat
harus menggunakan persamaan :

Fx = CvxV Dimana :
Cvx = Faktor distribusi vertikal;
Wxhxk V = Gaya geser seismik;
Cvx = n Wi dan wx = Berat struktur total pada tingkat I atau x;
Wi hi k hi dan hx = Tinggi dasar struktur sampai tingkat i
atau x
i=l
K = Nilai eksponen yang ditentukan sesuai
periode / waktu getar struktur. 0,5 detik
atau kurang (k=1), 2,5 detik atau lebih
(k=2), antara 0,5 detik 2,5 detik ( k=2).
11
Simpangan Struktur
Penentuan simpangan antara lantai tingkat () harus dihitung sebagai perbedaan
defleksi () pada tingkat bawah sampai teratas. Defleksi pusat massa tingkat x (x)
(mm) harus ditentukan dengan :

Dimana :
x = Cd xe
Cd = Faktor pembesaran defleksi;
Ie xe = Defleksi pada lokasi yang disyaratkan pada SNI
03-1726-2012 yang ditentukan dengan analisis
elastis;
Ie = Faktor Keutamaan gempa.

Kriteria syarat simpangan () :


a. Faktor pembesaran defleksi (Cd);
b. Faktor keutamaan gempa (Ie);
c. Faktor redundansi (p);
d. Simpangan antar lantai () simpangan antar lantai izin
(a)
12
Kombinasi pembebanan
Kombinasi = 1,4 D
Kombinasi = 1,2 D + 1,6 L
Kombinasi = 1,2 D + Lr 1 E

Dimana :
D = Beban mati (dead load), meliputi berat sendiri gedung (self weight, SW)
dan beban mati tambahan (superimposed dead load, D);
L = Beban hidup (live load), tergantung fungsi gedung;
Lr = Beban hidup yang boleh direduksi dengan faktor pengali 0,5
E = Beban gempa (earthquake load), ditinjau terhadap gempa statik (EQx,
EQy).

Komponen Struktur Lentur SRPMK


1. Gaya tekan aksial terfaktor pada komponen struktur (Pu) tidak boleh melebihi
Ag.fc/10;
2. Bentang bersih komponen struktur (Ln) tidak boleh kurang dari 4 kali tinggi
efektifnya;
3. Perbandingan lebar terhadap tinggi tidak boleh kurang dari 0,3;
4. Lebar komponen tidak boleh kurang dari 250 mm;
5. Lebar komponen tidak boleh melebihi 0,75 h.
13
Untuk tulangan longitudinal, ada beberapa syarat pada komponen struktur lentur :
1. Untuk tulangan atas maupun bawah, jumlah tulangan tidak boleh kurang dari :

As,min= 0,25 f c
bwd
fy
2. Tidak boleh lebih kecil dari :
1,4bwd/fy

3. Rasio tulangan (p) tidak boleh melebihi :


0,025
4. Sekurang-kurangnya harus ada 2 batang tulangan atas dan bawah yang
dipasang menerus (kontinyu) pada penampang.
5. Pada muka joint Momen positif (M+) > Momen negatif (M-).
6. (M+) atau (M-) disepanjang penampang komponen struktur > M.max di
masing-masing joint.

Untuk tulangan transversal, dibutuhkan untuk terutama untuk menahan geser.


1. Sengkang harus dipasang :
a. Pada daerah hingga 2 kali tinggi komponen struktur, yang diukur dari muka
penumpu ke tengah bentang.
b. Sepanjang daerah 2 kali tinggi komponen struktur pada kedua sisi
penampang yang berpotensi membentuk sendi plastis
14
2. Sengkang tertutup harus dipasang tidak lebih dari 50 mm atau 5 cm dari muka
tumpuan.
3. Spasi sengkang tertutup tidak boleh melebihi :
a. d/4
b. 6 kali diameter terkecil tulangan lentur (tul. Longitudinal)
c. 24 kali diameter batang tul. Sengkang tertutup.
d. 150 mm

4. Bila sengkang tertutup tidak diperlukan, sengkang dengan kait gempa harus
dispasikan (s) < d/2.

Untuk kuat geser :


a. Kuat geser perlu (Ve) pada komponen struktur lentur :

Mpr1 + Mpr2 WuLn


Ve =
Ln 2

b. Gaya tekan aksial terfaktor (Pu) , termasuk akibat gempa < Agfc / 20

15
Komponen Struktur SRPMK yang menerima lentur dan
aksial
1. Komponen struktur yang dibahas adalah komponen struktur kolom. Besarnya
beban aksial terfaktor (Pu) > Agfc /10.
2. Komponen struktur kolom harus memenuhi :
a. Ukuran dimensi penampang terkecil > 300 mm;
b. Rasio atau perbandingan antara ukuran terkecil penampang terhadap
ukuran arah tegak lurus (c1/c2) > 0,4.

