Anda di halaman 1dari 39

MEMASANG INFUS, O2, TRANFUSI

DAN OGT PADA BAYI


Oleh kelompok 4
PEMASANGAN INFUS
Pengertian
pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh
melalui sebuah jarum ke dalam pembuluh vena
(pembuluh balik) untuk menggantikan cairan
atau zat-zat makanan dari tubuh
Tujuan
Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh
Memperbaiki keseimbangan asam basa.
Tujuan

Memperbaiki volume komponen-komponen darah


Memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan
Tujuan kedalam tubuh

Memonitor tekan Vena Central (CVP)


Memberikan nutrisi pada saat sistem pencernaan di
Tujuan istirahatkan
Lokasi

daerah kepala yaitu


vena temporalis
frontalis.
Persiapan Alat dan Bahan
Set infus
Winged needle (jarum bersayap) atau
butterfly needle dengan ukuran bayi
(23-25)
Cairan
Kapas alcohol
Alat pencukur
Alas
Persiapan Alat dan Bahan

Gunting
Kasa steril
Korentang
Plester
Bengkok
Perban
Spalk
Sarung tangan
Prosedur Pemasangan
Cuci tangan
Gunakan sarung tangan
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan dengan
menggunakan bahasa yang dimengerti oleh
orang tua bayi
atur posisi dengan tidur telentang atau dibedong
atau meminta bantuan orang lain atau orang tua
untuk memegangi bayi
beri alas
daerah yang akan dipasang infuse dicukur
terlebih dahulu atau dibersihkan
Prosedur Pemasangan
pasang cairan dan sambungkan dengan set infuse
lakukan desinfeksi pada daerah yang akan diinfus
lakukan penusukan dengan menggunkan jarum
bersayap kearah aliran darah
puji bayi atas kerjasamanya
beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada
plester serta inisial perawat/bidan yang
melaksanakan prosedur
cuci tangan
TRANFUSI
Transfusi darah merupakan tindakan keperawtan
yang dilakukan pada pasien yang membutuhkan
darah dengan cara memasukan darah melalui
vena menggunakan darah dengan cara
memasukan darah melalui vena menggunakan
alat set tranfusi, untuk memenuhi kebutuhan
darah dan memperbaiki perfusi jaringan.
INDIKASI
Kehilangan darah akut, bila 2030% total
volume darah hilang dan perdarahan masih
terus terjadi.
Anemia berat
Syok septik (jika cairan IV tidak mampu
mengatasi gangguan sirkulasi darah dan sebagai
tambahan dari pemberian antibiotik)
Memberikan plasma dan trombosit sebagai
tambahan faktor pembekuan, karena komponen
darah spesifik yang lain tidak ada
Transfusi tukar pada neonatus dengan ikterus
berat.
ALAT DAN BAHAN
Standar infuse
Set tranfusi
NaCl 0.9 %
Darah sesuai dengan kebutuhan
pasien
Jarum infuse/abocath atau sejenisnya
dengan ukuran yang sesuai
Alas
ALAT DAN BAHAN
Torniket/pembendung
Kapas alkohol 70%
Plester
Gunting
Kasa steril
Spalk
Sarung tangan
PROSEDUR
Cuci tangan
Gunanakan sarung tangan
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
menggunakan bahasa yang dimengerti anak atau
orang tua
Hubungkan cairan NaCl 0.9 % dan tranfusi set
dengan menusukan spke slang (kateter)
Isi cairan NaCl 0.9% ke dalam set tranfusi
dengan menekan bagian ruang tetesan sampai
ruang tetesan terisi sebagian dan buka penutup
selang terisi dan keluarkan udara
Letakan alas
PROSEDUR
Atur posisi dengan tidur terlentang dan minta
bantuan orang lain atau orang tua untuk
memegangi
Lakukan pembendungan dengan torniket
Desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan
gerakan sirkuler
Lakukan penusukan dengan arah lubang jarum
ke atas
Periksa apakah sudah masuk ke pembuluh
darah ditandai dengan darah keluar melalui
jarum infuse/abocath
Tarik jarum infuse dan hubungkan dengan slang
tranfusi
PROSEDUR
Buka tetesan
Lakukan desinfeksi dengan betadin dan tutp
dengan kasa steril
Gunangkan spalk untuk fiksasi daerah infuse
Tenangkan anak dan pastikan infuse diperlukan
untuk membuat keadaan lebih baik
Buka sarung tangan
Puji anak atas kerjsamanya
Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada
plester serta inisial perawat yang melaksanakan
pemasangan
Cuci tangan
PROSEDUR
Setelah NaC; 0.9% masuk kurang lebih 15 menit
ganti dengan darah yang sudah disiapkan
Sebelum dimasukan, cek darah untuk warnanya,
identitas pasien, jenis golongan darah, tanggal
akhir penggunaan
Lakukan observasi tanda-tanda vital selama
trasnfusi.
OKSIGEN
Pemberian oksigen ke dalam paru-paru melalui
saluran pernapasan dengan menggunakan alat
bantu dan oksigen. Pemberian oksigen pada
pasien dapat melalui kateter nasal, kanula nasal,
dan masker oksigen
Tujuan
Memenuhi kebutuhan oksigen
Mencegah atau mengatasi hipoksia.
Indikasi
Terapi ini dilakukan pada penderita :
Dengan anoksia atau hipoksia
Dengan kelumpuhan alat-alat pernapasan.
Selama dan sesudah dilakukan narcose umum.
Mendapat trauma paru
Tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda shock.
Dispeneu, cyanosis,apneu.
Dalam keadaan koma
Bila persediaan oksigen terbatas, prioritas harus
diberikan untuk anak dengan pneumonia sangat
berat, bronkiolitis, atau serangan asma yang:
mengalami sianosis sentral, atau
tidak bisa minum (disebabkan oleh gangguan
respiratorik).
Jika persediaan oksigen banyak, oksigen harus
diberikan pada anak dengan salah satu tanda
berikut:
tarikan dinding dada bagian bawah yang dalam
frekuensi napas 70 kali/menit atau lebih
merintih pada setiap kali bernapas (pada bayi
muda)
anggukan kepala (head nodding).
Metode Pemberian Oksigen
1. Nasal
Nasal prong
Kateter nasal
Kateter nasofaring

