Anda di halaman 1dari 39

Strategi pencegahan merokok

pada remaja di Indonesia

Henni Wahyu Triyuniati


Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
FKUI-RSCM
Latar Belakang
Industri tembakau sumber terbesar
WHO dan CDC 2014 20% remaja pemasukan negara
merokok Indonesia vs 7,7% USA Pengendalian pemasaran rokok di
43,2% pelajar merokok untuk pertama Indonesia masih lemah, tidak ada
kali usia 12-13 tahun supervisi, dan investasi besar untuk
inovasi pemasaran

Strategi pencegahan
merokok pada remaja

Upaya untuk menurunkan epidemik Program pencegahan merokok pada remaja:


merokok pada remaja dengan 2 cara: - Intervensi berbasis sekolah
- Intervensi berbasis keluarga/rumah
1. proporsi anak merokok
- Intervensi berbasis internet/media
2. proporsi perokok aktif untuk - Strategi intervensi pemerintah
berhenti merokok
Faktor risiko perilaku merokok pada remaja

Pelajar laki-laki (69%) Pengaruh orangtua merokok


Usia 11 tahun (62%) Adjusted OR=2,81; 95%CI 1,78-
Pengaruh teman sebaya yang 4,41
merokok Durasi pajanan anak dengan
OR=8,32; 95%CI 4,88-14,19; orangtua yg merokok aktif
p<0,001 4 tahun OR 2,75, 95% CI
Pengetahuan terkait dampak 1,48-5,08
buruk pada kesehatan 5 tahun OR=1,82, 95%CI
0,95-3,51
OR=1,85; 95%CI 1,02-3,36;
p<0,05 Durasi 0 tahun OR=1
Ketidakpuasan dengan hidup
(depresi/frustrasi) Orangtua merokok perilaku
OR=3,32; 95%CI 1,77-6,24; merokok dianggap lumrah
p<0,001 remaja imitasi perilaku
merokok
Faktor risiko perilaku merokok pada remaja
ITC-SEA di Malaysia dan Thailand tahun 2005:
Peningkatan tertinggi angka merokok pada remaja
15 16 th di Malaysia
16-17 th di Thailand
Experimental smoker
Thailand : 26,8% remaja laki-laki
Malaysia: 22,9% remaja laki-laki
Perokok aktif
Thailand : 25,4%
Malaysia : 9,2%
Produk rokok
import: remaja Malaysia
lokal: remaja Thailand
Akses mendapatkan rokok
Thailand Dari teman: 50,8%
Malaysia Beli sendiri: 52,8%
Faktor risiko perilaku merokok pada remaja
Addiction 2003;98:585-93
penelitian di Amerika evaluasi 2.981 murid kelas 12 di 20 sekolah di
Washington terkait remaja merokok dan orangtua/keluarga yang merokok
18,6% murid merokok bila orangtua tidak merokok vs 31,8% bila orangtua
merokok
Risiko remaja menjadi perokok meningkat
1,49 (95%CI 1,06 3,21; p= 0,029) kali bila salah satu orangtua merokok
1,85 (95%CI 1,01 2,18; p= 0,040) kali lipat bila saudara yang lebih tua merokok
walaupun orangtua tidak merokok
Nicotine Tob Res. 2000;2(2):159-67
Peraturan rumah dan pola asuh yang permisif meningkatkan risiko remaja
untuk bereksperimentasi dengan perilaku merokok
Pola asuh otoriter berkaitan dengan angka kejadian yang lebih rendah
mengenai remaja mulai merokok
Sekolah

Pemerintah
Program Rumah/Keluarga
Intervensi

Internet/media
PROGRAM INTERVENSI BERBASIS
SEKOLAH
Cochrane Tobacco Review Group, 2015
136 trials (n = 431,315)

57 trial yang mengikuti kohort never-smoking (50 C-RCT)


Pelajar usia 5 18 th

Pencegahan rokok pada sekolah dengan program intervensi

OR=0,88; 95%CI 0,82-0,95

Jenis kurikulum yang efektif:

Kompetensi sosial : OR=0,65; 95%CI 0,43 0,96


Kombinasi kompetensi sosial dan pengaruh sosial: OR=0,6; 95%CI 0,43-0,83

Program dibawakan oleh dewasa

Pemantauan >1 tahun: OR=0,87; 95%CI 0,81 0,94

Sesi booster

Pemantaian <1 tahun: OR=0,50; 95%CI 0,26-0,96


Pemantauan >1 tahun: OR=0,56; 95%CI 0,33-0,96
Intervensi pencegahan merokok berbasis sekolah di kalangan remaja
Jenis kurikulum Keterangan

Penyediaan informasi Menyediakan informasi untuk memperbaiki persepsi yang salah terkait
perilaku merokok dan menentang kepercayan yang salah tentang
merokok sebagai perilaku yang dapat diterima di kalangan remaja

Kompetensi sosial Membantu remaja untuk menolak tawaran untuk merokok dengan
memperbaiki kompetensi sosial serta kemampuan intra-personal dan
inter-sosial. Program ini mengajarkan penyelesaian masalah, membuat
keputusan yang bijak, pola pikir untuk melawan pengaruh media
ataupun diri sendiri terkait merokok, meningkatkan pengendalian diri
Penelitian yang diikuti dalam review
dan kepercayaan diri,Cochrane:
serta strategi untuk mengatasi stres dan bersikap
47 negara asertif.
US, UK, Netherlands, Germany, Spain, Italy,
Pengaruh sosial Meningkatkan kesadaran tentang pengaruh sosial terkait perilaku
Australia, Canada, China, South Africa,
merokok atau penggunaan zat berbahaya lainnya, mengajarkan
Thailand, across Europe
kemampuan untuk menolak tawaran merokok, dan mengatasi tekanan
antar teman serta meghindari situasi dengan risiko tinggi terjadinya
inisiasi merokok.

Kombinasi kompetensi dan pengaruh sosial Kombinasi kurikulum kompetensi sosial dan pengaruh sosial

Program multimodal Program pencegahan merokok dengan pendekatan di dalam dan luar
lingkungan sekolah, termasuk pembuatan program untuk orangtua,
sekolah, atau komunitas. Program yang berinisiatif untuk merubah
peraturan sekolah terkait merokok, atau peraturan negara terkait
perpajakan, penjualan, penyediaan dan penggunaan produk tembakau
di suatu area.
Program pencegahan merokok berbasis
sekolah di Indonesia
Tahlil dkk., melakukan studi kualitatif terhadap
16 partisipan (guru SMP di Aceh, atau bekerja
untuk DEPDIKBUD di Aceh), usia 41-50 tahun,
40% non smoker
(Asian Pacific J Cancer Prev. 2013;14:865-871)

9 tema yang perlu diperlukan dalam suatu program


intervensi untuk mecegah remaja merokok
Peran ilmu agama dapat memberikan dampak positif
terhadap sikap untuk menjaga kesehatan dan
mencegah perilaku berbahaya
Kategori Sub-kategori Keterangan
Informasi Merokok - konsep merokok
- kandungan kimiawi rokok
- keuntungan dan kerugian merokok
Dampak kesehatan - konsep kesehatan
- risiko merokok
- dampak merokok pada tubuh
- dampak merokok pada anak
Dampak sosio- - dampak ekonomi dari merokok
ekonomi - dampak merokok pada pendidikan

Kecanduan Kecanduan terhadap zat rokok

Keterampilan Keterampilan umum - Self-confidence


- Self-esteem
- Self-discipline
- Aktivitas ekstra-kurikulum
- Motivasi
Keterampilan - Teknik menolak tawaran merokok
menolak - Teknik menolak merokok dengan cara adat-
kebudayaan yang sesuai
Program pencegahan merokok
berbasis sekolah di Indonesia (2)
Studi kedua oleh Tahlil dkk., RCT
N= 477 murid (usia 11-14 tahun, kelas 7-8, 8 SMP di
Aceh, jarak antar sekolah 4 km)
Program kontrol vs Program intervensi (berbasis
kesehatan, berbasis agama islam, kombinasi)
Dibawakan oleh guru yang sudah dilatih melalui program
pelatihan 1 hari
Diberikan di jam sekolah
Luaran: pengetahuan, sikap, niat, dan perilaku
merokok pada remaja di Aceh, Indonesia
BMC Public Health. 2013;13:1-11
Jenis intervensi Keterangan

Program Memberikan ilmu dan keahlian berbasis kesehatan terkait pencegahan merokok:
berbasis - kurikulum terdiri dari 8 sesi x 2 jam selama 8 minggu
kesehatan - Topik meliputi: merokok, prevalensi dan insidens merokok di Indonesia, efek samping merokok,
hukum terkait penggunaan tembakau di Indonesia, dan teknik menolak perilaku merokok termasuk
penanganan stres.
- Metode pengajaran: kuliah, demonstrasi, kelas active learning seperti diskusi, role-playing,
permainan/olahraga, dan berdongeng.
- Providers: guru sekolah, pengajar kesehatan, dan tenaga kesehatan profesional
Program Mengajarkan dan mempraktekkan keahlian untuk mencegah merokok berdasarkan ajaran Islam:
berbasis ajaran - kurikulum terdiri dari 8 x 2 jam sesi selama 8 minggu
agama Islam - topik meliputi: konsep dasar Islam, konsep kesehatan dalam Islam, perilaku merokok di masyarakat
Islam, hukum Islam terkait merokok, efek samping merokok, dan cara hidup sehat tanpa merokok
dalam Islam.
- Metode pengajaran sama seperti program berbasis kesehatan.
- Pengajar : pemimpin agama dan guru sekolah dengan pengetahuan tentang mengajar pencegahan
merokok dengan ajaran Islam

Program Mengajarkan beberapa komponen yang digabungkan antara program pertama dan kedua:
kombinasi - kurikulum terdiri dari 8 sesi x 2 jam
- topik meliputi: konsep dasar Islam, konsep kesehatan dalam Islam, perilaku merokok di Indonesia,
efek samping merokok, peraturan merokok di Indonesia dari sudut padangan nasional dan Islam,
cara hidup sehat tanpa merokok dalam Islam, dan teknik menolak merokok termasuk penanganan
stres.
- Metode pengajaran sama seperti kedua program lainnya.
- Pengajar : pengajar kesehatan dan tenaga kesehatan profesional, pemimpin agama dan guru sekolah
dengan pengetahuan tentang mengajar pencegahan merokok dengan ajaran Islam
Program pencegahan merokok berbasis sekolah
di Indonesia (3)
Program berbasis kesehatan

Perbaikan terhadap pengetahuan tentang kesehatan khususnya akibat merokok


baseline SD 3,9 0,6; p<0,005

Program berbasis agama Islam

Perbaikan pengetahuan tentang kesehatan baseline SD 3,8 0,6; p<0,001)


Perbaikan pengetahuan tentang ajaran agama Islam baseline SD 3,5 0,5; p<0,005
Perbaikan persepsi merokok baseline SD -7,1 1,5; p<0,001

Program kombinasi

tidak efektif dalam menyampaikan pengetahuan tentang kesehatan dan ajaran agama
Islam

Program intervensi

Tidak perbaikan terkait niat untuk tidak mulai merokok


Penelitian oleh Dobbins dkk., dampak positif terhadap perubahan niat untuk tidak
merokok dari program intervensi (Prev Med. 2008;46:289-297)
PROGRAM INTERVENSI BERBASIS
KELUARGA/RUMAH
Intervensi pencegahan merokok berbasis
keluarga/lingkungan
Review sistematis dan meta-analisis yang
dipublikasi di Academic pediatrics tahun 2015
Topik: intervensi berbasis keluarga terkait
pencegahan merokok pada anak dan remaja
9 trial program intervensi berbasis keluarga
dampak yang signifikan dalam menurunkan angka
kejadian remaja mulai merokok
2 trial program kombinasi berbasis sekolah dan
keluarga dampak positif yang lebih tinggi
Pola asuh otoriter cara efektif untuk meningkatkan
keberhasilan intervensi
Intervensi pencegahan merokok berbasis
keluarga/lingkungan

Program intervensi berbasis keluarga

mencegah perokok baru dengan 95% confidence interval antara


16% dan 32%
Menurunkan prevalensi remaja mulai merokok 37-74/1000
remaja (Intervensi) vs 230/1000 remaja (kontrol)