Kekuatan lentur kolom harus memenuhi :

Mnc > (1,2) Mnb

Untuk tulangan memanjang harus memenuhi :


1. Luas tulangan memanjang (Ast) > 0,01Ag , dan < 0,06Ag
2. Pada kolom dengan sengkang tertutup bulat, jumlah batang tulangan
longitudinal min. 6

Untuk tulangan transversal (sengkang) harus memenuhi :


1. Tulangan transversal harus dipasang sepanjang panjang (Lo) dari setiap muka
joint dan pada kedua sisi penampang. Panjang (Lo) tidak boleh kurang dari :
a. Tinggi penampang;
b. 1/6 bentang bersih komponen struktur, dan 450 mm.
16
2. Spasi tulangan transversal (s) sepanjang (Lo) komponen struktur tidak boleh
melebihi:
a. dimensi komponen struktur minimum atau h;
b. 6 kali diameter batang tulangan longitudinal yang terkecil;
c. S. 0 = 100 + 350-hx , Nilai So < 150 mm dan > 100 mm.
3

Persyaratan kuat geser :


1. Tulangan transversal yang dipasang disepanjang (Lo) untuk menahan geser
(Ve) dengan mengasumsi Vc = 0, bila :
a. Gaya tekan aksial terfaktor (Pu) termasuk pengaruh gempa < Agfc / 10

Hubungan Balok-Kolom (Joint) SRPMK


Persyaratan Umum :
1. Gaya pada tulangan balok longitudinal atau lentur dimuka joint ditentukan
dengan tegangan pada tulangan tarik adalah 1,25fy;
2. faktor reduksi untuk perencanaan joint dapat diambil sebesar 0,8.
3. Untuk beton normal, dimensi kolom pada joint dalam arah tulangan longitudinal
balok minimal harus 20 kali diameter tulangan longitudinal terbesar pada balok.
4. Untuk beton ringan, dimensi minimumnya adalah 26 kali diameter.

17
Tulangan transversal :
1. Tulangan berbentuk sengkang tertutup harusd dipasang dalam daerah
hubungan balok-kolom (joint);
2. Bila ada ada balok-balok dengan lebar lebar kolom merangka pada keempat
sisi joint, maka tulangan transversal yang harus dipasang di daerah joint
hanyalah dari yang dipasang di daerah sendi plastis.

Kekuatan geser :
1. Untuk beton berat normal (Vn) joint tidak boleh diambil sebagai lebih
besar dari :
a. Untuk joint yang terkekang oleh balok-balok pada keempat sisinya :

1,7 fc Aj

b. Untuk joint yang terkekang oleh balok-balok pada ketiga sisinya atau dua sisi
yang berlawanan :
1,2 fc Aj
c. Untuk kasus-kasus atau hubungan lainnya
1,0 fc Aj

18
Data Perencanaan

1. Gedung terdiri dari 5 lantai dan fungsi gedung sebagai fasilitas


pendidikan atau gedung kuliah;
2. Gedung direncanakan berlokasi di Universitas Khairun Ternate, Maluku
Utara;
3. Struktur gedung direncanakan menggunakan material beton bertulang
yang tahan terhadap gempa;
4. Tinggi lantai dasar dan lantai-lantai diatasnya 4 m;
5. Dimensi kolom untuk semua lantai = 60 cm x 60 cm;
6. Dimensi balok untuk semua lantai = 40 cm x 60 cm;
7. Tebal plat lantai dan plat atap = 14 cm;
8. Kuat tekan beton, fc = 30 Mpa;
9. Tegangan leleh baja, fy = 400 Mpa.
10. Modulus Elastisitas, E = 4700 fc Mpa

19
Denah Gedung

5m

5m

5m

5m

6m 6m 6m 6m 6m 6m 6m

20
Model Struktur

4m

4m

4m

4m

4m

6m 6m 6m 6m 6m 6m

Model 2D arah x
21
4m

4m

4m

4m

4m

5m 5m 5m 5m

Model 2D arah y
22
Model 3D

23
Tahapan Perencanaan
Mulai

Sub bab 3.2.1


Studi Literatur & Data Perencanaan

Sub bab 3.2.2


Pemodelan Struktur
Menggunakan Program ETABS Meliputi :
1. Kolom
2. Balok
3. Plat

Sub bab 3.2.3


Analisis Pembebanan

Beban Mati & Beban Hidup Beban Gempa

Sub bab 3.2.4


Kombinasi Pembebanan

Analisa Struktur

B A C
24
B A C

Simpangan antar lantai tingkat desain


Tidak
() < izin
Periode alami struktur (T) < Periode
Rayleigh

Ya

Sub bab 3.2.5


Pendetailan Elemen Struktur : Tidak
1. Lentur
2. Geser
3. Aksial

Ya
Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Bagan Alir Metodologi Perencanaan 25


SEKIAN
TERIMA
KASIH