Anda di halaman 1dari 21

HUBUNGAN KADAR HBA1C DENGAN

KADAR LDL-C PADA PENDERITA


DIABETES MELLITUS TIPE 2

TITIN SONDANG M PAKPAHAN


213 210 072

Pembimbing 1: Prof. Dr. dr. Hadyanto Lim, M.Kes, Sp.FK, FESC, FIBA, FAHA
Pembimbing 2: dr. Thomas Silangit, Sp.PK, M.Si

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA
MEDAN
2017
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
IDF 2014, 387 juta org DM. Pada tahun 2035 mencapai 592 juta .

Indonesia menempati peringkat ke-5 di dunia dengan jumlah 9,1 juta


orang DM

HbA1c merupakan kontrol dan diagnosis DMT2, dimana setiap


peningkatan 1% KGD 35 mg/dl penyakit kardiovaskular 18 %

KGD menyebabkan ox-LDL

Peningkatan LDLC 1% penyakit kardiovaskular 2%

IDF 2014; PERKENI 2015; LIM 2014;NOVIYANTI 2011


RUMUSAN Apakah terdapat hubungan antara kadar HbA1c
MASALAH dengan kadar LDL-C pada pasien Diabetes Mellitus
Tipe II ?

TUJUAN 1. Umum
PENELITIAN Untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c
dengan kadar LDL-C pada penderita DM tipe 2
2. Khusus
Untuk mengetahui korelasi antara kadar HbA1c
dengan kadar LDL-C pada penderita DM tipe 2.
Untuk mengetahui pengaruh kadar HbA1c
terhadap kadar LDL-C

MANFAAT Bagi Institusi


PENELITIAN Bagi Masyarakat
Bagi Peneliti
Bagi Peneliti Lain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Diabetes Mellitus (DM)
Defenisi Sekelompok penyakit metabolik yang ditandai
dengan hiperglikemia akibat gangguan pada sekresi
insulin, kerja insulin, atau keduanya
Epidemiologi WHO, tahun 2000-2030 meningkat 114 %
Prevalensi DM II merambah pada dewasa muda
20-30 tahun
Anak-anak di jepang DM 2 > DM 1
Peningkatan obesitas diabesity

Klasifikasi DM TIPE 1
DM TIPE 2
DM GESTASIONAL
DM TIPE LAIN
ADA 2014; Schteingart 20013; IDF 2014, Lim 2014
PATOFISIOLOGI DM TIPE II

Sekresi insulin Fase 2 Ggn pd proses


inadekuat Mekanisme fosforilasi
Hiperglikemia dekompensai tidak Ggn signal
akut adekuat transduksi di
postpradial KGD postpradial sel otot

Fase 1 Fase 3

Manaf 2014, Soegondo 2014, Ndraha 2014


Diabetes Melitus tipe 2

Gejala Klinis Etiologi

Riwayat Keluarga
Poliuri
DM
Polidipsia
obesitas
Polifagia
Aktifitas (-)
Ras/Etnik
KGD Puasa Terganggu
Hipertensi
Kolesterol dan HDL
tidk terkontrol
DM gestasional
Sindroma ovarium

Greenspan and gardner 2009; Alfiyah 2010


Diabetes Melitus Tipe 2

Diagnosis Komplikasi
KGD puasa 126 mg/dl. AKUT KRONIS
KGD setelah TTGO 200mg/dl
MIKROVASKULAR
KGD sewaktu 200 mg/dl RETINOPATI
HIPOGLIKEMIA DIABETIKUM
dengan keluhan klasik. NEFROPATI
DIABETIKUM
Pemeriksaan HbA1c 6,5 % NEUROPATI
HIPERGLIKEMIA DIABETIKUM

KETOASIDOSIS MAKROVASKULAR
METABOLIK ATEROSKLEROSIS
STROKE
PJK

NEUROPATI
PERIFER
HbA1C
DEFENISI
HbA1C atau A1C adalah komponen utama dari hemoglobin
terglikosilasi, suatu bentuk ikatan nonenzimatik karbohidrat
dengan hemoglobin yang menggambarkan kondisi glukosa darah
berupa kadar glukosa darah selama 2-3 bulan .

Klasifikasi Kadar HbA1c

Normal Prediabetes Diabetes

<5,7% 5,7-6,4% 6,5%

Suryaatmadja 2010; PERKENI 2015


HbA1C SEBAGAI KONTROL DIABETES

Risiko 18 %
penyakit
Peningkatan kardiovaskuler
1 % HbA1c
Pengendalian
metabolisme
glukosa buruk

DIABETES
MELITUS
TIPE II

Greci et all 2013; monnier and chollette 2009; Lim 2014


Jenis Lipoprotein :
kilomikron, very low density lipoprotein (VLDL), intermediate
density lipoprotein (IDL), low density lipoprotein (LDL), dan high
density lipoprotein (HDL).