Program kombinasi intervensi berbasis keluarga


dan sekolah

Menurunkan prevalensi remaja yang mulai merokok menjadi 9


58 / 1000 remaja
Program intervensi berbasis orangtua/keluarga terkait
pencegahan merokok pada anak dan remaja
Program intervensi Pemberi materi Keterangan
Intervensi tingkat tinggi
Pelatihan untuk Guru sekolah, Pelatihan 1&2:
orangtua psikologis, pekerja
- Partnership efektif antara orangtua dan staf sekolah dalam
sosial
memfasilitasi proses pembelajaran dan pembentukan perilaku
anak

Pelatihan 3 7:

strategi efektif untuk membangun tata tertib dengan metode:

- Diskusi grup dengan topik: memuji yang efektif, pemecahan


masalah

- Video tentang orangtua dan anak

- Sistem voice mail untuk menjaga komunikasi dan keterlibatan


orangtua dalam program ini

Pelatihan 8 9:

Booster session
Program intervensi berbasis orangtua/keluarga terkait
pencegahan merokok pada anak dan remaja
Program Pemberi Keterangan
intervensi materi

Intervensi tingkat
medium
Modul Pengajar Program dilakukan dengan pengiriman 4 booklet secara berkala dan dievaluasi
Family kesehatan oleh pengajar kesehatan via telfon. Setiap booklet terdapat instruksi aktivitas yang
matters diselesaikan dalam waktu 2 minggu oleh keluarga dan remaja (usia 12-14 tahun).
(Bauman, Pembicaraan di telfon bertujuan untuk memotivasi partisipasi orangtua, menjawab
2001) beberapa pertanyaan dan perekaman informasi. Pengiriman booklet selanjutnya
akan ditentukan oleh pengajar kesehatan berdasarkan aktivitasi yang selurunhnya
telah dilakukan oleh keluarga. Ketika booklet ke-empat akan dirkirim, atau ketika
keluarga memutuskan untuk menghentikan partisipasi, maka pengiriman booklet
dan telfon akan berhenti. Perkiraan biaya untuk melakukan ulang dan pelaksanaan
program adalah $140,42 / partisipan.
Program intervensi berbasis orangtua/keluarga terkait
pencegahan merokok pada anak dan remaja
Program Pemberi Keterangan
intervensi materi

Intervensi tingkat medium


Modul Pengajar Booklet 1: motivasi kepada keluarga untuk berpartisipasi, komunikasi terkait
Family kesehatan dampak negatif terhadap remaja yang menggunakan zat terlarang, megajak
matters orangtua untuk mengidentifikasi dan berdiskusi dampak pada keluarga bila
(Bauman, remaja menggunakan zat terlarang, memotivasi orangtua akan kerentanan
2001) remaja bereksperimentasi dengan zat tersebut, memotivasi orangtua untuk
dapat memiliki suatu kontrol terhadap remaja dari perilaku berbahaya, serta
menginformasikan pentingnya pengaruh keluarga pada anak dan remaja di
rumah dan berdiskusi persamaan antara orangtua dan remaja.

Booklet 2: membentuk karakter keluarga untuk memberikan influens terhadap


remaja dengan cara supervisi, mendukung, keterampilan komunikasi,
bonding, prestasi akademik, minimalisir konflik, dan cara yang tepat untuk
mengenali remaja. Orangtua juga disarankan membuat daftar perilaku yang
dianggap perubahan normal pada remaja.
Program intervensi berbasis orangtua/keluarga terkait
pencegahan merokok pada anak dan remaja
Program Pemberi Keterangan
intervensi materi

Intervensi tingkat medium


Modul Pengajar Booklet 3: fokus terhadap variabel merokok dan penggunaan alkohol.
Family kesehatan Keluarga diminta untuk medaftarkan hal yang mungkin mendorong anak
matters merokok atau mengonsumsi alkohol, mengidentifikasi peraturan yang dapat
(Bauman, mempengaruhi penggunaan zat, dan memikirkan berbagai cara untuk
2001) memonitor penggunaan zat oleh anak. Orangtua dan anak akan membuat
persetujuan bersama terkait peraturan dan sanksi terkait merokok/penggunaan
alkohol.

