Anda di halaman 1dari 20

ANTIBIOTIK

NEFROTOKSIK

Kelompok ayam gepuk


1. M. Bintang iqbal
2. Syahrul hamid muzakki
3. Reni dwi astuti
4. Ririn hayu pangestu
5. Dwi mutiara ramadhani
ANTIBIOTIK NEFROTOKSIK
PENGGUNAAN PADA GANGGUAN
FUNGSI GINJAL

Obat antibiotic sebagian diekskresikan lewat ginjal


bila ginjal mengalami gangguan fungsi
maka pemberian obat tentunya harus disesuaikan

Beberapa obat antibiotika yang sering menimbulkan gangguan fungsi


ginjal antara lain :
1. golongan aminoglikosida,
2. betalaktam
3. vancomisin
4. golongan sulfanamid,
5. golongan acyclovir,
6. golongan rifampisin,
7. golongan amphoterisin B,
8. golongan tetrasiklin dU.
1. GOLONGAN AMINOGLIKOSIDA
Aminoglikosida merupakan antibiotika yang penggunaannya sangat luas
terutama untuk pengobatan infeksi gram negative,
namun demikian penggunaannya dibatasi karena sifat nefroktoksisitasnya4

Mekanisme terjadinya nefrotoksis


Aminoglikosida ginjal (dikortek ginjal dan sel tubulus)
melalui
berikatan endositosis dan sequestration,
lisosom

myeloid body/lisosom sekunder dan fosfolipidosis.

membrane lisosom pecah dan melepaskan asam hidrolases

mengakibatkan kematian sel.


Faktor risiko toksisitas aminoglikosida
antara lain :

adanya depletion ion natrium dan kalium,


iskemia ginjal,
karena usia lanjut,
penggunaan diuretika ,
penyakit hati dan obat lain yang nefrotoksis.
Menurut urutan toksisitas yang paling toksis adalah
Neomisin>gentamisin>tobramisin>netilmisin>amika
sin>streptomisin.
2. GOLONGAN SULFONAMID

Penggunaan obat golongan sulfonamide meningkat dengan


adanya AIDS, bila dikombinasikan dengan beberapa obat
dapat digunakan untuk pengobatan malaria
(sulfadoksin dan pyrimethamine).

Mekanisme nefrotoksik sulfonamid adalah mempunyai


kemampuan membentuk kompleks-kompleks yang stabil
dengan kation-kation tertentu.
Sebagian besar logam berat salah satunya adalah nikel
merupakan racun enzim yang dapat menyerang saluran
cerna, hati, ginjal dan dapat menyebabkan kanke
3. AMPHOTERICIN B (AmB)2

Merupakan obat anti jamur yang efektif


Memiliki efek nefrotoksis
frekuensi gangguan ginjal akut mencapai 49% dan
65%6.
Lebih dari 50% pasien secara signifikan kadar serum
kreatinin meningkat dari sebelumnya
Mekanisme nefrotoksik

Am-B bersifat hidrofilik sehingga mudah bercampur


dengan membran sel epithel dan meningkatkan
permiabelitas. Hal ini akan merusak sel endotel yang
mengakibatkan vasokonstriksi arteriole afferen dan
efferen glomerulus dan menyebabkan penurunan GFR
dan berakibat terjadi oliguria (2.6T)

oksisitas terhadap tubulus tergantung dari efek toksis


langsung dan iskemik yang berkelanjutan
4.RIFAMPISIN

Merupakan obat anti tuberkulosis yang mempunyai


efek nefrotoksis dibandingan dengan anti tuberlosis
lainnya.

Mekanisme rifampisin yaitu menghambat mekanisme


kerja RNA polymerase yang tergantung pada DNA dari
mikrobakteri dan beberapa mikroorganisme. Penggunaan
pada konsentrasi tinggi untuk menginhibisi enzim bakteri
dapat pula sekaligus menginhibisi sintesis RNA dalam
mitokondria mamalia (Wattimena dkk, 1991) .
Obat ini dapat berdifusi secara baik ke berbagai
jaringan. Hal ini dapat dilihat dari warna merah pada
urin, tinja, sputum, air mata dan keringat penderita
Tb yang diobati dengan rifampisin.

Insiden nefrotoksis bervariasi antara 1,8% sampai 16


% dari semua kasus gangguan ginjal akut(GGA).
Kebanyakan GGA karena rifampsisn akibat obat
yang menginduce anemia hemolitik.
5.ACYCLOVIR

Merupakan obat anti virus, bila diberikan lebih 500


mg/m2 intravena akan menyebabkan nefrotoksis.
Asiklovir trifosfat menghambat secara kompetitif
polimerase DNA virus dan bersaing dengan
deoxyguanosine trifosfat alam, untuk dimasukkan ke
dalam DNA virus.
Setelah dimasukkan, trifosfat asiklovir menghambat
sintesis DNA dengan bertindak sebagai terminator
rantai
Pada pemeriksaan urin
tampak adanya kristal berbentuk jarum.
Tampak adanya inflammasi pada daerah obstruksi di tubulus.

Faktor risiko terjadinya nefrotoksis meliputi


pengurangan volume cairan
adanya gejala Insuffisiensi ginjal,dan
infus bolus yang cepat.

Biasanya penanganan yang tepat dapat memulihkan mendekati


fungsi ginjal yang normal dalam waktu 10-14 hari, walaupun
kadang2 perlu dialysis.
6. GOLONGAN PENICILLIN, SEFALOSPORIN DAN
BETALAKTAM

GOLONGAN PENICILIN
Walaupun umumnya tidak nefrotoksis tetapi
nefropati dapat terjadi pada pemberian meticillin,
penicillin G dan ampisilin Kelainannya berupa
nefritis interstitialis, diperkirakan terjadi berdasarkan
mekanisme reaksi imun yang tergantung dari dosis
dan lamanya pemberian
SEFALOSPORIN
Sefalosporin merupakan zat yang
nefrotoksis, meskipun jauh lebih kurang
dari aminoglikosida dan polimiksin.
kombinasi dengan
gentamisin,tobramisin,aminoglikosida dan
meticillin mempermudah nefrotoksis.
Betalaktam lain
umumnya mempunyai efek nefrotoksis
yang hampir sama dengan golongan
penisillin dan sefalosporin

Mekanisme nefrotoksis melalui reaksi


iskemia dan endotoksemia serta renal
cortex mitochondria injury
7. VANCOMISIN

Merupakan antibiotika yang dihasilkan oleh streptomises


orientalis,yang tidak dapat diserap oleh saluran cerna,
karenanya hanya diberikan intravena untuk mendapatkan efek
sistemik. Obat ini sangat toksis, obat ini hanya dipakai kalau
obat yang lain alergi.
Uremia yang fatal bila pemberiannya dosis besar, terapi yang
lama, atau diberikan pada gangguan ginjal, karena itu perlu
monitoring yang sangat ketat
Bentuk kombinasi dengan O-mannitol dan makrogol
400 (PEG400)BISA MEMBUAT efek nefrotoksinya
jauh berkurang.

Mekanisme kerusakan ginjal akibat vancomisin


melalui kerusakan glomerulus yaitu delatasi
Bowman,s space dan hipertrofi glomerulus.
Sedangkan di tubulus dapat berupa delatasi tubulus
renalis, nekrosis atau dergenerasi epitel tubulus dan
adanya silinder hialin dalam tubulus
8. TETRASIKLIN

Tetrasiklin merupakan golongan obat yang


mempunyai struktur dasar dan aktivitas umum.
Tetrasiklin yang diperoleh sejak dehalogenisasi
katalik kloretrasiklin telah tersedia sejak tahun 1953.
Demeklosiklin diperoleh dengan demetilasi
klortetrasiklin. Kebanyakan tetrasiklin yang
dikembangkan akhir-akhir ini ditekankan pada
absorbsI yang baik bersama kadar darah yang
bertahan lebih lama
Farmakokinetik
Tetrasiklin diabsorbsi agak tidak teratur dari saluran
pencernaan. Tertasiklin yang terutama diekskresikan
melalui cairan empedu dan urin. Konsentrasi didalam
empedu 10 kali lebih tinggi daripada dalam serum.
Sepuluh sampai 50% berbagai tetrasiklin
diekskresikan kedalam urin terutama melalui filtrasi
glomerulus. Bersihan ginjal tetrasiklin berkisar antara
10 sampai 90mL/menit .
Toksisitas terhadap ginjal
preparat tetrasiklin yang telah kadaluarsa
Mengakibatkan Asidosis tubulus ginjal dan cidera
ginjal lainya yang menyebabkan retensi nitrogen.
Tetrasiklin yang diberikan bersama dengan deuretik
dapat menyebabkan retensi nitrogen.
Tetrasiklin,kecuali doksisiklin dapat tertimbun
sampai kadar toksik pada penderita dengan gangguan
fungsi ginjal dan dapat memperberat keadaan
tersebut
Daftar pustaka
1. Singh NP, Ganguli A, Prakash A. Drug induced 'Kidney Diseases. JAPI 2003;51: 970-977
2. Jha V, Chugh KS. Drug Induced renal desease. J Assoc Physicians India 1995; 43: 407-15.
3. Ward DT, Mc Lamon SJ, Riccardi D A. Aminoglycosides Increase Intracellular Calcium Levels and
ERK Activity in Proximal Tubular Cells Expressing the Extracellular Calcium- Sensing Receptor. J Am
Soc Nephrol.2002;13: 1481-1489
4. Katzung,2006, Farmakologi dasar dan klinik,10thEd. Jakarta: EGC
5. Palar.H. (1994). Pencemaran dan Toksikologi logam berat. Jakarta: Rineka Cipta.
6. Mariana Y, Setiabudy R. Sulfonamid, kotrimoksazol dan Antiseptik Saluran Kemih.Farmako logi
dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi FK UI . 1995
7. Gilman, A.G., 2007, Goodman & Gilman Dasar Farmakologi Terapi, diterjemahkan oleh TimAlih Bahasa
Sekolah Farmasi ITB, Edisi X, 877, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,Jakarta
8. Istiantoro Y H, dan Gan V H S. Penisilin, sefalosporin dan antibiotik Betalaktam lainnya.Farmakologi
dan Terapi. Bagian farmakologi FK UJ. Edisi 4.1995
9. Luft F C. Visscher D W. Nierste D M et al . Ceftazidime Nephrotoxicity in Rat.Antimicrobial
Agents and Chemoteraphy. 1984: 513-514
10. Setiabudy R. antimikroba lain. Farmakologi dan Terapi. Bag. Farmakologi FK UJ. Edisi 42005: 675-685
11. Hodoshima N, Nakano Y, Izumi M , Mitomi N et al . Protective Effect of Inactive Ingredients
against nephrotoxicity of vancomycin Hydrochloride in Rat. Drug Metab. Pharmacokin. 2004; 19: 68-
75.