2. masker
PROSEDUR PEMASANGAN O2
Persiapan alat:
1. Tabung oksigen beserta isinya.
2. Regulator dan flow meter.
3. Botol pelembab.
4. Masker atau nasal prong
5. Slang penghubung.
Persiapan pasien :
1. Memberitahu pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan
Persiapan lingkungan :
1. Menutup pintu , jendela, dan memasang sampiran.
KATETER NASAL
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
2. Cuci tangan.
3. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang
dibutuhkan, biasanya 1-6 L/mnt. Kemudian obsevasi
humidifier dengan melihat air bergelembung.
4. Atur posisi dengan semi-fowler.
5. Ukur kateter nasal dimulai dengan lubang telinga sampai ke
hidung dan berikan tanda.
6. Buka saluran udara dari tabung oksigen.
7. Berikan minyak pelumas (vaselin/jeli).
8. Masukkan kedalam hidung sampai batas yang ditentukan.
9. Lakukan pengecekkan kateter apakah sudah masuk apa
belum, dengan menekan lidah pasien menggunakan spatel
(akan terlihat posisinya di belkang uvula).
10. Fiksasi pada daerah hidung.
11. Periksa kateter nasal setiap 6-8jam.
12. Kaji cuping, septum, dan mukosa hidung serta periksa
kecepatan aliran oksigen tiap 6-8 jam.
KANULA NASAL
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
2. Cuci tangan.
3. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang
dibutuhkan, biasanya 1-6 L/mnt. Kemudian
observasi humidifier pada tabung dgn adanya
gelembung air.
4. Pasang kanula nasal pada hidung dan atur pengikat
untuk kenyamanan pasien.
5. Periksa kanula tiap 6-8 jam
6. Kaji cuping, septum, dan mukosa hidung serta
periksa kecepatan aliran oksigen tiap 6-8 jam.
7. Catat kecepatan aliran oksigen rute pemberian dan
respon klien.
8. Cuci tangan setelah prosdur yang dilakukan.
MASKER OKSIGEN
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
2. Cuci tangan.
3. Atur posisi dengan semu-fowler.
4. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan
yang dibutuhkan, biasanya 6-
10L/mnt. Kemudian observasi humidifier pada
tabung air dengan adanya gelembung
5. Tempatkan masker oksigen di atas mulut dan
hidung pasien dan atur pengikat untuk
kenyamanan pasien.
6. Periksa kecepatan tiap 6-8 jam, catat kecepatan
aliran oksigen, rute pemberian , dan respon
klien.
7. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
CARA KERJA.
1. Tabung oksigen dibuka dan diperiksa isinya.
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah
melaksanakan tindakan.
3. Hubungkan nasal prong atau masker dengan
selang oksigen ke botol pelembab.
4. Pasang ke penderita
5. Atur aliran oksigen ssuai dengan kebutuhan.
6. Setelah pemberian tidak dibutuhkan lagi, lepas
nasal prong atu masker dari penderita.
7. Tabung oksigen di tutup.
8. Penderita di rapikan kembali.
9. Peralatan dibereskan.
PERHATIAN

1. Amati tanda-tanda vital sebelum selam dan sesudah


pemberian oksigen.
2. Jauhkan hal-hal yang dapat membahayakan , misalnya
: api, yang dapat menimbulkan kebakaran.
3. Air pelembab harus diganti setiap 24 jam dan isi sesuai
batas yang ada pada botol.
4. Botol pelembab harus disimpan dalam keadaan bersih
dan kering bila tidak dipakai.
5. Nasal prong dan masker harus dibersihkan,
didesinfeksi dan disimpan kering.
6. Pemberian oksigen harus hati-hati terutam apada
penderita penyakit paru kronis karena pemberian
oksigen yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan
hipoventilasi,hypercarbia diikuti penurunan kesadaran.
7. Terapi oksigen sebaiknya di awali dengan aliran 1-2
L/mnt, kemudian dinaikkan pelan-pelan sesuai
kebutuhan.
OGT (GASTRIC ORAL TUBE)
Melakukan pemasangan selang dari rongga
mulut sampai kelambung pada bayi atau
anak

Indikasi
Pasien dengan masalah salauran pencernaan
atas (stenosis esoagus, tumor mulit atau faring
atau juga esofagus dll)
Pasien yang tidak mampu menelan
Pasien
Tujuan OGT
Memasukan makanan cair atau obat-obatan cair
atau padat yang dicairkan
Mengeluarkan cairan atau isi lambung dan gas
yang ada dalam lambung
Mengirigasi lambung karena perdarahan atau
keracunan dalam lambung
Mencegah atau mengurangi mual dan muntah
setelah pembedahan atau terauma
Mengambil spesemen dalam lambung untuk
pemeriksaan laboratorium
Persiapan alat
Pada troli Pada bak instrumen
OGT No 5 atau 8 (untuk anak Selang NGT
yang lebih kecil) Sarung tangan steril
Sudip lidah (tongue spatel) Spuit
Sepasang sarung tangan
Senter
Spuit ukuran 20-50 cc
Plester
Stotoskop
Handuk
Tissue
Bengkok
Persiapan pemasangan OGT
Persiapan perawat/bidan Persiapan pasien
Mencuci tangan dengan baik Memberikan penjelasan
dan benar mengenai tindakan, perosedur
Mempersiapkan alat serta tujuan dari tindakan
Membaca status pasien untuk yang akan dilakukan
memastikan instruksi Mengatur posisi pasien
supinasi
Persiapan lingkungan
Menutup pintu atau gorden dan juga sampiran
harus diperhatikan
Mengatur pencahayaan di ruangan pasien
dengan cukup
Prosedur pelaksanaan
Mencuci tangan dengan cara yang baik dan benar
Berikan salam teraupetik kepada pasien
Perkenalkan kembali nama perawat atau bidan
serta validasi identias pasien
Jelaskan tindakan yang akan dilakukan beserta
tujuanya (termasuk rasa tidak nyaman yang
kemungkinan yang akan dialami pasien ketika
tindakan berlangsung)
Atur pasien dengan posisi supkinasi
Pasang handuk pada dada pasien, letakan tissue
Pasang perlak, pengalas dan bengkok disamping
telinga pasien
Untuk menentukan insersi OGT minta pasien rileks
dan bernafas normal
Bersihkan area sekitar mulut mengguanakan tissue
Pasang stotoskop pada telinga
Gunakan sarung tangan steril
Ukur panjang selang yang akan dimasukan dengan
mengguanakan :
Metode Tradisional
Metode Hanson
Mula-mula tandai 50 cm pada selang kemudian
lakukan pengukuran dengan metode tradisional.
Selang yang akan dimasukan adalah pada
pertengahan antara 50 cm dan tanda tradisional
Beri tanda pada panjang selang yang suddah diukur
Masukan selang di mulut yang sudah ditentukan
Lanjutkan memasukan selang sepanjang mulut. Jika
terasa agak tertahan putarlah selang dan jangan
dipaksakan untuk masuk
Lanjutkan memasang selang sampai memasukan
nasofaring. Setelah melewati nasofaring (3-4 cm) kalau
perlu anjurkan pasien untuk menekuk dan menelan.
Jika perlu berikan sedikit air minum
Jangan memaksakan selang untuk masuk. Jika ada
hambatan atau pasien tersedak, sianosis, hentikan
mendorong selang. Periksa posisi selang dibelakang
tenggorokan dengan menggunakan tongue spatel dan
senter
Jika telah selesai memasang OGT, sampai ujung yang
telah ditentukan, anjurkan pasien untuk bernafas
normal dan rileks
Memeriksa letak selang
Viksasi selang OGT dengan plester dan
hindari penekanan pada hidung dengan cara :
Potong 5 cm pelester, belah menjadi 2 sepanjang
2,5 cm pada salah satu ujungnya. Memasang
ujung yang tidak dibelah pada batang hidung
pasien dan silangkan plester pada selang yang
keluar dari hidung
Tempelkan ujung selang OGT pada baju pasien
dengan memasang plester pada ujung dan
penitikan pada baju pasien
Evaluasi setelah terpasang OGT
Rapikan alat-alat
Cuci tangan
Dokumentasi hasil tindakan.