Booklet 4: pengaruh merokok/penggunaan alkohol di lingkungan luar.


Orangtua dan remaja akan mempertimbangkan cara untuk mengatasi peer-
pressure dan pengaruh media terkait merokok/penggunaan alkohol. Contoh:
orangtua dan remaja berlatih menolak tawaran alkohol/merokok dari seroang
teman, atau berdiskusi terkait tayangan televisi yang memuat pesan dengan
konten merokok/konsumsi alkohol.
Program intervensi berbasis orangtua/keluarga terkait
pencegahan merokok pada anak dan remaja
Program intervensi Pemberi Keterangan
materi
Intervensi tingkat rendah
Modul smoke Tim peneliti 5 modul dikirim via mail setiap 1 bulan target:
free kids pengembangan aktivitas dan komunikasi orangtua-anak.
(Hiemstra, 2014) Orangtua menerima petunjuk tertulis pelaksanaan modul dan
tips komunikasi. Diantara aktivitas, orangtua menerima berita
digital dari email pada modul 2, 3 dan 5 dan bertujuan untuk
menjaga komitmen orangtua mengikuti program ini.

Modul 1: komunikasi tentang topik merokok, dan membuat


orangtua dan anak merasa nyaman membicarakan tentang
perilaku merokok

Modul 2: pengaruh pesan tentang merokok (sosial media,


lingkungan, acara olahraga)

Modul 3: membuat peraturan tentang merokok untuk


mencegah anak bereksperimentasi dengan merokok
Program intervensi berbasis orangtua/keluarga terkait
pencegahan merokok pada anak dan remaja
Program intervensi Pemberi materi Keterangan
Intervensi tingkat rendah
Modul smoke Tim peneliti Modul 4: kelanjutan dari modul 3 dengan membuat
free kids lingkungan rumah dan sekitar rumah bebas rokok sehingga
(Hiemstra, 2014) mencegah anak menjadi second-hand smoker

Modul 5: meningkatkan kesadaran anak tentang pengaruh


merokok dari teman dan kemampuan anak untuk
mengatasi peer-pressure

Modul booster Staying smoke free: diberikan setelah 12


bulan sejak modul pertama diterima.
Forest plot program intervensi berbasis keluarga vs kontrol
data awal baseline never smoker.

Cochrane Database of Systematic Reviews. 2013;4:1-394


PROGRAM INTERVENSI BERBASIS
INTERNET/MEDIA
Program intervensi berbasis media/internet
Madden dkk. 2013 Pew Internet survey:
95% remaja pengguna internet ; 74%
menggunakan internet mobile
Crutzen. 2011 tren peningkatan pengaruh
internet terhadap kehidupan remaja
internet dianggap sebagai salah satu sumber
perilaku remaja terkait kesehatan termasuk
merokok
Program intervensi berbasis media/internet
Park dan Drake review sistematik tentang penggunaan internet
sebagai modalitas program intervensi pencegahan merokok pada
remaja
Evaluasi 12 artikel yang dievaluasi
64% studi fokus kepada penurunan dan pemberhentian merokok
pada anak,
1 studi dengan fokus program pencegahan merokok
3 studi dengan fokus pencegahan dan pemberhentian merokok.
Luaran primer perilaku merokok
Dampak dari intervensi dinilai dari aspek penggunaan rokok, niat
merokok, sikap, self-efficacy, dan pengetahuan
Follow up bervariasi dari periode sesaat setelah intervensi sampai 6
bulan kemudian

Hasil komponen yang efektif dari program berbasis internet


adalah penggunaan multimedia, pendekatan sesuai kebutuhan
(tailored approach), dan penggunaan fitur interaktif
Program intervensi berbasis media/internet
Contoh penggunaan multimedia dalam
program intervensi :
menyediakan video konten dan kumpulan cerita
yang dapat menarik remaja secara efektif
Komponen yang bersifat aktivitas interaktif
seperti forum diskusi, quiz tanya jawab, dan self-
journaling
virtual reality program dengan fitur avatar
Kesimpulan:
mengeksplor proses
Efektifitas program berbasispenyelesaian masalah
internet belum terbukti lebih dan
pembuatan keputusan
efektif dibandingkan melalui online role playing
program lainnya
Program berbasis internet berpotensi memberikan dampak
dan diskusi terkait isu merokok
positif bila dikombinasi dengan program lain.
STRATEGI PEMERINTAH DALAM
PENCEGAHAN MEROKOK PADA REMAJA
Kendala Pemerintah dalam upaya
pencegahan merokok pada remaja
Euromonitor 2014:
Indonesia : produksi 360 milyar rokok/tahun salah satu
produser dan eksporter rokok terbesar di dunia
Indonesia : konsumer rokok ke-empat terbesar di dunia
Jumlah rokok yang dikonsumsi : 33 milyar (1970) 217 milyar
(2004)
GYTS Indonesia 20154: >20% pelajar indonesia adalah pengguna
rokok (36,2% laki-laki vs 4,3% perempuan)
43,2% pelajar Indonesia mencoba rokok pertama kali saat berusia 12 13
tahun
Pajanan merokok sejak usia muda
Meningkatkan risiko adiksi terhadap zat adiktif nikotin dari rokok
Meningkatkan risiko penyakit akibat zat berbahaya dari rokok
Menghambat perkembangan optimal remaja
Kendala Pemerintah dalam upaya
pencegahan merokok pada remaja
Pemerintah Indonesia bertanggung jawab atas beberapa hal terkait
masalah ini:
1. Hak asasi anak dan remaja tidak terpenuhi apabila
keberlangsungan hidup dan perkembangan optimal anak dan
remaja terancam
2. Restriksi pemasaran produk tembakau / rokok perlu dilakukan
secara tegas dan implementasi yang optimal di lapangan perlu
diterapkan untuk mencegah pajanan dan eksploitasi remaja oleh
industri rokok
3. Legal paternalism mewajibkan pemerintah untuk melindungi
masyarakat yang dianggap inkompeten, termasuk anak dan
remaja dari dampak yang tidak diinginkan akibat suatu tindakan
yang mereka lakukan, seperti merokok. Hal ini dapat dilakukan
dengan penguatan hukum pada bidang kesehatan dan
pengendalian segala aspek produk tembakau
Kendala Pemerintah dalam upaya
pencegahan merokok pada remaja
Framework Convention for Tobacco Control (FCTC)
suatu persetujuan dibawah naungan WHO
Tujuan: untuk mengimplementasikan hak kesehatan anak
dengan meregulasi pengendalian produk tembakau
mencegah remaja memulai merokok dan melindungi non-
perokok menjadi perokok pasif.
Indonesia menjadi salah satu negara yang belum
meratifikasi FCTC
Kepentingan ekonomi (WHO, 2014)
eksport dan import produk tembakau salah satu sumber
penghasilan terbesar Indonesia
Eksport rokok di Indonesia tahun 2010 55,150,912 kg yang bernilai
USD 428,001,559
import rokok 254,164 kg yang bernilai USD 4,880,791
Strategi Pemerintah dalam upaya
pencegahan merokok pada remaja
Pengesahan UUD no. 109 tahun 2012 menerangkan pengamanan bahan yang
mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan:
peraturan untuk pencantuman peringatan bahaya kesehatan dengan gambar dan
tulisan, kandungan nikotin dan tar
pernyataan untuk melarang penjualan atau pemberian kepada anak dibawah 18
tahun dan perempuan hamil
Dilarang mencantumkan kata yang mengindikasikan kualitas, superioritas, rasa
aman, pencitraan, kepribadian atau arti yang serupa
pengendalian iklan produk tembakau
pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan iklan layanan masyarakat
mengenai bahaya merokok
pengendalian sponsor produk tembakau
penyediaan kegiatan pemulihan sosial yang mengalami disfungsi kesehatan dan
sosial akibat penggunaan zat adiktif berupa produk tembakau
larangan untuk menyuruh anak dibawah 18 tahun untuk menjual, membeli atau
mengonsumi produk tembakau
penyediaan kawasan tanpa rokok dan tempat merokok khusus
Pelanggaran sanksi administratif
implementasi di lapangan tidak dilakukan sehingga pada sanksi tidak diberlakukan.
Strategi Pemerintah dalam upaya
pencegahan merokok pada remaja
mempertimbangkan ketetapan dari kementerian
yang dapat meningkatkan tiga kali lipat produksi
rokok pada tahun 2020
Sebagai upaya Pemerintah Indonesia untuk
meningkatkan produksi tembakau dan
kesejahteraan petani tembakau
pabrik rokok untuk menggunakan setidaknya 80%
daun tembakau Indonesia
200% pajak bea cukaiakan dibebankan pada produk
rokok impor
Harga rokok akan meningkat : estimasi Rp. 50.000/pak
Saat ini 1 pak rokok di Indonesia adalah seharga Rp. 25.000
(USD 1,92) vs USD 9,53 di Singapura ; USD 13 di New York,
USA.
Rekomendasi strategi pencegahan
merokok pada remaja
merestriksi akses produk tembakau di
kalangan remaja peraturan yang melarang
penjualan dan pembelian rokok pada remaja
sanksi dalam bentuk denda administratif yang
kepada penjual
Tim di lapangan untuk implementasi program
Negara berkembang Prevalens merokok pada remaja Prevalens merokok pada remaja
sebelum implementasi larangan setelah implementasi larangan
menjual rokok menjual rokok
Amerika 27,5% (1997) 15,7% (2013)

Kanada 45% (1994) 13% (2013)

Australia 23% (1999) 8,5% (2011)


Rekomendasi strategi pencegahan
merokok pada remaja
Kampanye anti-rokok
Tujuan untuk memperbaiki pengertian remaja,
orangtua, dan masyarakat tentang dampak buruk dari
merokok bagi diri sendiri dan sekitarnya termasuk
bahaya kecanduan akan zat adiktif yang terkandung
dalam rokok dan pajanan bahaya dari second-hand
smoking
Iklan rokok hanya menayangkan masalah kesehatan
akibat rokok, tidak mengandung konten seperti
pencarian jati diri/suatu hiburan
Melarang promosi/sponsorship acara kegiatan remaja
Program CSR industri tembakau persepsi good image
Rekomendasi strategi pencegahan
merokok pada remaja
Hatsukami, 2010 Penurunan kadar nikotin
(0,05 mg/batang rokok)
Menurunkan risiko gejala withdrawal
Mencegah perokok pemula seperti pada remaja
yang mulai bereksperimentasi dengan merokok,
agar tidak berubah menjadi perokok aktif akibat
kecanduan
Kesimpulan
Program intervensi efektif untuk pencegahan merokok
pada remaja
Program berbasis sekolah kurikulum: kombinasi
kompetensi sosial dan pengaruh sosial, dibawakan oleh
dewasa, pemantauan >1 tahun, booster session (+)
Indonesia program intervensi berbasis agama islam
dapat meningkatkan pengetahuan terkait kesehatan,
agama, dan perbaikan persepsi merokok
Kombinasi dengan program berbasis sekolah intervensi
tingkat tinggi
Orangtua dan staf sekolah partnership (+)
Meningkatkan komunikasi antara orangtua dan guru
Mengajarkan komunikasi antara orangtua dan anak terkait diskusi topok
merokok
Kesimpulan
Program intervensi berbasis internet/media sebaiknya menjadi
program adjuvant/tambahan
Aspek menarik: penggunaan multimedia, pendekatan sesuai kebutuhan
(tailored approach), dan penggunaan fitur interaktif seperti konsep role-
playing games (RPG)
Rekomendasi strategi pencegahan merokok pada remaja oleh
Pemerintah Indonesia:
Peraturan larangan menjual ke remaja dengan sanksi administratif pada
penjual, disertai tim di lapangan untuk implementasi program
Kenaikan harga rokok
Penurunan kandungan nikotin/batang rokok
Larangan pemasaran produk tembakau
Iklan tidak mengandung konten pencarian jati diri/hiburan
Menayangkan iklan pelayanan kesehatan terkait dampak negatif merokok pada
kesehatan
Larangan sponsorhsip/beasiswa pada acara remaja