LDL-C:
Low Density Lipoprotein (LDL) adalah pembawa utama kolesterol
di dalam plasma, dan berasal dari katabolisme VLDL.

Klasifikasi Kadar LDL-C


Optimal Mendekati Diinginkan Tinggi Sangat tinggi
optimal (Borderline)
<100 mg/dl 100-129 mg/dl 130-159 mg/dl 160-189 mg/dl 190 mg/dl

Lim 2014
METABOLISME LDL-C

kwiterovich 2000
HUBUNGAN LDL DENGAN ATEROSKLEROSIS
LDL-C
LDL-C ox-LDL Disfungsi Endotel teroxidasimatrix
subendotelial
Aktivasi Endotel

monositmakrofag

Foam cellFatty streak

Plak fibrosafibrous cap

Trombus

Aterosklerosis
Lim, et all 2014; Adi 2014
KERANGKA TEORI
DM TIPE 2

Kerusakan sel
Resistensi Insulin
pankreas

KGD

Saturasi haemoglobin A + Kadar nitrit oxide


Glukosa
LDL-C teroxidasi

Disfungsi endotel
HbA1c
SR-A mengubah ox-LDL
menjadi sel foam

Penumpukan Fatty Streak

Aterosklerosis

Komplikasi kardiovaskular:
Mikrovaskulat
makrovaskular
KERANGKA KONSEP
Diabetes Melitus Tipe II

Hiperglikemia

Pemeriksaan HbA1C Pemeriksaan LDL-C

HbA1C LDL-C

Penyakit Kardiovaskular:
Aterosklerosis
PJK
stroke
HIPOTESIS

Terdapat kolerasi antara


kadar HbA1c dengan
Hipotesis
kadar LDL-C pada
penderita DM tipe 2.
BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian Analitik dengan desain cross sectional study
Lokasi Pemeriksaan Klinik Prodia S. Parman No. 17/223 G Medan
Waktu Penelitian Setelah sidang validasi proposal
Kriteria Penelitian Kriteria Inklusi
Pria/wanita dewasa yang menyandang DM tipe 2
Pasien/keluarga bersedia memberikan ijin tertulis setelah
diberi penjelasan (informed consent) untuk mengikuti
penelitian ini
Kriteria Eksklusi
Pasien dalam keadaan sakit berat atau tidak
memungkinkan mengikuti penelitian ini.
Pasien dalam keadaan DM dengan obat antidiabetes dan
antilipid.
Pasien tidak kooperatif

Teknik Sampling Secara non-probabiliti sampling dengan menggunakan teknik


Consecutive Sampling
BESAL SAMPEL

Z +Z
n:( 1+ r )2 + 3
0,5 ln 1r Departement Of Biochemistry, Sri
Venkeshwaraa Medical College,
2 Pududcherry, India Dengan judul A
1,96+0,842
n= 1+0,773 +3 Correlative Study Of HbA1c and
0,5 ln 10,773 Lipid Profile Parameters Among
Type 2 Diabetic Population In a
2,802 2 Rural Hospital In Puducherry
n= +3 (Muraliswaran, 2016) didapati nilai
0,5 ln 7,8
r sebesar 0,773.
n= 2,73 2 +3

n=7,35+3

n=10,35

Dibulatkan menjadi 10 subjek/sampel.


RANCANGAN PENELITIAN
SUBJEK

DM TIPE II

Informed consent

UKUR NILAI HbA1c UKUR NILAI LDL


KOLESTEROL

KONTROL BAIK KONTROL BAIK


< 6,5 % < 100 mg/dl

KONTROL BURUK KONTROL BURUK


>8% > 130 mg/dl
Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel bebas (independen) : kadar HbA1c
Variabel terikat (dependen) : kadar LDL

Defenisi Operasional

Kadar HbA1c Kadar LDL-C


Baik : < 6,5% Baik : < 100 mg/dL
Sedang : 6,5 8 % Sedang : 100-129 mg/dL
Buruk : > 8% Buruk : 130 mg/dL
Dinyatakan dalam skala Dinyatakan dalam skala
Numerik Numerik
Data diolah dengan program SPSS
(Statistical Product and Service
Pengelolaan dan Solution )
Analisis Data Uji korelasi Pearson/ Spearman
Menggambar scatter plot

Penelitian dilakukan setelah


mendapat izin dari Komisi Kode
Etik dari Fakultas Kedokteran
Universitas Methodist Indonesia
Masalah Etika dan
Mendapat informed concent dari
pasien
Segala biaya operasional
ditanggung peneliti
SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH